Senin, 15 Mei 2017

#Cerpen Solat di Bulan


Perkenalkan, namaku Firmino.
Aku adalah seorang warga negara Brazil, Amerika Selatan. Dari kalangan menengah ke bawah, punya sebuah pekerjaan kecil di toko roti. Aku adalah pembuat roti.
Aku juga seorang kristiani taat. Setiap Minggu menyempatkan diri untuk mengakui dosa-dosaku kepada Bapa Pendeta. Hal tersebut membuat hatiku tenang.
Lalu datanglah hari di mana bosku menjual toko rotinya. Katanya, para pegawai akan tetap bekerja, akan tetapi bersama pemilik baru toko roti ini. Aku agak sedih karena bosku sudah kuanggap bos sendiri. Maksudku, kami tidak terlalu dekat, namun aku menyukainya.
Dari situlah, cerita ini bermulai. Datanglah seorang Andrea. Wanita cantik yang masih berusia sekitar 30-an. Kutebak 34 tahun. Dan aku hampir tepat karena seminggu setelahnya aku mengecek facebook doi. Umurnya 33 tahun.
Yang menarik dari Andrea adalah sosoknya yang periang. Dan asal kau tahu, ia menutupi kepalanya dengan kain. Hijab, ia bilang. Aku senang memperhatikan bagaimana ia mengatur hijab yang ia pakai di hari ini, kemudian pada esok harinya ia pakai yang lain yang bercorak berwarna putih. Dan pada hari Jumat, memakai hijab abu-abu.
Dari Andrea lah, kami, para pegawai toko roti, dibuatkan sebuah rekening di Bank Islam. Begitu mereka menyebutnya.
Bank of Qatar, namanya.
Kelak, gaji bulanan kamiakan ditransfer ke sana. Sekaligus dipotong 5 persen untuk investasi. Mudharaba, namanya. Menurutku itu ide yang keren.
Andrea sendiri adalah lulusan Major Perbankan di Qatar. Ia sempat bekerja di Bank of Qatar lima tahun lamanya setelah ia lulus. Kini, ia memilih untuk menetap di Brazil karena ibunya adalah orang Brazil, sementara ayahnya adalah orang Perancis. Dan ia harus merawat ibunya yang sudah tua itu, ia bilang.
Ah, aku jadi teringat ibuku.
Beliau adalah orang yang manis. Nahas, saat aku berusia 11 tahun, ibuku meninggal terkena peluru salah sasaran saat sedang pulang belanja dari supermarket.
Setelah itu, aku dirawat oleh Pamanku yang seorang tukang bersih-bersih gereja, karena ayah telah meninggalkan kami sejak umurku 3 bulan.
Dari Paman lah aku mendapat sifat religius dan ke-non-duniawi-an. Maka, meski hidup sederhana sebagai pembuat roti, aku bahagia.
***
Kejadiannya habis istirahat makan siang, saat Andrea datang menghampiriku dengan wajah yang berseri-seri.
“Firminoo. Selamat, kamu menang undian.”
Aku terkesiap. “Undian apa, bos?”
Andrea tersenyum sambil mengacak rambutku. Oiya, aku lupa memberi tahu bahwa usiaku baruah 22 tahun. Andrea menganggap pegawai muda sepertiku seperti adiknya sendiri, sehingga ia sering bercanda dengan kami-kami ini.
Ah, nikmatnya jadi berondong.
“Dari Bank. Siapkan koper, bulan depan kita pergi tur ke Timur Tengah.”
Wow. Itu kabar yang... wow.
“Kau dapat juga, bos?”
Andrea mengangguk-angguk. “Dan.. oh ya, di mana Julie? Ia juga dapat.”
Julie adalah tukang bersih-bersih kami. Ia berusia 40 tahun, dan masih menjomblo.
Pegawai yang lain tampak iri terhadap kami. Tapi mereka juga setengah tidak bergairah denan hadiah yang kami dapatkan. Maksudku, ada apa pula di Timur Tengah yang bisa kita nikmati? Gurun, Unta?
Jadi, mereka pada akhirnya menyelamati, dan kata Paolo, mereka akan mengadakan pesta kecil untuk keberangkatan kami.
Sungguh manis, Paolo.
***
Aku mungkin tidak seharusnya menceritakan ini, namun aku..
Aku merasa aneh saat Andrea mengenakan pakaian putih-putih saat tengah hari di jam istirahat makan siang. Ia melakukan solat, katanya. Dan hal tersebut biasa ia lakukan di kantornya.
Oh ya, kantor Andrea hanya bersekat papan setinggi pundak orang dewasa, sehingga kalau kita lewat, kita bisa melihat isinya. Dan karena posisi dapur ada di belakang, aku selalu bolak-balik melewati kantor Andrea saat makan siang.
Agama Andrea sangatlah menguras waktu. Bayangkan, lima kali sehari kita harus menjalankan ibadah. Bagaimana jika kita sibuk? Maksudku, ada banyak hal yang harus kita kerjakan sehari-hari.
Andrea sendiri tampak tidak pernah mengeluh. Atau, ah, mungkin dalam hatinya yang mengeluh. Atau, entahlah.
Kami berangkat dalam 2 minggu. Andrea benar-benar terlihat bersemangat saat bercerita tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Doi sendiri akan berada di sana lebih awal dua hari. Alasannya, ia akan umroh terlebih dahulu. Sebuah ibadah yang sakral untuk ummat islam.
Aku kurang begitu mengerti bagaimana tata caranya, namun Andrea terlihat sangat bahagia menyambut perjalanan kali ini.
Aku, ya ikut bahagia saja.
“Firmino, aku sangat senang!” Katanya di pagi hari sambil mengacak-acak rambutku.
Memang kelihatannya agak kekanak-kanakan sekali si Andrea itu.
“Firmino, nanti kamu harus coba kurma sukari. Bagus untuk laki-laki!” Andrea melempar tatapan iseng kepadaku. Mungkin ia tahu bahwa aku masih menjomblo dan butuh sesuatu untuk meningkatkan kelaki-lakianku. Atau, entahlah.
Sukari sendiri artinya suka berdiri.
Haha.
***
Andrea adalah tipikal muslimah kontemporer yang sangat kukagumi.
Awalnya memang canggung dan terasa aneh. Namun makin ke sini aku makin melihatnya sebagai orang yang hebat. Ia memegang prinsip agamanya sambil tetap berbaur dengan semua orang, yang notabene berbeda kepercayaan dengannya.
Andrea benar-benar tidak pernah meninggalkan solatnya.
“Firmino, aku mau solat, kamu yang rajin kerjanya meski aku tidak mengawasi!”
Aku ketahuan main hape saat bekerja. Cewek itu menyuruhku disiplin sambil memasang tatapan galak. Serasa seperti disuruh kakak sendiri. Tapi aku buru-buru ingat kalau dia bosku. Tadinya mau ngocol.
Andrea tidak pernah marah. Ia tegas, namun mengayomi.
“Firmino, solat itu sangat penting bagiku.”
Katanya suatu hari. Sisi lain dari Andrea, suka tiba-tiba curhat.
Aku mengangguk-angguk. Bersiap mendengar kalimat selanjutnya. “Aku ini orangnya lemah. Dunia ini keras. Solat yang menguatkan. Aku bukan apa-apa tanpa Tuhanku.”
Sekilas aku merinding mendengar katanya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami bertemu di Jeddah. Tepat saat Andrea beres melakukan ibadah umrohnya.
Tour guide kami langsung membawa rombongan untuk berkeliling kota metropolitan tersebut. Ada monumen globe yang sangat indah di tengah kota. Di sekelilingnya terdapat bendera-bendera perserikatan negara-negara arab—atau, entahlah.
Kami juga pergi ke pasar oleh-oleh untuk belanja. Di sini, pernak-pernik khas Arab menjamuri seluruh toko. Pakaian-pakaian muslim juga banyak bertebaran.
“Firmino, aku belikan kamu sorban!” Kata Andrea. Katanya, sorban ini bisa kugunakan untuk pengganti syal. Dan bahannya lebih tebal juga.
“Kau suka kan? Bilang kalau kau suka.”
Aku mengangguk-angguk. “Kau beli apa, bos?”
“Beli handuk buat mandi. Punyaku ketinggalan di Makkah.”
Aku memasang wajah “yaelah”.
“Tapi aku beli ini juga!” Andrea menunjukkan bungkusan plastik berisi sebuah daster(?) berwarna hitam.
“Ini namanya Abaya.”
Kami menginap semalam di Jeddah. Esok harinya kami bertolak menuju Jerussalem, sebelum akhirnya perjalanan diakhiri di Dubai.
***
“Firmino. Aku ini butuh solat.”
Andrea tiba-tiba curhat lagi saat kami sedang berjemur di Pantai Nasimi, Dubai. Di sana, kami berjemur di bawah sebuah kasur yang ada atapnya berwarna putih. Aku tiduran di samping Julie, dan Andrea berada di ujung yang satunya. Lucu ya, kami bertigaan di kasur yang cukup besar tersebut. Andrea bilang ingin barengan.
“Sekalipun aku pergi ke bulan, aku akan tetap solat.”
Aku tersenyum simpul mendengar penuturannya.
***

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar