Perkenalkan, namaku Firmino.
Aku adalah seorang warga negara
Brazil, Amerika Selatan. Dari kalangan menengah ke bawah, punya sebuah
pekerjaan kecil di toko roti. Aku adalah pembuat roti.
Aku juga seorang kristiani taat. Setiap Minggu menyempatkan diri untuk
mengakui dosa-dosaku kepada Bapa Pendeta. Hal tersebut membuat hatiku tenang.
Lalu datanglah hari di mana
bosku menjual toko rotinya. Katanya, para pegawai akan tetap bekerja, akan
tetapi bersama pemilik baru toko roti ini. Aku agak sedih karena bosku sudah
kuanggap bos sendiri. Maksudku, kami tidak terlalu dekat, namun aku
menyukainya.
Dari situlah, cerita ini
bermulai. Datanglah seorang Andrea. Wanita cantik yang masih berusia sekitar
30-an. Kutebak 34 tahun. Dan aku hampir tepat karena seminggu setelahnya aku
mengecek facebook doi. Umurnya 33 tahun.
Yang menarik dari Andrea adalah
sosoknya yang periang. Dan asal kau tahu, ia menutupi kepalanya dengan kain.
Hijab, ia bilang. Aku senang memperhatikan bagaimana ia mengatur hijab yang ia
pakai di hari ini, kemudian pada esok harinya ia pakai yang lain yang bercorak
berwarna putih. Dan pada hari Jumat, memakai hijab abu-abu.
Dari Andrea lah, kami, para
pegawai toko roti, dibuatkan sebuah rekening di Bank Islam. Begitu mereka
menyebutnya.
Bank of Qatar, namanya.
Kelak, gaji bulanan kamiakan
ditransfer ke sana. Sekaligus dipotong 5 persen untuk investasi. Mudharaba, namanya.
Menurutku itu ide yang keren.
Andrea sendiri adalah lulusan
Major Perbankan di Qatar. Ia sempat bekerja di Bank of Qatar lima tahun lamanya
setelah ia lulus. Kini, ia memilih untuk menetap di Brazil karena ibunya adalah
orang Brazil, sementara ayahnya adalah orang Perancis. Dan ia harus merawat
ibunya yang sudah tua itu, ia bilang.
Ah, aku jadi teringat ibuku.
Beliau adalah orang yang manis.
Nahas, saat aku berusia 11 tahun, ibuku meninggal terkena peluru salah sasaran
saat sedang pulang belanja dari supermarket.
Setelah itu, aku dirawat oleh
Pamanku yang seorang tukang bersih-bersih gereja, karena ayah telah meninggalkan
kami sejak umurku 3 bulan.
Dari Paman lah aku mendapat
sifat religius dan ke-non-duniawi-an. Maka, meski hidup sederhana sebagai
pembuat roti, aku bahagia.
***
Kejadiannya habis istirahat
makan siang, saat Andrea datang menghampiriku dengan wajah yang berseri-seri.
“Firminoo. Selamat, kamu menang
undian.”
Aku terkesiap. “Undian apa,
bos?”
Andrea tersenyum sambil mengacak
rambutku. Oiya, aku lupa memberi tahu bahwa usiaku baruah 22 tahun. Andrea
menganggap pegawai muda sepertiku seperti adiknya sendiri, sehingga ia sering
bercanda dengan kami-kami ini.
Ah, nikmatnya jadi berondong.
“Dari Bank. Siapkan koper, bulan
depan kita pergi tur ke Timur Tengah.”
Wow. Itu kabar yang... wow.
“Kau dapat juga, bos?”
Andrea mengangguk-angguk. “Dan..
oh ya, di mana Julie? Ia juga dapat.”
Julie adalah tukang
bersih-bersih kami. Ia berusia 40 tahun, dan masih menjomblo.
Pegawai yang lain tampak iri
terhadap kami. Tapi mereka juga setengah tidak bergairah denan hadiah yang kami
dapatkan. Maksudku, ada apa pula di Timur Tengah yang bisa kita nikmati? Gurun,
Unta?
Jadi, mereka pada akhirnya
menyelamati, dan kata Paolo, mereka akan mengadakan pesta kecil untuk
keberangkatan kami.
Sungguh manis, Paolo.
***
Aku mungkin tidak seharusnya
menceritakan ini, namun aku..
Aku merasa aneh saat Andrea
mengenakan pakaian putih-putih saat tengah hari di jam istirahat makan siang.
Ia melakukan solat, katanya. Dan hal tersebut biasa ia lakukan di kantornya.
Oh ya, kantor Andrea hanya
bersekat papan setinggi pundak orang dewasa, sehingga kalau kita lewat, kita
bisa melihat isinya. Dan karena posisi dapur ada di belakang, aku selalu
bolak-balik melewati kantor Andrea saat makan siang.
Agama Andrea sangatlah menguras
waktu. Bayangkan, lima kali sehari kita harus menjalankan ibadah. Bagaimana
jika kita sibuk? Maksudku, ada banyak hal yang harus kita kerjakan sehari-hari.
Andrea sendiri tampak tidak
pernah mengeluh. Atau, ah, mungkin dalam hatinya yang mengeluh. Atau, entahlah.
Kami berangkat dalam 2 minggu.
Andrea benar-benar terlihat bersemangat saat bercerita tentang tempat-tempat
yang akan kami kunjungi. Doi sendiri akan berada di sana lebih awal dua hari.
Alasannya, ia akan umroh terlebih dahulu. Sebuah ibadah yang sakral untuk ummat
islam.
Aku kurang begitu mengerti
bagaimana tata caranya, namun Andrea terlihat sangat bahagia menyambut
perjalanan kali ini.
Aku, ya ikut bahagia saja.
“Firmino, aku sangat senang!”
Katanya di pagi hari sambil mengacak-acak rambutku.
Memang kelihatannya agak
kekanak-kanakan sekali si Andrea itu.
“Firmino, nanti kamu harus coba
kurma sukari. Bagus untuk laki-laki!” Andrea melempar tatapan iseng kepadaku.
Mungkin ia tahu bahwa aku masih menjomblo dan butuh sesuatu untuk meningkatkan
kelaki-lakianku. Atau, entahlah.
Sukari sendiri artinya suka
berdiri.
Haha.
***
Andrea adalah tipikal muslimah
kontemporer yang sangat kukagumi.
Awalnya memang canggung dan
terasa aneh. Namun makin ke sini aku makin melihatnya sebagai orang yang hebat.
Ia memegang prinsip agamanya sambil tetap berbaur dengan semua orang, yang
notabene berbeda kepercayaan dengannya.
Andrea benar-benar tidak pernah
meninggalkan solatnya.
“Firmino, aku mau solat, kamu
yang rajin kerjanya meski aku tidak mengawasi!”
Aku ketahuan main hape saat
bekerja. Cewek itu menyuruhku disiplin sambil memasang tatapan galak. Serasa
seperti disuruh kakak sendiri. Tapi aku buru-buru ingat kalau dia bosku.
Tadinya mau ngocol.
Andrea tidak pernah marah. Ia
tegas, namun mengayomi.
“Firmino, solat itu sangat
penting bagiku.”
Katanya suatu hari. Sisi lain
dari Andrea, suka tiba-tiba curhat.
Aku mengangguk-angguk. Bersiap
mendengar kalimat selanjutnya. “Aku ini orangnya lemah. Dunia ini keras. Solat
yang menguatkan. Aku bukan apa-apa tanpa Tuhanku.”
Sekilas aku merinding mendengar
katanya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu pun
tiba. Kami bertemu di Jeddah. Tepat saat Andrea beres melakukan ibadah
umrohnya.
Tour guide kami langsung membawa
rombongan untuk berkeliling kota metropolitan tersebut. Ada monumen globe yang
sangat indah di tengah kota. Di sekelilingnya terdapat bendera-bendera
perserikatan negara-negara arab—atau, entahlah.
Kami juga pergi ke pasar
oleh-oleh untuk belanja. Di sini, pernak-pernik khas Arab menjamuri seluruh
toko. Pakaian-pakaian muslim juga banyak bertebaran.
“Firmino, aku belikan kamu
sorban!” Kata Andrea. Katanya, sorban ini bisa kugunakan untuk pengganti syal.
Dan bahannya lebih tebal juga.
“Kau suka kan? Bilang kalau kau
suka.”
Aku mengangguk-angguk. “Kau beli
apa, bos?”
“Beli handuk buat mandi. Punyaku
ketinggalan di Makkah.”
Aku memasang wajah “yaelah”.
“Tapi aku beli ini juga!” Andrea
menunjukkan bungkusan plastik berisi sebuah daster(?) berwarna hitam.
“Ini namanya Abaya.”
Kami menginap semalam di Jeddah.
Esok harinya kami bertolak menuju Jerussalem, sebelum akhirnya perjalanan
diakhiri di Dubai.
***
“Firmino. Aku ini butuh solat.”
Andrea tiba-tiba curhat lagi
saat kami sedang berjemur di Pantai Nasimi, Dubai. Di sana, kami berjemur di
bawah sebuah kasur yang ada atapnya berwarna putih. Aku tiduran di samping
Julie, dan Andrea berada di ujung yang satunya. Lucu ya, kami bertigaan di
kasur yang cukup besar tersebut. Andrea bilang ingin barengan.
“Sekalipun aku pergi ke bulan,
aku akan tetap solat.”
Aku tersenyum simpul mendengar
penuturannya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar