Sabtu, 09 Januari 2016

#Cerpen Pandora


Waktu membaca: 15-17 menit
Pandora, 23 Juni 2035
Suasana kacau balau. Bukan kacau sih tepatnya, namun hiruk. Semua rakyat negeri Pandora seperti biasa bekerja keras membanting tulang. Tahun-tahun yang begitu menyulitkan ini harus segera mereka selesaikan. Sebuah konsekuensi, yang nantinya akan memberikan hasil yang memuaskan. Semua orang tahu, negeri mereka adalah sebuah harapan yang besar, dan itu akan terwujud sebentar lagi.
Jumlah mereka ada 300 juta jiwa. Didominasi oleh kaum pemuda, yang berjumlah 145 juta orang. Kaum manula yang berjumlah 93 juta, dan anak-anak 62 juta. Well, setiap orang yang masih bisa berjuang untuk negerinya adalah pemuda, itu pikir mereka. Masih kuat, dan masih bersemangat. Karena pemuda adalah “jiwa”, bukan usia. Umur berapapun mereka, asalkan masih memiliki jiwa pemuda, dia adalah pemuda. Titik. Itu prinsip Pandora.
Pagi itu, semua orang keluar rumah. Tak ada yang bermalas-malasan. Mereka semua sangat menghargai waktu, setidaknya, dalam 15 tahun kebelakang ini. Mereka berupaya keras mengejar ketertinggalan mereka akan teknologi yang sangat pesat perkembangannya. Presiden mereka, Emir, adalah orang yang paling tegas akan hal tersebut. Beliau selalu mendorong rakyatnya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna, walau sekecil apapun. Ia sangat menghargai karya-karya mereka, dan menganggap mereka sebagai pahlawan.
Darius pagi itu sudah berada di laboratorium pusat. Sebenarnya mah, ia memang menginap di sana. Ia dan 25 ilmuwan lainnya yang sangat setia pada negeri ini. Tim itu tak pernah merelakan setiap detik napasnya untuk tidak meneruskan pekerjaan. Mereka yang merelakan waktu tidurnya untuk setiap jengkal kemajuan penelitian demi penelitian yang mereka lakukan di sana.
Heidi bersama 3 juta orang lainnya juga terus bekerja tanpa mengenal lelah di pabrikan mobil ramah lingkungan buatan negeri Pandora. Pabrik itu memroduksi mobil kecil berkapasitas 4 orang. Didesain untuk se-friendly mungkin terhadap alam. Mereka memang selalu konsisten untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kendaraan yang semakin hari semakin meningkat.
Kastan, ia dan 26 juta orang lainnya yang bekerja keras untuk bercocok tanam di sekitar 500 ribu hektare sawah dan kebun yang telah dipersiapkan pemerintah untuk ditanami. Mereka tak kenal lelah untuk memasok kebutuhan-kebutuhan masyarakat akan bahan makanan, agar tak ada lagi yang namanya impor sayuran atau tanaman dari negara lain.
Puluhan juta orang lainnya pun bekerja keras. Mereka menahan keinginan besar mereka akan barang-barang mewah yang diproduksi oleh negara-negara di luar sana yang sudah maju. Mereka menahan diri dari smartpohone-smartphone handal buatan negara lain, sampai bisa memroduksinya sendiri. Mereka menahan diri dari komputer-komputer canggih yang ada di luar sana, sampai bisa memroduksinya sendiri. Mereka menahan diri dari segala alat elektronik dan teknologi, mesin-mesin yang dapat membuat hidup mereka lebih mudah, sampai mereka dapat membuatnya sendiri.
Sampai mereka bisa mandiri.
Perhatikan ini.
Secara diam-diam, mereka mempersiapkan diri untuk sesuatu yang besar yang akan terjadi sebentar lagi. Mereka hanya perlu menunggu.
At least, sudah 15 tahun mereka menjalani hidup seperti ini. Hidup tanpa alat transportasi mewah, tanpa gemerlap teknologi yang bisa mempermudah segalanya. Tanpa AC, tanpa gadget-gadget keren, dan tanpa segalanya yang belum bisa mereka buat sendiri.
Namun apapun itu, mereka teguh berkomitmen.
Kami hanya akan memakai barang produksi negeri sendiri, sejelek apapun itu. Tak peduli berbagai keterbatasan yang akan kami rasakan, kami cinta produk negeri ini.
Di sisi lain, teknologi di dunia ini berkembang dengan sangat cepat. Negara-negara maju dapat memroduksi berbagai mesin dan teknologi yang sangat modern. Kehidupan mereka menjadi sangat mudah. Manusia ingin ini, mereka tinggal menekan sebuah tombol. Ingin itu, tinggal menggeser sebuah layar touchscreen.      
Anyway, segalanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada banyak perusahaan besar yang berguguran, namun juga banyak yang tumbuh baru. Ada banyak krisis ekonomi, namun dengan cerdasnya mereka dapat mengatasi. Kehidupan manusia dan kebiasaan-kebiasaan mereka pun banyak yang berubah.
Kesenjangan finansial yang makin bertambah, makanan-makanan yang semakin hari semakin instan, gaya hidup yang sangat bergantung pada mesin, dan sebagainya.
Tetapi yang terlihat sangat mencolok adalah cara mereka menutup krisis-krisis yang ada. Mereka terlihat seperti hanya “meredam sakit”, bukan menyembuhkannya.
Entah sampai kapan hal tersebut akan bertahan. Ketidakseimbangan “hak dan kewajiban” manusia terhadap alam juga mulai terlihat. Dan juga pertumbuhan ekonomi yang makin tidak merata.
Perusahaan-perusahaan yang tadinya menjadi anak emas sebuah negara juga sudah ada yang runtuh, tolak punggung ekonomi sebuah negara pun ada yang tidak bisa bertahan. Negara-negara yang dalam 35 tahun terakhir terbilang maju juga pada akhirnya ada yang tidak kuat lagi menghadapi percepatan zaman. Namun ada pula negara-negara maju yang baru.
Ah, manusia, manusia. Tentu saja, sesuatu yang tidak pernah berubah di dunia ini adalah perubahan, bukan?
Well, kawanku yang baik, seperti halnya twitter, setiap cerita mempunyai timeline-nya tersendiri.
Pandora, 31 Juli 2000
Sudah 2 tahun negeri ini berjalan semenjak reformasi. Pandora yang sebelumnya dikuasai oleh seorang rezim yang kejam, akhirnya dapat bebas berkat perjuangan para mahasiswa dan aktivis lainnya yang mati-matian menggagaskan revolusi. Tak takut akan marabahaya dan resiko yang menanti mereka di depan, tak takut akan darah-darah yang tertumpah dan tubuh yang terjatuh satu-persatu. Finally, mereka berhasil.
Pandora adalah negeri yang luas. Ia memiliki banyak sekali pulau di sana-sini. Negara itu mempunyai kekayaan alam yang sangat berlimpah, dan disebut-sebut sebagai negara yang memiliki kekayaan alam terbesar di dunia. Penduduknya adalah yang keempat terbesar di dunia. Baru saja sekitar 50 tahun yang lalu mereka merdeka. Namun entah mengapa, sebelum adanya “revolusi prinsip”, mereka seperti sebuah boneka besar yang mudah sekali digerakkan oleh negara-negara lain untuk maju.
Di dua windu awal abad ke-21 (sekitar tahun 2000-2016) Pandora memang adalah mangsa yang sangat empuk. Banyak di antara negara-negara maju di zaman itu yang memanfaatkan Pandora untuk kemajuan bangsa mereka. Mereka tahu, rakyat Pandora adalah orang-orang yang konsumtif dan pemalas. Oleh karena itu, Pandora menjadi tempat yang sangat tepat untuk menjadi konsumen bagi barang-barang dari negara mereka.
Negeri itu memang dikenal dunia sebagai negeri konsumen. Besar dan malas. Perfect!
Sayangnya, semenjak reformasi, Pandora tak banyak berubah. Mungkin walaupun ada sebuah perubahan, itu adalah perubahan yang tidak baik, sekalipun para pemimpin di zaman itu menganggapnya baik.
Memang, semenjak sang rezim berkuasa, negeri Pandora yang baru saja terbentuk beberapa puluh tahun yang lalu itu menjadi cukup disegani oleh negara-negara di dunia ini. Banyak pembangunan yang terjadi, dan juga ada pemerataan-pemerataan antara desa dan kota. Bahkan sebuah negara pernah meramal bahwa Pandora yang baru saja terbentuk itu, akan menjadi sebuah negara maju beberapa tahun ke depan.
Sayangnya, beberapa tahun itu tak pernah tertafsirkan sebentar.
Tidak, tidak. Walaupun banyak terjadi kemajuan, rakyat tidak pernah senang dengan rezim, apalagi dikarenakan mereka dibatasi untuk mengeluarkan kritik-kritik dan saran-saran mereka. Tidak ada yang namanya kebebasan berpendapat. Sekali ketahuan, nyawa bisa melayang.
Hutang negara pun menjadi banyak. Menggunung, istilahnya. Well, hal tersebut cukup untuk membuat kita tahu, Pandora memang butuh sebuah reformasi. Karena sampai kapan mereka akan selalu menjadi “negara berkembang”?
Oke, kembali ke tahun 2000.
“Gus, kamu mau berangkat ke Jakrata sekarang?” tanya Wening pada sahabat dekatnya itu.
“Iya Ning, aku harus mencari kehidupan yang lebih baik daripada di kampung! Pokoknya, aku akan sukses di ibukota sana!” tegasnya pada sang perempuan.
“Yo wis, tapi jangan lupa aku yo?” Wening mengerlip sambil berbicara, menahan malu.
“Iyooo, masa teman masa kecilku kulupakan begitu saja? Ya ndak lah, ”Agus tersenyum, ”aku berangkat dulu ya, nanti kemalaman.”
Wening mengangguk.
Lambaian tangan Agus saat itu selalu ia ingat dalam setiap detik hidupnya. Menjadi Long term memory terindah yang pernah hinggap di pikirannya.
Oke-oke, singkatnya, itulah perpisahan kecil Agus dan Wening, dua orang sahabat yang telah bermain bersama semenjak kecil. Dan kini, selepas SMA, Agus mencoba mengadu nasib untuk mencari kehidupan dan jati dirinya sendiri.
By the way, mereka juga sebenarnya saling mencintai loh (ehm). Namun tak ada yang pernah mengungkapkannya satu sama lain.
Agus menaiki bus malam dari Pon Rogo menuju Jakrata. Ia mendekap erat sebuah buku kusam di dadanya. Tak lepas harapan saat ia membolak-balikan buku itu lagi, bertanya apakah impian yang tertulis di dalamnya benar-benar akan terwujud.
Umurnya kini 18 tahun. Dan ia memang harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Pandora, 18 Mei 2035
Darius, Heidi, dan Kastan berkumpul di sebuah rumah sederhana yang terletak di Pon Rogo, East Jave. Namun tak hanya mereka yang ada di situ, orang-orang yang lain pun berkumpul. Ada kolega, tetangga, bahkan ada pula pembesar pemerintahan yang hadir di sana. Mereka semua memakai pakaian hitam-hitam dan terlihat berwajah sedih.
Sebenarnya, seluruh Pandora yang bersedih.
Hari itu, teman sekaligus guru mereka, Agus Haryono, meninggal dunia. Ia wafat di usianya yang ke-54 tahun. Orang yang dijuluki bapak revolusi tersebut pergi meninggalkan banyak karya dan persembahan untuk negerinya. Perusahaan-perusahaan besar yang menjadi pahlawan devisa bagi negaranya, dan juga warisan besar terhadap jiwa-jiwa seluruh bangsa Pandora.
Perusahaannya telah menahkodai negeri itu untuk mulai menunjukkan “hasil” produksinya kepada dunia. Seolah berkata bahwa kita juga bisa menghasilkan sesuatu yang hebat! Bukan hanya bisa memakai barang-barang dari negara Anda!
Ia juga meninggalkan banyak persembahan lainnya, seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Namun yang paling akan diingat oleh seluruh rakyat negerinya adalah, revolusi prinsip yang ia cetuskan.
Revolusi Prinsip, revolusi terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Pandora.
Pandora, 16 September 2012
Agus berkumpul dengan 10 orang anak bangsa tersebut. Mereka membaca doa sebelum akhirnya mobil-mobil yang telah disiapkan olehnya berangkat menuju bandara. Membawa anak-anak berbakat tadi untuk melaksanakan sebuah misi. Misi memajukan bangsa. Itu tujuannya.
Agus berdiri terpaku saat mobil-mobil itu telah hilang dari pandangannya. Ia kini telah sukses semenjak perantauannya di tahun 2000 silam. Lelaki itu mempunyai banyak perusahaan besar yang maju dan terus berkembang. Berkat kerja keras dan kesabarannya, ia bahkan dinobatkan menjadi salah satu orang terkaya di negeri ini oleh sebuah majalah ekonomi.
Anyway, impiannya yang tersurat dalam buku kusamnya dahulu bukan hanya menjadi kaya seorang diri. Ia miris melihat keadaan negerinya sekarang yang menjadi “pengekor” sejati dari negara-negara maju di luar sana. Kecewa melihat pemerintahnya yang egois, dan menjual semua aset negara sehingga pelan-pelan dapat dikuasai oleh investor asing. Sedih melihat negaranya mulai dijajah secara ekonomi karena bebasnya orang asing yang mendirikan usaha di dalamnya.
Agus hampir merasa putus asa. Orang-orang di Pandora selalu menjadi konsumen barang-barang dari luar negeri. Mereka menggunakan barang mewah, teknologi, bahkan makanan pokok yang mereka makan pun adalah impor.
Merk-merk asing selalu saja menjadi barang terlaris yang selalu dibeli masyarakatnya.
Sebut saja, smartphone yang kala itu merajalela seperti Galaxy Z.
Atau sepeda motor Venus dan mobil-mobil seperti Handa dan Tayata, mereka-merekalah yang biasa hilir mudik di jalanan-jalanan Pandora.
Semua barang itu, rakyat Pandora yang membuatnya. Mereka yang merakit tiap bagian dari besi itu hingga bisa berjalan. Dengan tenaga mereka, keringat mereka.
Namun kacung tetaplah kacung.
Keuntungan penjualan barang-barang tersebut tetaplah untuk negara maju yang mempunyai hak milik atas merk barang yang mereka buat. Rakyat Pandora? Hanya dapat sepersekian jutanya mungkin. Hahaha…
Hey! Apakah kita tidak bisa membuatnya sendiri?! Batin nasionalisme Agus menjerit.
Ia sadar, bahwa bangsanya adalah bangsa yang pemalas—dan bodoh. Mereka tidak mau berjuang dan berkorban untuk orang lain. Mereka kurang cerdik, asal dikasih umpan yang menyenangkan, mereka pasti menerima walaupun dampaknya negara mereka akan rusak secara perlahan. Asal gue senang, bodo amat nasib jutaan orang lain di luar sana.
Rasa egoisnya melebihi bangsa manapun di dunia ini. Ah, egoisme. Itulah agama yang dianut oleh pemimpin-pemimpin bangsanya sekarang. Busuk!
Tak pelak, bahkan pemimpinnya rela menjual aset-aset bangsanya kepada investor asing. Benar-benar busuk dan tak tahu malu. Mereka membunuh bangsanya secara perlahan.
10 orang anak bangsa tadi berangkat dengan sebuah harapan yang besar. Mereka akan mempelajari teknologi-teknologi modern yang dipakai di negara lain agar Pandora bisa memroduksinya sendiri. Well, harapan Pandora ada di tangan mereka. Sanggupkah?
Agus mengelap peluh di wajahnya.
“Darius, Heidi, Kastan, dan yang lainnya, aku percaya pada kalian,” ia bergumam seraya memandang langit.
Pandora, 31 Maret 2015
Gedung Pertemuan Haryono, corp. tampak lenggang. Hari itu, Agus akan bertemu dengan 7 orang temannya sesama pengusaha untuk mendiskusikan sesuatu yang penting. Mereka adalah jajaran orang-orang terkaya di Pandora. Tentunya, hal yang akan mereka bicarakan adalah hal yang sangat penting.
Jam 11 siang, semua berkumpul. Pertemuan kali itu memang tergolong rahasia. Tak ada media sama sekali yang meliputnya. Padahal, ini adalah pertemuan yang bersejarah. Yang nantinya akan menentukan, dan memutuskan, bahwa bangsa mereka, pantas untuk menjadi bangsa adidaya.
Agus sendirilah yang memimpin pertemuan itu. Semua orang yang ada di sana tampak antusias mendengarkan penuturan-penuturannya yang hebat. Juga rencana-rencana yang akan mereka bahas.
Poin pertamanya adalah, mereka berencana untuk merebut kembali aset-aset milik asing yang bercokol di negeri mereka setelah sekian lama. Mulai dari pertambangan, operator seluler, bahan bakar, dan yang lain sebagainya.
Poin kedua, mereka berencana, untuk membuat tempat penelitian pusat, yang akan mempekerjakan para peneliti berbakat dari universitas-universitas unggulan di negeri mereka. Agar nantinya, tak ada bakat dan sumber daya yang tersia-siakan. Serta agar Pandora tidak ketinggalan dalam teknologi yang sedang berkembang sangat pesat belakangan. Karena selama ini, tak ada inisiatif dari pemerintah agar negaranya bisa bersaing dengan negara lain di bidang teknologi.
Poin ketiga, mereka akan mengajak semua pengusaha negeri Pandora untuk ikut dalam rencana mereka dalam memajukan negeri tersebut, dan mengalahkan negara-negara lain dalam berbagai persaingan. Serta agar Pandora bisa memperoleh predikat sebagai negara yang maju.
Pertemuan itu pun berakhir dengan kesepakatan kuat di antara mereka. Pandora punya masa depan yang lebih baik.
Pandora, 08 Desember 2016
Sudah setahun lebih semenjak pertemuan tersebut dilaksanakan. Sekarang, sudah sekitar 21 pengusaha terkaya di Pandora yang bergabung dengan mereka. Semua bekerja sama dalam bantuan finansial yang dibutuhkan untuk menyukseskan rencana-rencana tersebut. Mereka dengan komitmennya yang kuat, dan keyakinannya akan kemajuan negeri Pandora kedepannya.
Pandora, 03 Januari 2017
Agus menggunting pita peresmian kompleks gedung penelitian pusat Pandora yang berada di kota Purwakata. Semua orang pun riuh bertepuk tangan saat pusat penelitian seluas 3000 km persegi tersebut resmi dibuka. Dengan luas yang fantastis, tempat penelitian itu tidak hanya menjadi tempat penelitian, namun ternyata juga menjadi pusat pendidikan dan pengembangan potensi masyarakat. Semua orang yang punya bakat akan langsung direkrut dan dilatih oleh mereka. Dalam hal apapun. Mulai dari seni, sastra, teknik, dan lain sebagainya.
Tujuan utamanya sudah pasti, mereka ingin menambah produktivitas negeri Pandora yang sangat mereka cintai.
 Saat itu, pemerintah tidak memberikan bantuan apa-apa, semua murni keluar dari kantong Agus dan 20 rekannya. Walaupun mereka kecewa dengan pemerintah, mereka tidak mengeluh, karena mereka tahu, mengeluh bukanlah solusi.
Meskipun berat pada awalnya, hari ini, detik ini, mereka akhirnya berhasil menyelesaikan proyek besar mereka tersebut. Semua jerih payah mereka pun terbayar tuntas. Tentu saja mereka sangat senang.
Padahal, biaya pembangunan pusat penelitian tersebut menghabiskan hampir seluruh kekayaan Agus yang ia simpan, walau tidak termasuk aset perusahaan yang tetap berkembang. Pun dengan kekayaan teman-temannya yang lain. Dan meski semua bergabung, tetap saja, biaya pembangunan tempat itu sangatlah fantastis.
Pandora, 14 April 2017
21 orang pengusaha tadi berkumpul dan merencanakan sesuatu yang baru. Tahun depan, akan ada pemilihan presiden di negara mereka, dan mereka harus melakukan sesuatu.
Well, setidaknya mental pemerintah harus diubah. Tidak hanya mental sebenarnya, tapi juga moral. Pemerintah memang harus benar-benar berbenah diri.
Saat itu, ada sebuah nama yang menjadi pertimbangan mereka.
Emir.
Yap, dia tampak sebagai calon yang tepat. 21 pengusaha tersebut pun berunding. Emir nampak cocok, ia bagus. Paham agama, adil, dan juga tidak egois. Ia tidak kaya, tidak pula miskin.
Namun yang paling menaut hati mereka adalah, ia selalu mendukung orang lain untuk berkarya, bukan mengabaikan mereka.
Emir nampak cocok karena pengalaman sebelumnya ia sebagai walikota Suban. Sepanjang 3 tahun masa jabatnya di sana, lelaki itu telah membuat Suban menjadi kota yang sangat produktif. Nah, itulah kata kuncinya.
Produktif.
Siapapun pemimpin yang dapat membuat bawahannya produktif, dia adalah pemimpin yang sukses.
Dan lagi, Emir disegani. Ia adalah mantan preman ibukota di era 2000-an yang bertaubat. Fisiknya ditakuti. Ia punya wibawa yang bagus.
Malam itu, semua berunding dengan serius. Dan tepat sebelum ayam sempat berkokok, mereka sudah memutuskan.
Semua akan mendukung Emir mati-matian.
Pandora, 17 Juni 2017
Hari ini, 10 orang yang diutus Agus untuk belajar 5 tahun silam pun kembali. Mereka langsung dijamu dengan sangat ramah oleh Agus di rumahnya, dan diajak bicara mengenai perkembangan selanjutnya.
Oke, mereka siap untuk langsung memulai research pertamanya.
Agus sumringah.
Mereka diajak pergi ke pusat penelitian, dan dibebaskan untuk memilih untuk mengembangkan penelitian apa. Semua pun berjalan lancar.
Pengembangan smartphone.
Pengembangan sistem komputer.
Pengembangan otomotif.
Dan pengembangan-pengembangan teknologi lainnya.
Perjuangan pun dimulai.
Esoknya, Agus mengirimkan lagi 100 orang anak bangsa yang berbakat untuk belajar di luar sana.
Pandora, 11 November 2017
Krisis moneter melanda dunia. Semua orang butuh uang. Perusahaan-perusahaan besar hancur. Mereka yang tidak bisa bertahan terpaksa gulung tikar dan kembali menjadi miskin. Saat itulah semua harga saham turun, dan kebanyakan investor biasanya menjual saham mereka sebelum keadaan bertambah buruk.
Sekertaris Agus melaporkan bahwa semua sudah terkumpul 912 trilyun rupih sebelum krisis terjadi. Agus meneliti kembali angka-angka tersebut dan menilik sebuah diagram di meja kerjanya.
“Katakan pada semuanya bahwa kita akan segera mengambil kembali harta kita!” ia beujar pada sekertarisnya.
Perempuan cantik itu menggangguk tanda mengerti.
It’s show time.
Pandora, 18 November 2017
Pasar saham terguncang. Bukan apa-apa, namun karena sebuah perusahaan operator seluler yang paling banyak digunakan di Pandora diambil alih oleh beberapa pengusaha asli negeri itu. Sebelumnya, perusahaan besar itu sebagian besar dimiliki oleh investor asing, namun sekarang, semua sahamnya resmi dimiliki oleh bangsa Pandora.
Tak cukup itu, sebagian saham perusahaan tambang minyak negeri itu pun diambil alih oleh pengusaha-pengusaha tadi. Pertramina, kini resmi dimiliki oleh bangsa Pandora. 21 orang pengusaha tersebut seperti membelanjakan uang secara besar-besaran hari itu juga. Entah mengapa dan apa tujuan mereka, namun berita ini langsung menjadi headline utama di semua surat kabar, menjadi topik terpanas dalam semua berita. Bayangkan saja, ini seperti pengakuan dari pribumi bahwa semua harta itu milik kami! Bukan kalian!
Agus dan kawan-kawannya tersenyum melihat apa yang telah mereka lakukan.
Masyarakat yang mengerti pun bergembira, sementara yang lain hanya bisa berkata, ”ya sudah bagus”.
Pandora, 02 Januari 2018
Rakyat Pandora pun menamai mereka “21 pahlawan”. Bagaimana tidak? Mereka bertindak dengan sangat tepat, walaupun mengorbankan banyak harta mereka demi menyelamatkan aset negeri ini dari tangan orang asing. Mereka merebut kembali harta mereka, tak peduli seburuk apa kondisi keuangan dunia saat itu.
Setelah kejadian tersebut, 10 orang di antara pengusaha-pengusaha yang begabung bersama Agus akhirnya gulung tikar. Perusahaan mereka tak cukup kuat untuk menghadapi krisis. Mereka pun beralih kepada perusahaan-perusahaan yang baru direbut kembali oleh mereka. Well, yang penting saat keadaan sudah membaik mereka akan bertindak lagi.
Pandora 12 Januari 2018
Kabar mengejutkan lagi-lagi datang dari “21 pahlawan” tersebut. Mereka mencalonkan seorang walikota untuk ikut dalam pemilihan presiden bulan Juli mendatang. Namun karena saat itu krisis belum membaik, mereka tak punya dukungan yang cukup dari bagian finansial.
Mereka kekurangan uang untuk mendanai calon presiden yang mereka usung.
Penelitian-penelitian yang mereka danai pun tertunda karena masalah dana. Dan lagi, tak terlalu banyak rakyat yang mengenal nama yang dicalonkan mereka tersebut.
Emir. Siapa dia?
Dan tatkala calon-calon yang lain sudah siap dari dengan dukungan dari sana-sini, mereka pun melawan dengan taktik.
Rakyat sudah bosan dengan pemerintah yang selalu korupsi. Mereka gerah, benci terhadap orang yang sudah jelas bersalah namun tetap tidak mengakui kesalahannya.
Emir yang cepat beradaptasi dengan 21 orang tersebut pun berkata, bahwa ia sudah mempunyai rencananya sendiri.
Pandora, 03 Februari 2018
Semua bangkit secara perlahan. Perusahaan-perusahaan baru pun bermunculan. Perusahaan yang diambil alih oleh 21 orang tersebut juga mulai berbenah dan menghasilkan uang kembali. Dana perlahan mulai terkumpul untuk menyukseskan Emir dalam merebut hati masyarakat agar memilihnya menjadi presiden.
Namun saat dana sudah cukup terkumpul, Emir menolak dengan halus.
“Saya tidak perlu uang itu, saya hanya perlu sekali berkampanye yang diliput oleh media. Cukup.” Tegasnya.
Oke, kita lihat apa yang ia rencanakan.
Pandora, 10 Agusus 2018
Emir berhasil terpilih menjadi presiden! Ya! Dialah orang nomor satu di Pandora sekarang. Ia lah lelaki yang mempunyai mental yang berbeda dengan pemimpin sebelumnya, dan juga yang tegas terhadap jajarannya.
Emir lah yang akan memimpin negeri itu hingga tuntas. Maju. Dan berjaya. Ia lah yang mengomandoi semua rakyat untuk bersatu dan kompak dalam membangun negeri. Ia yang melepaskan diri dari ketergantungan dan bayang-bayang negara lain. Ia yang tidak mau menjadikan bangsanya sebagai bangsa pengekor. Ia yang selalu menegaskan kemandirian.
Ia, yang merebut hati seluruh rakyat Pandora dengan hanya berkata,
“Dalam pemilihan ini, saya tidak akan mengeluarkan uang seperti calon yang lain. Terpilih atau tidak, tujuan saya tetaplah memajukan bangsa kita. Saya khawatir, apabila saya terpilih karena uang, saya malah hanya akan berusaha untuk ‘balik modal’ dan lupa terhadap janji-janji saya terhadap rakyat, seperti yang kebanyakan terjadi di negara ini. Saya tegaskan, saya BUKAN ORANG SEPERTI ITU. Terpilih atau tidak, selamanya tujuan saya tidak akan berubah. Untuk memajukan bangsa. Terima kasih.”
Pidato yang singkat, namun tercatat dengan baik dalam sejarah Pandora.
Pandora, 31 Mei 2020
Sudah 2 tahun semenjak Emir menjadi presiden Pandora. Apa yang rakyat rasakan? Mereka benar-benar meresa dipimpin. Diktator. Absolut. Namun tepat sasaran.
Emir sangatlah tegas, mengingat ia adalah mantan preman. Bila ada pemimpin sekecil apapun yang melakukan korupsi, masyarakat tak pernah melihatnya lagi dengan tangan yang sempurna. Sesuai perintah sang nomor satu, hukumannya adalah potong tangan. Titik. Tak ada tapi-tapian.
Emir menjelma menjadi rezim. Semua kehendaknya wajib diikuti. Ia adalah penguasanya. Pasukan khusus ia bentuk untuk menangkap siapa saja yang melanggar. Mungkin seperti rezim yang berkuasa di zaman sebelum tahun 2000. Tetapi Emir tidak seperti itu.
Ia rezim, ia diktator, namun semuanya dalam hal yang baik.
Presiden saat itu mengeluarkan kebijakan agar tak ada rakyat yang bermalas-malasan. Setiap hari mereka harus melakukan sesuatu yang produktif. Yang menghasilkan. Tak boleh ada yang tersia-siakan dalam hal apapun. Semua harus dimanfaatkan, bahkan limbah dan kotoran manusia.
Tak ada toleransi dalam belajar! Semua bebas memilih apa yang mereka sukai, namun tak ada yang boleh menyerah dalam mengejar tujuannya! Tak ada orang yang bodoh. Tak ada yang tak berguna. Tak ada yang namanya sampah masyarakat di matanya. Semua orang sama, dan ia menghargai semua yang dihasilkan oleh mereka.
Mengenai kriminalitas?
Emir yang dulunya juga adalah jendral di bidang itu tahu persis semua metode dan modus kejahatan. Ia sendiri lah yang memimpin tim untuk mengentaskan semua kriminalitas.
Para penjahat segan. Emir dahulu dikenal sebagai “raja” para penjahat. Orang yang mereka segani. Mantan pemimpin mereka. Dan kini, saat sang bos menyeru kebaikan pada semuanya, mereka pun takluk.
Rakyat, yang walaupun merasa terpaksa, tak ada yang berani melawan perintah Emir.
Selang waktu 2018-2020 adalah masa-masa yang paling sulit bagi rakyat Pandora. Mereka yang tadinya santai, menjadi terpaksa untuk bekerja keras. Mereka yang tadinya ingin hidup mewah dan dimanja, tetap harus mengeluarkan peluh setiap hari. Rakyat dididik dengan keras untuk menghilangkan kebiasaan buruk mereka.
Semua ketergantungan akan produk dari luar negeri harus dihilangkan. Kita bisa mandiri! Kita kuat! Kita hebat! Bila kita bekerja sama dan bekerja keras, maka kita akan menjadi bangsa yang sukses! Tanpa perlu bergantung dengan barang buatan orang lain.
Emir selalu berkoar dalam setiap pidatonya.
Agus dan 21 pengusaha lainnya pun berfokus pada pengambilalihan aset-aset negara yang lain. Mereka ingin membuktikan, bahwa bangsa Pandora dapat mengendalikan semua itu dengan baik.
Tahun itu, pusat penelitian pun semakin berkembang. Pandora dapat menghasilkan produk handphone, otomotif, komputer, sistem operasi, dan banyak teknologi lainnya. Namun mereka belum dapat membuat yang secanggih bangsa lain.
Semua rakyat ditekankan untuk memakai barang buatan negerinya sendiri. Tak peduli sejelek apapun itu.
Mereka terus menerus ditekankan dengan hal-hal tersebut. Well, seperti kata pepatah, bisa karena biasa, dan biasa karena terpaksa.
Rakyat Pandora sedang dalam tahapan terpaksa sekarang.
Pandora, 21 September 2020
Semua orang tahu. Masyarakat tahu, bahwa biang kerok yang memaksa mereka untuk tak pernah bermalas-malasan ada dua orang: Agus Haryono, sang pengusaha besar dan Emir Silalahu, sang presiden.
Sekilas mereka benci terhadap mereka berdua.
Agus yang begitu gigihnya mempertahankan prinsip “bekerja keras sampai bisa!”
Dan Emir yang mempertahankan prinsip, “bangsa kita harus mandiri!”
Namun tanpa mereka berdua, Pandora mungkin sudah tidak bisa berdiri lagi tahun ini.
Tepat hari itu, dalam sebuah acara internasional yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Agus maju mewakili Pandora untuk menerima penghargaan, sebagai Negara terbaik tahun 2020.
Country of the year. That’s Pandora.
Dengan pertimbangan bahwa rakyat merekalah yang paling rajin di dunia ini. Paling produktif, istilahnya.
Hari di mana semua rakyat sadar, bahwa apa yang telah dipaksakan dan diperjuangkan oleh dua orang tersebut, dari awal adalah untuk kebaikan mereka sendiri.
Ratusan juta bangsa Pandora yang akhirnya terbiasa tersebut pun akhirnya mengakui, bahwa mereka memang bisa menjadi bangsa yang terbaik. Mandiri, dan hebat.
Hari itu, semua orang sadar. Dan secara sempurna merubah prinsip mereka untuk lebih maju.
Hari di mana Pandora menyebutnya, Revolusi prinsip.
Pandora, 27 Desember 2020
Anyway, tak semua jalan menuju Roma itu lancar, kan?
Bangsa Pandora kini mempunyai tujuan baru, yaitu untuk menjadi negara maju. Sampai saat ini mereka sebenarnya masih bergantung pada negara lain, dan belum sejahtera secara ekonomi.
Pembangunan yang masih belum merata, kemiskinan yang masih meraja-lela, dan segudang masalah lainnya yang harus mereka selesaikan.
Well, kesuksesan tampaknya masih jauh.
Beberapa negara yang terkena dampak “semangat baru” Pandora tersebut pun tampak mulai mengunakan cara licik. Mereka yang produknya tak lagi laku di Pandora akhirnya menghasut negara lain untuk tidak menerima barang produksi negara tersebut. Dan untuk mengucilkan Pandora, agar tak ada yang membantu mereka dalam mengembangkan perekonomian.
Sebut saja, negara Jap yang tadinya mendapat banyak pemasukan karena sepeda motor buatan mereka banyak dipakai di Pandora. Ketika barang lokal sudah turun ke pasaran, rakyat pun berbondong-bondong mengganti kendaraan mereka dengan produk lokal. Jap yang pendapatannya menurun pun akhirnya melakukan kecurangan seperti tadi.
Ah, Pandora memang harus maju selangkah demi selangkah. Mereka dan impian besar yang harus mereka selesaikan, sepertinya harus menunggu waktu.
Pandora, 10 Mei 2035
15 tahun setelah revolusi prinsip…
Agus sakit keras. Ia didiagnosa menderita kanker hati. Penyakit tersebut sangatlah ganas, kecil kemungkinan Agus untuk dapat selamat dari penyakit tersebut. Ia telat berobat karena terlalu sibuk mengurus pusat penelitian dan seabrek perusahaannya yang lain.
Ia juga terus menerus memantau perkembangan “kemandirian” bangsanya yang kian hari kian meningkat.
Namun tak pelak, tubuhnya pun mempunyai batas-batasan.
Begitu bangsa Pandora mengetahui bahwa Agus Haryono, sang bapak revolusi itu sakit keras, mereka semua mengirimkan kartu ucapan agar Agus lekas sembuh. Terhitung ada sekitar 100 juta kartu ucapan yang datang untuknya.
Well, jumlah yang sangat banyak untuk mengetahui bahwa Agus sangat dicintai oleh semua orang.

Pandora, 17 Mei 2035
“Untuk semua rakyat Pandora…” suara Agus tampak lemah saat Emir merekamnya.
“Dengarkan baik-baik pesan terakhirku ini…”
“Aku mencintai kalian seperti aku mencintai diriku sendiri…”
“Dan aku mencintai negeri kita ini, lebih dari diriku sendiri…”
“Apabila aku telah tiada nanti…”
“Jagalah terus cinta kalian pada negeri kita…”
“Maaf aku tidak bisa merayakan keberhasilan kita bersama…”
“Namun suatu saat…”
“Pandora pasti akan memimpin dunia…”
Agus, sang bapak revolusi itu, menutup mata.
Rakyat mengepalkan tangan.
Tunggu, bapak. Kami akan berhasil.
Pandora, 10 Mei 2036
Rakyat menyebut Agus sebagai pahlawan terbesar sepanjang sejarah Pandora. Ia begitu berjasa pada negeri itu, dan ia pun meninggal dengan sangat terhormat.
Saat itu, krisis moneter lagi-lagi melanda dunia. Semua menjadi kacau balau. Perekonomian menjadi lemah bagi negara-negara yang kehilangan tolak punggung pendapatannya. Yah, seperti krisis moneter di awal saja lah.
Namun sekarang, Pandora telah siap dengan krisis tersebut.
Mereka sudah kuat. Sebelumnya, saat mereka dikucilkan oleh negara-negara lain, Pandora sudah meramal bahwa krisis moneter yang sangat besar akan terjadi. Mereka mempersiapkan diri, menyimpan semua yang mereka butuhkan selama krisis. Istilah sederhananya, mereka menabung.
Itulah yang dilakukan Darius, Heidi, Kastan, dan rakyat-rakyat yang lain.
Sekali lagi, secara mengejutkan, mereka menyembul keluar. Menampakkan taringnya kepada dunia. Memanfaatkan dengan cerdik momen di saat negara lain sedang kesusahan, memanfaatkan waktu yang tepat untuk muncul ke atas.
Bersiap untuk menang.
Hingga akhirnya, mereka berhasil.
Pandora, 14 Mei 2036
Hari itu, saat hampir setahun sejak sang bapak revolusi meninggal, Pandora telah menjadi seperti apa yang ia cita-citakan.
Semua rakyat bergembira. Mereka senang sekali. Pandora baru saja mendapatkan predikat dari negara-negara lain sebagai salah satu negeri adidaya di dunia.
Berkat kerja keras mereka selama belasan tahun, akhirnya bangsa itu dapat memimpin perindustrian, juga pengelolaan alam di dunia. Mereka memroduksi teknologi-teknologi canggih, dan juga menjadi tempat tujuan study peringkat pertama di dunia, karena banyaknya universitas-universitas hebat di sana.
Pandora juga memimpin penggunaan bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan dan tidak berasal dari minyak. Mata uang mereka, Rupih, menjadi patokan dasar keuangan dunia, mengalahkan Dolla dan Euru.
Mereka juga memimpin di sektor pariwisata. Secara, semua tempat wisata di negeri itu terkelola dengan baik. Pembangunan pun merata di segala daerah. Pemerataan penduduk, tak ada kesenjangan sosial yang terlalu jauh, bahkan angka kemiskinan dan buta huruf turun drastis menjadi 0,01 persen.
Sebuah prestise membanggakan dari negara yang tadinya tak ada apa-apanya. Pandora tersenyum sangat rekah. Mereka telah mandiri sekarang. Semua berkat kerja keras dan “paksaan” dari orang-orang yang memimpin mereka.
Emir, berpidato hari itu. Pidato yang lagi-lagi singkat namun bermakna sangat dalam bagi rakyat Pandora. Semua bersemangat. Semua hidup bahagia.
Dan tak lupa, mereka persembahkan perayaan hari itu untuk sang bapak revolusi yang telah mendahului mereka lebih dulu.
Pandora, Pandora, namamu memang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah dunia.
-done-
Ah, andai dapat kusebut Pandora itu Indonesia….

Kuningan, 5 September 2012
 M. ‘Azam Rofi’ullah

Ehm… bentar-bentar, cerita ini belum selesai loh
Wening berdiri terpaku melihat Pandora yang kini berjaya. Ia dan suaminya, Van Der Wijk, hanya bisa melongo dan terdiam. Andai saat itu ia tak membentak Agus, orang yang dicintainya dan juga pahlwan bagi negeri itu, tentu ia masih bisa menjadi bagian dari perayaan di hari tersebut.
“Aku muak dengan semua impianmu tentang negeri ini! Kita sudah tak punya harapan! Aku… aku terlanjur mengganti kewarganegaraanku….!! Selamat tinggal Agus… terima kasih karena sudah pernah mencintaiku….”
Agus tertunduk. Bahkan bapak revolusi itu lebih mencintai negerinya daripada sang pujaan hati.
“Maaf, Wening… aku tidak bisa…”
Dan sang pahlawan pun tak pernah menikah sepanjang hidupnya.



Catatan: Cerpen ini hanya sebuah hitung-hitungan kasar yang mengabaikan banyak faktor dalam kemajuan sebuah negara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar