Azam Rofiullah
Pengen Es Krim
Rabu, 01 November 2017
#Moment All I Want
Aku ingat waktu itu, malam tanggal 11 Agustus 2017
Aku sedang berada di ketinggan lebih dari 3000 meter
Sedang menggapai puncak salah satu gunung
Tak ada yang salah kecuali satu hal
Aku duduk beristirahat di balik batu besar
Berlindung dari kejaran angin dan dingin
Orang di sebelahku menawari rokok
Tak ada yang salah kecuali hal itu
Aku memasang headset sambil memandangi langit
Lagu Kodaline mengalir lembut di telingaku
Tak ada yang salah kecuali begitu memori tentangmu muncul kala itu
Untung aku waras
Jadinya ketiduran
Hehe
Senin, 30 Oktober 2017
#Cerpen Tua Bersamamu-terhubung
Ada kegetiran saat kusebut
namamu kali ini. Tiga hari yang lalu, seorang gadis manis datang ke rumahku. Ia
datang membawa segenggam kenangan masa lalu. Membawa pesan sekaligus kabar
darimu. Dia adalah Ana, cucumu yang kau namai dengan nama kesukaanku.
Namaku adalah Mamat. Namamu
Kiki. Kita seumuran. Sekarang tahun 2066 Masehi. Berarti, kau dan aku sama-sama
berumur 69 tahun sekarang. Umur yang tipis-tipis menjelang akhir.
Jadi, dahulu sekali, aku dan
kamu adalah sepasang teman spesial. Kita saling jatuh cinta dengan cara yang
indah. Kisah kita seperti kain batik. Awalnya putih bersih, lalu kau dan aku
sama-sama mewarnainya.
Waktu itu tahun 2015, saat
pertama kita bertemu. Petualangan lah yang mempertemukan kita. Kita sama-sama
remaja liar yang menerobos waktu. Bedanya, kamu takut dengan ibumu. Aku tidak.
Kemudian waktu berlalu. Tahun 2015
berganti dengan tahun 2016, dan tahun 2016 terlindas oleh datangnya 2017. Di tahun
itu pula terakhir aku mendengar suaramu. Terakhir kulihat rambut hitammu yang
disemilir hujan, dibasahi angin. Kikos, kadang aku mengejekmu.
Di tahun tersebut aku
menumpahkan tinta ke lukisan batik kita. Merusak semua pattern-pattern indah
yang sudah kita buat bersama.
Aku mulai bersifat arogan,
posesif, dan menginginkanmu secara esklusif.
Pertengkaran pun tak terelakkan.
Puji Tuhan, aku tidak pernah memukulmu, namun kata-kataku yang pedas amat
menyakitimu.
***
Duarrr!
Petir di luar begitu ganas. Aku mematikan
lampu di kamarku dan segera memejamkan mata. Rumah ini adalah rumahku. Memang hanya
sebuah rumah kecil di pinggir desa. Aku tinggal sendiri sejak 40 tahun yang
lalu. Semenjak adikku yang perempuan menikah dan ayahku wafat.
Awalnya, aku masih tinggal di
kota. Bekerja, berpetualang, kegiatanku cukup sibuk. Namun ketika menginjak umur
50-an, aku memutuskan untuk pindah ke desa ini, desa Babakan, kampung nenekku
dahulu.
Suasana memang lebih modern,
namun aku menyukai ketenangan di sini.
Aku tidak pernah menikah. Lebih
tepatnya, tidak ingin.
Dulu sekali, sebenarnya, saat
berumur 34 tahun, ada yang menawariku calon. Kawan-kawanku bilang bahwa aku
butuh pasangn hidup kalau tidak ingin jadi bujang lapuk. Aku hampir mengamini
mereka, namun fatal, saat itu, ada yang mengirimiku fotomu dengan anakmu yang
baru lahir.
Fatal.
Aku jadi tak bisa mengingat
hari, tanggal, karena itu.
Pada akhirnya, aku tidak jadi
menikah. Karena mungkin memang, aku tidak butuh pernikahan.
***
Esok cerah. Aku bangun jam 5
pagi setelah badai semalaman menerpa desa. Segera kulakukan pemanasan kecil
agar diriku kembali bugar. Sebenarnya
aku masih kuat kalau ingin bekerja. Namun beberapa tahun ini aku lebih ingin
sendiri dan menulis. Sudah terlalu banyak petualanganku yang perlu diikat
dengan tulisan.
Tabunganku semenjak muda dulu
kukumpulkan untuk saat-saat seperti ini. Hingga cukup untukku hidup di masa
tua.
Orang-orang mungkin melihat
hidupku menyedihkan. Sendiri di ketuaan, kesepian. Namun tidak juga. Aku cukup
bahagia bila membayangkan wajahmu di pagi hari. Seperti sekarang.
Kau tersenyum. Masih seindah
dulu. Ah, aku penasaran bagaimana wajahmu saat sudah menjadi nenek-nenek. Aku tidak
sempat ditunjukkan fotomu oleh Ana kemarin.
Tapi menurutku, begini sudah
cukup. Aku bisa tumbuh tua dengan bayanganmu yang tersenyum. Aku cukup bahagia.
***
“Ngocoool!”
Jam sembilan. Sesuai janji Ana
kemarin.
Kau datang. Ya, itu kau. Dituntun
oleh cucumu yang manis.
“Hey.” Kataku pelan.
***
Minggu, 29 Oktober 2017
#Cerpen Tua Bersamamu
Aku menyeruput kopi panas di pagi ini. Kursi rotan yang kududuki masih setia bersamaku sejak 35 tahun yang lalu. Aku bisa melihatnya tersenyum di tiap kesempatan aku mendudukinya. Bersamaan dengan suasana pagi atau sore, waktu di mana aku akan duduk di beranda dengannya.
Jalanan di depanku terlihat
ramai. Di desa ini, pagi adalah waktu yang krusial. Kegiatan sudah dimulai pada
pukul 3 pagi, ditandai dengan orang-orang yang hilir mudik ke pasar. Kalau jam
setengah tujuh seperti sekarang, yang ramai adalah anak sekolah dan pegawai
negeri yang sedang berangkat.
Ahhh, kulitku yang sudah keriput
terasa enak saat ditimpa sinar matahari.
Dulu kulitku ini langganan
terkena sinar matahari. Puluhan tahun yang lalu, saat aku sedang sibuk-sibuknya
menaklukkan dunia.
Pandanganku yang dulu setajam
elang sudah mulai memudar. Kakiku yang sekuat baja sudah mulai rapuh
terkeropos. Suaraku yang dulu lantang kini tak lagi sama.
Hanya satu hal yang masih tak
berubah.
Senyumku saat melihat wajahmu.
“Kakeeek!”
Jumat, 02 Juni 2017
#Serial Seorang Suami Saleh (2)
Aku mencintai imamku itu dengan
sepenuh hati.
Imamku selalu bersabar
menghadapi kelakuanku yang kadang tak baik. Aku yang masih kekanak-kanakan dan
sering minta dimanja olehnya.
Aku tahu beban yang dipikulnya
berat. Sehari-hari mencari nafkah sambil melanjutkan S2nya di salah satu
Universitas terbaik di Indonesia.
Sebenarnya dulu, saat awal-awal
menikah, ia sudah berniat melanjutkan S2. Namun tampaknya hal tersebut baru
bisa terwujud 2 tahun yang lalu, karena saat itu kami terkendala biaya. Ia mengalah,
dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.
Meski begitu, tak ada kata
berhenti belajar dalam kamus hidupnya.
Suamiku selalu membaca buku
minimal 1 buku per minggu. Itu jumlah yang banyak. Aku sering gangguin dia
kalau malam sedang khusyu’ membaca. Ada saja alasanku. Minta dikelonin, minta
dipijitin. Ih, lucu. Malah seperti suamiku yang melayaniku, bukan aku yang
melayaninya.
Biasanya kalau aku sudah
bertingkah seperti itu ia hanya akan tersenyum, lalu berkata mesra.
“Sebentar ya, sayang.”
Kemudian ia mengecup keningku
dan kembali larut ke dalam bacaannya.
Sabtu, 27 Mei 2017
#Puisi *
Na
na na
La
la la
Musuh
Kawan
Lari
Hantam
Na na na
La la la
Kekasih
Benci
Marah
Bodoh
Na
na na
La
la la
Tetiba
Mati
Jumat, 26 Mei 2017
#Moment 1 Ramadhan 1438H
Dulu pas kecil pasti gemuruh
riang. Loncat sana lompat sini begitu Ramadhan datang.
Sekarang pas udah agak gede-an
(apanya?) jadi sedikit lebih kalem. Senyam-senyum tengok kanan-kiri. Kadang sambil
elus dada (dada sendiri kok bukan dada tetangga).
Ramadhan merefleksikan
ketenangan.
Ia adalah bulan liburan bagi
jiwa yang sudah lelah sebelas bulan sebelumnya ditimpa masalah. Saatnya hati
bertamasya, merenung, menangis.
Tidak ada yang lebih indah
dibanding seorang lelaki yang menangis di tengah solat malamnya. Meminta agar
ia dikuatkan. Mengaku bahwa ia sangat lemah di hadapan Rabbnya.
Tidak ada yang lebih indah
dibanding seorang perempuan yang mukenanya basah. Bersujud di pojok rumahnya
yang paling gelap. Meminta agar ia diberi kesabaran dan ketaatan.
Ayolah, akui saja, tidak ada
tempat kembali yang lebih indah dibanding pada sujudmu di sepertiga malam. Sujud
yang tulus kepada Penciptamu. Sujud yang lama. Sujud yang menetes air mata.
Kawan, menangislah demi dirimu.
Siapa tahu kelak, air matamu lah
yang akan memadamkan api neraka, yang siap membakarmu.
Selamat Ramadhan 1438 H.
Dari aku, si kecil tapi itunya
besar.
Kamis, 25 Mei 2017
#Puisi Diandra
Puja-puji menghujam keji sanubari
Diandra
Buai terlantah dan luluh dibuatnya
oleh pujian keji
Diandra
Gadis
manis nan pintar
Tak
lagi berkembang
Berhenti
distop pujian
Merasa cukup merasa tinggi
Diandra
Setelah itu jatuh
Diandra
Setelah
itu hilang
#Serial Seorang Suami Saleh (1)
Aku menikahinya 20 tahun yang
lalu.
Ia adalah lelaki paling
sederhana dan basah yang pernah kukenal. Lelaki yang penuh cinta. Lelaki yang
selalu menjaga wudhunya—makanya kusebut paling basah.
Ketika lelaki itu marah, ia akan
memelukku dengan lembut.
“Kau adalah wanita yang telah
kuterima menjadi tanggung jawabku.”
Ia tidak pernah membentakku.
Seluruh kesalahan dan kekhilafan yang kulakukan, semua dibalasnya dengan sebuah
pelukan.
Pernah aku khilaf memakai baju
yang ketat keluar rumah. Atau menerima tamu sambil tidak menutup aurat dengan
sempurna. Atau ketahuan berghibah dengan tetangga. Semua ia balas dengan
pelukan, sambil menasihati dengan sangat amat bijak.
“Tak peduli apapun yang kau
lakukan, sayang. Aku berkewajiban untuk mengingatkanmu. Namun haram hukumnya
aku memperlakukanmu dengan emosi.”
Ia lelaki saleh yang 20 tahun
lalu datang ke bapakku.
Ia lelaki saleh yang menerimaku
apa adanya. Tulus mencintaiku.
Sabtu, 20 Mei 2017
#Cerpen Yakin
Matahari
sedang jahat. Bumi disiram dengan hawa panas super tinggi. Bukan bumi sih, tapi
Jakarta. Tapi kan Jakarta bumi juga.
“Kin!
Kamu yakin kan?”
Aku
menengok ke belakang. Seorang gadis berponi yang tidak kukenal baru saja
memanggil namaku—sekaligus meyakinkan dirinya kalau ini adalah aku.
“Yup.
Ini siapa ya?”
Si
gadis mengerling kesal. “Wah parah, kita sekelas di Matkul MSDM! Aku kakak
tingkat sebenernya, ngulang, hehe.”
Ohh,
terus?
“Begini,
aku mau minta tolong.”
***
“Kin,
aku sayang kamu.”
Kamis, 18 Mei 2017
#Puisi Wahai Durja
Di dua pojok rumah yang berbeda
Ada si laki-laki, ada si perempuan
Waktu itu malam menjelang pagi
Perempuannya
menangis
Bersimpuh
puyuh
Mengadu
sepadu
Laki-lakinya menangis
Berserah sumpah
Menunduk aduk
Di dua
pojok rumah itu
Ada pengakuan
Ada penyesalan
Ada pertaubatan
Di dua pojok rumah itu,
Tuhan mendengar
Langganan:
Postingan (Atom)








