Rizal mengunyah Spaghetti Aglio Olio-nya dengan lahap. Ia tampak
begitu menikmati hidangan tersebut. Seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya
pun jadi tersenyum.
“Gimana, Zal?”
Yang ditanya memberi isyarat “nanti,
kutelan dulu semua kenikmatan ini” seraya menghabiskan potongan mie
terakhir.
“Masih senikmat 5 tahun yang
lalu, bro.” Ia mengacungkan jempol.
Cafe Never Been better sedang
tidak terlalu ramai pengunjung saat itu. Tempat makan yang terletak di Kemang
tersebut memang letaknya agak terpencil, didempet oleh beberapa ruko. Namun,
bila pengunjung sudah masuk ke dalamnya, niscaya ekor mata mereka akan
dimanjakan oleh desain interior yang sungguh indah.
Never Been Better memang menggunakan barang bekas untuk interior
mereka, namun setelah disulap, barang lepas pakai tersebut bisa menjadi sebuah
keindahan yang memanjakan mata.
Salut untuk konsepnya.
“Gua masih inget 5 tahun yang
lalu pas lu pertama kali nyobain restoran gua. Haha, lu awalnya pesimis dan
nolak-nolak...”
Rizal memotong. “...Tapi ternyata
itu jadi penyesalan terbesar dalam hidup gue. Ketagihan gua bro dateng ke sini.”
Teman duduknya itu tersenyum lagi.
“Apa kabar temen-temen yang lain?”
Rizal bertanya.
“Well, semenjak lu pergi, gua
udah jarang ngontak mereka lagi, bro. Kinan ngembil S3 di Jepang, Raras jadi
desainer di Pekalongan, Ari lanjut ke Papua buat ngabdi jadi Dokter di sana.”
Rizal termenung sejenak. Teringat
nama-nama yang baru saja disebutkan oleh sahabat karibnya.
“Dan usaha lo makin maju, Ris.”
Ujarnya.
“Ya alhamdulillah deh.” Harris,
sang pemilik restoran berkata.
“Gak kerasa memang.”
Pikiran Rizal mengembara.
***
Lima tahun yang lalu, mereka
semua berkumpul.
Ada 5 orang sahabat; Rizal,
Harris, Ari, Kinan dan Raras. Mereka sudah berteman sejak SMP. Bahkan kini,
ketika usia mereka sudah 24 tahun, semua masih saja berteman dekat.
Harris yang berbadan paling
atletis di antara mereka, Rizal yang kedua. Ari yang straight dalam
menajalani hidup, yang beberapa tahun lagi akan selesai kuliah kedokterannya.
Lalu Kinan yang jenius, serta Raras yang ambisius.
Awalnya, mereka biasa berkumpul
di Rolling Stone Cafe di Ampera.
Namun, begitu Harris membuka Kafenya di daerah yang sama, mereka langsung
berubah haluan nongkrong. Kafe Never Been Better milik Harris lah kini
yang menjadi basecamp mereka, tepat 5 tahun yang lalu.
“Guys.” Rizal membuka percakapan
saat mereka sedang berkumpul di Never Been Better.
Semua mata menengook ke arahnya.
“Gua tau kita udah temenan lama
banget. Suka duka kita lewatin bareng-bareng.”
Entah mengapa suasana menjadi
sunyi. Apa yang ingin Rizal sampaikan?
“Gua mau pamit.”
Semua saling pandang satu sama
lain.
“Lo mau ke mana, Zal?” Raras yang
bertanya.
Rizal tak berkata apa-apa lagi,
kecuali melemparkan sebuah surat tugas berlogo LAPAN dan berstempel Istana
Negara.
Suasana senyap, sebelum 3 detik
kemudian Rizal memecah situasi.
“Gua keterima, Guys! Doain gue! Dua
minggu lagi gua bakal ngelaksanain tugas berat dari Presiden buat menjelajah
ruang angkasa.”
Rizal berkata sambil meneteskan
air mata. Terharu. Bersemangat. Entah apalagi namanya.
“Gila! Selamat bro!” Harris
memeluk Rizal.
“Ke Luar Angkasa, Zal?! Wah, gua
harus nitip oleh-oleh nih!” Raras berdiri dengan semangat.
“Haha!”
LAPAN, atau Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional, adalah NASA-nya Indonesia. Sebuah badan yang kini akan
mulai mengambil langkah maju—mengikuti Negara-negara hebat yang telah duluan
mengirim manusia ke luar angkasa.
Rizal, memang bekerja di LAPAN
sebagai Pilot. Teman-temannya tahu itu, namun, sebuah misi ke luar angkasa
adalah kali pertama bagi Indonesia saat ini.
“Misi apaan, Zal?” Tanya Ari.
“Itu dia, Ri.”
Suasana senyap kembali.
“Misi gua kali ini yaitu ke salah
satu satelit Mars, Phobos. Kita berencana meneliti bebatuan yang ada di
sana, karena dugaan kita ada unsur baru yang belum kita ketahui di tabel
periodik, dan unsur itu ada di bebatuan di sana.”
Rizal menjelaskan. Harris, yang
adalah seorang bussiness-man dan tidak mengerti tetek-bengek IPA
berkata. “Whatever lah. Kembali dengan selamat, bro!”
“Hehe. Gua belom selesai, Ris.”
Yang dikata menatap lagi temannya
dengan serius.
“Gua pamit, karena mungkin misi
ini membutuhkan waktu bertahun-tahun di luar sana. Dan mungkin, gua gak bisa
ketemu kalian dulu dalam waktu yang lama.”
Semua terdiam.
“Bro.” Ari memecah kesunyian.
“It’s okay. Godd luck.”
Rizal tersenyum.
***
“Jadi, abis kumpul waktu itu,
kita pun berencana buat gak ketemu dulu, karena mungkin ya, kita butuh suasana
yang baru.”
Harris menjelaskan kepada Rizal.
“Oh begitu, hehe, jadi merasa
bersalah kan.”
Harris menggelengkan kepala.
“Enggak, bro, justru berkat
kepergian lu kita jadi sadar, bahwa umur kita makin tua, dan gak cocok lagi
buat terus-terusan nongkrong ala ABG. Jadi, kita memutuskan untuk mengambil
jalan masing-masing. Dan mungkin, dalam beberapa tahun ini kita bakal reuni.”
“Tau gak Ris? Gua udah menghabiskan
5 tahun yang sia-sia di luar angkasa tanpa kalian. Serius. Dan sekarang, begitu
gua bisa kembali ke Bumi lagi, gua pengen banget ketemu sama kalian buat balas
dendam sama kangen itu.”
Rizal memandang Harris dengan
tatapan yang penuh makna.
***
Ketika masuk ke lapisan Mesosfer,
70 km dari Bumi, yang ada di pikiran Rizal adalah teman-temannya. Mungkin suatu
saat ketika perjalanan komersial ke luar angkasa sudah lazim dan terjangkau, ia
bisa membawa teman-temannya ke sini.
Sebelum berangkat dari Lapangan Penerbangan
milik LAPAN di Majalengka, teman-temannya datang untuk melepas Rizal. Mereka pasti
sibuk, namun demi teman, mereka rela mengorbankan waktu yang mereka miliki
untuk sekedar memberi dukungan dan melepasnya.
Terutama Kinan. Wanita itu sebenarnya
sudah lama ia taksir. Tetapi sampai detik-detik sebelum lepas landas pun ia masih belum bisa mengungkapkannya.
Kinan sejak dulu pasti juga sudah tahu gerak-gerik dari Rizal. Dan diam-diam
sang gadis juga pasti memiliki rasa yang sama.
Sebelum berangkat, Kinan berkata
bahwa ia akan mengambil S3 di Jepang. Ia ingin mengejar cita-cita menjadi
profesor. Sebagaimana Rizal yang telah menjadi seorang Astronout. Rizal sempat
bilang bahwa ia sangat mendoakan cita-cita Kinan tersebut dan mendukungnya.
“Lo pasti bisa, Nan. Gua tunggu
pas balik dari sana (menunjuk langit) semoga lu juga udah selesai studinya dan
menyandang gelar profesor.”
Kinan tersenyum.
“Janji ya, lo pasti balik.”
“Gua janji.”
Dan kepada semua teman-temannya,
Rizal mengatakan hal yang serupa.
***
“Nambah lagi deh Ris. Haha,
ketagihan gua.” Rizal menyodorkan piring kosong bekasnya makan.
“Selaaw, demi seorang teman baik,
restoran gue siap selalu.”
Tak lama, pelayan datang dan
membawa seporsi lagi Spaghetti Aglio Olio kesukaan Rizal.
***
Rombongan Alpha-Nusantara X1 mendarat
dengan mulus di Phobos setelah melakukan perjalanan selama 2 tahun. Dalam
masa yang lumayan lama itu mereka menghabiskan waktu dengan berbagai hal
produktif yang bisa dilakukan di pesawat.
Semenjak tahun 2017 (tahun lalu),
memang perjalanan ke Mars bukan lagi hal baru bagi manusia. NASA telah memulai
dan mereka berhasil. Beberapa instrumen penelitian dijalankan. Kini, Indonesia
mengambil alih kemajuan dengan mendaratkan awak manusia ke Phobos.
Rizal dan 3 kru lain yang
mengikuti misi ini telah bersiap. Pesawat mereka mendarat di bebatuan halus di
dekat “Stickey”, sebuah kawab besar yang ada di satelit Mars tersebut.
Satu langkah berhasil, kini,
mereka menuju langkah berikutnya. Mencari bebatuan yang mengandung unsur baru.
***
“KEJUTAAAAN!!”
Dari dalam dapur, tiba-tiba muncul
sahabat-sahabat karib Rizal yang lain.
Ada Ari dan Raras. Mereka membawa
kue besar bertuliskan “selamat datang kembali” dan meniup-niup terompet.
Rizal terkaget-kaget bahagia
melihat kejutan yang dibuat temannya tersebut, Sial, ini pasti ulah Harris, kutuknya
dalam hati. Namun tak mengapa, ia sesungguhnya sangat senang melihat
teman-temannya kembali.
“Gila, bro astronout kita makin tinggi
aja nih abis pulang dari Mars!”
Ari memeluk Rizal. “Haha, Phobos
bro, tepatnya.”
“Yah, intinya di sono lah.”
“Haha.”
“Wihh, Raras udah jadi pengusaha
batik ya sekarang.”
Rizal memuji.
“Gua cuma desainer aja keleus. Yang
pengusaha mah tuh si Harris.” Elak Raras merendah.
Rizal tertawa-tawa.
Tapi tunggu, di mana Kinan?
“Kinan mana bro?” Tanya Rizal.
Semua jadi senyap.
“Kinan masih di Jepang bro, doi
gak bisa dateng pas gua kontak, sori ya.” Harris menjelaskan ketidak-beradaan
gadis favorit Rizal.
“Ohh, ya okelah.” Ujar sang
Astronout, menyembunyikan sedikit kekecewaannya.”
“Eh, ini mending kita potong dulu
kuenya yuk!” Ajak Raras, mencairkan situasi.
“Ayoooo!” Sambut Ari, meski air
muka Rizal masih memperlihatkan ekspresi cemberut atas ke-absenan Kinan.
***
Setelah meneliti sekitar 2
minggu, ilmuwan Indonesia yang berada di Phobos mendapatkan sekitar 12
sampel bebatuan baru. Namun ternyata, hasilnya nihil. Semua bebatuan tersebut
bukanlah yang selama ini mereka cari.
Rizal mengusulkan untuk mencari
ke dalam kawah Stickey lebih dalam. Namun tentu saja hal tersebut
beresiko mengingat mereka tidak tahu medan yang akan mereka hadapi. Masalahnya,
kemungkinan besar batuan tersebut berada di dalamnya.
“Gimana? Kita harus ambil resiko
ini kalau mau misi kita berhasi.”
Setelah perundingan yang alot
sekitar 4 hari, akhirnya mereka pun memutuskan untuk tetap masuk ke dalam, demi
kesuksesan misi, demi kejayaan Indonesia.
Alpha-Nusantara X1 pun
akhirnya melaju ke dalam stickey.
Ketika Rizal sedang memotong kue,
tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang.
“Woy Ris, gak lucu ah, gua lagi
motong kue nih!” Rizal sedikit emosi menanggapi candaan temannya. Ia memang
masih kesal dengan ketidak-lengkapan mereka. Padahal yang selama ini ia tunggu
adalah Kinan. Gadis pujaan hatinya.
“KEJUTAAAN!!”
Teriak seseorang yang menutup
matanya itu.
Rizal pun menengok ke belakang.
“KINAAN!”
Sang gadis tersenyum sangat
manis.
“Gue dateng kok. Ambil penerbangan
tercepat dari Tokyo. Hahaha.”
Rizal memeluk gadis itu dengan
erat.
“Wah, sialan lu semua! Ketipu dua
kali deh gue!” Rizal berkata pada teman-teman dekatnya tersebut.
“Hehehe. Ini balasan kita akibat
lu yang dulu juga bikin kaget kita kalo lo bakal pergi mendadak.”
“Hahaha! Oke, kalian semua memang
yang terbaik!”
***
Alpha-Nusantara X1 memasuki
stickey dengan hati-hati. Suasana sangat gelap dan mencekam. Pesawat ulak-alik
tersebut berjalan perlahan dan stabil.
“Dua kilometer di depan nanti
kita berhenti buat mengambil sampel.” Ujar Rizal memberi arahan.
Namun belum sampai jarak yang
ditentukan tersebut, sebuah badai datang menghampiri.
***
Setelah acara makan-makan kue
selesai, Rizal mengajak Kinan jalan-jalan ke Lippo Kemang. Hanya mereka berdua,
tanpa kehadiran teman-teman yang lain.
“Ciee cieee.” Harris di belakang
sudah menyahut-nyahut saja ketika mereka ingin berangkat.
“Kami merestui kalian!” Tambah
Raras.
“Ih apasih?” Wajah Kinan memerah.
Ia segera menaiki motor Rizal, pria yang sejak dulu juga ia idam-idamkan.
“Haha, ditunggu undangannya!”
“Ciee.”
“Uhuuy.”
Tampaknya, sifat kekanak-kanakan
mereka muncul lagi. Hobi menjodoh-jodohkan teman.
“Pegangan yang erat, Nan.” Ucap
Rizal lembut.
Kinan mengangguk.
Motor mereka pun melaju pelan di
jalanan Kemang yang teduh. Sepanjang jalan, Kinan memeluk dengan erat Rizal,
seakan tak mau lelaki tersebut pergi darinya.
***
Rizal menarik napas dengan
terengah-engah. Oksigen di tabungnya sudah menipis. Hanya cukup untuk bertahan
beberapa detik saja. Badai yang barusan menerjang Alpha-Nusantara X1 benar-benar
merusak. Pesawat tersebut hancur berkeping-keping.
Rizal sempat memakai baju
daruratnya dan keluar dari pesawat sebelum ia meledak. Kru yang lain mungkin
tidak selamat. Hanya ia yang kini beradu dengan maut.
Menghirup oksigen di saat-saat
terakhirnya.
***
“Aku cinta kamu, Kinan, ayo kita
menikah.”
Kinan mengangguk kecil sambil
masih memeluk Rizal dengan erat.
“Aku juga cinta...”
***
“Aku juga cin...”
Kesadaran Rizal menipis dengan
cepat. Di tengah phobos, di dalam gelapnya stickey, bayangan
tentang ia dan Kinan terasa sangat amat jelas.
Rizal tersenyum dalam
imajinasinya tersebut.
Sebelum kesadarannya benar-benar
hilang.
Pergi.
Tamat
Pondok Petir, 2 Januari 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar