“Tunggu,
ini Afrika?” aku terbelalak dengan pemandangan di depanku. Celingukan dengan
tempat yang tidak kusangka sama sekali.
Kejadiannya
10 jam yang lalu…
Mamah mennyebalkan
seperti biasa. Aku baru saja bangun pagi ini, baruu saja. Namun ia sudah ada di
depanku, dengan tatapan matanya yang tajam,menatapku seakan aku adalah hewan
buruannya. Ah, ia memang seperti itu. Ingin agar aku disiplin dan teratur.
Aku
melompat dari tempat tidur dan menatapnya balik dengan tatapan yang sama. Oke,
mungkin ini kurang sopan kelihatannya, tapi kan, ya, yang penting aku
bangun.
“Ini!
Cepat mandi sana!” ia memberikanku handuk.
Aku
bergegas menuju kamar mandi. Kulihat ia di belakang sedang merapihkan tempat
tidur yang barusan kutiduri. Aku acuh saja.
Kamar
mandi kami bersih. Ya, tentu saja. Aku menyalakan keran untuk mengisi bath up,
kemudian mulai menggosok gigi sembari menunggu. Tak perlu waktu lama,bath up
itu sudah terisi penuh. Kami memang menggunakan teknologi otomatis yang membuat
bath up cepat penuh. Secara, kami tidak ingin membuang waktu kami.
Setelah
mandi, aku bergegas ke lantai
bawah. Di sana Ayah sudah menunggu untuk mengantarku ke sekolah. Namun kok
sekarang ada yang aneh tampaknya. Aku melihat ada beberapa koper di sana. Plus
beberapa tas kecil dan tas pinggang. Pembantu kami sudah ada di sana. Bersiap
seperti biasa dengan barang-barangku. Tapi, hei! Memangnya sekarang mau piknik?
“Ayah
mau tugas ke luar kota?” aku bertanya pada Ayahku.
Ia
sekilas tersenyum sebelum menjawab,” tentu saja tidak. Barang-barang ini
punyamu, Jihar.”
“Loh,
memangnya aku mau ke mana? Ada piknik?” tanyaku yang masih keheranan.
“Hahaha,
tentu saja bukan!”Ayah tertawa melihat kebingunganku.
“Kau
akan ikut program pertukaran pelajar di Neapolis selama dua bulan. Hari ini kau
berangkat,” tiba-tiba, mama muncul dan menjelaskan.
Pertukaran
pelajar? Aku kan bukan anak yang pintar.
“Selamat ya! Ayah akan mengantarmu ke sekolah untuk berpamitan
kepada semuanya, kemudian, kita langsung pergi ke bandara,” jelas Ayah.
“Tunggu,
tunggu. Ada apa ini? Perasaan aku tidak pernah meminta untuk diikutkan program
ini?” aku bertanya, karena sejujurnya kabar ini mengejutkan.
“Yah,
memang kau tidak pernah memintanya. Namun kepala sekolah yang menunjukmu untuk
menjadi perwakilan sekolah. Ia berkata bahwa kau adalah anak yang multitalenta.
Bagaimana menurutmu?” jelas Ayahku.
“Hmmm…”
aku masih berpikir. Tapi kan ini mendadak. Lagian masa’ aku tidak diberitahu
sebelumnya?
Lalu
tiba-tiba jam tangan Ayah berbunyi. Tanda bahwa ia harus cepat-cepat.
“Oke,
ayo kita pergi, jagoan!” ia mengayunkan tangannya tanda mengajak, lalu dengan
segera berjalan ke mobilnya. Para pembantu kami yang setia pun juga
bergegas membawa barang-barangku dan memasukannya ke bagasi. Aku yang masih
terpaku segera didorong oleh mamah agar bergegas juga.
“Sana
pergi..!” ia tersenyum.
Aku
pun menyusul iring-iringan tadi dengan cepat. Duduk di depan di samping sang Ayah
yang nantinya akan menyetir.
Oke,
mari berangkat.
***
Sebelum
lanjut, biar kuceritakan tentang keluargaku.
Kami
keluarga Hendrawan.
Orang-orang
mengenal kami dengan baik. Tentu saja, sebenarnya kami tidak hanya dikenal sih,
tapi kami terkenal.
Siapa yang tidak tahu Ayah? Sang pengusaha taman hiburan terbesar di
Indonesia. Ia mempunyai beragam taman hiburan yang—sebut saja, keren. Kami
tinggal di sebuah rumah mewah di bilangan kota Depok. Mengapa bukan di Jakarta?
Terserah mas penulis katanya.
Rumah
kami sebenarnya ada banyak. Dan tentu saja semua mewah-mewah. Namun yang biasa
kami tempati adalah rumah yang berada di Depok ini. Munkin kami memang sudah
nyaman tinggal di kota ini. Secara, kotanya keren, indah, damai, asri, dan
seabrek kelebihan yang tidak dimiliki kota manapun di dunia ini (hohoho)
Kami
sangat kaya. Silahkan kalian bayangkan sendiri.
Tentang
aku, namaku Jihar A Hendrawan. Kalian tidak usah bertanya apa kepanjangan dari
‘A’ itu. Sejujurnya, itu sangat privasi.
Aku
cukup ganteng. Terlepas dari apa makna ganteng yang kalian percayai. Tapi
percayalah, aku cukup ganteng.
Aku
bersekolah di SMA 3 Depok semenjak tahun lalu. Di sekolah, aku tergolong anak
yang biasa-biasa saja sebenarnya. Tidak terlalu pintar, namun tidak bisa
disebut bodoh juga. Masalah kelakuan, aku tidak bandel kok, namun tidak bisa disebut
baik juga. Standar
lah, mungkin karena aku rada pemalas orangnya.
Nah, mungkin cukup ya?
Kita kembali ke cerita.
Ayah menyetir. Aku cuek
saja dengan gadgetku. Pagi itu, hari Selasa yang cerah, entah apa yang akan
terjadi di… kota apa tadi? Ah, Neapolis.
“Ayah, nanti aku akan
tinggal di mana?” tanyaku.
“Kau akan bersama
keluarga angkat di sana. Sekalian kau bisa mempelajari budaya mereka nantinya,”
ia menjawab sambil masih mengarahkan pandangan ke jalanan.
“Memangnya itu di mana
sih?”
“Di barat.”
“Ohhh…” barat ternyata.
“Kau akan dapat banyak
pengalaman di sana. Banyak teman baru, banyak poengetahuan baru, dan mungkin
kau bisa bertemu seorang perempuan di sana…” ia tersenyum,” hahaha, Ayah
bercanda. Seru kok nanti.”
“Baiklah, aku akan
melakukan yang terbaik.”
“Bagus. Nah, kita sampai.”
Mobil terparkir di tempat
parkir sekolah.
“Ayo
berpamitan.”
Dalam
setengah jam kemudian, aku masuk ke ruang guru dan berpamitan dengan semuanya.
Mereka terlihat tersenyum bahagia. Aku tak menyangka apapun sama sekali.
Kepada
teman-temanku, aku juga berpamitan. Mereka menyalamiku dengan semangat.
Sepertinya tahu kalau aku yang orang kaya ini mah, walaupun tidak pintar tetap
bisa mengikuti program seperti ini.
“Baiklah,
ayo berangkat,” ucap Ayah saat kami mulai melaju ke bandara.
***
Dan
itulah yang terjadi. Sekarang aku berada di sini. Di Neapolis, Afrika Selatan.
Menjalani program pertukaran pelajar bodoh yang tidak kuketahui sama sekali. Ah, sial. Mengapa aku
langsung setuju begitu saja?
Namun
the show must go on. Aku dijemput oleh keluarga angkatku. Mereka tampak senang
melihat kedatanganku. Menyambutku dengan tangan terbuka,
Kami
langsung pulang ke rumah dari bandara. Walaupun di bandara hanya berkenalan
singkat, kami akan melanjutkan mengobrol di rumah saat makan malam, kata Juju,
sang kepala keluarga.
Jalanan
di kota ini begitu lenggang. Padahal kalau di Jakarta jam segini jalanan sangat
ramai karena orang-orag sedang pulang kerja.
“Kenapa
di sini jalanan sepi?”
Kareen,
sang istri menjawab,” karena penduduk di sini lebih suka naik kereta, jadi
jalanan tidak terlalu ramai.”
“Waaw,”
unggahku.
Sesampainya
di rumah, kami langsung sarapan. Memang gara-gara penerbanganku aku merasa
sedikit jet lag. Berangkat pagi, sampainya juga pagi. Otomatis nanti aku tidak
tidur selama 24 jam. Kalian tahu jet lag kan? Kalau tidak tahu cari tahu
sendiri ya!
Keluarga angkatku
hanyalah sebuah keluarga kecil. Dengan Juju sebagai sang suami dan Kareen
sebagai istrinya. Mereka tidak mempunyai anak. Kareen mengatakan bahwa dahulu
anak laki-lakinya meninggal saat seusiaku. Semenjak saat itu mereka belum,
berpikir untuk mempunyai anak lagi.
Juju bekerja sebagai
seorang pegawai negri di kantor kejaksaan. Entah apa jenis pekerjaannya.
Sementara Kareen adalah seorang teller di sebuah bank nasional. Mereka berdua
sibuk, sehingga mereka berkata apabila di rumah tidak ada siapa-siapa aku harus
bisa menjaga diriku dengan baik. Ambil yang diperlukan, buat makan malam
sendiri, dan lain sebagainya. Tenang aja sih. Begini-begini aku bukan tipe
orang kaya yang manja. Aku juga bisa mandiri.
Orang-orang di Afrika
selatan—khususnya di kota ini—mempunyai ras yang beragam. Sebut saja ras
melayu, negro, dan juga ras-ras orang barat atau yang biasa disebut ‘bule’.
Keluargaku sendiri memiliki ras campuran. Juju melayu dan Kareen ras kaukasoid.
Yah, intinya mah aku tetap cukup ganteng.
By the way, hari ini
jadwalnya Juju akan mengantarkanku keliling kota. Melihat sarana-sarana yang
ada, sekaligus say hi pada Neapolis ini. Tak lama setelah selesai sarapan, kami
pun berangkat.
Aku dapat melihat tiap
sudut kota dengan baik. Dari taman, sekolah, pasar, stasiun, dan yang lain
sebagainya. Juju mengatakan bahwa tata letak kota ini termasuk yang terbaik di
Afrika Selatan. Benar-benar mendahulukan tempat mana yang penting dan yang
kurang penting. Sarana transportasi pun sudah mendukung. Kebanyakan orang
menaiki kereta walaupun juga ada bus.
Baiklah, kesimpulannya:
Neapolis adalah kota yang bagus.
Kami baru pulang malam
hari. Perjalanan yang cukup panjang memang. Sepanjang hari aku mengunjungi
fasilitas kota satu per satu. Jadinya,kami baru selesai saat malam tiba.
Sesampainya di rumah kami
langsung makan malam. Sudah menjadi adat di sini bahwa sepanjang makan malam
berlangsung, semua harus ceria. Boleh bercerita, atau apapun. Berbeda dengan
tanggapan oirang yang menganggap bahwa makan saat bicara itu tidak sopan, di
sini, bahkan semua orang harus bicara. Dan mungkin hal inilah yang membuatku
cepat beradaptasi dengan mereka.
Esoknya,
aku sudah harus mulai bersekolah. Aku diantar oleh mereka seperti biasa. Letak
sekolah dari rumah kami cukup jauh. Namun dengan kondisi jalanan yang bagus,
kami tetap dapat sampai dalam waktu cepat. 15 menit. Berbeda dengan Jakarta
yang jarak 5 kilometer saja butuh waktu tempuh setengah jam.
Sekolahku
cukup besar. Ya, sedang lah. Gerbang depannya berdiri kokoh menyambutku saat
pertama kali masuk. Hari itu, Juju membantuku mengurus registrasi exchange
student ku di bagian TU. Ia mengerti kalau aku akan agak kesulitan bila
berbicara dengan para petugas, karena mereka berbicara bahasa campuran di sana.
Ada bahasa asli, bahasa Inggris, dan entah bahasa apa yang aku idak tahu
namanya. Kalau di Indonesia, seperti bahasa sunda atau jawa, namun mereka
menggunakannya dengan campuran. Bahkan juga dicampur dengan bahasa inggris. Hal
ini jelas membuatku pusing tujuh keliling (sampai sekarang aku tidak tahu
mengapa pusing itu harus tujuh kali kelilingnya).
Well,
aku cukup beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Setelah urusan administrasi
selesai, Juju meninggalkanku dengan sebuah tiket kereta api untuk pulangnya.
“Bila
kami belum pulang, kau baik-baik di rumah ya!” Juju tersenyum mengingakan.
“Tentu
saja!” aku menjawab.
Ia
pun pergi. Saat aku berjalan di koridor, terlihat beberapa anak berbisik-bisik
melihatku. Ehm, lebih tepatnya, beberapa anak perempuan yang berbisik-bisik.
Aku menyocokkan papan nama kelas dengan kelasku. XI-4, di mana ya?
Aku sibuk mencari hingga akhirnya bel pun berbunyi.
“Excuse
me… kelas XI-4 di mana ya?” tanyaku pada seorang murid laki-laki.
“Ohh…
ikut aku! Aku juga kelas itu,” jawabnya dengan bahsa inggris yang berlogat
aneh.
“Baiklah,”
jawabku.
Kami
menyusuri tangga menuju ke lantai 3, lalu berbelok ke kiri. Tepat di ruangan
ketiga dari tangga, itulah kelasku. Ehm, kelas kami.
Ruangan
kelas sudah terisi penuh oleh murid-murid saat kami masuk. Terlebih di saat aku
masuk, bisikan-bisikan itu mulai terjadi lagi. Aku diajak oleh anak laki-laki
tadi untuk duduk di sebelahnya sembari menungu guru datang. Sedikit banyak, aku
merasa agak ganjil. Bukankah murid baru itu biasanya datang terakhiran dan
diperkenalkan oleh guru kepada anak-anak?
Ah,
tak apalah. Tak lama kemudian, guru kami pun masuk. Serentak, semua bisik-bisik
dan keributan-keributan kecil yang terjadi berhenti. Kulihat sekeliling. Semua
diam dan duduk dengan rapih. Aku pun menyesuaikan.
Guru
kami itu perempuan. Jadi kedepannya akan kupanggil bu guru saja. Aku
memperhatikan beliau dengan seksama. Tanpa bermaksud buruk, aku memperhatikan
bentuk fisiknya. Langsing. Wajahnya. Lumayan. Kalau disbanding-bandingkan yaaa,
sekelas Soimah lah. Tapi yang ini kalem.
“Anak-anak!
Hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya Jihar. Jihar, silahkan maju ke
depan dan memperkenalkan diri!” suruhnya padaku. Aku menurut dan dalam 5 menit
ke depan, sesuai perintahnya aku memperkenalkan diri.
Perkenalan
selesai. Gak ribet kan?
Aku
kembali duduk, pelajaran pun dimulai. Oh, ternyata, bu guru itu bernama Nady.
Bu Nady, atau miss Nady panggilannya. Ia mengajar pelajaran pertama di kelas.
Ia mengajar pelajaran pertama di kelas. Bahasa Inggris. Fine.
Murid laki-laki yang ramah tadi, ternyata
bernama Shin. Entah dia rasa pa, namun mungkin masih ada kerabat dengan orang
china.
Karena
sekarang pelajaran bahasa Inggris, maka aku lebih memperhatikan seisi kelas
dibandingkan miss Nady. Secara, bahasa Inggris-ku sudah bagus. Bukan bermaksud
sombong ya, tapi memang itu kenyataan. Lagi pula aku ingin melihat wajah
anak-anak kelas juga. Penasaran dan ingin kenal mereka semua dalam waktu 2
bulan ini. Untung saja miss Nady membiarkan.
Setelah
pelajaran pertama, ternyata bel istirahat berbunyi. Murid-murid langsung
berhamburan keluar kelas, namun ada beberapa anak laki-laki yang menghampiriku
dan mengajak berkenalan. Pun anak perempuan juga ada. Ehm, maklumlah aku kan
cukup... stop ah! Aku harus menghentikan sindrom ini.
Wah,
wah, rasanya seperti artis dadakan saja. Aku berkenalan dengan semuanya. Dengan
bahasa Inggris tentunya. Namun mereka walaupun sudah bisa berbicara menggunakan
bahasa ingris tetap saja loatnya kurang pas. Aku geleng-geleng kepala dalam
hati.
Hari
pun berjalan lancer. Tak terasa, sekolah selesai. Kulihat jam, masih pukul
14.00 rupanya. Aku segera bergegas pulang.
Begitu
masuk stasiun, aku langsung paham apa yang harus kulakukan karena kemarin, Juju
sudah mengajariku semuanya. Keretaku datang 5 menit lagi, jadi aku memutuskan
untuk duduk di kursi tunggu.
Aku
duduk bertepatan dengan seorang gadis cantik yang juga ingin duduk. Nih, nih,
silahkan dibayangkan. Jadi ada satu kursi, nah, ketika kau ingin duduk, ada
orang lain yang ingin duduk juga, lalu karena waktunya bersamaan, *ehm* pantat
kalian bertabrakan *aduuh*
Nah
itulah yang terjadi saat itu.
“Aduh,
maaf…maaf…” pintaku,” aku tidak melihat.”
“Eh,
aku yang harusnya minta maaf, tadi aku ceroboh,” ucap gadis itu.
Aku
terkejut karena ia memakai seragam sekolah yang sama persis dengan punyaku
(yaa, bedanya aku seragam laki-laki dia yang perempuan).
“Loh?
Kamu Jihar kan?” tanyanya.
“I…iya..kok
tahu? Kita satu sekolah ya?” aku bertanya balik.
“Bukan
hanya satu sekolah! Kita tuh satu kelas tau!” Ia memberikan statement pengejut
kedua.
“Nah
loh! Tapi kayaknya aku kok gak ngeliat kamu deh? Siapa sih?”
“Aku
Jean, tadi duduk paling belakan, jadi gak sempet kamu lirik pas pelajaran
bahasa Inggris. hihihi…” ia tertawa imut. Sudah cukup untuk membuat pipiku
memerah.
“Ohhh…
iya-iya, salam kenal kalau begitu!” ucapku.
“Salam
kenal juga!” ia tersenyum,” kamu ngapain di sini?”
“Aku
ya mau naik kereta lah!” jawabku. Cantik-cantik tapi o’on deh.
“Ya, maksudnya naik kereta ke mana?”
“Pulang,”
jawabku.
“Ih,
ya pulang kemana?”
“Ohh, ke Hookward, kamu?”
“Aku
ke Nordess, yah kita beda arah deh,” ia cemberut.
“Hahahaha,
gapapa kali. Biasa aja,” aku malu.
“Yo
wis lah keretaku datang nih,” ucapnya,” duluan ya!”
“Iya-iya,”
ujarku.
Tak
lama setelah kereta si cantik tadi, kereta punyaku datang. Aku segera naik dan
mencari tempat duduk. Namun sebelum duduk, aku melihat dulu apakah ada orang lain yang ingin
duduk di sana atau tidak.
Setelah
yakin aman, barulah aku duduk.
Trauma
mode on.
Sepanjang perjalanan, aku ternyata tak bisa berhenti membayangkan
Jean. Ah, entahlah.
***
Setelah
kejadian kemarin, selama setiap hari setelah pulang sekolah kami jadi selalu
bersama. Yaah, setidaknya sampai stasiun. Kami mengobrol banyak hal, mulai dari
sekolah, teman, bahkan mulai ke masalah politik dan hokum. Jean banyak
mengajariku adat istiadat yang berlaku di sini. Tentu saja selain pelajaran
yang diberikan oleh orang tua angkatku. Aku jadi lebih paham, dan lebih bisa
dengan cepat bergaul dengan yang lainnya.
Sebulan
setelahnya…
Aku
benar-benar menjadi akrab dengan Jean. Kami seperti selalu mempunyai kesamaan.
Adaa saja. Oborlan kami selalu nyambung dan… ya! Bisa ditebak. Minat kami
banyak yang sama.
Aku
menceritakan tentang Indonesia, ia menceritakan tentang negaranya. Aku
menceritakan tentang Islam, ia menceritakan tentang Kristen yang dianutnya. Aku
menceritakan ini, dia menceritakan itu. Yang penting, kami tidak pernah
kehabisan bahan untuk diperbincangkan.
Nah,
mari kita masuk ke hal yang lebih serius lagi. Sejak saat pertama kali bertemu,
aku agaknya dibuat sangat malu oleh perempuan ini. Ia dapatdengan begitu saja
membuat pipiku merah, karena walaupun cukup ganteng begini, aku ermasuk orang
yang pemalu.
Sampai
saat ini sebenarnya, aku boleh dibilang klop dengannya. Ia pun tampaknya
begitu. Kami menjadi teman yang seperti sudah kubilang tadi. Akrab. Namun
mungkin aku tidak terlalu berani mengakui bahwa aku juga menyukainya. Jean,
perempuan itu memang telah merenggut hatiku.
Akhirnya
pada hari ini, aku memutuskan sesuatu. Ya, aku harus bilang padanya. Maka saat
itu di kelas, saat istirahat, aku menghampirinya yang sedang menulis sesuatu di
meja. Entah apa itu.
“Ehm,
Jean?” aku memulai pembicaraan.
Ia
menengadah ke atas,” iya?”
“Boleh
duduk?” aku menunjuk kursi di sebelahnya.
“Ya
boleh dong!” ujarnya menjawab.
Baiklah,
aku duduk. ADUH BINGUNG NIH MAU BILANG APA.
“Emmm,
Jean?”
“Iya?
Kenapa sih?” tanyanya kebingungan.
“Aku….”
Kepada
Jihar, murid kelas XI-4 harap datang ke kantor kepala sekolah sekarang juga.
Terima kasih.
“Aku
dipanggil ke kantor kepala sekolah, hehehe…” Ucapku. Ah! Padahal sedikit lagi
tuh.
“Oh
iya sok atuh,”
jawabnya.
Aku
berdiri meninggalkan kelas. Kulihat Jean masih asyik dengan tulisannya
tersebut. Ya sudahlah, nanti lagi saja aku bilangnya. Sekarang yang penting,
ada urusan apa gerangan aku dipanggil
ke kantor?
Aku
malas menebak-nebak, jadi langsung saja aku masuk ke kantor.
“Ada
apa ya pak?” tanyaku.
“Begini
Jihar… duduk dulu,” ucapnya.
“Oh
iya pak,” aku segera memastikan apakah kursi itu aman, lalu duduk.
“Saya
ada pemberitahuan, bahwa penyelenggara exchange student ini mengabarkan bahwa
mereka memindahkanmu ke tempat lain.”
“Maksudnya?”
aku masih kurang jelas.
“Kau
pindah dari sini, saya kurang tahu alasannya, namun itulah kabar yang saya
terima.”
“Tapi
pak, saya sudah nyaman di sini!”
“Bagus
kalau kau kerasan, namun tidak ada tapi-tapian, tiket pesawatmu sudah dibeli,
kau akan berangkat jam 10 nanti. Orang tua angkatmu sudah kuberitahu dan mereka
juga sudah bersiap di bandara. Tadi saya juga sudah menyuruh orang untuk
mengambilkan tas-mu di kelas. Kau tinggal pergi ke tempat parker dan
berangkat!”
“Tapi
pak!”
“Tidak
usah bertapi-tapian, kau bisa ketinggalan pesawat nantinya!” ucapannya bernada
serius.
“Bukan
itu, memangnya saya dipindahkan ke mana?
“New
York,” ucapnya menutup seluruh percakapan.
***
Aku
tak bisa membayankan bahwa perpisahan ini begitu cepat. Bahkan, aku belum
sempat menyatakan perasaanku pada Jean. Yea, itu adalah salah satu hal yang
paling kusesali dalam hidupku.
Anak-anak yang lain
berkumpul untuk menyaksikan kepergianku. Namun saat mobil yang mengantarkanku
berangkat, aku tidak melihatnya Jean di manapun. Sial! Padahal mungkin akan ada
sedikit… perpisahan lah.
Di bandara, aku pun
berpisah dengan kedua orang tua angkatku. Mereka menangis karena kau pergi
lebih cepat dari yang seharusnya. Well, tak dapat dipungkiri kalau aku juga
sayang kepada mereka. Aku pun menangis pula terharu.
Akhirnya, saat
keberangkatan pun tiba. Namun ada hal yang sedikit mengganjal, kok pesawatnya
kecil sih? Mungkin pesawat ini hanya muat 30 penumpang. Ah, mungkin pesawat ini
hanya akan membawaku untuk transit saja, pikirku.
Aku menggerutu sepanjang
perjalanan di pesawat. Sial! Sial! Sial! Jean, aku akan merindukannya setelah
ini…
Namun disaat aku dililit
oleh kegalauan itu, tanpa sengaja aku menjatuhkan tas sekolahku beserta
isi-isinya. Aduh, aku pun langsung merapihkan kembali semuanya. Dan yang tak
kusangka adalah, di antara tumpukan buku-buku tersebut aku menemukan sepucuk
surat. Ternyata dari Jean…
Ternyata inilah yang
sedari tadi sibuk ia tulis. Aseeeem…
Hai ganteng! :D
Sedih sekali begitu
mengetahui bahwa kau pergi dengan cepat. Kau tahu, aku berhutang terima kasih
yang banyak padamu, karena selama ini, yah, aku jadi tahu banyak hal berkatmu.
Aku takkan lupa saat pertama kali kita bertemu. Bukan yang di kelas! Tapi yang
di stasiun! Aku takkan lupa saat pantat kita saling bertabrakan. Aduuuh,
kejadian itu memalukan deh. Hahaha, by the way, terima kasih ya selama ini
sudah menjadi temanku. Terima kasih juga karena sudah menemaniku setiap hari
kala pulang sekolah. Meski pada akhirnya kita berpisah juga, dan akan menempuh
jalan hidup masing-masing nantinya. Salamku untuk keluargamu yang ada di
Indonesia. Aku sangat ingin mengunjungimu suatu saat nanti. Sudah ya, keburu
tasmu diambil oleh orang suruhan kepala sekolah nih. Aku titipkan surat ini
bersamamu, agar kau selalu menjaganya. Babay! :*
Well, mengesankan. Benar
ternyata kata Ayah. Hahaha, aku bertemu perempuan ini. Tapi mengapa yang selalu
ia ingat adalah kejadian di stasiun waktu itu? Namun tak apalah, toh aku juga selalu ingat kok.
Setelah 3 jam kami
terbang, pesawat pun akhirnya mendarat. Ah, akhirnya transit juga. Aku agak
tidak nyaman dengan pesawat kecil ini. Rasanya setiap saat kau bisa saja
meledak karena baling-balingnya terlalu dekat dengan kita. Tapi ya sudahlah..
Aku turun dari pesawat
dan langsung menuju ruangan tunggu.
“Well, kita sudah
sampai!” ujar pembimbingku.
“Tunggu, ini kan (masih)
Afrika?”
Yap, sebuah tulisan besar
menyambut kami.
--selamat datang di New
York city, Nigeria—
-tamat-
Hahaha, tricked
twice
Kuningan, 29
Agustus 2012
M. Azam Rofiullah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar