Kamis, 07 Januari 2016

#Cerpen Menjemput Zahra


Waktu membaca: 6-8 menit
Masih ada 65 persen rakyat Indonesia yang lahir, tumbuh, dan besar di daerah Pedesaan. Hidup tanpa asap kendaraan di sana-sini, tanpa sering-sering melihat orang berdasi. Mereka hidup dengan teknologi dan fasilitas yang cukup, atau kadang tertinggal. Sebagian memandang bahwa mereka ketinggalan jaman. Dikarenakan jauh dari kemajuan yang sangat cepat di era globalisasi ini.
Namaku Zahra. Mahasiswi Post-graduate di Massachutes Institute of Technology, MIT. Kalau Indonesia punya ITB, dunia ini punya MIT. Begitulah kira-kira gengsi kampusku.
Dan aku, adalah “mereka” juga. Orang ketinggalan jaman yang hidup di pedesaan, sampai takdir memilihku untuk jadi seperti sekarang.
Lupakan sejenak “sekarang”. Mari berkelana ke masa di mana aku tumbuh di desa. Ke tempat paling damai yang bisa kutemukan di muka bumi. Tempat di mana orang-orang besar itu tumbuh. Desa, di manapun itu, selalu melahirkan para pejuang. Sukarno tumbuh di desa. Mathama Gandhi tumbuh di desa. Nabi Muhammad, meski lahir di kota, dikirim oleh ibunya untuk disusui di desa. Tumbuh di sana hingga umur 6 tahun.
Maka banggalah kalian yang tumbuh di desa.
Nama Desaku Sukamandi Besar. Jangan ngeres. Karena ada juga Desa Sukamandi Kecil. Itu dikarenakan posisi kami yang lebih dekat dengan Ibukota Kecamatan, sementara Desa kecil (begitu kami biasa menyebutnya) terletak di sisi lain bukit. Agak jauh dan terpencil. Ya begitulah kira-kira alasannya.
Meski begitu, desa kami juga tidak besar-besar amat. Hanya berpenduduk 500 orang. Jadilah aku mengenal hampir seluruh pendukuki desa. Ada 60 KK. Karena rata-rata satu keluarga di sini beranggotakan 6 anak atau lebih. Biasalah, mungkin orang tua kami kekurangan hiburan. Atau belum biasa dengan pil kontraksi.
Saat itu aku berusia 8 tahun.
Dan seperti lazimnya anak kecil lain, aku belajar mengaji di TPA tiap sore. Aku dan lima orang teman perempuanku yang lain selalu berangkat bersama. Ya seperti juga lazimnya anak kecil lain. Anak perempuan punya kelompoknya sendiri, begitu pula dengan laki-laki.
Pandu, nama ketua mereka. Kami seumuran. Pandu tinggal persis di samping rumahku. Kami lahir hanya beda enam hari. Aku tanggal 21 Agustus, dia tanggal 27-nya. Aku biasa bercanda dengannya sambil menyodorkan tangan ”sini salim dulu sama kakak”, dan dia biasanya akan langsung memelet lidah yang artinya ”enak saja”. Lalu kami diam-diaman selama tiga hari.
Meski aku dan Pandu punya kelompok main masing-masing, kami selalu bertemu tatkala ingin berangkat sekolah, atau main di sore hari. Ya, ketika aku keluar rumah, entah mengapa ia keluar di saat bersamaan. Hanya kebetulan kok. Ya, kebetulan yang selalu berulang tiap harinya.
Dulu kami selalu bersebrangan hampir dalam semua hal. Biasalah, konflik anak-anak. Aku tidak pernah akur dengan Pandu. Musuh. Namun dalam dunia anak-anak, musuh juga adalah teman. Kami sering berantem, namun tak memendam dendam.
“Hei! Lihat-lihat dong kalo nendang!” Aku protes karena bola hasil tendangannya mengenaiku yang sedang bermain di teras masjid TPA kami.
“Yee, bukan salah gua! Emang angin aja yang ke arah situ!” Bukannya minta maaf, anak itu malah balik marah-marah padaku.
“Huh!” Biasanya kalau sudah begitu, aku yang harus mengalah dan pergi.
Kami punya kakak-kakak. Bukan kakak kandung, namun kakak yang mengajardi TPA. Mereka asalnya dari Pesantren di desa lain. Tiap sore, mereka akan datang ke Desa kami untuk mengajar TPA. Semuanya laki-laki. Dan ganteng-ganteng pula. Itulah mengapa di TPA kami 70 persen muridnya adalah anak perempuan. Ehe.
Ketua mereka namanya Kak Dayat. Dia juga adalah kakak favoritku. Uhm, bahkan mungkin favorit seluruh anak perempuan. Dari ke-9 kakak yang lain, menurutku kakak ini adalah yang paling dewasa dan pintar. Selain itu, doi juga murah senyum dan baik hati. Itulah yang menjadikannya sangat mudah disukai oleh siapapun.
Tapi beda lagi dengan anak laki-laki. Pandu cs lebih dekat dengan Kak Azam. Doi memang agak “nyentrik” sih, dan suka mengajarkan hal-hal aneh kepada anak-anak, sepeti makan cacing, coli—aku tidak tahu apa artinya itu sampai aku beranjak dewasa, dan lain sebagainya.
Kak Azam dibenci oleh semua anak perempuan, meski tak dapat dipungkiri bahwa ia juga pintar. Kudengar ia sering menulis dan suka menang berbagai lomba. I dunno further.
“Hey, sini kalian.” Kak Azam memanggil kami, 3 anak perempuan untuk menghadapnya.
“Jangan lupa, sebelum tidur, cium tangan Bapak-Mama. Oke?”
Satu lagi, Kak Azam juga sering menyuruh kami sesuatu yang unik. Seperti barusan. Ada-ada saja, mau tidur harus cium tangan dulu.
Kami pun mengangguk terpaksa. Besoknya, Kak Azam akan menghukum siapa saja yang tidak melaksanakan perintahnya, lalu memaksa kami untuk berjanji. Huh, deskriminatif sekali, meski dalam kebaikan.
Pernah suatu ketika, saat aku kelas 4 SD, Pandu memasukkan cacing ke dalam bajuku saat di sekolah. Aku kan panik. Langsung refleks membuka kancing baju sambil menghadap tembok. Mencoba mengeluarkan cacing tersebut.
Nahasnya, bu guru datang saat itu. Pandu pun kena marah setelah anak-anak perempuan menceritakan kejadian tersebut.
Aku? Di satu sisi, aku malu bukan main. Marah terhadap Pandu, dan berjanji untuk tidak pernah berurusan lagi dengannya.
Titik.
Namun di sisi lain, begitu mengetahui bahwa ia dihukum keliling lapangan 20 kali tiap hari selama satu bulan, membuatku iba. Pandu, setahuku mempunyai asma. Namun ia begitu tegar dan tak mau menyerah dalam menjalani hukumannyba.
Tiap 20 putaran, ia selalu meninju udara, senang karena berhasil. Tampaknya, ia senang karena bisa berjuang melawan penyakitnya, dan aku kagum.
Ya, aku kagum akan kegigihan tersebut. Begitu melihatnya selesai berlari dan meninju udara seperti biasa, aku psati tersenyum. Senyum yang tulus karena menghargai perjuangannya yang tak kenal menyerah. Tetapi begitu ia melihat ke arahku, aku langsung masam kembali.
Huh! Malu banget lagian sampe terpaksa buka baju! Dasar anak edan!
Tapi aku suka.
Ehe.
Satu bulan berlalu, dan entah mengapa bila tiba siang hari, saat aku melihat ke lapangan sekolah, aku selalu melihat sosoknya yang sedang berlari dalam imajinasiku. Pandu terlihat sangat nyata, terutama di bagian ketika ia meninju udara. Ah, kangen rasanya.
Ternyata, beberapa anak perempuan menceritakan kejadian di sekolah tersebut kepada Kakak-kakak. Bahwa Pandu mengerjaiku dan ia dihukum lari 20 putaran lapangan tiap hari selama sebulan.
Setelah itu, kulihat Pandu mendapat perhatian khusus oleh Kak Azam. Hampir tiap hari, kulihat mereka mengobrol dan bersama. Aku tidak ingin “kepo” masalah tersebut, namun yang jelas, tampaknya Kak Azam dapat mengontrol Pandu. Ya, sepertinya ia adalah spesialis pendekatan terhadap anak-anak yang bandel seperti Pandu.
Sudah lewat sebulan, dan aku masih diam-diaman dengan Pandu. Masih trauma akibat kejadian di sekolah waktu itu.
Kulihat Pandu tampaknya tidak nyaman dengan kondisi kami. Aku juga sebenarnya tidak nyaman sih, kan, kita tiap hari ketemu. Rumahnya di samping rumahku, tiap aku keluar dia keluar. Semacam ada “kekakuan sosial” di antara kami berdua.
Setelah pas  1 bulan 4 hari—aku mencatatnya dalam diariku, hehe—akhirnya Pandu menghampiriku, membawa bunga sambil meminta maaf. Ya! Membawa bunga putih! Hal itu dilakukannya saat pulang sekolah. Saat di tikungan menuju rumah kami, karena hanya di jalan tersebut teman-teman sudah beda arah, dan kami hanya tinggal berdua.
“Zahra, artinya bunga. Lihat, bunga ini saja mau tersenyum padaku, masa kau tidak.”
Aku tidak tahu dari mana ia bisa merangkai kata-kjata tersebut! Namun aduhai!
“Hai bunga, maukah kau rayu saudarimu itu untuk memaafkanku?”
Bayangkan! Perempuan mana yang tidak luluh hatinya mendengar kalimat tersebut!
“Sungguh? Kau benar, bunga, mungkin ia perlu waktu untuk memikirkannya. Apa? Kau mau bersamanya? Baiklah, mungkin kalian bisa mengobrol berdua agar ia bisa menyampaikan perasaannya padamu.”
Pandu memberikanku bunga tersebut, dan meninggalkanku. Ya, ia menaruh sang bunga begitu saja. Aku terdiam. Heran dan takjub.
Yang pasti, hari-hari esok aku selalu senyum-senyum sendiri.
***
Bandara Sam Ratulangi, Manado, nampak ramai. Akhirnya aku sampai juga setelah bertolak dari Amerika sampai Soe-ta, dan melanjutkan perjalanan dengan penerbangan domestik dari Jakarta. Aku baru saja menginjakkan kaki lagi di Tanah air, setelah 2 tahun tidak pulang karena masalah biaya.
Untunglah, tahun ini bos magangku berbaik hati memberikanku bonus sehingga aku bisa pulang. Sungguh baik beliau.
Aku menarik koper biruku dan berjalan ke arah pintu keluar. Ah, aku benar-benar rindu dengan negara ini. Baunya masih sama, bau-bau hijau. Entahlah, aku juga tak mengerti apa artinya.
“Zahra!” Seseorang memanggilku dari kerumunan penyambut di bandara.
Aku menengok ke arahnya. Ya, itulah dia, sosok lelaki yang sangat kucintai.
Ia datang menjemputku.
***
Aku baru tahu! Ternyata dari situ Pandu belajar!
Selama ini, alasan mengapa obrolan Pandu dan Kak Azam tampak begitu seru ternyata adalah hal ini. Ya! Pandu belajar dari Kak Azam. Alamak!
Esoknya, kukembalikan saja bunga itu padanya. “Aku sudah ngobrol sama dia—si bunga—nih kukembalikan. Dia kangen sama kamu.”
Pandu celingukan. “Kamu maafin?”
Aku berbalik menengok ke arahnya.
“Kalo gak aku maafin ya aku gak bakal bicara sama kamu sekarang.”
Aku berbalik lagi untuk pergi. Dan usdah dapat kupastikan, di belakangku, Pandu meninju udara.
Aku? Ya senyum-senyum sendiri.
Ehe.
***
Kak Dayat dan kawan-kawan hanya mengajar kami satu tahun. Itu artinya tahun depan akan ada kakak-kakak pengganti. Jujur saja aku akan merindukan mereka. Namun life changes, kita akan selalu mendapatkan dan kehilangan. Itulah hidup.
Aku mulai suka sains semenjak bangku SMP. Sayangnya, SMP ada di kecamatan, jaraknya lumayan jauh dari desaku. Ya, lumayan kalau mau 1 jam berjalan kaki.
Orang tuaku tidak bisa membantu banyak. Untunglah, aku punya tabungan sejak SD. Hasil dari tabunganku itu (ditambah beberapa ratus ribu lagi dari sumber yang kurahasiakan) aku bisa membeli sepeda bekas. Dengan kereta angin tersebut, waktu tempuhku ke sekolah jadi lebih cepat. Bisa kupangkas separuhnya. Jadilah aku bersekolah dengan rajin.
Beres SMP, aku melanjutkan ke SMA favorit di Ibukota. Bukan Jakarta, tapi Manado. Ibukota provinsi maksudku. Untunglah di sana ada pamanku yang punya sebuah toko kelontong. Aku biasa bekerja padanya untuk masalah pencatatan sehabis pulang sekolah, sekaligus menumpang tinggal di rumahnya.
Di jenjang ini, ketertarikanku pada sains makin menguat. Aku ikut ajang olimpiade nasional cabang fisika dan memperoleh juara. Setelah itu, aku pun maju ke dalam ajang internasional di Singapore dan berhasil lagi.
Terhitung sudah 4 kali aku ikut lomba serupa, dan menang.
Tawaran beasiswa dari Perguruan Tinggi Negeri pun berdatangan. Mereka bersedia menjaminku begitu aku lulus dari SMA. Hmm, menarik, kan?
Namun ternyata takdir berkata lain, di lomba yang kelima, IPhO (International Physics Olympiad) tahun 2009 di Merida, Meksiko, aku bertemu dengan salah satu dosen MIT. Beliau juga bekerja di salah satu penyelenggara beasiswa untuk mahasiswa Post-Graduate di sana.
Kami pun mengobrol banyak. Ia tertarik dengan kepribadianku yang polos dan berasal dari daerah terpencil di Indonesia. Aku juga bercerita banyak tentang mimpi-mimpiku.
Setelah itu, kami bertukar kontak. Meski tidak juara, aku tetap bersyukur.
Tiga bulan kemudian, tepat sebulan sebelum Ujian Nasional SMA, aku mendapat kabar dari beliau—si dosen MIT itu. Katanya, aku bisa ikut meng-apply beasiswa ke sana, dan mendapat rekomendasi langsung darinya. Wow! Tentu aku sangat senang dong. Tak perlu waktu lama, aku segera apply, dan berkat izin Tuhan, aku berhasil masuk ke ITB-nya dunia tersebut.
Hamdalah bersama-sama.
***
“Kakak sehat?”
“Selalu, kamu?”
“Sama.”
“Hehe.”
“Kita langsung pulang, kan?”
“Ya, memangnya mau langsung ke KUA, enggak kan?”
Aku meninju pria tersebut dengan gemas. Dasar pujangga, ia selalu berhasil memilin hatiku dengan kata-katanya. Ia, pria yang sangat kucintai, yang 2 minggu sebelum kepulanganku ini datang ke rumah, meminta izin kepada bapak untuk menikahiku.
Kini, aku pulang. Satu, memang untuk melepas rindu dengan keluarga. Dua, bisa jadi juga untuk membangun sebuah keluarga baru bersamanya. Hehe.
Kami pun segera menuju mobil Kak Azam di parkiran bandara.
Setelah ini, kejutan apalagi yang akan terjadi dalam hidup?
***
Azam Rofiullah, 2016



Cerita ini belum selesai.
Di sudut sawah itu, seorang laki-laki tampak bahagia sambil meniup serulingnya. Ia memainkan lagu-lagu indah ciptaan penyair daerahnya. Di samping pria tersebut, terduduklah sebuah bunga putih yang sudah layu.
Bunga yang indah.
Bunga yang dahulu pernah ia berikan kepada seorang gadis.
Seorang gadis yang kini sudah sangat jauh dari genggamannya.
Ah, salahnya sendiri, mengapa tak belajar giat, berusaha, hingga sukses?
Selepas SD, kerjaannya hanya di sawah.
Salah besar.
Salah besar karena ia tak mau belajar.
Jatuh miskinlah ia.
Bahkan untuk menjemput gadis tersebut di bandara saja tidak bisa.
Bahkan untuk menjemput Zahra, gadis yang dicintainya.

Tamat.

1 komentar: