Sabtu, 16 Januari 2016

#Cerpen Bunga Akan Kalah Oleh Doa


Waktu membaca: 6-8 menit
Hari yang cerah seperti biasanya. Aku datang terlambat lagi ke kelas. Kali ini, hukumanku menjadi berlipat. Aku harus dijemur di lapangan ketika istirahat nanti, sembari mengaji satu juz Alquran. Oke. Habislah istirahatku selama 40 menit.
Aku duduk di sudut kelas, tempat yang paling nyaman untuk tidur. Oke, meski harus kuakui bahwa semua tempat di kelas ini nyaman untuk tidur. Udara segar yang menaungi kompleks madrasah kami memang selalu menjadi trigger utama dalam menina-bobokan para santri.
Pagi ini, kami sekelas di kelas 12 Keagamaan mulai belajar di semester dua. Yang berarti, hanya tinggal beberapa bulan lagi kami tinggal di Pondok Pesantren ini. Sungguh penantian yang panjang semenjak 6 tahun lalu aku mulai masuk ke dalam lingkungan ini.
Oh ya, perkenalkan. Namaku Fatan. Aku adalah santri tingkat akhir di Ponpes Al-Husna, Kuningan. Bisa dibilang, bahwa aku adalah santri yang bandel. Selalu terlambat ke kelas, alpa dalam banyak pelajaran, tidur saat pelajaran, tidak suka ikut acara-acara pondok, dan lain sebagainya.
Namun ini semua bukan cerita tentangku. Ini adalah cerita tentang Ustadku.
Ya, Ustad ‘Atiq, yang baru saja masuk untuk memulai pelajaran.
***
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab barisan depan. Kami yang berada di belakang sudah merasa terwakilkan.
“Kaifa haluk? Khoir?”
“Alhamdulillah, tad!” Jawab barisan depan lagi.
Ustad ‘Atiq adalah guru Siroh, alias sejarah Islam. Ini adalah salah satu mata pelajaran yang sulit karena menggunakan bahasa arab tingkat sastra dalam kisah-kisahnya. Maka, tak sembarang orang pula bisa mengajarkan Siroh. Ustad ‘Atiq sendiri adalah lulusan S3 Al-Azhar, ia juga sering membuat syi’r, alias puisi dalam bahasa arab. Kemampuannya sudah tidak kami ragukan lagi.
Perawakannya sedang, dengan jenggot tipis yang tumbuh di sepanjang dagunya. Ia berbadan atletis, cukup tinggi, dan menurutku, wajahnya bersinar. Mungkin karena air wudlu, atau mungkin juga karena pembasuh wajah yang ia gunakan tiap jam. Entahlah.
“Alhamdulillah, kini sudah semester 2, tinggal beberapa bulan lagi kalian meninggalkan pondok ini.”
Ia tersenyum. Ciri khas Ustad ‘Atiq, ia sangat ramah dan tidak pernah memarahi kami yang berada di belakang. Ia hanya akan mengingatkan baik-baik agar kami memperhatikan pelajarannya.
“Mungkin sudah waktunya saya menyemangati kalian agar berjuang lebih keras di akhir-akhir perjalanan kalian di Madrasah Aliyah ini.”
Kami menyimak. Sepertinya kami tidak akan masuk ke pelajaran dulu sekarang.
“Baiklah, saya akan bercerita sedikit.”
***
Jakarta, 9 tahun yang lalu.
Ustad ‘Atiq baru saja selesai kuliah dan masih menjomblo. Ia tinggal di sebuah kosan di bilangan Jakarta Selatan. Selain itu, ia juga seorang pengangguran. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupannya saat itu.
Seorang jenius yang menguasai sastra bahasa arab, namun miskin secara materi. Ia hidup dengan mengandalkan tabungannya semasa kuliah dulu, hasil dari lomba-lomba sastra yang ia ikuti selama hampir 13 tahun bersekolah di Mesir.
Ustad ‘Atiq sendiri sebenarnya tidak mau terlalu ambil pusing terhadap pekerjaan. Ia bisa saja mengajar di beberapa Madrasah, toh kemampuannya sudah tidak diragukan. Namun ia belum merasa waktunya untuk melakukan semua itu.
Di waktu luangnya (sebenarnya tiap waktu juga adalah waktu luang baginya) ia sering menulis puisi. Beberapa puisinya ia kirim ke Ustadnya di Mesir dulu. Iseng saja, tidak ada niat lebih.
Kemudian, di suatu hari yang cerah, ia mendapat telepon dari ibunya.
“Nak, kamu to bagaimana ini, sudah umur 32 dan masih membujang, ibu sudah ingin menimang cucu, nak.”
Satu lagi, beliau adalah anak tunggal di keluarganya.
“Yo wis bu, sabar, ini lagi dicari.”
Alasan saja, meski sebenarnya Ustad ‘Atiq juga dalam proses untuk menemukan belahan jiwanya.
Selang beberapa hari, ada panggilan untuk mengajar di sebuah Madrasah. Kali ini, ia memutuskan untuk mengambilnya.
DI Madrasah tersebut, ia mengenal beberapa guru bujang lain. Seperti biasa, para bujang itu suka menggosip. Ustad ‘Atiq sebagai member baru di kumpulan bujang itu hanya suka mendengar wanita-wanita lajang yang suka dibicarakan oleh teman-temannya.
“Ada anak Wakil Walikota, cantik, terkenal. Ia kuliah di FIB UI, sudah semester enam. Denger-denger sih ayahnya ingin dia segera menikah begitu lulus nanti. Jadi, harus ancang-ancang dari sekarang.”
“Wah, dapet info darimana lu?”
“Ibu gua kan kenalan ibunya. Ini info rahasia aja. Tapi banyak juga pengusaha, dokter, pengacara yang udah ambil langkah, bro. Mereka sering datang untuk basa-basi sama orang tuanya, bahkan melamar. Tapi ditolak semua.”
“Wah, inceran yang sulit dong ini mah.”
“Yaa, gua share info aja sih bro.”
Lalu, kumpulan 4 orang itu memandangi sebuah foto yang dikeluarkan oleh narasumber tadi. Foto si anak gadis. Cantik memang. Bersinar bagai rembulan.
Ustad ‘Atiq mengintip sedikit.
Dug!
Jantungnya tiba-tiba menendang.
Foto tersebut berhasil meruntuhkan tembok tebal yang kokoh di hatinya. Ada desiran yang mengajaknya untuk ambil bagian dalam perburuan ini.
“Gimana bro?”
“Gua nyerah lah. Anak Wakil Walikota, cantik, kaya, pasti yang lamar juga harus sepadan. Lah gua mah apa, lebih rendah dari kerikil di pinggir rel kereta. Bahkan kerikil aja ada gunanya.”
“Alah, cupu lo. Gua sih bermodal relasi dari ibu gua mau maju nanti bulan depan. Ya, kan masih ada waktu setahun lebih sebelum dia lulus. Bisa lah.”
“Wih, gede juga nyali lu bro.”
“Taruhan lah, kalo lu berhasil, nanti gua kasih TV LCD 32 inch buat hadiah penikahan lu.”
“Boleh juga lu! Kalo gagal?”
“Ya kebalikannya. Gua kan mau nikah 3 bulan lagi.”
“Si kampret ni bocah. Okelah. Gua ikut!”
“Haha, gitu dong bro!”
Ustad ‘Atiq yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Guys, ngomong-ngomong dia FIB jurusan apa ya?”
Yang lainnya menengok.
“Wih si ‘Atiq tertarik juga rupanya. Haha.”
“Waduh, kalo gak salah sih arab, Tiq. Ya kayak elu lah. Tapi jangan harap lu bisa berhasil dapetin doi. Bhaak.”
“Tau lu Tiq, mau maju juga? Oke deh, taruhan gua berlaku juga buat lu. Tapi, kalo lu gagal, ga ngasih TV ke gua juga gapapa.”
Ustad ‘Atiq hanya terdiam. Sastra arab FIB UI? Sudah semester enam? Boleh juga.
Selang beberapa hari kemudian, bermodal alamat yang diberikan oleh temannya, Ustad ‘Atiq berniat untuk “berkunjung”. Ia hanya memakai pakaian biasa, kaos Chelsea dengan celana jeans kumal, plus sebuah topi golf abal-abal yang ia beli di Jembatan penyebrangan.
“Assalamualaikum.” Beliau memencet bel.
Baru lima belas menit kemudian, ada jawaban dari dalam. Seorang pembantu keluar dari pintu rumah dan menuju gerbang tempat Ustad ‘Atiq berdiri.
“Ada apa to mas?”
“Um, begini bu, saya datang mau melamar Mbak Ana.”
Si pembantu langsung kaget.
“Melamar mas? Tapi kok dak kelihatan seperti ingin melamar ya?”
Terjadi kekauan di sana selama tiga detik, sebelum akhirnya Ustad ‘Atiq angkat bicara. “Boleh saya masuk bu?”
“Eh, sebentar, saya tanya bapak dulu, saya cuma pembantu soalnya.”
Si mbok pun masuk. Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang laaki-lak paruh baya dari dalam  rumah.
“Mas ingin melamar anak saya?”
Ustad ‘Atiq berusaha bersikap tenang. “Iya pak.”
“Tolong jangan mempermainkan saya ya mas, kalau mau melamar itu butuh proses. Saya pun tidak tahu dan tidak kenal siapa anda. Maaf sekali saya tidak bisa menerima anda.”
Gerbang pun dituutup tanpa ada satu pun kata-kata Ustad ‘Atiq yang didengar selanjutnya.
Hari itu, rencana pelamaran gagal total.
***
“Terus gimana kelanjutannya tad?” Aku bertanya. Ini benar-benar seru.
“Kalian mau tahu bagaimana?”
Tentu saja kami sangat ingin tahu. Selama ini Ustad ‘Atiq tergolong misterius, jarang sekali ia bercerita seperti ini. Plus, kami sangat terinspirasi tentang kisah-kisah mendapat jodoh.
“Baiklah, jadi begini...”
***
Ustad’Atiq tidak menyerah. Ia makin giat bekerja di Madrasah dan makin rajin beribadah. Teman-temannya yang lain hanya bisa menyemangatinya tatkala tahu bahwa ia nekat melamar ke rumah si Ana tanpa persiapan. Tentu saja, mereka juga tertawa di belakang.
Ustad ‘Atiq berdoa dengan serius.
“Ya Allah, sungguh perjodohan itu adalah kuasMu, tak ada seorangpun yang bisa hamba keluhkan kesah hamba perihal ini selain padaMu Ya Allah. Maka dengan kuasaMu lah, jadikan hamba berjodoh dengannya. Aamiin.”
Esok hari, Ustad ‘Atiq mendapat telepon dari Ustadnya dulu di Mesir. Ya, Ustad yang rajin ia kirimi puisi bahasa arab buatannya.
Inti dari telepon itu adalah, beliau kagum dengan puisi-puisi buatan ustad ‘Atiq, dan meminta bantuan padanya agar ia menggantikan sang Ustad untuk hadir dalam sebuah acara debat bahasa arab. Sang Ustad bertugas untuk menjadi juri di acara tersebut. Dan karena mendadak tidak bisa hadir, ia harus mencari pengganti yang tepat dan kompeten. Akhirnya muncul nama Ustad ‘Atiq di benaknya.
“Nanti panitianya akan menghubungimu.”
Ustad ‘Atiq menyanggupi, terutama karena itu adalah permintaan dari Ustadnya. Ya, ihtirom asaatidz masih menjadi prinsipnya hingga kini.
Beberapa jam kemudian, Ustad ‘Atiq mendapat telepon dari panitia untuk mengonfirmasi kedatangannya.
“Sebentar, ini acara di mana ya? Saya belum dikasih tahu siapa penitia acara ini.” Tanya Ustad ‘Atiq setelah sang panitia mengabarkan bahwa acara akan dilaksanakan besok.
“Oh, afwan, mungkin belum diberitahu oleh Syekh Fakhruddin. Kami dari Himpuan Mahasiswa Sastra Arab, FIB UI. Acaranya akan diadakan di aula utama Universitas Indonesia. Dimohon kehadirannya sekali lagi, tad.”
Ustad ‘Atiq mengiyakan. Tunggu, FIB UI?
Esoknya, datanglah Ustad ‘Atiq ke lokasi yang diberitahu oleh panitia.
Pada awalnya, penitia acara tersebut mengira bahwa beliau adalah peserta, dan bertanya bahwa ia berasal dari universitas mana.
Ustad ‘Atiq tersenyum dan memahami situasi.
“Afwan, saya juri dari acara ini.”
Panitia pun terkaget-kaget. Namun setelah dikonfirmasi, ternyata benar bahwa ustad ‘Atiq adalah juri pengganti syekh Fakhruddin dari Mesir.
Akhirnya, Ustad ‘Atiq pun masuk dan langsung menempati tempat duduk juri. Ia juga kaget, ternyata dua juri yang lain adalah syekh-syekh besar, orang arab asli. Hanya ia pribumi di sana. Berarti memang acara ini tidak main-main, hanya orang yang jago sastra arab lah yang menjadi juri. Dan sudah pasti, yang terpilih adalah orang sana asli.
Ustad ‘Atiq pun tersenyum sopan kepada dua juri lain. Mereka mengobrol sebentar. Ustad ‘Atiq bercerita bahwa ia adalah murid syekh Fakhruddin yang berhalangan hadir. Mereka pun terkejut.
“Ente ‘Atiq itu? Masya Allah, ane penggemar puisi-puisi buatan ente! Syekh almukarom (syekh Fakhruddin) suka nunjukin puisi ente ke ane.”
Tentu saja percakapan ini berbahasa arab.
Ustad ‘Atiq hanya merespon dengan senyuman, dan rendah hati. “Ah, masih banyak orang yang jago nulis puisi dalam bahasa arab.”
Masya Allah, ternyata puisiku disebar-sebar oleh syekh Fakhruddin. Pikirnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, acara pun dimulai.
Dan lebih terkejut lagi, saat Ustad ‘Atiq menemukan bahwa moderator acara ini adalah seorang mahasiswa senior, yang kemarin-kemarin fotonya berada di tangan teman-temannya.
Ya, Ana, sang anak Wakil Walikota itu, adalah moderator acara ini.
Subhanallah. Ustad ‘Atiq berkata dalam hati.
Momen kejutan ini belum lah selesai. Orang-orang yang hadir juga kaget melihat sosok juri “pribumi”, yang mana ini adalah momen pertama sepanjang sejarah acara ini, orang non-arab menjadi juri.
Pasti kemampuan bahasanya tinggi sekali, pikir mereka.
Ana pun tampak beberapa kali curi-curi pandang ke Ustad ‘Atiq. Tampak kagum pada sosok sederhana yang duduk di kursi juri tersebut.
***
“Wah, keren banget tad! Terus gimana akhirnya?”
“Hehe, jadilah sehabis itu kami bertukar kontak. Tanpa kuduga, Ana menceritakan perihal saya kepada bapaknya. Dengan kata lain, ia curhat bahwa ia naksir padaku. Setelah itu, bapaknya setuju saja bila ia dan aku dijodohkan. Tapi ada satu masalah.”
“Apa itu, ustad?” Kami serempak bertanya.
“Yaaa, Ana dan bapaknya kan tidak tahu bahwa saya naksir dia juga atau ndak.”
Kami bercie-cie.
“Dia tidak tahu bahwa saya pernah datang ke rumahnya untuk melamar.”
“Terus gimana dong tad?”
Ustad ‘Atiq tersenyum dan melanjutkan cerita.
***
Akhirnya, bermodalkan kontak Ustad ‘Atiq yang didapatkan saat acara tersebut, bapaknya Neng Ana menelepon, bilang bahwa ia menawarkan anaknya untuk dinikahi Ustad ‘Atiq. Ia juga berkata bahwa Ustad ‘Atiq pantas menjadi mantunya karena ilmu yang ia miliki. Soal harta, bapaknya Neng Ana tidak terlalu mempermasalahkan.
Siapa coba yang gak bisa nolak?
Akhirnya, diadakanlah pertemuan. Dan alangkah terkejutnya si Bapak begitu mengetahui bahwa sosok Ustad ‘Atiq adalah sosok yang sama dengan orang asing yang tiba-tiba muncul di depan rumahnya dan melamar anaknya.
“Iya pak, saya ‘Atiq, orang yang pernah melamar Ana dan ditolak oleh bapak.”
Keduanya pun tersenyum. Kini Ana tidak usah khawatir dengan jawaban yang akan diberikan oleh sang Ustad.
***
“Pewwwit.”
“Keren tad ceritanya!”
“Inspiring generation!”
“Hahaha.” Ustad ‘Atiq tertawa. “Kalian tahu apa hikmahnya?”
Semua terdiam kembali. Bersiap untuk mendengarkan puncak dari cerita ini.
“Sebuah bunga akan kalah dengan do’a.”
“Lihatlah pengusaha dan politisi yang datang melamar. Mereka datang membawa bunga. Namun siapa yang menang? Seorang ‘Atiq, yang datang hanya bermodal do’a dan pertolongan Tuhannya.”
Kami semua tersenyum hari itu.
Ya, ingatlah baik-baik kawan, Bunga akan kalah oleh Do’a.


Berdasarkan kisah nyata seorang guru,

Azam Rofiullah, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar