Waktu membaca: 5-7 menit
Kevin sudah melihat ke langit
selama hampir 2 jam. Lama? Iya. Hatinya tak lepas-lepas dari rindu akan sosok
yang ada di langit malam kala itu. Sebuah fullmoon cantik yang hanya
bisa didapatkan sebulan sekali.
Bulan selalu menginterpretasikan
cinta di mata Kevin. Sejak beberapa tahun yang lalu, satelit bumi tersebut
menjadi obsesinya. Ia percaya bahwa dulu bulan adalah sesosok wanita cantik
yang dikutuk oleh Tuhan. Yang meski begitu, kecantikannya masih bisa dinikmati
orang banyak hingga sekarang.
Kevin tersenyum lagi.
Ia akhirnya menurunkan
pandangannya dari langit. Kini, ia melihat tas gendong berwarna abu-abunya. Di
dalam tas itu, buku-buku perkuliahan berdesakan mencari udara segar.
Ah, seminggu lagi UAS, aku
harus mencicil materi.
Kevin pun mengambil sebuah
buku; Foundations of Psychology; Boring, Langfield, Weld (1946) dan
mulai membacanya. Ia pribadi lebih suka dengan referensi berbahasa inggris
sebagai penunjang perkuliahannya. Selain melatih kemampuan berbahasa, ia juga
lebih puas karena melihat diksi penulisnya langsung tanpa ada penerjemah di
antara mereka.
***
Kevin baru mengenalnya 2 bulan
yang lalu. Seorang gadis biasa, tak suka make-up, cenderung hadir dengan
dandanan sopan yang jauh dari kesan metropolitan.
“Kevin.” Cowok tersebut
mengulurkan tangannya untuk berjabat, saat pertama mereka bekenalan.
“Bulan.” Balas sang gadis.
“Nama yang bagus.” Kevin
tersenyum.
Sang gadis memerah.
Dedaunan dari pohon Filicium
decipenes berjatuhan menimpa mereka. Entah mengapa namun hari itu terasa
lain. Siang terasa lebih sejuk dari biasanya. Universitas Pancasila tempat
mereka belajar seakan berkompromi dengan Tuhan agar menyejukkan hawa demi
pertemuan antara Kevin dan Bulan.
“Anak psikologi juga?” Tanya
Kevin.
“Bukan. Aku anak FH.”
Dan hal tersebutlah yang makin
membuat Kevin tertarik. Seorang gadis sederhana, berkuliah di Fakultas Hukum,
sungguh berbeda dari mahasiswa hukum kebanyakan yang “glamour” dan mempunyai
selera tinggi.
Kevin mengangguk-angguk saja kali
itu.
Gadis di depannya benar-benar
menarik.
***
Kevin menutup bukunya setelah
membaca selama 10 menit. Di langit, bulan masih tersenyum. Lelaki tersebut
mengucek-ucek mata yang sudah mulai mengantuk.
Sebentar lagi, vin. Selo.
Ia putuskan untuk melihat bulan
dulu sebentar. Dan setelah agak rileks, ia kembali tenggelam dalam bukunya.
***
“Kau dilamar seseorang?” Kevin
bertanya pelan kepada Bulan.
“I.. iya. Dia tetanggaku dari
kampung. Kami memang dijodohkan sejak kecil.” Bulan berkata malu-malu kepada
lelaki di depannya itu.
“Selamat kalau begitu. Jangan lupa
undang aku ya!” Kevin tersenyum ceria.
Kejadian ini persis satu bulan
yang lalu. Mereka saat itu memang baru berkenalan satu bulan lamanya. Kevin menjadi
pelanggan tetap Bulan yang berjualan Abon Gulung khas daerahnya. Mereka biasa
bertemu tiap Rabu sore di Kampus.
“Hehe. Itupun kalau kau bisa
datang.”
Bulan berkata sambil meninju
lengan Kevin.
“Oh iya, jauh ya?”
Bulan mengangguk.
“Tak apalah. Yang penting stok
abonku lancar.”
Mereka berdua tertawa.
***
Toooottttt!
Sebuah kereta membunyikan
klaksonnya.
Kevin agak terlunjak dari kantuk.
Wah, sudah jam 2, berarti satu
kereta lagi.
Ia segera beranjak dan menuju
kamar mandi untuk membasuh muka. Sebentar lagi orang yang ditunggunya datang. Ia
tak boleh terlihat kusut.
***
“Ini stok terakhir selama aku
pulang kampung.” Bulan memberikan abonnya kepada Kevin.
“Oke. Maaf ya gabisa datang ke
sana. Ternyata uangku tidak cukup.”
Bulan mengangguk. “Tidak apa-apa.
Ucapan selamat darimu saja sudah membuatku senang.”
Kevin menggaruk kepalanya yang
tidak gatal. Di tangannya, sudah ada 4 botol Abon Gulung khas Manokwari, Papua,
yang selama ini dijual oleh Bulan.
Kini, gadis tersebut akan pulang
kampung ke Tanah Irian sana untuk melangsungkan pernikahannya. Kevin ikut
bahagia. Ya, bahagia.
“Nanti kalau aku sudah kembali,
kau bisa memesan seperti biasa.”
Kevin memberikan gadis tersebut
sebuah jempol.
***
Jam 2.45 pagi. Bulan masih
tersenyum di langit yang cerah tanpa awan. Kereta Senja Utama Yogya-Jakarta
akhirnya tiba di Stasiun Jatinegara. Kevin berdiri dari tempat duduknya. Tak lupa,
ia masukkan buku tebal yang sedari tadi ia baca ke dalam tas. Bersiap menyambut
kedatangan orang yang ia tunggu.
Satu per satu penumpang kereta
pun keluar. Kevin menunggu dengan sabar.
***
“Nanti aku dari Papua naik
pesawat ke Jogja langsung. Soalnya suamiku kan kuliah di sana. Dari situ, baru
naik kereta ke Jakarta.”
Bulan menjelaskan lewat telepon.
“Oh, oke, biar nanti kujemput di
stasiun.” Kevin menjawab.
“Hahaha, jam 3 pagi loh
sampainya. Gapapa?”
Kevin mengangguk “he-eh”.
“Oke! Wah kamu baik banget, vin! Nanti
aku bilang suamiku kalo udah ada yang jemput.”
Kevin tersenyum. Berharap di
ujung pulau sana, Bulan dapat melihat lengkung bibirnya.
***
“Hei!” Seseorang menepuk pundak
Kevin.
“Hai! Wah, kok muncul dari
belakang?”
“Hehe, kamu lupa kalo aku gerbong
5 ya!”
Kevin menepuk jidat. Dari tadi ia
berdiri di depan gerbong empat. Pantas saja.
Gadis di depannya tampak ceria
meski bekas bangun tidur masih terlihat jelas di wajahnya. Perjalanan 8 jam
kereta Jogja-Jakarta memang sangat melelahkan.
“Mobilku ada di luar.” Kevin
memiringkan kepalanya ke arah pintu keluar.
“Ah! Baru aja sampe!” Bulan
berkata manja.
“Ya mau ngapain lagi, di stasiun
gak ada apa-apa.” Kevin berkata.
“Yee, ada kamar mandi kan! Nih
pegangin aku kebelet.” Bulan segera meninggalkan Kevin yang masih termangu atas
kehadirannya.
***
Jam 5 pagi, Kevin keluar dari
mobilnya dan segera berjalan masuk ke rumah. Ia lelah setelah mengantar Bulan dari
stasiun ke kos-annya tadi. Kini, saatnya beristirahat.
Ah, sayang sekali, pikirnya dalam
hati.
Bulan gadis yang manis. Sederhana,
tidak banyak mintanya. Sayang ia berjodoh dengan orang lain.
Kevin pun kembali tersenyum. Ia berdiri
di depan jendela kamarnya, melihat pemandangan jalanan yang mulai ramai dengan
orang-orang yang ingin berangkat kerja.
Bulan.
Ah, sayang sekali.
Kevin melihat langit.
Di sana, matahari mulai
menyuarakan sinarnya, membuat hari menjadi terang.
Lalu, di sisa-sisa malam yang
mulai habis, Kevin memeluk bulan, sebelum ia benar-benar hilang dari langit.
***
Azam
Rofiullah, 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar