“Nak, kamu harus segera menikah. Ibu
tahu mungkin kamu sibuk, tapi tolonglah.”
Aku membaca SMS itu dengan tangan
bergetar.
“Kamu sudah mulai tua, segera cari
istri.”
Kata-kata itu lagi. Meskipun beliau
adalah Ibuku, tetap saja aku mulai bosan.
“Pokoknya lebaran ini kamu harus
udah bawa calon ya, ibu tunggu.”
Yup, dan Ramadhan sudah lewat 3
hari. Minggu depan aku pulang ke kampung, dan harus membawa calon yang diminta.
Ya Allah, setelah menjadi “fitri” kembali, dapatkah kau “memasangkanku” dengan seorang
Fitri? Atau siapa sajalah. Aamiin.
***
Aku diam saja saat angin mencolek
tubuhku. Cuaca cerah seiring awan dan matahari yang kompak menyenyumi
Paris. Di kakiku sekarang, teradapat 10.100 ton besi yang terkait satu sama
lain dan membentuk sebuah menara. Menara yang 15 tahun lalu selalu diimpi-impikan
oleh puluhan temanku, bahkan ribuan remaja lainnya. Ditulis dalam diary-diary,
dimention dalam mimpi-mimpi.
La tour Eiffel
balas tersenyum kepada matahari. Aku yang berada di tengah-tengah mereka berdua
ikut ketularan. Perlahan bibirku ikut
tersenyum.
30 menit yang
lalu, aku masih berada di lantai satu. Makan dengan tenang di Altitude 95. Aku melahap satu-satunya
makanan yang halal di sana—roti, sambil menikmati secuil pemandangan dari
ketinggian 311 kaki tersebut. Setelah mengisi perut, aku membeli sebotol air
mineral dan naik tangga menuju puncak.
“Mas Adul?”
seseorang mencolek pundakku dan berkata dengan aksen paris yang serasa
dibuat-buat.
“Désolé,qui êtes-vous?” aku balas bertanya. Seorang gadis, dengan wajah Asia dan seragam
pelayan.
“Ah, vous avez quitté votre portefeuille dans le restaurant—Dompet anda ketinggalan di restoran tadi,” jelasnya cepat.
“Oh, merci,” aku berterima kasih,” Asiatique?
Orang Asia?” sambungku
bertanya.
“Kulonprogo mas,” jawabnya dengan
aksen jawa yang kental. Aku tertawa. Dunia memang sempit.
“Oalah, dik, sampeyan kerja neng kene?”
“Nggih, mas. Pegawai restoran
tadi. Aku sempet liat Paspor mas di dompet, orang Indonesia juga. Jadi ta’
samperin ke sini. Dari Jawa juga mas?”
Aku tersenyum,” Semarang.”
“Oalah…” Ia melongo.
Kami pun mengobrol. Aku
memperkenalkan diriku. Abdullah Zuber. 32 tahun. Sedang bekerja dan tinggal di
Paris. Masih lajang. Dan.. lulusan Pesantren.
Gadis itu mengangguk-angguk
takzim. Ia bilang kalau sedih tinggal di Paris karena jarang bertemu orang
Indonesia. Kujawab itu karena dia saja yang malas bergaul. Ia pun tertawa.
Namanya Aulia. Wajahnya
oriental-jawa. Manis. Umur 20 tahun. Jadi TKI sejak tahun lalu. Well, beruntung
juga karena bisa kerja di menara Eiffel.
“Aku harus kerja lagi mas,” katanya.
“Oh iya, ini kartu namaku, aku
tinggal di Palais-Royal. Dekat Louvre. Gak
terlalu jauh dari sini. Kapan-kapan mampir ya, banyak teman orang Indonesia
tinggal di sana,” itu kalimat terakhirku.
Dan gadis itu tersenyum manis
menjawabnya.
***
Kata orang,
menjaga cinta itu sulit.
Dalam Islam, kita
mengenal yang namanya ‘izzah. Kehormatan.
Maka, segala kisah
cinta di luar pernikahan akan melukai ‘izzah tadi.
Jadilah kita harus
menahan diri, dan tetap “diam” sampai gerbang pernikahan di depan mata. Dan
sudah 32 lebaran ini pula aku berusaha menahan diri dari hubungan yang “salah”
tersebut.
Nah, berhubung aku
punya waktu kurang dari seminggu untuk menyelesaikan job dari ibu tentang
calon istri, akan kubeberkan sedikit cerita mengenai... ya itulah.
Kisah ini mungkin
tidak dipenuhi dengan mutiara hikmah dan pelajaran penting. Namun kita bisa
tahu bahwa cinta, selama apapun kita menunggu, pada akhirnya akan datang. Aku
yang mengalaminya sendiri.
Sebuah kisah cinta
bodoh yang penuh berkah.
***
Aku baru sampai di
apartemen ketika IPadku berbunyi.
Email masuk.
Dear Adul.
Ini gue, Jamro! Apa kabar lu di
Paris? Masih jomblo? Hahaha. Gua ada kabar baik nih, kita diundang sama Ihsan
buat dateng ke pernikahannya 4 hari lagi. Dateng ya! Gak jauh kok, cuma di
Mancester. Tinggal naek angkot sekali dari sana. Hehe.
Tak lupa,
terlampir sebuah attachment. Undangannya.
Aku tersenyum
tipis dalam hati, bukannya Ihsan udah
nikah dulu? Berarti ini yang kedua dong? Alamak, aku saja belum dapet-dapet
jodoh, ni anak udah dua.
Dan seketika,
pikiranku mengembara ke masa 15 tahun yang lalu. Kepada 170 temanku yang ada di
Pesantren, juga seorang wanita yang membuat hatiku tak bisa ke mana-mana—sampai
sekarang.
***
Kuningan, 15 Juni
2014. 15 tahun yang lalu…
“Aduuuul!” Seorang
sahabatku—Jamro tadi—berteriak memanggilku yang sedang tidur-tiduran di dalam
kamar.
“Apaan jam?”
tanyaku.
“Umi…” jawabnya
pelan.
Aku mendadak mencari
kaca, menyisir rambut dengan jari, kemudian membetulkan posisi baju. Terakhir,
duduk manis di samping Jamro.
Dan 5 detik
kemudian, bidadari itu muncul.
Sosok kecil yang
selalu memakai kerudung pink, yang setiap hari bebas berkeliaran di asrama
laki-laki Pondok Pesantren kami.
Sosok yang kami
biasa kami panggil Umi.
Ya, panggilan yang
biasa tersemat kepada istri dari Ustadz kami.
***
Paris, present time…
Dan 15 tahun
berlalu, perlahan satu per satu dari 170 temanku di Pesantren mengirimiku
undangan pernikahan mereka dengan sang akhwat pujaan hati. Satu persatu hingga
habis.
Kurasa, sekarang
tinggal aku saja yang belum menikah. Sendiri dalam hiruk-pikuk Paris setiap
harinya. Masih berimajinasi dengan cinta khayalan terhadap sosok bidadari itu.
***
“Assalamualaikum,
Mi…”
Aku menyapa wanita
itu saat sedang lewat.
“Waalaikumsalam,
kamu gak masuk kelas, Dul?” Ia tersenyum. Bahkan Eriska Rein kalah jauh.
“Ohh, gak ada
ustadznya Mi!”
Umi
mengangguk-angguk, kemudian permisi pergi. Dengan sepenggal percakapan itu
saja, aku bisa galau 3 hari. Menatap pepohonan rindang yang berjejer kokoh satu
baris. Curhat kepada mereka.
Aku juga sering
bermain dengan anaknya. Ehm, yang mungkin juga bisa akan jadi anakku kelak.
Yang besar, 6 tahun, namanya Salman A. Robbani, laki-laki. Dan yang kecil,
Hilma A. Restu, 5 tahun, favoritku. Aku biasa memberi mereka hadiah, bercanda,
main tebak-tebakan, dan lain sebagainya. Terkadang, Umi tertawa kecil melihatku
dikerjai oleh anak-anaknya. Ehm, anak-anak kami, maksudku. Ah!
Suami wanita
itu—ustadz kami—adalah seorang wali asrama. Jadi rumah beliau ada di samping
asrama. Kami bisa setiap hari bermain di sekitar situ. Modus sih, intinya.
Karena, bukan hal tabu kalau Umi mempunyai banyak fans di kalangan santri.
***
Paris lenggang
tengah malam ini. Aku keluar dari apartemenku dan berdiri di balkon, menatap
jalanan Paris yang warna-warni. Tiba-tiba, terbayang wajah manis itu. Dari ratusan
fans Umi, akulah yang paling konsisten—sekaligus paling bodoh. Kalau yang lain
pada akhirnya beralih hati dan menikahi orang lain, aku masih membayangkan
untuk menjadi teman hidupnya. Walaupun rasa-rasanya hal itu sudah tidak mungkin
lagi.
Aku berdo’a dalam
hati, aku juga ingin menikah, tapi aku tetap mencintai Umi. Apakah ujung dari kemustahilan ini adalah menikah
dengan orang lain? Tapi aku merasa tidak bisa.
Bahkan aku tidak
menggubris kemanisan Aulia, gadis Jawa yang kutemui di Eiffel tadi siang. Aku
masih tidak bisa melepas kutukan Umi, yang rasanya akan menempel padaku
selamanya.
Pada akhirnya, aku
hanya meminta yang terbaik dari Allah.
***
“Adul setahun lagi
lulus ya?” Umi bertanya padaku saat sedang lewat.
“Eh, iya Mi,” aku
menjawab seadanya.
“Nanti kalo udah
jadi alumni jangan lupain Pondok ya? Kan Adul udah 6 tahun hidup di sini bareng
kita-kita, para civitas. Pokoknya sukses buat Adul mah,” ia tersenyum memberi
petuah.
Aku
mengangguk-angguk semangat. Wajah meronanya yang membuatku tak bisa berpaling.
Namun setelah itu
aku berpikir. Setelah lulus, apa yang akan kulakukan? Meneruskan kisah cinta
ini? Pergi selamanya dan memulai yang baru? Aku tidak punya rencana untuk
melakukan apapun.
Aku akan pergi.
Dan dia tetap di sini.
***
Sejak kelulusan,
aku belum pernah kembali ke Pesantrenku dulu, belum pernah pula melihat Umi
secara langsung. Namun setiap bulan, aku rutin mengirimkan kartu pos Paris
kepadanya. Aku tidak menyantumkan namaku di sana. Anonim. Kuharap, Umi
menyusulku ke sini. Well, sebuah harapan yang sia-sia sepertinya.
Kabar terakhir yang
kuterima dari Jamro, Umi sehat. Beliau masih tinggal di pesantren dan mengurus
santri-santri. God! Sudah 15 tahun dan tidak ada yang berubah?
Satu lagi, kata
Jamro, sepertinya dia hampir Meno.
Aku hampir saja
menampar anak itu.
***
“Ayo, kapan dong
nikah?!” Jamro mendesakku, saat kami datang ke Manchester, hadir di pernikahan Ihsan
yang kedua.
“Yaelah, basi amat
pertanyaan lo!”
“Abis gua gemes,
Umi tuh gak bakal nyusul lu ke Eropa, Dul! Lu harus bangun! Cari cewek lain!
Udah tua juga!” Lagi-lagi, ungkapan yang basi.
“Ya liat nanti aja
deh.” Aku ketus.
***
Hari ini aku makan
di Eiffel lagi. Namun di restoran yang lain, lantai dua. Julles verne. Dan seperti biasa, hanya memesan roti. Lusa aku akan
pulang, namun calon belum ada.
Wajahku kembali
ditampar angin sepoi. Aku perlahan membuka dompet, mengeluarkan sebuah foto
yang selama 15 tahun ini tak pernah membiarkanku mencintai orang lain selain
dia.
Walaupun orang
bilang Paris adalah tempat orang bisa menemukan cinta, hal itu tidak berlaku
untukku. Ah, Umi. Dialah yang telah membuatku seperti ini. Merusak hidupku.
“Itu kan foto Umi
mas?” sebuah suara menyapa telingaku dari belakang.
Aku menengok,
Aulia.
“Eh, dik, ketemu lagi,”
aku tersenyum kecil. Meskipun dia manis, aku lebih suka mencium foto ini
daripada dia.
“Tunggu, kau
bilang ini foto Umi?” Aku bertanya.
“Iya, Umi,” Ia
balas tersenyum.
Aku berpikir.
Hilma A. Restu. “A” untuk Aulia?
“Udah lama gak
ketemu ya mas?” Gadis itu pun mengeluarkan kartu-kartu pos yang selama 15 tahun
ini kukirim tiap bulan ke alamat rumahnya.
“Kampung Umi kan
emang di Kulonprogo, dan beliau udah nebak kalo selama ini kartu pos itu mas
yang ngirim. Beliau juga godain aku terus buat nyusul mas. Gak nyangka kita
ketemunya di sini. Jadi…” Aulia tersenyum malu-malu.
Aku ikut
tersenyum. Setelah 15 Lebaran menunggu saat yang tepat, aku akhirnya kembali
bisa jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar