Rabu, 17 Mei 2017

#Cerpen Tak Usah



Bukan malam penuh hujan yang membuatnya basah, namun serentetan peristiwa yang terjadi dua bulan ke belakang ini. Harum berjalan gontai saja sepanjang malam. Pulang menuju kosannya tanpa berusaha berteduh dari tembakan hujan dari langit.
Harum memeluk dirinya sendiri, berusaha membunuh gigil yang membuatnya kedinginan. Gadis itu melihat ke tanaman di pinggir jalan, menyapa mereka, dan tersenyum. Ia seakan bisa melihat ke dalam serbuk sari dan putik yang bahkan dapat merajut cinta. Kontradiktif dengan dirinya belakangan ini.
Ah, ia ingin beristirahat saja rasanya.
Tak terasa, dua puluh langkah lagi ia sampai di kosan tercinta.
***
“Ya Allah, Harum, kamu teh kenapa kok hujan-hujanan?” Bu Kirana, sang pemilik kosan memeberi komentar saat Harum masuk ke dalam.
“Hehe, iya bu, karena saya gerah, jadi biar seger ujan-ujanan aja.”
Bu Kirana menggelengkan kepala. “Ya tapi nanti kamu sakit. Sudah sana mandi, ganti baju, lalu istirahat. Jangan sampe sakit ya!”
Harum mengangguk dan segera ke kamarnya.
Bu Kirana pun mengambil pel dan mengelap tetesan air yang jatuh dari pijakan kaki anak kosnya tersebut.
***

Benda paling rumit yang pernah diciptakan Tuhan adalah hati manusia.
Bahkan di saat hati tersebut sudah bersatu dengan yang lain, sekuat apapun ikatan dan rasa yang telah tercipta, ada saja hal yang bisa memisahkan.
Harum rebahan di kasurnya sambil masih mengelap kepalanya dengan handuk.
Ia gadis berjilbab, dan di kosannya pun ia lebih sering memakai jilbabnya. Bukan apa-apa, tapi suka banyak teman laki-laki anak kosan lain yang berkunjung. Biasa pada belajar bareng, nugas, atau hal lainnya.
Harum menghembuskan napasnya lagi.
Dua bulan yang lalu, masih teringat kata-kata dari Rahmat, atau Memet, atau gendut, yang membuatnya menjadi seperti sekarang.
“Rum, saya takut akan hilangnya berkah.”
Harum sendiri sudah mahasiswa tingkat akhir. Dari awal kuliah sampai semester 7 sekarang ini ia ngekos di tempat Bu Kirana. Harum sudah seperti anak sendiri bagi si ibu. Dulu, gendut ering mengantar atau menjemputnya di kosan, meski tidak pernah berlama-lama juga.
Bu Kirana sampai hapal, yang jaket abu-abu dengan rambut sebahu.
Motor Supra hitam. Plat belakangnya EWE.
Haduh.
“Rum, kamu kok cantik sih.” Habis bilang gitu, biasanya si gendut yang mukanya memerah sendiri. Aneh memang dia.
“Ye gendut gombal mulu.” Ia langsung memukul Rahmat dengan tasnya.
Jadi, siapakah Memet atau Rahmat atau gendut ini?
Memet adalah pacar Harum. Ya, setidaknya itu yang ia rasakan. Pacar bukanlah sesuatu yang perlu dideklarasikan, namun terasa dari kedekatan dan kepedulian yang timbul dari hubungan mereka. Dan seperti banyak orang lainnya, Harum dan Memet berawal dari teman.
“Rum, KRS udah beres belum? Jangan ditunda-tunda ketemu dosen walinya.”
“Iye Dut, kamu juga tuh, dietnya yang bener elah.”
“Hehe.”
“Tawa aja.”
“Nanti nenek sedih kalo makanannya ga habis, Rum.”
Gendut memang tinggal bersama neneknya. Mereka hanya tinggal berdua. Dan alasan klasik Memet selalu untuk membahagiakan sang nenek. Makan masakannya dengan lahap.
Mereka berteman sejak semester awal. Setelah itu baru terasa jadi pacar saat Harum masuk semester lima.
“Kita ini pacaran ya Dut?” Kata Harum suatu saat.
“Kayaknya sih gitu.”
Mereka dekat karena Harum pada awalnya sering meminta bantuan Memet untuk mengerjakan tugasnya. Oh iya, Memet itu sudah S2, jurusan yang sama dengan Harum saat ini; Hukum.
Mereka bertemu juga tidak disengaja. Saat itu, Harum ingin berangkat ke kampus. Namun karena agak telat, ia naik ojek dari pangkalan dekat kosannya.
Nah, tukang ojeknya itulah si Memet.
Memet menjadi berurusan kembali dengan Harum karena ternyata si Harum meninggalkan tas kecilnya di gantungan motor Memet. Tas tersebut berisi tugas-tugas kuliah yang harus dikumpulkan saat itu juga.
Jadilah pada akhirnya Memet mengejar Harum. Namun ia sudah telat, Harum menghilang entah ke mana. Memet sampai mencari-cari ke kelas-kelas. Tak disangka, kelas yang dihadiri oleh Harum tersebut sedang diajar oleh dosen yang dulu pernah ia asisteni.
Memet, karena sudah kenal dengan si dosen, segera ijin masuk. Ia mengatakan bahwa salah satu murid si ibu dosen ada yang ketinggalan tas kecil di motornya.
“Loh kok bisa? Emang kalian apa?” Bu Dosen agak takjub.
“Hehe, iya bu, tadi dia ngojek sama saya.”
Tawa si ibu menggelegar.
“Oh iya ibu sampe lupa, kamu itu tukang ojek juga ya.” Si ibu berkata sambil kesusahan. Mahasiswa di kelasnya agak kurang mengerti sampai pada akhirnya ia menjelaskan.
“Perkenalkan, guys, ini Memet, mahasiswa pasca sarjana hukum yang dulu pernah jadi Asdos ibu.”
Sekelas ber-ooooh yang panjang.
“Rum, sini ambil tasmu. Wah bisa ada kejadian kayak gini ya, mungkin aja kalian berdua jodoh.”
Harum tersipu. Memet apalagi. Hampir pipis di celana.
Dan beneran kan terjadi.
“Rum, mau kuajak menikah tidak?”
Saat ia semester enam, Memet bilang begitu kepadanya.
“Buset Met. Serius? Gimana ya.”
Harum cinta Memet. Memet juga. Usia mereka juga sudah waktunya. Eh, itu Memet doang sih. Harum masih umur 21 saat itu, Memet 25.
“Hehe, aku belum ngajakin nikah kok, baru nanya mau gak kalo kuajak nikah.”
Ah, si gendut berkelit aja.
Harum menatap langit-langit rumah makan Bakso H. Udin yang sedang jadi tempat hang-out mereka.
“Kamu sendiri yakin mau ngajak aku nikah?” Harum balas bertanya.
Memet menggaruk-garuk perutnya (tanda bahwa ia sedang grogi).
“Kamu adalah hal terindah Rum. Masa’ iya aku gak yakin.”
Harum tersipu. “Yaudah sana siapin dulu apa yang mau diomongin, terus ngajak nikahnya bukan ke aku, tapi ke bapak aku.”
Memet mengangguk-angguk.    
“Rum, kamu...”
“Haduh, Met, aku lagi makan jangan digombalin terus.”
“Eh yaudah.” Memet gajadi bicara.
***
Bagaimana rasanya setelah itu? Hari-hari Harum mulai berubah. Aduh, Memet. Orangnya lucu, gempal, pintar, mandiri, dewasa.
Tapi aku masih 21, Met. Maksudnya, Met, apa mungkin baiknya aku lulus kuliah dulu ya. Tapi nanti Memet takutnya ketuaan. Apa jangan-jangan doi ga tahan? Aduuh, Met.
***
Dan, kejadiannya dua bulang yang lalu, saat berderet duka silih berganti menghampiri.
Pertama, Nenek Memet meninggal dunia. Memet sedih bukan main. Harum datang ke rumah pria itu, berusaha menenangkan, memberi pundak untuk bersandar, telinga untuk mendengar. Memet tak henti-hentinya menangis saat memandikan, mengafani, menyolat, hingga mengantar sang nenek ke peristirahatan terakhirnya.             
“Mungkin itu artinya udah saatnya aku yang masakin buat kamu, Met.”
Harum bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
Memet, dengan matanya yang masih penuh dengan pilu, menatap Harum. Ia tak berkata apa-apa, namun sedetik kemudian Memet tersenyum.
Sudah, itu saja. Memet hanya tersenyum.
***
Tiga hari kemudian, rumah Memet kebakaran.
Entah harus bilang apa, namun Harum menangis. Ya, duka pria yang ia cintai juga adalah dukanya. Harum menemani Memet sekali lagi. Mengambil sisa-sisa barang yang masih bisa diselamatkan dari rumah tersebut.
Tidak banyak, karena pemadam kebakaran kesulitan untuk masuk ke rumah yang berada di gang itu.
Memet mengandalkan hidupnya dari beasiswa, dan hasil dia ngojek. Jaman itu belum ada yang namanya ojek online. Menjadi ojek adalah pekerjaan yang tidak semua orang mau melakukannya.
Akhirnya, Harum mencari kosan untuk Memet tinggal sementara waktu. Memet tidak punya uang untuk merenovasi rumahnya.
Sekali lagi, Harum menangis. Namun Memet sempat berkata.
“Jangan gentar, hidup sulit tapi jangan dipersulit. Aku bakal lewatin semua ini.”
Harum tersenyum simpul.
***
Kejadian ketiganya, adalah sebagai berikut.
“Rum, aku takut akan hilangnya keberkahan.”
Harum mendengar dengan seksama. Ah, tidak, sambil menunduk. Karena sepertinya Memet akan mengatakan hal yang serius.
“Kalaupun suatu saat aku berhasil menikahimu, apakah kehidupan kita akan berkah? Dengan cara-cara yang kita lewati sekarang.”
“Aku mendekatimu dengan cara yang kurang baik, Rum. Mungkin lebih baik kita tidak bersama dahulu, lagipula, banyak hal yang harus kukerjakan.”
Harum berusaha mengerti posisi dari lelaki yang ia cintai tersebut.
Tanggung jawabnya banyak.
“Aku bisa bantu kamu, Met. Atau mungkin keluargaku bisa membantu.”
Di seberang meja sana, Memet hanya tersenyum.
“Ah, tak usah.”
***
Memet meninggal tiga hari kemudian.
Ia dibacok oleh begal saat pulang mengantar pelanggan ojeknya di sebuah tempat yang sepi. Motornya diambil oleh pelaku. Jasadnya yang tidak bernyawa ditemukan dua hari setelahnya di kebun kosong dekat situ.
Lelaki baik itu, kini sudah tiada.
Harum menghapus air matanya di kosan tercinta.
“Met, Memeeet...”

1 komentar: