Aku menyeruput kopi panas di pagi ini. Kursi rotan yang kududuki masih setia bersamaku sejak 35 tahun yang lalu. Aku bisa melihatnya tersenyum di tiap kesempatan aku mendudukinya. Bersamaan dengan suasana pagi atau sore, waktu di mana aku akan duduk di beranda dengannya.
Jalanan di depanku terlihat
ramai. Di desa ini, pagi adalah waktu yang krusial. Kegiatan sudah dimulai pada
pukul 3 pagi, ditandai dengan orang-orang yang hilir mudik ke pasar. Kalau jam
setengah tujuh seperti sekarang, yang ramai adalah anak sekolah dan pegawai
negeri yang sedang berangkat.
Ahhh, kulitku yang sudah keriput
terasa enak saat ditimpa sinar matahari.
Dulu kulitku ini langganan
terkena sinar matahari. Puluhan tahun yang lalu, saat aku sedang sibuk-sibuknya
menaklukkan dunia.
Pandanganku yang dulu setajam
elang sudah mulai memudar. Kakiku yang sekuat baja sudah mulai rapuh
terkeropos. Suaraku yang dulu lantang kini tak lagi sama.
Hanya satu hal yang masih tak
berubah.
Senyumku saat melihat wajahmu.
Suara seorang wanita muda
menghancurkan lamunanku tentangmu. Aku tidak mengenalnya. Ia datang, masuk ke
pekarangan dan langsung menerjang ke arahku.
“Kakek Mamat ya?” Katanya. Dasar
generasi mecin, tidak menyapa sama sekali.
Aku diam saja. Mungkin hanya
salah satu fans dari petualangan-petualanganku saat muda dahulu.
“Ah, aku lupa bilang, selamat pagi,
kakek! Namaku Ana.”
Ia menjabat tangannya.
Aku berusaha tersenyum sopan. Menyembunyikan
kesal juga sebenarnya.
“Nama panjangku, Dzakiyya Hasna.”
Kini, aku terbelalak.
***
“Benarkah?” Tanyaku sambil masih
tidak percaya.
“Iya.”
Dzakiyya Hasna. Nama itu
mengingatkanku padamu. Nama favoritku yang sering kubilang padamu dulu. Aku yang
membuat nama itu. Aku suka sekali dengan nama itu. Kubilang, kelak, aku akan
punya keturunan dengan nama itu.
Satu hal yang belum bisa
kuwujudkan sampai sekarang. Meski usiaku sudah 69 tahun.
“Aku adalah cucu dari Mbah Kiki,
kek.”
Dunia serasa berputar.
Perempuan itu menyebut namamu.
Namamu.
Nama indahmu.
Dan demi mendengarnya, kulitku
serasa kencang kembali. Aku merasa muda.
“Di...dia...apa kabar?”
Ana tersenyum manis di depanku. Meski
tidak terlalu mirip denganmu, aku bisa merasakan aliran darah dan auramu di
sana.
“Baik, kek, tapi udah gak
cantik.”
Aku terkekeh. Dari dulu dia
memang tidak cantik. Tapi itu tidak pernah menjadi masalah buatku. Aku tetap
mencintainya, hingga sekarang.
“Kakek sehat?” Ana
mengejutkanku.
“Iya, sehat. Tinggal di mana sekarang?”
Aku bertanya jujur, aku tidak tahu di mana dia tinggal. Sejak saat itu, semua
kontak sudah diblok olehnya. Aku benar-benar sudah kehilangannya.
“Tinggal di Jakarta, kek.”
“Ohh, sudah lama sekali ya
sepertinya.” Aku jujur lagi. Terakhir aku bertemu dengannya—maksudnya denganmu—sudah
49 tahun yang lalu. Waktu itu umur kita 20 tahun. Dekat dengan waktu ulang
tahunmu. Kau pergi. Segitu saja.
“Kakek kangen ya?” Ana menatapku
yang terombang-ambing bayangan masa lalu.
Bagaimana tidak? Setiap pagi,
selama 49 tahun, aku menatap langit, membayangkanmu. Bertanya bagaimana kabarmu
sekarang. Apakah kau bahagia.
Terakhir kudengar kabarmu, saat
teman kita menerima undangan pernikahanmu, 45 tahun yang lalu. Saat umurmu 24
tahun. Aku masih berada di antah-berantah pengembaraanku yang jauh.
Saat itu, di tengah hutan,
mendung, air hujan menyatu dengan air mataku.
Aku menyesal telah gagal waktu
itu.
“Kek?” Ana ngomong lagi.
“Ah, ya, jadi bagaimana, Ana?”
Aku tak kuasa menahan kegembiraanku lagi. Semua gelap seketika. Aku meluap-luap.
***
“Ah, kakek sudah sadar.”
Aku sudah berada di rumah sakit—atau
yang kutebak sih begitu. Ana berada di sampingku. Memegang tanganku.
“Usiamu berapa, Ana?”
Gadis itu tersenyum. “Dua puluh,
Kek.”
“Ah, aku sudah tak kuasa
berhitung lagi.” Jawabku jujur.
“Hmm, jadi ceritanya, setelah
Mbah Kiki menikah tahun 2021 dulu, beliau kesulitan untuk mempunyai anak.”
Ana menghentikan kisahnya
sebentar.
“Terus?”
Ana melanjutkan. “Baru pada usia
33 tahun, beliau bisa hamil.”
Ohh, Kiki.
Sebut saja aku kakek baper,
namun momen ini benar-benar membuatku tak kuasa.
“Kakek sendirian? Maksudku hidup
sendiri?”
Aku tersenyum. “Kakek hidup bersama
kenangan dengan Mbamu itu, Ana.”
Ana membendung air matanya.
“Sekitar 3 tahun yang lalu, Mbah
Kiki cerita tentang Kakek. Beliau cerita semuanya. Mbahku itu juga ingin tahu
kabar kakek, karena tidak ada kontak sama sekali.”
Aku tersenyum.
“Beliau menyuruhku mencari
kakek.”
“Harusnya kau bilang ke Mbahmu
itu,” aku menarik napas, “aku tidak pernah ke mana-mana.”
***
“Kakek mau bertemu dengannya?”
Aku seketika terdiam.
“Kakek...Kakek tidak tahu, Ana.”
***
“Ki, dengerin dulu, ayo ngomong
baik-baik.”
Kau memalingkan muka, 49 tahun
yang lalu.
“Jutaan kali, kau bilang seperti
itu. Percuma, Mat, kebiasaanmu tidak hilang-hilang.”
Aku mengutuk diriku sendiri. Hujan
mulai membasahi daratan. Aku tahu bahwa selamanya, setelah hari ini, aku akan
menyesal membiarkanmu pergi.
***
“Dulu kakek tidak bisa menjaga
perasaan Mbahmu itu. Kakek terlalu mengikatnya. Padahal siapa kakek? Suaminya bukan.
Kemudian dia tidak senang. Dia itu orangnya bebas.”
“Dia bilang tidak akan memaafkan
kakek.”
Ana menatapku sendu. Aku bercerita
dengan perasaan yang tak terbayangkan.
“Kakek tidak pernah menyalahkan
keputusannya. Memang kakek yang salah.”
“Tapi kan kakek gak perlu sampai
hidup sebatang kara begini.”
Aku tersenyum getir. Sangat getir.
“Kau tidak tahu apa-apa, Ana.”
***
Aku langsung bisa pulang sore
itu. Ana mengantarkanku sampai rumah dengan mobilnya. Sore itu mendung. Aku bertanya
apakah dia akan tinggal atau pulang.
“Aku pulang, Kek. Ke Jakarta.”
“Hebat kamu, perempuan mandiri. Naik
mobil sendiri bolak-balik Jakarta-Purwakarta.”
“Yaelah kek.”
“Hehe, senang berjumpa denganmu.”
“Kakek serius nih, gak mau ikut?”
Aku tersenyum lagi. “Kakek bukan
siapa-siapanya.”
“Teman lama, mungkin?”
“Hahahaaha.”
“Yasudah kek.” Ana mencium tanganku
dan pamit.
Aku
melihat sosoknya hingga hilang.
Ah,
kini aku kembali sendiri.
***
“Hahahah, dasar Mamat lucu!”
“Kamu tuh, kecil!”
“Heh, ngocol ya!”
“Hahahaha!”
***

Oh hell. Ini baru tadi ngepostnya. Gw kira udah lama. Bio lu ganti gih jam. Sudah tidak relevan
BalasHapusMmmh, good story (maybe)
BalasHapus