Kamis, 25 Mei 2017

#Serial Seorang Suami Saleh (1)


Aku menikahinya 20 tahun yang lalu.
Ia adalah lelaki paling sederhana dan basah yang pernah kukenal. Lelaki yang penuh cinta. Lelaki yang selalu menjaga wudhunya—makanya kusebut paling basah.
Ketika lelaki itu marah, ia akan memelukku dengan lembut.
“Kau adalah wanita yang telah kuterima menjadi tanggung jawabku.”
Ia tidak pernah membentakku. Seluruh kesalahan dan kekhilafan yang kulakukan, semua dibalasnya dengan sebuah pelukan.
Pernah aku khilaf memakai baju yang ketat keluar rumah. Atau menerima tamu sambil tidak menutup aurat dengan sempurna. Atau ketahuan berghibah dengan tetangga. Semua ia balas dengan pelukan, sambil menasihati dengan sangat amat bijak.
“Tak peduli apapun yang kau lakukan, sayang. Aku berkewajiban untuk mengingatkanmu. Namun haram hukumnya aku memperlakukanmu dengan emosi.”
Ia lelaki saleh yang 20 tahun lalu datang ke bapakku.
Ia lelaki saleh yang menerimaku apa adanya. Tulus mencintaiku.
***
“Gimana cuy, apa kabar?” Layla, seorang kawan lama, datang ke kota tempatku berkuliah. Ia langsung mengajakku ketemuan dan memulai perbincangan.
“Semua baik-baik saja selain skripsi gue.” Aku menjawab sambil menyeruput es kelapa ijo Bang Tono. Aku selalu ke sini hampir tiap pulang ngampus. Kalau awal bulan, minum es kelapa spesial, tengah bulan minum es kelapa ijo, bahkan di akhir bulan saat uangku sedikit, aku sempat ke sini untuk beli air kelapa. Murah, hanya 500 rupiah.
“Gak kerasa ya, udah hampir 4 tahun lulus dari SMA.” Layla mengalihkan pandangan ke jalan raya di belakangku. Merenung.
“Lu udah dari tahun lalu lulus, udah kerja jadi admin perusahaan besar. Gaji lumayan. Hidup mandiri. Kurang enak apa coba. Lah gue.”
Layla tertawa mendengar guyonanku.
“Semua ada waktunya. Jangan iri ke orang lain, Na. Mungkin aja kamu cuma belum waktunya sampai ke situ.”
Aku manyun. Oh iya, namaku Gina. Kalau kata Mas Tono, namaku jorok. Entahlah, sampai sekarang aku belum mengerti maksudnya.
“Aku mau ngeramal. Dalam waktu dekat, hidupmu akan berubah drastis. Sesuatu yang besar akan terjadi dalam hidupmu. Sebentar lagi.”
Aku memukul lengan Layla. “Yakali aku percaya begituan.”
“Hahaha.”
“Hehe.”
Aku segera bayar ke Mas Tono. “Mau nginep di kosanku?”
Layla mengangguk. “Aku mau tidur sama kamu. Aku napsu.”
Aku memeletnya. “Lesbi woy.”
“Hahaha.”
“Pokoknya kamu tidur di lantai.”
***
Esok harinya, setelah mengantar Layla menuju terminal terdekat, aku balik ke kosan. Semua mata kuliah sudah habis. Tinggal bimbingan skripsi saja dan sidang. Maka, kuliahku selesai.
“Ginaaaa!” Terdengar suara ibu kos memanggil dari kejauhan.
“Iya buu, bentar.”
Aku segera memakai kerudungku lagi. Kosanku memang campur antara laki-laki dan perempuan. Makanya aku hanya bisa lepas kerudung di dalam kamar saja.
“Ada telepon ini.”
Jaman itu, orang-orang masih jarang yang punya hape. Kalaupun ada, pasti bentuknya besar dan beberapa ada antenanya. Hihi, lucu deh. Kayak HT.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Suara bapak terdengar di ujung sana.
“Iya bapak, ada apa nelpon wayah gini?”
“Hmm, begini, kamu bisa pulang gak besok?”
“Hah, pulang? Memangnya kenapa Pak?” Aku bertanya heran. Tumben bapak menyuruhku pulang.
“Nanti bapak kasih tau di rumah.”
Dan setelah mengobrol sedikit lagi, aku menyanggupi. Kebetulan masih ada sedikit uang untuk ongkos. Tiket bis Bandung-Jakarta masih 10.000 waktu itu.
***
Aku berkuliah di Dago, Bandung. ITB tepatnya. Fakultas MIPA. Jurusannya rahasia.
Aku biasanya pulang tiga bulan sekali, kadang dua bulan. Di ITB, aku aktif organisasi juga. Namun belakangan sudah off karena sibuk mengurus skipsi. Tinggal 3 bab lagi. Aku benar-benar sudah selangkah menuju kelulusan.
Maka, alangkah kagetnya saat bapak memberitahuku alasan sebenarnya mengapa aku disuruh pulang.
“Hah? Dilamar?”
“Iya, nduk. Besok dia datang bersama orang tuanya ke sini. Ibu tahu kamu kaget. Tapi coba ya, temui saja besok orangnya. Nanti kamu bisa mikir-mikir dulu.”
Aku kaget setengah mati. Serius. Selama ini, aku hanya pernah dekat dengan cowok sebatas teman. Ya, meski kadang dekatnya itu dekat banget. Tapi belakangan aku juga sudah hilang kontak dengan mereka, teman-teman cowokku.
“Dia itu lulusan Mesir. Sekarang bekerja di Bank Syariah yang baru didirikan di Jakarta. Katanya, ia juga mau ambil S2 di sini. Orangnya baik, Anak temannya bapak juga. Kami tidak berencana menjodohkanmu loh ya. Kemarin, temannya bapak itu yang bilang ke bapak bahwa anaknya ingin melamar. Jadi, kami memanggilmu ke sini. Kalau Ibu sama Bapak sih sudah setuju bila kamu menikahinya.”
Aku mendengarkan dengan seksama penjelasan ibu. Aku diam saja. Hilang rasanya kemampuanku untuk bicara,
Apakah aku sudah siap untuk menikah? Bagaimana skripsiku?
“Nduk?”
Aku terbuyar dari lamunan.
“Iya, bu. Besok Gina temuin orangnya.” Aku mencoba tersenyum. Meski hati bertanya-tanya.
***
Ia lelaki saleh. Sudah 20 tahun aku bersamanya, dan aku selalu mendapatkannya rajin beribadah.
Ia juga suka bercanda denganku. Mengajakku bermain, memanjakanku. Merawatku saat sakit, bahkan membantu pekerjaan rumah. Tapi biasanya malah aku marahin, soalnya di ga bener kalo bantuin.
Hehehe.
Ia lelaki saleh, melindungiku dan anak kami dengan sekuat tenaga. Mencari nafkah hingga ke ujung dunia.
Aku ingat, krisis di tahun-tahun pertama pernikahan kami.
Ia lelaki saleh. Ia selalu bersabar dan menasihatiku untuk sabar. Meski saat itu ia kehilangan pekerjaannya dan kami terpaksa pindah ke kontrakan yang kecil, aku tetap bahagia saat ia berada di sampingku.
***
Februari, 1997.
Lelaki itu datang ke Bapak.
Ia dan keluarganya sudah berada di ruang tamu, mengobrol basa-basi dengan bapak dan ibu. Aku ditugaskan untuk mengantar minuman dari dapur. Membawa serantang penuh teh hangat untuk tamu-tamu yang bisa jadi akan menjadi keluarga kami juga.
Tirai pembatas ruang tamu dengan ruangan dalam rumahku tersingkap saat aku melangkah masuk ke ruang tamu.
Aku menundukkan pandangan. Malu, jujur saja. Padahal, aku termasuk cewek yang heboh kalau di kampus atau di organisasi. Namun entah mengapa di sini aku sangat amat malu.
Aku memberanikan diri menatap wajah lelaki tersebut. Meski hanya mengintip sedikit dari sikap menundukku. Kemudian, aku menaruh gelas-gelas ke meja.
“Nah, ini dia putri kami, Gina Permatasari.”
Aku sungkem kepada keluarga yang bertamu ke rumahku tersebut. Tidak sampai bersentuhan, hanya menelungkupkan tangan saja.
Di situlah ia tersenyum. Senyuman yang teduh, yang membuatku “serrr” dan hampir tersandung kaki meja.
Setelah itu, aku masuk kembali.
Terima atau tidak ya?
***
Suamiku hapal Al-Qur’an. Aku tidak mengetauhi hal tersebut saat ia datang melamar. Hal inni baru kuketahui saat kami sudah seminggu menikah.
Ah, jadi ingat bulan madu kami dulu.
Usai akad dan resepsi, malam pertama kami begitu indah. Kakanda—sebutanku untuknya saat awal-awal menikah—mengajakku ke sebuah hotel bintang empat di Bandung (soalnya biar aku bisa lanjut kuliah lagi sehabis bulan madu).
Oh iya, sebentar ya, jadi aku menerima lamaran tersebut. Namun aku kasih syarat tidak mau hamil dulu sebelum urusan kuliah benar-benar selesai. Dan aku juga mau dikasih kesempatan buat kerja.
Lelaki tersebut menyanggupi.
Maka, sebulan setelah lamaran, kami menikah.
Serius, secepat itu prosesnya. Aku sendiri baru memberi jawaban tiga hari setelah proses lamaran. Itu juga setelah dibujuk-bujuk ibuku dan dikenalkan dengan adik si lelaki. Doi yng bercerita tentang pribadi orang yang melamarku itu.
“Mas itu baik. Cuma kelemahannya dia itu suka teledor, dan gak becus kalo ngurus pekerjaan cewek. Tapi dia itu super pengasih dan ga pernah perhitungan. Gak pelit.”
Kira-kira, begitulah obrolan kami sepanjang siang di sebuah restoran di Jakarta Selatan. Aku sendiri yang ingin menemuinya demi memperkuat keyakinanku.
Nah, kembali ke bulan madu.
Aku merasa apa yang dikatakan oleh semua orang tentangnya benar seperti itu. Kakanda adalah lelaki yang baik. Bagus agamanya. Meskipun ia teledor, ia sangatlah lembut memperlakukanku.
Di Bandung, kami menginap di hotel selama dua hari. Kemudian, kami pergi ke lembang, pindah hotel—menyewa sebuah bungalow tepatnya—selama 3 hari. Lalu, dua hari selanjutnya sebenarnya Kakanda masih ingin bersamaku. Tapi kubilang lebih baik dicicil saja, nanti seminggu sekali ke Bandung. Atau, kalau mau sekalian saja ngontrak di Bandung sama aku.
Kakanda agak manyun. Ia juga tahu, sebenarnya, di Jakarta banyak pekerjaan menunggu.
Jadi, begitulah, aku dan dia LDR-an sampai kira-kira empat bulan sehabis pernikahan kami. Kakanda datang tiap akhir pekan, menyewa sebuah penginapan murah dan tidur bareng aku. Hehe.
Ahad paginya kami biasa jalan-jalan. Kakanda menyewa sebuah motor dan kami akan keliling Bandung.
Tahun-tahun itu, Bandung belum seramai sekarang. Tidak ada macet-macet di Antapani, atau di Asia-Afrika. Cihampelas juga masih lancar kalau akhir pekan—meski sekarang katanya ada jembatan besar ya? Bagus itu.
Kanda biasa belanja kebutuhan aku. Ia mau aku makan yang banyak. Katanya gapapa kalau aku gendut juga. Aku akan tetap manis.
Duh, pengen ngejewer dia rasanya. Tentu saja aku tidak mau gemuk. Nanti saja kalau habis melahirkan baru gapapa.
Empat bulan setelah menikah, akupun lulus.
Kanda sendiri yang mengantarku sidang. Menungguku seharian ditanya ini-itu oleh dosen pengawas. Sampai ketiduran saat aku keluar ruangan.
“Sayang, aku lulus.” Kataku sambil mencium pipinya.
“Hmmph, kamu siapa?”
Ia mengigau.
“Aku istrimu, goblok.” Kataku sambil menoyol kepalanya. Dulu, aku masih seorang wanita keras yang meletup-letup memang. Lidahku belum bisa diatur seperti sekarang.
“Oh, sayang.” Kanda tersenyum ke arahku.
“Kok bilang goblok? Awas nanti kucium.”
“Hehe.” Aku tersipu. Kalau saja tidak ada orang lain di sana, mungkin ia sudah nyosor saja.
“Ayo pergi.”
“Ke mana?”
“Ke Syurga pengantin baru.”
Aku tersenyum. “Aku mau spa dong.”
“Yang di Dipatiukur itu? Yang pernah kamu tunjukin?”
Aku mengangguk. Pengen rasanya rileks dulu. Kalau sudah ke “syurga” yang dia bilang, pasti capek aku meladeninya. Semoga ia mengerti kodeku. Hehe.
“Tapi yang mijit perempuan kan?”
“Iyaaa.” Kataku. Aku juga tidak mungkin membiarkan laki-laki lain menyentuhku sekarang. Aku adalah istri dari seorang lelaki yang kucintai.
“Cus.”
“Go!”
***
Aku sampai lupa bilang ke dia kalau aku dinyatakan lulus. Hahaha. Kami merayakannya di malam hari. Ia mengajakku makan di sebuah restoran di bilangan Setiabudi.
Tak kuduga, ia menyewa kru restoran untuk mengucapkan selamat atas kelulusanku.
Aku dibawakan kue khusus untuk merayakannya. “Aku bosan nih tinggal sendirian, mau tinggal sama kamu lah di Jakarta.”
“Iyaaa, secepatnya ya aku pindah. Eh, apa gak tinggal di Bandung aja? Kamu pindah kerja atuh.”
“Di Bandung dingin. Aku punya murid yang gabisa ditinggal, beb.”
Kadang ia panggil aku sayang, kadang beb.
“Oh iya, binaan kamu ya. Yasudah, aku bakal ikut di manapun kamu tinggal. Aku bakal nemenin kamu tidur di mana aja. Kecuali kalau di hutan atau di kamar yang ada laki-laki lainnya.”
Ia tersenyum.
***

Bersambungin aja deh. Biar pajang, bukan begitu, para wanita yang sedang membaca?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar