Sederhana.
Mereka menulis.
Kata
Pandji Pragiwaksono. “Yang membedakan mereka yang sudah tahu passionnya tapi
biasa-biasa saja, dan mereka yang tahu passionnya lalu sukses cuma satu;
Disiplin.”
Dua
hari yang lalu, genap 19 tahun Azam Rofiullah berjalan di muka bumi. Setahun sebelumnya
hanya bisa merangkak atau berguling. Azam Rofiullah adalah nama yang diberikan
oleh Ibunda Muhlisrarini, orang yang melahirkannya dengan normal di rumah sakit
Cipto, Jakarta Pusat, 14 Mei 20 tahun yang lalu.
Naik
taksi dari kontrakan di Ciputat.
Azam
Rofiullah tidak tahu pasti kronologis dirinya yang berontak di perut sang
Ibunda, sehingga menjadikannya keluar pada hari itu. Namun Azam Rofiullah tahu,
bahwa 20 tahun setelahnya, ia akan berjuang menjadi seorang penulis besar.
Azam
Rofiullah, seperti kebanyakan pemuda lainnya, senang main.
Azam
Rofiullah gemar bermain game komputer, atau berjalan-jalan ke tempat-tempat
baru, mengobrol dengan temannya.
Azam
Rofiullah juga menyukai wanita.
Belakangan,
tahun 2016 menjadi tahun yang paling non-produktif baginya. Kebanyakan main. Kebanyakan
tidur. Kebanyakan bersenang-senang.
Azam
Rofiullah tahu bahwa dirinya kurang disiplin.
Tahun
lalu, ia berfoto dengan Sandra Dewi di hari ulang tahunnya.
Tahun
ini, ia tidak berfoto dengan siapapun.
Telah
hilang gairahnya untuk bermalas-malasan menunggu hari terbenam. Azam Rofiullah
tahu, bahwa jalan masih panjang tuk jadi penulis besar. Azam rofiullah tahu,
bahwa ia kini harus disiplin.
Semangat,
Azam Rofiullah.
Tidak
ada dia yang menunggumu, hanya dirimu sendiri, dan ketekunanmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar