“Kenapa kita berhenti di sini, pak?”
Aku bertanya dengan nada gelisah pada supir taksi yang kutumpangi.
Setengah jam yang lalu, aku naik
taksi berwarna putih dari Epicentrum, Kuningan. Tujuanku adalah Lebak bulus. Aku
akan bertemu dengan teman-temanku di club Afterour di Points Square. Saat itu
sudah jam setengah satu malam. Aku telat satu jam dari waktu yang dijanjikan.
Dan sekarang, di sinilah aku. Di sebuah
pojok gelap yang setahuku berada di daerah TB. Simatupang. Supir taksiku tak
menjawab, namun tiga detik kemudian ia menodongkan senjata rakitan ke arahku.
Senjata rakitan?
Ya, aku tahu karena aku adalah
seorang anggota intel Republik ini. Aku terlatih untuk mengetahui jenis-jenis
senjata, menggunakannya, atau melawan orang yang menggunakannya.
“Uang!”
Aku tetap gelisah. Meski terlatih,
namun kebiasaanku masih tetap sama, bermain-main dengan emosi si penjahat,
tetap berperan sebagai seorang perempuan lemah yang takut akan senjata.
“E.. eh, anu pak, gimana kalo
yang lain aja?”
Satu lagi kebiasaan burukku,
memberi harapan palsu kepada si penjahat.
Perlahan, tanganku bergerak ke
arahnya dan mengelus leher supir tadi, berusaha membuatnya berpikir bahwa
ia merasa nyaman.
Dan tampaknya strategiku
berhasil. Ia lengah karena sedikit terbuai. Lalu dengan gerakan cepat, aku
mematahkan lehernya dan mengambil pistol yang sedari tadi ia todongkan.
“Uang palamu!”
Aku menembak.
Bukan, bukan ke arah kepalanya,
namun ke kaca depan mobil. Tujuannya tentu saja untuk menarik perhatian.
Sang supir menutup telinganya
yang berdesing karena kerasnya dentuman pistol. Aku juga sebenarnya agak
terganggu, namun aku sudah bisa mengontrol diriku bila mendengar suara desing
yang dekat seperti ini.
Kubuang pistol ke belakang jok
agar polisi bisa menemukan barang bukti. Setelah itu, aku pun keluar dan
berlari.
***
“Sori telat. Macet dikit.” Kataku
pada 2 orang yang sudah ada di sana. Lala dan Kemal.
“Jiah. Tengah malem masa macet.”
Kemal tertawa kecil dengan alkohol di tangan kirinya.
“Ye, tau lah lu ‘macet’ nya Viona
tuh kayak apa.” Lala membalas ejekan Kemal. “Kenapa? Abis nolongin orang dari
penjahat?”
“Hahaha, kagaklah. Udah lupain
aja.” Aku berkata. Setelah itu, aku memesan minum dan melanjutkan malam sampai
habis dengan mereka.
***
Esok paginya, Jakarta rusuh. Dimulai
dari jam 5 pagi tepatnya. Ada tiga pengeboman yang terjadi. Satu di daerah
Tanjung Priuk, satu di Kemang, dan yang terakhir di sini, di Lebak Bulus.
Aku, untungnya, sedang keluar
dari club saat kejadian itu terlangsung. Kemal dan Lala masih di dalam. Ikut hancur
bersama bangunan tersebut.
Shit!
Aku baru saja ingin kembali ke
sana saat ledakan tersebut terjadi. Tadinya, aku langsung berlari ke tkp untuk
memastikan, namun urung saat melihat sebuah Mobil Terios yang berkecepatan
tinggi, keluar dari daerah itu dan pergi.
Refleks, perhatinaku sepenuhnya
teralih kepada mobil hitam itu. Aku segera melihat sekeliling untuk mencari
kendaraan. Kulihat beberapa tukang ojek sedang termenung melihat ke arah Point
Square. Gedung tersebut masih utuh, hanya saja lokasi club yang ada di lantai
sekian tampak berasap hitam dan terbakar.
“Bang! Ojek!”
Salah seorang langsung sigap
begitu melihatku berlari ke arahnya. Meski masih ingin melihat TKP, tetap saja
mereka tidak akan menolak rejeki.
“Ke mana neng?” Ujarnya saat aku
langsung naik ke belakangnya.
“Ke arah Pondok Indah, bang!” Aku
berkata seperti itu karena melihat mobil tadi berjalan ke arah sana.
Di sisi lain, kudengar bunyi
sirine meraung-raung. Ya, kantor pemadam kebakaran kebetulan sangat dekat dari
lokasi. Hanya berjarak 500 meter saja. Beberapa mobil polisi pun tampak
berdatangan dari arah Pondok Indah.
Cih. Mereka tidak tahu sebenarnya
pelaku mengarah ke mereka. Dan mereka membiarkan mereka lewat.
“Bang! Cepetan!” Aku berteriak
agak si tukang ojek ngegas. Ekor mataku segera menemukan mobil terios itu
berjalan melewati rumah-rumah mewah yang ada di kawasan Pondok indah.
“Kejar mobil itu bang, jaga jarak
aja. Itu mantan saya kabur bawa kalung saya.” Aku mengarang alasan agar si
abang tidak curiga terhadap apa yang sebenanya kami kejar.
“Oke neng!”
Mendengar si abang mengerti, aku
segera membuka handphone dan melihat aplikasi khusus kepolisian milik kami,
para intel. Dari situ, kami bisa melihat update setiap kejadian baru yang
dilaporkan lewat radio polisi, juga berkas-berkas kepolisian. Tentunya berdasarkan
klasifikasi tingkat. Makin tinggi level kami, makin banyak info yang dapat
diakses.
Aku terkejut bahwa laporan polisi
mengatakan bahwa ledakan ini juga terjadi di Tanjung Priuk dan Kemang.
Dan sudah dapat diduga, semua
mengincar klub-klub malam.
Aku pun cepat menganalisa.
Kemungkinan pelakunya sama. Dan melihat
arah mobil ini melewati Pondok Indah, dapat dipastikan mereka akan berkumpul
lagi di satu titik.
Daerah mana yang menjadi titik
tengah antara Lebak Bulus, Kemang, dan Tanjung Priuk?
Aku berpikir keras.
Harmoni? Tomang? Grogol?
Shit. Aku tidak dapat menerka, namun
tiga kemungkinan tadi lah yang paling masuk akal.
Ketika melewati PIM, aku melihat
sebuah motor polisi terparkir di poskonya. Sang petugas tampak sedang
bersiap-siap di dalam posko untuk menuju Lebak Bulus.
“Bang, berhenti di posko itu aja!”
“Siap, neng.”
Aku berpikir bahwa lebih baik
membawa polisi tersebut mengejar pelaku. Sekaligus meminta bantuan polisi lain
lewat radionya.
Kami pun segera menepi, tepat
ketika petugas tersebut menyalakan motornya.
“Nih, bang.” Dua puluh ribu
segera kuberikan.
“Tunggu!” Ujarku sambil menghampiri si polisi.
“Agen Viona. Detasement khusus
kepolisian. Saya butuh bantuan anda untuk mengejar mobil terios hitam di depan
sana. Mereka keluar dari Poins Square dengan kecepatan tinggi. Diduga mereka
adalah...”
“Pelaku.” Ujar sang petugas.
Aku mengangguk. Perkenalan yang
singkat, namun cukup untuk meyakinkannya untuk membawaku mengejar mobil tadi.
***
Pal merah.
Tampaknya, mobil tersebut melihat
aku dan sang polisi mengejar mereka. Dari sini, seseorang keluar dari kaca
mobil dan mulai menembaki kami.
Shit.
Kepalang tanggung, si petugas
yang kutumpangi membunyikan sirine nya. Saat itu sudah jam 05.30, jalanan mulai
didatangi orang-orang yang ingin berangkat kerja. Meski baru satu-dua mobil.
“Kepada pengemudi Mobil Terios
Hitam, turunkan senjata anda!”
Kami menghindari beberapa
tembakan lagi. Aku yang tidak membawa pistol saat itu langsung mengambil pistol
si petugas dan menembakkannya ke arah ban mobil.
Dar! Dar!
Tembakanku masih meleset.
Mobil-mobil orang sipil segera menepi. Beberapa tabrakan kecil terjadi
karena kaget akan suara tembakan di pagi buta.
“Shit.” Aku mengumpat.
Suara sirine akhirnya terdengar juga di belakang kami. Nampaknya bantuan telah
datang.
“Kau yakin mereka akan bertemu di Grogol?”
Aku mengangguk. “Atau Tomang, atau Harmoni.”
Sang petugas mengecek radio. Sayangnya, petugas yang lain tidak melihat
sebuah mobil yang keluar dari TKP seperti kami. Jadi, spekulasiku tentang
pertemuan ini terlalu kasar dan cenderung tidak benar.
Tembakan muntah lagi dari depan. Bukan, bukan ke arah kami, namun ke arah
halte bus di pinggir jalan.
Damn!
Beberapa orang terkena tembakan di pinggir jalan. Orang-orang sipil, yang
sedang menunggu bus, juga beberapa gelandangan yang sedang berada di halte.
“Shit! Hentikan dia, Vion!”
Aku canggung. Vion? Tak apalah.
Aku segera menembak lagi. Dar! Pas
ke ban kiri mobil tersebut.
Terios hitam di depan kami itu
pun oleng dan menabrak trotoar. Mobil polisi muncul dari arah Cikini yang ada
di depan kami. Mengepung lajunya.
That’s it. Berakhir sudah yang di
sini.
Kami berhenti. Pun dengan
mobil-mobil polisi lain. Aku menembak lagi ke ban kanannya. Memaastikan agar ia
berhenti sepenuhnya.
Dan benarlah. Mobil itu akhirnya
berhenti. Mobil-mobil polisi dengan cepat mengepung. Kami unggul jumlah.
Seorang polisi memegang TOA dan
berkata leweat pembesar suara tersebut.
“Menyerahlah, kalian sudah dikepung!”
Dan reaksi yang diterima polisi
tersebut adalah tembakan beruntun.
Shit! Mereka punya senjata
otomatis. Para polisi pun balas menghujani mobil tadi dengan tembakan. Rusuh tak
terelakkan. Jalanan Cikini pagi hari yang sepi berubah menjadi area
tembak-tembakkan antara teroris dan polisi.
Tep! Tep! Tep!
Beberapa tembakan “tak bersuara”
mengenai polisi yang sedang mengepung. Aku segera menunduk. Sniper! Dari mana
mereka?
Tep! Tep!
Dua polisi jatuh lagi. Ini tidak
bagus. Makin banyak korban yang berjatuhan.
Polisi yang lain menjadi tidak
fokus begitu melihat rekannya berjatuhan ditembaki oleh penembak jarak jauh
yang tidak mereka lihat. Mengambil kesempatan itu, para teroris yang berada di
mobil tadi menembaki polisi-polisi yang lengah.
Aku segera berlindung ke bangunan
terdekat. Mencari-cari lokasi dari sniper yang menembaki kami.
Dari kejauhan, tampak mobil
terios yang lain datang. Mereka menabrak berikade mobil yang ada dan mendekat
ke terios yang kulumpuhkan.
Aku menembaki mereka bergitu
melihat bahwa para teroris ini berpindah mobil. Polisi yang tersisa tinggal
sedikit. Dengan dialihkannya perhatian polisi oleh sniper tadi, proses
pergantian mobil yang mereka lakukan menjadi mudah.
Dan begitulah yang terjadi. Aku berhenti
menembaki saaat akhirnya terios yang baru saja datang tersebut pergi. Menjauh dari
kumpulan polisi mati di sini.
Shit.
***
Cikini gempar. Jakarta gempar.
Orang-orang tidak jadi berangkat
dan memutuskan untuk berlindung. Stay safe. Itu hashtag yang menyebar lewat
jaringan social media.
Dengan kosongnya jalanan, teroris
tersebut dengan mudah menghilang.
Aku meludah ke kiri jalan. Aku bahkan
masih memakai baju clubbing. Namun Jakarta sudah separah ini.
***
“Agen Viona?”
Aku menengok ke arah sumber
suara.
“Kerja bagus.”
Aku menarik napas.
“Oke, kawan-kawan! Latihan selesai!
Kerja bagus semuanya. Kembali ke markas masing-masing!”
Polisi yang berjatuhan tadi mulai
bangkit dan melepas baju mereka. Di dalamnya, rompi-rompi anti peluru tampak
penuh dengan timah panas.
Dua orang turun dari gedung
sebelah jalan. Mereka menggengam senapan laras panjang di tangan mereka. Para
sniper.
“Kau hebat.”
Petugas yang membawaku tadi, adalah
Letnan Pattimura, alias bosku.
“Namun lain kali, aku harus
memberimu kostum yang lebih bagus. Dan jangan naik ojek seperti tadi. Kau harusnya
kuberi sebuah mobil sedan.”
Ia tertawa. Aku hanya tersenyum
masam. Terpaksa.
“Latihan individu semalam, kau
dapat A, dan pagi ini, B+ kurasa cukup.”
Latihan ini selesai.
Esok, ketika ada serangan Teroris
yang asli, kami akan lebih siap.
***
Azam
Rofiullah, 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar