Minggu, 10 Januari 2016

#Cerpen Memeluk Bulan


Waktu membaca: 5-7 menit
Kevin sudah melihat ke langit selama hampir 2 jam. Lama? Iya. Hatinya tak lepas-lepas dari rindu akan sosok yang ada di langit malam kala itu. Sebuah fullmoon cantik yang hanya bisa didapatkan sebulan sekali. 
Bulan selalu menginterpretasikan cinta di mata Kevin. Sejak beberapa tahun yang lalu, satelit bumi tersebut menjadi obsesinya. Ia percaya bahwa dulu bulan adalah sesosok wanita cantik yang dikutuk oleh Tuhan. Yang meski begitu, kecantikannya masih bisa dinikmati orang banyak hingga sekarang.
Kevin tersenyum lagi.
Ia akhirnya menurunkan pandangannya dari langit. Kini, ia melihat tas gendong berwarna abu-abunya. Di dalam tas itu, buku-buku perkuliahan berdesakan mencari udara segar.
Ah, seminggu lagi UAS, aku harus mencicil materi.

Kevin pun mengambil sebuah buku; Foundations of Psychology; Boring, Langfield, Weld (1946) dan mulai membacanya. Ia pribadi lebih suka dengan referensi berbahasa inggris sebagai penunjang perkuliahannya. Selain melatih kemampuan berbahasa, ia juga lebih puas karena melihat diksi penulisnya langsung tanpa ada penerjemah di antara mereka.
***
Kevin baru mengenalnya 2 bulan yang lalu. Seorang gadis biasa, tak suka make-up, cenderung hadir dengan dandanan sopan yang jauh dari kesan metropolitan.
“Kevin.” Cowok tersebut mengulurkan tangannya untuk berjabat, saat pertama mereka bekenalan.
“Bulan.” Balas sang gadis.
“Nama yang bagus.” Kevin tersenyum.
Sang gadis memerah.
Dedaunan dari pohon Filicium decipenes berjatuhan menimpa mereka. Entah mengapa namun hari itu terasa lain. Siang terasa lebih sejuk dari biasanya. Universitas Pancasila tempat mereka belajar seakan berkompromi dengan Tuhan agar menyejukkan hawa demi pertemuan antara Kevin dan Bulan.
“Anak psikologi juga?” Tanya Kevin.
“Bukan. Aku anak FH.”
Dan hal tersebutlah yang makin membuat Kevin tertarik. Seorang gadis sederhana, berkuliah di Fakultas Hukum, sungguh berbeda dari mahasiswa hukum kebanyakan yang “glamour” dan mempunyai selera tinggi.
Kevin mengangguk-angguk saja kali itu.
Gadis di depannya benar-benar menarik.
***
Kevin menutup bukunya setelah membaca selama 10 menit. Di langit, bulan masih tersenyum. Lelaki tersebut mengucek-ucek mata yang sudah mulai mengantuk.
Sebentar lagi, vin. Selo.
Ia putuskan untuk melihat bulan dulu sebentar. Dan setelah agak rileks, ia kembali tenggelam dalam bukunya.
***
“Kau dilamar seseorang?” Kevin bertanya pelan kepada Bulan.
“I.. iya. Dia tetanggaku dari kampung. Kami memang dijodohkan sejak kecil.” Bulan berkata malu-malu kepada lelaki di depannya itu.
“Selamat kalau begitu. Jangan lupa undang aku ya!” Kevin tersenyum ceria.
Kejadian ini persis satu bulan yang lalu. Mereka saat itu memang baru berkenalan satu bulan lamanya. Kevin menjadi pelanggan tetap Bulan yang berjualan Abon Gulung khas daerahnya. Mereka biasa bertemu tiap Rabu sore di Kampus.
“Hehe. Itupun kalau kau bisa datang.”
Bulan berkata sambil meninju lengan Kevin.
“Oh iya, jauh ya?”
Bulan mengangguk.
“Tak apalah. Yang penting stok abonku lancar.”
Mereka berdua tertawa.
***
Toooottttt!
Sebuah kereta membunyikan klaksonnya.
Kevin agak terlunjak dari kantuk.
Wah, sudah jam 2, berarti satu kereta lagi.
Ia segera beranjak dan menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Sebentar lagi orang yang ditunggunya datang. Ia tak boleh terlihat kusut.
***
“Ini stok terakhir selama aku pulang kampung.” Bulan memberikan abonnya kepada Kevin.
“Oke. Maaf ya gabisa datang ke sana. Ternyata uangku tidak cukup.”
Bulan mengangguk. “Tidak apa-apa. Ucapan selamat darimu saja sudah membuatku senang.”
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di tangannya, sudah ada 4 botol Abon Gulung khas Manokwari, Papua, yang selama ini dijual oleh Bulan.
Kini, gadis tersebut akan pulang kampung ke Tanah Irian sana untuk melangsungkan pernikahannya. Kevin ikut bahagia. Ya, bahagia.
“Nanti kalau aku sudah kembali, kau bisa memesan seperti biasa.”
Kevin memberikan gadis tersebut sebuah jempol.
***
Jam 2.45 pagi. Bulan masih tersenyum di langit yang cerah tanpa awan. Kereta Senja Utama Yogya-Jakarta akhirnya tiba di Stasiun Jatinegara. Kevin berdiri dari tempat duduknya. Tak lupa, ia masukkan buku tebal yang sedari tadi ia baca ke dalam tas. Bersiap menyambut kedatangan orang yang ia tunggu.
Satu per satu penumpang kereta pun keluar. Kevin menunggu dengan sabar.
***
“Nanti aku dari Papua naik pesawat ke Jogja langsung. Soalnya suamiku kan kuliah di sana. Dari situ, baru naik kereta ke Jakarta.”
Bulan menjelaskan lewat telepon.
“Oh, oke, biar nanti kujemput di stasiun.” Kevin menjawab.
“Hahaha, jam 3 pagi loh sampainya. Gapapa?”
Kevin mengangguk “he-eh”.
“Oke! Wah kamu baik banget, vin! Nanti aku bilang suamiku kalo udah ada yang jemput.”
Kevin tersenyum. Berharap di ujung pulau sana, Bulan dapat melihat lengkung bibirnya.
***
“Hei!” Seseorang menepuk pundak Kevin.
“Hai! Wah, kok muncul dari belakang?”
“Hehe, kamu lupa kalo aku gerbong 5 ya!”
Kevin menepuk jidat. Dari tadi ia berdiri di depan gerbong empat. Pantas saja.
Gadis di depannya tampak ceria meski bekas bangun tidur masih terlihat jelas di wajahnya. Perjalanan 8 jam kereta Jogja-Jakarta memang sangat melelahkan.
“Mobilku ada di luar.” Kevin memiringkan kepalanya ke arah pintu keluar.
“Ah! Baru aja sampe!” Bulan berkata manja.
“Ya mau ngapain lagi, di stasiun gak ada apa-apa.” Kevin berkata.
“Yee, ada kamar mandi kan! Nih pegangin aku kebelet.” Bulan segera meninggalkan Kevin yang masih termangu atas kehadirannya.
***
Jam 5 pagi, Kevin keluar dari mobilnya dan segera berjalan masuk ke rumah. Ia lelah setelah mengantar Bulan dari stasiun ke kos-annya tadi. Kini, saatnya beristirahat.
Ah, sayang sekali, pikirnya dalam hati.
Bulan gadis yang manis. Sederhana, tidak banyak mintanya. Sayang ia berjodoh dengan orang lain.
Kevin pun kembali tersenyum. Ia berdiri di depan jendela kamarnya, melihat pemandangan jalanan yang mulai ramai dengan orang-orang yang ingin berangkat kerja.
Bulan.
Ah, sayang sekali.
Kevin melihat langit.
Di sana, matahari mulai menyuarakan sinarnya, membuat hari menjadi terang.
Lalu, di sisa-sisa malam yang mulai habis, Kevin memeluk bulan, sebelum ia benar-benar hilang dari langit.
***
Azam Rofiullah, 2016

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar