Kamis, 13 April 2017

#Cerpen Hikayat Lelaki yang Berpisah dengan Kekasihnya


Angin lembut masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Siang itu terik, namun tak sepanas hati seorang lelaki yang sedang meringkuk di sebuah kasur di kamar itu. Ruangan berukuran 3x3 meter tersebut sendu. Suasana hati sang pemiliknya sedang tidak baik.
“Apa, apa yang terjadi? Apa aku ketinggalan sesuatu?” Ujar sapu yang baru masuk kamar, setelah selesai dipakai untuk membersihkan ruangan lain.
“Dia sedang sedih.” Timpal Lemari sambil menunjuk kepada sang lelaki yang masih memeluk kedua kakinya yang terlipat.
“Apa gerangan sebab?” Sapu kembali bertanya.
“Tadi aku melihatnya membaca pesan dari kekasihnya. Mereka berpisah.” Jawab Bantal. Percakapan mulai jelas arahnya ke mana.

Semua pun bangun mendengar ucapan bantal tadi. Meja belajar, komputer, kipas angin, bahkan lampu yang biasanya hanya bangun pada malam hari.
Sesudah ini, kamar itu akan dilanda murung. Semua ikut sedih mendengar berita yang baru saja menimpa Lelaki sang pemilik kamar.
“Mereka berdua kan sudah lama? Setiap malam kita melihatnya dengan senang memainkan hapenya, mebalas pesan yang dikirimkan oleh sang kekasih.” Sang Lampu berujar panjang.
“Tampaknya kita tidak akan melihat hal itu lagi dalam waktu yang cukup lama.” Jendela menimpali. Seakan ia tahu segalanya saja.
Sang lelaki bangkit dari kasur. Ia ingin pipis. Sejurus kemudian, sosoknya telah meninggalkan kamar yang masih ramai dengan perbincangan hangat penghuni-penghuninya.
“Kalau begitu, mari kita lihat, berapa lama kesedihan menimpa lelaki tersebut, dan juga kamar ini.” Kata Lemari. Semuanya pun mengangguk-angguk.
***
Tiga hari berlalu, keadaan belum kunjung membaik. Lelaki tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar, bermain game, bermain handphone, tidur, makan, nonton film, diulang begitu terus. Anggota kamar masih memaklumi lelaki itu.
“Hey, mau bicara kali ini?” Lampu membujuk seorang anggota kamar yang paling banyak menyimpan rahasia si lelaki, namun yang paling rapat tutup mulut.
Namun si Handphone  tetap diam saja.
Kalau ada yang paling tahu duduk permasalahan lelaki tersebut, sudah pasti adalah alat komunikasi yang ia gunakan. Tetapi apa daya, ia diam dan teguh seperti karang.
Bantal memang sedikit-sedikit bisa mengintip apa yang sedang dan akan dan sudah dilakukan lelaki itu di Handponenya, namun rasa-rasanya ada penjelasan yang lebih kuat mengenai permasalahan ini.
Lampu mendesak kembali Handphone. Meyakinkan agar anggota kamar yang paling bebal itu mau bicara. Ah, memang, lampu itu adalah yang paling bijak di antara mereka. Dan meskipun selalu telat info—karena ia hanya bangun pada malam hari—lampu selalu yang terdepan untuk menyelesaikan masalah.
“Tidak mau bicara ya? Baiklah. Aku menyerah. Kita berdo’a yang terbaik saja untuknya.” Lampu menghela napas dan kembali tidur—ini masih siang.
***
Hari demi hari pun berlalu. Sendu masih merongrong kamar tersebut. Sudah lewat lima belas hari semenjak lelaki itu pertama bersedih.
Anggota kamar mulai tidak tahan.
“Kasihan lelaki itu, padahal waktunya bisa ia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.” Ujar Lemari. Anggota kamar yang lain mengangguk. Kecuali si Lampu.
“Kenapa kau tidak mengangguk, Lampu? Apakah pernyataanku salah?” Tanya Lemari.
“Hmm, tidak juga.”
“Lalu apa gerangan yang ada di pikiranmu?” Tanya si besar—julukan mereka pada Lemari—kepada anggota kamar yang aling bijak tersebut.
Lampu tersenyum, seraya memandang sang lelaki—yang kini sedang menonton film,” inilah cara yang disiapkan Tuhan agar ia kembali mengingatNya.”
Lampu melanjutkan. “Tuhan memberikan kesempatan kepada semua HambaNya, maka biarlah ia melalu fase ini, kelak ia akan belajar. Tidak usah berandai-andai kepadanya. Ia sedang belajar sekarang.”
Yang lain mengangguk-angguk setuju. Tidak ada yang salah dari kedua pernyataan kedua teman mereka. Kini, hanya tinggal menunggu sang lelaki, yang akan mengambil kesempatan itu, atau membiarkannya begitu saja.
***
Hari ke dua puluh adalah harinya.            
Untuk pertama kalinya, semua yang ada di kamar itu melihat senyuman kembali dari wajah sang lelaki. Senyum yang tulus, bukan senyum bohongan karena terhibur sesaat oleh tingkah laku pemain film yang ditontonnya.
Senyum yang didapatkan ketika semua semangat hidup itu kembali lagi.
“Apa? Apa yang terjadi? Apakah dia kembali bersama kekasihnya? Apakah ia mendapat kekasih baru? Atau ia kembali pada kekasih sejatinya? Kepada Tuhannya?”
Adalah si Lampu yang bertanya-tanya heboh.
Semua anggota kamar tersenyum kepadanya. “Oh, kau Lampu, yang paling bijak di antara kami.”
Kemudian lelaki tersebut keluar dari kamarnya sebentar untuk mengambil kursi. Tak lama, ia datang kembali, menaruh kursi di tengah ruangan dan menaikinya. Kini wajahnya berhadapan langsung dengan si Lampu.
Sang lelaki berisik. “Aku tidak apa-apa, kami hanya ingin mengerjaimu saja. Selamat ulang tahun.”

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar