I was on my way, doing this first
holy trip in my life. For me, Haji is not only a trip, it’s a journey of
finding your holy side. I was very grateful to get this chance, visiting the
greatest city in the world—acording to me, of course.
I was saving for about ten years
before i finnaly get this moment. Yeah, ten years full of hardwork and a little
bit suffering, but in a good way of course. So there was I, sitting on the
plane, waiting to arrive at the destination.
To
Mecca.
***
Aku melihat keluar jendela. Awan-awan
berdiri dengan anggun di sana. Mengapasi bumi agar tetap teduh. Aku, serasa
ingin keluar dan rebahan di kapas langit tersebut. Sayangnya, aku tahu
konsekuensi akan angin kencang dan tekanan udara di luar, jadi aku urung.
Plus, aku sedang dalam kondisi
tak tertahankan.
Ini Haji pertamaku! Hore!
Tak berapa lama, seorang
pramugari yang berhijab menugumumkan kalau sebentar lagi kami akan sampai di
Yalamlam, alias Miqot Jamaah Haji yang datang dari Timur. Apa itu Miqot? Ia adalah
batas akhir seorang jemaah Haji atau Umrah untuk memakai kain ihram.
Kami pun berganti kain ihram di
pesawat. Ya, di pesawat. Tentu saja bergantian di tempat khusus. Setelah selesai,
aku duduk kembali. Menikmati perjalanan suci ini sambil berdzikir.
***
Tiba di Makkah.
Fyuh. Aku keluar dari pesawat dengan perasaan lega. Penerbangan kami
singkat sebenarnya, hanya dari Jeddah ke Makkah saja. Sebelumnya, perjalanan
dari Indonesia ke Jeddah sudah dilakukan kemarin, sehingga kami mempunyai waktu
satu hari untuk beristirahat dan sedikit beradaptasi dengan iklim serta jet lag.
Sungguh pengertian sekali Agen travel haji kami.
Aku pun berjalan keluar dari bandara bersama rombongan yang lain. Mereka rata-rata
berpasangan. Ada suami dan istri, mauapun ibu dan anak, atau keluarga lainnya. Hanya
aku laki-laki yang sendirian. Tadinya aku ingin mengajak istriku sekalian untuk
ikut berhaji. Namun sayangnya, aku belum punya istri, jadi ya sendiri saja deh.
Hehe.
Oh ya, perkenalkan. Namaku Zamzami. Lucu ya? Anti mainstream memang. Usiaku
27 tahun. Seorang pegawai perusahaan minyak asing yang ada di Indonesia. Sungguh
beruntung aku bisa haji kali ini. Sebelumnya, aku sudah menabung sejak umur 17
tahun, lalu, 6 tahun kemudian, saat aku diterima bekerja di perusahaanku kini,
mereka menawariku program tabungan haji. Syaratnya mudah, akan didaftarkan
sekarang dan potong gaji perbulan 10 persen selama 5 tahun.
Maka, berhubung aku sudah sangat ngebet Haji, dan tidak ada yang menjadi
tanggunganku, aku pun mendaftar.
Dan di sinilah aku empat tahun kemudian. Berhaji dengan biaya sendiri.
Hanya tinggal satu tahun lagi gajiku dipotong. Setelah itu, di usia 28
atau 29, aku berencana menikah. Yey, sempurnalah rukun islamku pada akhirnya.
***
Hari pertama, Mekkah.
Pintu hotelku diketuk. Aku yang sedang beristirahat pun terganggu. Kulihat
jam, jam sebelas malam. Aku baru saja pulang dari Masjidil haram karena
kelelahan. Kupikir, aku akan beristirahat sebentar dan nanti akan kembali pukul
tiga subuh untuk tahajud.
Tok tok.
Aku naik pitam. Siapa di sana?!
Lalu aku beristigfar, ingat bahwa aku sedang berada dalam proses haji,
harus menjauhkan diri dari sifat tercela.
Aku pun bangun dari tempat tidur dan menuju pintu.
“Assalamualaikum! Marhaban bi makkah!”
Seorang kulit hitam berdiri di depanku ketika aku membuka pintu. Aku tidak
kenal siapa dia, dan ia berbicara bahasa arab, bahasa yang tidak kumengerti.
Ia pun menyerocos lagi dengan cepat. Aku tertaba-taba dengan bahasa arab
seadanya.
“Afwan, ane tidak kenal ente. Ane mau naum.” Kataku sambil melipat tengan
di samping kepala.
Orang itu mengangguk-angguk dan memberikanku sebuah kartu nama.
Aku menerima dan
melihatnya. Ada sebuah alamat dan nomer telepon.
“Apa ini?” tanyaku. “Madza?”
Ia menyerocos lagi sambil menunjuk ke arah dirinya. “Bait, bait.”
Ah, aku main tidak paham saja. Lalu sejurus kemudian, ia malah pamit.
“Assalamualaikum!” Setelah itu, si orang asing pergi dengan cepat. Aku hanya
menggeleng-gelengkan kepala, menaruh kertu nama tersebut di meja, dan kembali
tidur.
***
Hai kedua, Mekkah.
Hari ini berjalan seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Eh, semuanya
sebenarnya spesial. Aku makin larut dalam ibadahku di Masjidil haram, masjid
yang sekali salatnya bernilai 100 kali salat di majid lain.
Ah. Indahnya.
***
Hari ketiga, Mekkah.
Aku secara tak sengaja melihat ke meja sebelum tidur. Sebuah kartu nama
yang diberikan orang asing dua hari yang lalu kini menarik perhatianku. Apa gerangan
yang coba disampaikan olehnya?
Kulihat, kartu tersebut hanya sebuah kertas putih dengan sebuah nama
berbahasa arab dan nomer telepon. Hanya itu saja. Aku pun menaruh kartu nama
tersebut ke dalam tas jahit yang biasa kugunakan untuk menaruh sendal dan
barang-barang lainnya.
Niatnya, akan kutanyakan perihal tersebut ke pembimbing hajiku besok.
***
Hari keempat, Mekkah.
Aku sudah mantap berniat untuk tambah khusyu’ pada hari ini. Walhasil, dari
pagi, aku lupa untuk menanyakan perihal orang asing itu kepada ustad
pembimbingku.
Sepanjang hari sungguh kurasakan nikmat imanku yang bertambah.
Inilah Haji itu, rukun islam kelima yang sedang kujalani.
***
Hari kelima dan keenam, Mekkah.
Makin hari makin betah saja aku melaksanakan rukun-rukun haji. Doa-doa
titipan teman-teman dan keluarga di Indonesia kupanjatkan betul-betul. Ya,
karena barangsiapa yang berdoa secara tulus untuk saudaranya, tentu ia akan
mendapatkan hasil yang serupa dari doanya.
Simbiosis do’aliasme.
Oke. Garing.
***
Hari ketujuh, Mekkah.
Aku bahkan lupa hari ini tanggal berapa. Yang kungiat, hari itu hari Jum’at.
Aku mengikuti sholat Jum’at dengan khusyu’ di Masjidil Haram. Pakaian ihram ini
benar-benar terasa menjadikan jutaan jamaah haji yang berasal dari jutaan latar
belakang yang berbeda menjadi setara.
Apapun jabatan dan harta kami sebelum berangkat haji sudah kami
tinggalkan seluruhnya di belakang. Kini, hanya tinggal kami dan kain ihram kami
di sini, meminta ampun, menyucikan diri.
Sehabis Sholat Jum’at, aku memuutskan untuk beristirahat di Hotel
sebentar. Kuniatkan aku akan kembali saat asar. Lumayan, tidur siang bisa
membuatku lebih melek saat malam nanti. Aku pun segera bertolak menuju hotel.
Sore hari.
Aku ketiduran. Sudah jam 4.30 dan aku baru bangun. Oh, tidak. Waktu untuk
beribadah jadi berkurang. Aku pun segera mengambil barang-barang dan berangkat
menuju Masjidil haram.
Setelah berwudlu, seperti biasa, aku berthawwaf dulu di Ka’bah. Orang-orang
sedang ramai saat itu. Namun sepertinya cuaca sedang buruk. Beberapa kali
kulitku dijatuhi butiran dingin sperti salju, namun bukan salju. Aku segera
menghiraukan pikiran itu dan fokus kembali beribadah.
“Labbaikkallaahumma..” Baru sampai situ, kudengar ada orang yang
berteriak.
“Allahuakbar!!!”
Orang-orang di sekelilingku berhamburan dan berteriak panik. Kulihat ke
atas, di sana, sebuah crane besar rubuh, persis mengarah ke arahku.
Aku dengan refleks segera ambil langkah untuk menghindarinya.
Namun, sekali lagi namun, aku tidak cukup cepat untuk itu, segera saja,
tubuhku dan tubuh ratusan orang lainnya tertimpa.
Aku tak sadarkan diri.
***
Entah hari ke berapa, Rumah Sakit An-Nur, Mekkah.
“Ahlan, ya akh.” Kubuka mata, dan kudengar suara itu pertama kali.
“Di mana ini?” Aku berkata pelan.
Visualku menatapnya. Ya, di depanku, tampak orang asing yang dahulu
mendatangi kamar hotelku dan memberikan kartu namanya. Ia berdiri di sampingku
dan mengenakan setelan dokter.
Ia hanya memeberi isyarat “tidurlah kembali” sambil mencatat-catat
sesuatu. Kemudian seorang suster datang dan mengobrol dengannya. Pandanganku masih
lemah saat itu. Aku pun kembali tak sadarkan diri.
***
Entah berapa hari aku tak sadarkan diri, namun ketika bangun lagi, kali
ini yang ada di hadapanku adalah ustad pembimbing hajiku. Ia berkata bahwa aku
akan baik-baik saja.
Beberapa hari kemudian, aku pun mulai membaik dan dijinkan untuk
berjalan-jalan. Kondisi fisikku yang belum sepenuhnya pulih menjadi alasan dari
pihak rumah sakit dan penyelenggara haji untuk tidak memperbolehkanku
melanjutkan manasik. Namun mereka juga berkata bahwa aku akan mendapatkan
santunan dari Raja sebesar 2 milyar rupiah, dan boleh berangkat lagi tahun depan.
Oh ya, katanya juga, awalnya kondisiku kritis dan diragukan akan bisa
pulih. Mereka menemukan di tasku ada kartu nama seorang dokter di sini, dan langsung mengabarkannya. Setlah itu, sang dokter yang rupanya kenal denganku memperjuangkanku mati-matian, bahkan
sering bertahajud di samping ranjangku, berdoa untuk keselamatanku. Alhamdulillah, sekarang aku bisa sadar kembali.
Kini, di pikiranku hanya ada dua hal.
Satu, pulang.
Dua, orang asing yang juga dokter
tersebut.
Namun, ya, setelah berkeliling
rumah sakit dan bertanya seadanya, aku tidak bisa menemukannya. Padahal, aku
ingin sekali mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku pun pasrah. Beberapa hari
kemudian, aku pulang ke Indonesia.
***
Hari-hari berjalan normal sepeti
biasa. Aku kembali bekerja setelah dua minggu beristirahat seusai Haji yang
tidak selesai kemarin. Teman-teman kantor pun menyemangatiku begitu aku kembali
ke kantor bersama mereka.
Aku senang karena bisa selamat
dari insiden tersebut. Namun aku juga sedih karena harus menunda kesempurnaan
rukun islamku satu tahun lagi.
Satu hal yang terlupakan.
Aku saat itu sedang iseng-iseng
membereskan barang-barangku saat haji kemarin. Dan tebak apa yang kutemukan?
Kartu nama!
Aku mengenali nomer teleponnya. Mungkin
lewat situlah aku bisa bertemu kembali dengan orang asing itu.
Namun masih ada satu masalah. Bagaimana
cara kami berkomunikasi?
Setelah menimbang-nimbang, aku
pun akhirnya memutuskan.
Sebelum berangkat haji tahun
depan, aku harus mengambil kursus bahasa arab.
Dan itulah yang terjadi selama
setahun ini.
***
“Ahlan ya akh.”
“Masya Allah, kaif haluk?”
“Alhamdulillah, al-alan atakllam
bil ‘arabiy aidhon.”
“Alais? Masya Allah!”
“Na’am, syukron ‘ala musa’adatik
sanah madhiyah. Barakallah ya akh.”
“Laa ba’ts. Hadza ma sayaf’aluhu
Nabiyyina shallahu ‘alaihi wa sallam.”
Aku pun memeluknya. Tahun ini,
ketika aku berangkat haji, kusempatkan diri untuk meneleponnya dan janji
bertemu di Makkah.
Begitulah persaudaraa muslim. Seperti
yang diajarkan oleh Nabi kita SAW.
Tamat
Azam
Rofiullah, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar