Kamis, 31 Desember 2015

#Puisi Di Ujung Jeruji


Di ujung jeruji,
Malam ini,

Malam tahun baru,
Pria itu menangis,
Mengingat begitu banyak orang yang dibikinnya marah tahun ini,
Marah karena kejahatannya ia bongkar,

Malam tahun baru,
Pria itu menangis,
Mengingat begitu banyak orang yang dibikinnya kecewa tahun ini,
Kecewa karena suapnya tak ia terima

Malam tahun baru,
Pria itu menangis,
Mengingat begitu banyak orang yang dibikinnya sengsara tahun ini,
Sengsara karena perintah licik bosnya tak bisa ia lakukan dengan baik

Di ujung jeruji,
Malam ini,

Malam tahun baru,
Orang-orang meledakkan petasan,
Ia meledakkan tangisnya,
Takut-takut tak adil saat kemarin ia memimpin,

Malam tahun baru,
Orang-orang bepergian bersama keluarga,
Ia bepergian bersama pikirannya,
Merenungi sikapnya saat dahulu memimpin,

Di ujung jeruji,
Malam ini,

Pria itu hanya bisa memaafkan,
Orang-orang yang dahulu melengserkannya secara paksa,
Meski ia telah berusaha berbuat baik,
Tak semua kebaikan orang bisa terima,

Malam tahun baru,
Di ujung jeruji itu.


#Cerpen Piknik


Waktu membaca: 6-8 menit
“Lucy, hurry up, sweetie!”
Mom berteriak dari ruang tengah, menyuruhku untuk segera turun.
“I’m comiiing!” Ujarku yang sebenarnya masih memasukkan topi ke dalam tas besar berwarna biru pemberian Josh saat Thanksgiving tahun lalu. Semenjak saat itu, aku selalu memakai tas tersebut bila ada acara piknik atau kegiatan outdoor lain. Entah mengapa tapi aku menyukai design simpelnya. Josh memang paling tahu seleraku.
 Sekitar dua menit kemudian, aku turun. Mom sudah berdiri di depan pintu. Semua anggota keluarga tampaknya sudah siap di dalam mobil, hanya tinggal menungguku. Aku pun mempercepat langkah dan segera menuju mobil.
“Kau tahu, lain kali kau harus lebih cepat.” Mama berkata saat aku melewatinya di depan pintu.
“Okay, Mom.” Jawabku sepintas.

Rabu, 30 Desember 2015

#Cerpen Buku Kemaluan


Waktu membaca: 6-8 menit
Semua anggota tim memilih Egi. Ia pun bersiap mengahadapi konsekuensinya. Bila semua sudah disepakati, maka ialah yang akan memimpin tim ini.
“Baiklah… apa semua sudah sepakat?” Tanya Riko, sang penengah rapat.
“Sepakaaaat!” ujar semua anggota tim serentak.
Okey, that is it.
“Kalau begitu, semua tugas saya serahkan ke Egi. Jadi tolong, berkerjalah yang kompak sehingga kita bisa berhasil!” pungkas Riko sebelum rapat ditutup.
“Baiklah, mari kita tutup rapat ini dengan membaca doa bersama,” ujar Gilang, sang MC.
Semua pun berdoa dengan khusyuk.
“Aamiin, wassalaamualaikum warhatullahi wabarakatuh…”

#Serial Sang Badai Eps 3

Waktu membaca: 5-7 menit
Sembilan tahun yang lalu.
Semua berkumpul. Ada sebuah agenda besar yang akan dibahas. Tampak beberapa sosok penting seperti Mauna Loa—gunung api terbesar di Hawaii, Kilimanjaro—gunung api tertinggi di dunia, juga Mariana—palung terdalam di dunia. Mereka menunggu sang pemimpin yang akan segera datang.
Tak lama, muncul sebuah sosok dengan burung kakaktua di pundaknya.
“Salam, kawan-kawan.”
“Selamat datang, bos.”
Mariana tampak gelisah. Ia sepertinya tidak ingin ikut ambil bagian dalam rencana ini. Namun, apa boleh buat. Ia terpaksa.
“Bagaimana rencana kita untuk membuka Pandora?”
Suara Ernest yang berat membuat suasana menjadi sangat serius.

Selasa, 29 Desember 2015

#Cerpen Matematimil


Waktu membaca: 4-6 menit
Jadi seorang pelajar di Indonesia, adalah salah satu tantangan terberat di dunia.
Itu kata seorang pakar dari Kutub Utara yang aku lupa namanya. Kacau, dia bilang. Kau akan dipaksa untuk mempelajari banyak hal yang bahkan tidak dijelaskan tujuannya apa. Kami dijajah oleh kurikulum lucah berisi 19 mata pelajaran. Mereka tidak pernah memfokuskan satu atau dua saja keahlian kami untuk dikembangkan. Tidak seperti negara maju yang ingin kami senang dalam belajar. Mereka memaksa kami agar tahu semuanya. Mengesalkan.
Apalagi, dengan penjelasan garing dari pengajar yang tidak ikhlas memberi ilmu. Aku tidak akan memanggil mereka ‘guru’. Karena setahuku, guru itu mendidik. Baik di kelas, maupun di luar kelas. Sementara mereka hanya menjelaskan pelajaran di dalam kelas dan mengambil gaji atas 45 menit kehadiran mereka untuk membuat otak kami meledak.
Oh, silahkan hujat aku. Bilang saja aku anak yang tidak bersyukur atau apapun. Namun itulah yang sejujurnya kurasakan selama menjadi pelajar hingga kini.
Aku tidak pernah berniat sekolah. Yeah. Setidaknya sampai 2 minggu yang lalu.
Ceritanya begini...

Senin, 28 Desember 2015

#Cerpen Kamu Ganteng


Waktu membaca: 8-10 menit
Aku gak pernah dibilang ganteng! Serius! Entah kenapa semua begitu saja terjadi padaku. Aku yang dengan muka seperti ini, hanya bisa mendapat ejekan, baik dari kaum adam maupun hawa.
Aku seperti terlahir untuk menjadi bahan ejekan. Mentang-mentang wajahku jelek begini. Dasar, orang memang susah sekali untuk menilai orang lain selain dari tampilan fisiknya.
Oh ya, namaku Kevin. Aku lahir dari sebuah keluarga yang biasa-biasa saja genap 16 tahun yang lalu. Namun saat aku lahir, ayah meninggal dunia. Aku hanya tinggal bersama ibu untuk menjalani masa-masa kecilku. Beliaulah yang mengajariku bagaimana untuk hidup. Beliau yang penyayang, dan juga baik hati.

#Puisi Abang Lelah


Di Pedestrian kota abang mengadu nasib,
Agar kelak lidah adek bisa icip-icip,
Makan masakan Negara salib,
Eropa yang penuh kerlip,

Abang hanya pedagang kecil, dek,
Menafkahimu saja abang kepayahan,
Kamu sabar itu sudaah cukup buat abang,
Lalu kita bahgia sampai mati perlahan,

Abang lelah, dek,
Kamu minta ini minta itu,
Bukan dunia yang bisa abang kasih, dek,
Hanya selalu mengingatkanmu tuk solat 5 waktu,

Abang lelah, dek,
Permintaanmu tak ada habisnya,
Kalo mau kaya, babi di hutan juga kaya, dek,
Tapi kita harus jadi yang berkah hidupnya,

Sekali-kali abang penuhi permintaanmu,
Seperti makan masakan eropa itu,
Supaya kita tidak lupa juga rasanya bahagia,
Karena tak mungkin juga hidup sengsara semua,

Abang sayang adek,

Tapi abang lelah, dek.

--untuk para wanita yang tak henti-henti mengejar dunia, abang sudah lelah--

Minggu, 27 Desember 2015

#Cerpen Senja-Epilog Hari Itu


Waktu membaca: 7-9 menit
“Dalam kalender Islam, sebuah hari dimulai setelah malam tiba. Atau lebih tepatnya lagi, ketika waktu maghrib tiba. Itulah permulaan hari. Karena dalam kalender Islam, perhitungan didasarkan oleh pergerakan bulan. Maka semua dimulai pada?”
“Malam hari, bu!” Jawab para murid serentak.
“Bagus, ibu pikir kalian sudah paham. Maka, cukup sekian pelajaran hari ini. Jangan lupa PR yang ibu berikan yaitu membuat kalender tahun 1433 H. Kalian cukup menyalinnya dari kalender lain, atau mencarinya di internet. Terserah kalian!” Bu Juwariyah menutup kelas,” Wassalamualaikum warhmatullahi wabarakatuh.”

#Serial Murder Eps. 1

Santi adalah seorang penjahat kelas berat yang telah diakui oleh dunia. Di usianya yang masih sangat muda, ia telah mencapai kebebasan finansial dengan mempunyai Perusahaan pembuat ganja sintetis yang laku keras.
Ia pun bercita-cita ingin menjadi penjahat nomer 1 di dunia.
Meski begitu, kekuasaan dan harta yang banyak tidak serta-merta membuatnya aman. Bahaya demi bahaya terus mengancam hidupnya. Ia pun terlibat dalam sebuah tes bernama "Murder" yang membuatnya harus berjudi dengan maut.
Akankah ia berhasil melewati tes tersebut?

Sabtu, 26 Desember 2015

#Puisi Yha


Koreksi aku kalau salah,

Aku salah.

Benar atau salah?

Benar ya?

Oke, aku salah.

#Cerpen Untitled


Waktu membaca: 6-8 menit

Sebuah cercah cahaya melesat cepat ke atas. Melambung jauh melewati batas langit. Ke 1, 2, 3, semua penduduk langit dapat mencium harum wanginya. Merebak di seluruh penjuru langit. Hingga sampai cahaya yang tak lain adalah ruh itu pergi ke tempat di mana seluruh ruh dikumpulkan. Ke tempat yang hanya diketahui oleh-Nya.
“Wangi apakah tadi?” Pertanyaan itu serempak keluar dari benak hampir seluruh penduduk langit. Aku hanya tersenyum. Sebagai pencatat amal ruh itu, aku tahu semua yang dilakukannya sehingga Allah benar-benar ridho padanya. Aku tahu semua penderitaannya, dan apa yang ia korbankan. Pengorbanannya seperti Mushab bin Umair, Imannya sekuat Nabi Yusuf,  kesabarannya hampir menyamai Nabi Ayub, dan ketegarannya mirip Nabi Ibrahim. Dan untuk kalian, marilah kuceritakan kisahnya.

Jumat, 25 Desember 2015

#Cerpen Home Alone Indonesia

Waktu membaca: 7-9 menit
“Jaga dirimu baik-baik, sayang,” ibu mencium pipiku,” ibu akan segera kembali.”
“Iya bu,” jawabku.
“Oh iya, kalau perlu apa-apa, bilang saja ke bu Desi ya!” ibu mengingatkan kembali. Bu Desi adalah tetangga kami. Ia juga adalah teman dekat ibu.
“Iya..iya, aku sudah ingat bu,” kataku lagi.
“Baiklah, dadah sayaaang…” ia melambai ke arahku sambil berjalan.
“Dadah ibuuu…” aku ikutan melambai ke arahnya.

Kamis, 24 Desember 2015

#Puisi Bersegeralah Mencintainya


Teruntuk kawan--handai taulan di manapun kau bertebaran,

Bersegeralah mencintainya,
Lupa kalian akan perjuangannya?
Tetes darahnya?
Peluh keringatnya?

Ia adalah Nabimu,
Panutanmu,
Idolamu,
Orang yang ikhlas mencintaimu, ummatnya.

Bersegeralah mencintainya,
Lupa kalian akan kasih sayangnya?
Pekerti agungnya?
Welas asihnya?

Ia adalah Nabimu,
Muhammadmu,
Pemimpinmu,
Orang yang pasang badan untuk agamamu, risalahnya.

Bersegeralah mencintainya,

Bersegeralah tuk terus mencintainya.

---Bukan kebenaran empiris saja yang membuat seseorang bisa percaya, namun keagungan akhlak beliau, kemurnian risalahnya, juga adalah alasan mengapa agama yang beliau bawa merupakan kebenaran--kabar dari seorang yang jujur nian---

#Cerpen Datang Lebih Cepat Daripada ...

Waktu membaca: 7-9 menit
—Aku ingin bercerita, kawan. Simaklah—
Saat masih SD, guru kita sering bertanya. Apa cita-cita kalian?”
Mayoritas akan menjawab,
“Dokter bu!”
“Guru!”
“Arsitek!”
“Pengusaha!”
Dan lain sebagainya.

Rabu, 23 Desember 2015

#Cerpen Unguessable

Waktu membaca: 6-8 menit
Pak Freddy baru saja meninggal. Ia ditemukan tak bernyawa di tempat tidurnya. Perkiraan terbesar sih, dia meninggal karena serangan jantung. Begitu mengetahui kabar tersebut, para tetangga langsung berduyun-duyun melayat.
Pak Freddy semasa hidupnya tidak pernah menikah. Ia hidup membujang di usianya yang relatif pendek. 48 tahun. Aku adalah tetangga sebelah rumahnya. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di samping rumah sederhana milikku. Selain aku, Fina juga adalah tetangganya. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di samping rumah sederhana tempat pak Freddy tinggal. Rumah sederhana kami berderet tiga di sini. Kami menyebunya tris atau trio sederhana. Oke, cukup membicarakan tentang rumah sederhana.

#Serial Sang Badai Eps. 2

Waktu membaca: 6-8 menit
Orang-orang ramai mengerubungi tubuh itu. Tubuh yang 20 menit sebelumnya jatuh bebas dari langit. Tanpa pengaman, tanpa apa-apa.
Satu hal lain yang janggal, adalah bahwa tubuh tersebut tidak rusak sama sekali meski jatuh dari ketinggian puluhan kilometer. Mereka yang ada di sana langsung berspekulasi aneh-aneh.
“Ini malaikat...”
“Penyihir...”
“Pasti dia salah satu Avengers...”
Hingga sekitar 15 menit kemudian, polisi beserta tim medis datang untuk mengambilnya.

Selasa, 22 Desember 2015

#Cerpen Cerpen Keempat

Waktu membaca: 4-6 menit
“Ri, pokoknya lu jangan baca cerpen keempat di buku ini!” Ujar Gani mengingatkan temannya sambil memberi sang sohib sebuah buku yang agak tebal.
“Emangnya kenapa Gan? Masalah buat lo?” Ari menimpali seraya melihat buku kumpulan cerpen yang baru diberikan kepadanya.
“Bukan masalah di guenya, tapi masalah buat diri lo sendiri! Soalnya cerpen keempat tuh…” suara Gani terpotong.
“…Ada kutukannya.”
Ari memutar bola matanya sejenak, sebelum tertawa terbahak-bahak.

Senin, 21 Desember 2015

#Puisi Namamu Dalam Do'aku

Oh, namamu...

Aku memang menyebut namamu dalam do'aku,
Namun bersama perempuan lain juga,
Ada ibuku,
Nenekku,
Dan saudariku,
Mereka semua perempuan yang berarti dalam hidupku,

Aku memang menyebut namamu dalam do'aku,
Namun hanya di bagian terakhir,
Setelah zikir, dan do'a lain,
Karena kau tahu,
yang penting itu harus diawal,
Namun yang paling berharga selalu disimpan di akhir...

Aku memang menyebut namamu dalam do'aku,
Namun hanya sebentar,
Karena aku ingin cepat-cepat selesai,
Lalu bekerja demi menggapai semua permintaan itu,

Aku memang menyebut namamu dalam do'aku,
Namun bukan agar kita dibersamakan,
Aku ingin kau bahagia,
Entah bersamaku, atau orang lain dalam impianmu,

Aku memang menyebut namamu dalam do'aku...

Aku memang selalu menyebut namamu dalam do'aku...

--kebahagiaan itu ada dua: pribadi, dan orang lain. Kebahagiaan yang pertama hanyalah sementara, karena diri kita tidak pernah puas. Namun kebahagiaan yang kedua, saat kita bedoa dengan tulus untuknya, berjuang dengan segenap hati untuknya, meski di akhir tak bersama, bahagia itu akan tetap selalu ada--

#Cerpen Without Me

Waktu membaca:10-12 menit
Selasa siang, tanggal 07 Februari 2012
Aku riskan. Menatap seorang perempuan muda yang tengah berjalan santai di trotoar di depanku. Muda? Ya, dia memang masih kelas 2 SMA. Masih 17 tahun. Rambutnya mengilap disinari matahari. Hitam. Namun kalau kawan cermat, kita bisa melihat sebuah keganjilan dari icon keanggunan wanita tersebut. Tadi pagi, perempuan itu salah memakai shampo. Rambutnya malah dipakaikan dettol.
Namun Perempuan itu tak mau ambil pusing.

Minggu, 20 Desember 2015

#Cerpen Ratih

Waktu membaca: 7-9 menit
Wajahnya oriental, dengan mata yang bulat dan hidung yang cukup mancung. Alisnya juga lurus dan tebal, lumayan sinkron lah dengan besarnya kelopak mata. Pipinya lesung sedikit. Bibirnya pun tidak terlalu kecil dan tidak terlalu dower juga. Secara singkat, wajahnya lumayan.
Aku mengenalnya sudah lama. Dari taman kanak-kanak hingga sekarang semester 5 kuliah. Sudah sekian tahun lamanya. Aku juga mengenalnya dengan sangat baik. Bahkan lebih baik dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Dia adalah teman mainku sewaktu masih kecil. Teman SD, SMP, dan SMA. Kami selalu sekelas hingga  kelas 1 SMA, sampai akhirnya penjurusan di sekolah memisahkan kelas kami. Aku mengambil jurusan IPA, dia mengambil jurusan bahasa.

Sabtu, 19 Desember 2015

#Puisi Asa

Menanggapimu yang terluka,
Aku hanya tersenyum dusta,
Menyembunyikan bahagia,
Atas kau yang hilang asa,

Kata orang kau akan sedih bila melihat,
Temanmu gagal,
Namun ternyata kau akan lebih sedih,
Bila temanmu berhasil,

Aku hanya bisa menanggapi,
Asa itu omong kosong,

Psikologi manusia tak bisa berbohong,
Kalau kau bekerja demi sebuah cita-cita,
Kalau kau berbuat demi sebuah asa,
Saat itu pula kau berlaku dusta,

Berjuang ya berjuang saja,
Tak usah banyak harap,
Tak usah banyak asa,
Karena yang ada nanti hanya kecewa,

--impian, cita-cita, dan asa bukanlah sebuah patokan untukmu berjuang. Namun, beranilah melakukan sesuatu tanpa ingin berhasil ini-itu. Fokuslah pada "perjuangan" nya, bukan hasil yang ingin kau raih kelak--

#Cerpen E

Waktu membaca: 6-8 menit
Enci galau. Besok ia harus mengumpulkan tugas matematikanya, namun tak ada satupun soal yang ia mengerti. Baginya, metematika adalah pelajaran yang membosankan, dan ia tak pernah serius tatkala belajar pelajaran itu. Makanya ia tak mengerti satu soalpun.
Sebenarnya sih, ia fine-fine saja apabila tidak mengerjakan tugas, toh teman-temannya yang lain juga tidak mengerti. Bila ada tugas matematika dari pak guru, paling banter hanya 3 sampai 4 anak yang mengerjakan tugas. Yang lainnya? Pak guru maklum.

Jumat, 18 Desember 2015

#Cerpen Lampu Disko

Waktu membaca: 7-9 menit
Malam ini malam Rabu, malam yang cukup terang menurutku. Bulan bersinar cerah, langit bersinar cerah, bintang bermunculan walau hanya satu dua. Maklum sih, pusat kota. Terlalu banyak polusi cahaya yang membuat mereka—para bintang—selalu bersembunyi pada malam hari. Tak hanya itu, bahkan polusi cahaya kadang membuat langit menjadi tidak hitam cerah seperti biasa pada malam hari, namun terlihat keruh. Hitam yang tidak meng-enak-an untuk ukuran warna langit malam.
Ah! Begitulah. Bisa berbuat apa aku ini? Hanya diam saja.

Kamis, 17 Desember 2015

#Puisi Inem

Sapu lantai dengan benar, Inem
Bersihkan meja makan, Inem
Rapihkan tempat tidur, Inem
Sikat kamar mandi, Inem

Hingga yang disahut mengerjakan
Hingga sunggingnya sebuah senyuman
Melaksanakan suruhan tanpa beban
Ikhlas yang penting anak makan

Lalu pulanglah Inem ke gubuk yang ia sebut rumah
Menyambutnya sang anak dengan senyum merekah
Melihat sang ibu kembali dengan tangan penuh rupiah
Hasil sebulan penuh keringat diperah

Lalu sang majikan menunggu dengan resah
Tatkala suami tak kunjung pulang ke rumah
Bukan, ia pasti selamat sumringah
Namun di lemari bajunya ada foto perempuan bergaun merah

Dan begitu bertemu langsunglah mereka bergelut
Waktu sang suami pulang setelah larut
Sang istri bertanya perihal perempuan itu dengan kalang kabut
Mencerca suaminya dengan kata-kata maut

"Dia bukan siapa-siapa, sayang..."

"Pokoknya aku minta cerai!!"

"Mamah dan Papah kenapa, kak? Aku takut..."

"Ndak apa-apa dik, sudah sana tidur..."

Sedang jauh di gubuk sana Inem sedang berbahagia
Makan dengan lahap bersama anaknya
Tidur di dipan berselimut berdua
Bersiap untuk hari esok yang sudah di depan mata

--jangan pernah menilai kebahagiaan dari harta atau kedudukan yang kita punya, karena nun jauh di sana, banyak orang bahagia yang tidak punya apa-apa, namun mereka saling memiliki--

#Cerpen Keras Kepala

Waktu membaca: 7-9 menit

Deny menaiki eskalator secara perlahan. Barang bawaannya begitu berat sehingga terkadang—di beberapa bagian—agak menyulitkan. Siang itu, bandara terlihat ramai. Ratusan orang hilir mudik di sana. Dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas. Dari dalam keluar. Dan dari luar ke dalam. Beberapa penerbangan domestik tampak sibuk dengan para penumpang. Semenjak adanya tarif penerbangan murah, mereka jadi kebanjiran penumpang. Jadi terkadang, kalau mau beli tiket, bahkan harus menunggu hingga satu tahun, karena tiket sudah dibooking semua. Ah, memang payah.

“Permisi, Deny ya?” tanya seorang perempuan muda yang tak dikenalinya.

Rabu, 16 Desember 2015

#Serial Sang Badai Eps.1

Waktu membaca: 8-10 menit

Jakarta malam hari, 23 November.

Ernest menerawang. Mengangguk-anggukan kepalanya sebagaimana orang-orang yang menikmati musik. Di bahu pria tersebut bertengger seekor burung kecil, entahlah, mungkin semacam burung pipit. Burung berwarna putih itu diam saja, seakan hanya sebuah hiasan mati yang ditempelkan. Padahal, ia hidup. Tentu saja, mana ada hewan peliharaan yang mati?

#Cerpen Apa Artinya Merah, Biru, Netral

Waktu membaca: 8-10 menit

Gesa memandangi kampus itu dengan tatapan haru. Tempatnya belajar dengan giat selama 6 tahun, berjuang untuk menggapai gelar sarjana yang telah lama ia cita-citakan. Ya, sekarang ia sudah wisuda. Mendapatkan semua yang diinginkannya sejak sekolah menengah pertama dulu.

“Hai bu dokter!” Yuli, teman kost-annya menyeringai lebar. Sama-sama senang.

Senin, 14 Desember 2015

#Cerpen Lampion

Waktu membaca: 8-10 menit
Dzaata Yaumin... (blablabla)
Namanya Lampion. Hanya Lampion—unik. Aku baru saja mengenalnya beberapa menit yang lalu. Saat pelajaran pertama dimulai tepatnya. Lampion masuk ke kelas, diperkenalkan oleh Bu Iya, wali kelas kami sebagai anak baru pindahan dari SMA Batu Karang. Entah SMA apa, entah dari kota apa.
“Perkenalkan, namaku Lampion,” ia berujar seraya membalut bibirnya dengan senyuman.

#Cerpen Dan Langit pun Iri

<!--[if gte mso 9]> acer V5 Normal Azam 2 1010 2015-12-14T15:05:00Z 2015-12-14T15:05:00Z 9 2277 12984 108 30 15231 14.00 <![endif]
Dan Langit pun Iri
            Jakarta, 15 September 2019
            Langit membentang biru. Suasana Ibukota nampak seperti biasa. Jalanan utama yang dilindasi jutaan kendaraan, trotoar yang dilindasi jutaan kendaraan yang tidak kebagian tempat di jalanan utama, dan jalan-jalan kecil yang dilindasi jutaan kendaraan lain yang mencoba tidak melindasi opsi pertama dan kedua.
            Kalan memperhatikan semua itu.
            Fenomena-fenomena sosial; tikus-tikus jalanan, tikus-tikus kantor, tikus-tikus parlemen, bahkan tikus-tikus tempat ibadah. Sepertinnya seluruh kota ini memang sudah dipenuhi oleh tikus.
            Kalan menepuk-nepuk pipi dan kembali fokus pada pekerjaannya. Setiap hari ia mengamati Kota ini sambil mengendarai semi-bus tempatnya mengantungkan nasib. Dan beberapa kali ia harus mengembalikan partikel kesadarannya karena larut dalam lamunan. Kalan menjalankan kuda besi itu sedikit ke depan. Metromini merah yang ia kendarai meraung pasrah karena dipaksa berjalan di usia senja. Jalanan di depannya macet. Mau tak mau pemuda itu pun mengantri laju.
            Tiba-tiba, ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
“Bang, mau coklat gak?” seorang pemuda, berusia sekitar 20 tahunan, menawarkannya sebungkus coklat. Coklat yang sudah sangat familier di Indonesia. Namun karena masalah aturan komersil, merknya tidak akan disebutkan di sini. Inisialnya saja; Silver Queen.
Kalan memandang heran. Agak canggung, namun akhirnya menerima Silver Queen tersebut.
“Terima kasih,” Kalan tersenyum.
“Sama-sama bang, bagi-bagi rejeki lah. Saya punya banyak di rumah,” pemuda itu menyambung topik,” dulu saya punya tokonya malah.”
Ia juga memperluasnya.
Kalan tidak menjawab karena kemacetan di depan sudah mulai terurai. Ia segera mengganti gigi dan menaikkan laju.
***
Esok hari.
“Bang, mau coklat lagi gak?”
Kalan menengok ke belakang. Pemuda itu lagi.
Lu lagi kurang kerjaan ya?” Kalan menjawab sinis.
“Tahu aja bang. Hahaha,” pemuda itu malah tertawa,” saya kalau gak ada kerjaan suka ngasih hadiah ke orang lain. Lumayan, bikin seneng orang kan dapet pahala bang.”
Kalan terdiam. Pemuda ini bisa bermain kata-kata pula rupanya.
“Kalau begitu kenapa gak semua orang di sini yang lu kasih coklat?”
Pemuda itu tersenyum,” kan tuan rumah di sini abang. Jadi saya lebih mementingkan abang lah.”
Boleh juga argumennya, Kalan berkomentar kecil.
Gua Kalan, perkenalkan.”
Pemuda itu sumringah,” saya Aslan bang. Semoga perkenalan ini diridhoi Allah.”
            Kalan mengangkat satu alis. Namun ia hanya diam menanggapinya.
***
            Malam itu Kalan merenung. Umurnya 26 tahun. Tubuh tinggi, kekar, dan berwibawa. Berotak cemerlang, hidup sebatang kara dari kecil, sampai ia mendapat beasiswa saat lulus SMA. Kuliah University of Sydney; lulus 4 tahun yang lalu. Setelah itu ia memutuskan untuk mengembara ke seluruh dunia.
            Sudah ratusan tempat di dunia ini ia sambangi. Mulai dari Sukhbataar Square di Mongol, sampai ke pemerahan sapi di New Zealand. Paragliding di atas Great Barrier Rief, main petasan di air terjun Iguacu, sampai menyaksikan tornado di USA.
Namun yang paling ia ingat adalah kenangannya bulan lalu. Saat ia menaiki sampan di atas danau Great Stave, Kanada. Saat itu, ia merenungi semua yang telah ia lakukan. Di atas danau sedalam 614 meter tersebut, pikiran Kalan mulai terbuka. Walaupun hidupnya bebas, penuh ketegangan, petualangan yang adrenalin-needed, dan juga pengalaman hebat, ia merasa masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ada yang harus ia lengkapi, namun ia tidak tahu apa. Serentak semua yang ia lakukan terasa hanyalah omong kosong. Pengembaraannya selama 4 tahun, mengelilingi dunia, menguasai 9 bahasa, semua euphorianya musnah.
Satu hal yang akhirnya ia sadari saat itu.
Ia kehilangan tujuan sejatinya.
Maka, ia pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan menemukan hal tersebut dahulu. Pilihannya pun tertuju pada kampung halaman tercinta, dan pada profesi paling aneh yang bisa ia bayangkan.
Supir metromini.
***
“Aslan!” Kalan memanggil seorang pemuda yang tengah duduk di warung kopi terminal. Kebetulan sekali mereka bertemu lagi di sini.
“Oi! Bang Kalan. Apa kabar, bang?” balasnya.
Gua biasa aja. Supir metromini mah cuma gini-gini aja kali,” Kalan menjawab.
“Hahaha, abang nih, coba lebih optimis lah bang! Buat sesuatu aja. Kayak origami gitu. Daripada jadi supir metro doang gak ada skill yang diasah,” Aslan berujar antusias, memamerkan sederet gigi cemerlang.
“Ah, bisa saja kau! Tapi bolehlah nanti dicoba. Eh, mau main catur?” Kalan menawarkan.
“Wah! Boleh tuh bang! Biar saya bisa unjuk kebolehan juga,” Aslan berkata.
Kalan pun mengeluarkan papan catur dari dalam warung. Mereka duduk berhadap-hadapan, bersiap tempur. Namun...
Wah, masa raja putih hilang, Slan!”
Mereka mencari-cari, namun tetap saja tidak ketemu.
“Waduh, yaudah deh, bentar bang,” Aslan mengambil secarik origami dari dalam tasnya. Melipat-lipat kertas tersebut dengan rumit, sampai menjadi bentuk tiruan dari sang Raja yang hilang.
“Keren juga lu, Slan!” Kalan memuji.
“Kata Einstein bang; Logika bisa membawa kita dari A ke B,” Aslan menggerakkan satu bidak catur,” tapi imajinasi,” ia menunjuk kepalanya.
“Bisa membawa kita ke mana aja.”
Kalan tersenyum. Pemuda di depannya ini memang menarik.
***
Keduanya main catur 2 kali. Pertama Kalan kalah, dan yang kedua Aslan menang. Hubungan mereka dengan cepat berkembang. Keduanya pun mengobrol banyak hal. Dan Kalan bisa menangkap butir-butir kebijaksanaan dari kata-kata sang pemuda.
“Hidup lu buat apa, Slan?” Tanya Kalan.
Aslan tersenyum,” Buat Tuhan saya bang. Buat agama saya.”
Kalan tersenyum sinis,” Banyak yang bilang gitu, tapi...” ia sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Mungkin abang harus ikut ke tempat saya,” Pungkas sang pemuda.
***
Kalan menyanggupi undangan tersebut. Sewaktu hari Ahad, ia bertemu dengan Aslan di Pasar Rebo untuk mengunjungi tempat sang pemuda. Kampung Pondok Petir namanya. Kesannya angker dan aneh.
Setelah sampai, Kalan mendapati kampung tersebut sangatlah ramai. Warga sedang bergotong-royong membersihkan lingkungan rupanya. Mereka semua ramah menyapa Aslan. Pun dengan Kalan yang berjalan bersamanya. Suasana sangat erat sekali. Semua saling memberi makanan, melempar senyum, berjabat-peluk hangat sesama tetangga, dan saling mengucapkan do’a satu sama lain.
“Kak Aslan, kak Aslan!” tiba-tiba seorang anak perempuan menghampirinya dengan ceria. Anak tersebut memegang sebuah kayu di tangan kanannya. Aslan balas tersenyum gembira,” ada apa, Nisrin?”
“Gigi aku udah putih belum?” Tanya sang bocah seraya menunjukkan giginya.
“Ummm, udah lumayan. Kamu udah rajin kan, siwaknya?” Aslan menjawab dengan pertanyaan balik.
“Udah dong kak! Tapi mulai sekarang aku mau tambah rajin lagi!” Nisrin berkata.
“Bagus tuh, semangat ya!” Aslan mengacak rambut Nisrin dan berjalan kembali.
Kalan yang berada di sampingnya terus memperhatikan. Ada sesuatu yang berbeda di kampung ini. Suasananya, orang-orangnya, lingkungannya, bahkan hewan-hewan yang tinggal di sana. 
“Rumah lu di mana, Slan?” Tanya Kalan.
“Oh, sebentar lagi, bang. Tapi kita mampir ke sana dulu ya?” Aslan menunjuk sebuah bangunan minimalis yang indah. Tampak menawan bila dilihat dari kejauhan. Warnanya, hiasannya, dan arsitekturnya. Bahkan boleh dibilang bahwa Christopher Wren, sang arsitek gereja St. Paul yang terkenal itu pun akan manggut-manggut mengagumi bangunan ini. Yang paling hebat, ada semacam aura damai yang Kalan rasakan tatkala memandang bangunan tersebut.
Mereka pun bergegas menuju ke sana.
Melewati sebuah plang “Masjid Azzam Az-Zakki”
***
“Assalamualaikum, Pak Hasan!” Aslan menyapa seorang tua yang sedang menyapu lantai masjid.
“Waalaikumsalam, Ustadz Aslan!” Mereka berjabat berjabat tangan.
“Ah, sudah saya bilang jutaan kali, jangan panggil saya ustadz, pak! Saya ini masih bodoh,” Aslan merendah,” Oh ya, perkenalkan, ini kawan saya. Kalan namanya.”
Mereka pun berkenalan. Kemudian, Aslan pamit ingin berwudhu sebentar. Meninggalkan Kalan dan pak Hasan untuk berbincang berdua.
“Jadi, bapak sudah lama ada di sini?” Tanya Kalan.
“Sudah sejak lahir, dik Kalan. Saya memang mengabdikan diri untuk Masjid ini. Dari mulai dahulu masjid tidak ada yang peduli, hingga makmur seperti sekarang,” jawab pak Hasan sambil berkaca-kaca.
“Maksud bapak?” Kalan bertanya,” memang dahulu seperti apa?”
Pancingan Kalan cukup ampuh. Pak Hasan pun menceritakan kisah tempat tersebut. Dahulu ketika warga-warga tidak ada yang acuh terhadap kegiatan agama, masjid, sehingga bahkan warga yang berjama’ah hanya 3 orang.
“Kejadian itu 7 tahun yang lalu. Dan saya masih menganggapnya masa terkelam yang pernah dialami masjid ini,” jelas pak Hasan.
“Lalu keadaan sekarang bagaimana pak? Saya lihat suasana di sini sangat damai. Dan masjid sudah makmur. Ceritanya bagaimana?” Kalan merangsang pak tua itu agar bercerita. Ia memang tipe seorang pengamat, maka rasa ingin tahunya sangat besar.
Pak Hasan bercerita lagi. 7 tahun yang lalu, datanglah keluarga baru. Mereka bertiga. Seorang ayah, anak laki-lakinya yang berusia 15 tahun, dan si bungsu yang berusia 8 tahun. Sebagai warga baru, mereka mencoba bersosialisasi kepada seluruh warga. Namun warga di sini tidak terlalu memperdulikan hubungan antar tetangga. Mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya ibu-ibu saja yang suka ngerumpi setiap hari. Tapi kan keluarga itu tidak memiliki sosok ibu. Sang ayah single parent dalam mendidik kedua anaknya.
Saat itulah Pak Hasan dan mereka berkenalan. Setelah mengobrol banyak—dengan sang ayah dan anak laki-lakinya—pak Hasan melihat bahwa mereka sangat ingin menumbuhkan tali persaudaraan yang kuat antar tetangga, mereka juga ingin agar masjid kembali menjadi makmur.
Sebenarnya keluarga tersebut tidak pernah mengajak warga untuk pergi ke masjid, mengikuti pengajian, membentuk DKM, dan lain sebagainya. Namun, keluarga tersebut sangat sering memberi hadiah kepada para tetangga. Mengucapkan salam tiap pagi, membantu mereka yang kesulitan tanpa parih, dan juga mengundang mereka untuk syukuran tiap kali ada kesempatan.
Mereka tidak pernah secara langsung mengajak pada kebaikan. Namun  mereka melakukannya. Dan menunjukkan pada semua warga kalau berbuat baik dan melakukan silaturahim itu sangatlah indah.
Sayang seribu sayang, 3 tahun setelah kedatangan mereka, suasana tetaplah tidak berubah. Warga tetap saja seperti dahulu. Bahkan ibu-ibu makin gencar bergosip, dan menimbulkan pertengkaran antar tetangga.
Keluarga tersebut makin prihatin dengan kondisi lingkungan mereka. Sang ayah akhirnya mulai melakukan pendekatan dengan ajakan kepada mereka. Sang anak laki-laki yang waktu itu kelas 3 SMA pun mulai memasuki pergaulan remaja di sana dan mengajak mereka pada kebaikan. Begitu pula dengan sang adik. Ia mengajak teman-teman seumurannya mengaji, dan lainnya.
Yang terjadi akhirnya, adalah kebencian terhadap mereka. Warga sangat terganggu dengan ajakan-ajakan mereka, apalagi saat sang ayah mengajak mereka memakmurkan masjid. Suara murotal dari masjid tersebut dianggap mengganggu dan akhirnya malah membuat mereka makin jauh dari masjid.
Hingga akhirnya, setelah sang anak laki-laki lulus SMA, sang ayah meninggal dunia. Sekalipun warga membencinya, namun mengingat kebaikan hati sang ayah, hampir semua warga melayat  jenazahnya. Bukan, bukan hanya mereka, namun ternyata ribuan orang dari luar juga menghadiri pemakaman beliau. Saat itulah semua warga mengetahui—baru mengetahui—bahwa sang ayah adalah seorang legenda.
Ia adalah seorang musisi legendaris yang 3 tahun lalu menghilang dari peredaran; Iwan Fals.
***
Sejak saat itu, anaknyalah yang melanjutkan misi sang ayah untuk membuat kampung tersebut menjadi makmur dan penuh persaudaraan.
Kematian ayahnya membantu menyadarkan warga akan pentingnya menjalin tali persaudaraan di antara mereka. Bahwa kebaikan yang dilakukan sang legenda tak lain adalah untuk membuat mereka hidup di lingkungan yang damai dan sejahtera.
Sejak saat itu, warga mulai berduyun-duyun datang ke masjid, membantu memakmurkannya, menjadi saling percaya satu sama lain, dan membangun kembali persaudaraan yang lama terputus antar tetangga. Mereka bahkan melakukan puasa senin-kamis bersama. Dan tiap malam senin dan kamis, mereka akan sahur bersama di masjid.
Sang anak laki-laki pun menjadi nahkoda semua kegiatan tersebut. Ia yang mengatur kegiatan-kegiatan para pemuda, membuat mereka betah berada di masjid, dan juga yang membuat Kampung ini kembali bersinar dengan keaktifan para pemudanya.
Nama pemuda itu, adalah Aslan.
***
“Wah, maaf nih lama, tadi buang air dulu,” Aslan berkata sekembalinya dia dari air.
“Tidak apa-apa kok. Gua jadi ngobrol banyak sama pak Hasan ini,” Kalan menjawab.
“Hahaha, bang Kalan mah emang cepet akrab sama orang. Oh iya bang, saya solat dhuha dulu ya,” Aslan berkata, dan Kalan mengangguk.
“Aslan memang lebih sering berada di masjid daripada di rumah,” ujar pak Hasan sambil berbisik.
“Kalau adiknya, sendiri di rumah, pak?”
Pak Hasan menggeleng.
Ia kembali bercerita.
***
Dua minggu yang lalu, toko coklat milik Aslan kebakaran. Padahal,dari situlah pemasukan keluarganya berasal. Semua hangus terbakar, hanya ada sisa satu kardus coklat yang belum sempat ditaruh di gudang karena baru Aslan beli untuk persediaan.
Saat itu, Aslan berkata bahwa ini adalah peringatan dari Allah SWT karena ia kurang bersedekah. Padahal ia sebenarnya sangat sering memberi pada orang lain. Akhirnya ia memutuskan untuk membagi-bagikan coklat sisanya tersebut pada orang lain yang ia temui. Dan ia akan mencari kerja lain ke kantor-kantor di Jakarta. Makanya belakangan Aslan sering bepergian. Dan kala itu pula Aslan dan Kalan bertemu.
***
“Lalu sang adik?” Kalan bertanya. Meneguk ludah.
“Kau mungkin sudah bisa menebak,” Pak Hasan berkata.
“Hani ikut terbakar bersama toko tersebut,” Kalan melihat sang pemuda berdo’a sehabis sholat sambil menangis di sudut masjid.
***
Malam itu juga, Kalan telah menemukan apa yang ia cari. Aslan, pemuda rendah hati itu telah membuka seluruh mata hatinya. Apa yang harus ia lakukan, dan apa tujuan hidupnya yang sejati.
Maka di malam bertabur gemintang itu, Kalan membuka rahasianya pada Aslan, mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah seorang pengembara, sedang mengelilingi dunia, dan sedang mencari kesejatian hidupnya. Aslan terkejut mendengar penuturan sang abang, bahkan ketika Kalan memperlihatkan jurnal perjalanan keliling dunia miliknya.
Lu udah ngebuka pikiran gua begitu jauh, Slan. Terima kasih,” Kalan menepuk pundak pemuda itu.
“Sekarang gua punya satu penawaran buat lu.”
“Ayo ikut gua pergi; keliling dunia.”
***
            Di sebuah metromini, 3 tahun kemudian.
            “Mau coklat?” sesorang menepuk pundak Aslan dari belakang.
            “Bang Kalan!” Aslan terkejut melihat kawan lamanya tersebut. Sudah tiga tahun mereka tidak berjumpa. Tiga tahun semenjak ia menolak dengan halus tawaran hebat untuk ikut berpetualang keliling dunia bersamanya.
            “Gua ada kejutan buat lu,” Kalan berkata. Kemudian dari belakangnya muncul serorang anak kecil berumur sekitar 2 tahun yang langsung menerjang Aslan. Juga seorang wanita cantik yang mengenalkan diri sebagai “Nyonya Kalan”.
“Seperti kata-kata terakhir yang lu bilang sebelum kita berpisah,” Kalan berkata.
            “Tugas terakhir buat pemuda muslim sejati; harus nikah.”
Kalan dan Aslan  pun berpelukan hangat.
Membuat iri langit biru di atas mereka.




-->