Waktu membaca: 15-17 menit
Pandora, 23 Juni 2035
Suasana
kacau balau. Bukan kacau sih tepatnya, namun hiruk. Semua rakyat negeri
Pandora seperti biasa bekerja keras membanting tulang. Tahun-tahun yang begitu
menyulitkan ini harus segera mereka selesaikan. Sebuah konsekuensi, yang
nantinya akan memberikan hasil yang memuaskan. Semua orang tahu, negeri mereka
adalah sebuah harapan yang besar, dan itu akan terwujud sebentar lagi.
Jumlah
mereka ada 300 juta jiwa. Didominasi oleh kaum pemuda, yang berjumlah 145 juta orang.
Kaum manula yang berjumlah 93 juta, dan anak-anak 62 juta. Well, setiap
orang yang masih bisa berjuang untuk negerinya adalah pemuda, itu pikir mereka.
Masih kuat, dan masih bersemangat. Karena pemuda adalah “jiwa”, bukan usia.
Umur berapapun mereka, asalkan masih memiliki jiwa pemuda, dia adalah pemuda.
Titik. Itu prinsip Pandora.
Pagi
itu, semua orang keluar rumah. Tak ada yang bermalas-malasan. Mereka semua
sangat menghargai waktu, setidaknya, dalam 15 tahun kebelakang ini. Mereka
berupaya keras mengejar ketertinggalan mereka akan teknologi yang sangat pesat
perkembangannya. Presiden mereka, Emir, adalah orang yang paling tegas akan hal
tersebut. Beliau selalu mendorong rakyatnya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna, walau sekecil apapun. Ia sangat menghargai karya-karya mereka, dan
menganggap mereka sebagai pahlawan.
Darius
pagi itu sudah berada di laboratorium pusat. Sebenarnya mah, ia memang menginap
di sana. Ia dan 25 ilmuwan lainnya yang sangat setia pada negeri ini. Tim itu
tak pernah merelakan setiap detik napasnya untuk tidak meneruskan pekerjaan. Mereka
yang merelakan waktu tidurnya untuk setiap jengkal kemajuan penelitian demi
penelitian yang mereka lakukan di sana.
Heidi
bersama 3 juta orang lainnya juga terus bekerja tanpa mengenal lelah di
pabrikan mobil ramah lingkungan buatan negeri Pandora. Pabrik itu memroduksi
mobil kecil berkapasitas 4 orang. Didesain untuk se-friendly mungkin
terhadap alam. Mereka memang selalu konsisten untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan kendaraan yang semakin hari semakin meningkat.
Kastan,
ia dan 26 juta orang lainnya yang bekerja keras untuk bercocok tanam di sekitar
500 ribu hektare sawah dan kebun yang telah dipersiapkan pemerintah untuk
ditanami. Mereka tak kenal lelah untuk memasok kebutuhan-kebutuhan masyarakat
akan bahan makanan, agar tak ada lagi yang namanya impor sayuran atau tanaman
dari negara lain.
Puluhan
juta orang lainnya pun bekerja keras. Mereka menahan keinginan besar mereka
akan barang-barang mewah yang diproduksi oleh negara-negara di luar sana yang
sudah maju. Mereka menahan diri dari smartpohone-smartphone handal buatan
negara lain, sampai bisa memroduksinya sendiri. Mereka menahan diri dari
komputer-komputer canggih yang ada di luar sana, sampai bisa memroduksinya
sendiri. Mereka menahan diri dari segala alat elektronik dan teknologi,
mesin-mesin yang dapat membuat hidup mereka lebih mudah, sampai mereka dapat
membuatnya sendiri.
Sampai
mereka bisa mandiri.
Perhatikan
ini.
Secara
diam-diam, mereka mempersiapkan diri untuk sesuatu yang besar yang akan terjadi
sebentar lagi. Mereka hanya perlu menunggu.
At
least, sudah 15 tahun mereka menjalani hidup seperti ini. Hidup tanpa alat
transportasi mewah, tanpa gemerlap teknologi yang bisa mempermudah segalanya.
Tanpa AC, tanpa gadget-gadget keren, dan tanpa segalanya yang belum bisa
mereka buat sendiri.
Namun
apapun itu, mereka teguh berkomitmen.
Kami
hanya akan memakai barang produksi negeri sendiri, sejelek apapun itu. Tak
peduli berbagai keterbatasan yang akan kami rasakan, kami cinta produk negeri
ini.
Di
sisi lain, teknologi di dunia ini berkembang dengan sangat cepat. Negara-negara
maju dapat memroduksi berbagai mesin dan teknologi yang sangat modern.
Kehidupan mereka menjadi sangat mudah. Manusia ingin ini, mereka tinggal
menekan sebuah tombol. Ingin itu, tinggal menggeser sebuah layar touchscreen.
Anyway, segalanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada banyak
perusahaan besar yang berguguran, namun juga banyak yang tumbuh baru. Ada
banyak krisis ekonomi, namun dengan cerdasnya mereka dapat mengatasi. Kehidupan
manusia dan kebiasaan-kebiasaan mereka pun banyak yang berubah.
Kesenjangan
finansial yang makin bertambah, makanan-makanan yang semakin hari semakin
instan, gaya hidup yang sangat bergantung pada mesin, dan sebagainya.
Tetapi yang terlihat
sangat mencolok adalah cara mereka menutup krisis-krisis yang ada. Mereka terlihat
seperti hanya “meredam sakit”, bukan menyembuhkannya.
Entah sampai kapan hal
tersebut akan bertahan. Ketidakseimbangan “hak dan kewajiban” manusia terhadap
alam juga mulai terlihat. Dan juga pertumbuhan ekonomi yang makin tidak merata.
Perusahaan-perusahaan
yang tadinya menjadi anak emas sebuah negara juga sudah ada yang runtuh, tolak
punggung ekonomi sebuah negara pun ada yang tidak bisa bertahan. Negara-negara
yang dalam 35 tahun terakhir terbilang maju juga pada akhirnya ada yang tidak
kuat lagi menghadapi percepatan zaman. Namun ada pula negara-negara maju yang
baru.
Ah, manusia, manusia. Tentu saja, sesuatu yang tidak pernah berubah di
dunia ini adalah perubahan, bukan?
Well,
kawanku yang baik, seperti halnya twitter, setiap cerita mempunyai timeline-nya
tersendiri.
Pandora, 31 Juli 2000
Sudah 2 tahun negeri ini berjalan semenjak reformasi. Pandora yang
sebelumnya dikuasai oleh seorang rezim yang kejam, akhirnya dapat bebas berkat
perjuangan para mahasiswa dan aktivis lainnya yang mati-matian menggagaskan
revolusi. Tak takut akan marabahaya dan resiko yang menanti mereka di depan,
tak takut akan darah-darah yang tertumpah dan tubuh yang terjatuh satu-persatu.
Finally, mereka berhasil.
Pandora
adalah negeri yang luas. Ia memiliki banyak sekali pulau di sana-sini. Negara
itu mempunyai kekayaan alam yang sangat berlimpah, dan disebut-sebut sebagai
negara yang memiliki kekayaan alam terbesar di dunia. Penduduknya adalah yang
keempat terbesar di dunia. Baru saja sekitar 50 tahun yang lalu mereka merdeka.
Namun entah mengapa, sebelum adanya “revolusi prinsip”, mereka seperti sebuah
boneka besar yang mudah sekali digerakkan oleh negara-negara lain untuk maju.
Di dua windu awal abad
ke-21 (sekitar tahun 2000-2016) Pandora memang adalah mangsa yang sangat empuk.
Banyak di antara negara-negara maju di zaman itu yang memanfaatkan Pandora
untuk kemajuan bangsa mereka. Mereka tahu, rakyat Pandora adalah orang-orang
yang konsumtif dan pemalas. Oleh karena itu, Pandora menjadi tempat yang sangat
tepat untuk menjadi konsumen bagi barang-barang dari negara mereka.
Negeri itu memang dikenal
dunia sebagai negeri konsumen. Besar dan malas. Perfect!
Sayangnya,
semenjak reformasi, Pandora tak banyak berubah. Mungkin walaupun ada sebuah
perubahan, itu adalah perubahan yang tidak baik, sekalipun para pemimpin di
zaman itu menganggapnya baik.
Memang,
semenjak sang rezim berkuasa, negeri Pandora yang baru saja terbentuk beberapa
puluh tahun yang lalu itu menjadi cukup disegani oleh negara-negara di dunia
ini. Banyak pembangunan yang terjadi, dan juga ada pemerataan-pemerataan antara
desa dan kota. Bahkan sebuah negara pernah meramal bahwa Pandora yang baru saja
terbentuk itu, akan menjadi sebuah negara maju beberapa tahun ke depan.
Sayangnya,
beberapa tahun itu tak pernah tertafsirkan sebentar.
Tidak,
tidak. Walaupun banyak terjadi kemajuan, rakyat tidak pernah senang dengan
rezim, apalagi dikarenakan mereka dibatasi untuk mengeluarkan kritik-kritik dan
saran-saran mereka. Tidak ada yang namanya kebebasan berpendapat. Sekali
ketahuan, nyawa bisa melayang.
Hutang
negara pun menjadi banyak. Menggunung, istilahnya. Well, hal tersebut
cukup untuk membuat kita tahu, Pandora memang butuh sebuah reformasi. Karena
sampai kapan mereka akan selalu menjadi “negara berkembang”?
Oke,
kembali ke tahun 2000.
“Gus, kamu mau berangkat
ke Jakrata sekarang?” tanya Wening pada sahabat dekatnya itu.
“Iya Ning, aku harus
mencari kehidupan yang lebih baik daripada di kampung! Pokoknya, aku akan
sukses di ibukota sana!” tegasnya pada sang perempuan.
“Yo wis, tapi jangan lupa
aku yo?” Wening mengerlip sambil berbicara, menahan malu.
“Iyooo, masa teman masa
kecilku kulupakan begitu saja? Ya ndak lah, ”Agus tersenyum, ”aku berangkat
dulu ya, nanti kemalaman.”
Wening mengangguk.
Lambaian tangan Agus saat
itu selalu ia ingat dalam setiap detik hidupnya. Menjadi Long term memory terindah
yang pernah hinggap di pikirannya.
Oke-oke, singkatnya,
itulah perpisahan kecil Agus dan Wening, dua orang sahabat yang telah bermain
bersama semenjak kecil. Dan kini, selepas SMA, Agus mencoba mengadu nasib untuk
mencari kehidupan dan jati dirinya sendiri.
By the way, mereka juga sebenarnya saling mencintai loh (ehm).
Namun tak ada yang pernah mengungkapkannya satu sama lain.
Agus menaiki bus malam
dari Pon Rogo menuju Jakrata. Ia mendekap erat sebuah buku kusam di dadanya.
Tak lepas harapan saat ia membolak-balikan buku itu lagi, bertanya apakah
impian yang tertulis di dalamnya benar-benar akan terwujud.
Umurnya kini 18 tahun.
Dan ia memang harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Pandora, 18 Mei 2035
Darius, Heidi, dan Kastan
berkumpul di sebuah rumah sederhana yang terletak di Pon Rogo, East Jave. Namun
tak hanya mereka yang ada di situ, orang-orang yang lain pun berkumpul. Ada
kolega, tetangga, bahkan ada pula pembesar pemerintahan yang hadir di sana. Mereka
semua memakai pakaian hitam-hitam dan terlihat berwajah sedih.
Sebenarnya, seluruh
Pandora yang bersedih.
Hari itu, teman sekaligus
guru mereka, Agus Haryono, meninggal dunia. Ia wafat di usianya yang ke-54
tahun. Orang yang dijuluki bapak revolusi tersebut pergi meninggalkan banyak
karya dan persembahan untuk negerinya. Perusahaan-perusahaan besar yang menjadi
pahlawan devisa bagi negaranya, dan juga warisan besar terhadap jiwa-jiwa
seluruh bangsa Pandora.
Perusahaannya telah menahkodai
negeri itu untuk mulai menunjukkan “hasil” produksinya kepada dunia. Seolah
berkata bahwa kita juga bisa menghasilkan sesuatu yang hebat! Bukan hanya bisa
memakai barang-barang dari negara Anda!
Ia juga meninggalkan
banyak persembahan lainnya, seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, dan lain
sebagainya.
Namun yang paling akan
diingat oleh seluruh rakyat negerinya adalah, revolusi prinsip yang ia
cetuskan.
Revolusi Prinsip,
revolusi terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Pandora.
Pandora, 16 September
2012
Agus
berkumpul dengan 10 orang anak bangsa tersebut. Mereka membaca doa sebelum
akhirnya mobil-mobil yang telah disiapkan olehnya berangkat menuju bandara.
Membawa anak-anak berbakat tadi untuk melaksanakan sebuah misi. Misi memajukan
bangsa. Itu tujuannya.
Agus
berdiri terpaku saat mobil-mobil itu telah hilang dari pandangannya. Ia kini
telah sukses semenjak perantauannya di tahun 2000 silam. Lelaki itu mempunyai
banyak perusahaan besar yang maju dan terus berkembang. Berkat kerja keras dan
kesabarannya, ia bahkan dinobatkan menjadi salah satu orang terkaya di negeri
ini oleh sebuah majalah ekonomi.
Anyway,
impiannya yang tersurat dalam buku kusamnya dahulu bukan hanya menjadi kaya
seorang diri. Ia miris melihat keadaan negerinya sekarang yang menjadi
“pengekor” sejati dari negara-negara maju di luar sana. Kecewa melihat
pemerintahnya yang egois, dan menjual semua aset negara sehingga pelan-pelan
dapat dikuasai oleh investor asing. Sedih melihat negaranya mulai dijajah
secara ekonomi karena bebasnya orang asing yang mendirikan usaha di dalamnya.
Agus
hampir merasa putus asa. Orang-orang di Pandora selalu menjadi konsumen
barang-barang dari luar negeri. Mereka menggunakan barang mewah, teknologi,
bahkan makanan pokok yang mereka makan pun adalah impor.
Merk-merk
asing selalu saja menjadi barang terlaris yang selalu dibeli masyarakatnya.
Sebut
saja, smartphone yang kala itu merajalela seperti Galaxy Z.
Atau sepeda motor Venus dan mobil-mobil seperti Handa dan
Tayata, mereka-merekalah yang biasa hilir mudik di jalanan-jalanan
Pandora.
Semua
barang itu, rakyat Pandora yang membuatnya. Mereka yang merakit tiap bagian
dari besi itu hingga bisa berjalan. Dengan tenaga mereka, keringat mereka.
Namun kacung tetaplah
kacung.
Keuntungan penjualan
barang-barang tersebut tetaplah untuk negara maju yang mempunyai hak milik atas
merk barang yang mereka buat. Rakyat Pandora? Hanya dapat sepersekian jutanya
mungkin. Hahaha…
Hey! Apakah kita tidak
bisa membuatnya sendiri?! Batin nasionalisme Agus
menjerit.
Ia sadar, bahwa bangsanya
adalah bangsa yang pemalas—dan bodoh. Mereka tidak mau berjuang dan berkorban
untuk orang lain. Mereka kurang cerdik, asal dikasih umpan yang menyenangkan,
mereka pasti menerima walaupun dampaknya negara mereka akan rusak secara
perlahan. Asal gue senang, bodo amat nasib jutaan orang lain di
luar sana.
Rasa egoisnya melebihi
bangsa manapun di dunia ini. Ah, egoisme. Itulah agama yang dianut oleh
pemimpin-pemimpin bangsanya sekarang. Busuk!
Tak
pelak, bahkan pemimpinnya rela menjual aset-aset bangsanya kepada investor
asing. Benar-benar busuk dan tak tahu malu. Mereka membunuh bangsanya secara
perlahan.
10
orang anak bangsa tadi berangkat dengan sebuah harapan yang besar. Mereka akan
mempelajari teknologi-teknologi modern yang dipakai di negara lain agar Pandora
bisa memroduksinya sendiri. Well, harapan Pandora ada di tangan mereka.
Sanggupkah?
Agus
mengelap peluh di wajahnya.
“Darius,
Heidi, Kastan, dan yang lainnya, aku percaya pada kalian,” ia bergumam seraya
memandang langit.
Pandora, 31 Maret 2015
Gedung Pertemuan Haryono, corp. tampak lenggang. Hari itu, Agus akan
bertemu dengan 7 orang temannya sesama pengusaha untuk mendiskusikan sesuatu
yang penting. Mereka adalah jajaran orang-orang terkaya di Pandora. Tentunya,
hal yang akan mereka bicarakan adalah hal yang sangat penting.
Jam
11 siang, semua berkumpul. Pertemuan kali itu memang tergolong rahasia. Tak ada
media sama sekali yang meliputnya. Padahal, ini adalah pertemuan yang
bersejarah. Yang nantinya akan menentukan, dan memutuskan, bahwa bangsa mereka,
pantas untuk menjadi bangsa adidaya.
Agus
sendirilah yang memimpin pertemuan itu. Semua orang yang ada di sana tampak
antusias mendengarkan penuturan-penuturannya yang hebat. Juga rencana-rencana
yang akan mereka bahas.
Poin
pertamanya adalah, mereka berencana untuk merebut kembali aset-aset milik asing
yang bercokol di negeri mereka setelah sekian lama. Mulai dari pertambangan,
operator seluler, bahan bakar, dan yang lain sebagainya.
Poin
kedua, mereka berencana, untuk membuat tempat penelitian pusat, yang akan
mempekerjakan para peneliti berbakat dari universitas-universitas unggulan di negeri
mereka. Agar nantinya, tak ada bakat dan sumber daya yang tersia-siakan. Serta
agar Pandora tidak ketinggalan dalam teknologi yang sedang berkembang sangat
pesat belakangan. Karena selama ini, tak ada inisiatif dari pemerintah
agar negaranya bisa bersaing dengan negara lain di bidang teknologi.
Poin
ketiga, mereka akan mengajak semua pengusaha negeri Pandora untuk ikut dalam
rencana mereka dalam memajukan negeri tersebut, dan mengalahkan negara-negara
lain dalam berbagai persaingan. Serta agar Pandora bisa memperoleh predikat
sebagai negara yang maju.
Pertemuan
itu pun berakhir dengan kesepakatan kuat di antara mereka. Pandora punya masa
depan yang lebih baik.
Pandora, 08 Desember
2016
Sudah setahun lebih semenjak pertemuan tersebut dilaksanakan.
Sekarang, sudah sekitar 21 pengusaha terkaya di Pandora yang bergabung dengan
mereka. Semua bekerja sama dalam bantuan finansial yang dibutuhkan untuk
menyukseskan rencana-rencana tersebut. Mereka dengan komitmennya yang kuat, dan
keyakinannya akan kemajuan negeri Pandora kedepannya.
Pandora,
03 Januari 2017
Agus menggunting pita peresmian kompleks gedung penelitian pusat
Pandora yang berada di kota Purwakata. Semua orang pun riuh bertepuk tangan
saat pusat penelitian seluas 3000 km persegi tersebut resmi dibuka. Dengan luas
yang fantastis, tempat penelitian itu tidak hanya menjadi tempat penelitian, namun
ternyata juga menjadi pusat pendidikan dan pengembangan potensi masyarakat. Semua
orang yang punya bakat akan langsung direkrut dan dilatih oleh mereka. Dalam
hal apapun. Mulai dari seni, sastra, teknik, dan lain sebagainya.
Tujuan
utamanya sudah pasti, mereka ingin menambah produktivitas negeri Pandora yang
sangat mereka cintai.
Saat itu, pemerintah tidak memberikan bantuan
apa-apa, semua murni keluar dari kantong Agus dan 20 rekannya. Walaupun mereka
kecewa dengan pemerintah, mereka tidak mengeluh, karena mereka tahu, mengeluh
bukanlah solusi.
Meskipun berat pada
awalnya, hari ini, detik ini, mereka akhirnya berhasil menyelesaikan proyek
besar mereka tersebut. Semua jerih payah mereka pun terbayar tuntas. Tentu saja
mereka sangat senang.
Padahal, biaya
pembangunan pusat penelitian tersebut menghabiskan hampir seluruh kekayaan Agus
yang ia simpan, walau tidak termasuk aset perusahaan yang tetap berkembang. Pun
dengan kekayaan teman-temannya yang lain. Dan meski semua bergabung, tetap
saja, biaya pembangunan tempat itu sangatlah fantastis.
Pandora,
14 April 2017
21 orang pengusaha tadi berkumpul dan merencanakan sesuatu yang
baru. Tahun depan, akan ada pemilihan presiden di negara mereka, dan mereka
harus melakukan sesuatu.
Well,
setidaknya mental pemerintah harus diubah. Tidak hanya mental sebenarnya, tapi
juga moral. Pemerintah memang harus benar-benar berbenah diri.
Saat
itu, ada sebuah nama yang menjadi pertimbangan mereka.
Emir.
Yap, dia tampak sebagai calon yang tepat. 21 pengusaha tersebut pun berunding.
Emir nampak cocok, ia bagus. Paham agama, adil, dan juga tidak egois. Ia tidak
kaya, tidak pula miskin.
Namun yang paling menaut
hati mereka adalah, ia selalu mendukung orang lain untuk berkarya, bukan
mengabaikan mereka.
Emir nampak cocok karena
pengalaman sebelumnya ia sebagai walikota Suban. Sepanjang 3 tahun masa
jabatnya di sana, lelaki itu telah membuat Suban menjadi kota yang sangat
produktif. Nah, itulah kata kuncinya.
Produktif.
Siapapun pemimpin yang
dapat membuat bawahannya produktif, dia adalah pemimpin yang sukses.
Dan lagi, Emir disegani.
Ia adalah mantan preman ibukota di era 2000-an yang bertaubat. Fisiknya
ditakuti. Ia punya wibawa yang bagus.
Malam itu, semua
berunding dengan serius. Dan tepat sebelum ayam sempat berkokok, mereka sudah
memutuskan.
Semua akan mendukung Emir
mati-matian.
Pandora, 17 Juni 2017
Hari ini, 10 orang yang
diutus Agus untuk belajar 5 tahun silam pun kembali. Mereka langsung dijamu
dengan sangat ramah oleh Agus di rumahnya, dan diajak bicara mengenai
perkembangan selanjutnya.
Oke, mereka siap untuk
langsung memulai research pertamanya.
Agus sumringah.
Mereka diajak pergi ke
pusat penelitian, dan dibebaskan untuk memilih untuk mengembangkan penelitian
apa. Semua pun berjalan lancar.
Pengembangan smartphone.
Pengembangan sistem
komputer.
Pengembangan otomotif.
Dan
pengembangan-pengembangan teknologi lainnya.
Perjuangan pun dimulai.
Esoknya, Agus mengirimkan
lagi 100 orang anak bangsa yang berbakat untuk belajar di luar sana.
Pandora, 11 November
2017
Krisis moneter melanda
dunia. Semua orang butuh uang. Perusahaan-perusahaan besar hancur. Mereka yang
tidak bisa bertahan terpaksa gulung tikar dan kembali menjadi miskin. Saat
itulah semua harga saham turun, dan kebanyakan investor biasanya menjual saham
mereka sebelum keadaan bertambah buruk.
Sekertaris Agus
melaporkan bahwa semua sudah terkumpul 912 trilyun rupih sebelum krisis terjadi.
Agus meneliti kembali angka-angka tersebut dan menilik sebuah diagram di meja
kerjanya.
“Katakan pada semuanya
bahwa kita akan segera mengambil kembali harta kita!” ia beujar pada
sekertarisnya.
Perempuan cantik itu
menggangguk tanda mengerti.
It’s show time.
Pandora, 18 November
2017
Pasar saham terguncang.
Bukan apa-apa, namun karena sebuah perusahaan operator seluler yang paling
banyak digunakan di Pandora diambil alih oleh beberapa pengusaha asli negeri
itu. Sebelumnya, perusahaan besar itu sebagian besar dimiliki oleh investor
asing, namun sekarang, semua sahamnya resmi dimiliki oleh bangsa Pandora.
Tak cukup itu, sebagian
saham perusahaan tambang minyak negeri itu pun diambil alih oleh
pengusaha-pengusaha tadi. Pertramina, kini resmi dimiliki oleh bangsa Pandora.
21 orang pengusaha tersebut seperti membelanjakan uang secara besar-besaran
hari itu juga. Entah mengapa dan apa tujuan mereka, namun berita ini langsung menjadi
headline utama di semua surat kabar, menjadi topik terpanas dalam semua
berita. Bayangkan saja, ini seperti pengakuan dari pribumi bahwa semua harta
itu milik kami! Bukan kalian!
Agus dan kawan-kawannya
tersenyum melihat apa yang telah mereka lakukan.
Masyarakat yang mengerti
pun bergembira, sementara yang lain hanya bisa berkata, ”ya sudah bagus”.
Pandora, 02 Januari
2018
Rakyat Pandora pun
menamai mereka “21 pahlawan”. Bagaimana tidak? Mereka bertindak dengan sangat
tepat, walaupun mengorbankan banyak harta mereka demi menyelamatkan aset negeri
ini dari tangan orang asing. Mereka merebut kembali harta mereka, tak peduli
seburuk apa kondisi keuangan dunia saat itu.
Setelah kejadian
tersebut, 10 orang di antara pengusaha-pengusaha yang begabung bersama Agus
akhirnya gulung tikar. Perusahaan mereka tak cukup kuat untuk menghadapi
krisis. Mereka pun beralih kepada perusahaan-perusahaan yang baru direbut
kembali oleh mereka. Well, yang penting saat keadaan sudah membaik
mereka akan bertindak lagi.
Pandora 12 Januari
2018
Kabar mengejutkan
lagi-lagi datang dari “21 pahlawan” tersebut. Mereka mencalonkan seorang
walikota untuk ikut dalam pemilihan presiden bulan Juli mendatang. Namun karena
saat itu krisis belum membaik, mereka tak punya dukungan yang cukup dari bagian
finansial.
Mereka kekurangan uang
untuk mendanai calon presiden yang mereka usung.
Penelitian-penelitian yang
mereka danai pun tertunda karena masalah dana. Dan lagi, tak terlalu banyak
rakyat yang mengenal nama yang dicalonkan mereka tersebut.
Emir. Siapa dia?
Dan tatkala calon-calon
yang lain sudah siap dari dengan dukungan dari sana-sini, mereka pun melawan dengan
taktik.
Rakyat sudah bosan dengan
pemerintah yang selalu korupsi. Mereka gerah, benci terhadap orang yang sudah
jelas bersalah namun tetap tidak mengakui kesalahannya.
Emir yang cepat
beradaptasi dengan 21 orang tersebut pun berkata, bahwa ia sudah mempunyai
rencananya sendiri.
Pandora, 03 Februari
2018
Semua bangkit secara
perlahan. Perusahaan-perusahaan baru pun bermunculan. Perusahaan yang diambil
alih oleh 21 orang tersebut juga mulai berbenah dan menghasilkan uang kembali.
Dana perlahan mulai terkumpul untuk menyukseskan Emir dalam merebut hati
masyarakat agar memilihnya menjadi presiden.
Namun saat dana sudah
cukup terkumpul, Emir menolak dengan halus.
“Saya tidak perlu uang
itu, saya hanya perlu sekali berkampanye yang diliput oleh media. Cukup.” Tegasnya.
Oke, kita lihat apa yang
ia rencanakan.
Pandora, 10 Agusus
2018
Emir berhasil terpilih
menjadi presiden! Ya! Dialah orang nomor satu di Pandora sekarang. Ia lah
lelaki yang mempunyai mental yang berbeda dengan pemimpin sebelumnya, dan juga
yang tegas terhadap jajarannya.
Emir lah yang akan
memimpin negeri itu hingga tuntas. Maju. Dan berjaya. Ia lah yang mengomandoi
semua rakyat untuk bersatu dan kompak dalam membangun negeri. Ia yang
melepaskan diri dari ketergantungan dan bayang-bayang negara lain. Ia yang
tidak mau menjadikan bangsanya sebagai bangsa pengekor. Ia yang selalu menegaskan
kemandirian.
Ia, yang merebut hati
seluruh rakyat Pandora dengan hanya berkata,
“Dalam pemilihan ini, saya
tidak akan mengeluarkan uang seperti calon yang lain. Terpilih atau tidak,
tujuan saya tetaplah memajukan bangsa kita. Saya khawatir, apabila saya
terpilih karena uang, saya malah hanya akan berusaha untuk ‘balik modal’ dan lupa
terhadap janji-janji saya terhadap rakyat, seperti yang kebanyakan terjadi di
negara ini. Saya tegaskan, saya BUKAN ORANG SEPERTI ITU. Terpilih atau
tidak, selamanya tujuan saya tidak akan berubah. Untuk memajukan bangsa. Terima
kasih.”
Pidato yang singkat,
namun tercatat dengan baik dalam sejarah Pandora.
Pandora, 31 Mei 2020
Sudah 2 tahun semenjak
Emir menjadi presiden Pandora. Apa yang rakyat rasakan? Mereka benar-benar
meresa dipimpin. Diktator. Absolut. Namun tepat sasaran.
Emir sangatlah tegas, mengingat
ia adalah mantan preman. Bila ada pemimpin sekecil apapun yang melakukan
korupsi, masyarakat tak pernah melihatnya lagi dengan tangan yang sempurna.
Sesuai perintah sang nomor satu, hukumannya adalah potong tangan. Titik. Tak
ada tapi-tapian.
Emir menjelma menjadi rezim.
Semua kehendaknya wajib diikuti. Ia adalah penguasanya. Pasukan khusus ia
bentuk untuk menangkap siapa saja yang melanggar. Mungkin seperti rezim yang
berkuasa di zaman sebelum tahun 2000. Tetapi Emir tidak seperti itu.
Ia rezim, ia diktator,
namun semuanya dalam hal yang baik.
Presiden saat itu
mengeluarkan kebijakan agar tak ada rakyat yang bermalas-malasan. Setiap hari
mereka harus melakukan sesuatu yang produktif. Yang menghasilkan. Tak boleh ada
yang tersia-siakan dalam hal apapun. Semua harus dimanfaatkan, bahkan limbah
dan kotoran manusia.
Tak ada toleransi dalam
belajar! Semua bebas memilih apa yang mereka sukai, namun tak ada yang boleh
menyerah dalam mengejar tujuannya! Tak ada orang yang bodoh. Tak ada yang tak
berguna. Tak ada yang namanya sampah masyarakat di matanya. Semua orang sama,
dan ia menghargai semua yang dihasilkan oleh mereka.
Mengenai kriminalitas?
Emir yang dulunya juga
adalah jendral di bidang itu tahu persis semua metode dan modus kejahatan. Ia
sendiri lah yang memimpin tim untuk mengentaskan semua kriminalitas.
Para penjahat segan. Emir
dahulu dikenal sebagai “raja” para penjahat. Orang yang mereka segani. Mantan
pemimpin mereka. Dan kini, saat sang bos menyeru kebaikan pada semuanya, mereka
pun takluk.
Rakyat, yang walaupun
merasa terpaksa, tak ada yang berani melawan perintah Emir.
Selang waktu 2018-2020
adalah masa-masa yang paling sulit bagi rakyat Pandora. Mereka yang tadinya
santai, menjadi terpaksa untuk bekerja keras. Mereka yang tadinya ingin hidup
mewah dan dimanja, tetap harus mengeluarkan peluh setiap hari. Rakyat dididik
dengan keras untuk menghilangkan kebiasaan buruk mereka.
Semua ketergantungan
akan produk dari luar negeri harus dihilangkan. Kita bisa mandiri! Kita kuat!
Kita hebat! Bila kita bekerja sama dan bekerja keras, maka kita akan menjadi
bangsa yang sukses! Tanpa perlu bergantung dengan barang buatan orang lain.
Emir selalu berkoar dalam
setiap pidatonya.
Agus dan 21 pengusaha
lainnya pun berfokus pada pengambilalihan aset-aset negara yang lain. Mereka
ingin membuktikan, bahwa bangsa Pandora dapat mengendalikan semua itu dengan
baik.
Tahun itu, pusat
penelitian pun semakin berkembang. Pandora dapat menghasilkan produk handphone,
otomotif, komputer, sistem operasi, dan banyak teknologi lainnya. Namun mereka
belum dapat membuat yang secanggih bangsa lain.
Semua rakyat ditekankan
untuk memakai barang buatan negerinya sendiri. Tak peduli sejelek apapun itu.
Mereka terus menerus
ditekankan dengan hal-hal tersebut. Well, seperti kata pepatah, bisa
karena biasa, dan biasa karena terpaksa.
Rakyat Pandora sedang
dalam tahapan terpaksa sekarang.
Pandora, 21 September
2020
Semua orang tahu.
Masyarakat tahu, bahwa biang kerok yang memaksa mereka untuk tak pernah
bermalas-malasan ada dua orang: Agus Haryono, sang pengusaha besar dan Emir
Silalahu, sang presiden.
Sekilas mereka benci
terhadap mereka berdua.
Agus yang begitu gigihnya
mempertahankan prinsip “bekerja keras sampai bisa!”
Dan Emir yang
mempertahankan prinsip, “bangsa kita harus mandiri!”
Namun tanpa mereka
berdua, Pandora mungkin sudah tidak bisa berdiri lagi tahun ini.
Tepat hari itu, dalam
sebuah acara internasional yang diselenggarakan oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa, Agus maju mewakili Pandora untuk menerima penghargaan, sebagai
Negara terbaik tahun 2020.
Country of the year.
That’s Pandora.
Dengan pertimbangan bahwa
rakyat merekalah yang paling rajin di dunia ini. Paling produktif, istilahnya.
Hari di mana semua rakyat
sadar, bahwa apa yang telah dipaksakan dan diperjuangkan oleh dua orang
tersebut, dari awal adalah untuk kebaikan mereka sendiri.
Ratusan juta bangsa
Pandora yang akhirnya terbiasa tersebut pun akhirnya mengakui, bahwa mereka
memang bisa menjadi bangsa yang terbaik. Mandiri, dan hebat.
Hari itu, semua orang
sadar. Dan secara sempurna merubah prinsip mereka untuk lebih maju.
Hari di mana Pandora
menyebutnya, Revolusi prinsip.
Pandora, 27 Desember 2020
Anyway, tak semua jalan menuju Roma itu lancar, kan?
Bangsa Pandora kini
mempunyai tujuan baru, yaitu untuk menjadi negara maju. Sampai saat ini mereka
sebenarnya masih bergantung pada negara lain, dan belum sejahtera secara
ekonomi.
Pembangunan yang masih
belum merata, kemiskinan yang masih meraja-lela, dan segudang masalah lainnya
yang harus mereka selesaikan.
Well, kesuksesan tampaknya masih jauh.
Beberapa negara yang
terkena dampak “semangat baru” Pandora tersebut pun tampak mulai mengunakan
cara licik. Mereka yang produknya tak lagi laku di Pandora akhirnya menghasut
negara lain untuk tidak menerima barang produksi negara tersebut. Dan untuk
mengucilkan Pandora, agar tak ada yang membantu mereka dalam mengembangkan
perekonomian.
Sebut saja, negara Jap
yang tadinya mendapat banyak pemasukan karena sepeda motor buatan mereka banyak
dipakai di Pandora. Ketika barang lokal sudah turun ke pasaran, rakyat pun
berbondong-bondong mengganti kendaraan mereka dengan produk lokal. Jap yang
pendapatannya menurun pun akhirnya melakukan kecurangan seperti tadi.
Ah, Pandora memang harus
maju selangkah demi selangkah. Mereka dan impian besar yang harus mereka
selesaikan, sepertinya harus menunggu waktu.
Pandora, 10 Mei 2035
15 tahun setelah revolusi
prinsip…
Agus sakit keras. Ia
didiagnosa menderita kanker hati. Penyakit tersebut sangatlah ganas, kecil
kemungkinan Agus untuk dapat selamat dari penyakit tersebut. Ia telat berobat
karena terlalu sibuk mengurus pusat penelitian dan seabrek perusahaannya yang
lain.
Ia juga terus menerus
memantau perkembangan “kemandirian” bangsanya yang kian hari kian meningkat.
Namun tak pelak, tubuhnya
pun mempunyai batas-batasan.
Begitu bangsa Pandora
mengetahui bahwa Agus Haryono, sang bapak revolusi itu sakit keras, mereka
semua mengirimkan kartu ucapan agar Agus lekas sembuh. Terhitung ada sekitar
100 juta kartu ucapan yang datang untuknya.
Well, jumlah yang sangat banyak untuk mengetahui bahwa Agus sangat
dicintai oleh semua orang.
Pandora,
17 Mei 2035
“Untuk
semua rakyat Pandora…” suara Agus tampak lemah saat Emir merekamnya.
“Dengarkan
baik-baik pesan terakhirku ini…”
“Aku
mencintai kalian seperti aku mencintai diriku sendiri…”
“Dan
aku mencintai negeri kita ini, lebih dari diriku sendiri…”
“Apabila
aku telah tiada nanti…”
“Jagalah
terus cinta kalian pada negeri kita…”
“Maaf
aku tidak bisa merayakan keberhasilan kita bersama…”
“Namun
suatu saat…”
“Pandora
pasti akan memimpin dunia…”
Agus,
sang bapak revolusi itu, menutup mata.
Rakyat
mengepalkan tangan.
Tunggu,
bapak. Kami akan berhasil.
Pandora,
10 Mei 2036
Rakyat menyebut Agus sebagai pahlawan terbesar sepanjang sejarah
Pandora. Ia begitu berjasa pada negeri itu, dan ia pun meninggal dengan sangat
terhormat.
Saat
itu, krisis moneter lagi-lagi melanda dunia. Semua menjadi kacau balau.
Perekonomian menjadi lemah bagi negara-negara yang kehilangan tolak punggung
pendapatannya. Yah, seperti krisis moneter di awal saja lah.
Namun
sekarang, Pandora telah siap dengan krisis tersebut.
Mereka
sudah kuat. Sebelumnya, saat mereka dikucilkan oleh negara-negara lain, Pandora
sudah meramal bahwa krisis moneter yang sangat besar akan terjadi. Mereka
mempersiapkan diri, menyimpan semua yang mereka butuhkan selama krisis. Istilah
sederhananya, mereka menabung.
Itulah
yang dilakukan Darius, Heidi, Kastan, dan rakyat-rakyat yang lain.
Sekali
lagi, secara mengejutkan, mereka menyembul keluar. Menampakkan taringnya kepada
dunia. Memanfaatkan dengan cerdik momen di saat negara lain sedang kesusahan,
memanfaatkan waktu yang tepat untuk muncul ke atas.
Bersiap untuk menang.
Hingga akhirnya, mereka
berhasil.
Pandora, 14 Mei 2036
Hari
itu, saat hampir setahun sejak sang bapak revolusi meninggal, Pandora telah
menjadi seperti apa yang ia cita-citakan.
Semua rakyat bergembira.
Mereka senang sekali. Pandora baru saja mendapatkan predikat dari
negara-negara lain sebagai salah satu negeri adidaya di dunia.
Berkat kerja keras mereka
selama belasan tahun, akhirnya bangsa itu dapat memimpin perindustrian, juga
pengelolaan alam di dunia. Mereka memroduksi teknologi-teknologi canggih, dan
juga menjadi tempat tujuan study peringkat pertama di dunia, karena
banyaknya universitas-universitas hebat di sana.
Pandora juga memimpin
penggunaan bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan dan tidak berasal dari
minyak. Mata uang mereka, Rupih, menjadi patokan dasar keuangan dunia,
mengalahkan Dolla dan Euru.
Mereka juga memimpin di
sektor pariwisata. Secara, semua tempat wisata di negeri itu terkelola
dengan baik. Pembangunan pun merata di segala daerah. Pemerataan penduduk, tak
ada kesenjangan sosial yang terlalu jauh, bahkan angka kemiskinan dan buta
huruf turun drastis menjadi 0,01 persen.
Sebuah prestise
membanggakan dari negara yang tadinya tak ada apa-apanya. Pandora tersenyum
sangat rekah. Mereka telah mandiri sekarang. Semua berkat kerja keras dan
“paksaan” dari orang-orang yang memimpin mereka.
Emir, berpidato hari itu.
Pidato yang lagi-lagi singkat namun bermakna sangat dalam bagi rakyat Pandora.
Semua bersemangat. Semua hidup bahagia.
Dan tak lupa, mereka
persembahkan perayaan hari itu untuk sang bapak revolusi yang telah mendahului
mereka lebih dulu.
Pandora, Pandora, namamu
memang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah dunia.
-done-
Ah, andai dapat kusebut Pandora itu Indonesia….
Kuningan, 5
September 2012
M. ‘Azam Rofi’ullah
Ehm… bentar-bentar, cerita ini belum selesai loh…
Wening berdiri terpaku
melihat Pandora yang kini berjaya. Ia dan suaminya, Van Der Wijk, hanya bisa
melongo dan terdiam. Andai saat itu ia tak membentak Agus, orang yang dicintainya
dan juga pahlwan bagi negeri itu, tentu ia masih bisa menjadi bagian dari
perayaan di hari tersebut.
“Aku muak dengan semua
impianmu tentang negeri ini! Kita sudah tak punya harapan! Aku… aku terlanjur
mengganti kewarganegaraanku….!! Selamat tinggal Agus… terima kasih karena sudah
pernah mencintaiku….”
Agus tertunduk. Bahkan
bapak revolusi itu lebih mencintai negerinya daripada sang pujaan hati.
“Maaf, Wening… aku tidak
bisa…”
Dan sang pahlawan pun tak
pernah menikah sepanjang hidupnya.
Catatan: Cerpen ini hanya sebuah hitung-hitungan kasar
yang mengabaikan banyak faktor dalam kemajuan sebuah negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar