Aku menikahinya 20 tahun yang
lalu.
Ia adalah lelaki paling
sederhana dan basah yang pernah kukenal. Lelaki yang penuh cinta. Lelaki yang
selalu menjaga wudhunya—makanya kusebut paling basah.
Ketika lelaki itu marah, ia akan
memelukku dengan lembut.
“Kau adalah wanita yang telah
kuterima menjadi tanggung jawabku.”
Ia tidak pernah membentakku.
Seluruh kesalahan dan kekhilafan yang kulakukan, semua dibalasnya dengan sebuah
pelukan.
Pernah aku khilaf memakai baju
yang ketat keluar rumah. Atau menerima tamu sambil tidak menutup aurat dengan
sempurna. Atau ketahuan berghibah dengan tetangga. Semua ia balas dengan
pelukan, sambil menasihati dengan sangat amat bijak.
“Tak peduli apapun yang kau
lakukan, sayang. Aku berkewajiban untuk mengingatkanmu. Namun haram hukumnya
aku memperlakukanmu dengan emosi.”
Ia lelaki saleh yang 20 tahun
lalu datang ke bapakku.
***
“Gimana cuy, apa kabar?” Layla,
seorang kawan lama, datang ke kota tempatku berkuliah. Ia langsung mengajakku
ketemuan dan memulai perbincangan.
“Semua baik-baik saja selain
skripsi gue.” Aku menjawab sambil menyeruput es kelapa ijo Bang Tono. Aku
selalu ke sini hampir tiap pulang ngampus. Kalau awal bulan, minum es kelapa
spesial, tengah bulan minum es kelapa ijo, bahkan di akhir bulan saat uangku
sedikit, aku sempat ke sini untuk beli air kelapa. Murah, hanya 500 rupiah.
“Gak kerasa ya, udah hampir 4
tahun lulus dari SMA.” Layla mengalihkan pandangan ke jalan raya di belakangku.
Merenung.
“Lu udah dari tahun lalu lulus,
udah kerja jadi admin perusahaan besar. Gaji lumayan. Hidup mandiri. Kurang
enak apa coba. Lah gue.”
Layla tertawa mendengar
guyonanku.
“Semua ada waktunya. Jangan iri
ke orang lain, Na. Mungkin aja kamu cuma belum waktunya sampai ke situ.”
Aku manyun. Oh iya, namaku Gina.
Kalau kata Mas Tono, namaku jorok. Entahlah, sampai sekarang aku belum mengerti
maksudnya.
“Aku mau ngeramal. Dalam waktu
dekat, hidupmu akan berubah drastis. Sesuatu yang besar akan terjadi dalam
hidupmu. Sebentar lagi.”
Aku memukul lengan Layla.
“Yakali aku percaya begituan.”
“Hahaha.”
“Hehe.”
Aku segera bayar ke Mas Tono.
“Mau nginep di kosanku?”
Layla mengangguk. “Aku mau tidur
sama kamu. Aku napsu.”
Aku memeletnya. “Lesbi woy.”
“Hahaha.”
“Pokoknya kamu tidur di lantai.”
***
Esok harinya, setelah mengantar
Layla menuju terminal terdekat, aku balik ke kosan. Semua mata kuliah sudah
habis. Tinggal bimbingan skripsi saja dan sidang. Maka, kuliahku selesai.
“Ginaaaa!” Terdengar suara ibu
kos memanggil dari kejauhan.
“Iya buu, bentar.”
Aku segera memakai kerudungku
lagi. Kosanku memang campur antara laki-laki dan perempuan. Makanya aku hanya
bisa lepas kerudung di dalam kamar saja.
“Ada telepon ini.”
Jaman itu, orang-orang masih
jarang yang punya hape. Kalaupun ada, pasti bentuknya besar dan beberapa ada
antenanya. Hihi, lucu deh. Kayak HT.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Suara bapak
terdengar di ujung sana.
“Iya bapak, ada apa nelpon wayah
gini?”
“Hmm, begini, kamu bisa pulang
gak besok?”
“Hah, pulang? Memangnya kenapa
Pak?” Aku bertanya heran. Tumben bapak menyuruhku pulang.
“Nanti bapak kasih tau di
rumah.”
Dan setelah mengobrol sedikit
lagi, aku menyanggupi. Kebetulan masih ada sedikit uang untuk ongkos. Tiket bis
Bandung-Jakarta masih 10.000 waktu itu.
***
Aku berkuliah di Dago, Bandung.
ITB tepatnya. Fakultas MIPA. Jurusannya rahasia.
Aku biasanya pulang tiga bulan
sekali, kadang dua bulan. Di ITB, aku aktif organisasi juga. Namun belakangan
sudah off karena sibuk mengurus skipsi. Tinggal 3 bab lagi. Aku benar-benar
sudah selangkah menuju kelulusan.
Maka, alangkah kagetnya saat
bapak memberitahuku alasan sebenarnya mengapa aku disuruh pulang.
“Hah? Dilamar?”
“Iya, nduk. Besok dia datang
bersama orang tuanya ke sini. Ibu tahu kamu kaget. Tapi coba ya, temui saja
besok orangnya. Nanti kamu bisa mikir-mikir dulu.”
Aku kaget setengah mati. Serius.
Selama ini, aku hanya pernah dekat dengan cowok sebatas teman. Ya, meski kadang
dekatnya itu dekat banget. Tapi belakangan aku juga sudah hilang kontak dengan
mereka, teman-teman cowokku.
“Dia itu lulusan Mesir. Sekarang
bekerja di Bank Syariah yang baru didirikan di Jakarta. Katanya, ia juga mau
ambil S2 di sini. Orangnya baik, Anak temannya bapak juga. Kami tidak berencana
menjodohkanmu loh ya. Kemarin, temannya bapak itu yang bilang ke bapak bahwa
anaknya ingin melamar. Jadi, kami memanggilmu ke sini. Kalau Ibu sama Bapak sih
sudah setuju bila kamu menikahinya.”
Aku mendengarkan dengan seksama
penjelasan ibu. Aku diam saja. Hilang rasanya kemampuanku untuk bicara,
Apakah aku sudah siap untuk
menikah? Bagaimana skripsiku?
“Nduk?”
Aku terbuyar dari lamunan.
“Iya, bu. Besok Gina temuin
orangnya.” Aku mencoba tersenyum. Meski hati bertanya-tanya.
***
Ia lelaki saleh. Sudah 20 tahun
aku bersamanya, dan aku selalu mendapatkannya rajin beribadah.
Ia juga suka bercanda denganku.
Mengajakku bermain, memanjakanku. Merawatku saat sakit, bahkan membantu
pekerjaan rumah. Tapi biasanya malah aku marahin, soalnya di ga bener kalo
bantuin.
Hehehe.
Ia lelaki saleh, melindungiku
dan anak kami dengan sekuat tenaga. Mencari nafkah hingga ke ujung dunia.
Aku ingat, krisis di tahun-tahun
pertama pernikahan kami.
Ia lelaki saleh. Ia selalu bersabar
dan menasihatiku untuk sabar. Meski saat itu ia kehilangan pekerjaannya dan
kami terpaksa pindah ke kontrakan yang kecil, aku tetap bahagia saat ia berada
di sampingku.
***
Februari, 1997.
Lelaki itu datang ke Bapak.
Ia dan keluarganya sudah berada
di ruang tamu, mengobrol basa-basi dengan bapak dan ibu. Aku ditugaskan untuk
mengantar minuman dari dapur. Membawa serantang penuh teh hangat untuk
tamu-tamu yang bisa jadi akan menjadi keluarga kami juga.
Tirai pembatas ruang tamu dengan
ruangan dalam rumahku tersingkap saat aku melangkah masuk ke ruang tamu.
Aku menundukkan pandangan. Malu,
jujur saja. Padahal, aku termasuk cewek yang heboh kalau di kampus atau di
organisasi. Namun entah mengapa di sini aku sangat amat malu.
Aku memberanikan diri menatap
wajah lelaki tersebut. Meski hanya mengintip sedikit dari sikap menundukku. Kemudian,
aku menaruh gelas-gelas ke meja.
“Nah, ini dia putri kami, Gina
Permatasari.”
Aku sungkem kepada keluarga yang
bertamu ke rumahku tersebut. Tidak sampai bersentuhan, hanya menelungkupkan
tangan saja.
Di situlah ia tersenyum. Senyuman
yang teduh, yang membuatku “serrr” dan hampir tersandung kaki meja.
Setelah itu, aku masuk kembali.
Terima atau tidak ya?
***
Suamiku hapal Al-Qur’an. Aku tidak
mengetauhi hal tersebut saat ia datang melamar. Hal inni baru kuketahui saat
kami sudah seminggu menikah.
Ah, jadi ingat bulan madu kami
dulu.
Usai akad dan resepsi, malam
pertama kami begitu indah. Kakanda—sebutanku untuknya saat awal-awal menikah—mengajakku
ke sebuah hotel bintang empat di Bandung (soalnya biar aku bisa lanjut kuliah
lagi sehabis bulan madu).
Oh iya, sebentar ya, jadi aku
menerima lamaran tersebut. Namun aku kasih syarat tidak mau hamil dulu sebelum
urusan kuliah benar-benar selesai. Dan aku juga mau dikasih kesempatan buat
kerja.
Lelaki tersebut menyanggupi.
Maka, sebulan setelah lamaran,
kami menikah.
Serius, secepat itu prosesnya. Aku
sendiri baru memberi jawaban tiga hari setelah proses lamaran. Itu juga setelah
dibujuk-bujuk ibuku dan dikenalkan dengan adik si lelaki. Doi yng bercerita
tentang pribadi orang yang melamarku itu.
“Mas itu baik. Cuma kelemahannya
dia itu suka teledor, dan gak becus kalo ngurus pekerjaan cewek. Tapi dia itu
super pengasih dan ga pernah perhitungan. Gak pelit.”
Kira-kira, begitulah obrolan
kami sepanjang siang di sebuah restoran di Jakarta Selatan. Aku sendiri yang
ingin menemuinya demi memperkuat keyakinanku.
Nah, kembali ke bulan madu.
Aku merasa apa yang dikatakan
oleh semua orang tentangnya benar seperti itu. Kakanda adalah lelaki yang baik.
Bagus agamanya. Meskipun ia teledor, ia sangatlah lembut memperlakukanku.
Di Bandung, kami menginap di
hotel selama dua hari. Kemudian, kami pergi ke lembang, pindah hotel—menyewa sebuah
bungalow tepatnya—selama 3 hari. Lalu, dua hari selanjutnya sebenarnya Kakanda
masih ingin bersamaku. Tapi kubilang lebih baik dicicil saja, nanti seminggu
sekali ke Bandung. Atau, kalau mau sekalian saja ngontrak di Bandung sama aku.
Kakanda agak manyun. Ia juga
tahu, sebenarnya, di Jakarta banyak pekerjaan menunggu.
Jadi, begitulah, aku dan dia
LDR-an sampai kira-kira empat bulan sehabis pernikahan kami. Kakanda datang
tiap akhir pekan, menyewa sebuah penginapan murah dan tidur bareng aku. Hehe.
Ahad paginya kami biasa
jalan-jalan. Kakanda menyewa sebuah motor dan kami akan keliling Bandung.
Tahun-tahun itu, Bandung belum seramai
sekarang. Tidak ada macet-macet di Antapani, atau di Asia-Afrika. Cihampelas juga
masih lancar kalau akhir pekan—meski sekarang katanya ada jembatan besar ya? Bagus
itu.
Kanda biasa belanja kebutuhan
aku. Ia mau aku makan yang banyak. Katanya gapapa kalau aku gendut juga. Aku akan
tetap manis.
Duh, pengen ngejewer dia
rasanya. Tentu saja aku tidak mau gemuk. Nanti saja kalau habis melahirkan baru
gapapa.
Empat bulan setelah menikah,
akupun lulus.
Kanda sendiri yang mengantarku
sidang. Menungguku seharian ditanya ini-itu oleh dosen pengawas. Sampai ketiduran
saat aku keluar ruangan.
“Sayang, aku lulus.” Kataku sambil
mencium pipinya.
“Hmmph, kamu siapa?”
Ia mengigau.
“Aku istrimu, goblok.” Kataku
sambil menoyol kepalanya. Dulu, aku masih seorang wanita keras yang
meletup-letup memang. Lidahku belum bisa diatur seperti sekarang.
“Oh, sayang.” Kanda tersenyum ke
arahku.
“Kok bilang goblok? Awas nanti
kucium.”
“Hehe.” Aku tersipu. Kalau saja
tidak ada orang lain di sana, mungkin ia sudah nyosor saja.
“Ayo pergi.”
“Ke mana?”
“Ke Syurga pengantin baru.”
Aku tersenyum. “Aku mau spa
dong.”
“Yang di Dipatiukur itu? Yang pernah
kamu tunjukin?”
Aku mengangguk. Pengen rasanya
rileks dulu. Kalau sudah ke “syurga” yang dia bilang, pasti capek aku
meladeninya. Semoga ia mengerti kodeku. Hehe.
“Tapi yang mijit perempuan kan?”
“Iyaaa.” Kataku. Aku juga tidak
mungkin membiarkan laki-laki lain menyentuhku sekarang. Aku adalah istri dari
seorang lelaki yang kucintai.
“Cus.”
“Go!”
***
Aku sampai lupa bilang ke dia
kalau aku dinyatakan lulus. Hahaha. Kami merayakannya di malam hari. Ia mengajakku
makan di sebuah restoran di bilangan Setiabudi.
Tak kuduga, ia menyewa kru
restoran untuk mengucapkan selamat atas kelulusanku.
Aku dibawakan kue khusus untuk
merayakannya. “Aku bosan nih tinggal sendirian, mau tinggal sama kamu lah di
Jakarta.”
“Iyaaa, secepatnya ya aku pindah.
Eh, apa gak tinggal di Bandung aja? Kamu pindah kerja atuh.”
“Di Bandung dingin. Aku punya
murid yang gabisa ditinggal, beb.”
Kadang ia panggil aku sayang,
kadang beb.
“Oh iya, binaan kamu ya. Yasudah,
aku bakal ikut di manapun kamu tinggal. Aku bakal nemenin kamu tidur di mana
aja. Kecuali kalau di hutan atau di kamar yang ada laki-laki lainnya.”
Ia tersenyum.
***
Bersambungin
aja deh. Biar pajang, bukan begitu, para wanita yang sedang membaca?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar