Senin, 25 Januari 2016
Senin, 18 Januari 2016
Minggu, 17 Januari 2016
#Cerpen Si Pecinta
Waktu membaca: 4-6 menit
Mudah saja kalau ingin terkenal.
Kencing di depan gedung rektor pun kita sudah bisa terkenal, minimal se-kampus
selama 2 hari. Mudah saja kalau ingin populer. Pakai barang branded, show off
di depan kantin fakultas. Minimal se-kampus selama tiga hari.
Yang sulit itu kalau ingin
dicintai.
Kita harus santun, bersahaja, dan
gak nyampah di pergaulan. Influence berbanding lurus dengan reputasi.
Itu yang selalu kupegang dari dulu.
Makanya, kini, ketika aku duduk
di semester dua bangku perkuliahan, banyak yang menghormatiku. Sebagai teman,
aku selalu berusaha untuk berguna. Ada di saat suka dan duka. Sebagai
mahasiswa, aku selalu berusaha mendengarkan. Sebagai pemimpin, aku
selalu berusaha adil.
Ya, minimal se-fakultas psikologi
Undip aku dikenal sebagai seorang Adul yang sederhana, baik hati dan setia. Itu
saja sudah cukup. Tak perlu embel-embel populer dan terkenal. Aku selalu
menyukai lingkunganku, teman-temanku, dan semuanya.
Sebuah lingkaran kecil akan tetap
indah bila kita bisa memegang sisinya.
Sebaliknya lingkaran besar akan
menjadi rumit karena sisinya terlalu jauh untuk dipegang.
Itulah pergaulan. Sedikit namun
benefit.
Ah, jadi kebanyakan melantur.
#Serial Murder Eps 4
Waktu membaca: 5-7 menit
Santi akhirnya menolak untuk bergabung dengan Gerakan yang ingin menghancurkan O! Apakah yang ada di pikirannya? Dan apakah yang akan direncanakan oleh Mursi dan anggota lain untuk menghancurkan O?
Di sisi lain, O mengambil inisiatif untuk menyerang duluan. Markas GPS yang berada di Tasmania dihancurkan! Apa yang sedang terjadi? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Sabtu, 16 Januari 2016
#Puisi Jomblo Tidak Takut
Jomblo tidak takut,
Pergi sendiri di malam minggu,
Menikmati lampu-lampu kota,
Memeluk dingin,
Jomblo tidak takut,
Nonton bioskop di pojok,
Film sedih romantis yang diputar,
Kami tidak akan menangis,
Jomblo tidak takut,
Mantan datang bawa golok,
Mantan datang bawa revolver,
Mantan datang bawa bazoka,
Nuntut tanggung jawab karena dia hamil,
Jomblo baru takut.
#Cerpen Bunga Akan Kalah Oleh Doa
Waktu membaca: 6-8 menit
Hari yang cerah seperti biasanya.
Aku datang terlambat lagi ke kelas. Kali ini, hukumanku menjadi berlipat. Aku harus
dijemur di lapangan ketika istirahat nanti, sembari mengaji satu juz Alquran. Oke.
Habislah istirahatku selama 40 menit.
Aku duduk di sudut kelas, tempat
yang paling nyaman untuk tidur. Oke, meski harus kuakui bahwa semua tempat di
kelas ini nyaman untuk tidur. Udara segar yang menaungi kompleks madrasah kami
memang selalu menjadi trigger utama dalam menina-bobokan para santri.
Pagi ini, kami sekelas di kelas
12 Keagamaan mulai belajar di semester dua. Yang berarti, hanya tinggal
beberapa bulan lagi kami tinggal di Pondok Pesantren ini. Sungguh penantian
yang panjang semenjak 6 tahun lalu aku mulai masuk ke dalam lingkungan ini.
Jumat, 15 Januari 2016
#Cerpen Stranger in Mecca
I was on my way, doing this first
holy trip in my life. For me, Haji is not only a trip, it’s a journey of
finding your holy side. I was very grateful to get this chance, visiting the
greatest city in the world—acording to me, of course.
I was saving for about ten years
before i finnaly get this moment. Yeah, ten years full of hardwork and a little
bit suffering, but in a good way of course. So there was I, sitting on the
plane, waiting to arrive at the destination.
To
Mecca.
***
Kamis, 14 Januari 2016
#Puisi Hai
Hai,
janji ya,
cuma kita yang tau,
kalo aku ngobrol sama kamu,
Hai,
Tau gak apa yang lebih cantik dari bulan?
Iya,
Intinya bukan kamu,
Hai,
Kamu jadinya marah?
Loh, aku cuma mau jujur,
Kamu memang ndak cantik kok,
Hai,
Ye jangan pergi lah,
Kamu tersinggung?
Kan aku cuma bicara jujur,
Hai,
Kamu beneran pergi?
Yasudah,
Pesanku, lain kali bersyukur saja, ndak usah tersinggung kalo ada yang bilang kamu ndak cantik,
--si gadis pergi karena mendengar kejujuran si bocah laki-laki, kejujuran memang pahit, namun terkadang, kita memang harus mengakui kepahitan yang dibawanya, dan cukup bersyukur--
#Cerpen Riot
“Kenapa kita berhenti di sini, pak?”
Aku bertanya dengan nada gelisah pada supir taksi yang kutumpangi.
Setengah jam yang lalu, aku naik
taksi berwarna putih dari Epicentrum, Kuningan. Tujuanku adalah Lebak bulus. Aku
akan bertemu dengan teman-temanku di club Afterour di Points Square. Saat itu
sudah jam setengah satu malam. Aku telat satu jam dari waktu yang dijanjikan.
Dan sekarang, di sinilah aku. Di sebuah
pojok gelap yang setahuku berada di daerah TB. Simatupang. Supir taksiku tak
menjawab, namun tiga detik kemudian ia menodongkan senjata rakitan ke arahku.
Senin, 11 Januari 2016
Minggu, 10 Januari 2016
#Serial Murder Eps. 3
Red membawa Santi ke Markas Rahasia tempat ia dan yang lainnya berkumpul untuk melawan O. Santi yang terkejut dengan pemimpin gerakan tersebut bingung antara bergabung dengan mereka atau tidak.
Di sisi lain, rapat untuk memulai perang melawan O dimulai. Rahasia tentang identitas para dewan pimpinan O pun terkuak. Siapakah mereka?
#Cerpen Memeluk Bulan
Waktu membaca: 5-7 menit
Kevin sudah melihat ke langit
selama hampir 2 jam. Lama? Iya. Hatinya tak lepas-lepas dari rindu akan sosok
yang ada di langit malam kala itu. Sebuah fullmoon cantik yang hanya
bisa didapatkan sebulan sekali.
Bulan selalu menginterpretasikan
cinta di mata Kevin. Sejak beberapa tahun yang lalu, satelit bumi tersebut
menjadi obsesinya. Ia percaya bahwa dulu bulan adalah sesosok wanita cantik
yang dikutuk oleh Tuhan. Yang meski begitu, kecantikannya masih bisa dinikmati
orang banyak hingga sekarang.
Kevin tersenyum lagi.
Ia akhirnya menurunkan
pandangannya dari langit. Kini, ia melihat tas gendong berwarna abu-abunya. Di
dalam tas itu, buku-buku perkuliahan berdesakan mencari udara segar.
Ah, seminggu lagi UAS, aku
harus mencicil materi.
Sabtu, 09 Januari 2016
#Puisi Durja
Malang nasibku,
Sungguh,
Ingin kubuka hari dengan menyebutMu,
Namun yang kuingat hanya nama selainMu,
Ingin kusantap hidangan dengan doa padaMu,
Namun yang terjadi bukan begitu,
Niscaya aku merugi pabila,
Maka tolong berilah aku ini cahaya,
Tuk cuma sedikit sahaja,
Kuingat namaMu segala,
Bodohku sangat terima,
Ujian menjadi khalifa,
Bahkan gunung saja,
Menolak dan tahu inilah bala,
--Bukan pahala yang membuat seorang hamba selamat, namun banyaknya tumpahan tangis mohon rahmat yang ia serahkan dari matanya--
#Cerpen Pandora
Waktu membaca: 15-17 menit
Pandora, 23 Juni 2035
Suasana
kacau balau. Bukan kacau sih tepatnya, namun hiruk. Semua rakyat negeri
Pandora seperti biasa bekerja keras membanting tulang. Tahun-tahun yang begitu
menyulitkan ini harus segera mereka selesaikan. Sebuah konsekuensi, yang
nantinya akan memberikan hasil yang memuaskan. Semua orang tahu, negeri mereka
adalah sebuah harapan yang besar, dan itu akan terwujud sebentar lagi.
Jumlah
mereka ada 300 juta jiwa. Didominasi oleh kaum pemuda, yang berjumlah 145 juta orang.
Kaum manula yang berjumlah 93 juta, dan anak-anak 62 juta. Well, setiap
orang yang masih bisa berjuang untuk negerinya adalah pemuda, itu pikir mereka.
Masih kuat, dan masih bersemangat. Karena pemuda adalah “jiwa”, bukan usia.
Umur berapapun mereka, asalkan masih memiliki jiwa pemuda, dia adalah pemuda.
Titik. Itu prinsip Pandora.
Jumat, 08 Januari 2016
#Cerpen Alas Tidurku Adalah Tanah (sebuah cerpen tentang ketaatan seorang hamba)
Kabut masih
menyelimuti tanah ini. Aku yang baru terbangun sadar bahwa sekarang waktunya
untuk bersenang-senang dalam arti menikmati indahnya bertemu kekasih sejati
yaitu Allah SWT. Ya, sekarang memang sepertiga malam yang Allah sediakan untuk
“kencan” dengan-Nya.
Tanah yang dingin ini segera kutinggalkan. Aku
berjalan menuju sungai yang letaknya sekitar 100m dari tempatku tidur. Aku
berwudhu di tengah dinginnya malam yang membuat jutaan insan betah bercokol di
alam mimpi mereka. Mereka telah terlena akan empuknya kasur yang mereka jadikan
alas tidur, bantal yang mereka jadikan sandaran, dan selimut yang mereka
jadikan penghalau dan pelindung dari keadaan menggigil sepertiku. Aku memang
masih 15 tahun. Selama ini kudatangi rumah-rumah warga, lalu kuajak mereka
menyembah Allah dan mengigatnya dalam keadaan berbaring, duduk, maupun
berjalan. Namun tak jarang ku mendapati bantingan pintu tanda ketidakramahan
mereka akan peringatan sekaligus ajakanku. Aku memang bukan nabi, aku juga tahu
bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW. Tetapi aku merasa harus untuk
menyerukan kebenaran karena sekarang banyak yang mengingkarinya. Allah, betapa
berat ini....
Kamis, 07 Januari 2016
#Puisi Aku Menyerah
Ingat kau saat SMA dulu?
Kau rayu aku,
Kau tembak aku,
Kau nyatakan cinta padaku,
Aku tidak menyerah pada godaan,
Atas rupa menawanmu,
Aku tidak menyerah pada godaan,
Atas kata-kata indahmu,
Aku tidak menyerah pada godaan,
Atas otak jeniusmu,
Lalu kita berpisah,
Hidup masing-masing,
Dan kini,
Aku menyerah,
Aku menyerah pada godaan,
Atas ketaatanmu,
Aku menyerah pada godaan,
Atas kesalihanmu,
Aku menyerah,
Pada lamaran yang kau sampaikan pada ayahku,
Aku menyerah,
Memang ini yang kutunggu.
#Cerpen Menjemput Zahra
Waktu membaca: 6-8 menit
Masih
ada 65 persen rakyat Indonesia yang lahir, tumbuh, dan besar di daerah
Pedesaan. Hidup tanpa asap kendaraan di sana-sini, tanpa sering-sering melihat
orang berdasi. Mereka hidup dengan teknologi dan fasilitas yang cukup, atau
kadang tertinggal. Sebagian memandang bahwa mereka ketinggalan jaman.
Dikarenakan jauh dari kemajuan yang sangat cepat di era globalisasi ini.
Namaku
Zahra. Mahasiswi Post-graduate di Massachutes Institute of Technology, MIT.
Kalau Indonesia punya ITB, dunia ini punya MIT. Begitulah kira-kira gengsi
kampusku.
Dan
aku, adalah “mereka” juga. Orang ketinggalan jaman yang hidup di pedesaan,
sampai takdir memilihku untuk jadi seperti sekarang.
Lupakan
sejenak “sekarang”. Mari berkelana ke masa di mana aku tumbuh di desa. Ke
tempat paling damai yang bisa kutemukan di muka bumi. Tempat di mana
orang-orang besar itu tumbuh. Desa, di manapun itu, selalu melahirkan para
pejuang. Sukarno tumbuh di desa. Mathama Gandhi tumbuh di desa. Nabi Muhammad,
meski lahir di kota, dikirim oleh ibunya untuk disusui di desa. Tumbuh di sana
hingga umur 6 tahun.
Maka
banggalah kalian yang tumbuh di desa.
Rabu, 06 Januari 2016
#Serial Sang Badai Eps. 4
Waktu
membaca: 5-7 menit
Darat, Laut dan Udara.
Tiga kubu inilah yang menjalankan
Bumi dengan semestinya semenjak milyaran tahun yang lalu. Mereka bukan
Organisme. Mereka adalah makhluk transendental, yang dilihat oleh manusia
sebagai Benda non-biologis. Yang tidak mereka tahu bahwa sebenarnya benda-benda
itu hidup. Mungkin lebih hidup daripada mereka.
Penghuni langit—atau kubu langit, adalah makhluk transendental yang
menghuni langit. Ada awan timur, awan barat, angin muson, Ozon, Stratosfer,
Mesosfer, hingga Termosfer. Pemimpin mereka adalah Sang Atmosfir. Seorang
Penjaga Langit.
Ada juga Penghuni Laut. Mereka adalah
kmoponen-komponen lautan. Ada Samudra, Teluk, Tanjung, Palung, hingga gunung
api yang berada di dalam air. Pemimpin mereka adalah Sang Penjaga air, Mari.
Yang ketiga, Penghuni Daratan.
Gunung, Bukit, Pulau, hingga Gua dan Air terjun. Sungai dan Danau pun
belakangan mengekor sebagai Penghuni Daratan. Pemimpin mereka, adalah Wafee.
Sang Penjaga Tanah.
Sementara itu, ada pula dua Penjaga
Langit lain. Sang Cahaya, dan Sang Badai.
#Cerpen Wanita Sejuta Cerita
“Kau tidak akan percaya
ceritaku.”
Kami berempat berhenti seketika
di depan wanita tua itu. Senyumnya menyungging dan menyinggung. Seakan ingin
menertawakan reaksi kami.
Jon menyikutku dan memberi kode
“jalan terus”. Yha, meski penasaran, aku akhirnya mengikuti kemauan temanku yang lain. Untuk
tidak memperdulikan wanita itu. Untuk tidak
pernah memperdulikannya.
***
“Darimana sih datengnya tuh orang
gila?” Farah, memulai topik tatkala kami sedang menunggu guru masuk. Habis ini
pelajaran Pak Suminem. Jadi, kami harus mendinginkan kepala sedingin-dinginnya
terlebih dahulu. Guru killer tak bisa mengompromikan kondisi hati dengan
pelajaran. Kalau tidak rileks, bisa-bisa pelajaran tidak masuk otak, dan kena
marah-marah terus karena tidak bisa menjawab.
Selasa, 05 Januari 2016
#Cerpen Tunggu, Ini Afrika?
“Tunggu,
ini Afrika?” aku terbelalak dengan pemandangan di depanku. Celingukan dengan
tempat yang tidak kusangka sama sekali.
Kejadiannya
10 jam yang lalu…
Mamah mennyebalkan
seperti biasa. Aku baru saja bangun pagi ini, baruu saja. Namun ia sudah ada di
depanku, dengan tatapan matanya yang tajam,menatapku seakan aku adalah hewan
buruannya. Ah, ia memang seperti itu. Ingin agar aku disiplin dan teratur.
Aku
melompat dari tempat tidur dan menatapnya balik dengan tatapan yang sama. Oke,
mungkin ini kurang sopan kelihatannya, tapi kan, ya, yang penting aku
bangun.
“Ini!
Cepat mandi sana!” ia memberikanku handuk.
“Iyaa,”
aku menjawab, sedikit malas padahal.
Senin, 04 Januari 2016
#Puisi Dian
Bilang ke ayahmu sana,
Agar kau cepat dicarikan yang sarjana,
Tak mau kan kau bersusah durja?
Tinggal nikah langsung jadi kaya,
Aku bukan kekasih yang sempurna,
Kuliah saja ku tak sanggup biaya,
Hidup luntang lantung sudah biasa,
Hidup miskin namun bersahaja,
Dian,
Dianku,
Kalau selamat tinggal yang jadi maumu,
Silahkan pergi tak usah ragu,
Tak sedikitpun kau tinggalkan rindu,
Usah ku lupa perempuan yang banyak mau,
--Dian pun menikah dengan seorang Pegawai Negeri, dan mantan kekasihnya lanjut berjuang seorang diri. Sepuluh tahun kemudian Dian hidup dalam lilitan hutang karena banyak menunggak cicilan. Gaji suaminya tak mampu bayar semua keinginannya. Dan mantan kekasihnya kini sudah berada. Hasil usaha bahan material yang ia lanjutkan dari bosnya. Dian, oh wanita malang--
#Cerpen Umi
“Nak, kamu harus segera menikah. Ibu
tahu mungkin kamu sibuk, tapi tolonglah.”
Aku membaca SMS itu dengan tangan
bergetar.
“Kamu sudah mulai tua, segera cari
istri.”
Kata-kata itu lagi. Meskipun beliau
adalah Ibuku, tetap saja aku mulai bosan.
“Pokoknya lebaran ini kamu harus
udah bawa calon ya, ibu tunggu.”
Yup, dan Ramadhan sudah lewat 3
hari. Minggu depan aku pulang ke kampung, dan harus membawa calon yang diminta.
Ya Allah, setelah menjadi “fitri” kembali, dapatkah kau “memasangkanku” dengan seorang
Fitri? Atau siapa sajalah. Aamiin.
Minggu, 03 Januari 2016
#Serial Murder Eps. 2
Murder adalah sebuah tes untuk menentukan penjahat terhebat di dunia. Dan Santi adalah salah satu orang yang mengikuti tes terebut. Sebelumnya, ia berhasil membunuh Kumar, seorang "lulusan" Murder yang hidup nomaden.
Namun, Santi tidak menyangka bahwa di tahap selanjutnya, sang ayah Red lah sang lawan yang musti ia hadapi. Akankah ia sanggup melewati tahap ini? Atau sesuatu yang lain akan terjadi?
#Cerpen Undirected
Matahari tersenyum. Aku yang sedang berjalan di trotoar Lebak Bulus menahan senyumnya yang panas. Semua juga tahu, di Ibukota, yang namanya sinar matahari di sini sudah hampir sama panasnya dengan matahari di negeri Arabia. Teriknya menggigit. Kacau.
Sembari menghalau panas, aku memandang sekeliling. Mencari-cari motor bebek 125cc warna merah yang biasa digunakan Matri, pembantuku, untuk menjemputku tatkala pulang sekolah. Kulirik jam tangan, sudah pukul 14.07, seharusnya Matri sudah ada disini tujuh menit yang lalu. Ah,percuma saja menggerutu. Tetap saja hal tersebut tak akan membuat Matri datang lebih cepat ke sini. Kutelpon pembantuku tersebut. Katanya ia sedang di jalan, sebentar lagi sampai. Aku harus menunggu sebentar. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu sambil membaca buku.
Sabtu, 02 Januari 2016
#Puisi Atas Jadi Bawah
Ada kau suruh aku toleran,
Dibawa benci ku pun malahan,
Ada kau suruh aku belajar HAM,
Penyakit baru muncul apa alasan,
Ada kau suruh aku pakai logika,
Kupakai itu kau bilang masih cacat pula,
Ada kau suruh aku beri contoh murni,
Kupakai itu kau bilang cocoklogi,
Maaf, biarkan aku dengan dakwahku,
Maaf, bila azanku mengganggu tidurmu,
Maaf, teroris banyak dicap dari agamaku,
Maaf, bahkan tuk dengar maafku saja pun kau tak mau.
--Selamanya kesombongan itu akan menutup hati. Bukan aku mengada-ada percaya pada kitab suci, namun itu bentuk kesadaranku akan kelemahan akal ini--
#Cerpen Jalan Kita
Rizal mengunyah Spaghetti Aglio Olio-nya dengan lahap. Ia tampak
begitu menikmati hidangan tersebut. Seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya
pun jadi tersenyum.
“Gimana, Zal?”
Yang ditanya memberi isyarat “nanti,
kutelan dulu semua kenikmatan ini” seraya menghabiskan potongan mie
terakhir.
“Masih senikmat 5 tahun yang
lalu, bro.” Ia mengacungkan jempol.
Cafe Never Been better sedang
tidak terlalu ramai pengunjung saat itu. Tempat makan yang terletak di Kemang
tersebut memang letaknya agak terpencil, didempet oleh beberapa ruko. Namun,
bila pengunjung sudah masuk ke dalamnya, niscaya ekor mata mereka akan
dimanjakan oleh desain interior yang sungguh indah.
Never Been Better memang menggunakan barang bekas untuk interior
mereka, namun setelah disulap, barang lepas pakai tersebut bisa menjadi sebuah
keindahan yang memanjakan mata.
Salut untuk konsepnya.
Jumat, 01 Januari 2016
#Cerpen Nina
Waktu membaca: 7-9 menit
“Duh, maaf ya.” Lelaki itu
berkata sembari membantuku mengambil buku-buku yang berjatuhan.
“Hahaha, iya gapapa kok, biasa
terjadi.” Aku mencoba bersikap ramah, meski susah juga karena buku yang
berjatuhan sangat banyak.
“Lain kali gue bakal hati-hati.”
Ujar lelaki itu sambil berjalan lagi, meninggalkanku yang sudah berdiri dan
melihat sedikit punggungnya karena terhalang tumpukan buku di tangan.
Lorong Fakultas Kedokteran UI ini
memang ramai dengan lalu lalang mahasiswa. Aku baru saja dari kelas, dengan
setumpuk buku, ingin menuju halte bus tepat di luar gedung ini. Namun, tanpa
sengaja laki-laki tak dikenal tadi menabrakku hingga jatuh.
Langganan:
Postingan (Atom)













.jpg)



%2B27.jpg)


