Minggu, 28 Februari 2016

#Serial Murder Eps 6

Previously, on “Murder”
“Mereka menyerang Markas GPS, Mursi! Kita tidak bisa tinggal diam!” Andrew, pemimpin klan GPS yang hadir dalam rapat itu, mencak-mencak.
Dentuman terjadi di atas tempat rapat itu.
“O...” Desis Mursi.
---
“Kita tidak akan bertahan, Mursi!” Kumar berkata saat dentuman demi dentuman mereka terima, beserta laporan dari awak kapal bahwa perisai mereka hampir hancur.
“Sir.” Kapten Miles tiba-tiba menunjuk ke arah barat lautan. Beberapa rudal menghantam kapal selam-kapal selam Navy hingga meledak.
Bum! Bum! Bum!
Dari kejauhan, tampak pula lusinan helikopter berdatangan dan menembaki 4 helikopter musuh hingga hancur.
“Perempuan itu...”
---
“Lama tidak bertemu, Mursi...” Jean masuk ke kapal dengan santai. Barusan, ia menjadi pahlawan karena telah menghancurkan sepasukan tentara O yang menyerang mereka.
“Aku ke sini untuk bertemu Santi.”
“Cih, sayang dia sudah pergi beberapa saat yang lalu.” Red berkata sinis.
“Oh ya?” Jean tersenyum.
---
“The Hell!! Kaca ini anti peluru! Panah macam apa yang bisa menembusnya?!”
Beberapa saat yang lalu, sebuah helikopter mendekat dan menembakkan panahnya ke helikopter Santi.
Santi pun mendekat pada panah yang menancap itu, kemudian melihat lebih teliti.
“Panah ini dilapisi intan. Ujungnya sekuat baja. Pantas saja kaca kita tidak kuat.”
Santi menyentuh ujung panah tersebut. Tanpa menyadari bahwa ada racun yang menempel di sana. Dan begitu jemarinya mendarat di ujung anak panah, hanya gelap yang mampu ia rasakan.
Santi roboh.
---
“Bawa dia masuk.” Ujar Jean. Sesaat kemudian, beberapa prajuritnya membawa tubuh Santi yang masih terengah-engah.
“Santi! Mengapa kau...”
Red terheran-heran, namun melanjutkan kalimatnya kepada orang lain.
“...Mengapa kau membawanya lagi kemari?”
Jean mengangkat bahu.
“Karena aku harus bertemu dengannya, Red.”
Jean angkat bicara pada anak itu.
“Perkenalkan, Santi. Namaku adalah Jean.”
Suasana hening sejenak.
“Aku adalah ibumu.”
***

Sabtu, 27 Februari 2016

#Serial Sang Badai Eps 6 (Special Addition)

Waktu membaca:2-3 menit
(Sekitar) 300 Juta tahun yang lalu.
Semua dimulai saat Dinosaurus berkuasa di muka bumi. Sang Penguasa Alam “menitipkan” bumi—salah satu habitat makhluk fana di alam semesta—kepada makhluk besar nenek moyang reptilia tersebut.
Berbarengan dengan keberadaan Dinosaurus sebagai “penguasa” Bumi, datang pula Makhluk-makhluk transendental untuk menjaga kestabilan dunia.
Papa Sang Cahaya adalah yang pertama. Lalu Mari dan Wafee. Kemudian datang pula Ernest Sang badai beserta saudara dekatnya, Galang Sang Atmosfir.
Makhluk-makhluk transendental ini didatangkan dari tempat yang tidak pernah diketahui oleh makhluk fana—bahkan oleh makhluk transendental sendiri. Mereka merasa muncul begitu saja.

Rabu, 24 Februari 2016

#Serial Sang Badai Eps 5

Waktu membaca: 4-6 menit
Bim meneguk minumannya. Pria paruh baya itu meresapi tetes demi tetes hingga gelas kecilnya kosong. Ia bernapas dalam-dalam sebelum menuang lagi.
“Bim. Lama tidak bertemu.”
Seorang lelaki berjas muncul dan menyapa. Bim menengok ke arahnya. Tampak di samping si pria berjas, seorang anak kecil berdiri polos.
“Inikah dia?” Tanya Bim.
“Tuanmu yang baru.” Ujar si pria berjas.
“Oh, tentu. Namun belum saatnya.” Bim berdiri, kemudian berjongkok ke arah anak tersebut.
“Senang bertemu denganmu, anak muda.”
Sang anak memandang Bim dengan sedikit senyuman sopan.
“Siapa kau?” Tanya si anak.
Bim tertawa.
“Hahaha. Tentu saja, kau pasti belum tahu.”
Pri berjas, yang tak lain adalah Feliks, ikut tertawa kecil.
“Perkenalkan. Aku Bim. Aku adalah partner Ayahmu.”

Minggu, 21 Februari 2016

#Puisi Kalau Kita

<)

Darimana juga aku meraba
Kalau sedari tadi tanganku terikat
Saat kudengar kau yang meronta merana
Duh merasaku naluri terangkat

Hey, cinta
Kalau kita berhasil pergi
Menikahlah dengan orang lain
Karena aku hanya orang bejat

Hey, cinta
Kalau kita berhasil selamat
Lupakan aku pernah ada
Karena hidupmu lebih berharga dari kenanganku

Kalau kita,

Kalau kita,

Sejenak kuhapus dulu "kita",

Kalau kamu,

Kalau kamu,

Karena sebegitu tak pentingnya aku,

Pergilah, kelak kau akan selamat,
Biarlah aku sendirian merapat,
Melepas hidup yang sedang sekarat,

Kalau kita selamat,
Aku akan kembali lagi kepada para penjahat,
Kuminta mati saja sekelebat,
Lalu kau lanjutkan hidupmu tanpa laknat,

Dan jangan menangislah, cinta...

Karena kau akan selamat.

#Serial Murder Eps 5

Santi memutuskan untuk pergi!

Sementara itu, Markas Mursi yang hampir hancur ternyata diselamatkan oleh seorang wanita misterius! Siapakah dia? Dan apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Simak terus kelanjutannya di sini:

Baca Murder Eps 5

Sabtu, 13 Februari 2016

Minggu, 07 Februari 2016

#Puisi Aku Benci Hujan


"Aku umur tujuh tahun"

Ibu, mau main hujan-hujanan yah
Gak boleh, nanti sakit
Yah, sekali ajaaaa
Hmm, yaudah sekali aja ya

Aku pun menghambur ke luar
Menantang jutaan rintik air yang menyuar
Gembira
Sangat

"Aku umur sepuluh tahun"

Yah mendung nih
Sikat aja ayo tendang lagi
Tanggung basah sekalian
Okelah ayooo

Enam anak itu lanjut bermain bola
Tak peduli air langit yang menimpa
Bergelora
Sangat

"Aku umur lima belas tahun"

Satu! Dua! Tiga!
Laki-laki kok lembek begitu!
Lagi!
Satu! Dua! Tiga!

Hitungan demi hitungan menerpa
Aku pasrah saja
Hujan deras ikut merusak suasana
Sebal
Lumayan

"Aku umur delapan belas tahun"

Elah, ujan lagi!
Nanggung juga dikit lagi nyampe!
Ah, terpaksa pake jas ujan dulu!
Sial!

Aku menepikan motor ke pinggir jalan
Sudah macet, hujan pula
Padahal kampus tinggal empat belokan saja
Benci
Sangat

"Aku setelah bertemu denganmu"

Udah terobos aja yuk
Loh jangan gaenak basah nanti
Kenapa emang kalo basah?
Ya gapapa sih, aku cuma benci sama hujan

Kenapa benci?
Umm, gaenak aja, mengganggu
Ih, sini ayooo
Eeee

Aku ditarikmu ke dalam deras air
Tatkala kita pulang dari kencan
Sengaja kubiarkan
Benciku kalah melihat kau punya senyuman

"Kamu itu ndak benci sama hujan...
Kamu cuma benci sama hal-hal buruk yang terjadi,
Lalu menyalahkannya pada hujan"

Lalu kau memelukku

Dan kita menghilang dalam cinta

Aku benci mengatakannya,

Namun aku kembali menyukai(mu) hujan