Matahari tersenyum. Aku yang sedang berjalan di trotoar Lebak Bulus menahan senyumnya yang panas. Semua juga tahu, di Ibukota, yang namanya sinar matahari di sini sudah hampir sama panasnya dengan matahari di negeri Arabia. Teriknya menggigit. Kacau.
Sembari menghalau panas, aku memandang sekeliling. Mencari-cari motor bebek 125cc warna merah yang biasa digunakan Matri, pembantuku, untuk menjemputku tatkala pulang sekolah. Kulirik jam tangan, sudah pukul 14.07, seharusnya Matri sudah ada disini tujuh menit yang lalu. Ah,percuma saja menggerutu. Tetap saja hal tersebut tak akan membuat Matri datang lebih cepat ke sini. Kutelpon pembantuku tersebut. Katanya ia sedang di jalan, sebentar lagi sampai. Aku harus menunggu sebentar. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu sambil membaca buku.
Kukeluarkan buku Bahasa Indonesia, dan kubaca di pinggir trotoar. Seorang temanku memberi tips, selagi membaca, bernafaslah dengan pernafasan dada. Karena hal itu dapat mempercepat pemahamanmu. Logikanya, pernafasan dada akan membuat tubuhmu lebih siaga, dan lebih banyak oksigen yang masuk ke paru-paru dibandingkan pernafasan perut. Setelah itu, akan lebih banyak pula oksigen yang mengalir ke otak, jadi, otak kita tambah sigap untuk mencerna informasi yang masuk. Dan setelah kupraktekkan, ternyata omongannya benar. Untung saja aku perempuan, jadi sudah terbiasa dengan pernafasan jenis tersebut. Hehehe, satu angka untuk perempuan.
Kubaca satu halaman, lalu aku berpikir ulang. Sepertinya waktu kosong saat menunggu Matri ini lebih baik kugunakan untuk memperkenalkan diri saja. Baiklah. Namaku Lu. Hanya itu. Simple, namun lugas. Selaras dengan kepribadianku. Umurku 13, rambutku lurus sebahu, tetapi aku memakai kerudung. Tinggiku hanya 171 centi. Ya, lebih tinggi sedikit dari Lionel Messi. Aku menyukai Peterpan. Bukan, bukan band pezinah itu, namun tokoh anak laki-laki yang bisa terbang. Bagiku, dia adalah cowok idaman. Dan kuharap, suatu saat, aku bisa bertemu sosoknya. Lelaki hebat yang akan mengajakku terbang melihat dunia. Ah, kalian pasti mengerti maksudku.
Tentang wajah, yang kumiliki tidak terlalu cantik. Jauh bila disandingkan dengan Gita Gutawa, atau Natasha Rizki. Punyaku tidak seperti itu. Tidak directly membuat laki-laki jatuh cinta. Tetapi yang ini agak rumit. Baiklah, mari kita sebut wajahku biasa-biasa saja.
Aku berdiri di kelas 3 SMP. Setahun lebih cepat dari anak seumuranku. Ini gara-gara aku lompat tiga tahun saat SD. Dulu, karena baru masuk sekolah dasar saat umur 8 tahun. Aku marah, kesal, emosi, sehingga mati-matian belajar. And the result was this, aku malah kecepetan satu tahun dibanding yang lain. Haha…
Aku tinggal bersama nenek di rumah. Bertiga dengan Matri. Ibuku meninggal saat aku masih bayi, dan ayahku dipenjara sejak aku masih bayi pula. Alasannya? Hm, agak klise, tapi mari kuberitahu; dulu, ayah yang membunuh ibu. Jadi, semenjak itu, aku tidak dididik oleh mereka berdua. Untunglah aku mempunyai nenek dan Matri.
Aku menangkap bayang-bayang liar di atas kepalaku. Mengembalikan khayalan perkenalan barusan ke masa kini. Kulihat jalanan, sudah ada Matri di sana. Ia mendekat ke arahku. Aku naik motornya, dan kami pun pulang.
*****
Aku menutup buku pekerjaan rumah bahasa Indonesia-ku dengan perasaan lega. Selesai juga. Dua jam aku bergelut dengan diksi-diksi yang akhirnya kueksekusi menjadi sebuah cerita pendek. Seperti biasa, tugas dari Pak Bowi. Bukan tugas sih sebenarnya, namun paksaan. Hahaha, lagian, buat anak tipe musikal keras sepertiku, menulis cerpen itu ribet, dan hanya buang-buang waktu. Aku lebih suka menyetel A7X atau Burgerkill di kamar, sembari melompat-lompat dan menggoyang-goyang rambut. Khas gadis rocker. Jadi, maaf-maaf saja nih buat anak linguistik. Kita berbeda. Jadi, terima saja perbedaan itu.
Bertepatan dengan selesainya cerita pendekku, aku menerima sebuah pesan pendek dari Giani, teman sebangkuku. Beritanya singkat, namun cukup menghujam jiwa. Bunyinya:
Lu, kabar buruk. Pak Bowi meninggal.
Aku memandang kosong ke layar handphone. Guru menyebalkan itu…pergi. Satu yang kusesali, kenapa berita ini tidak sampai kepadaku dua jam yang lalu? Aku kan jadi tidak usah mengerjakan tugas menyebalkan darinya. Kutarik nafas dalam-dalam, dan baru saja ingin kubalas sms itu saat berita kedua datang.
Kata Rasul, salah satu kewajiban seorang muslim kepada muslim lainnya adalah ikut dalam prosesi pengurusan jenazahnya. Mulai dari dimandikan, sampai ditutup tanah. Jadi sob, kita harus datang ke rumah beliau sekalian Takziyah. Yuk!
Oh, Giani, mulia sekali temanku itu. Aku yang tadinya malah ingin mengadakan pesta, urung. Lebih memilih ikut dengannya untuk melaksanakan kewajiban itu. Okelah, saatnya bersiap-siap.
Ma’aki Gi! Intadzirnii bi baitik!
Kubalas sms itu segera, dan kuambil kerudung. Lalu, tanpa membuang waktu lagi, aku melesat menuju rumah Giani.
*****
Kami shock setengah mati begitu tahu kabar dari Bu Entin, istri Pak Bowi, bahwa jenazah beliau tidak utuh sebagai sebuah manusia. Tangan kanannya tidak ada, jari di tangan kirinya tinggal tiga, rambutnya botak tercukur, dan yang paling aneh; ada ekornya.
Aku menutup muka. Takut membayangkan se…..
“CUKUP! LU, kali ini kau sudah begitu keterlaluan. Bapak memang memberi kebebasan bagi kalian untuk menentukan tema dan isi cerpen, tapi gak begini juga kali?! Penghinaan atuh lamun kieu mah. Hadeeuuuh.”
Di depanku, Pak Bowi menggerutu. Baru saja, ya, baru saja kukumpulkan cerpen tugasku. Pak Bowi serta-merta tidak terima karena; satu: anak linguistik dicerca; dua: ia dinyatakan meninggal; tiga: kami bahagia saat ia meninggal; empat: istrinya bukanlah Bu Entin, sebaliknya, Bu Entin adalah istri tetangganya; dan lima: masa’ jenazahnya punya ekor?
Aku hanya menerima pasrah omelannya. Sadar bahwa aku salah, namun di sisi lain tetap membela diri bahwa isi cerpenku itu hanyalah curahan hati. Aku siap, siap walaupun mungkin satu jam pelajaran hanya akan kuhabiskan untuk melaksanakan hukuman dari beliau, atau mungkin terus-terusan diomeli di depan teman sekelas. Namun yang terjadi lain.
Pak Bowi berdiri dari kursinya, mengecup keningku. Kemudian ia dengan lembutnya memegang tanganku, dan menatap wajahku dengan tenang.
“Lu, kau makhluk terindah yang pernah bapak lihat. Maukah kau menghisap ekor bapak?”
“Tentu saja, Pak Bo….”
AAARRRRGGGHHH!
Aku memukul-mukul keyboard laptop. Entah mengapa pikiranku ngawur. Padahal, banyak possibility lain yang bisa kumasukkan dalam ceritaku. Namun mengapa adegan itu yang kupilih?! Huh! Padahal, besok pagi tugas cerpenku ini harus sudah dikumpulkan ke Pak Bowi.
Ayolah Lu, fokus!
Hatiku berontak. Berlawanan dengan emosiku yang ingin agar aku beristirahat saja. Tidur, makan, main games, atau menelpon Giani; ngobrol. Namun semua keinginan tak berguna itu harus kusingkirkan dahulu. Akhirnya, kuputuskan untuk mencari udara segar dahulu. Aku keluar kamar, melihat nenek sedang menonton televisi. Kubuka pintu rumah, dan kulihat juga Matri sedang menyiram tanaman di sore ini. Kulirik jam dinding. Sudah pukul setengah lima rupanya. Aku memutuskan untuk duduk di pekarangan.
Kupandangi jalanan di depan rumah yang lenggang. Jarang kendaraan yang melintas. Mungkin karena letak geografis rumahku yang kurang strategis untuk dilewati. Dan suddenly, kulihat sebuah motor bebek merah 125cc melintas. Pengendaranya memakai jaket hitam, dan helm yang juga hitam. Ia berhenti di depan rumahku, lantas membuka helm.
OMG! Pak Bowi!
“Hai gadis manis… kok belum siap-siap? Ayo cepetan, kalo gak berangkat dari sekarang, nanti rame. Mumpung stadion Lebak Bulusnya masih sepi, kita berangkat dari sekarang aja. Yuk, bapak bonceng. Ini kan kencan pertama ki…”
APA-APAAN?!
Pak Bowi memandang layar komputernya dengan garang. Meskipun ia suka dengan Lu, menembaknya, diterima, mengajak kencan, diiyakan, namun alur ceritanya tidak begini juga kali! Memangnya Lu suka bila diajak nonton bola?! Persija lawan Persib lagi! Di stadion pula! Huh! Susah sekali membuat cerpen tentang orang yang dicintai. Terlebih bila itu adalah muridnya sendiri. Pak Bowi merutuk. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta pada gadis sederhana itu. Lu memang tak se’wah’ gadis lainnya, namun semua yang ada pada Lu membuatnya tertarik. Gadis itu sangatlah sederhana. Lihat saja namanya.
Semenjak itu juga Pak Bowi mencoba membuat cerita pendek yang bertokohkan sang pujaan hati. Ia tidak peduli meskipun anaknya sudah tiga, istrinya dua. Namun, semua usahanya failed. Hasilnya malah melantur. Mana pada awalnya ia malah diceritakan meninggal, keduanya ia tiba-tiba bermesraan dengan Lu di depan kelas, yang ketiga, ya tadi. Tambah kacau dengan mengajak Lu kencan. Ah,semua itu carut marut. Andaikan saja ia bi….
SEBENTAR! Aku menghentikan tuts keyboard. Semakin lama, pikiranku semakin tidak karuan. Mengapa malah menceritakan kegalauan Pak Bowi?! Guru botak mata keranjang itu?
Oh, Giani, apa sih yang sedang kau pikirkan?
Suara hatiku berontak. Lagipula, mana ada cerpen yang menggunakan konsep mendobrak realita seperti yang kulakukan sekarang? Yang namanya cerita, harus mempunyai kejelasan, aliran, dan harus membawa pembaca kepada sebuah kesimpulan. Tapi yang kubuat malah aneh, pralogis, dan hanya membuat pembaca tersesat. Ke mana sih mereka mau kubawa? Aku berpikir keras, menerawang, kemu…
JAWABAN ditemukan saat tubuhku terisi penuh. Oh, segarnya. Pria itu memang baik. Aku diisi dengan minuman highclass yang sekarang harganya sudah sembilan ribuan. Memang jawaban dari batukku hanyalah dengan minum. Kalau tidak air yang bagus, yang standar juga bisa. Kulihat ia segera membayar kepada petugas perempuan berbaju merah di sini. Kubaca nama di seragam petugas itu; Giani. Hm, sepertinya aku kenal. Dan pria penunggangku itu kembali menyalakanku. Menjauh dari tempat minum semua orang sepertiku. Aku pun menyalak kegirangan. Kudengar, pria yang menunggangiku itu menerima telepon dari seseorang.
“Ya, mbak Lu, saya segera ke sana, mbok iki tadi abis isi bensin. Kasihan si merah udah batuk-batuk dari tadi. Iyooo, baru jam dua lewat tujuh kan? Sabar nduk, mas Matri bentar lagi nyampe.”
Sambungan telepon ditutup. Aku melihat ke atas sambil terus mengaum di jalan. Oh, matahari sedang tersenyum lebar rupanya. Akhirnya, kubalas senyum itu dengan lampuku yang disuruh polisi menyala walaupun hari sedang siang.
*****
I’m pralogic.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar