Senin, 30 Oktober 2017

#Cerpen Tua Bersamamu-terhubung




                Ada kegetiran saat kusebut namamu kali ini. Tiga hari yang lalu, seorang gadis manis datang ke rumahku. Ia datang membawa segenggam kenangan masa lalu. Membawa pesan sekaligus kabar darimu. Dia adalah Ana, cucumu yang kau namai dengan nama kesukaanku.
                Namaku adalah Mamat. Namamu Kiki. Kita seumuran. Sekarang tahun 2066 Masehi. Berarti, kau dan aku sama-sama berumur 69 tahun sekarang. Umur yang tipis-tipis menjelang akhir.
                Jadi, dahulu sekali, aku dan kamu adalah sepasang teman spesial. Kita saling jatuh cinta dengan cara yang indah. Kisah kita seperti kain batik. Awalnya putih bersih, lalu kau dan aku sama-sama mewarnainya.
                Waktu itu tahun 2015, saat pertama kita bertemu. Petualangan lah yang mempertemukan kita. Kita sama-sama remaja liar yang menerobos waktu. Bedanya, kamu takut dengan ibumu. Aku tidak.
                Kemudian waktu berlalu. Tahun 2015 berganti dengan tahun 2016, dan tahun 2016 terlindas oleh datangnya 2017. Di tahun itu pula terakhir aku mendengar suaramu. Terakhir kulihat rambut hitammu yang disemilir hujan, dibasahi angin. Kikos, kadang aku mengejekmu.
                Di tahun tersebut aku menumpahkan tinta ke lukisan batik kita. Merusak semua pattern-pattern indah yang sudah kita buat bersama.
                Aku mulai bersifat arogan, posesif, dan menginginkanmu secara esklusif.
                Pertengkaran pun tak terelakkan. Puji Tuhan, aku tidak pernah memukulmu, namun kata-kataku yang pedas amat menyakitimu.
***
                Duarrr!
                Petir di luar begitu ganas. Aku mematikan lampu di kamarku dan segera memejamkan mata. Rumah ini adalah rumahku. Memang hanya sebuah rumah kecil di pinggir desa. Aku tinggal sendiri sejak 40 tahun yang lalu. Semenjak adikku yang perempuan menikah dan ayahku wafat.
                Awalnya, aku masih tinggal di kota. Bekerja, berpetualang, kegiatanku cukup sibuk. Namun ketika menginjak umur 50-an, aku memutuskan untuk pindah ke desa ini, desa Babakan, kampung nenekku dahulu.
                Suasana memang lebih modern, namun aku menyukai ketenangan di sini.
                Aku tidak pernah menikah. Lebih tepatnya, tidak ingin.
                Dulu sekali, sebenarnya, saat berumur 34 tahun, ada yang menawariku calon. Kawan-kawanku bilang bahwa aku butuh pasangn hidup kalau tidak ingin jadi bujang lapuk. Aku hampir mengamini mereka, namun fatal, saat itu, ada yang mengirimiku fotomu dengan anakmu yang baru lahir.
                Fatal.
                Aku jadi tak bisa mengingat hari, tanggal, karena itu.
                Pada akhirnya, aku tidak jadi menikah. Karena mungkin memang, aku tidak butuh pernikahan.
***
                Esok cerah. Aku bangun jam 5 pagi setelah badai semalaman menerpa desa. Segera kulakukan pemanasan kecil agar diriku kembali bugar.  Sebenarnya aku masih kuat kalau ingin bekerja. Namun beberapa tahun ini aku lebih ingin sendiri dan menulis. Sudah terlalu banyak petualanganku yang perlu diikat dengan tulisan.
                Tabunganku semenjak muda dulu kukumpulkan untuk saat-saat seperti ini. Hingga cukup untukku hidup di masa tua.
                Orang-orang mungkin melihat hidupku menyedihkan. Sendiri di ketuaan, kesepian. Namun tidak juga. Aku cukup bahagia bila membayangkan wajahmu di pagi hari. Seperti sekarang.
                Kau tersenyum. Masih seindah dulu. Ah, aku penasaran bagaimana wajahmu saat sudah menjadi nenek-nenek. Aku tidak sempat ditunjukkan fotomu oleh Ana kemarin.
                Tapi menurutku, begini sudah cukup. Aku bisa tumbuh tua dengan bayanganmu yang tersenyum. Aku cukup bahagia.
***
                “Ngocoool!”
                Jam sembilan. Sesuai janji Ana kemarin.
                Kau datang. Ya, itu kau. Dituntun oleh cucumu yang manis.
                “Hey.” Kataku pelan.
***

Minggu, 29 Oktober 2017

#Cerpen Tua Bersamamu

          
           Aku menyeruput kopi panas di pagi ini. Kursi rotan yang kududuki masih setia bersamaku sejak 35 tahun yang lalu. Aku bisa melihatnya tersenyum di tiap kesempatan aku mendudukinya. Bersamaan dengan suasana pagi atau sore, waktu di mana aku akan duduk di beranda dengannya.
            Jalanan di depanku terlihat ramai. Di desa ini, pagi adalah waktu yang krusial. Kegiatan sudah dimulai pada pukul 3 pagi, ditandai dengan orang-orang yang hilir mudik ke pasar. Kalau jam setengah tujuh seperti sekarang, yang ramai adalah anak sekolah dan pegawai negeri yang sedang berangkat.
             Ahhh, kulitku yang sudah keriput terasa enak saat ditimpa sinar matahari.
            Dulu kulitku ini langganan terkena sinar matahari. Puluhan tahun yang lalu, saat aku sedang sibuk-sibuknya menaklukkan dunia.
             Pandanganku yang dulu setajam elang sudah mulai memudar. Kakiku yang sekuat baja sudah mulai rapuh terkeropos. Suaraku yang dulu lantang kini tak lagi sama.
              Hanya satu hal yang masih tak berubah.
              Senyumku saat melihat wajahmu.
              “Kakeeek!”