Sabtu, 27 Mei 2017

#Puisi *


                Na na na
                La la la
Musuh
Kawan
                Lari
                Hantam
Na na na
La la la
                Kekasih
                Benci
Marah
Bodoh
                Na na na
                La la la
Tetiba

Mati

Jumat, 26 Mei 2017

#Moment 1 Ramadhan 1438H


Dulu pas kecil pasti gemuruh riang. Loncat sana lompat sini begitu Ramadhan datang.
Sekarang pas udah agak gede-an (apanya?) jadi sedikit lebih kalem. Senyam-senyum tengok kanan-kiri. Kadang sambil elus dada (dada sendiri kok bukan dada tetangga).
Ramadhan merefleksikan ketenangan.
Ia adalah bulan liburan bagi jiwa yang sudah lelah sebelas bulan sebelumnya ditimpa masalah. Saatnya hati bertamasya, merenung, menangis.
Tidak ada yang lebih indah dibanding seorang lelaki yang menangis di tengah solat malamnya. Meminta agar ia dikuatkan. Mengaku bahwa ia sangat lemah di hadapan Rabbnya.
Tidak ada yang lebih indah dibanding seorang perempuan yang mukenanya basah. Bersujud di pojok rumahnya yang paling gelap. Meminta agar ia diberi kesabaran dan ketaatan.
Ayolah, akui saja, tidak ada tempat kembali yang lebih indah dibanding pada sujudmu di sepertiga malam. Sujud yang tulus kepada Penciptamu. Sujud yang lama. Sujud yang menetes air mata.
Kawan, menangislah demi dirimu.
Siapa tahu kelak, air matamu lah yang akan memadamkan api neraka, yang siap membakarmu.
Selamat Ramadhan 1438 H.

Dari aku, si kecil tapi itunya besar.

Kamis, 25 Mei 2017

#Puisi Diandra


Puja-puji menghujam keji sanubari
Diandra
Buai terlantah dan luluh dibuatnya oleh pujian keji
                Diandra
                Gadis manis nan pintar
                Tak lagi berkembang
                Berhenti distop pujian
Merasa cukup merasa tinggi
Diandra
Setelah itu jatuh
                Diandra

                Setelah itu hilang

#Serial Seorang Suami Saleh (1)


Aku menikahinya 20 tahun yang lalu.
Ia adalah lelaki paling sederhana dan basah yang pernah kukenal. Lelaki yang penuh cinta. Lelaki yang selalu menjaga wudhunya—makanya kusebut paling basah.
Ketika lelaki itu marah, ia akan memelukku dengan lembut.
“Kau adalah wanita yang telah kuterima menjadi tanggung jawabku.”
Ia tidak pernah membentakku. Seluruh kesalahan dan kekhilafan yang kulakukan, semua dibalasnya dengan sebuah pelukan.
Pernah aku khilaf memakai baju yang ketat keluar rumah. Atau menerima tamu sambil tidak menutup aurat dengan sempurna. Atau ketahuan berghibah dengan tetangga. Semua ia balas dengan pelukan, sambil menasihati dengan sangat amat bijak.
“Tak peduli apapun yang kau lakukan, sayang. Aku berkewajiban untuk mengingatkanmu. Namun haram hukumnya aku memperlakukanmu dengan emosi.”
Ia lelaki saleh yang 20 tahun lalu datang ke bapakku.
Ia lelaki saleh yang menerimaku apa adanya. Tulus mencintaiku.

Sabtu, 20 Mei 2017

#Cerpen Yakin


Matahari sedang jahat. Bumi disiram dengan hawa panas super tinggi. Bukan bumi sih, tapi Jakarta. Tapi kan Jakarta bumi juga.
“Kin! Kamu yakin kan?”
Aku menengok ke belakang. Seorang gadis berponi yang tidak kukenal baru saja memanggil namaku—sekaligus meyakinkan dirinya kalau ini adalah aku.
“Yup. Ini siapa ya?”
Si gadis mengerling kesal. “Wah parah, kita sekelas di Matkul MSDM! Aku kakak tingkat sebenernya, ngulang, hehe.”
Ohh, terus?
“Begini, aku mau minta tolong.”
***
“Kin, aku sayang kamu.”

Kamis, 18 Mei 2017

#Puisi Wahai Durja


Di dua pojok rumah yang berbeda
Ada si laki-laki, ada si perempuan
Waktu itu malam menjelang pagi
           Perempuannya menangis
           Bersimpuh puyuh
           Mengadu sepadu
Laki-lakinya menangis
Berserah sumpah
Menunduk aduk
           Di dua pojok rumah itu
           Ada pengakuan
           Ada penyesalan
           Ada pertaubatan
Di dua pojok rumah itu,

Tuhan mendengar

#Cerpen Pulang


Syifa memeluk dirinya sendiri.
Salju turun perlahan di luar bangunan tua tempatnya memandang. Seketika jarinya terasa membeku saat ia menyentuh permukaan kaca di depannya. Hari sudah sore di musim dingin itu. Sebentar lagi ia pergi.
“Syifa, ilk eve gittim. Aku pulang duluan ya.”
Yang disahut hanya mengangguk sambil tersenyum.
Aku mau pulang, desisnya dalam hati.
Sudah beberapa tahun Kastamonu memenjara hatinya. Sebuah distrik kecil di Turki yang kebetulan menjadi tempatnya berkuliah. Syifa sebenarnya bersyukur karena diberi kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri Khilafah terakhir tersebut, namun belakangan ia resah.
Ada yang lebih sakit daripada jatuh dari pohon mangga, yaitu merindukan keluarga yang kita cintai.
36 ribu kilometer totalnya; dari rumah ke asrama tempatnya tinggal sekarang.
Butuh 2 penerbangan komersil dan sekali perjalanan laut untuk mencapai rumah. Di mana abi dan umi, serta Zaky menunggu-nunggu kepulangannya.

Rabu, 17 Mei 2017

#Puisi Laki-laki


Yang memperjuangkanmu,
Belum tentu melakukan hal yang benar
                Banyak orang berjuang
                Di tempat yang salah
Banyak orang berniat baik
Tapi dilakukan dengan cara yang kotor
Mengotori dirinya
Menggerogoti harga dirinya
                Yang memperjuangkanmu
                Siapa tahu juga benar
                Kau saja yang bebal
                Kepayang rasa ia bertahan
Laki-laki,
Disuruh menjaga dirinya dan keluarganya
Dobel tugas
Makanya ia kelabu memikirkanmu (QS 66:6)
                Perempuan,
                Cukup menjaga dirinya
                Se-menjaga-menjaganya
                Se-baik-baiknya (QS 24:31)
Ada porsi masing-masing
Jelata kelamaan menulis begini
Aku mau makan es krim dulu


#Cerpen Tak Usah



Bukan malam penuh hujan yang membuatnya basah, namun serentetan peristiwa yang terjadi dua bulan ke belakang ini. Harum berjalan gontai saja sepanjang malam. Pulang menuju kosannya tanpa berusaha berteduh dari tembakan hujan dari langit.
Harum memeluk dirinya sendiri, berusaha membunuh gigil yang membuatnya kedinginan. Gadis itu melihat ke tanaman di pinggir jalan, menyapa mereka, dan tersenyum. Ia seakan bisa melihat ke dalam serbuk sari dan putik yang bahkan dapat merajut cinta. Kontradiktif dengan dirinya belakangan ini.
Ah, ia ingin beristirahat saja rasanya.
Tak terasa, dua puluh langkah lagi ia sampai di kosan tercinta.
***
“Ya Allah, Harum, kamu teh kenapa kok hujan-hujanan?” Bu Kirana, sang pemilik kosan memeberi komentar saat Harum masuk ke dalam.
“Hehe, iya bu, karena saya gerah, jadi biar seger ujan-ujanan aja.”
Bu Kirana menggelengkan kepala. “Ya tapi nanti kamu sakit. Sudah sana mandi, ganti baju, lalu istirahat. Jangan sampe sakit ya!”
Harum mengangguk dan segera ke kamarnya.
Bu Kirana pun mengambil pel dan mengelap tetesan air yang jatuh dari pijakan kaki anak kosnya tersebut.
***

#Puisi Dikau-ku


                Adalah seorang gadis yang kuperhatikan
                Di sosial media
                                Kau kadang bercerita mengenai harimu
                                Meski kebanyakan adalah tentang perasaan atau
                                Kegalauan
                Aku diam saja. Memperhatikan.
                                Sebanyak dan selama itu aku mengikutimu
                                Diam pertanda santun kumenghormatimu
                Hingga kini saatnya kubicara
                                Aku ingin mengajakmu berpuisi
                                Jauh tenggelam dalam imaji
                                Naik-turun bersama kata dan emoji
                                Kekeh lewati malam berhaha-hihi
                Ah, sempatku bermimpi
                Meski hanya dengannya, bahagiaku tak terperi 

(Wanita di gambar: Park Si-Yeon)

Selasa, 16 Mei 2017

#Moment 14 Mei 2017; Yang Dilakukan Penulis Besar


Sederhana. Mereka menulis.
Kata Pandji Pragiwaksono. “Yang membedakan mereka yang sudah tahu passionnya tapi biasa-biasa saja, dan mereka yang tahu passionnya lalu sukses cuma satu; Disiplin.”
Dua hari yang lalu, genap 19 tahun Azam Rofiullah berjalan di muka bumi. Setahun sebelumnya hanya bisa merangkak atau berguling. Azam Rofiullah adalah nama yang diberikan oleh Ibunda Muhlisrarini, orang yang melahirkannya dengan normal di rumah sakit Cipto, Jakarta Pusat, 14 Mei 20 tahun yang lalu.
Naik taksi dari kontrakan di Ciputat.
Azam Rofiullah tidak tahu pasti kronologis dirinya yang berontak di perut sang Ibunda, sehingga menjadikannya keluar pada hari itu. Namun Azam Rofiullah tahu, bahwa 20 tahun setelahnya, ia akan berjuang menjadi seorang penulis besar.
Azam Rofiullah, seperti kebanyakan pemuda lainnya, senang main.
Azam Rofiullah gemar bermain game komputer, atau berjalan-jalan ke tempat-tempat baru, mengobrol dengan temannya.
Azam Rofiullah juga menyukai wanita.
Belakangan, tahun 2016 menjadi tahun yang paling non-produktif baginya. Kebanyakan main. Kebanyakan tidur. Kebanyakan bersenang-senang.
Azam Rofiullah tahu bahwa dirinya kurang disiplin.
Tahun lalu, ia berfoto dengan Sandra Dewi di hari ulang tahunnya.
Tahun ini, ia tidak berfoto dengan siapapun.
Telah hilang gairahnya untuk bermalas-malasan menunggu hari terbenam. Azam Rofiullah tahu, bahwa jalan masih panjang tuk jadi penulis besar. Azam rofiullah tahu, bahwa ia kini harus disiplin.
Semangat, Azam Rofiullah.
Tidak ada dia yang menunggumu, hanya dirimu sendiri, dan ketekunanmu.

Senin, 15 Mei 2017

#Cerpen Solat di Bulan


Perkenalkan, namaku Firmino.
Aku adalah seorang warga negara Brazil, Amerika Selatan. Dari kalangan menengah ke bawah, punya sebuah pekerjaan kecil di toko roti. Aku adalah pembuat roti.
Aku juga seorang kristiani taat. Setiap Minggu menyempatkan diri untuk mengakui dosa-dosaku kepada Bapa Pendeta. Hal tersebut membuat hatiku tenang.
Lalu datanglah hari di mana bosku menjual toko rotinya. Katanya, para pegawai akan tetap bekerja, akan tetapi bersama pemilik baru toko roti ini. Aku agak sedih karena bosku sudah kuanggap bos sendiri. Maksudku, kami tidak terlalu dekat, namun aku menyukainya.
Dari situlah, cerita ini bermulai. Datanglah seorang Andrea. Wanita cantik yang masih berusia sekitar 30-an. Kutebak 34 tahun. Dan aku hampir tepat karena seminggu setelahnya aku mengecek facebook doi. Umurnya 33 tahun.
Yang menarik dari Andrea adalah sosoknya yang periang. Dan asal kau tahu, ia menutupi kepalanya dengan kain. Hijab, ia bilang. Aku senang memperhatikan bagaimana ia mengatur hijab yang ia pakai di hari ini, kemudian pada esok harinya ia pakai yang lain yang bercorak berwarna putih. Dan pada hari Jumat, memakai hijab abu-abu.

Senin, 01 Mei 2017

#Catper Hikayat si Amatir (Perjalanan 3 Gunung; Mei-Juni 2016) Bag. 1


Bermula dari sebuah percakapan di kelas. Nofandi, teman gua yang berasal dari Pulau Seribu Masjid alias Lombok, menawarkan buat main ke rumahnya pas liburan musim panas nanti.
Gua sih oke, Lombok terdengar tidak begitu buruk.
Di samping itu, hobi gua sebagai penggiat kegiatan alam terbuka (alias si amatir tukang asal naik gunung) udah lama tertidur. Bagian diri gua ini udah lama gua biarin terlelap, karena gua sibuk oleh urusan duniawi yang lain.
Maka ketika mendengar kata Lombok, otomatis ada Rinjani, dan ada gunung-gunung lain menanti.
Saat itulah, setelah agak lama berhenti dari hobi mendaki, gua memutuskan untuk terjun lagi.
Sebenarnya gua tidak terlalu amatir. Hanya saja dengan berpikir seperti itu kita akan terus berkembang karena belum merasa cukup. Jadilah pada akhirnya, peralatan-peralatan yang sudah lama terdiam gua kumpulkan kembali.
Tanggal 19 Mei 2016, kita berangkat.