Kamis, 14 Januari 2016

#Cerpen Riot


Waktu membaca: 5-7 menit
“Kenapa kita berhenti di sini, pak?” Aku bertanya dengan nada gelisah pada supir taksi yang kutumpangi.
Setengah jam yang lalu, aku naik taksi berwarna putih dari Epicentrum, Kuningan. Tujuanku adalah Lebak bulus. Aku akan bertemu dengan teman-temanku di club Afterour di Points Square. Saat itu sudah jam setengah satu malam. Aku telat satu jam dari waktu yang dijanjikan.
Dan sekarang, di sinilah aku. Di sebuah pojok gelap yang setahuku berada di daerah TB. Simatupang. Supir taksiku tak menjawab, namun tiga detik kemudian ia menodongkan senjata rakitan ke arahku.
Senjata rakitan?
Ya, aku tahu karena aku adalah seorang anggota intel Republik ini. Aku terlatih untuk mengetahui jenis-jenis senjata, menggunakannya, atau melawan orang yang menggunakannya.
“Uang!”
Aku tetap gelisah. Meski terlatih, namun kebiasaanku masih tetap sama, bermain-main dengan emosi si penjahat, tetap berperan sebagai seorang perempuan lemah yang takut akan senjata.
“E.. eh, anu pak, gimana kalo yang lain aja?”
Satu lagi kebiasaan burukku, memberi harapan palsu kepada si penjahat.
Perlahan, tanganku bergerak ke arahnya dan mengelus leher supir tadi, berusaha membuatnya berpikir bahwa ia merasa nyaman.
Dan tampaknya strategiku berhasil. Ia lengah karena sedikit terbuai. Lalu dengan gerakan cepat, aku mematahkan lehernya dan mengambil pistol yang sedari tadi ia todongkan.
“Uang palamu!”
Aku menembak.
Bukan, bukan ke arah kepalanya, namun ke kaca depan mobil. Tujuannya tentu saja untuk menarik perhatian.
Sang supir menutup telinganya yang berdesing karena kerasnya dentuman pistol. Aku juga sebenarnya agak terganggu, namun aku sudah bisa mengontrol diriku bila mendengar suara desing yang dekat seperti ini.
Kubuang pistol ke belakang jok agar polisi bisa menemukan barang bukti. Setelah itu, aku pun keluar dan berlari.
*** 
“Sori telat. Macet dikit.” Kataku pada 2 orang yang sudah ada di sana. Lala dan Kemal.
“Jiah. Tengah malem masa macet.” Kemal tertawa kecil dengan alkohol di tangan kirinya.
“Ye, tau lah lu ‘macet’ nya Viona tuh kayak apa.” Lala membalas ejekan Kemal. “Kenapa? Abis nolongin orang dari penjahat?”
“Hahaha, kagaklah. Udah lupain aja.” Aku berkata. Setelah itu, aku memesan minum dan melanjutkan malam sampai habis dengan mereka.
***
Esok paginya, Jakarta rusuh. Dimulai dari jam 5 pagi tepatnya. Ada tiga pengeboman yang terjadi. Satu di daerah Tanjung Priuk, satu di Kemang, dan yang terakhir di sini, di Lebak Bulus.
Aku, untungnya, sedang keluar dari club saat kejadian itu terlangsung. Kemal dan Lala masih di dalam. Ikut hancur bersama bangunan tersebut.
Shit!
Aku baru saja ingin kembali ke sana saat ledakan tersebut terjadi. Tadinya, aku langsung berlari ke tkp untuk memastikan, namun urung saat melihat sebuah Mobil Terios yang berkecepatan tinggi, keluar dari daerah itu dan pergi.
Refleks, perhatinaku sepenuhnya teralih kepada mobil hitam itu. Aku segera melihat sekeliling untuk mencari kendaraan. Kulihat beberapa tukang ojek sedang termenung melihat ke arah Point Square. Gedung tersebut masih utuh, hanya saja lokasi club yang ada di lantai sekian tampak berasap hitam dan terbakar.
“Bang! Ojek!”
Salah seorang langsung sigap begitu melihatku berlari ke arahnya. Meski masih ingin melihat TKP, tetap saja mereka tidak akan menolak rejeki.
“Ke mana neng?” Ujarnya saat aku langsung naik ke belakangnya.
“Ke arah Pondok Indah, bang!” Aku berkata seperti itu karena melihat mobil tadi berjalan ke arah sana.
Di sisi lain, kudengar bunyi sirine meraung-raung. Ya, kantor pemadam kebakaran kebetulan sangat dekat dari lokasi. Hanya berjarak 500 meter saja. Beberapa mobil polisi pun tampak berdatangan dari arah Pondok Indah.
Cih. Mereka tidak tahu sebenarnya pelaku mengarah ke mereka. Dan mereka membiarkan mereka lewat.
“Bang! Cepetan!” Aku berteriak agak si tukang ojek ngegas. Ekor mataku segera menemukan mobil terios itu berjalan melewati rumah-rumah mewah yang ada di kawasan Pondok indah.
“Kejar mobil itu bang, jaga jarak aja. Itu mantan saya kabur bawa kalung saya.” Aku mengarang alasan agar si abang tidak curiga terhadap apa yang sebenanya kami kejar.
“Oke neng!”
Mendengar si abang mengerti, aku segera membuka handphone dan melihat aplikasi khusus kepolisian milik kami, para intel. Dari situ, kami bisa melihat update setiap kejadian baru yang dilaporkan lewat radio polisi, juga berkas-berkas kepolisian. Tentunya berdasarkan klasifikasi tingkat. Makin tinggi level kami, makin banyak info yang dapat diakses.
Aku terkejut bahwa laporan polisi mengatakan bahwa ledakan ini juga terjadi di Tanjung Priuk dan Kemang.
Dan sudah dapat diduga, semua mengincar klub-klub malam.
Aku pun cepat menganalisa.
Kemungkinan pelakunya sama. Dan melihat arah mobil ini melewati Pondok Indah, dapat dipastikan mereka akan berkumpul lagi di satu titik.
Daerah mana yang menjadi titik tengah antara Lebak Bulus, Kemang, dan Tanjung Priuk?
Aku berpikir keras.
Harmoni? Tomang? Grogol?
Shit. Aku tidak dapat menerka, namun tiga kemungkinan tadi lah yang paling masuk akal.
Ketika melewati PIM, aku melihat sebuah motor polisi terparkir di poskonya. Sang petugas tampak sedang bersiap-siap di dalam posko untuk menuju Lebak Bulus.
“Bang, berhenti di posko itu aja!”
“Siap, neng.”
Aku berpikir bahwa lebih baik membawa polisi tersebut mengejar pelaku. Sekaligus meminta bantuan polisi lain lewat radionya.
Kami pun segera menepi, tepat ketika petugas tersebut menyalakan motornya.
“Nih, bang.” Dua puluh ribu segera kuberikan.
“Tunggu!” Ujarku sambil menghampiri si polisi.
“Agen Viona. Detasement khusus kepolisian. Saya butuh bantuan anda untuk mengejar mobil terios hitam di depan sana. Mereka keluar dari Poins Square dengan kecepatan tinggi. Diduga mereka adalah...”
“Pelaku.” Ujar sang petugas.
Aku mengangguk. Perkenalan yang singkat, namun cukup untuk meyakinkannya untuk membawaku mengejar mobil tadi.
***
Pal merah.
Tampaknya, mobil tersebut melihat aku dan sang polisi mengejar mereka. Dari sini, seseorang keluar dari kaca mobil dan mulai menembaki kami.
Shit.
Kepalang tanggung, si petugas yang kutumpangi membunyikan sirine nya. Saat itu sudah jam 05.30, jalanan mulai didatangi orang-orang yang ingin berangkat kerja. Meski baru satu-dua mobil.
“Kepada pengemudi Mobil Terios Hitam, turunkan senjata anda!”
Kami menghindari beberapa tembakan lagi. Aku yang tidak membawa pistol saat itu langsung mengambil pistol si petugas dan menembakkannya ke arah ban mobil.
Dar! Dar!
Tembakanku masih meleset.       
Mobil-mobil orang sipil segera menepi. Beberapa tabrakan kecil terjadi karena kaget akan suara tembakan di pagi buta.
“Shit.” Aku mengumpat.
Suara sirine akhirnya terdengar juga di belakang kami. Nampaknya bantuan telah datang.
“Kau yakin mereka akan bertemu di Grogol?”
Aku mengangguk. “Atau Tomang, atau Harmoni.”
Sang petugas mengecek radio. Sayangnya, petugas yang lain tidak melihat sebuah mobil yang keluar dari TKP seperti kami. Jadi, spekulasiku tentang pertemuan ini terlalu kasar dan cenderung tidak benar.
Tembakan muntah lagi dari depan. Bukan, bukan ke arah kami, namun ke arah halte bus di pinggir jalan.
Damn!
Beberapa orang terkena tembakan di pinggir jalan. Orang-orang sipil, yang sedang menunggu bus, juga beberapa gelandangan yang sedang berada di halte.
 “Shit! Hentikan dia, Vion!”
Aku canggung. Vion? Tak apalah.
Aku segera menembak lagi. Dar! Pas ke ban kiri mobil tersebut.
Terios hitam di depan kami itu pun oleng dan menabrak trotoar. Mobil polisi muncul dari arah Cikini yang ada di depan kami. Mengepung lajunya.
That’s it. Berakhir sudah yang di sini.
Kami berhenti. Pun dengan mobil-mobil polisi lain. Aku menembak lagi ke ban kanannya. Memaastikan agar ia berhenti sepenuhnya.
Dan benarlah. Mobil itu akhirnya berhenti. Mobil-mobil polisi dengan cepat mengepung. Kami unggul jumlah.
Seorang polisi memegang TOA dan berkata leweat pembesar suara tersebut.
“Menyerahlah, kalian sudah dikepung!”
Dan reaksi yang diterima polisi tersebut adalah tembakan beruntun.
Shit! Mereka punya senjata otomatis. Para polisi pun balas menghujani mobil tadi dengan tembakan. Rusuh tak terelakkan. Jalanan Cikini pagi hari yang sepi berubah menjadi area tembak-tembakkan antara teroris dan polisi.
Tep! Tep! Tep!
Beberapa tembakan “tak bersuara” mengenai polisi yang sedang mengepung. Aku segera menunduk. Sniper! Dari mana mereka?
Tep! Tep!
Dua polisi jatuh lagi. Ini tidak bagus. Makin banyak korban yang berjatuhan.
Polisi yang lain menjadi tidak fokus begitu melihat rekannya berjatuhan ditembaki oleh penembak jarak jauh yang tidak mereka lihat. Mengambil kesempatan itu, para teroris yang berada di mobil tadi menembaki polisi-polisi yang lengah.
Aku segera berlindung ke bangunan terdekat. Mencari-cari lokasi dari sniper yang menembaki kami.
Dari kejauhan, tampak mobil terios yang lain datang. Mereka menabrak berikade mobil yang ada dan mendekat ke terios yang kulumpuhkan.
Aku menembaki mereka bergitu melihat bahwa para teroris ini berpindah mobil. Polisi yang tersisa tinggal sedikit. Dengan dialihkannya perhatian polisi oleh sniper tadi, proses pergantian mobil yang mereka lakukan menjadi mudah.
Dan begitulah yang terjadi. Aku berhenti menembaki saaat akhirnya terios yang baru saja datang tersebut pergi. Menjauh dari kumpulan polisi mati di sini.
Shit.
***
Cikini gempar. Jakarta gempar.
Orang-orang tidak jadi berangkat dan memutuskan untuk berlindung. Stay safe. Itu hashtag yang menyebar lewat jaringan social media.
Dengan kosongnya jalanan, teroris tersebut dengan mudah menghilang.
Aku meludah ke kiri jalan. Aku bahkan masih memakai baju clubbing. Namun Jakarta sudah separah ini.
***
“Agen Viona?”
Aku menengok ke arah sumber suara.
“Kerja bagus.”
Aku menarik napas.
“Oke, kawan-kawan! Latihan selesai! Kerja bagus semuanya. Kembali ke markas masing-masing!”
Polisi yang berjatuhan tadi mulai bangkit dan melepas baju mereka. Di dalamnya, rompi-rompi anti peluru tampak penuh dengan timah panas.
Dua orang turun dari gedung sebelah jalan. Mereka menggengam senapan laras panjang di tangan mereka. Para sniper.
“Kau hebat.”
Petugas yang membawaku tadi, adalah Letnan Pattimura, alias bosku.
“Namun lain kali, aku harus memberimu kostum yang lebih bagus. Dan jangan naik ojek seperti tadi. Kau harusnya kuberi sebuah mobil sedan.”
Ia tertawa. Aku hanya tersenyum masam. Terpaksa.
“Latihan individu semalam, kau dapat A, dan pagi ini, B+ kurasa cukup.”
Latihan ini selesai.
Esok, ketika ada serangan Teroris yang asli, kami akan lebih siap.
***

Azam Rofiullah, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar