Waktu membaca: 6-8 menit
Hari yang cerah seperti biasanya.
Aku datang terlambat lagi ke kelas. Kali ini, hukumanku menjadi berlipat. Aku harus
dijemur di lapangan ketika istirahat nanti, sembari mengaji satu juz Alquran. Oke.
Habislah istirahatku selama 40 menit.
Aku duduk di sudut kelas, tempat
yang paling nyaman untuk tidur. Oke, meski harus kuakui bahwa semua tempat di
kelas ini nyaman untuk tidur. Udara segar yang menaungi kompleks madrasah kami
memang selalu menjadi trigger utama dalam menina-bobokan para santri.
Pagi ini, kami sekelas di kelas
12 Keagamaan mulai belajar di semester dua. Yang berarti, hanya tinggal
beberapa bulan lagi kami tinggal di Pondok Pesantren ini. Sungguh penantian
yang panjang semenjak 6 tahun lalu aku mulai masuk ke dalam lingkungan ini.
Oh ya, perkenalkan. Namaku Fatan.
Aku adalah santri tingkat akhir di Ponpes Al-Husna, Kuningan. Bisa dibilang,
bahwa aku adalah santri yang bandel. Selalu terlambat ke kelas, alpa dalam banyak
pelajaran, tidur saat pelajaran, tidak suka ikut acara-acara pondok, dan lain
sebagainya.
Namun ini semua bukan cerita
tentangku. Ini adalah cerita tentang Ustadku.
Ya, Ustad ‘Atiq, yang baru saja
masuk untuk memulai pelajaran.
***
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab barisan
depan. Kami yang berada di belakang sudah merasa terwakilkan.
“Kaifa haluk? Khoir?”
“Alhamdulillah, tad!” Jawab
barisan depan lagi.
Ustad ‘Atiq adalah guru Siroh,
alias sejarah Islam. Ini adalah salah satu mata pelajaran yang sulit karena
menggunakan bahasa arab tingkat sastra dalam kisah-kisahnya. Maka, tak
sembarang orang pula bisa mengajarkan Siroh. Ustad ‘Atiq sendiri adalah lulusan
S3 Al-Azhar, ia juga sering membuat syi’r, alias puisi dalam bahasa arab. Kemampuannya
sudah tidak kami ragukan lagi.
Perawakannya sedang, dengan jenggot tipis yang tumbuh di sepanjang
dagunya. Ia berbadan atletis, cukup tinggi, dan menurutku, wajahnya bersinar. Mungkin
karena air wudlu, atau mungkin juga karena pembasuh wajah yang ia gunakan tiap
jam. Entahlah.
“Alhamdulillah, kini sudah
semester 2, tinggal beberapa bulan lagi kalian meninggalkan pondok ini.”
Ia tersenyum. Ciri khas Ustad ‘Atiq,
ia sangat ramah dan tidak pernah memarahi kami yang berada di belakang. Ia hanya
akan mengingatkan baik-baik agar kami memperhatikan pelajarannya.
“Mungkin sudah waktunya saya
menyemangati kalian agar berjuang lebih keras di akhir-akhir perjalanan kalian di
Madrasah Aliyah ini.”
Kami menyimak. Sepertinya kami
tidak akan masuk ke pelajaran dulu sekarang.
“Baiklah, saya akan bercerita
sedikit.”
***
Jakarta, 9 tahun yang lalu.
Ustad ‘Atiq baru saja selesai kuliah
dan masih menjomblo. Ia tinggal di sebuah kosan di bilangan Jakarta Selatan. Selain
itu, ia juga seorang pengangguran. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupannya saat
itu.
Seorang jenius yang menguasai sastra bahasa arab, namun miskin secara
materi. Ia hidup dengan mengandalkan tabungannya semasa kuliah dulu, hasil dari
lomba-lomba sastra yang ia ikuti selama hampir 13 tahun bersekolah di Mesir.
Ustad ‘Atiq sendiri sebenarnya tidak mau terlalu ambil pusing terhadap
pekerjaan. Ia bisa saja mengajar di beberapa Madrasah, toh kemampuannya sudah
tidak diragukan. Namun ia belum merasa waktunya untuk melakukan semua itu.
Di waktu luangnya (sebenarnya tiap waktu juga adalah waktu luang baginya)
ia sering menulis puisi. Beberapa puisinya ia kirim ke Ustadnya di Mesir dulu. Iseng
saja, tidak ada niat lebih.
Kemudian, di suatu hari yang cerah, ia mendapat telepon dari ibunya.
“Nak, kamu to bagaimana ini, sudah umur 32 dan masih membujang, ibu sudah
ingin menimang cucu, nak.”
Satu lagi, beliau adalah anak tunggal di keluarganya.
“Yo wis bu, sabar, ini lagi dicari.”
Alasan saja, meski sebenarnya Ustad ‘Atiq juga dalam proses untuk
menemukan belahan jiwanya.
Selang beberapa hari, ada panggilan untuk mengajar di sebuah Madrasah. Kali
ini, ia memutuskan untuk mengambilnya.
DI
Madrasah tersebut, ia mengenal beberapa guru bujang lain. Seperti biasa, para
bujang itu suka menggosip. Ustad ‘Atiq sebagai member baru di kumpulan bujang
itu hanya suka mendengar wanita-wanita lajang yang suka dibicarakan oleh
teman-temannya.
“Ada anak Wakil Walikota, cantik,
terkenal. Ia kuliah di FIB UI, sudah semester enam. Denger-denger sih ayahnya
ingin dia segera menikah begitu lulus nanti. Jadi, harus ancang-ancang dari
sekarang.”
“Wah, dapet info darimana lu?”
“Ibu gua kan kenalan ibunya. Ini info
rahasia aja. Tapi banyak juga pengusaha, dokter, pengacara yang udah ambil
langkah, bro. Mereka sering datang untuk basa-basi sama orang tuanya, bahkan
melamar. Tapi ditolak semua.”
“Wah, inceran yang sulit dong ini
mah.”
“Yaa, gua share info aja sih bro.”
Lalu, kumpulan 4 orang itu
memandangi sebuah foto yang dikeluarkan oleh narasumber tadi. Foto si anak
gadis. Cantik memang. Bersinar bagai rembulan.
Ustad ‘Atiq mengintip sedikit.
Dug!
Jantungnya tiba-tiba menendang.
Foto tersebut berhasil
meruntuhkan tembok tebal yang kokoh di hatinya. Ada desiran yang mengajaknya
untuk ambil bagian dalam perburuan ini.
“Gimana bro?”
“Gua nyerah lah. Anak Wakil
Walikota, cantik, kaya, pasti yang lamar juga harus sepadan. Lah gua mah apa, lebih
rendah dari kerikil di pinggir rel kereta. Bahkan kerikil aja ada gunanya.”
“Alah, cupu lo. Gua sih bermodal
relasi dari ibu gua mau maju nanti bulan depan. Ya, kan masih ada waktu setahun
lebih sebelum dia lulus. Bisa lah.”
“Wih, gede juga nyali lu bro.”
“Taruhan lah, kalo lu berhasil,
nanti gua kasih TV LCD 32 inch buat hadiah penikahan lu.”
“Boleh juga lu! Kalo gagal?”
“Ya kebalikannya. Gua kan mau
nikah 3 bulan lagi.”
“Si kampret ni bocah. Okelah. Gua
ikut!”
“Haha, gitu dong bro!”
Ustad ‘Atiq yang sedari tadi
diam, akhirnya angkat bicara. “Guys, ngomong-ngomong dia FIB jurusan apa ya?”
Yang lainnya menengok.
“Wih si ‘Atiq tertarik juga
rupanya. Haha.”
“Waduh, kalo gak salah sih arab,
Tiq. Ya kayak elu lah. Tapi jangan harap lu bisa berhasil dapetin doi. Bhaak.”
“Tau lu Tiq, mau maju juga? Oke deh,
taruhan gua berlaku juga buat lu. Tapi, kalo lu gagal, ga ngasih TV ke gua juga
gapapa.”
Ustad ‘Atiq hanya terdiam. Sastra
arab FIB UI? Sudah semester enam? Boleh juga.
Selang beberapa hari kemudian,
bermodal alamat yang diberikan oleh temannya, Ustad ‘Atiq berniat untuk “berkunjung”.
Ia hanya memakai pakaian biasa, kaos Chelsea dengan celana jeans kumal, plus
sebuah topi golf abal-abal yang ia beli di Jembatan penyebrangan.
“Assalamualaikum.” Beliau
memencet bel.
Baru lima belas menit kemudian, ada
jawaban dari dalam. Seorang pembantu keluar dari pintu rumah dan menuju
gerbang tempat Ustad ‘Atiq berdiri.
“Ada apa to mas?”
“Um, begini bu, saya datang mau
melamar Mbak Ana.”
Si pembantu langsung kaget.
“Melamar mas? Tapi kok dak
kelihatan seperti ingin melamar ya?”
Terjadi kekauan di sana selama
tiga detik, sebelum akhirnya Ustad ‘Atiq angkat bicara. “Boleh saya masuk bu?”
“Eh, sebentar, saya tanya bapak
dulu, saya cuma pembantu soalnya.”
Si mbok pun masuk. Beberapa saat
kemudian, keluarlah seorang laaki-lak paruh baya dari dalam rumah.
“Mas ingin melamar anak saya?”
Ustad ‘Atiq berusaha bersikap tenang. “Iya pak.”
“Tolong jangan mempermainkan saya ya mas, kalau mau melamar itu butuh
proses. Saya pun tidak tahu dan tidak kenal siapa anda. Maaf sekali saya tidak
bisa menerima anda.”
Gerbang pun dituutup tanpa ada satu pun kata-kata Ustad ‘Atiq yang
didengar selanjutnya.
Hari itu, rencana pelamaran gagal total.
***
“Terus gimana kelanjutannya tad?” Aku bertanya. Ini benar-benar seru.
“Kalian mau tahu bagaimana?”
Tentu saja kami sangat ingin tahu. Selama ini Ustad ‘Atiq tergolong
misterius, jarang sekali ia bercerita seperti ini. Plus, kami sangat
terinspirasi tentang kisah-kisah mendapat jodoh.
“Baiklah, jadi begini...”
***
Ustad’Atiq tidak menyerah. Ia makin giat bekerja di Madrasah dan makin
rajin beribadah. Teman-temannya yang lain hanya bisa menyemangatinya tatkala
tahu bahwa ia nekat melamar ke rumah si Ana tanpa persiapan. Tentu saja, mereka
juga tertawa di belakang.
Ustad ‘Atiq berdoa dengan serius.
“Ya Allah, sungguh perjodohan itu adalah kuasMu, tak ada seorangpun yang
bisa hamba keluhkan kesah hamba perihal ini selain padaMu Ya Allah. Maka dengan
kuasaMu lah, jadikan hamba berjodoh dengannya. Aamiin.”
Esok hari, Ustad ‘Atiq mendapat telepon dari Ustadnya dulu di Mesir. Ya, Ustad
yang rajin ia kirimi puisi bahasa arab buatannya.
Inti dari telepon itu adalah, beliau kagum dengan puisi-puisi buatan
ustad ‘Atiq, dan meminta bantuan padanya agar ia menggantikan sang Ustad untuk
hadir dalam sebuah acara debat bahasa arab. Sang Ustad bertugas untuk menjadi juri di
acara tersebut. Dan karena mendadak tidak bisa hadir, ia harus mencari pengganti
yang tepat dan kompeten. Akhirnya muncul nama Ustad ‘Atiq di benaknya.
“Nanti panitianya akan menghubungimu.”
Ustad ‘Atiq menyanggupi, terutama karena itu adalah permintaan dari Ustadnya.
Ya, ihtirom asaatidz masih menjadi prinsipnya hingga kini.
Beberapa jam kemudian, Ustad ‘Atiq mendapat telepon dari panitia untuk
mengonfirmasi kedatangannya.
“Sebentar, ini acara di mana ya? Saya belum dikasih tahu siapa penitia
acara ini.” Tanya Ustad ‘Atiq setelah sang panitia mengabarkan bahwa acara akan
dilaksanakan besok.
“Oh, afwan, mungkin belum diberitahu oleh Syekh Fakhruddin. Kami dari
Himpuan Mahasiswa Sastra Arab, FIB UI. Acaranya akan diadakan di aula utama
Universitas Indonesia. Dimohon kehadirannya sekali lagi, tad.”
Ustad ‘Atiq mengiyakan. Tunggu, FIB UI?
Esoknya, datanglah Ustad ‘Atiq ke lokasi yang diberitahu oleh panitia.
Pada awalnya, penitia acara tersebut mengira bahwa beliau adalah peserta,
dan bertanya bahwa ia berasal dari universitas mana.
Ustad ‘Atiq tersenyum dan memahami situasi.
“Afwan, saya juri dari acara ini.”
Panitia pun terkaget-kaget. Namun setelah dikonfirmasi, ternyata benar
bahwa ustad ‘Atiq adalah juri pengganti syekh Fakhruddin dari Mesir.
Akhirnya, Ustad ‘Atiq pun masuk dan langsung menempati tempat duduk juri.
Ia juga kaget, ternyata dua juri yang lain adalah syekh-syekh besar, orang arab
asli. Hanya ia pribumi di sana. Berarti memang acara ini tidak main-main, hanya
orang yang jago sastra arab lah yang menjadi juri. Dan sudah pasti, yang
terpilih adalah orang sana asli.
Ustad ‘Atiq pun tersenyum sopan kepada dua juri lain. Mereka mengobrol
sebentar. Ustad ‘Atiq bercerita bahwa ia adalah murid syekh Fakhruddin yang
berhalangan hadir. Mereka pun terkejut.
“Ente ‘Atiq itu? Masya Allah, ane penggemar puisi-puisi buatan ente!
Syekh almukarom (syekh Fakhruddin) suka nunjukin puisi ente ke ane.”
Tentu saja percakapan ini berbahasa arab.
Ustad ‘Atiq hanya merespon dengan senyuman, dan rendah hati. “Ah, masih
banyak orang yang jago nulis puisi dalam bahasa arab.”
Masya Allah, ternyata puisiku disebar-sebar oleh syekh Fakhruddin. Pikirnya
dalam hati.
Beberapa saat kemudian, acara pun dimulai.
Dan lebih terkejut lagi, saat Ustad ‘Atiq menemukan bahwa moderator acara
ini adalah seorang mahasiswa senior, yang kemarin-kemarin fotonya berada di
tangan teman-temannya.
Ya, Ana, sang anak Wakil Walikota
itu, adalah moderator acara ini.
Subhanallah. Ustad ‘Atiq
berkata dalam hati.
Momen kejutan ini belum lah
selesai. Orang-orang yang hadir juga kaget melihat sosok juri “pribumi”, yang
mana ini adalah momen pertama sepanjang sejarah acara ini, orang non-arab
menjadi juri.
Pasti kemampuan bahasanya tinggi
sekali, pikir mereka.
Ana pun tampak beberapa kali
curi-curi pandang ke Ustad ‘Atiq. Tampak kagum pada sosok sederhana yang duduk
di kursi juri tersebut.
***
“Wah, keren banget tad! Terus gimana
akhirnya?”
“Hehe, jadilah sehabis itu kami
bertukar kontak. Tanpa kuduga, Ana menceritakan perihal saya kepada bapaknya. Dengan
kata lain, ia curhat bahwa ia naksir padaku. Setelah itu, bapaknya setuju saja
bila ia dan aku dijodohkan. Tapi ada satu masalah.”
“Apa itu, ustad?” Kami serempak
bertanya.
“Yaaa, Ana dan bapaknya kan tidak
tahu bahwa saya naksir dia juga atau ndak.”
Kami bercie-cie.
“Dia tidak tahu bahwa saya pernah
datang ke rumahnya untuk melamar.”
“Terus gimana dong tad?”
Ustad ‘Atiq tersenyum dan
melanjutkan cerita.
***
Akhirnya, bermodalkan kontak
Ustad ‘Atiq yang didapatkan saat acara tersebut, bapaknya Neng Ana menelepon,
bilang bahwa ia menawarkan anaknya untuk dinikahi Ustad ‘Atiq. Ia juga berkata
bahwa Ustad ‘Atiq pantas menjadi mantunya karena ilmu yang ia miliki. Soal harta,
bapaknya Neng Ana tidak terlalu mempermasalahkan.
Siapa coba yang gak bisa nolak?
Akhirnya, diadakanlah pertemuan. Dan
alangkah terkejutnya si Bapak begitu mengetahui bahwa sosok Ustad ‘Atiq adalah
sosok yang sama dengan orang asing yang tiba-tiba muncul di depan rumahnya dan melamar anaknya.
“Iya pak, saya ‘Atiq, orang yang
pernah melamar Ana dan ditolak oleh bapak.”
Keduanya pun tersenyum. Kini Ana
tidak usah khawatir dengan jawaban yang akan diberikan oleh sang Ustad.
***
“Pewwwit.”
“Keren tad ceritanya!”
“Inspiring generation!”
“Hahaha.” Ustad ‘Atiq tertawa. “Kalian
tahu apa hikmahnya?”
Semua terdiam kembali. Bersiap untuk
mendengarkan puncak dari cerita ini.
“Sebuah bunga akan kalah dengan
do’a.”
“Lihatlah pengusaha dan politisi
yang datang melamar. Mereka datang membawa bunga. Namun siapa yang menang?
Seorang ‘Atiq, yang datang hanya bermodal do’a dan pertolongan Tuhannya.”
Kami semua tersenyum hari itu.
Ya, ingatlah baik-baik kawan, Bunga
akan kalah oleh Do’a.
Berdasarkan kisah nyata seorang guru,
Azam Rofiullah, 2016
Berdasarkan kisah nyata seorang guru,
Azam Rofiullah, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar