Minggu, 29 Oktober 2017

#Cerpen Tua Bersamamu

          
           Aku menyeruput kopi panas di pagi ini. Kursi rotan yang kududuki masih setia bersamaku sejak 35 tahun yang lalu. Aku bisa melihatnya tersenyum di tiap kesempatan aku mendudukinya. Bersamaan dengan suasana pagi atau sore, waktu di mana aku akan duduk di beranda dengannya.
            Jalanan di depanku terlihat ramai. Di desa ini, pagi adalah waktu yang krusial. Kegiatan sudah dimulai pada pukul 3 pagi, ditandai dengan orang-orang yang hilir mudik ke pasar. Kalau jam setengah tujuh seperti sekarang, yang ramai adalah anak sekolah dan pegawai negeri yang sedang berangkat.
             Ahhh, kulitku yang sudah keriput terasa enak saat ditimpa sinar matahari.
            Dulu kulitku ini langganan terkena sinar matahari. Puluhan tahun yang lalu, saat aku sedang sibuk-sibuknya menaklukkan dunia.
             Pandanganku yang dulu setajam elang sudah mulai memudar. Kakiku yang sekuat baja sudah mulai rapuh terkeropos. Suaraku yang dulu lantang kini tak lagi sama.
              Hanya satu hal yang masih tak berubah.
              Senyumku saat melihat wajahmu.
              “Kakeeek!”
              Suara seorang wanita muda menghancurkan lamunanku tentangmu. Aku tidak mengenalnya. Ia datang, masuk ke pekarangan dan langsung menerjang ke arahku.
                “Kakek Mamat ya?” Katanya. Dasar generasi mecin, tidak menyapa sama sekali.
                Aku diam saja. Mungkin hanya salah satu fans dari petualangan-petualanganku saat muda dahulu.
                “Ah, aku lupa bilang, selamat pagi, kakek! Namaku Ana.”
                Ia menjabat tangannya.
                Aku berusaha tersenyum sopan. Menyembunyikan kesal juga sebenarnya.
                “Nama panjangku, Dzakiyya Hasna.”
                Kini, aku terbelalak.
***
                “Benarkah?” Tanyaku sambil masih tidak percaya.
                “Iya.”
                Dzakiyya Hasna. Nama itu mengingatkanku padamu. Nama favoritku yang sering kubilang padamu dulu. Aku yang membuat nama itu. Aku suka sekali dengan nama itu. Kubilang, kelak, aku akan punya keturunan dengan nama itu.
                Satu hal yang belum bisa kuwujudkan sampai sekarang. Meski usiaku sudah 69 tahun.
                “Aku adalah cucu dari Mbah Kiki, kek.”
                Dunia serasa berputar.
                Perempuan itu menyebut namamu.
                Namamu.
                Nama indahmu.
                Dan demi mendengarnya, kulitku serasa kencang kembali. Aku merasa muda.
                “Di...dia...apa kabar?”
                Ana tersenyum manis di depanku. Meski tidak terlalu mirip denganmu, aku bisa merasakan aliran darah dan auramu di sana.
                “Baik, kek, tapi udah gak cantik.”
                Aku terkekeh. Dari dulu dia memang tidak cantik. Tapi itu tidak pernah menjadi masalah buatku. Aku tetap mencintainya, hingga sekarang.
                “Kakek sehat?” Ana mengejutkanku.
                “Iya, sehat. Tinggal di mana sekarang?” Aku bertanya jujur, aku tidak tahu di mana dia tinggal. Sejak saat itu, semua kontak sudah diblok olehnya. Aku benar-benar sudah kehilangannya.
                “Tinggal di Jakarta, kek.”
                “Ohh, sudah lama sekali ya sepertinya.” Aku jujur lagi. Terakhir aku bertemu dengannya—maksudnya denganmu—sudah 49 tahun yang lalu. Waktu itu umur kita 20 tahun. Dekat dengan waktu ulang tahunmu. Kau pergi. Segitu saja.
                “Kakek kangen ya?” Ana menatapku yang terombang-ambing bayangan masa lalu.
                Bagaimana tidak? Setiap pagi, selama 49 tahun, aku menatap langit, membayangkanmu. Bertanya bagaimana kabarmu sekarang. Apakah kau bahagia.
                Terakhir kudengar kabarmu, saat teman kita menerima undangan pernikahanmu, 45 tahun yang lalu. Saat umurmu 24 tahun. Aku masih berada di antah-berantah pengembaraanku yang jauh.
                Saat itu, di tengah hutan, mendung, air hujan menyatu dengan air mataku.
                Aku menyesal telah gagal waktu itu.
                “Kek?” Ana ngomong lagi.
                “Ah, ya, jadi bagaimana, Ana?” Aku tak kuasa menahan kegembiraanku lagi. Semua gelap seketika. Aku meluap-luap.
***
                “Ah, kakek sudah sadar.”
                Aku sudah berada di rumah sakit—atau yang kutebak sih begitu. Ana berada di sampingku. Memegang tanganku.
                “Usiamu berapa, Ana?”
                Gadis itu tersenyum. “Dua puluh, Kek.”
                “Ah, aku sudah tak kuasa berhitung lagi.” Jawabku jujur.
                “Hmm, jadi ceritanya, setelah Mbah Kiki menikah tahun 2021 dulu, beliau kesulitan untuk mempunyai anak.”
                Ana menghentikan kisahnya sebentar.
                “Terus?”
                Ana melanjutkan. “Baru pada usia 33 tahun, beliau bisa hamil.”
                Ohh, Kiki.
                Sebut saja aku kakek baper, namun momen ini benar-benar membuatku tak kuasa.
                “Kakek sendirian? Maksudku hidup sendiri?”
                Aku tersenyum. “Kakek hidup bersama kenangan dengan Mbamu itu, Ana.”
                Ana membendung air matanya.
                “Sekitar 3 tahun yang lalu, Mbah Kiki cerita tentang Kakek. Beliau cerita semuanya. Mbahku itu juga ingin tahu kabar kakek, karena tidak ada kontak sama sekali.”
                Aku tersenyum.
                “Beliau menyuruhku mencari kakek.”
                “Harusnya kau bilang ke Mbahmu itu,” aku menarik napas, “aku tidak pernah ke mana-mana.”
***
                “Kakek mau bertemu dengannya?”
                Aku seketika terdiam.
                “Kakek...Kakek tidak tahu, Ana.”
***
                “Ki, dengerin dulu, ayo ngomong baik-baik.”
                Kau memalingkan muka, 49 tahun yang lalu.
                “Jutaan kali, kau bilang seperti itu. Percuma, Mat, kebiasaanmu tidak hilang-hilang.”
                Aku mengutuk diriku sendiri. Hujan mulai membasahi daratan. Aku tahu bahwa selamanya, setelah hari ini, aku akan menyesal membiarkanmu pergi.
***
                “Dulu kakek tidak bisa menjaga perasaan Mbahmu itu. Kakek terlalu mengikatnya. Padahal siapa kakek? Suaminya bukan. Kemudian dia tidak senang. Dia itu orangnya bebas.”
                “Dia bilang tidak akan memaafkan kakek.”
                Ana menatapku sendu. Aku bercerita dengan perasaan yang tak terbayangkan.
                “Kakek tidak pernah menyalahkan keputusannya. Memang kakek yang salah.”
                “Tapi kan kakek gak perlu sampai hidup sebatang kara begini.”
                Aku tersenyum getir. Sangat getir.
                “Kau tidak tahu apa-apa, Ana.”
***
                Aku langsung bisa pulang sore itu. Ana mengantarkanku sampai rumah dengan mobilnya. Sore itu mendung. Aku bertanya apakah dia akan tinggal atau pulang.
                “Aku pulang, Kek. Ke Jakarta.”
                “Hebat kamu, perempuan mandiri. Naik mobil sendiri bolak-balik Jakarta-Purwakarta.”
                “Yaelah kek.”
                “Hehe, senang berjumpa denganmu.”
                “Kakek serius nih, gak mau ikut?”
                Aku tersenyum lagi. “Kakek bukan siapa-siapanya.”
                “Teman lama, mungkin?”
                “Hahahaaha.”
                “Yasudah kek.” Ana mencium tanganku dan pamit.
                Aku melihat sosoknya hingga hilang.
                Ah, kini aku kembali sendiri.
***
                “Hahahah, dasar Mamat lucu!”
                “Kamu tuh, kecil!”
                “Heh, ngocol ya!”
                “Hahahaha!”
***
               
               

2 komentar:

  1. Oh hell. Ini baru tadi ngepostnya. Gw kira udah lama. Bio lu ganti gih jam. Sudah tidak relevan

    BalasHapus