Jumat, 15 Januari 2016

#Cerpen Stranger in Mecca


Waktu membaca: 5-7 menit
I was on my way, doing this first holy trip in my life. For me, Haji is not only a trip, it’s a journey of finding your holy side. I was very grateful to get this chance, visiting the greatest city in the world—acording to me, of course.
I was saving for about ten years before i finnaly get this moment. Yeah, ten years full of hardwork and a little bit suffering, but in a good way of course. So there was I, sitting on the plane, waiting to arrive at the destination.
  To Mecca.
***

Aku melihat keluar jendela. Awan-awan berdiri dengan anggun di sana. Mengapasi bumi agar tetap teduh. Aku, serasa ingin keluar dan rebahan di kapas langit tersebut. Sayangnya, aku tahu konsekuensi akan angin kencang dan tekanan udara di luar, jadi aku urung.
Plus, aku sedang dalam kondisi tak tertahankan.
Ini Haji pertamaku! Hore!
Tak berapa lama, seorang pramugari yang berhijab menugumumkan kalau sebentar lagi kami akan sampai di Yalamlam, alias Miqot Jamaah Haji yang datang dari Timur. Apa itu Miqot? Ia adalah batas akhir seorang jemaah Haji atau Umrah untuk memakai kain ihram.
Kami pun berganti kain ihram di pesawat. Ya, di pesawat. Tentu saja bergantian di tempat khusus. Setelah selesai, aku duduk kembali. Menikmati perjalanan suci ini sambil berdzikir.
***
Tiba di Makkah.
Fyuh. Aku keluar dari pesawat dengan perasaan lega. Penerbangan kami singkat sebenarnya, hanya dari Jeddah ke Makkah saja. Sebelumnya, perjalanan dari Indonesia ke Jeddah sudah dilakukan kemarin, sehingga kami mempunyai waktu satu hari untuk beristirahat dan sedikit beradaptasi dengan iklim serta jet lag.
Sungguh pengertian sekali Agen travel haji kami.
Aku pun berjalan keluar dari bandara bersama rombongan yang lain. Mereka rata-rata berpasangan. Ada suami dan istri, mauapun ibu dan anak, atau keluarga lainnya. Hanya aku laki-laki yang sendirian. Tadinya aku ingin mengajak istriku sekalian untuk ikut berhaji. Namun sayangnya, aku belum punya istri, jadi ya sendiri saja deh. Hehe.
Oh ya, perkenalkan. Namaku Zamzami. Lucu ya? Anti mainstream memang. Usiaku 27 tahun. Seorang pegawai perusahaan minyak asing yang ada di Indonesia. Sungguh beruntung aku bisa haji kali ini. Sebelumnya, aku sudah menabung sejak umur 17 tahun, lalu, 6 tahun kemudian, saat aku diterima bekerja di perusahaanku kini, mereka menawariku program tabungan haji. Syaratnya mudah, akan didaftarkan sekarang dan potong gaji perbulan 10 persen selama 5 tahun.
Maka, berhubung aku sudah sangat ngebet Haji, dan tidak ada yang menjadi tanggunganku, aku pun mendaftar.
Dan di sinilah aku empat tahun kemudian. Berhaji dengan biaya sendiri.
Hanya tinggal satu tahun lagi gajiku dipotong. Setelah itu, di usia 28 atau 29, aku berencana menikah. Yey, sempurnalah rukun islamku pada akhirnya.
***
Hari pertama, Mekkah.
Pintu hotelku diketuk. Aku yang sedang beristirahat pun terganggu. Kulihat jam, jam sebelas malam. Aku baru saja pulang dari Masjidil haram karena kelelahan. Kupikir, aku akan beristirahat sebentar dan nanti akan kembali pukul tiga subuh untuk tahajud.
Tok tok.
Aku naik pitam. Siapa di sana?!
Lalu aku beristigfar, ingat bahwa aku sedang berada dalam proses haji, harus menjauhkan diri dari sifat tercela.
Aku pun bangun dari tempat tidur dan menuju pintu.
“Assalamualaikum! Marhaban bi makkah!”
Seorang kulit hitam berdiri di depanku ketika aku membuka pintu. Aku tidak kenal siapa dia, dan ia berbicara bahasa arab, bahasa yang tidak kumengerti.
Ia pun menyerocos lagi dengan cepat. Aku tertaba-taba dengan bahasa arab seadanya.
“Afwan, ane tidak kenal ente. Ane mau naum.” Kataku sambil melipat tengan di samping kepala.
Orang itu mengangguk-angguk dan memberikanku sebuah kartu nama.
Aku menerima dan melihatnya. Ada sebuah alamat dan nomer telepon.
“Apa ini?” tanyaku. “Madza?”
Ia menyerocos lagi sambil menunjuk ke arah dirinya. “Bait, bait.”
Ah, aku main tidak paham saja. Lalu sejurus kemudian, ia malah pamit.
“Assalamualaikum!” Setelah itu, si orang asing pergi dengan cepat. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, menaruh kertu nama tersebut di meja, dan kembali tidur.
***
Hai kedua, Mekkah.
Hari ini berjalan seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Eh, semuanya sebenarnya spesial. Aku makin larut dalam ibadahku di Masjidil haram, masjid yang sekali salatnya bernilai 100 kali salat di majid lain.
Ah. Indahnya.
***
Hari ketiga, Mekkah.
Aku secara tak sengaja melihat ke meja sebelum tidur. Sebuah kartu nama yang diberikan orang asing dua hari yang lalu kini menarik perhatianku. Apa gerangan yang coba disampaikan olehnya?
Kulihat, kartu tersebut hanya sebuah kertas putih dengan sebuah nama berbahasa arab dan nomer telepon. Hanya itu saja. Aku pun menaruh kartu nama tersebut ke dalam tas jahit yang biasa kugunakan untuk menaruh sendal dan barang-barang lainnya.
Niatnya, akan kutanyakan perihal tersebut ke pembimbing hajiku besok.
***
Hari keempat, Mekkah.
Aku sudah mantap berniat untuk tambah khusyu’ pada hari ini. Walhasil, dari pagi, aku lupa untuk menanyakan perihal orang asing itu kepada ustad pembimbingku.
Sepanjang hari sungguh kurasakan nikmat imanku yang bertambah.
Inilah Haji itu, rukun islam kelima yang sedang kujalani.
***
Hari kelima dan keenam, Mekkah.
Makin hari makin betah saja aku melaksanakan rukun-rukun haji. Doa-doa titipan teman-teman dan keluarga di Indonesia kupanjatkan betul-betul. Ya, karena barangsiapa yang berdoa secara tulus untuk saudaranya, tentu ia akan mendapatkan hasil yang serupa dari doanya.
Simbiosis do’aliasme.
Oke. Garing.
***
Hari ketujuh, Mekkah.
Aku bahkan lupa hari ini tanggal berapa. Yang kungiat, hari itu hari Jum’at. Aku mengikuti sholat Jum’at dengan khusyu’ di Masjidil Haram. Pakaian ihram ini benar-benar terasa menjadikan jutaan jamaah haji yang berasal dari jutaan latar belakang yang berbeda menjadi setara.
Apapun jabatan dan harta kami sebelum berangkat haji sudah kami tinggalkan seluruhnya di belakang. Kini, hanya tinggal kami dan kain ihram kami di sini, meminta ampun, menyucikan diri.
Sehabis Sholat Jum’at, aku memuutskan untuk beristirahat di Hotel sebentar. Kuniatkan aku akan kembali saat asar. Lumayan, tidur siang bisa membuatku lebih melek saat malam nanti. Aku pun segera bertolak menuju hotel.
Sore hari.
Aku ketiduran. Sudah jam 4.30 dan aku baru bangun. Oh, tidak. Waktu untuk beribadah jadi berkurang. Aku pun segera mengambil barang-barang dan berangkat menuju Masjidil haram.
Setelah berwudlu, seperti biasa, aku berthawwaf dulu di Ka’bah. Orang-orang sedang ramai saat itu. Namun sepertinya cuaca sedang buruk. Beberapa kali kulitku dijatuhi butiran dingin sperti salju, namun bukan salju. Aku segera menghiraukan pikiran itu dan fokus kembali beribadah.
“Labbaikkallaahumma..” Baru sampai situ, kudengar ada orang yang berteriak.
“Allahuakbar!!!”
Orang-orang di sekelilingku berhamburan dan berteriak panik. Kulihat ke atas, di sana, sebuah crane besar rubuh, persis mengarah ke arahku.
Aku dengan refleks segera ambil langkah untuk menghindarinya.
Namun, sekali lagi namun, aku tidak cukup cepat untuk itu, segera saja, tubuhku dan tubuh ratusan orang lainnya tertimpa.
Aku tak sadarkan diri.
***
Entah hari ke berapa, Rumah Sakit An-Nur, Mekkah.
“Ahlan, ya akh.” Kubuka mata, dan kudengar suara itu pertama kali.
“Di mana ini?” Aku berkata pelan.
Visualku menatapnya. Ya, di depanku, tampak orang asing yang dahulu mendatangi kamar hotelku dan memberikan kartu namanya. Ia berdiri di sampingku dan mengenakan setelan dokter.
Ia hanya memeberi isyarat “tidurlah kembali” sambil mencatat-catat sesuatu. Kemudian seorang suster datang dan mengobrol dengannya. Pandanganku masih lemah saat itu. Aku pun kembali tak sadarkan diri.
***
Entah berapa hari aku tak sadarkan diri, namun ketika bangun lagi, kali ini yang ada di hadapanku adalah ustad pembimbing hajiku. Ia berkata bahwa aku akan baik-baik saja.
Beberapa hari kemudian, aku pun mulai membaik dan dijinkan untuk berjalan-jalan. Kondisi fisikku yang belum sepenuhnya pulih menjadi alasan dari pihak rumah sakit dan penyelenggara haji untuk tidak memperbolehkanku melanjutkan manasik. Namun mereka juga berkata bahwa aku akan mendapatkan santunan dari Raja sebesar 2 milyar rupiah, dan boleh berangkat lagi tahun depan.
Oh ya, katanya juga, awalnya kondisiku kritis dan diragukan akan bisa pulih. Mereka menemukan di tasku ada kartu nama seorang dokter di sini, dan langsung mengabarkannya. Setlah itu, sang dokter yang rupanya kenal denganku memperjuangkanku mati-matian, bahkan sering bertahajud di samping ranjangku, berdoa untuk keselamatanku. Alhamdulillah, sekarang aku bisa sadar kembali.
Kini, di pikiranku hanya ada dua hal.
Satu, pulang.
Dua, orang asing yang juga dokter tersebut.
Namun, ya, setelah berkeliling rumah sakit dan bertanya seadanya, aku tidak bisa menemukannya. Padahal, aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku pun pasrah. Beberapa hari kemudian, aku pulang ke Indonesia.
***
Hari-hari berjalan normal sepeti biasa. Aku kembali bekerja setelah dua minggu beristirahat seusai Haji yang tidak selesai kemarin. Teman-teman kantor pun menyemangatiku begitu aku kembali ke kantor bersama mereka.
Aku senang karena bisa selamat dari insiden tersebut. Namun aku juga sedih karena harus menunda kesempurnaan rukun islamku satu tahun lagi.
Satu hal yang terlupakan.
Aku saat itu sedang iseng-iseng membereskan barang-barangku saat haji kemarin. Dan tebak apa yang kutemukan?
 Kartu nama!
Aku mengenali nomer teleponnya. Mungkin lewat situlah aku bisa bertemu kembali dengan orang asing itu.
Namun masih ada satu masalah. Bagaimana cara kami berkomunikasi?
Setelah menimbang-nimbang, aku pun akhirnya memutuskan.
Sebelum berangkat haji tahun depan, aku harus mengambil kursus bahasa arab.
Dan itulah yang terjadi selama setahun ini.
***
“Ahlan ya akh.”
“Masya Allah, kaif haluk?”
“Alhamdulillah, al-alan atakllam bil ‘arabiy aidhon.”
“Alais? Masya Allah!”
“Na’am, syukron ‘ala musa’adatik sanah madhiyah. Barakallah ya akh.”
“Laa ba’ts. Hadza ma sayaf’aluhu Nabiyyina shallahu ‘alaihi wa sallam.”
Aku pun memeluknya. Tahun ini, ketika aku berangkat haji, kusempatkan diri untuk meneleponnya dan janji bertemu di Makkah.
Begitulah persaudaraa muslim. Seperti yang diajarkan oleh Nabi kita SAW.
Tamat

Azam Rofiullah, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar