Waktu membaca: 4-6 menit
Bim meneguk minumannya. Pria paruh baya itu meresapi tetes demi tetes hingga gelas kecilnya kosong. Ia bernapas dalam-dalam sebelum menuang lagi.
“Bim. Lama tidak bertemu.”
Seorang lelaki berjas muncul dan menyapa. Bim menengok ke arahnya. Tampak di samping si pria berjas, seorang anak kecil berdiri polos.
“Inikah dia?” Tanya Bim.
“Tuanmu yang baru.” Ujar si pria berjas.
“Oh, tentu. Namun belum saatnya.” Bim berdiri, kemudian berjongkok ke arah anak tersebut.
“Senang bertemu denganmu, anak muda.”
Sang anak memandang Bim dengan sedikit senyuman sopan.
“Siapa kau?” Tanya si anak.
Bim tertawa.
“Hahaha. Tentu saja, kau pasti belum tahu.”
Pri berjas, yang tak lain adalah Feliks, ikut tertawa kecil.
***
“Neutrino. Tidak, tidak. Elemen itu tidak lebih cepat dari cahaya. Tidak, tidak.”
Ernest berjalan mondar-mandir untuk mengumpulkan pikiran. Sesekali, ia mencoba untuk membuat badai, atau sekedar terbang, namun, ia masih merasakan sakit. Kekuatannya belumlah pulih.
Sudah 4 bulan semenjak pertarungannya dengan Galang. Ia masih memikirkan strategi yang tepat untuk memulai perang ini.
Ernest kembali berpikir.
Di Bumi, ia sudah mempunyai beberapa sekutu. Tentu saja, perekrutan mereka dilakukan secara sangat rahasia. Ada tiga gunung berapi yang berada di pihaknya, dua palung, serta beberapa gua bawah tanah.
Semua itu tentu masih kurang bila ia ingin melawan kekuatan besar yang ada di bumi. Bila seluruh penduduk Darat, Air, dan Langit bersatu, dalam sekejap ia akan kalah.
Ernest harus mengatur kekuatan.
“Waaaaak, bagaimana strategi kita, bos?”
Hacep tiba-tiba datang dan hingga di pundak Ernest.
“Ada beberapa pilihan...”
Ernest tersenyum. Sepertinya ia baru menemukan jalan keluar.
***
“Bim, pertemuan para penjaga langit akan dilaksanakan 6 bulan lagi. Kuharap kau bisa mengurus Robby sementara aku pergi mempersiapkan segalanya.”
Feliks berkata kepada Bim yang kini sudah memegang kembali gelas berisi minumannya.
“Kau bercanda? Tentu saja aku bisa.”
Robby yang ada di sana hanya diam mendengarkan. Sedari tadi, ia mencoba menganalisa pria yang baru ia temui tersebut.
Bim. Wajahnya kasar. Tirus. Dengan badan besar dan paruh baya. Ia seperti seorang kaek-kakek pekerja yang suka ia lihat di proyek pembangunan sebuah rumah di pinggir jalan. Semacam kuli.
Dari suaranya yang berat, Robby bisa tahu kalau Bim adalah seorang pemabuk. Mungkin bahkan pemabuk berat. Ia juga tampak sepeti seorang pria yang tidak bertanggung jawab dan kasar.
Lalu setelah semua analisa tersebut, Feliks akan meninggalkannya bersama Bim?
“Aku harus bertemu Papa dalam 3 hari. Setelah itu, mungkin aku akan mengunjungi Robby sesekali. Kuharap kau bisa melatihnya, dan membawanya ikut serta pada pertemuan nanti. Meski, yah, sebenarnya Robby belum siap untuk mengikutinya.”
“Pertemuan apa? Besar kah?” Robby akhirnya buka mulut.
Bim menatapnya dengan tatapan seram. “Tentu, nak. Ini pertemuan besar yang harusnya dilakukan seribu tahun sekali antar Para Penjaga Langit.”
Robby mengangguk-angguk. “Apa maksudmu dengan ‘harusnya’ seribu tahun sekali?”
“Karena kita mempercepat pertemuannya.”
“Mengapa?”
Feliks memegang bahu Robby. “Aku harus pergi. Baik-baik bersama Bim, nak.”
Robby yang tak mendapat jawaban hanya bisa mengangguk.
“Oh iya, ini, tadinya aku ingin menemanimu berbelanja, namun setelah kupikir-pikir, biar Bim sajalah.”
Feliks menyerahkan sebuah kertas berisi daftar-daftar kepada Bim, serta sebuah kartu.”
“Hmm. Kartu Penjaga Langit milik Galang. Sepertinya aku mulai merindukan pria tersebut.” Bim berkata pelan sambil melihat barang yang baru diberikan Feliks.
“Well, kutinggal dulu, kalian berdua. Dan jangan lupa, bersenang-senang lah.” Feliks berkata seperti itu dan kemudian berjalan keluar ruangan.
Robby menatap Bim untuk kesekian kalinya. Menunggu apa yang akan ia katakan.
“Nah, jadi, tunggu apa lagi?”
***
“Kau yakin kita butuh semua ini, Bim?” Robby mendorong trolley berukuran besar yang dipenuhi barang setinggi tiga kali lipat badannya.
“Oh, tentu saja, Robby. Kita butuh banyak hal.”
Mereka berbelok ke kiri, tempat makanan khas Afrika dibekukan. Tampak di sana berjejer kotak-kotak es tempat makanan dibekukan. Bersih, dingin, dan instan.
“Kami para penduduk langit biasa mengawetkan makanan dengan suhu atmosfir mini yang ada dalam kotak es ini. Kau lihat sendiri, di pusat perbelanjaan ini, ada 5 lantai khusus makanan dari seluruh dunia. Semua berjejer rapi dalam kota-kotak es. Siap santap ketika kita sampai di rumah.”
Bim menjelaskan sambil memilih-milih salah satu makanan khas Afrika di depannya.
“Perkenalkan, Robby, makanan terenak di dunia. Makanan Afrika.”
Bim mengambil sebuah kotak es berisi gulungan nasi dengan tomat merah segar di atasnya.
“Ini adalah Nasi Jollof. Makanan khas Nigeria. Campuran dari nasi, bawang, tomat, dan merica. Sangat alami sekali. Biasa dimakan dengan Sup Egusi. Isinya adalah sayur-sayuran, dedaunan pahit, pisang goreng, serta tumbukan yam.”
Bim menaruh kotak tersebut di tumpukan barang troli mereka.
“Nah, yang ini juga enak.” Pria itu mengambil sebuah kotak lagi.
“Pap en vleis, atau biasa juga disebut Shisa nyama. Aku suka daging barbeque khas mereka beserta bubur jagungnya. Mereka benar-benar tahu campuran yang tepat. Sahsa nyama sendiri artinya ‘bakar daging itu’. Sebenarnya mirip dengan steak, namun maized podridge atau bubur jagungnya selalu menambah selera makanku. Kalau kalian di Indonesia memakan daging ini dengan nasi, orang-orang Afrika memakannya dengan bubur jagung.”
Bim menaruh lagi makanan tersebut ke dalam troli.
“Um, Bim. Sepertinya kita harus mengambil troli lain. Di sini sudah sangat penuh.”
Bim melihat sekilas ke arah Robby dan troli malang tersebut.
“Haha. Baiklah. Omong-omong, ini baru sepertiga belanjaan kita kali ini.”
Robby menelan ludah.
***
“Jadi, bagaimana kita memasukkan semua barang ini ke mobil kita?” Robby bertanya kepada Bim di parkiran. Mereka kini punya tiga troli besar dengan tinggi belanjaan masing-masing 4,5 meter.
“Dengan ini, Robby.” Bim mengeluarkan sebuah tempat pensil dari dalam sakunya.
“Apa i...” Belum sempat Robby menyelesaikan pertanyaannya, barang-barang belanjaan mereka sudah terserap satu per satu ke dalam kotak pensil—setidaknya benda tersebut terlihat seperti itu—yang sedang dipegang Bim.
“Selesai.”
Robby masih ternganga. Banyak hal di dunia ini yang belum ia tahu.
***
Seluruh aliansi telah berkumpul. Lokasi dengan koordinat 19 derajat LU dan 155 derajat BB itu terlihat temaram. Waktu menunjukkan tengah malam saat kejahatan seperti menaungi satu tempat saja.
Mereka berjumlah 10 orang. Semua makhluk transendental yang hadir benar-benar yang terkuat, dan terkenal di bidangnya masing-masing.
“Terima kasih telah hadir.” Mauna Loa membuka pertemuan. Ia adalah tuan rumah di sini.
Kesembilan peserta rapat mengangguk-angguk. Di antara mereka ada Kilimanjaro dan Mariana, skuad yang membantu Ernest untuk mengintip Pandora, beberapa tahun yang lalu.
“Kita datang ke sini untuk membicarakan rencana bos kita, Ernest.”
Semua anggota aliansi tampak takzim.
“Bos telah mendeklarasikan perang. Namun sayangnya, luka yang diberikan oleh Galang membuatnya harus menunggu lebih lama lagi. Sementara itu, ada tugas yang harus kita lakukan.”
Mauna Loa menatap semuanya.
“Membuat senjata kuno untuk perang nanti....”
“...Membuat Alchemist.”
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar