Jumat, 08 Januari 2016

#Cerpen Alas Tidurku Adalah Tanah (sebuah cerpen tentang ketaatan seorang hamba)

Waktu membaca: 9-11 menit
Kabut masih menyelimuti tanah ini. Aku yang baru terbangun sadar bahwa sekarang waktunya untuk bersenang-senang dalam arti menikmati indahnya bertemu kekasih sejati yaitu Allah SWT. Ya, sekarang memang sepertiga malam yang Allah sediakan untuk “kencan” dengan-Nya.
Tanah yang dingin ini segera kutinggalkan. Aku berjalan menuju sungai yang letaknya sekitar 100m dari tempatku tidur. Aku berwudhu di tengah dinginnya malam yang membuat jutaan insan betah bercokol di alam mimpi mereka. Mereka telah terlena akan empuknya kasur yang mereka jadikan alas tidur, bantal yang mereka jadikan sandaran, dan selimut yang mereka jadikan penghalau dan pelindung dari keadaan menggigil sepertiku. Aku memang masih 15 tahun. Selama ini kudatangi rumah-rumah warga, lalu kuajak mereka menyembah Allah dan mengigatnya dalam keadaan berbaring, duduk, maupun berjalan. Namun tak jarang ku mendapati bantingan pintu tanda ketidakramahan mereka akan peringatan sekaligus ajakanku. Aku memang bukan nabi, aku juga tahu bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW. Tetapi aku merasa harus untuk menyerukan kebenaran karena sekarang banyak yang mengingkarinya. Allah, betapa berat ini....
Air mataku berderai deras, diatas tanah ini segala kegiatan terlaksana, baik, buruk, semua ada hikmahnya. Aku merenung dalam dekapan fajar. Setelah Qiyamullail dan sholat Shubuhku, aku duduk di tepi sungai yang jernih dan keemasan karena diterpa sinar matahari pagi. Beberapa orang yang lewat memandangiku heran sambil bergumam,” dasar pengangguran!”
Aku yang mendengar perkataan mereka langsung bangkit dan mengemasi barang-barangku di sekitar sungai. Alangkah lalainya aku, gumam hatiku. Aku pun melanjutkan perjalanan yang tak persis tujuannya untuk mengajak orang lain berjuang meraih Mardhotillah. 
Baru beberapa langkah, aku dikejutkan sebuah suara yang memanggilku,
”Abdullah!”
Aku tersentak, aku kenal suara itu. Ia berlari tergopoh-gopoh ke arahku. Dandanannya mewah, dengan celana jeans dan baju mahal. Sepatunya pun sangat memikat. Ia adalah teman lamaku saat 8 tahun, Salman namanya. Ia datang membawa sesuatu.
”Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Ternyata, di sini kau berada. Kau tahu, aku sudah sukses sekarang, aku mulai bekerja saat 12 tahun. Aku coba melakukan kerjasama dengan orang-orang besar, awalnya mereka meragukan kemampuanku yang masih anak-anak. Kubilang aku bukan anak-anak, aku adalah remaja yang akan merubah bangsa menjadi lebih baik. Dan kubilang mengapa kalian hanya merekrut orang-orang tua yang sudah renta sebagai mitra? Seharusnya kalian merekrut anak muda yang sekarang banyak menjadi pengangguran karena tidak diberi kesempatan. Kalau kemampuannya diragukan, mana bisa kami maju! Eh, ternyata mereka termangu, mereka baru sadar, pemuda sekarang banyak yang disia-siakan tenaganya. Akhirnya aku dan beberapa orang temanku mulai bekerja sekaligus bersekolah. Aku mempraktekkan semua yang aku tahu di sekolah. Dengan begitu, pelajaran-pelajaran selalu kuingat. Banyak orang mengira bahwa usiaku waktu itu harus fokus belajar, namun apa gunanya belajar tanpa praktik? Sekarang dul, aku bagaikan raja. Semua bisa kubeli dengan uang. Rumahku sudah 7, mobil ada 13, dan yang lebih spektakuler, istriku sudah 6 dul! Ha..ha..ha.. aku memang raja. Oh, ya kamu mau jadi bawahanku tidak? Kau kan paling jago kalau jadi asisten, soalnya asistenku harus mengurus harta-hartaku dan sekarang aku masih mencarinya. Jadi, kau mau tidak? Soal gaji kau tidak perlu bingung, setiap minggu kau akan kuberi 7 juta rupiah. Nah, sekarang tinggal bagaimana keputusanmu, ayolah jawab.”
Aku menjawab sambil menatapnya,” Salman, aku adalah seorang hamba Allah yang mencintai kesederhanaan, kau tahu kan? Aku begitu bangga ketika tahu kau sudah sukses, hanya saja aku sarankan agar kau tidak terlalu menimbun kekayaan, kaupun harus tahu bahwa hartamu bukan sepenuhnya milikmu, tapi itu juga adalah milik orang yang membutuhkan. Aku tidak menyuruhmu agar memberi semua hartamu, tapi sisihkan walau hanya sedikit.”
Ia langsung geram,” alah, untuk apa itu semua? Tidak ada gunanya aku memberi orang-orang miskin, aku kan masih muda dan aku masih mau berfoya-foya. Lebih baik aku gunakan hartaku untuk besenang-senang. Sekarang kan aku sudah kaya. Hei dul! Kau jangan coba-coba nasihati aku ya?! Aku Cuma ingin kau mengurus hartaku, menghitung semua gerak-gerik uangku, bukan untuk menyisihkan hartaku, aku tidak mau kau banyak cekcok lagi. Kau mau tidak jadi asistenku?”
”Man! Asal kau tahu, hartamu akan menjadikanmu monster! Aku tidak mau jadi asistenmu dan mendapat kekayaan sepertimu yang alas tidurnya adalah kasur yang empuk dan juga bantal yang bagus, camkan Man, alas tidurku adalah tanah dan bantalku adalah batu! Aku tidak ingin kesenangan dunia, dan aku hanya memperingatkanmu, yang paling dekat adalah kematian”, ucapku tak kalah dengannya. 
Ia langsung pergi dengan muka kecut. Aku pun pergi seolah tak peduli, padahal aku sangat prihatin dengannya. Betapa dulu ia sangat rajin dan sholeh, namun mengapa setelah kutinggal 7 tahun ia menjadi lalai karena harta. Mudah-mudahan saja hidayah Allah sampai padanya. 
Siang telah tiba, orang-orang mulai banyak mendatangi rumah-rumah makan. Aku pun teringat bahwa aku belum makan sejak pagi. Aku berniat mendatangi salah satu rumah makan, tapi apa daya karena aku tidak punya uang. Selama ini yang selalu menemaniku hanyalah sebuah tas gendong tua yang berisi mushaf Al-quran kecil yang ada artinya, kitab ringkasan shahih bukhari, dan sebuah baju yang hanya kugunakan untuk sholat jum`at. Baju yang kupakai sehati-hari adalah sebuah kemeja usang yang entah berapa banyak tambalannya. Celanaku pun hanya celana hitam yang diwariskan ayahku, tentu celana ini usianya lebih tua dariku. Akupun hanya punya satu botol minum yang kupakai untuk minum dan menyimpan air dari sungai-sungai atau keran di masjid. 
Setelah berjalan beberapa langkah, aku terhenti oleh sebuah ide, bagaimana kalau aku menawarkan diri untuk bekerja sehari ini di warung makan itu?selain dapat gaji, pasti aku dapat jatah makan siang. Ide yang bagus, pikirku. Aku langsung berjalan setengah berlari menuju warung makan tadi. Setelah masuk aku bergerak menemui pemiliknya. 
Setelah bicara panjang lebar dengan pemiliknya, aku mendapat jawaban indah,” oh, boleh sekali, kebetulan seorang pegawai di sini sedang tidak masuk karena sakit, sebetulnya ia sudah tiga hari tidak masuk, kamipun jadi kewalahan. Oh ya, kau bisa bekerja sekarang, tugasmu adalah mengantar pesanan orang dengan motor yang ada di belakang. Kau akan digaji Rp 20.000,-/hari plus makan dan uang saku. Nah, sekarang mari bekerja.”
Saking gembiranya, aku sampai lupa bahwa aku belum bisa naik motor. Begitu sampai di belakang warung, seseorang datang membawa beberapa box makanan,” tolong diantar, ini alamatnya” , tukasnya sambil menyerahkan box makanan itu dan secarik kertas padaku. Aku bingung sekali. Untung aku punya akal. Begitu melihat seorang lewat aku langsung menghampirinya. Hmm, usianya kira-kira 20-an tahun, orangnya juga kayaknya baik, pikirku. 
”Bang, boleh minta tolong nggak bang?” ucapku.
”Minta tolong apa?” timpalnya ramah.
”Abang punya waktu seharian ini nggak? Saya mau minta tolong untuk mengantar pesanan orang dengan motor, nanti saya bayar Rp 20.000,- setelah semua pesanan selesai.”
”Oh, bisa, saya lagi tidak ada kegiatan seharian ini, dan kebetulan saya memang disuruh kerja sama ibu saya, tapi dari tadi sata tidak dapat pekerjaan. Jadi kapan bisa mulai?”
”Oh, sekarang bang, ini alamatnya. Motor dan pesananya ada di sana”, ucapku seraya menunjukkan letak belakang warung.
”Oke”, ucapnya bersemangat.
Ia menyalakan motor dan beranjak pergi. Aku berdoa dalam hati,” ya Allah, aku titipkan motor itu kepada-Mu, tolong lindungi motor itu dari kejahatan makhluk-Mu.”
Selang beberapa menit, orang itu kembali lagi. Kulihat sudah tidak ada box-box makanan lagi. Ia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Aku mengajaknya duduk di bawah pohon di dekat situ untuk melepas lelah. Kami duduk sambil berbincang-bincang. Ternyata namanya adalah Fulan. Aku berkata padanya,” bang, bacalah surat Al-Waqi`ah setiap malam, niscaya besok engkau tidak perlu khawatir tentang rezekimu. Sebetulnya banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari Al-Qur`an. Karena kata seorang ustadz bahwa Al-Qur`an ini baru digali 10 persennya saja. Kaupun harus mensyukuri segala nikmat Allah walaupun kau tidak makan selama 3 hari, karena sesungguhnya 80 persen lebih kenikmatan dunia itu sudah ada di dalam tubuhmu. Yang di luar itu hanya 20 persen kurang, jadi, pandai-pandailah kau bersyukur karena barang siapa bersyukur atas nikmat Allah kepadanya, maka akan Allah tambahkan nikmat-Nya, tapi barang siapa tidak bersyukur, maka bersiaplah mendapat adzab Allah yang pedih. Maafkan aku karena begitu lancang menasihatimu yang jelas lebih tua dariku, tapi, aku ingin kau bisa menggapai mardhotillah.”
”Ternyata mimpi itu benar”, tukasnya.
”Mimpi apa?” tanyaku.
”Semalam aku bermimpi, aku membawa motor orang lain. Aku berniat mencurinya, ketika aku ingin membawa motor itu ke rumahku yang berada di arah selatan, cahaya yang sangat terang selalu membuatku silau dan membuatku tidak bisa melihat. Tapi, ketika aku berbalik arah, aku bisa melihat lagi dan motor itu bisa berjalan. Lalu aku membawa motor itu ke arah utara dan aku menemukan sebuah tempat yang sangat indah. Akhirnya aku terbangun. Saat aku mengantar pesanan tadipun aku berniat jahat, tetapi karena teringat mimpiku semalam, aku mengurungkan niatku. Akupun akhirnya mengerti arti dari mimpiku itu, terima kasih Abdullah.”
Aku tersenyum bahagia. Daun-daun bergoyang indah sesuai arah angin, beberapa dari mereka jatuh ke bumi dengan pelan menandakan kekuasaan Allah, bertepatan dengan daun-daun yang berjatuhan itu, seseorang datang lagi membawa sebungkus makanan,” makan siang.”
Aku pergi menuju musholla untuk sholat Dzuhur. Nasi bungkusku habis dengan cepat karena kumakan bersama bang Fulan. Setelah sholat, beberapa pesanan telah menunggu untuk diantar. Bang Fulan segera menyambar motor kami. Ia melaju dengan perlahan. Aku memandanginya hingga tidak kelihatan lagi.
”Bos, lapar nih.”
”Sabar jang, kita belum dapet korban hari ini.”
”Dari tadi bos, saya udah nunggu 5 jam, sejak kita nunggu di sini perasaan sepi banget ya? Mending kita mangkal tepat lain aja bos.”
”Ya sudah, ayo pergi.”
***
”Alhamdulillah, gimana bang, pesanannya udah dikasihin?.”
”Alhamdulillah lancar dul”, timpalnya,” oh ya, kamu itu sebenarnya tinggal di mana sih, dul, dari tadi kamu tidak mau memberitahu saya.”
”Bang, saya itu tidak punya tempat tinggal, saya berkelana dari satu daerah ke daerah lain untuk berdakwah. Syukur-syukur kalau di sana ada Masjid, saya akan tidur di sana. Tadi malam saja aku tidur di dekat sungai, karena di sana tak ada Masjid sih.”
”Kebetulan saya tahu letak sebuah masjid di dekat sini, nanti malam kau mau tidur di sana? Soalnya rumah saya kecil, dihuni 8 orang pula.”
”Ya sudah, nanti seusai kerja kita pergi ke sana ya bang?”
”Baiklah.”
”Bang, sebenarnya saya punya sebuah cita-cita besar, yang dari dulu ingin saya wujudkan.”
”Apa itu dul?”
”Saya ingin meninggal setelah memualafkan 20 orang.”
”Maksudnya mengajak orang lain masuk Islam begitu?”
”Ya, tapi, sampai sekarang belum satupun orang yang menerima ajakan saya.”
”Allah pasti membantu cita-cita muliamu itu dul, yang penting kau terus berjuang saja, ingatlah agama di sisi Allah hanya Islam, Allah pasti membantu orang yang ingin menegakkan agamanya.”
Kata-kata bang Fulan makin menguatkan tekadku. Tak lama kemudian, adzan Ashar berkumandang beriringan dengan kepakan sayap ratusan walangsangit di udara. Kami pergi ke mushala dengan langkah santai. Di jalan, bang Fulan bercerita,” nanti malam kau lebih baik tidur di masjid yang kuceritakan, karena kalau di musholla ini sepi, takutnya ada orang jahat, di masjid kan enak, ada marbot yang juga tinggal di sana, kau bisa minta izn ke dia.”
”Oh, begitu ya, nanti saya lakukan bang.”
”Tapi saya dengar sang marbot sedang pergi sampai ba`da Isya (sesudah sholat Isya). Jadi kita harus nunggu dulu.”
”Ngomong-ngomong abang tau dari mana bang?”
”Saya lihat sewaktu dia izin ke pak RT.”
”Ohh.”
Tak terasa kami telah sampai di mushola. Kami langsung berwudhu dan menunggu Iqamah, tak berapa lama, Iqamah dikumandangkan. Aku jadi ingat sejarah adanya Adzan dan Iqamah di zaman Rasulullah SAW, waktu itu Rasulullah dan para sahabat bingung dengan cara apa memanggil orang sholat. Ada yang mengusulkan dengan memakai lonceng, tetapi Rasulullah menjawab bahwa lonceng itu milik orang Nasrani, ada juga yang mengusulkan agar memakai terompet, tetapi Rasulullah menjawab bahwa terompet itu adalah milik orang Yahudi. Akhirnya ada salah seorang sahabat yang bermimpi bahwa ia mendengar seruan azan lalu ia terbangun. Ia pun menceritakan itu kepada Rasulullah dan Rasulullah SAW menerima usulnya. Akhirnya adzan dijadikan panggilan yang menandakan bahwa waktu sholat telah masuk. 
Seusai sholat, pemilik warung makan memberitahu kami bahwa warung akan tutup dan besok pegawainya yang sakit sudah bisa bekerja kembali. Ia mengucapkan terima kasih kepada kami dan memberi gaji kepadaku, akupun memberi uang itu kepada bang Fulan, ia bertanya kenapa aku memberinya semua gajiku? Aku memjawab dengan santai, ” saya sudah berjanji kepada abang untuk menggaji sebesar dua puluh ribu rupiah dan saya sudah memenuhi janji karena saya telah memberikan semua gaji saya kepada abang. Saya tidak ingin uang itu bang, yang penting saya bisa makan.” Bang Fulan akhirnya mengerti, kami berjalan beriringan menuju masjid yang diceritakan oleh bang Fulan. Masjid jami` Fathul Ghafur namanya. Dari namanya saja pasti itu masjid yang megah sekali. 
***
Aku berjalan melewati sebuah sungai yang jernih. Kulihat di sana banyak anak-anak sedang berenang ria. Di wajah mereka tampak kegembiraan yang tak terkira. Ekor mataku terus memperhatikan mereka sambil berjalan bersama bang Fulan.
”Sungai itu tempat yang enak dul, di sana hampir tidak ada arus air, jadi, aman kalau kau berenang di sana. Pun ibu-ibu di sana tidak ada mencuci di sungai itu, demi menjaga kejernihannya. Termasuk masyarakat di sekitar sini, mana ada yang berani mengotori sungai itu. Makanya aku dulu juga sering bermain ke sana, seru”, tukas bang Fulan tiba-tiba. 
Aku jadi teringat sebuah nama sungai di syurga, Al-kautsar namanya, ahh, tak bisa aku bayangkan bagaimana indahnya. 
Tak terasa, kami sampai di pekarangan Masjid. Beberapa pohon durian menjulang tinggi di sana. Tiba-tiba 3 orang preman mendekati kami. Mereka mengenakan pakaian seba hitam dengan muka yang brewokan. Kulihat sebuah pisau terselip di celana mereka masing-masing. Walau tampang mereka seperti anjing buldog yang ingin menyantap makanan dari majikannya, aku tidak gentar terhadap mereka. Para preman itu maju perlahan mendekati kami. Bang Fulan mengajakku kabur dari sana tetapi aku berkata bahwa aku ingin membersihkan rumah Allah dari semua kejahatan. Bang Fulan berkata padaku bahwa tak biasanya preman mangkal di masjid, mungkin mereka sudah bertaubat. Aku yang mendengar perkataan bang Fulan menyadari bahwa aku telah su`uzon ( berburuk sangka ). Aku mendekati mereka untuk menjabat tangannya. Tetapi baru beberapa langkah, aku dihantam satu bogem mentah yang tepat mengenai pipi kananku. Akupun roboh. Bang Fulan berusaha menyelamatkanku dai bogem berikutnya namun ia terkena pula di bagian perutnya. Aku berteriak,” Hasbunallah wa nikmal wakiil!! ( hanyalah Allah pelindung kami dan ialah sebaik-baik pelindung!! ).” 
Ketika salah seorang preman mendekatiku, aku bangkit dan membantu bang Fulan berdiri. Ia juga roboh sewaktu dihajar tadi. Tiba-tiba, salah satu preman jatuh tersungkup karena tertiban buah durian di bagian pundaknya. 
”Bos! Kau baik-baik saja?” 
Terdengar teriakkan daripreman yang lain. Namun, si ’bos’ tidak sadarkan diri juga. Aku dan bang Fulan melihat keheranan. 
”Jang! Ayo kita balas mereka!!” teriak preman lain. 
”Ayo nang!!” balas yang satunya.
Mereka serempak berlari ke arah kami sambil mengepalkan tangan di udara. Kami yang masih terduduk spontan saja kaget dan pasrah. Namun Allah berkehendak lain. Masing-masing dari mereka di hantam sebuah durian yang jatuh dari pohonnya. Tak ayal lagi, mereka tak sadarkan diri sama seperti bosnya. Kami menghela nafas lega.
*** 
”Dul, aneh ya, sekarang kan pohon durian itu belum panen, tapi kok ada buahnya ya?” ucap bang Fulan mengagetkanku. 
”Ini pertolongan dari Allah bang”, balasku pelan tapi tanpa keraguan. Begitulah Allah kalau sudah menolong makhluknya.
Bang Fulan izin pulang. Ia berkata bahwa ia tidak ingin terlambat pulang karena hari sudah hampir senja. Aku mengiyakan. Beberapa saat kemudian, para preman itu sadar.
”Ampun bang, saya insyaf, ampun, jangan siksa saya bang”, tukas si ’bos’ pelan.
”Iya bang, ampun, saya tidak tahu kalau abang orang sakti, ampun bang”, tukas yang lain.
Aku tersenyum.
”Bang, kami memang bersalah, tapi kami insyaf bang, tidak mau jadi preman lagi, kami mau jadi mu..murid abang, boleh kan?”
Senyumku makin mengembang. 
Aku berkata,” kalian janji?”
”Janji bang”, jawab mereka serempak.
”Sumpah”, kataku lagi.
”Sumpah”, jawab mereka.
Aku berkata kepada mereka bahwa yang tadi itu adalah pertolongan Allah SWT. Selidik punya selidik ternyata preman-preman itu adalah Atheis. Yaitu orang yang tidak punya Tuhan. 
”Bang, kami bersedia masuk agama abang”, tukas si ’bos’.
“Ya bang”, sambung yang lain.
”Alhamdulillah”, tukasku,” sekarang mari kita pergi ke tempat wudhu. Kalian bisa berjalan?”
”Masih tergopoh-gopoh bang.”
”Ya sudah, pelan pelan saja.”
Mereka berjalan tergopoh-gopoh mengikutiku. Di tempat wudhu, pelan-pelan aku mengajari mereka caranya berwudhu. Mereka mengikuti dan menyimak secara seksama setiap penjelasanku. Setelah berwudhu mereka bisa berjalan kembali dengan normal!!
”Bang, kami sudah pulih bang! Ajaib banget ajaran abang!” ucap mereka.
”Itu namanya wudhu. Gunanya untuk membersihkan tubuh kita dari kotoran dan najis sebelum kita melaksanakan sholat”, jelasku.
Aku membimbing mereka mengucapkan syahadat sebagai tanda keislaman mereka. Alhamdulillah, cita-citaku hampir tercapai. Setelah itu aku mengajari mereka sholat sebelum waktu maghrib. Beberapa saat kemudian kami sholat maghrib bersama para jama`ah lainnya karena waktu sudah masuk. 
***
Sesudah sholat, aku mengobrol dengan mereka. Ternyata si ’bos’ bernama Jaka, lalu Jajang dan Nanang. Sejak kecil mereka tidak punya orang tua. Mereka tinggal bersama seseorang yang mereka panggil om, om itu adalah seorang atheis, karena itu mereka menjadi atheis karena mengikuti kepercayaan sang om. Sekarang merka tidak tahu sama sekali keberadaan om mereka. Yang mereka tahu bahwa om mereka sudah sukses dan membuang mereka. Setelah agak lama berbincang-bincang, aku berniat mengajak mereka makan. Tapi aku tidak punya uang sama sekali. 
”Bang, mendingan kita makan buah durian yang jatuh tadi bang. Kita makan satu, lalu sisanya kita jual”, usul Nanang.
”Boleh tuh nang!” timpal Jaka. Memang sudah tidak ada lagi ketua di antara mereka. Mereka sudah tidak membedakan satu sama lain.
”Baiklah, mungkin buah itu rezeki Allah untuk kita”, ucapku.
Kami langsung mengambil buah itu. Aku sengaja menaruhnya di belakang pohon. Kami makan dengan lahap di teras masjid. Setelah makan kami mengambil air di keran tempat wudhu menggunakan botol minumku. Bergantian, kami minum air dengan membaca basmalah terlebih dahulu. 
”Sebentar lagi sudah Isya. Kalian besok mau ke mana?” tanyaku.
”Kalau saya mau ikut abang kemanapun”, tukas Jajang.
”Saya juga sama kayak Jajang”, timpal Nanang.
”Saya sama juga seperti mereka bang, ingin mengembara”, ucap Jaka.
”Kalau begitu, besok saya akan pergi ke pasar menjual buah durian ini, kalian tunggu saja di masjid. Setelah itu kita pergi membeli pakaian untuk kalian. Dan pakaian kalian yang lama dijual saja”, usulku.
”Ide yang bagus bang”, jawab Nanang,” saya sangat setuju, sekalian saya pengen cukur bang, sudah lama saya tidak cukur.”
”Setuju!” ucap yang lain.
Terdengar azan Isya dari dalam masjid. Kami yang sedang duduk-duduk langsung membereskan bekas makan kami dan berwudhu.
***
”Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, terdengar imam mengucapkan salam tanda berakhirnya sholat. Aku mengangkat tangan untuk berdo`a. Nanang, Jajang, dan Jaka mengikutiku mengangkat tangan.
Setelah semua orang pulang dan masjid kosong, aku berjalan keluar menuju teras masjid diikuti oleh Nanang, Jaka, dan Jajang. Kulihat seseorang masuk ke pekarangan. Pasti sang marbot. Kulihat di belakangnya ada orang mengikuti. Bang Fulan!! Mereka mulai medekat. Nanang, Jaka, dan Jajang kusuruh diam. Mereka berdiri di belakangku.
”Assalamualaikum”, ucap sang marbot.
”Waalaikumsalam”, jawabku. 
Marbot itu mengajakku duduk. Kami berbincang-bincang di teras yang agak luas itu. Beberapa larong terbang mengitari lampu bohlam yang terpasang kokoh di langit-langit. Ternyata nama marbot itu Rizal. Rizal Mantofani al-mimbar nama lengkapnya. Dan nama panjangnya adalah Rizaaaaaaal......................
Aku meminta izin kepadanya untuk tidur di masjid bersama Nanang, Jajang, dan Jaka. 
Sambil mengangguk-ngangguk, ia menjawab dengan senang,” oh, ya, boleh-boleh, nanti saya siapkan tempatnya, tadi saya juga diberitahu Fulan bahwa kalian akan datang.”
Aku menjawab,” ah, tidak usah repot-repot, kami hanya semalam di sini, besok pagi-pagi kami akan pergi.”
Bang Fulan hanya mendengar di pinggir teras. Ketika kami tengah berbincang, ia minta izin untuk pulang. Lalu, dengan langkah agak cepat ia berjalan keluar pekarangan. 
”Yah, sudah malam, ayo kita tidur”, ucap bang Rizal sembari berjalan masuk Masjid.
Aku mengiyakan sambil mengikutinya masuk masjid. Pun diikuti oleh Nanang, Jajang, dan Jaka. Dari tadi mereka diam saja. Aku mengatakan bahwa besok kita akan membuat perahu dan perjalanan akan ditempuh lewat sungai. Mereka mulai bersemangat. Aku tersenyum simpul sambil memperhatikan mereka, kita akan mencari om kalian, ucapku dalam hati. 
”Sebelum tidur lebih baik kita berwudhu dahulu”, tukas bang Rizal.
Kami hanya mengiyakan dan mengikutinya. 
”Bang, besok kita mau ke mana?” tanya Nanang sebelum kami tidur.
”Kita ikuti saja arus”, jawabku setengah berbisik.
Kamipun tidur beralas karpet masjid, setelah membaca do`a dan memejamkan mata. Malam itu hujan deras menyelimuti malam.
***
Menjelang shubuh aku membangunkan Nanang, Jajang, dan Jaka. Mereka langsung bangun dan berwudhu. Setelah sholat shubuh, aku membaca Qur`an di dekat mimbar.
”Bang, baca apa tuh bang, bagus banget”, tanya Jaka.
”Ini Al-Qur`an, kitab suci umat Islam, kita sebagai umat Islam harus bangga karena Al-Qur`an ini dari dulu sampai sekarang tidak ada yang diubah walau satu huruf, jadi, Al-Qur`an ini masih asli, nanti saya ajarkan cara membaca Al-Qur`an ini”, jawabku.
”Tolong ya bang”, timpalnya.
”Iya, sekarang saya mau pergi ke pasar dulu, mau menjual durian kita, lihat itu, matahari sudah mulai naik. Kalian lebih baik pergi ke sungai dulu dan mengumpulkan bambu atau dahan pisang, tapi ingat! Izin dulu ke yang punya.”
”Baik bang.”
Kami pamit kepada bang Rizal dan pergi ke tempat masing-masing. Tak lupa, aku membawa durian yang akan dijual. Berat sekali durian ini. Mungkin satunya 9 kilogram. Kalau dijual bisa berapa ya? Pikirku dalam hati. 
Aku berjalan sambil sesekali bertanya letak pasar kepada orang yang lewat. Tak beberapa lama kemudian aku sampai di pasar. Aku segera pergi menuju tukang buah.
”Pak, saya ingin menjual durian saya ini pak!” tukasku pada penjual buah.
”Wah, ini durian yang bagus, coba ditimbang dulu.”
Durian pertama beratnya 9,3 kilogram dan yang kedua 9,8 kilogram. Bapak itu mengatakan bahwa dari warnanya sudah bisa dipastikan bahwa durian itu rasanya manis. Bapak itu mengatakan akan membelinya sebesar dua ratus ribu rupiah. Aku berkata bahwa harga itu terlalu mahal, tetapi ia tetap bersikukuh bahwa harganya memang segitu. Aku pun mengalah. Jadilah aku bersama uang Rp 200.000,-
Sebelum ke sungai, aku mampir ke tempat yang menjual baju bekas. Aku membeli tiga baju seharga seratus ribu rupiah dengan 5 tambalan di baju-baju itu, yah, namanya juga bekas. Aku juga membeli beberapa tambang plastik seharga lima puluh ribu rupiah. Tak lupa aku membeli empat nasi bungkus untuk dimakan. Juga air putih yang dibungkus plastik sebanyak 9 buah. Setelah itu aku berjalan ke arah sungai.
Di tengah jalan, aku bertemu bang Fulan. Ia tampak lebih rapih dari hari kemarin.
”Dul, saya sekarang mau melamar kerja di suatu perusahaan jasa pengiriman barang, mudah-mudahan saya keterima dul”, ucapnya dengan mata berbinar.
”Amiiin”, balasku.
”Kau mau pergi ke mana lagi nanti dul?”
”Saya mau pergi menggunakan perahu lewat sungai yang kemarin. Saya dengar di sana berarus karena semalam hujan, jadi perahu bisa berjalan. Soal tujuan kita lihat saja nanti, arus akan membawaku ke mana.”
Setelah percakapan itu kami berpisah. Aku kembali melanjutkan perjalananku ke sungai. Aku melihat Nanang, Jaka, dan Jajang sedang berbicara dengan seorang bapak-bapak yang mengenakan topi caping.
Aku mendekat dan bertanya,” ada apa ini pak?”
Bapak itu menjawab sambil menunjuk ke Nanang, Jaka, Jajang,” adik ini teman mereka?”
”Iya, pak”, jawabku.
”Begini bang, kami menunggu abang untuk membeli batang-batang pisang dan bambu ini”, tukas Jaka.
”Oh, berapa harganya, pak?” tanyaku.
”Yah, dua puluh ribu cukuplah, dik”, timpal bapak itu.
Kamipun sepakat. Aku mengambil 10 batang pohon pisang plus 3 batang bambu yang panjangnya kira-kira 3 meter. Aku mengucapkan terima kasih kepada bapak itu dan segera mengintruksikan kepada Nanang agar menajamkan kedua ujung bambu. Begitu juga pada Jaka dan Jajang, mereka berdua bersamaku menyusun batang pisang. Rencananya kami membuat dua perahu dari batang pisang dan akan ditusuk batang bambu dan lalu disambung. Kami bahu membahu menusuk lima batang pisang yang disusun dengan ujung bambu yang runcing. Jaka bertugas memegangi batang pisang agar tidak bergeser. Aku, Jajang, dan Nanang mendorong batang bambu agar menusuk ke batang pisang. Begitu juga dilakukan pada lima batang sisanya dengan menggunakan ujung bambu yang satunya.
Tak beberapa lama, pekerjaan kami selesai. Kami mendorong perahu kami ke sungai dan menaikinya, aku satu perahu dengan Jaka. Perahu satunya dinaiki oleh Jajang dan Nanang. Di perjalanan kami sepakat menamai diri kami Ashabul Indonesia. Untung saja batang pisang ini tak bergetah karena sudah dibersihkan tadi. Kami bisa tiduran dengan santai sementara arus membawa kami entah ke mana.
***
”Jadi cukup untuk rapat hari ini, silahkan kembali bekerja.”
”Pak, paketnya langsung dikirim?” ucap seseorang dari luar.
”Lewat jalur alternatif saja, hemat bensin!” timpal pak direktur.
”Saya ada firasat aneh om”, tukas seorang remaja di sampingnya
”Ah, tidak perlu ambil pusing Sal, sekarang namamu adalah Adolf, bukan Salman lagi. Kita itu kan mitra, jadi, kau sudah bisa menerima kepercayaanku ini?”
”Ya, saya sudah tidak memikirkannya lagi.” 
”Bagus, bagus. mari kita berangkat, keluargaku sudah menunggu, mereka banyak lho.”
***
Aku menepikan perahu di pingir sungai. Ashabul Indonesiapun pergi menuju sebuah musholla dekat situ. Makanan kami sudah dimakan saat di perahu tadi. Tak luapa perahu diikat menggunakan tambang. Di kamar mandi musholla, Nanang, Jaka, dan Jajang ganti baju dengan baju yang baru kubeli.
Setelah itu kami sholat Dzuhur karena waktu sudah masuk. Aku berdo`a dengan khusyuk saat sholat agar cita-cita besarku tercapai.
Tak lama kemudian kami keluar majid. Nanang ditabrak oleh sebuah mobil bak terbuka. Meski tidak apa-apa, ia jatuh terduduk di jalan.
”Jang! Itu om! Jaka! Itu om kita!” teriak Nanang.
Seseoraang di dalam mobil berteriak,” minggir!!”
Aku melihat ke dalam mobil itu. Salman!! Ia ada di dalam. Tiba-tiba Salman keluar dengan seseorang yang disebut om oleh Nanang. Aku, Jaka, dan Jajang mendekat untuk menolong Nanang yang terduduk.
“Pasukan!! Angkut saja mereka!!” teriak om itu.
Tiba-tiba turun 5 orang bertubuh kekar dari bak mobil. Di mobil itu kira-kira ada 10 orang. Ketika kami ingin diseret ke mobil, aku berteriak keras,” Hasbunallah wa nikmal wakiil!!!!” 
Mendadak 5 orang itu lumpuh, pula terjadi pada Salman, Om, dan orang-orang di mobil. Aku bertanya kepada Nanang apa benar ini om yang kamu kenal. Ia mengatakan bahwa ini om yang dulu mengajarkannya kepercayaan Atheis. 
Om itu merintih dan berkata dalam keadaan memejamkan mata,” tolooooong!!! Tolong kami, kami taubat!!!!”
Pun terjadi pada Salman, 5 orang kekar itu dan semua orang di mobil. Aku mengatakan pada mereka apa mereka mau mengaku Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad SAW sebagai Rasulnya, serta menjalankan segala syari`at Islam dengan sungguh-sungguh?
Lalu tiba-tiba mereka bangkit menuju tempat wudhu, berwudhu tanpa intruksi dan kembali ke jalan lalu mengatakan dengan lantang,” Ashaduallaaailaahaillallah, wa ashadu anna muhammadarrasulullah.”
Resmilah mereka menjadi orang Islam. Aku langsung terjatuh, pandanganku gelap, hingga ruh telah mencapai tenggorokan. Aku berharap mereka bisa menjadi muslim yang baik. Akhirnya cita-citaku tercapai, walau semakin lama hanya ada gelap, gelap, dan gelap...............
Azam Rofiullah, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar