Kamis, 15 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Amru – Extended


“Patah hati ya bang?”
“Stress kali lu bang? Hahaha.”
“Gila aja! Ngapain bang? Haha”
Amru hanya tersenyum menanggapi semua komentar tersebut. Tersenyum getir. Jenis senyuman yang paling sering ia keluarkan.
Sembari berjalan kembali, ia memikirkan hari-hari yang telah berlalu.
***
Tiga hari yang lalu, ia bertolak ke terminal Bungurasih, Surabaya. Di punggungnya, nangkring sebuah tas besar yang hampir melebihi besar tubuhnya. Sebuah tas carrier yang sudah menampung segala macam kebutuhannya untuk perjalanan kali itu.
Di Bungurasih, Amru menunggu tengah malam sambil tidur-tiduran di atas matras yang ia gelar. Di samping-sampingnya, tampak orang-orang yang sejenis dengannya juga ikut tiduran.
“Mau ke mana bang?” Seseorang bertanya padanya.
“Argopuro.”

Kamis, 08 Desember 2016

#Puisi Suatu Hari di Masa Depan


Akan datang waktu
Di mana seorang anak laki-laki memanggilku ibu
Dan seorang anak perempuan memanggilmu ayah
Lalu kita tertawa
Sembari menyeruput teh di pagi yang merayap
Akan datang waktu
Di mana aku akan menyucikan baju setiap hari
Dan kau berangkat kerja dengan bekal dari rumah
Lalu kita tertawa
Sembari membiarkan diri sendiri dungu
Akan datang waktu
Di mana aku membuatkan kopi di tiap pagi
Dan kau mengatakan terima kasih, cintaku
Lalu kita tertawa
Sembari mengenang hari-hari yang lalu
Aku dengan suamiku
Kau dengan istrimu
Dan hanya ucap terima kasih yang terakhir kubilang padamu
Sebelum di persimpangan jalan dulu
Arah yang berbeda kita tuju
Mengingat bahwa kita telah setuju
Untuk tetap bahagia setelah itu
               
Dia menutup buku hariannya. Buku harian yang tidak pernah diketahui oleh suaminya. Buku harian berisi catatan-catatan tentang hidupnya yang hanya ia yang tahu. Aku tahu, namun tidak pernah melihat isinya.

Aku pernah tahu, ah, bahkan aku sudah lupa kalau aku tahu.

Senin, 05 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Nisa


“Amru!! Gamau deket-deket Amru, ih!”
Yang dibentak diam saja.
“Udah, sini Nisa ke depan aja.” Senior dan juga teman samping kosannya, Lina, menawarkan posisi.
“Tau tuh, kenapa sih Amru yang di belakang aku?! Huh.”
“Iya-iya, kakak yang nanti di depan Amru.”
“Iya kak, makasih.”
Yang sedari tadi diomongin hanya diam. Tidak tahu harus merespon apa. Hanya diam sambil terus berjalan.
“Break!” Ujar Riki di baris paling depan. Ia bersama 3 cowok lain mulai duduk. Nisa pun mencari tempat yang nyaman juga dan mulai beristirahat.
“AAAAAA!! Pacet!” Luna berteriak sambil mengusir hewan kecil tersebut dari lengannya.
Pacet, atau nama kerennya Haemadipsa zeylanisa memang sedang musim-musimnya. Apalagi sekarang sedang musim hujan.
Hutan tampak basah kerana dicumbu hujan sepanjang malam.
Kelompok tersebut—termasuk Nisa—sudah berjalan dua jam lamanya. Mereka sedang melakukan pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jumlah mereka 13 orang. Nisa bersama 4 orang teman perempuannya. Dan Amru bersama tujuh orang cowok lainnya.
Pemimpin mereka adalah Chen. Seorang guide magang yang bertubuh tinggi kekar. Luna dan Lina adalah kakak kelas Nisa. Mereka biasa mengalah buatnya. Mereka baik. Nisa sayang mereka berdua.
Tapi Nisa paling benci kepada Amru.

Sabtu, 03 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Amru


“Tekad itu ada di sini.” Jaki menusuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk.
Tidak tembus.
“Busungkan, supaya tekadmu jadi tebal juga.”
Amru membusungkan dadanya.
“Kalo hati?”
Jaki tertawa. “Hati itu ada di sini.” Pria itu menunjuk kepalanya. “Hati itu hakikatnya adalah akal sehat. Kau akan mengerti suatu saat nanti.”
***
6 tahun kemudian.
“SAYA TIDAK PERNAH MENGANJURKAN PENDAKIAN GUNUNG DENGAN HUTAN TROPIS MENGGUNAKAN SANDAL.”
Amru menelan ludah. Dari belasan orang di situ, hanya ia yang memakai sandal. Artinya, kalimat tersebut adalah sindiran tunggal baginya.

Minggu, 27 November 2016

#Puisi Orang Biasa


Ada anak bingung
Adam menghampiri
“Kenapa, bocah?”
“Bagaimana caranya mengubah dunia?”
                Adam tertawa
                “Dunia tidak ingin diubah olehmu”
                “Dunia tak butuh bantuanmu”
“Dunia justru ingin mengubahmu”
Anak memasang muka marah
Adam mengelus kepala sang bocah
“Dunia pada dasarnya adalah tempat yang buruk”
“Tapi lakukanlah kebaikan”
                Adam beranjak pergi
                Anak menahannya
                “Tunggu, aku ingin melakukan hal besar”
                “Aku ingin jadi orang besar”
Adam duduk lagi
“Tidak semua orang bisa jadi presiden”
“Tidak semua orang bisa menjadi raja”
“Tapi semua orang bisa memperbaiki hal-hal kecil di sekitarnya”
                Adam memungut sampah di dekatnya
                Adam mengantongi sampah tersebut
                “Kalau semua orang melakukan hal ini”
                “Kita bisa jadi lebih ‘besar’ dari raja manapun”
Anak menggaruk kepalanya
Adam beranjak pergi
Namun di langkah kedua, ia berhenti
Adam berkata
                “Tidak perlu jadi orang besar”
                “Jadilah orang biasa yang melakukan kebaikan”
                Adam menghilang
                Anak tersenyum, ia sekarang paham

Kamis, 07 Juli 2016

#Puisi Kita


Aku mesiu
Siap meledak kapanpun dicumbu
Bersamamu kurasa candu
Ah, lekas datang kau diburu waktu

Selasa, 21 Juni 2016

#Puisi Kenapa Tidak Jatuh Cinta Saja?



Kenapa tidak jatuh cinta saja pada teman sekelasmu?

Agar tak perlu lagi ada janji-janji dungu

Untuk sekedar bertemu

Lintas kota tapak kita tuju


Kenapa tidak jatuh cinta saja pada teman sekelasmu?

Agar tiap hari bisa kau tukar pandang seribu

Tanpa perlu ada yang tahu

Bahwa kencanmu hanya sebatas itu


Kenapa tidak jatuh cinta saja pada teman sekelasmu?

Agar cepat kau lupakan aku

Yang hanya bisa meringis rengek tangis di ujung waktu

Tahu hubungan kita sulit tuk melaju


Tapi, becanda doang sih

Serius amat lol

Minggu, 15 Mei 2016

#Moment 14 Mei 2016


Yass, and here we go, my 19th birthday

I woke up as usual, nothing special even though i was going to have a bithday that day

So, my morning started with a little jogging, 2.5 km away, and a little bit rest

My actually day was after zuhur, when i went to Carrefour Lebak Bulus to meet my one and only Sandra Dewi

It was a little bit frustating knowing her came with a dozen of bodyguard, so at the first time i thought, "how could i take a picture with her in this situation?"

But when the agenda was over, there was a meet n' greet season conducted by her

Yeah, and that's my opportunity

So i came along, mentioned that today is my birhday until she noticed me and call me fisrt.

God, she was really, really..

How should i describe it? Tall? 

But yeah, she's taller than me. And also.. White. And beautiful. And skinny. And friendly.

So i asked her to take a selfie, with an angry face



A plain face


And a smile face



Last, i shake her.. What we say it? A princess hand? It was really, really soft. Like seriously.

And the day ended up with me, abcent from my present, going up higher and higher, just because of a thirty second, thirty five point three zero second benificial and meaningful opportunity, meet my Sandra.

God, the last words i gonna write are just;

Boleqa aq? Seqali lagi?


Selasa, 12 April 2016

#Serial Murder Eps 7

Murder Eps 7
Markas besar O, Jenewa, Swiss.
“Santi adalah proyek besar kita. Peperangan yang akan terjadi antara dirinya dan manusia super buatan kita akan menjadi fokus utama selanjutnya. Ini akan menjadi bagian penting dalam sejarah umat manusia.”
Sebuah suara keluar dari mointor, beserta gambar wajah dan kantor yang sibuk di belakangnya.
“Aku mendengar dari mata-mata kita bahwa Santi menolak untuk bergabung dengan aliansi besutan Mursi, dan memilih untuk melanjutkan Murdernya. Keputusan yang ia ambil sedikit memuluskan rencana kita.”
Kali ini, sosok misterius yang berada di kantor itu yang bicara.
“Namun tetap saja, kita tidak bisa meremehkan anak itu.”
Sosok ketiga yang bicara sekarang.
Maka, sudah bisa ditebak, percakapan super rahasia ini terjadi antara tiga pimpinan O. Sosok paling menakutkan sekaligus paling berbahaya di dunia. Penjahat dari para penjahat.
Serigala yang tak pernah diketahui oleh gerombolan domba di dunia; umat manusia.

Minggu, 10 April 2016

#Serial Sang Badai Eps 7

Sang Badai Eps 7
Rencana menghancurkan bumi adalah sebuah rencana yang besar. Tidak bisa ujug-ujug dilaksanakan begitu saja. Ernest sendiri telah merencanakan hal ini beberapa ratus tahun yang lalu. Saat itu ia mulai bosan dengan kesendiriannya di Jupiter. Hobinya—membuat badai—memang tersalurkan sih, namun tetap saja kesendirian itu perlahan membunuh. Tak lagi ia betah dengan kondisinya waktu itu.
Maka, dengan mengantongi rencana A dan B, ia kini siap membuat kejutan.
Satu langkah telah berhasil ia lewati. Mengintip Pandora.
Langkah kedua pun berhasil. Membunuh Ernest. Ya, meski ganjarannya ia harus menepi selama 10 tahun karena luka yang dideritanya dalam pertarungan dahsyat yang tak pernah disaksikan oleh manusia tersebut.
Kini, ia menuju langkah selanjutnya.
Membuat Alchemist, dan membunuh Mari.

Minggu, 28 Februari 2016

#Serial Murder Eps 6

Previously, on “Murder”
“Mereka menyerang Markas GPS, Mursi! Kita tidak bisa tinggal diam!” Andrew, pemimpin klan GPS yang hadir dalam rapat itu, mencak-mencak.
Dentuman terjadi di atas tempat rapat itu.
“O...” Desis Mursi.
---
“Kita tidak akan bertahan, Mursi!” Kumar berkata saat dentuman demi dentuman mereka terima, beserta laporan dari awak kapal bahwa perisai mereka hampir hancur.
“Sir.” Kapten Miles tiba-tiba menunjuk ke arah barat lautan. Beberapa rudal menghantam kapal selam-kapal selam Navy hingga meledak.
Bum! Bum! Bum!
Dari kejauhan, tampak pula lusinan helikopter berdatangan dan menembaki 4 helikopter musuh hingga hancur.
“Perempuan itu...”
---
“Lama tidak bertemu, Mursi...” Jean masuk ke kapal dengan santai. Barusan, ia menjadi pahlawan karena telah menghancurkan sepasukan tentara O yang menyerang mereka.
“Aku ke sini untuk bertemu Santi.”
“Cih, sayang dia sudah pergi beberapa saat yang lalu.” Red berkata sinis.
“Oh ya?” Jean tersenyum.
---
“The Hell!! Kaca ini anti peluru! Panah macam apa yang bisa menembusnya?!”
Beberapa saat yang lalu, sebuah helikopter mendekat dan menembakkan panahnya ke helikopter Santi.
Santi pun mendekat pada panah yang menancap itu, kemudian melihat lebih teliti.
“Panah ini dilapisi intan. Ujungnya sekuat baja. Pantas saja kaca kita tidak kuat.”
Santi menyentuh ujung panah tersebut. Tanpa menyadari bahwa ada racun yang menempel di sana. Dan begitu jemarinya mendarat di ujung anak panah, hanya gelap yang mampu ia rasakan.
Santi roboh.
---
“Bawa dia masuk.” Ujar Jean. Sesaat kemudian, beberapa prajuritnya membawa tubuh Santi yang masih terengah-engah.
“Santi! Mengapa kau...”
Red terheran-heran, namun melanjutkan kalimatnya kepada orang lain.
“...Mengapa kau membawanya lagi kemari?”
Jean mengangkat bahu.
“Karena aku harus bertemu dengannya, Red.”
Jean angkat bicara pada anak itu.
“Perkenalkan, Santi. Namaku adalah Jean.”
Suasana hening sejenak.
“Aku adalah ibumu.”
***

Sabtu, 27 Februari 2016

#Serial Sang Badai Eps 6 (Special Addition)

Waktu membaca:2-3 menit
(Sekitar) 300 Juta tahun yang lalu.
Semua dimulai saat Dinosaurus berkuasa di muka bumi. Sang Penguasa Alam “menitipkan” bumi—salah satu habitat makhluk fana di alam semesta—kepada makhluk besar nenek moyang reptilia tersebut.
Berbarengan dengan keberadaan Dinosaurus sebagai “penguasa” Bumi, datang pula Makhluk-makhluk transendental untuk menjaga kestabilan dunia.
Papa Sang Cahaya adalah yang pertama. Lalu Mari dan Wafee. Kemudian datang pula Ernest Sang badai beserta saudara dekatnya, Galang Sang Atmosfir.
Makhluk-makhluk transendental ini didatangkan dari tempat yang tidak pernah diketahui oleh makhluk fana—bahkan oleh makhluk transendental sendiri. Mereka merasa muncul begitu saja.

Rabu, 24 Februari 2016

#Serial Sang Badai Eps 5

Waktu membaca: 4-6 menit
Bim meneguk minumannya. Pria paruh baya itu meresapi tetes demi tetes hingga gelas kecilnya kosong. Ia bernapas dalam-dalam sebelum menuang lagi.
“Bim. Lama tidak bertemu.”
Seorang lelaki berjas muncul dan menyapa. Bim menengok ke arahnya. Tampak di samping si pria berjas, seorang anak kecil berdiri polos.
“Inikah dia?” Tanya Bim.
“Tuanmu yang baru.” Ujar si pria berjas.
“Oh, tentu. Namun belum saatnya.” Bim berdiri, kemudian berjongkok ke arah anak tersebut.
“Senang bertemu denganmu, anak muda.”
Sang anak memandang Bim dengan sedikit senyuman sopan.
“Siapa kau?” Tanya si anak.
Bim tertawa.
“Hahaha. Tentu saja, kau pasti belum tahu.”
Pri berjas, yang tak lain adalah Feliks, ikut tertawa kecil.
“Perkenalkan. Aku Bim. Aku adalah partner Ayahmu.”

Minggu, 21 Februari 2016

#Puisi Kalau Kita

<)

Darimana juga aku meraba
Kalau sedari tadi tanganku terikat
Saat kudengar kau yang meronta merana
Duh merasaku naluri terangkat

Hey, cinta
Kalau kita berhasil pergi
Menikahlah dengan orang lain
Karena aku hanya orang bejat

Hey, cinta
Kalau kita berhasil selamat
Lupakan aku pernah ada
Karena hidupmu lebih berharga dari kenanganku

Kalau kita,

Kalau kita,

Sejenak kuhapus dulu "kita",

Kalau kamu,

Kalau kamu,

Karena sebegitu tak pentingnya aku,

Pergilah, kelak kau akan selamat,
Biarlah aku sendirian merapat,
Melepas hidup yang sedang sekarat,

Kalau kita selamat,
Aku akan kembali lagi kepada para penjahat,
Kuminta mati saja sekelebat,
Lalu kau lanjutkan hidupmu tanpa laknat,

Dan jangan menangislah, cinta...

Karena kau akan selamat.

#Serial Murder Eps 5

Santi memutuskan untuk pergi!

Sementara itu, Markas Mursi yang hampir hancur ternyata diselamatkan oleh seorang wanita misterius! Siapakah dia? Dan apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Simak terus kelanjutannya di sini:

Baca Murder Eps 5

Sabtu, 13 Februari 2016

Minggu, 07 Februari 2016

#Puisi Aku Benci Hujan


"Aku umur tujuh tahun"

Ibu, mau main hujan-hujanan yah
Gak boleh, nanti sakit
Yah, sekali ajaaaa
Hmm, yaudah sekali aja ya

Aku pun menghambur ke luar
Menantang jutaan rintik air yang menyuar
Gembira
Sangat

"Aku umur sepuluh tahun"

Yah mendung nih
Sikat aja ayo tendang lagi
Tanggung basah sekalian
Okelah ayooo

Enam anak itu lanjut bermain bola
Tak peduli air langit yang menimpa
Bergelora
Sangat

"Aku umur lima belas tahun"

Satu! Dua! Tiga!
Laki-laki kok lembek begitu!
Lagi!
Satu! Dua! Tiga!

Hitungan demi hitungan menerpa
Aku pasrah saja
Hujan deras ikut merusak suasana
Sebal
Lumayan

"Aku umur delapan belas tahun"

Elah, ujan lagi!
Nanggung juga dikit lagi nyampe!
Ah, terpaksa pake jas ujan dulu!
Sial!

Aku menepikan motor ke pinggir jalan
Sudah macet, hujan pula
Padahal kampus tinggal empat belokan saja
Benci
Sangat

"Aku setelah bertemu denganmu"

Udah terobos aja yuk
Loh jangan gaenak basah nanti
Kenapa emang kalo basah?
Ya gapapa sih, aku cuma benci sama hujan

Kenapa benci?
Umm, gaenak aja, mengganggu
Ih, sini ayooo
Eeee

Aku ditarikmu ke dalam deras air
Tatkala kita pulang dari kencan
Sengaja kubiarkan
Benciku kalah melihat kau punya senyuman

"Kamu itu ndak benci sama hujan...
Kamu cuma benci sama hal-hal buruk yang terjadi,
Lalu menyalahkannya pada hujan"

Lalu kau memelukku

Dan kita menghilang dalam cinta

Aku benci mengatakannya,

Namun aku kembali menyukai(mu) hujan

Senin, 25 Januari 2016

Senin, 18 Januari 2016

Minggu, 17 Januari 2016

#Cerpen Si Pecinta

Waktu membaca: 4-6 menit
Mudah saja kalau ingin terkenal. Kencing di depan gedung rektor pun kita sudah bisa terkenal, minimal se-kampus selama 2 hari. Mudah saja kalau ingin populer. Pakai barang branded, show off di depan kantin fakultas. Minimal se-kampus selama tiga hari.
Yang sulit itu kalau ingin dicintai.
Kita harus santun, bersahaja, dan gak nyampah di pergaulan. Influence berbanding lurus dengan reputasi. Itu yang selalu kupegang dari dulu.
Makanya, kini, ketika aku duduk di semester dua bangku perkuliahan, banyak yang menghormatiku. Sebagai teman, aku selalu berusaha untuk berguna. Ada di saat suka dan duka. Sebagai mahasiswa, aku selalu berusaha mendengarkan. Sebagai pemimpin, aku selalu berusaha adil.
Ya, minimal se-fakultas psikologi Undip aku dikenal sebagai seorang Adul yang sederhana, baik hati dan setia. Itu saja sudah cukup. Tak perlu embel-embel populer dan terkenal. Aku selalu menyukai lingkunganku, teman-temanku, dan semuanya.
Sebuah lingkaran kecil akan tetap indah bila kita bisa memegang sisinya.
Sebaliknya lingkaran besar akan menjadi rumit karena sisinya terlalu jauh untuk dipegang.
Itulah pergaulan. Sedikit namun benefit.
Ah, jadi kebanyakan melantur.

#Serial Murder Eps 4

Waktu membaca: 5-7 menit
Santi akhirnya menolak untuk bergabung dengan Gerakan yang ingin menghancurkan O! Apakah yang ada di pikirannya? Dan apakah yang akan direncanakan oleh Mursi dan anggota lain untuk menghancurkan O?
Di sisi lain, O mengambil inisiatif untuk menyerang duluan. Markas GPS yang berada di Tasmania dihancurkan! Apa yang sedang terjadi? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Sabtu, 16 Januari 2016

#Puisi Jomblo Tidak Takut


Jomblo tidak takut,
Pergi sendiri di malam minggu,
Menikmati lampu-lampu kota,
Memeluk dingin,

Jomblo tidak takut,
Nonton bioskop di pojok,
Film sedih romantis yang diputar,
Kami tidak akan menangis,

Jomblo tidak takut,
Mantan datang bawa golok,
Mantan datang bawa revolver,
Mantan datang bawa bazoka,
Nuntut tanggung jawab karena dia hamil,

Jomblo baru takut.

#Cerpen Bunga Akan Kalah Oleh Doa


Waktu membaca: 6-8 menit
Hari yang cerah seperti biasanya. Aku datang terlambat lagi ke kelas. Kali ini, hukumanku menjadi berlipat. Aku harus dijemur di lapangan ketika istirahat nanti, sembari mengaji satu juz Alquran. Oke. Habislah istirahatku selama 40 menit.
Aku duduk di sudut kelas, tempat yang paling nyaman untuk tidur. Oke, meski harus kuakui bahwa semua tempat di kelas ini nyaman untuk tidur. Udara segar yang menaungi kompleks madrasah kami memang selalu menjadi trigger utama dalam menina-bobokan para santri.
Pagi ini, kami sekelas di kelas 12 Keagamaan mulai belajar di semester dua. Yang berarti, hanya tinggal beberapa bulan lagi kami tinggal di Pondok Pesantren ini. Sungguh penantian yang panjang semenjak 6 tahun lalu aku mulai masuk ke dalam lingkungan ini.

Jumat, 15 Januari 2016

#Cerpen Stranger in Mecca


Waktu membaca: 5-7 menit
I was on my way, doing this first holy trip in my life. For me, Haji is not only a trip, it’s a journey of finding your holy side. I was very grateful to get this chance, visiting the greatest city in the world—acording to me, of course.
I was saving for about ten years before i finnaly get this moment. Yeah, ten years full of hardwork and a little bit suffering, but in a good way of course. So there was I, sitting on the plane, waiting to arrive at the destination.
  To Mecca.
***

Kamis, 14 Januari 2016

#Puisi Hai


Hai,
janji ya,
cuma kita yang tau,
kalo aku ngobrol sama kamu,

Hai,
Tau gak apa yang lebih cantik dari bulan?
Iya,
Intinya bukan kamu,

Hai,
Kamu jadinya marah?
Loh, aku cuma mau jujur,
Kamu memang ndak cantik kok,

Hai,
Ye jangan pergi lah,
Kamu tersinggung?
Kan aku cuma bicara jujur,

Hai,
Kamu beneran pergi?
Yasudah,
Pesanku, lain kali bersyukur saja, ndak usah tersinggung kalo ada yang bilang kamu ndak cantik,

--si gadis pergi karena mendengar kejujuran si bocah laki-laki, kejujuran memang pahit, namun terkadang, kita memang harus mengakui kepahitan yang dibawanya, dan cukup bersyukur--

#Cerpen Riot


Waktu membaca: 5-7 menit
“Kenapa kita berhenti di sini, pak?” Aku bertanya dengan nada gelisah pada supir taksi yang kutumpangi.
Setengah jam yang lalu, aku naik taksi berwarna putih dari Epicentrum, Kuningan. Tujuanku adalah Lebak bulus. Aku akan bertemu dengan teman-temanku di club Afterour di Points Square. Saat itu sudah jam setengah satu malam. Aku telat satu jam dari waktu yang dijanjikan.
Dan sekarang, di sinilah aku. Di sebuah pojok gelap yang setahuku berada di daerah TB. Simatupang. Supir taksiku tak menjawab, namun tiga detik kemudian ia menodongkan senjata rakitan ke arahku.

Senin, 11 Januari 2016

Minggu, 10 Januari 2016

#Serial Murder Eps. 3

Red membawa Santi ke Markas Rahasia tempat ia dan yang lainnya berkumpul untuk melawan O. Santi yang terkejut dengan pemimpin gerakan tersebut bingung antara bergabung dengan mereka atau tidak.
Di sisi lain, rapat untuk memulai perang melawan O dimulai. Rahasia tentang identitas para dewan pimpinan O pun terkuak. Siapakah mereka?

#Cerpen Memeluk Bulan


Waktu membaca: 5-7 menit
Kevin sudah melihat ke langit selama hampir 2 jam. Lama? Iya. Hatinya tak lepas-lepas dari rindu akan sosok yang ada di langit malam kala itu. Sebuah fullmoon cantik yang hanya bisa didapatkan sebulan sekali. 
Bulan selalu menginterpretasikan cinta di mata Kevin. Sejak beberapa tahun yang lalu, satelit bumi tersebut menjadi obsesinya. Ia percaya bahwa dulu bulan adalah sesosok wanita cantik yang dikutuk oleh Tuhan. Yang meski begitu, kecantikannya masih bisa dinikmati orang banyak hingga sekarang.
Kevin tersenyum lagi.
Ia akhirnya menurunkan pandangannya dari langit. Kini, ia melihat tas gendong berwarna abu-abunya. Di dalam tas itu, buku-buku perkuliahan berdesakan mencari udara segar.
Ah, seminggu lagi UAS, aku harus mencicil materi.

Sabtu, 09 Januari 2016

#Puisi Durja


Malang nasibku,
Sungguh,

Ingin kubuka hari dengan menyebutMu,
Namun yang kuingat hanya nama selainMu,

Ingin kusantap hidangan dengan doa padaMu,
Namun yang terjadi bukan begitu,

Niscaya aku merugi pabila,
Maka tolong berilah aku ini cahaya,
Tuk cuma sedikit sahaja,
Kuingat namaMu segala,

Bodohku sangat terima,
Ujian menjadi khalifa,
Bahkan gunung saja,
Menolak dan tahu inilah bala,

--Bukan pahala yang membuat seorang hamba selamat, namun banyaknya tumpahan tangis mohon rahmat yang ia serahkan dari matanya--

#Cerpen Pandora


Waktu membaca: 15-17 menit
Pandora, 23 Juni 2035
Suasana kacau balau. Bukan kacau sih tepatnya, namun hiruk. Semua rakyat negeri Pandora seperti biasa bekerja keras membanting tulang. Tahun-tahun yang begitu menyulitkan ini harus segera mereka selesaikan. Sebuah konsekuensi, yang nantinya akan memberikan hasil yang memuaskan. Semua orang tahu, negeri mereka adalah sebuah harapan yang besar, dan itu akan terwujud sebentar lagi.
Jumlah mereka ada 300 juta jiwa. Didominasi oleh kaum pemuda, yang berjumlah 145 juta orang. Kaum manula yang berjumlah 93 juta, dan anak-anak 62 juta. Well, setiap orang yang masih bisa berjuang untuk negerinya adalah pemuda, itu pikir mereka. Masih kuat, dan masih bersemangat. Karena pemuda adalah “jiwa”, bukan usia. Umur berapapun mereka, asalkan masih memiliki jiwa pemuda, dia adalah pemuda. Titik. Itu prinsip Pandora.

Jumat, 08 Januari 2016

#Cerpen Alas Tidurku Adalah Tanah (sebuah cerpen tentang ketaatan seorang hamba)

Waktu membaca: 9-11 menit
Kabut masih menyelimuti tanah ini. Aku yang baru terbangun sadar bahwa sekarang waktunya untuk bersenang-senang dalam arti menikmati indahnya bertemu kekasih sejati yaitu Allah SWT. Ya, sekarang memang sepertiga malam yang Allah sediakan untuk “kencan” dengan-Nya.
Tanah yang dingin ini segera kutinggalkan. Aku berjalan menuju sungai yang letaknya sekitar 100m dari tempatku tidur. Aku berwudhu di tengah dinginnya malam yang membuat jutaan insan betah bercokol di alam mimpi mereka. Mereka telah terlena akan empuknya kasur yang mereka jadikan alas tidur, bantal yang mereka jadikan sandaran, dan selimut yang mereka jadikan penghalau dan pelindung dari keadaan menggigil sepertiku. Aku memang masih 15 tahun. Selama ini kudatangi rumah-rumah warga, lalu kuajak mereka menyembah Allah dan mengigatnya dalam keadaan berbaring, duduk, maupun berjalan. Namun tak jarang ku mendapati bantingan pintu tanda ketidakramahan mereka akan peringatan sekaligus ajakanku. Aku memang bukan nabi, aku juga tahu bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW. Tetapi aku merasa harus untuk menyerukan kebenaran karena sekarang banyak yang mengingkarinya. Allah, betapa berat ini....

Kamis, 07 Januari 2016

#Puisi Aku Menyerah


Ingat kau saat SMA dulu?

Kau rayu aku,

Kau tembak aku,

Kau nyatakan cinta padaku,

Aku tidak menyerah pada godaan,
Atas rupa menawanmu,

Aku tidak menyerah pada godaan,
Atas kata-kata indahmu,

Aku tidak menyerah pada godaan,
Atas otak jeniusmu,

Lalu kita berpisah,
Hidup masing-masing,

Dan kini,
Aku menyerah,

Aku menyerah pada godaan,
Atas ketaatanmu,

Aku menyerah pada godaan,
Atas kesalihanmu,

Aku menyerah,
Pada lamaran yang kau sampaikan pada ayahku,

Aku menyerah,
Memang ini yang kutunggu.

#Cerpen Menjemput Zahra


Waktu membaca: 6-8 menit
Masih ada 65 persen rakyat Indonesia yang lahir, tumbuh, dan besar di daerah Pedesaan. Hidup tanpa asap kendaraan di sana-sini, tanpa sering-sering melihat orang berdasi. Mereka hidup dengan teknologi dan fasilitas yang cukup, atau kadang tertinggal. Sebagian memandang bahwa mereka ketinggalan jaman. Dikarenakan jauh dari kemajuan yang sangat cepat di era globalisasi ini.
Namaku Zahra. Mahasiswi Post-graduate di Massachutes Institute of Technology, MIT. Kalau Indonesia punya ITB, dunia ini punya MIT. Begitulah kira-kira gengsi kampusku.
Dan aku, adalah “mereka” juga. Orang ketinggalan jaman yang hidup di pedesaan, sampai takdir memilihku untuk jadi seperti sekarang.
Lupakan sejenak “sekarang”. Mari berkelana ke masa di mana aku tumbuh di desa. Ke tempat paling damai yang bisa kutemukan di muka bumi. Tempat di mana orang-orang besar itu tumbuh. Desa, di manapun itu, selalu melahirkan para pejuang. Sukarno tumbuh di desa. Mathama Gandhi tumbuh di desa. Nabi Muhammad, meski lahir di kota, dikirim oleh ibunya untuk disusui di desa. Tumbuh di sana hingga umur 6 tahun.
Maka banggalah kalian yang tumbuh di desa.

Rabu, 06 Januari 2016

#Serial Sang Badai Eps. 4

Waktu membaca: 5-7 menit
Darat, Laut dan Udara.
Tiga kubu inilah yang menjalankan Bumi dengan semestinya semenjak milyaran tahun yang lalu. Mereka bukan Organisme. Mereka adalah makhluk transendental, yang dilihat oleh manusia sebagai Benda non-biologis. Yang tidak mereka tahu bahwa sebenarnya benda-benda itu hidup. Mungkin lebih hidup daripada mereka.
Penghuni langit—atau kubu langit, adalah makhluk transendental yang menghuni langit. Ada awan timur, awan barat, angin muson, Ozon, Stratosfer, Mesosfer, hingga Termosfer. Pemimpin mereka adalah Sang Atmosfir. Seorang Penjaga Langit.
Ada juga Penghuni Laut. Mereka adalah kmoponen-komponen lautan. Ada Samudra, Teluk, Tanjung, Palung, hingga gunung api yang berada di dalam air. Pemimpin mereka adalah Sang Penjaga air, Mari.
Yang ketiga, Penghuni Daratan. Gunung, Bukit, Pulau, hingga Gua dan Air terjun. Sungai dan Danau pun belakangan mengekor sebagai Penghuni Daratan. Pemimpin mereka, adalah Wafee. Sang Penjaga Tanah.
Sementara itu, ada pula dua Penjaga Langit lain. Sang Cahaya, dan Sang Badai.

#Cerpen Wanita Sejuta Cerita


Waktu membaca: 5-7 menit
“Kau tidak akan percaya ceritaku.”
Kami berempat berhenti seketika di depan wanita tua itu. Senyumnya menyungging dan menyinggung. Seakan ingin menertawakan reaksi kami.
Jon menyikutku dan memberi kode “jalan terus”. Yha, meski penasaran, aku akhirnya  mengikuti kemauan temanku yang lain. Untuk tidak memperdulikan wanita itu. Untuk tidak pernah memperdulikannya.
***
“Darimana sih datengnya tuh orang gila?” Farah, memulai topik tatkala kami sedang menunggu guru masuk. Habis ini pelajaran Pak Suminem. Jadi, kami harus mendinginkan kepala sedingin-dinginnya terlebih dahulu. Guru killer tak bisa mengompromikan kondisi hati dengan pelajaran. Kalau tidak rileks, bisa-bisa pelajaran tidak masuk otak, dan kena marah-marah terus karena tidak bisa menjawab.

Selasa, 05 Januari 2016

#Cerpen Tunggu, Ini Afrika?


Waktu membaca: 9-11 menit
“Tunggu, ini Afrika?” aku terbelalak dengan pemandangan di depanku. Celingukan dengan tempat yang tidak kusangka sama sekali.
Kejadiannya 10 jam yang lalu…
Mamah mennyebalkan seperti biasa. Aku baru saja bangun pagi ini, baruu saja. Namun ia sudah ada di depanku, dengan tatapan matanya yang tajam,menatapku seakan aku adalah hewan buruannya. Ah, ia memang seperti itu. Ingin agar aku disiplin dan teratur.
Aku melompat dari tempat tidur dan menatapnya balik dengan tatapan yang sama. Oke, mungkin ini kurang sopan kelihatannya, tapi kan, ya, yang penting aku bangun. 
“Ini! Cepat mandi sana!” ia memberikanku handuk.
“Iyaa,” aku menjawab, sedikit malas padahal.

Senin, 04 Januari 2016

#Puisi Dian


Bilang ke ayahmu sana,
Agar kau cepat dicarikan yang sarjana,
Tak mau kan kau bersusah durja?
Tinggal nikah langsung jadi kaya,

Aku bukan kekasih yang sempurna,
Kuliah saja ku tak sanggup biaya,
Hidup luntang lantung sudah biasa,
Hidup miskin namun bersahaja,

Dian,

Dianku,

Kalau selamat tinggal yang jadi maumu,
Silahkan pergi tak usah ragu,
Tak sedikitpun kau tinggalkan rindu,
Usah ku lupa perempuan yang banyak mau,

--Dian pun menikah dengan seorang Pegawai Negeri, dan mantan kekasihnya lanjut berjuang seorang diri. Sepuluh tahun kemudian Dian hidup dalam lilitan hutang karena banyak menunggak cicilan. Gaji suaminya tak mampu bayar semua keinginannya. Dan mantan kekasihnya kini sudah berada. Hasil usaha bahan material yang ia lanjutkan dari bosnya. Dian, oh wanita malang--

#Cerpen Umi


Waktu membaca: 5-7 menit
“Nak, kamu harus segera menikah. Ibu tahu mungkin kamu sibuk, tapi tolonglah.”
Aku membaca SMS itu dengan tangan bergetar.
“Kamu sudah mulai tua, segera cari istri.”
Kata-kata itu lagi. Meskipun beliau adalah Ibuku, tetap saja aku mulai bosan.
Pokoknya lebaran ini kamu harus udah bawa calon ya, ibu tunggu.”
Yup, dan Ramadhan sudah lewat 3 hari. Minggu depan aku pulang ke kampung, dan harus membawa calon yang diminta. Ya Allah, setelah menjadi “fitri” kembali, dapatkah kau “memasangkanku” dengan seorang Fitri? Atau siapa sajalah. Aamiin.

Minggu, 03 Januari 2016

#Serial Murder Eps. 2

Murder adalah sebuah tes untuk menentukan penjahat terhebat di dunia. Dan Santi adalah salah satu orang yang mengikuti tes terebut. Sebelumnya, ia berhasil membunuh Kumar, seorang "lulusan" Murder yang hidup nomaden.
Namun, Santi tidak menyangka bahwa di tahap selanjutnya, sang ayah Red lah sang lawan yang musti ia hadapi. Akankah ia sanggup melewati tahap ini? Atau sesuatu yang lain akan terjadi?

#Cerpen Undirected


Waktu membaca: 4-6 menit
Matahari tersenyum. Aku yang sedang berjalan di trotoar Lebak Bulus menahan senyumnya yang panas. Semua juga tahu, di Ibukota, yang namanya sinar matahari di sini sudah hampir sama panasnya dengan matahari di negeri Arabia. Teriknya menggigit. Kacau.
Sembari menghalau panas, aku memandang sekeliling. Mencari-cari motor bebek 125cc warna merah yang biasa digunakan Matri, pembantuku, untuk menjemputku tatkala pulang sekolah. Kulirik jam tangan, sudah pukul 14.07, seharusnya Matri sudah ada disini tujuh menit yang lalu. Ah,percuma saja menggerutu. Tetap saja hal tersebut tak akan membuat Matri datang lebih cepat ke sini. Kutelpon pembantuku tersebut. Katanya ia sedang di jalan, sebentar lagi sampai. Aku harus menunggu sebentar. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu sambil membaca buku.

Sabtu, 02 Januari 2016

#Puisi Atas Jadi Bawah


Ada kau suruh aku toleran,
Dibawa benci ku pun malahan,

Ada kau suruh aku belajar HAM,
Penyakit baru muncul apa alasan,

Ada kau suruh aku pakai logika,
Kupakai itu kau bilang masih cacat pula,

Ada kau suruh aku beri contoh murni,
Kupakai itu kau bilang cocoklogi,

Maaf, biarkan aku dengan dakwahku,
Maaf, bila azanku mengganggu tidurmu,
Maaf, teroris banyak dicap dari agamaku,
Maaf, bahkan tuk dengar maafku saja pun kau tak mau.

--Selamanya kesombongan itu akan menutup hati. Bukan aku mengada-ada percaya pada kitab suci, namun itu bentuk kesadaranku akan kelemahan akal ini--

#Cerpen Jalan Kita


Waktu membaca: 6-8 menit
Rizal mengunyah Spaghetti Aglio Olio-­nya dengan lahap. Ia tampak begitu menikmati hidangan tersebut. Seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya pun jadi tersenyum.
“Gimana, Zal?”
Yang ditanya memberi isyarat “nanti, kutelan dulu semua kenikmatan ini” seraya menghabiskan potongan mie terakhir.
“Masih senikmat 5 tahun yang lalu, bro.” Ia mengacungkan jempol.
Cafe Never Been better sedang tidak terlalu ramai pengunjung saat itu. Tempat makan yang terletak di Kemang tersebut memang letaknya agak terpencil, didempet oleh beberapa ruko. Namun, bila pengunjung sudah masuk ke dalamnya, niscaya ekor mata mereka akan dimanjakan oleh desain interior yang sungguh indah.
Never Been Better memang menggunakan barang bekas untuk interior mereka, namun setelah disulap, barang lepas pakai tersebut bisa menjadi sebuah keindahan yang memanjakan mata.
Salut untuk konsepnya.