Senin, 04 Januari 2016

#Cerpen Umi


Waktu membaca: 5-7 menit
“Nak, kamu harus segera menikah. Ibu tahu mungkin kamu sibuk, tapi tolonglah.”
Aku membaca SMS itu dengan tangan bergetar.
“Kamu sudah mulai tua, segera cari istri.”
Kata-kata itu lagi. Meskipun beliau adalah Ibuku, tetap saja aku mulai bosan.
Pokoknya lebaran ini kamu harus udah bawa calon ya, ibu tunggu.”
Yup, dan Ramadhan sudah lewat 3 hari. Minggu depan aku pulang ke kampung, dan harus membawa calon yang diminta. Ya Allah, setelah menjadi “fitri” kembali, dapatkah kau “memasangkanku” dengan seorang Fitri? Atau siapa sajalah. Aamiin.
***
Aku diam saja saat angin mencolek tubuhku. Cuaca cerah seiring awan dan matahari yang kompak menyenyumi Paris. Di kakiku sekarang, teradapat 10.100 ton besi yang terkait satu sama lain dan membentuk sebuah menara. Menara yang 15 tahun lalu selalu diimpi-impikan oleh puluhan temanku, bahkan ribuan remaja lainnya. Ditulis dalam diary-diary, dimention dalam mimpi-mimpi.
La tour Eiffel balas tersenyum kepada matahari. Aku yang berada di tengah-tengah mereka berdua ikut ketularan. Perlahan bibirku ikut tersenyum.
30 menit yang lalu, aku masih berada di lantai satu. Makan dengan tenang di Altitude 95. Aku melahap satu-satunya makanan yang halal di sana—roti, sambil menikmati secuil pemandangan dari ketinggian 311 kaki tersebut. Setelah mengisi perut, aku membeli sebotol air mineral dan naik tangga menuju puncak.
“Mas Adul?” seseorang mencolek pundakku dan berkata dengan aksen paris yang serasa dibuat-buat.
“Désolé,qui êtes-vous?” aku balas bertanya. Seorang gadis, dengan wajah Asia dan seragam pelayan.
“Ah, vous avez quitté votre portefeuille dans le restaurant—Dompet anda ketinggalan di restoran tadi,” jelasnya cepat.
“Oh, merci,” aku berterima kasih,” Asiatique? Orang Asia?” sambungku bertanya.
“Kulonprogo mas,” jawabnya dengan aksen jawa yang kental. Aku tertawa. Dunia memang sempit.
“Oalah, dik, sampeyan kerja neng kene?”
Nggih, mas. Pegawai restoran tadi. Aku sempet liat Paspor mas di dompet, orang Indonesia juga. Jadi ta’ samperin ke sini. Dari Jawa juga mas?”
Aku tersenyum,” Semarang.”
“Oalah…” Ia melongo.
Kami pun mengobrol. Aku memperkenalkan diriku. Abdullah Zuber. 32 tahun. Sedang bekerja dan tinggal di Paris. Masih lajang. Dan.. lulusan Pesantren.
Gadis itu mengangguk-angguk takzim. Ia bilang kalau sedih tinggal di Paris karena jarang bertemu orang Indonesia. Kujawab itu karena dia saja yang malas bergaul. Ia pun tertawa.
Namanya Aulia. Wajahnya oriental-jawa. Manis. Umur 20 tahun. Jadi TKI sejak tahun lalu. Well, beruntung juga karena bisa kerja di menara Eiffel.
“Aku harus kerja lagi mas,” katanya.
“Oh iya, ini kartu namaku, aku tinggal di Palais-Royal. Dekat Louvre. Gak terlalu jauh dari sini. Kapan-kapan mampir ya, banyak teman orang Indonesia tinggal di sana,” itu kalimat terakhirku.
Dan gadis itu tersenyum manis menjawabnya.
***
Kata orang, menjaga cinta itu sulit.
Dalam Islam, kita mengenal yang namanya ‘izzah. Kehormatan.
Maka, segala kisah cinta di luar pernikahan akan melukai ‘izzah tadi.
Jadilah kita harus menahan diri, dan tetap “diam” sampai gerbang pernikahan di depan mata. Dan sudah 32 lebaran ini pula aku berusaha menahan diri dari hubungan yang “salah” tersebut.
Nah, berhubung aku punya waktu kurang dari seminggu untuk menyelesaikan job dari ibu tentang calon istri, akan kubeberkan sedikit cerita mengenai... ya itulah.
Kisah ini mungkin tidak dipenuhi dengan mutiara hikmah dan pelajaran penting. Namun kita bisa tahu bahwa cinta, selama apapun kita menunggu, pada akhirnya akan datang. Aku yang mengalaminya sendiri.
Sebuah kisah cinta bodoh yang penuh berkah.
***
Aku baru sampai di apartemen ketika IPadku berbunyi.
Email masuk.
Dear Adul.
Ini gue, Jamro! Apa kabar lu di Paris? Masih jomblo? Hahaha. Gua ada kabar baik nih, kita diundang sama Ihsan buat dateng ke pernikahannya 4 hari lagi. Dateng ya! Gak jauh kok, cuma di Mancester. Tinggal naek angkot sekali dari sana. Hehe.
Tak lupa, terlampir sebuah attachment. Undangannya.
Aku tersenyum tipis dalam hati, bukannya Ihsan udah nikah dulu? Berarti ini yang kedua dong? Alamak, aku saja belum dapet-dapet jodoh, ni anak udah dua.
Dan seketika, pikiranku mengembara ke masa 15 tahun yang lalu. Kepada 170 temanku yang ada di Pesantren, juga seorang wanita yang membuat hatiku tak bisa ke mana-mana—sampai sekarang.
***
Kuningan, 15 Juni 2014. 15 tahun yang lalu…
“Aduuuul!” Seorang sahabatku—Jamro tadi—berteriak memanggilku yang sedang tidur-tiduran di dalam kamar.
“Apaan jam?” tanyaku.
“Umi…” jawabnya pelan.
Aku mendadak mencari kaca, menyisir rambut dengan jari, kemudian membetulkan posisi baju. Terakhir, duduk manis di samping Jamro.
Dan 5 detik kemudian, bidadari itu muncul.
Sosok kecil yang selalu memakai kerudung pink, yang setiap hari bebas berkeliaran di asrama laki-laki Pondok Pesantren kami.
Sosok yang kami biasa kami panggil Umi.
Ya, panggilan yang biasa tersemat kepada istri dari Ustadz kami.
***
Paris, present time…
Dan 15 tahun berlalu, perlahan satu per satu dari 170 temanku di Pesantren mengirimiku undangan pernikahan mereka dengan sang akhwat pujaan hati. Satu persatu hingga habis.
Kurasa, sekarang tinggal aku saja yang belum menikah. Sendiri dalam hiruk-pikuk Paris setiap harinya. Masih berimajinasi dengan cinta khayalan terhadap sosok bidadari itu.
***
“Assalamualaikum, Mi…”
Aku menyapa wanita itu saat sedang lewat.
“Waalaikumsalam, kamu gak masuk kelas, Dul?” Ia tersenyum. Bahkan Eriska Rein kalah jauh.
“Ohh, gak ada ustadznya Mi!”
Umi mengangguk-angguk, kemudian permisi pergi. Dengan sepenggal percakapan itu saja, aku bisa galau 3 hari. Menatap pepohonan rindang yang berjejer kokoh satu baris. Curhat kepada mereka.
Aku juga sering bermain dengan anaknya. Ehm, yang mungkin juga bisa akan jadi anakku kelak. Yang besar, 6 tahun, namanya Salman A. Robbani, laki-laki. Dan yang kecil, Hilma A. Restu, 5 tahun, favoritku. Aku biasa memberi mereka hadiah, bercanda, main tebak-tebakan, dan lain sebagainya. Terkadang, Umi tertawa kecil melihatku dikerjai oleh anak-anaknya. Ehm, anak-anak kami, maksudku. Ah!
Suami wanita itu—ustadz kami—adalah seorang wali asrama. Jadi rumah beliau ada di samping asrama. Kami bisa setiap hari bermain di sekitar situ. Modus sih, intinya. Karena, bukan hal tabu kalau Umi mempunyai banyak fans di kalangan santri.
***
Paris lenggang tengah malam ini. Aku keluar dari apartemenku dan berdiri di balkon, menatap jalanan Paris yang warna-warni. Tiba-tiba, terbayang wajah manis itu. Dari ratusan fans Umi, akulah yang paling konsisten—sekaligus paling bodoh. Kalau yang lain pada akhirnya beralih hati dan menikahi orang lain, aku masih membayangkan untuk menjadi teman hidupnya. Walaupun rasa-rasanya hal itu sudah tidak mungkin lagi.
Aku berdo’a dalam hati, aku juga ingin menikah, tapi aku tetap mencintai Umi. Apakah  ujung dari kemustahilan ini adalah menikah dengan orang lain? Tapi aku merasa tidak bisa.
Bahkan aku tidak menggubris kemanisan Aulia, gadis Jawa yang kutemui di Eiffel tadi siang. Aku masih tidak bisa melepas kutukan Umi, yang rasanya akan menempel padaku selamanya.
Pada akhirnya, aku hanya meminta yang terbaik dari Allah.
***
“Adul setahun lagi lulus ya?” Umi bertanya padaku saat sedang lewat.
“Eh, iya Mi,” aku menjawab seadanya.
“Nanti kalo udah jadi alumni jangan lupain Pondok ya? Kan Adul udah 6 tahun hidup di sini bareng kita-kita, para civitas. Pokoknya sukses buat Adul mah,” ia tersenyum memberi petuah.
Aku mengangguk-angguk semangat. Wajah meronanya yang membuatku tak bisa berpaling.
Namun setelah itu aku berpikir. Setelah lulus, apa yang akan kulakukan? Meneruskan kisah cinta ini? Pergi selamanya dan memulai yang baru? Aku tidak punya rencana untuk melakukan apapun.
Aku akan pergi. Dan dia tetap di sini.
***
Sejak kelulusan, aku belum pernah kembali ke Pesantrenku dulu, belum pernah pula melihat Umi secara langsung. Namun setiap bulan, aku rutin mengirimkan kartu pos Paris kepadanya. Aku tidak menyantumkan namaku di sana. Anonim. Kuharap, Umi menyusulku ke sini. Well, sebuah harapan yang sia-sia sepertinya.
Kabar terakhir yang kuterima dari Jamro, Umi sehat. Beliau masih tinggal di pesantren dan mengurus santri-santri. God! Sudah 15 tahun dan tidak ada yang berubah?
Satu lagi, kata Jamro, sepertinya dia hampir Meno.
Aku hampir saja menampar anak itu.
***
“Ayo, kapan dong nikah?!” Jamro mendesakku, saat kami datang ke Manchester, hadir di pernikahan Ihsan yang kedua.
“Yaelah, basi amat pertanyaan lo!”
“Abis gua gemes, Umi tuh gak bakal nyusul lu ke Eropa, Dul! Lu harus bangun! Cari cewek lain! Udah tua juga!” Lagi-lagi, ungkapan yang basi.
“Ya liat nanti aja deh.” Aku ketus.
***
Hari ini aku makan di Eiffel lagi. Namun di restoran yang lain, lantai dua. Julles verne. Dan seperti biasa, hanya memesan roti. Lusa aku akan pulang, namun calon belum ada.
Wajahku kembali ditampar angin sepoi. Aku perlahan membuka dompet, mengeluarkan sebuah foto yang selama 15 tahun ini tak pernah membiarkanku mencintai orang lain selain dia.
Walaupun orang bilang Paris adalah tempat orang bisa menemukan cinta, hal itu tidak berlaku untukku. Ah, Umi. Dialah yang telah membuatku seperti ini. Merusak hidupku.
“Itu kan foto Umi mas?” sebuah suara menyapa telingaku dari belakang.
Aku menengok, Aulia.
“Eh, dik, ketemu lagi,” aku tersenyum kecil. Meskipun dia manis, aku lebih suka mencium foto ini daripada dia.
“Tunggu, kau bilang ini foto Umi?” Aku bertanya.
“Iya, Umi,” Ia balas tersenyum.
Aku berpikir. Hilma A. Restu. “A” untuk Aulia?
“Udah lama gak ketemu ya mas?” Gadis itu pun mengeluarkan kartu-kartu pos yang selama 15 tahun ini kukirim tiap bulan ke alamat rumahnya.
“Kampung Umi kan emang di Kulonprogo, dan beliau udah nebak kalo selama ini kartu pos itu mas yang ngirim. Beliau juga godain aku terus buat nyusul mas. Gak nyangka kita ketemunya di sini. Jadi…” Aulia tersenyum malu-malu.
Aku ikut tersenyum. Setelah 15 Lebaran menunggu saat yang tepat, aku akhirnya kembali bisa jatuh cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar