Jumat, 21 April 2017

#Puisi Dan Darimu


Dulu kamu yang cebok-mandikan-susui-suapin
Dialog-dialog pertama dalam hidupku
Mungkin aku tak bisa mengingat itu semua
Namun tak mengusik fakta bahwa engkau Malaikat-ku
                Tak semua laki-laki bisa sungguh-sungguh memaknai
                Hari Kartini
                Mungkin begitu pula aku
                Bukan meremehkan, tapi tidak tahu
Malaikat-ku bekerja juga
Mendidik juga
Berjuang juga
                Kalau orang tanya darimana semua sifat baik yang kumiliki
                Itu darimu (maaf ayah)
                Kau bagai Kartini yang kulihat dengan mata sendiri
                Kau berada di barisan itu
Tidak dengan berkoar, tidak dengan menulis status
Yang kau bisa adalah bekerja demi itu
Gerak tanganmu saat mencuci baju lah yang membuatku tahu
Langkah kakimu saat mengajar lah yang membuatku tahu
Kantung matamu saat lelah bekerja dalam dunia lah
Yang membuat semua orang di sekelilingmu tahu
                Dan darimu
                Aku tahu

                Selamat Hari Kartini, Ibu

Kamis, 13 April 2017

#Cerpen Hikayat Lelaki yang Berpisah dengan Kekasihnya


Angin lembut masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Siang itu terik, namun tak sepanas hati seorang lelaki yang sedang meringkuk di sebuah kasur di kamar itu. Ruangan berukuran 3x3 meter tersebut sendu. Suasana hati sang pemiliknya sedang tidak baik.
“Apa, apa yang terjadi? Apa aku ketinggalan sesuatu?” Ujar sapu yang baru masuk kamar, setelah selesai dipakai untuk membersihkan ruangan lain.
“Dia sedang sedih.” Timpal Lemari sambil menunjuk kepada sang lelaki yang masih memeluk kedua kakinya yang terlipat.
“Apa gerangan sebab?” Sapu kembali bertanya.
“Tadi aku melihatnya membaca pesan dari kekasihnya. Mereka berpisah.” Jawab Bantal. Percakapan mulai jelas arahnya ke mana.

Senin, 10 April 2017

#Cerpen (Bukan) Orang Baik


Adalah aku, umur delapan tahun, yang sedang sidang di bawah terik.
Pengurus masjid marah bukan main. Pasal, aku memecahkan kaca masjid, hasil dari tendangan Macan Cisewu yang kuciptakan saat bermain bola.
Sebenarnya, jarak antara masjid dan lapangan cukup jauh, mungkin ada 500 meter. Kuat sekali tendangan Macan Cisewu ya? Ah, tidak juga sih. Sebenarnya aku tidak bermain di lapangan, tapi di dalam masjid. Itulah mengapa Macan Cisewu bisa dengan mudahnya meretak-bolongkan kaca masjid.

Jumat, 07 April 2017

#Puisi Pria Berpayung Kuning


Kepada: Pria berpayung kuning
Tentu kau ingat kepada gadis ceroboh
Yang waktu itu kau tolong
Di depan Stasiun Pondok Cina
                Yah, tidak kurang tiga kali kau menolongnya
                Selamat dari serangan hujan
                Yang bisa membuat diktat-diktat di tangannya
                Rusak hilang buaian
Kepada: Pria berpayung kuning
Tanpa sadar, gadis itu menumbuh candu
Dalam dirinya
Untuk terus ditolong olehmu
                Tanpa sadar, tumbuh harapan
                Yang ia siram selalu
                Harapan itu kini menjadi hutan lebat
                Yang menutupi pandangannya
                Yang buatnya buta, kecuali padamu
Lalu datang hari itu
Di mana ia melihatmu bersama orang lain
Hancur sudah harapan gadis itu
Seketika membuang diktat, peduli kemayu
                Kepada: Pria berpayung kuning
                Gadis itu sekarang sedang menulis puisi tentangmu
                Dan di akhirnya, ia berkata:
                Terima kasih telah mampir,
                Dan meninggalkan luka


Kamis, 06 April 2017

#Cerpen Si Dia


Pernah punya teman yang gila? I do.
Pernah punya teman yang jenius? I do.
Pernah punya teman gila dan juga jenius? I really do.
Tersebutlah seorang Bigo. Temanku sejak SMP. Kami dekat karena dulu ia kurang ajarnya minta ampun kepadaku. Maksudku, kami baru kenal, namun cara ia menjahiliku seakan-akan kami sudah berteman ratusan tahun.
Pernah aku tidur saat istirahat. Waktu itu kami baru berkenalan selama 2 hari. Tanpa kusadari, ia datang dan menggambar kumis di bawah hidungku.
Sekelas tertawa saat istirahat selesai.
Bigo pun berakhir dengan hukuman lari keliling lapangan sebanyak 7 kali. Gantian aku yang berkekeh.
Hari esoknya, Bigo dipanggil ke ruang guru. Aku agak kikuk mendengar saat Pak Sugeng memanggil namanya waktu peajaran Sejarah kala itu. Masa’ hukuman kemarin belum cukup? Gusarku dalam hati.
Aku mulai merasa kasihan padanya.
Namun Guru Sejarah kami—Pak Jukri—berkata bahwa Bigo akan mewakili sekolah kami untuk mengikuti olimpiade Matematika tingkat Kabupaten.
Seketika, rasa kasihanku sirna. Berubah menjadi terkejut.

Senin, 03 April 2017

#Puisi Empat Puisi Maret

1.       Solat di Bulan
Tidur aku miring-miring
Membatas lintas tubuhku yang mengombang
Dan mengambing
                Aku Astronot
                Kerja di tempat tak berbobot
                Massa ya? Lain daripada berat
Aku Muslim
Harus solat
Tapi di sini, kiblatnya tiap menit berubah
Dan aku harus tetap solat
                Kalian enak
                Solat gampang, gausah ikat badan
                Tidak tiap detik posisi berubah tak sepadan
                Makanya, solat atuh
2.       Reoa
Bagaimana kabarmu, yang menikmati hidup?
Bagaimana kabarmu, yang tak sedu sedan redup?
Temani, temaniku yang terkelungkup
Kau, yang beriku ruang tuk berhirup
                Saban hari kita makan es krim
                Aku yang bayar
                Beli di Indomaret dekat kosanmu
3.       Kejujuran
Matahari terbang rendah
Jadinya bumi tak pernah sepanas ini sebelumnya
Aku tak terkesan dengan kejujuran
Orang yang menyatakan cinta
                Kepada yang tidak bisa ia miliki
                Kejujuran sejati adalah
                Tatkala ngariung jeung barudak
                Dan mengaku bahwa yang kentut adalah dia
4.       Sudan Mencintaimu
Tapi Madinah lebih
Kuhitung, baru seminggu kau di sini
Kita mengerjakan hal-hal bersama
Aku memberitahu bahwa yang mengospekmu di sini Allah
                Lalu datang kabar itu
                Kau diterima di sana, seperti mimpimu
                Di kota Nabi kau tuju
                Oh, sekali lagi, selamat, kawanku