Waktu membaca: 6-8 menit
Masih
ada 65 persen rakyat Indonesia yang lahir, tumbuh, dan besar di daerah
Pedesaan. Hidup tanpa asap kendaraan di sana-sini, tanpa sering-sering melihat
orang berdasi. Mereka hidup dengan teknologi dan fasilitas yang cukup, atau
kadang tertinggal. Sebagian memandang bahwa mereka ketinggalan jaman.
Dikarenakan jauh dari kemajuan yang sangat cepat di era globalisasi ini.
Namaku
Zahra. Mahasiswi Post-graduate di Massachutes Institute of Technology, MIT.
Kalau Indonesia punya ITB, dunia ini punya MIT. Begitulah kira-kira gengsi
kampusku.
Dan
aku, adalah “mereka” juga. Orang ketinggalan jaman yang hidup di pedesaan,
sampai takdir memilihku untuk jadi seperti sekarang.
Lupakan
sejenak “sekarang”. Mari berkelana ke masa di mana aku tumbuh di desa. Ke
tempat paling damai yang bisa kutemukan di muka bumi. Tempat di mana
orang-orang besar itu tumbuh. Desa, di manapun itu, selalu melahirkan para
pejuang. Sukarno tumbuh di desa. Mathama Gandhi tumbuh di desa. Nabi Muhammad,
meski lahir di kota, dikirim oleh ibunya untuk disusui di desa. Tumbuh di sana
hingga umur 6 tahun.
Nama
Desaku Sukamandi Besar. Jangan ngeres. Karena ada juga Desa Sukamandi Kecil.
Itu dikarenakan posisi kami yang lebih dekat dengan Ibukota Kecamatan,
sementara Desa kecil (begitu kami biasa menyebutnya) terletak di sisi lain
bukit. Agak jauh dan terpencil. Ya begitulah kira-kira alasannya.
Meski
begitu, desa kami juga tidak besar-besar amat. Hanya berpenduduk 500 orang. Jadilah
aku mengenal hampir seluruh pendukuki desa. Ada 60 KK. Karena rata-rata satu
keluarga di sini beranggotakan 6 anak atau lebih. Biasalah, mungkin orang tua
kami kekurangan hiburan. Atau belum biasa dengan pil kontraksi.
Saat
itu aku berusia 8 tahun.
Dan
seperti lazimnya anak kecil lain, aku belajar mengaji di TPA tiap sore. Aku dan
lima orang teman perempuanku yang lain selalu berangkat bersama. Ya seperti
juga lazimnya anak kecil lain. Anak perempuan punya kelompoknya sendiri, begitu
pula dengan laki-laki.
Pandu,
nama ketua mereka. Kami seumuran. Pandu tinggal persis di samping rumahku. Kami
lahir hanya beda enam hari. Aku tanggal 21 Agustus, dia tanggal 27-nya. Aku
biasa bercanda dengannya sambil menyodorkan tangan ”sini salim dulu sama kakak”,
dan dia biasanya akan langsung memelet lidah yang artinya ”enak saja”. Lalu
kami diam-diaman selama tiga hari.
Meski
aku dan Pandu punya kelompok main masing-masing, kami selalu bertemu tatkala
ingin berangkat sekolah, atau main di sore hari. Ya, ketika aku keluar rumah,
entah mengapa ia keluar di saat bersamaan. Hanya kebetulan kok. Ya, kebetulan
yang selalu berulang tiap harinya.
Dulu
kami selalu bersebrangan hampir dalam semua hal. Biasalah, konflik anak-anak. Aku
tidak pernah akur dengan Pandu. Musuh. Namun dalam dunia anak-anak, musuh juga
adalah teman. Kami sering berantem, namun tak memendam dendam.
“Hei!
Lihat-lihat dong kalo nendang!” Aku protes karena bola hasil tendangannya
mengenaiku yang sedang bermain di teras masjid TPA kami.
“Yee,
bukan salah gua! Emang angin aja yang ke arah situ!” Bukannya minta maaf, anak
itu malah balik marah-marah padaku.
“Huh!”
Biasanya kalau sudah begitu, aku yang harus mengalah dan pergi.
Kami
punya kakak-kakak. Bukan kakak kandung, namun kakak yang mengajardi TPA. Mereka
asalnya dari Pesantren di desa lain. Tiap sore, mereka akan datang ke Desa kami
untuk mengajar TPA. Semuanya laki-laki. Dan ganteng-ganteng pula. Itulah mengapa
di TPA kami 70 persen muridnya adalah anak perempuan. Ehe.
Ketua
mereka namanya Kak Dayat. Dia juga adalah kakak favoritku. Uhm, bahkan mungkin
favorit seluruh anak perempuan. Dari ke-9 kakak yang lain, menurutku kakak ini
adalah yang paling dewasa dan pintar. Selain itu, doi juga murah senyum dan
baik hati. Itulah yang menjadikannya sangat mudah disukai oleh siapapun.
Tapi
beda lagi dengan anak laki-laki. Pandu cs lebih dekat dengan Kak Azam. Doi memang
agak “nyentrik” sih, dan suka mengajarkan hal-hal aneh kepada anak-anak, sepeti
makan cacing, coli—aku tidak tahu apa artinya itu sampai aku beranjak dewasa,
dan lain sebagainya.
Kak
Azam dibenci oleh semua anak perempuan, meski tak dapat dipungkiri bahwa ia
juga pintar. Kudengar ia sering menulis dan suka menang berbagai lomba. I dunno
further.
“Hey,
sini kalian.” Kak Azam memanggil kami, 3 anak perempuan untuk menghadapnya.
“Jangan
lupa, sebelum tidur, cium tangan Bapak-Mama. Oke?”
Satu
lagi, Kak Azam juga sering menyuruh kami sesuatu yang unik. Seperti barusan. Ada-ada
saja, mau tidur harus cium tangan dulu.
Kami
pun mengangguk terpaksa. Besoknya, Kak Azam akan menghukum siapa saja yang
tidak melaksanakan perintahnya, lalu memaksa kami untuk berjanji. Huh,
deskriminatif sekali, meski dalam kebaikan.
Pernah
suatu ketika, saat aku kelas 4 SD, Pandu memasukkan cacing ke dalam bajuku saat
di sekolah. Aku kan panik. Langsung refleks membuka kancing baju sambil
menghadap tembok. Mencoba mengeluarkan cacing tersebut.
Nahasnya,
bu guru datang saat itu. Pandu pun kena marah setelah anak-anak perempuan
menceritakan kejadian tersebut.
Aku?
Di satu sisi, aku malu bukan main. Marah terhadap Pandu, dan berjanji untuk
tidak pernah berurusan lagi dengannya.
Titik.
Namun
di sisi lain, begitu mengetahui bahwa ia dihukum keliling lapangan 20 kali tiap
hari selama satu bulan, membuatku iba. Pandu, setahuku mempunyai asma. Namun ia
begitu tegar dan tak mau menyerah dalam menjalani hukumannyba.
Tiap
20 putaran, ia selalu meninju udara, senang karena berhasil. Tampaknya, ia
senang karena bisa berjuang melawan penyakitnya, dan aku kagum.
Ya,
aku kagum akan kegigihan tersebut. Begitu melihatnya selesai berlari dan
meninju udara seperti biasa, aku psati tersenyum. Senyum yang tulus karena
menghargai perjuangannya yang tak kenal menyerah. Tetapi begitu ia melihat ke
arahku, aku langsung masam kembali.
Huh!
Malu banget lagian sampe terpaksa buka baju! Dasar anak edan!
Tapi
aku suka.
Ehe.
Satu
bulan berlalu, dan entah mengapa bila tiba siang hari, saat aku melihat ke
lapangan sekolah, aku selalu melihat sosoknya yang sedang berlari dalam imajinasiku.
Pandu terlihat sangat nyata, terutama di bagian ketika ia meninju udara. Ah,
kangen rasanya.
Ternyata,
beberapa anak perempuan menceritakan kejadian di sekolah tersebut kepada
Kakak-kakak. Bahwa Pandu mengerjaiku dan ia dihukum lari 20 putaran lapangan
tiap hari selama sebulan.
Setelah
itu, kulihat Pandu mendapat perhatian khusus oleh Kak Azam. Hampir tiap hari,
kulihat mereka mengobrol dan bersama. Aku tidak ingin “kepo” masalah tersebut,
namun yang jelas, tampaknya Kak Azam dapat mengontrol Pandu. Ya, sepertinya ia
adalah spesialis pendekatan terhadap anak-anak yang bandel seperti Pandu.
Sudah
lewat sebulan, dan aku masih diam-diaman dengan Pandu. Masih trauma akibat
kejadian di sekolah waktu itu.
Kulihat Pandu
tampaknya tidak nyaman dengan kondisi kami. Aku juga sebenarnya tidak nyaman
sih, kan, kita tiap hari ketemu. Rumahnya di samping rumahku, tiap aku keluar
dia keluar. Semacam ada “kekakuan sosial” di antara kami berdua.
Setelah
pas 1 bulan 4 hari—aku mencatatnya dalam
diariku, hehe—akhirnya Pandu menghampiriku, membawa bunga sambil meminta maaf.
Ya! Membawa bunga putih! Hal itu dilakukannya saat pulang sekolah. Saat di
tikungan menuju rumah kami, karena hanya di jalan tersebut teman-teman sudah
beda arah, dan kami hanya tinggal berdua.
“Zahra,
artinya bunga. Lihat, bunga ini saja mau tersenyum padaku, masa kau tidak.”
Aku
tidak tahu dari mana ia bisa merangkai kata-kjata tersebut! Namun aduhai!
“Hai
bunga, maukah kau rayu saudarimu itu untuk memaafkanku?”
Bayangkan!
Perempuan mana yang tidak luluh hatinya mendengar kalimat tersebut!
“Sungguh?
Kau benar, bunga, mungkin ia perlu waktu untuk memikirkannya. Apa? Kau mau
bersamanya? Baiklah, mungkin kalian bisa mengobrol berdua agar ia bisa
menyampaikan perasaannya padamu.”
Pandu
memberikanku bunga tersebut, dan meninggalkanku. Ya, ia menaruh sang bunga
begitu saja. Aku terdiam. Heran dan takjub.
Yang
pasti, hari-hari esok aku selalu senyum-senyum sendiri.
***
Bandara
Sam Ratulangi, Manado, nampak ramai. Akhirnya aku sampai juga setelah bertolak
dari Amerika sampai Soe-ta, dan melanjutkan perjalanan dengan penerbangan
domestik dari Jakarta. Aku baru saja menginjakkan kaki lagi di Tanah air,
setelah 2 tahun tidak pulang karena masalah biaya.
Untunglah,
tahun ini bos magangku berbaik hati memberikanku bonus sehingga aku bisa
pulang. Sungguh baik beliau.
Aku
menarik koper biruku dan berjalan ke arah pintu keluar. Ah, aku benar-benar
rindu dengan negara ini. Baunya masih sama, bau-bau hijau. Entahlah, aku juga
tak mengerti apa artinya.
“Zahra!”
Seseorang memanggilku dari kerumunan penyambut di bandara.
Aku
menengok ke arahnya. Ya, itulah dia, sosok lelaki yang sangat kucintai.
Ia
datang menjemputku.
***
Aku
baru tahu! Ternyata dari situ Pandu belajar!
Selama
ini, alasan mengapa obrolan Pandu dan Kak Azam tampak begitu seru ternyata
adalah hal ini. Ya! Pandu belajar dari Kak Azam. Alamak!
Esoknya,
kukembalikan saja bunga itu padanya. “Aku sudah ngobrol sama dia—si bunga—nih kukembalikan.
Dia kangen sama kamu.”
Pandu
celingukan. “Kamu maafin?”
Aku
berbalik menengok ke arahnya.
“Kalo
gak aku maafin ya aku gak bakal bicara sama kamu sekarang.”
Aku
berbalik lagi untuk pergi. Dan usdah dapat kupastikan, di belakangku, Pandu
meninju udara.
Aku?
Ya senyum-senyum sendiri.
Ehe.
***
Kak
Dayat dan kawan-kawan hanya mengajar kami satu tahun. Itu artinya tahun depan
akan ada kakak-kakak pengganti. Jujur saja aku akan merindukan mereka. Namun life
changes, kita akan selalu mendapatkan dan kehilangan. Itulah hidup.
Aku
mulai suka sains semenjak bangku SMP. Sayangnya, SMP ada di kecamatan, jaraknya
lumayan jauh dari desaku. Ya, lumayan kalau mau 1 jam berjalan kaki.
Orang
tuaku tidak bisa membantu banyak. Untunglah, aku punya tabungan sejak SD. Hasil
dari tabunganku itu (ditambah beberapa ratus ribu lagi dari sumber yang
kurahasiakan) aku bisa membeli sepeda bekas. Dengan kereta angin tersebut,
waktu tempuhku ke sekolah jadi lebih cepat. Bisa kupangkas separuhnya. Jadilah aku
bersekolah dengan rajin.
Beres
SMP, aku melanjutkan ke SMA favorit di Ibukota. Bukan Jakarta, tapi Manado. Ibukota
provinsi maksudku. Untunglah di sana ada pamanku yang punya sebuah toko
kelontong. Aku biasa bekerja padanya untuk masalah pencatatan sehabis pulang
sekolah, sekaligus menumpang tinggal di rumahnya.
Di
jenjang ini, ketertarikanku pada sains makin menguat. Aku ikut ajang olimpiade
nasional cabang fisika dan memperoleh juara. Setelah itu, aku pun maju ke dalam
ajang internasional di Singapore dan berhasil lagi.
Terhitung
sudah 4 kali aku ikut lomba serupa, dan menang.
Tawaran
beasiswa dari Perguruan Tinggi Negeri pun berdatangan. Mereka bersedia
menjaminku begitu aku lulus dari SMA. Hmm, menarik, kan?
Namun
ternyata takdir berkata lain, di lomba yang kelima, IPhO (International Physics
Olympiad) tahun 2009 di Merida, Meksiko, aku bertemu dengan salah satu dosen
MIT. Beliau juga bekerja di salah satu penyelenggara beasiswa untuk mahasiswa
Post-Graduate di sana.
Kami
pun mengobrol banyak. Ia tertarik dengan kepribadianku yang polos dan berasal
dari daerah terpencil di Indonesia. Aku juga bercerita banyak tentang
mimpi-mimpiku.
Setelah
itu, kami bertukar kontak. Meski tidak juara, aku tetap bersyukur.
Tiga
bulan kemudian, tepat sebulan sebelum Ujian Nasional SMA, aku mendapat kabar
dari beliau—si dosen MIT itu. Katanya, aku bisa ikut meng-apply beasiswa ke
sana, dan mendapat rekomendasi langsung darinya. Wow! Tentu aku sangat senang
dong. Tak perlu waktu lama, aku segera apply, dan berkat izin Tuhan, aku
berhasil masuk ke ITB-nya dunia tersebut.
Hamdalah
bersama-sama.
***
“Kakak
sehat?”
“Selalu,
kamu?”
“Sama.”
“Hehe.”
“Kita
langsung pulang, kan?”
“Ya,
memangnya mau langsung ke KUA, enggak kan?”
Aku
meninju pria tersebut dengan gemas. Dasar pujangga, ia selalu berhasil memilin
hatiku dengan kata-katanya. Ia, pria yang sangat kucintai, yang 2 minggu
sebelum kepulanganku ini datang ke rumah, meminta izin kepada bapak untuk
menikahiku.
Kini,
aku pulang. Satu, memang untuk melepas rindu dengan keluarga. Dua, bisa jadi juga
untuk membangun sebuah keluarga baru bersamanya. Hehe.
Kami
pun segera menuju mobil Kak Azam di parkiran bandara.
Setelah
ini, kejutan apalagi yang akan terjadi dalam hidup?
***
Azam Rofiullah, 2016
Cerita ini belum selesai.
Di sudut sawah itu, seorang
laki-laki tampak bahagia sambil meniup serulingnya. Ia memainkan lagu-lagu
indah ciptaan penyair daerahnya. Di samping pria tersebut, terduduklah sebuah
bunga putih yang sudah layu.
Bunga yang indah.
Bunga yang dahulu pernah ia
berikan kepada seorang gadis.
Seorang gadis yang kini sudah
sangat jauh dari genggamannya.
Ah, salahnya sendiri, mengapa
tak belajar giat, berusaha, hingga sukses?
Selepas SD, kerjaannya hanya
di sawah.
Salah besar.
Salah besar karena ia tak mau
belajar.
Jatuh miskinlah ia.
Bahkan untuk menjemput gadis
tersebut di bandara saja tidak bisa.
Bahkan untuk menjemput Zahra,
gadis yang dicintainya.
Tamat.
.jpg)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus