Sebuah
cercah cahaya melesat cepat ke atas. Melambung jauh melewati batas langit. Ke
1, 2, 3, semua penduduk langit dapat mencium harum wanginya. Merebak di seluruh
penjuru langit. Hingga sampai cahaya yang tak lain adalah ruh itu pergi ke
tempat di mana seluruh ruh dikumpulkan. Ke tempat yang hanya diketahui
oleh-Nya.
“Wangi apakah tadi?” Pertanyaan itu serempak keluar dari benak hampir seluruh
penduduk langit. Aku hanya tersenyum. Sebagai pencatat amal ruh itu, aku tahu
semua yang dilakukannya sehingga Allah benar-benar ridho padanya. Aku tahu
semua penderitaannya, dan apa yang ia korbankan. Pengorbanannya seperti Mushab
bin Umair, Imannya sekuat Nabi Yusuf, kesabarannya
hampir menyamai Nabi Ayub, dan ketegarannya mirip Nabi Ibrahim. Dan untuk
kalian, marilah kuceritakan kisahnya.
***
Saat
Akhir Hayatnya...
“Tolooong!!!!”
Dia mau memperkosa saya!!!” Seorang perempuan cantik berteriak dari sebuah gang
sempit di pinggir jalan. Mimiknya sangat ketakutan, karena memang hari itu
sudah malam, lewat dari pukul 23.00 WIB. Di depannya terlihat seorang laki-laki
yang kebingungan harus berbuat apa.
“Tolooong!!!”
Teriakan kedua itu disambut oleh sahutan warga yang sedang meronda malam ini.
Sang laki-laki kaget dan langsung berlari ke arah jalan. Kemudian tak lama
warga datang.
“Neng
tidak apa-apa?” Tanya seorang warga. Jumlah mereka kurang lebih 5 orang.
“Dia
hampir merenggut keperawanan saya, bapak bilang saya tidak apa-apa?!!! Dia lari
ke sana!!!” Sang perempuan berteriak sambil menangis-nangis.Tubuhnya setengah
terbuka karena baju yang ia kenakan sudah tak di tempatnya lagi.
“Tunggu
apa lagi?! Kejar dia!!” Teriak perempuan itu.
“Eh,
iya, ayo pak, kejar!!!” Seorang pemimpin ronda berteriak menyuruh. Semua
langsung terbuyar dari lamunan jorok. Dasar,
kesempatan dalam kesempitan namanya.
Warga
pun bergegas pergi mengejar sang pelaku. Namun setelah semua pergi, terlihat
sedikit kilas licik di mata sang perempuan.
Warga
yang tahu jalan pintas dengan cepat dapat menangkap sang pelaku, meringkusnya dan
seperti kebiasaan banyak peronda, mereka main hakim sendiri.
Bak! Bik! Buk! Duarr! Sang
pelaku pingsan berdarah-darah. Parahnya, salah seorang warga tak sengaja juga
menusukkan pisau ke tubuh pelaku. Dan dapat ditebak, Atas izin Allah, ia
menjemput ajal.
Itulah
ruh yang tercium wangi tadi. Namanya Fandi.
30
menit sebelum kejadian...
Di
sebuah rumah dekat gang tersebut...
“Fandi
sayang... kenapa kamu tidak mau bicara sama aku?” Seorang perempuan cantik
merangkul pundak Fandi sambil mengerling penuh nafsu. Namun Fandi hanya diam.
“Fandi...
kamu mau kan nemenin aku malam ini...
aku lagi butuh teman...” Perempuan itu merayu lagi sambil sedikit-sedikit
melepas pakaian. Fandi agak melangkah mundur.
“Kalau
kamu pergi, aku akan teriak bahwa kamu mau memperkosa aku sayang, jadi, kita
main nyantai aja ya, kamu udah tau kan caranya?” Perempuan itu mengedipkan
sebelah mata sambil sedikit mengancam. Fandi bersiap pergi. Ia menggelengkan
kepala, lalu melangkah keluar dari rumah tersebut.
“Tidak!
Kau tidak boleh pergi sebelum melayaniku!” Perempuan itu mencegah.
Andai
saja Fandi dapat bicara, ia pasti sudah mengeluarkan argumen. Namun yang dapat
dilakukannya hanyalah memberi isyarat. Ia bisu.
Kata-kata
perempuan itu tidak ia hiraukan. Fandi membuka pintu dan melangkah keluar dari
rumah tersebut. Langkahnya cepat, namun dengan cepat pula sang perempuan
mengejar. Menghentikan Fandi di dalam gang.
“Aku
akan berteriak..”
6
jam sebelum kejadian...
Di
sebuah Lapas di daerah Jakarta...
Fandi
sedang berdzikir ketika seorang perempuan cantik menjenguk dan mengaku
pacarnya.
“Fandii!!!”
Ujar perempuan itu setengah berteriak. Ia memasukan tangannya ke dalam jeruji
besi, mencoba memeluk Fandi.
“Jangan
mbak!! Berbahaya bila mbak memegang jeruji!” Larang seorang petugas penjara.
Perempuan itu langsung menarik tangannya.
“Oh,
maaf...” Ujarnya,” Fandi, ini aku
Jessica, pacar kamu!!”
Fandi
mengkerutkan alis. Tak dapat berkata-kata.
“Fandi,
kamu ingat aku kan?” Jessica bertanya lagi, “ Kamu udah janji untuk setia sama aku!! Kamu ingat kan?”
Hening.
“Udah
mbak, dia itu bodoh, biar saja saya yang jadi pacar mbak, saya janji akan setia
selalu, hahaha!!!” Seorang napi menyahut jahil.
“Iiih!!”
Jijik perempuan itu.
“Hahaha...”
tawa napi-napi yang lain.
“Huh!”
Perempuan itu berbalik dan membisikkan sesuatu kepada petugas.
“Baiklah
mbak, akan saya urus”.
“Oke,
saya tunggu di mobil,” dan perempuan itu pun pergi.
Kejadian
selanjutnya terasa begitu cepat bagi Fandi. Ia ditarik keluar oleh para petugas
penjara kemudian ditusuk oleh sesuatu yang sangat menyengat. Selebihnya, ia tak
ingat apapun sampai terbangun di sebuah rumah bersama Jessica.
11
jam sebelum kejadian...
“Haiya...!
Itu dia penculik tadi !! Tangkaplah dia!!” Seorang engkoh berteriak di
keramaian pasar. Menunjuk ke arah Fandi yang sedang memegang radio tape yang
berukuran sedang.
“Oi!!
Tangkap!!” Seru beberapa lelaki di sana sambil mulai berlarian menuju pelaku.
Fandi pun kaget dan berlari. Namun apa daya, lelaki-lelaki tersebut lebih cepat
darinya. Fandi diringkus, dipukuli sampai polisi datang dan membawanya pergi ke
lapas.
11
jam 5 menit sebelum kejadian...
Fandi
melihat seorang laki-laki sedang mencuri radio tape di toko Koh Lee. Ia
membuntutinya hingga keluar toko. Namun ia tak bisa berteriak. Menegur pun tak
bisa. Akhirnya dengan sedikit keberanian, ia menepuk pundak sang pencuri dan
mencoba memukul sang pelaku.
Seett... Dengan cepat sang
pelaku menghindar dan malah memukul balik Fandi. Fandi terjatuh, lalu dengan
sigap sang pelaku melempar radio tape tersebut ke tubuh Fandi yang masih
tersungkur, kemudian pergi. Fandi mengelus pantat sebentar sebelum bangun.
Namun begitu bangun, ia mendengar sang engkoh berteriak pencuri.
12
jam sebelum kejadian...
Fandi
baru saja ingin memakan sebungkus roti yang baru dibelinya ketika tiba-tiba
seorang pengemis tua datang. Ia iba, kemudian memberikan satu-satunya makanan
miliknya itu kepada sang pengemis. Pengemis itu pun tersenyum dan mengucap
banyak terima kasih. Fandi dapat membalas senyumannnya, namun tak bisa
menjawab, “sama-sama”.
12
jam 10 menit sebelum kejadian...
Akhirnya
Fandi mendapatkan uang juga setelah dari pagi bekerja membantu seorang tukang
bubur. Dalam hati, ia bersyukur karena semenjak kemarin belum makan apapun. Semenjak
ia pergi dari rumah, kehidupannya memang berubah total, yang tadinya kaya
menjadi miskin, bahkan untuk makan saja tidak mampu.
“Saya
cuma bisa ngasih segini dik, maaf ya,
penghasilan saya juga kecil,” ujar tukang bubur tersebut sambil memberi uang sebesar
6000 rupiah.
Fandi
hanya bisa tersenyum. Ia menerima uang tersebut kemudian meraih tangan si
tukang bubur untuk disalami.
“Eh,
tidak usah, saya bukan ustadz loh..”
elak sang tukang bubur.
Fandi
menganggukan kepalanya isyarat berterima kasih, kemudian berpamitan. Fandi pun
menyisihkan uang 5000-nya untuk dimasukkan ke kotak amal dan menggunakan
sisanya untuk membeli roti. Bagi Fandi, sekecil apapun uang yang ia miliki,
masih ada hak orang yang lebih membutuhkan di sana. Ia rela berlapar-lapar agar
orang lain bisa mendapatkan yang lebih baik darinya. Akhirnya, dengan uang sisa
tersebut, Fandi membeli roti dan sudah ingin memakannya ketika seorang pengemis
tua datang.
Pukul
07.00 WIB, 16 jam sebelum kejadian...
Seorang
laki-laki setengah baya kaget ketika melihat sebuah brankas besar terbuka di
dalam kantor tempatnya bekerja. Dan ia lebih terkejut lagi ketika ternyata di
dalam brankas itu terdapat uang yang sangat banyak, juga emas dan
surat-suratnya. Keterkejutannya itu pun belum berakhir saat ia melihat secarik
kertas yang ada di sana.
Yth. Yasasan Peduli
Ummat
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Perkenalkan saya di
sini adalah hamba Allah yang ingin mencari ridho-Nya. Sebelumnya maaf bila
mengagetkan bapak dengan uang yang sangat banyak ini. Bersama dengan surat ini
saya ingin menyampaikan bahwa seluruh uang yang ada di brankas ini saya
sumbangkan untuk kepentingan ummat. Jumlah seluruhnya adalah 100 milyar.
Silahkan bapak gunakan uang tersebut untuk hal yang semestinya. Semoga Allah
SWT meridhoi kita.
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Hormat Saya
Hamba Allah
Tanpa
terasa, laki-laki itu meneteskan air mata haru.
Pukul
00.00 WIB, 23 jam sebelum kejadian...
Setelah
lolos dari kejaran orang suruhan ayahnya, ia beristirahat sejenak. Menghela
nafas di depan sebuah bangunan. Yayasan Peduli Ummat.
Yang
dilakukan Fandi hanyalah berdoa, meminta agar bantuan datang dari Allah untuk
memindahkan brankas besar itu ke kantor yayasan amal. Kemudian setelah itu ketika ia mengangkat brankas berat tersebut
serasa ada yang membantunya menahan beban sekitar 250 kg tersebut. Dan atas
izin-Nya pula, Fandi dapat masuk dan menaruh brankas tersebut ke dalam kantor.
Tak lupa, ia menulis sebuah surat kecil.
Pukul
20.00 WIB, 27 jam sebelum kejadian...
Fandi
turun dari taksi dan membayar. Kemudian dengan cepat ia pergi.
Ia
berlari sambil mengangkat brankas itu. Ya, berlari. Beberapa mobil Jaguar
mengejarnya dari belakang, namun dengan sigap ia menghindar ke dalam gang-gang
sempit untuk meloloskan diri. Beberapa orang berjas hitam pun turun dan
mengejarnya sambil berlari, namun Fandi begitu cepat, ia dapat menghilang dalam
sekejap.
Pukul
17.00 WIB, 30 jam sebelum kejadian...
Fandi
melambai tangan menyetop sebuah taksi. Mobil sedan tersebut pun berhenti. Fandi
dengan cepat mengangkat dan memasukkan brankas tersebut ke kursi belakang. Lalu
dengan sigap pula memasukkan tubuhnya sendiri.
“Mau
kemana, Mas?” Tanya supir taksi yang Fandi berhentikan. Ia agak kaget karena
melihat Fandi begitu enteng mengangkat brankas dan memasukkannya ke kursi
belakang.
“emmmph...emph...”
Fandi mencoba bicara. Namun ternyata sulit sekali. Ia mencoba lagi,
“emmph..emph...” Ia tidak tahu mengapa suaranya hilang, namun akhirnya dengan
cepat ia menulis di kertas.
Jalan Saja Dulu.
“Oke!”
Ujar si supir.
Di
jalan, Fandi berpikir keras, kenapa ia tak bisa bicara? Padahal
sebelum-sebelumnya ia dapat berkata-kata dengan mudah. Fandi bingung, namun
berpikir.
Mungkin itu sudah
diatur oleh-Nya.
Saat
itu ia masih bisa berpikir jernih, namun tiba-tiba ia melihat beberapa mobil
jaguar mengejar di belakang.
Pukul
16.30 WIB, 30,5 jam sebelum kejadian...
“Kejar dia! Apapun yang terjadi!! Bawa dia
padaku hidup atau mati!!” Suara lelaki tua itu bergetar. Terutama saat bilang, hidup atau mati.
“Baik
bos!” Ujar anak buahnya yang berjas hitam. Mereka berjumlah sekitar 10 orang.
“Pergi!”
Kata-kata itu disambut dengan langkah kaki para anak buahnya yang berbalik
menuju mobil masing-masing.
Lelaki
tua itu merenung. Apa benar yang telah ia
lakukan?
Pukul
15.30 WIB, 31,5 jam sebelum kejadian...
Fandi
keluar dari rumahnya tanpa diketahui siapapun. Entah yang membuat orang-orang
di rumahnya tertidur semua sehingga ia dengan mudah dapat keluar dengan brankas
ayahnya yang bernilai 100 milyar itu. Serta-merta ia mengucap syukur kepada
Allah. Ayahnya adalah seorang pengusaha diskotik terkenal yang mempunyai banyak
cabang diskotik di seluruh indonesia. Fandi tidak senang dengan hal itu, ia
selalu melawan ayahnya yang mencari nafkah dari jalan yang haram. Sampai
puncaknya hari ini. Ia kabur, dan membawa uang ayahnya untuk disumbangkan ke
yayasan amal.
Fandi
memang seorang yang agamis. Dengan ayah yang seperti itu, ia selalu menjaga
dirinya dari apa-apa yang dilarang Allah SWT. Dan Alhamdulillah, ia selalu
dijaga oleh-Nya.
Setelah
cukup lama berjalan, ia memutuskan untuk menyetop sebuah taksi.
Pukul
14.00 WIB, 33 jam sebelum kejadian...
“Ayah!
Aku tidak mau mewarisi hartamu!!!” Fandi menaikkan suara. Ia marah karena hari
itu ayahnya memberitahu bahwa ia akan pensiun dan mewariskan hartanya kepada
Fandi, anak semata-wayangnya.
“Fandi!!!
Beraninya kau bilang seperti itu pada ayahmu!!” Ayahnya itu berteriak emosi. Ia
begitu marah karena tidak ada keluarganya lagi selain anaknya itu. Istrinya
sudah meninggal 2 tahun yang lalu.
“Ya!
Karena perbuatan ayah itu tidak benar! Aku tidak akan mengikuti jejak
syaitanmu!!” Fandi membalas.
Plak!!
Ayah
Fandi menamparnya sangat keras.
“Aku
tidak takut!! Bahkan bila ayah ingin membunuhku!!” Fandi bergetar
mengucapkannya.
Hari
itu, Allah telah menegarkan hati Fandi untuk melawan kejahatan ayahnya. Seperti
Nabi Ibarahim.
Aku akan pergi, maaf
ayah.
***
Dan
itulah akhir kisah ini.
Fandi
adalah seorang laki-laki hebat yang dapat melawan kedzaliman. Semua sifatnya
mengajarkan pada kita tentang hakikat sebenarnya untuk hidup. Mencontohkan
kepada kita tentang bagaimana yang seharusnya kita lakukan pada harta kita. Dan
sebelum cerita ini ditutup, aku ingin membeberkan sebuah kisah kecil lagi.
24
jam setelah kejadian....
Tempat
1, Warga dekat gang tempatnya terbunuh...
“Terima
kasih pak, kami sangat menghargai apa yang bapak-bapak berikan kepada warga RT
ini, karena setelah banjir minggu lalu, kami banyak kehilangan harta benda
kami...Bantuan ini sangatlah berarti bagi kami...” Seorang pak RT mengucap
banyak terima kasih kepada perwakilan dari yayasan amal yang memberikan kepada
mereka bantuan setelah banjir.
“Jangan
berterima kasih kepada saya pak, berterima kasihlah kepada seorang dermawan
yang kemarin menyumbangkan uang sebesar 100 milyar kepada yayasan ini. Kami
tidak tahu siapa dia, Semoga Allah meridhoinya...”
“Amiiin....!!!”
Ujar warga serempak. Termasuk peronda yang telah membunuh Fandi
Tempat
2, Pasar tempatnya dituduh mencuri...
“Alhamdulillah...Kami
sangat berterima kasih kepada Yayasan ini, karena telah memberikan bantuan
langsung kepada kami para pedagang di pasar “Rame” ini. Bantuan ini sangatlah
berarti karena kemarin baru terjadi musibah kebakaran yang membuat kami
kehilangan banyak harta benda, kami mengucapkan banyak terima kasih...” Ujar
perwakilan para pedagang kepada yayasan amal tersebut.
“Sama-sama
pak, jangan berterima kasih kepada kami, berterima kasihlah kepada seorang
dermawan yang kemarin menyumbangkan uang sebesar 100 milyar kepada yayasan ini.
Kami tidak tahu siapa dia, Semoga Allah meridhoinya...”
“Amiin...!!!”
Ujar para pedagang. Termasuk engkoh yang menuduhnya pencuri.
Tempat 3, rumah si tukang bubur
“Alhamdulillah,
terima kasih pak!! Saya tidak tahu apa jadinya bila tidak ada uang bantuan ini,
saya pikir anak saya tidak akan bisa diselamatkan....” Ucap tukang bubur itu
sambil berlinang air mata. Anaknya memang baru dioperasi tumor otak di sebuah
rumah sakit.
“Sama-sama
pak, janganlah berterima kasih kepada kami, berterima kasihlah kepada seorang
dermawan yang kemarin menyumbangkan uang sebesar 100 milyar kepada yayasan ini.
Kami tidak tahu siapa dia, Semoga Allah meridhoinya...”
“Amiiin...”
Tempat
4, kamar mayat sebuah rumah sakit di Jakarta.
“Fandi
anakku!!!!!” Laki-laki itu berlari menuju sebuah jasad yang sudah terkaku di
kamar mayat sebuah rumah sakit,” mengapa kau pergi nak?? Aku tak ingin
kehilangan keluargaku lagi...cukuplah ibu yang pergi...jangan kau susul dia...”
Air
mata menderas begitu saja dari matanya. Lelaki itu begitu menyesal. Mencium
kening anak semata-wayangnya yang sebenarnya sangat ia cintai.
“Fandi....ayah
mencintaimu...ayah akan berubah...mengikuti jalanmu...”
Dan
Allah mencatat itu sebagai sebuah taubat.
***
Kuningan,
24 Januari 2012
PS: Juara Pertama Lomba Cerpen se-Jawa Barat, KRISTAL 2012
PS: Juara Pertama Lomba Cerpen se-Jawa Barat, KRISTAL 2012

kalau ada yang kyak fandi langsung pingin lamar deuh
BalasHapusSemoga beruntung mencarinya ^^
Hapusgak usah mencari deng, menjadi dan memantaskan diri lyaknya fandi aja deh
Hapus