Angin lembut masuk melalui
celah-celah jendela kamarnya. Siang itu terik, namun tak sepanas hati seorang
lelaki yang sedang meringkuk di sebuah kasur di kamar itu. Ruangan berukuran
3x3 meter tersebut sendu. Suasana hati sang pemiliknya sedang tidak baik.
“Apa, apa yang terjadi? Apa aku
ketinggalan sesuatu?” Ujar sapu yang baru masuk kamar, setelah selesai dipakai
untuk membersihkan ruangan lain.
“Dia sedang sedih.” Timpal
Lemari sambil menunjuk kepada sang lelaki yang masih memeluk kedua kakinya yang
terlipat.
“Apa gerangan sebab?” Sapu
kembali bertanya.
“Tadi aku melihatnya membaca
pesan dari kekasihnya. Mereka berpisah.” Jawab Bantal. Percakapan mulai jelas
arahnya ke mana.
Semua pun bangun mendengar
ucapan bantal tadi. Meja belajar, komputer, kipas angin, bahkan lampu yang
biasanya hanya bangun pada malam hari.
Sesudah ini, kamar itu akan
dilanda murung. Semua ikut sedih mendengar berita yang baru saja menimpa Lelaki
sang pemilik kamar.
“Mereka berdua kan sudah lama? Setiap
malam kita melihatnya dengan senang memainkan hapenya, mebalas pesan yang
dikirimkan oleh sang kekasih.” Sang Lampu berujar panjang.
“Tampaknya kita tidak akan
melihat hal itu lagi dalam waktu yang cukup lama.” Jendela menimpali. Seakan ia
tahu segalanya saja.
Sang lelaki bangkit dari kasur. Ia
ingin pipis. Sejurus kemudian, sosoknya telah meninggalkan kamar yang masih
ramai dengan perbincangan hangat penghuni-penghuninya.
“Kalau begitu, mari kita lihat,
berapa lama kesedihan menimpa lelaki tersebut, dan juga kamar ini.” Kata Lemari.
Semuanya pun mengangguk-angguk.
***
Tiga
hari berlalu, keadaan belum kunjung membaik. Lelaki tersebut menghabiskan
sebagian besar waktunya di kamar, bermain game, bermain handphone, tidur,
makan, nonton film, diulang begitu terus. Anggota kamar masih memaklumi lelaki
itu.
“Hey, mau bicara kali ini?”
Lampu membujuk seorang anggota kamar yang paling banyak menyimpan rahasia si
lelaki, namun yang paling rapat tutup mulut.
Namun si Handphone tetap diam saja.
Kalau ada yang paling tahu duduk
permasalahan lelaki tersebut, sudah pasti adalah alat komunikasi yang ia
gunakan. Tetapi apa daya, ia diam dan teguh seperti karang.
Bantal memang sedikit-sedikit
bisa mengintip apa yang sedang dan akan dan sudah dilakukan lelaki itu di
Handponenya, namun rasa-rasanya ada penjelasan yang lebih kuat mengenai
permasalahan ini.
Lampu mendesak kembali
Handphone. Meyakinkan agar anggota kamar yang paling bebal itu mau bicara. Ah,
memang, lampu itu adalah yang paling bijak di antara mereka. Dan meskipun selalu
telat info—karena ia hanya bangun pada malam hari—lampu selalu yang terdepan
untuk menyelesaikan masalah.
“Tidak mau bicara ya? Baiklah. Aku
menyerah. Kita berdo’a yang terbaik saja untuknya.” Lampu menghela napas dan
kembali tidur—ini masih siang.
***
Hari demi hari pun berlalu. Sendu
masih merongrong kamar tersebut. Sudah lewat lima belas hari semenjak lelaki
itu pertama bersedih.
Anggota kamar mulai tidak tahan.
“Kasihan lelaki itu, padahal
waktunya bisa ia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.” Ujar Lemari. Anggota
kamar yang lain mengangguk. Kecuali si Lampu.
“Kenapa kau tidak mengangguk,
Lampu? Apakah pernyataanku salah?” Tanya Lemari.
“Hmm, tidak juga.”
“Lalu apa gerangan yang ada di
pikiranmu?” Tanya si besar—julukan mereka pada Lemari—kepada anggota kamar yang
aling bijak tersebut.
Lampu tersenyum, seraya
memandang sang lelaki—yang kini sedang menonton film,” inilah cara yang
disiapkan Tuhan agar ia kembali mengingatNya.”
Lampu melanjutkan. “Tuhan
memberikan kesempatan kepada semua HambaNya, maka biarlah ia melalu fase ini,
kelak ia akan belajar. Tidak usah berandai-andai kepadanya. Ia sedang belajar
sekarang.”
Yang lain mengangguk-angguk
setuju. Tidak ada yang salah dari kedua pernyataan kedua teman mereka. Kini,
hanya tinggal menunggu sang lelaki, yang akan mengambil kesempatan itu, atau
membiarkannya begitu saja.
***
Hari ke dua puluh adalah
harinya.
Untuk pertama kalinya, semua
yang ada di kamar itu melihat senyuman kembali dari wajah sang lelaki. Senyum yang
tulus, bukan senyum bohongan karena terhibur sesaat oleh tingkah laku pemain
film yang ditontonnya.
Senyum yang didapatkan ketika
semua semangat hidup itu kembali lagi.
“Apa? Apa yang terjadi? Apakah dia
kembali bersama kekasihnya? Apakah ia mendapat kekasih baru? Atau ia kembali
pada kekasih sejatinya? Kepada Tuhannya?”
Adalah si Lampu yang
bertanya-tanya heboh.
Semua anggota kamar tersenyum
kepadanya. “Oh, kau Lampu, yang paling bijak di antara kami.”
Kemudian lelaki tersebut keluar
dari kamarnya sebentar untuk mengambil kursi. Tak lama, ia datang kembali,
menaruh kursi di tengah ruangan dan menaikinya. Kini wajahnya berhadapan
langsung dengan si Lampu.
Sang lelaki berisik. “Aku tidak
apa-apa, kami hanya ingin mengerjaimu saja. Selamat ulang tahun.”
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar