Selasa, 05 Januari 2016

#Cerpen Tunggu, Ini Afrika?


Waktu membaca: 9-11 menit
“Tunggu, ini Afrika?” aku terbelalak dengan pemandangan di depanku. Celingukan dengan tempat yang tidak kusangka sama sekali.
Kejadiannya 10 jam yang lalu…
Mamah mennyebalkan seperti biasa. Aku baru saja bangun pagi ini, baruu saja. Namun ia sudah ada di depanku, dengan tatapan matanya yang tajam,menatapku seakan aku adalah hewan buruannya. Ah, ia memang seperti itu. Ingin agar aku disiplin dan teratur.
Aku melompat dari tempat tidur dan menatapnya balik dengan tatapan yang sama. Oke, mungkin ini kurang sopan kelihatannya, tapi kan, ya, yang penting aku bangun. 
“Ini! Cepat mandi sana!” ia memberikanku handuk.
“Iyaa,” aku menjawab, sedikit malas padahal.
Aku bergegas menuju kamar mandi. Kulihat ia di belakang sedang merapihkan tempat tidur yang barusan kutiduri. Aku acuh saja.
Kamar mandi kami bersih. Ya, tentu saja. Aku menyalakan keran untuk mengisi bath up, kemudian mulai menggosok gigi sembari menunggu. Tak perlu waktu lama,bath up itu sudah terisi penuh. Kami memang menggunakan teknologi otomatis yang membuat bath up cepat penuh. Secara, kami tidak ingin membuang waktu kami.
Setelah mandi, aku bergegas ke lantai bawah. Di sana Ayah sudah menunggu untuk mengantarku ke sekolah. Namun kok sekarang ada yang aneh tampaknya. Aku melihat ada beberapa koper di sana. Plus beberapa tas kecil dan tas pinggang. Pembantu kami sudah ada di sana. Bersiap seperti biasa dengan barang-barangku. Tapi, hei! Memangnya sekarang mau piknik?
“Ayah mau tugas ke luar kota?” aku bertanya pada Ayahku.
Ia sekilas tersenyum sebelum menjawab,” tentu saja tidak. Barang-barang ini punyamu, Jihar.”
“Loh, memangnya aku mau ke mana? Ada piknik?” tanyaku yang masih keheranan.
“Hahaha, tentu saja bukan!”Ayah tertawa melihat kebingunganku.
“Kau akan ikut program pertukaran pelajar di Neapolis selama dua bulan. Hari ini kau berangkat,” tiba-tiba, mama muncul dan menjelaskan.
Pertukaran pelajar? Aku kan bukan anak yang pintar.
“Selamat ya! Ayah akan mengantarmu ke sekolah untuk berpamitan kepada semuanya, kemudian, kita langsung pergi ke bandara,” jelas Ayah.
“Tunggu, tunggu. Ada apa ini? Perasaan aku tidak pernah meminta untuk diikutkan program ini?” aku bertanya, karena sejujurnya kabar ini mengejutkan.     
“Yah, memang kau tidak pernah memintanya. Namun kepala sekolah yang menunjukmu untuk menjadi perwakilan sekolah. Ia berkata bahwa kau adalah anak yang multitalenta. Bagaimana menurutmu?” jelas Ayahku.
“Hmmm…” aku masih berpikir. Tapi kan ini mendadak. Lagian masa’ aku tidak diberitahu sebelumnya?
Lalu tiba-tiba jam tangan Ayah berbunyi. Tanda bahwa ia harus cepat-cepat.
“Oke, ayo kita pergi, jagoan!” ia mengayunkan tangannya tanda mengajak, lalu dengan segera berjalan ke mobilnya. Para pembantu kami yang setia pun juga bergegas membawa barang-barangku dan memasukannya ke bagasi. Aku yang masih terpaku segera didorong oleh mamah agar bergegas juga.
“Sana pergi..!” ia tersenyum.
Aku pun menyusul iring-iringan tadi dengan cepat. Duduk di depan di samping sang Ayah yang nantinya akan menyetir.
Oke, mari berangkat.
***
Sebelum lanjut, biar kuceritakan tentang keluargaku.
Kami keluarga Hendrawan.
Orang-orang mengenal kami dengan baik. Tentu saja, sebenarnya kami tidak hanya dikenal sih, tapi kami terkenal.
Siapa yang tidak tahu Ayah? Sang pengusaha taman hiburan terbesar di Indonesia. Ia mempunyai beragam taman hiburan yang—sebut saja, keren. Kami tinggal di sebuah rumah mewah di bilangan kota Depok. Mengapa bukan di Jakarta? Terserah mas penulis katanya.
Rumah kami sebenarnya ada banyak. Dan tentu saja semua mewah-mewah. Namun yang biasa kami tempati adalah rumah yang berada di Depok ini. Munkin kami memang sudah nyaman tinggal di kota ini. Secara, kotanya keren, indah, damai, asri, dan seabrek kelebihan yang tidak dimiliki kota manapun di dunia ini (hohoho)
Kami sangat kaya. Silahkan kalian bayangkan sendiri.
Tentang aku, namaku Jihar A Hendrawan. Kalian tidak usah bertanya apa kepanjangan dari ‘A’ itu. Sejujurnya, itu sangat privasi.
Aku cukup ganteng. Terlepas dari apa makna ganteng yang kalian percayai. Tapi percayalah, aku cukup ganteng.
Aku bersekolah di SMA 3 Depok semenjak tahun lalu. Di sekolah, aku tergolong anak yang biasa-biasa saja sebenarnya. Tidak terlalu pintar, namun tidak bisa disebut bodoh juga. Masalah kelakuan, aku tidak bandel kok, namun tidak bisa disebut baik juga. Standar lah, mungkin karena aku rada pemalas orangnya.
Nah, mungkin cukup ya? Kita kembali ke cerita.
Ayah menyetir. Aku cuek saja dengan gadgetku. Pagi itu, hari Selasa yang cerah, entah apa yang akan terjadi di… kota apa tadi? Ah, Neapolis.
“Ayah, nanti aku akan tinggal di mana?” tanyaku.
“Kau akan bersama keluarga angkat di sana. Sekalian kau bisa mempelajari budaya mereka nantinya,” ia menjawab sambil masih mengarahkan pandangan ke jalanan.
“Memangnya itu di mana sih?”
“Di barat.”
“Ohhh…” barat ternyata.
“Kau akan dapat banyak pengalaman di sana. Banyak teman baru, banyak poengetahuan baru, dan mungkin kau bisa bertemu seorang perempuan di sana…” ia tersenyum,” hahaha, Ayah bercanda. Seru kok nanti.”
“Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik.”
“Bagus. Nah, kita sampai.”
Mobil terparkir di tempat parkir sekolah.
“Ayo berpamitan.”
Dalam setengah jam kemudian, aku masuk ke ruang guru dan berpamitan dengan semuanya. Mereka terlihat tersenyum bahagia. Aku tak menyangka apapun sama sekali.
Kepada teman-temanku, aku juga berpamitan. Mereka menyalamiku dengan semangat. Sepertinya tahu kalau aku yang orang kaya ini mah, walaupun tidak pintar tetap bisa mengikuti program seperti ini.
“Baiklah, ayo berangkat,” ucap Ayah saat kami mulai melaju ke bandara.
***
Dan itulah yang terjadi. Sekarang aku berada di sini. Di Neapolis, Afrika Selatan. Menjalani program pertukaran pelajar bodoh yang tidak kuketahui sama sekali. Ah, sial. Mengapa aku langsung setuju begitu saja?
Namun the show must go on. Aku dijemput oleh keluarga angkatku. Mereka tampak senang melihat kedatanganku. Menyambutku dengan tangan terbuka,
Kami langsung pulang ke rumah dari bandara. Walaupun di bandara hanya berkenalan singkat, kami akan melanjutkan mengobrol di rumah saat makan malam, kata Juju, sang kepala keluarga.
Jalanan di kota ini begitu lenggang. Padahal kalau di Jakarta jam segini jalanan sangat ramai karena orang-orag sedang pulang kerja.
“Kenapa di sini jalanan sepi?”
Kareen, sang istri menjawab,” karena penduduk di sini lebih suka naik kereta, jadi jalanan tidak terlalu ramai.”
“Waaw,” unggahku.
Sesampainya di rumah, kami langsung sarapan. Memang gara-gara penerbanganku aku merasa sedikit jet lag. Berangkat pagi, sampainya juga pagi. Otomatis nanti aku tidak tidur selama 24 jam. Kalian tahu jet lag kan? Kalau tidak tahu cari tahu sendiri ya!
Keluarga angkatku hanyalah sebuah keluarga kecil. Dengan Juju sebagai sang suami dan Kareen sebagai istrinya. Mereka tidak mempunyai anak. Kareen mengatakan bahwa dahulu anak laki-lakinya meninggal saat seusiaku. Semenjak saat itu mereka belum, berpikir untuk mempunyai anak lagi.
Juju bekerja sebagai seorang pegawai negri di kantor kejaksaan. Entah apa jenis pekerjaannya. Sementara Kareen adalah seorang teller di sebuah bank nasional. Mereka berdua sibuk, sehingga mereka berkata apabila di rumah tidak ada siapa-siapa aku harus bisa menjaga diriku dengan baik. Ambil yang diperlukan, buat makan malam sendiri, dan lain sebagainya. Tenang aja sih. Begini-begini aku bukan tipe orang kaya yang manja. Aku juga bisa mandiri.
Orang-orang di Afrika selatan—khususnya di kota ini—mempunyai ras yang beragam. Sebut saja ras melayu, negro, dan juga ras-ras orang barat atau yang biasa disebut ‘bule’. Keluargaku sendiri memiliki ras campuran. Juju melayu dan Kareen ras kaukasoid. Yah, intinya mah aku tetap cukup ganteng.
By the way, hari ini jadwalnya Juju akan mengantarkanku keliling kota. Melihat sarana-sarana yang ada, sekaligus say hi pada Neapolis ini. Tak lama setelah selesai sarapan, kami pun berangkat.
Aku dapat melihat tiap sudut kota dengan baik. Dari taman, sekolah, pasar, stasiun, dan yang lain sebagainya. Juju mengatakan bahwa tata letak kota ini termasuk yang terbaik di Afrika Selatan. Benar-benar mendahulukan tempat mana yang penting dan yang kurang penting. Sarana transportasi pun sudah mendukung. Kebanyakan orang menaiki kereta walaupun juga ada bus.
Baiklah, kesimpulannya: Neapolis adalah kota yang bagus.
Kami baru pulang malam hari. Perjalanan yang cukup panjang memang. Sepanjang hari aku mengunjungi fasilitas kota satu per satu. Jadinya,kami baru selesai saat malam tiba.
Sesampainya di rumah kami langsung makan malam. Sudah menjadi adat di sini bahwa sepanjang makan malam berlangsung, semua harus ceria. Boleh bercerita, atau apapun. Berbeda dengan tanggapan oirang yang menganggap bahwa makan saat bicara itu tidak sopan, di sini, bahkan semua orang harus bicara. Dan mungkin hal inilah yang membuatku cepat beradaptasi dengan mereka.
Esoknya, aku sudah harus mulai bersekolah. Aku diantar oleh mereka seperti biasa. Letak sekolah dari rumah kami cukup jauh. Namun dengan kondisi jalanan yang bagus, kami tetap dapat sampai dalam waktu cepat. 15 menit. Berbeda dengan Jakarta yang jarak 5 kilometer saja butuh waktu tempuh setengah jam.
Sekolahku cukup besar. Ya, sedang lah. Gerbang depannya berdiri kokoh menyambutku saat pertama kali masuk. Hari itu, Juju membantuku mengurus registrasi exchange student ku di bagian TU. Ia mengerti kalau aku akan agak kesulitan bila berbicara dengan para petugas, karena mereka berbicara bahasa campuran di sana. Ada bahasa asli, bahasa Inggris, dan entah bahasa apa yang aku idak tahu namanya. Kalau di Indonesia, seperti bahasa sunda atau jawa, namun mereka menggunakannya dengan campuran. Bahkan juga dicampur dengan bahasa inggris. Hal ini jelas membuatku pusing tujuh keliling (sampai sekarang aku tidak tahu mengapa pusing itu harus tujuh kali kelilingnya).
Well, aku cukup beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Setelah urusan administrasi selesai, Juju meninggalkanku dengan sebuah tiket kereta api untuk pulangnya.
“Bila kami belum pulang, kau baik-baik di rumah ya!” Juju tersenyum mengingakan.
“Tentu saja!” aku menjawab.
Ia pun pergi. Saat aku berjalan di koridor, terlihat beberapa anak berbisik-bisik melihatku. Ehm, lebih tepatnya, beberapa anak perempuan yang berbisik-bisik.
Aku menyocokkan papan nama kelas dengan kelasku. XI-4, di mana ya? Aku sibuk mencari hingga akhirnya bel pun berbunyi.
“Excuse me… kelas XI-4 di mana ya?” tanyaku pada seorang murid laki-laki.
“Ohh… ikut aku! Aku juga kelas itu,” jawabnya dengan bahsa inggris yang berlogat aneh.
“Baiklah,” jawabku.
Kami menyusuri tangga menuju ke lantai 3, lalu berbelok ke kiri. Tepat di ruangan ketiga dari tangga, itulah kelasku. Ehm, kelas kami.
Ruangan kelas sudah terisi penuh oleh murid-murid saat kami masuk. Terlebih di saat aku masuk, bisikan-bisikan itu mulai terjadi lagi. Aku diajak oleh anak laki-laki tadi untuk duduk di sebelahnya sembari menungu guru datang. Sedikit banyak, aku merasa agak ganjil. Bukankah murid baru itu biasanya datang terakhiran dan diperkenalkan oleh guru kepada anak-anak?
Ah, tak apalah. Tak lama kemudian, guru kami pun masuk. Serentak, semua bisik-bisik dan keributan-keributan kecil yang terjadi berhenti. Kulihat sekeliling. Semua diam dan duduk dengan rapih. Aku pun menyesuaikan.
Guru kami itu perempuan. Jadi kedepannya akan kupanggil bu guru saja. Aku memperhatikan beliau dengan seksama. Tanpa bermaksud buruk, aku memperhatikan bentuk fisiknya. Langsing. Wajahnya. Lumayan. Kalau disbanding-bandingkan yaaa, sekelas Soimah lah. Tapi yang ini kalem.
“Anak-anak! Hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya Jihar. Jihar, silahkan maju ke depan dan memperkenalkan diri!” suruhnya padaku. Aku menurut dan dalam 5 menit ke depan, sesuai perintahnya aku memperkenalkan diri.
Perkenalan selesai. Gak ribet kan?
Aku kembali duduk, pelajaran pun dimulai. Oh, ternyata, bu guru itu bernama Nady. Bu Nady, atau miss Nady panggilannya. Ia mengajar pelajaran pertama di kelas. Ia mengajar pelajaran pertama di kelas. Bahasa Inggris. Fine.
 Murid laki-laki yang ramah tadi, ternyata bernama Shin. Entah dia rasa pa, namun mungkin masih ada kerabat dengan orang china.
Karena sekarang pelajaran bahasa Inggris, maka aku lebih memperhatikan seisi kelas dibandingkan miss Nady. Secara, bahasa Inggris-ku sudah bagus. Bukan bermaksud sombong ya, tapi memang itu kenyataan. Lagi pula aku ingin melihat wajah anak-anak kelas juga. Penasaran dan ingin kenal mereka semua dalam waktu 2 bulan ini. Untung saja miss Nady membiarkan.
Setelah pelajaran pertama, ternyata bel istirahat berbunyi. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas, namun ada beberapa anak laki-laki yang menghampiriku dan mengajak berkenalan. Pun anak perempuan juga ada. Ehm, maklumlah aku kan cukup... stop ah! Aku harus menghentikan sindrom ini.
Wah, wah, rasanya seperti artis dadakan saja. Aku berkenalan dengan semuanya. Dengan bahasa Inggris tentunya. Namun mereka walaupun sudah bisa berbicara menggunakan bahasa ingris tetap saja loatnya kurang pas. Aku geleng-geleng kepala dalam hati.
Hari pun berjalan lancer. Tak terasa, sekolah selesai. Kulihat jam, masih pukul 14.00 rupanya. Aku segera bergegas pulang.
Begitu masuk stasiun, aku langsung paham apa yang harus kulakukan karena kemarin, Juju sudah mengajariku semuanya. Keretaku datang 5 menit lagi, jadi aku memutuskan untuk duduk di kursi tunggu.
Aku duduk bertepatan dengan seorang gadis cantik yang juga ingin duduk. Nih, nih, silahkan dibayangkan. Jadi ada satu kursi, nah, ketika kau ingin duduk, ada orang lain yang ingin duduk juga, lalu karena waktunya bersamaan, *ehm* pantat kalian bertabrakan *aduuh*
Nah itulah yang terjadi saat itu.        
“Aduh, maaf…maaf…” pintaku,” aku tidak melihat.”
“Eh, aku yang harusnya minta maaf, tadi aku ceroboh,” ucap gadis itu.
Aku terkejut karena ia memakai seragam sekolah yang sama persis dengan punyaku (yaa, bedanya aku seragam laki-laki dia yang perempuan).
“Loh? Kamu Jihar kan?” tanyanya.
“I…iya..kok tahu? Kita satu sekolah ya?” aku bertanya balik.
“Bukan hanya satu sekolah! Kita tuh satu kelas tau!” Ia memberikan statement pengejut kedua.
“Nah loh! Tapi kayaknya aku kok gak ngeliat kamu deh? Siapa sih?”
“Aku Jean, tadi duduk paling belakan, jadi gak sempet kamu lirik pas pelajaran bahasa Inggris. hihihi…” ia tertawa imut. Sudah cukup untuk membuat pipiku memerah.
“Ohhh… iya-iya, salam kenal kalau begitu!” ucapku.
“Salam kenal juga!” ia tersenyum,” kamu ngapain di sini?”
“Aku ya mau naik kereta lah!” jawabku. Cantik-cantik tapi oon deh.
“Ya, maksudnya naik kereta ke mana?”
“Pulang,” jawabku.
“Ih, ya pulang kemana?”
“Ohh, ke Hookward, kamu?”
“Aku ke Nordess, yah kita beda arah deh,” ia cemberut.
“Hahahaha, gapapa kali. Biasa aja,” aku malu.
“Yo wis lah keretaku datang nih,” ucapnya,” duluan ya!”
“Iya-iya,” ujarku.
Tak lama setelah kereta si cantik tadi, kereta punyaku datang. Aku segera naik dan mencari tempat duduk. Namun sebelum duduk, aku melihat dulu apakah ada orang lain yang ingin duduk di sana atau tidak.
Setelah yakin aman, barulah aku duduk.
Trauma mode on.
Sepanjang perjalanan, aku ternyata tak bisa berhenti membayangkan Jean. Ah, entahlah.
***
Setelah kejadian kemarin, selama setiap hari setelah pulang sekolah kami jadi selalu bersama. Yaah, setidaknya sampai stasiun. Kami mengobrol banyak hal, mulai dari sekolah, teman, bahkan mulai ke masalah politik dan hokum. Jean banyak mengajariku adat istiadat yang berlaku di sini. Tentu saja selain pelajaran yang diberikan oleh orang tua angkatku. Aku jadi lebih paham, dan lebih bisa dengan cepat bergaul dengan yang lainnya.
Sebulan setelahnya…
Aku benar-benar menjadi akrab dengan Jean. Kami seperti selalu mempunyai kesamaan. Adaa saja. Oborlan kami selalu nyambung dan… ya! Bisa ditebak. Minat kami banyak yang sama.
Aku menceritakan tentang Indonesia, ia menceritakan tentang negaranya. Aku menceritakan tentang Islam, ia menceritakan tentang Kristen yang dianutnya. Aku menceritakan ini, dia menceritakan itu. Yang penting, kami tidak pernah kehabisan bahan untuk diperbincangkan.
Nah, mari kita masuk ke hal yang lebih serius lagi. Sejak saat pertama kali bertemu, aku agaknya dibuat sangat malu oleh perempuan ini. Ia dapatdengan begitu saja membuat pipiku merah, karena walaupun cukup ganteng begini, aku ermasuk orang yang pemalu.
Sampai saat ini sebenarnya, aku boleh dibilang klop dengannya. Ia pun tampaknya begitu. Kami menjadi teman yang seperti sudah kubilang tadi. Akrab. Namun mungkin aku tidak terlalu berani mengakui bahwa aku juga menyukainya. Jean, perempuan itu memang telah merenggut hatiku.
Akhirnya pada hari ini, aku memutuskan sesuatu. Ya, aku harus bilang padanya. Maka saat itu di kelas, saat istirahat, aku menghampirinya yang sedang menulis sesuatu di meja. Entah apa itu.
“Ehm, Jean?” aku memulai pembicaraan.
Ia menengadah ke atas,” iya?”
“Boleh duduk?” aku menunjuk kursi di sebelahnya.
“Ya boleh dong!” ujarnya menjawab.
Baiklah, aku duduk. ADUH BINGUNG NIH MAU BILANG APA.
“Emmm, Jean?”
“Iya? Kenapa sih?” tanyanya kebingungan.
“Aku….”
Kepada Jihar, murid kelas XI-4 harap datang ke kantor kepala sekolah sekarang juga. Terima kasih.
“Aku dipanggil ke kantor kepala sekolah, hehehe…” Ucapku. Ah! Padahal sedikit lagi tuh.
“Oh iya sok atuh,” jawabnya.
Aku berdiri meninggalkan kelas. Kulihat Jean masih asyik dengan tulisannya tersebut. Ya sudahlah, nanti lagi saja aku bilangnya. Sekarang yang penting, ada urusan apa gerangan aku dipanggil ke kantor?
Aku malas menebak-nebak, jadi langsung saja aku masuk ke kantor.
“Ada apa ya pak?” tanyaku.
“Begini Jihar… duduk dulu,” ucapnya.
“Oh iya pak,” aku segera memastikan apakah kursi itu aman, lalu duduk.
“Saya ada pemberitahuan, bahwa penyelenggara exchange student ini mengabarkan bahwa mereka memindahkanmu ke tempat lain.”
“Maksudnya?” aku masih kurang jelas.
“Kau pindah dari sini, saya kurang tahu alasannya, namun itulah kabar yang saya terima.”
“Tapi pak, saya sudah nyaman di sini!”
“Bagus kalau kau kerasan, namun tidak ada tapi-tapian, tiket pesawatmu sudah dibeli, kau akan berangkat jam 10 nanti. Orang tua angkatmu sudah kuberitahu dan mereka juga sudah bersiap di bandara. Tadi saya juga sudah menyuruh orang untuk mengambilkan tas-mu di kelas. Kau tinggal pergi ke tempat parker dan berangkat!”
“Tapi pak!”
“Tidak usah bertapi-tapian, kau bisa ketinggalan pesawat nantinya!” ucapannya bernada serius.
“Bukan itu, memangnya saya dipindahkan ke mana?
“New York,” ucapnya menutup seluruh percakapan.
***
Aku tak bisa membayankan bahwa perpisahan ini begitu cepat. Bahkan, aku belum sempat menyatakan perasaanku pada Jean. Yea, itu adalah salah satu hal yang paling kusesali dalam hidupku.
Anak-anak yang lain berkumpul untuk menyaksikan kepergianku. Namun saat mobil yang mengantarkanku berangkat, aku tidak melihatnya Jean di manapun. Sial! Padahal mungkin akan ada sedikit… perpisahan lah.
Di bandara, aku pun berpisah dengan kedua orang tua angkatku. Mereka menangis karena kau pergi lebih cepat dari yang seharusnya. Well, tak dapat dipungkiri kalau aku juga sayang kepada mereka. Aku pun menangis pula terharu.
Akhirnya, saat keberangkatan pun tiba. Namun ada hal yang sedikit mengganjal, kok pesawatnya kecil sih? Mungkin pesawat ini hanya muat 30 penumpang. Ah, mungkin pesawat ini hanya akan membawaku untuk transit saja, pikirku.
Aku menggerutu sepanjang perjalanan di pesawat. Sial! Sial! Sial! Jean, aku akan merindukannya setelah ini…
Namun disaat aku dililit oleh kegalauan itu, tanpa sengaja aku menjatuhkan tas sekolahku beserta isi-isinya. Aduh, aku pun langsung merapihkan kembali semuanya. Dan yang tak kusangka adalah, di antara tumpukan buku-buku tersebut aku menemukan sepucuk surat. Ternyata dari Jean…
Ternyata inilah yang sedari tadi sibuk ia tulis. Aseeeem…

Hai ganteng! :D
Sedih sekali begitu mengetahui bahwa kau pergi dengan cepat. Kau tahu, aku berhutang terima kasih yang banyak padamu, karena selama ini, yah, aku jadi tahu banyak hal berkatmu. Aku takkan lupa saat pertama kali kita bertemu. Bukan yang di kelas! Tapi yang di stasiun! Aku takkan lupa saat pantat kita saling bertabrakan. Aduuuh, kejadian itu memalukan deh. Hahaha, by the way, terima kasih ya selama ini sudah menjadi temanku. Terima kasih juga karena sudah menemaniku setiap hari kala pulang sekolah. Meski pada akhirnya kita berpisah juga, dan akan menempuh jalan hidup masing-masing nantinya. Salamku untuk keluargamu yang ada di Indonesia. Aku sangat ingin mengunjungimu suatu saat nanti. Sudah ya, keburu tasmu diambil oleh orang suruhan kepala sekolah nih. Aku titipkan surat ini bersamamu, agar kau selalu menjaganya. Babay! :*
Well, mengesankan. Benar ternyata kata Ayah. Hahaha, aku bertemu perempuan ini. Tapi mengapa yang selalu ia ingat adalah kejadian di stasiun waktu itu? Namun tak apalah, toh aku juga selalu ingat kok.
Setelah 3 jam kami terbang, pesawat pun akhirnya mendarat. Ah, akhirnya transit juga. Aku agak tidak nyaman dengan pesawat kecil ini. Rasanya setiap saat kau bisa saja meledak karena baling-balingnya terlalu dekat dengan kita. Tapi ya sudahlah..
Aku turun dari pesawat dan langsung menuju ruangan tunggu.
“Well, kita sudah sampai!” ujar pembimbingku.
“Tunggu, ini kan (masih) Afrika?”
Yap, sebuah tulisan besar menyambut kami.
--selamat datang di New York city, Nigeria—
-tamat-

Hahaha, tricked twice
Kuningan, 29 Agustus 2012



M. Azam Rofiullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar