Sabtu, 20 Mei 2017

#Cerpen Yakin


Matahari sedang jahat. Bumi disiram dengan hawa panas super tinggi. Bukan bumi sih, tapi Jakarta. Tapi kan Jakarta bumi juga.
“Kin! Kamu yakin kan?”
Aku menengok ke belakang. Seorang gadis berponi yang tidak kukenal baru saja memanggil namaku—sekaligus meyakinkan dirinya kalau ini adalah aku.
“Yup. Ini siapa ya?”
Si gadis mengerling kesal. “Wah parah, kita sekelas di Matkul MSDM! Aku kakak tingkat sebenernya, ngulang, hehe.”
Ohh, terus?
“Begini, aku mau minta tolong.”
***
“Kin, aku sayang kamu.”
Aku ingin menolak mentah-mentah tadinya, serta menyuruhnya untuk tidak pernah menyebut kalimat itu lagi kepadaku. Namun, kebebasan berbicara seseorang dilindungi oleh UUD ’45, jadi mau tidak mau aku harus tetap taat pada konstitusi.
“Begini, Sya, umm, iya.”
Biasanya, setelah jawaban penuh ragu-ku itu, ia langsung meriang-terjang memelukku. Menempelkan tubuhnya ke tubuhku.
Aku ingin menolak sebenarnya, namun sekali lagi, aku harus tetap taat kepada konstitusi.
***
“Maaf ya Kin, kamu baik, dan kamu pantas buat dapetin yang lebih baik dari aku.”
Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya di café yang kami pilih untuk kencan pertama kami dulu.
Jadian, dan putus di tempat yang sama. Sungguh ironi.
“Tasya Kumala, gapapa.”
Sudah jadi kebiasaanku, ketika sedang membicarakan hal yang serius dengan seseorang, aku memanggil menggunakan nama lengkap.
Tasya tersenyum getir sambil menundukkan pandangan.
Kami akhirnya putus. Ya, mau bagaimana lagi? Aku melihat Tasya sedang makan bersama seorang laki-laki, dan Tasya melihatku juga. Mungkin ia merasa tidak enak terhadapku dan akhirnya bicara kepadakau secara baik-baik.
Ah, kisah romantika anak muda. Punya dialektika dan siklus yang kurang lebih sama.
Pertemuan pertama, pendekatan, jadian, putus.
Sederhana.
***
Setahun kemudian.
“Hai. Saya Yakin.”
Gadis di depanku menengok dan tersenyum.
Senyuman yang dilarang oleh konstitusi karena bisa membunuhku secara perlahan.
***
Yakin Harbani nama lengkapku. Wajahku agak kebarat-baratan memang. Konon bapak uyutku adalah kompeni. Tapi Uyut sendiri belum pernah bertemu dengan bapaknya. Banyak desas-desus bahwa dahulu Ibu dari Uyut adalah seorang kembang desa yang terpincut hatinya dengan seorang pemuda tampan dari kompeni.
Kemudian, mereka muda-mudi yang sedang jatuh cinta, berusaha untuk mengukuhkan perasaan mereka lewat pernikahan. Namun, bapak dari ibu Uyutku—yang adalah seorang ulama—tidak merestui karena saat itu Pribumi sedang gencar berjuang melawan Belanda.
Jadilah pada akhirnya mereka kabur.
Dan setelah satu bulan mengerahkan pasukan untuk mencari, Ibu dari Uyutku ditemukan di sebuah gubuk di dekat bekas markas Belanda. Kondisinya baik, namun beberapa lama kemudian diketahui bahwa Ibu dari Uyutku hamil.
Awalnya, bapak dari ibu Uyutku marah besar, namun setelah Uyut lahir, ia berusaha menyayangi cucunya tersebut dan membesarkannya layaknya anak-anak lain.
Begitulah kisah perjuangan leluhurku dulu.
Aku, kecipratan sedikit gen Bule di dalam darahku.
“Kin, bengong aja.” Ujar gadis itu, gadis yang baru aja kuberitahu namaku. Yang senyumannya melanggar konstitusi.
“Eh, iya, kita sekelas kan? Kayaknya kamu anak baru.”
Aku belum pernah melihat gadis itu sebelumnya dan namanya ada di hampir 7 kelas yang kuambil semester ini.
“Hehe, iya, aku pindahan dari Belanda. Konversi nilai, namun banyak matkul yang belum kuambil. Aslinya aku udah semester 6.”
Aku mengangguk-angguk paham. Aku sendiri baru semester empat.
“Di Belanda dari dulu, apa baru pas kuliah?” Aku berkata. “Eh, aku bahkan lupa bertanya siapa namamu.”
Si gadis menjawab. “Kurang fokus nih. Namaku Aqua. Terlahir untuk membuatmu fokus dan selalu yakin.”
Aku tertawa kecil. “Seriusan.”
“Haha, namaku Intan Harbani.”
“Lah, saya Yakin Harbani.”
Seketika, pikiranku melayang. Baru kenal sana sudah bisa jadi The Harbani’s kita nih. Hehe. Enaknya jadiin temen atau gebetan ya. Gimana nih Kin? Yakin gak?
“Lah, ngikutin lu!” Intan monyong.
Ah, kalau senyum Intan saja sudah melanggar konstitusi, maka monyongnya itu melanggar hukum internasional.
Aku mau mati saja. Tak kuat melihat bidadari di depanku.
***
Hari demi hari berlari. Aku makin dekat dengan Intan. Aku akhirnya memutuskan untuk berteman saja dengan Intan. Tidak ingin lebih jauh. Lebih aman menjadi teman, karena aku bisa tetap bersamanya tanpa ada resiko.
Tapi ternyata ada resikonya.
Meskipun Cuma teman, nyes juga ya ketika tahu Intan baru saja jadian dengan si A. Kemudian mereka putus. Lalu Intan jadian lagi dengan D. Kemudian putus lagi. Eh, dia malah balikan sama A. Padahal sudah jelas mereka itu tidak cocok. Akhirnya putus lagi kan. Setelah sekitar 2 bulan, Intan bertemu dengan M, yang jadi gebetannya hingga sekarang.
Dalam waktu dua tahun ya, aku melihat Intan bersama laki-laki lain dan terus menahan diri. Senyum-senyum saja, sedang-sedang saja.
Namanya juga anak muda.
***
Sarjana.
Akhirnya, aku sarjana.
Lulusnya bareng Intan juga. Kami diwisuda bareng, tepat dua tahun setelah kami pertama bertemu.
“Kin, lulus juga ya.”
Intan yang berpakaian layaknya wisudawati lain jelas-jelas membunuhku. Toganya adalah mahkota. Jubahnya adalah jubahnya. Ah, aku tidak tahan.
Kalau senyumnya melanggar konstitusi, monyongnya melanggar hukum internasional, maka penampilannya seperti ini sudah melanggar hukum Tuhan.
Tapi sekalinya pikiranku mulai melayang, aku ingat keyakinanku.
Kan lo cuma temennya, Kin.
***
Hati itu hari Ahad, 21 Mei 2017.
Aku merapihkan pakaianku sebelum masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi beberapa orang bapak-bapak ber-jas, ber-batik, dan ber-baju-baju mahal lain.
Agenda pertama adalah sambutan. Bla bla bla. Tidak jauh-jauh dari terima kasih, kemudian titip pesan, dan lain sebagainya.
Setelah sekitar setengah jam berlalu, datanglah agenda utama.
Pria itu maju. Aku juga maju ke tengah ruangan. Di sana ada sebuah meja kecil yang sudah ditaplak.
Aku bersiap dan menjabat tangannya. Jabat tangan yang membuat pintu-pintu langit terbuka, membuat malaikat-malaikat berdo’a. Jabat tangan terberat di langit.
“Saya nikahkan, putri saya...”
“Saya terima nikahnya...”
Disingkat ya, males nulisnya.
Dan hari pun beranjak siang, janur kuning bertuliskan “Intan & Yakin” diterpa angin sepoi yang sejuk. Awan berkumpul di tempat kami. Teduh, karena langit tahu ada orang spesial yang banyak melanggar hukum itu, sedang menikah di sini.
Satu hal, kawan, bertemanlah dengan siapa saja, lawan jenismu.
Tapi, kalau kau memutuskan untuk memacarinya, maka, pacarilah dengan cara yang benar.
Aku memegang pinggang istriku, melambai-lambai kepada kalian yang sedang membaca tulisan ini. Sudah ya, kami mau terima tamu dulu.

---Yakin
Matahari sedang jahat. Bumi disiram dengan hawa panas super tinggi. Bukan bumi sih, tapi Jakarta. Tapi kan Jakarta bumi juga.
“Kin! Kamu yakin kan?”
Aku menengok ke belakang. Seorang gadis berponi yang tidak kukenal baru saja memanggil namaku—sekaligus meyakinkan dirinya kalau ini adalah aku.
“Yup. Ini siapa ya?”
Si gadis mengerling kesal. “Wah parah, kita sekelas di Matkul MSDM! Aku kakak tingkat sebenernya, ngulang, hehe.”
Ohh, terus?
“Begini, aku mau minta tolong.”
***
“Kin, aku sayang kamu.”
Aku ingin menolak mentah-mentah tadinya, serta menyuruhnya untuk tidak pernah menyebut kalimat itu lagi kepadaku. Namun, kebebasan berbicara seseorang dilindungi oleh UUD ’45, jadi mau tidak mau aku harus tetap taat pada konstitusi.
“Begini, Sya, umm, iya.”
Biasanya, setelah jawaban penuh ragu-ku itu, ia langsung meriang-terjang memelukku. Menempelkan tubuhnya ke tubuhku.
Aku ingin menolak sebenarnya, namun sekali lagi, aku harus tetap taat kepada konstitusi.
***
“Maaf ya Kin, kamu baik, dan kamu pantas buat dapetin yang lebih baik dari aku.”
Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya di café yang kami pilih untuk kencan pertama kami dulu.
Jadian, dan putus di tempat yang sama. Sungguh ironi.
“Tasya Kumala, gapapa.”
Sudah jadi kebiasaanku, ketika sedang membicarakan hal yang serius dengan seseorang, aku memanggil menggunakan nama lengkap.
Tasya tersenyum getir sambil menundukkan pandangan.
Kami akhirnya putus. Ya, mau bagaimana lagi? Aku melihat Tasya sedang makan bersama seorang laki-laki, dan Tasya melihatku juga. Mungkin ia merasa tidak enak terhadapku dan akhirnya bicara kepadakau secara baik-baik.
Ah, kisah romantika anak muda. Punya dialektika dan siklus yang kurang lebih sama.
Pertemuan pertama, pendekatan, jadian, putus.
Sederhana.
***
Setahun kemudian.
“Hai. Saya Yakin.”
Gadis di depanku menengok dan tersenyum.
Senyuman yang dilarang oleh konstitusi karena bisa membunuhku secara perlahan.
***
Yakin Harbani nama lengkapku. Wajahku agak kebarat-baratan memang. Konon bapak uyutku adalah kompeni. Tapi Uyut sendiri belum pernah bertemu dengan bapaknya. Banyak desas-desus bahwa dahulu Ibu dari Uyut adalah seorang kembang desa yang terpincut hatinya dengan seorang pemuda tampan dari kompeni.
Kemudian, mereka muda-mudi yang sedang jatuh cinta, berusaha untuk mengukuhkan perasaan mereka lewat pernikahan. Namun, bapak dari ibu Uyutku—yang adalah seorang ulama—tidak merestui karena saat itu Pribumi sedang gencar berjuang melawan Belanda.
Jadilah pada akhirnya mereka kabur.
Dan setelah satu bulan mengerahkan pasukan untuk mencari, Ibu dari Uyutku ditemukan di sebuah gubuk di dekat bekas markas Belanda. Kondisinya baik, namun beberapa lama kemudian diketahui bahwa Ibu dari Uyutku hamil.
Awalnya, bapak dari ibu Uyutku marah besar, namun setelah Uyut lahir, ia berusaha menyayangi cucunya tersebut dan membesarkannya layaknya anak-anak lain.
Begitulah kisah perjuangan leluhurku dulu.
Aku, kecipratan sedikit gen Bule di dalam darahku.
“Kin, bengong aja.” Ujar gadis itu, gadis yang baru aja kuberitahu namaku. Yang senyumannya melanggar konstitusi.
“Eh, iya, kita sekelas kan? Kayaknya kamu anak baru.”
Aku belum pernah melihat gadis itu sebelumnya dan namanya ada di hampir 7 kelas yang kuambil semester ini.
“Hehe, iya, aku pindahan dari Belanda. Konversi nilai, namun banyak matkul yang belum kuambil. Aslinya aku udah semester 6.”
Aku mengangguk-angguk paham. Aku sendiri baru semester empat.
“Di Belanda dari dulu, apa baru pas kuliah?” Aku berkata. “Eh, aku bahkan lupa bertanya siapa namamu.”
Si gadis menjawab. “Kurang fokus nih. Namaku Aqua. Terlahir untuk membuatmu fokus dan selalu yakin.”
Aku tertawa kecil. “Seriusan.”
“Haha, namaku Intan Harbani.”
“Lah, saya Yakin Harbani.”
Seketika, pikiranku melayang. Baru kenal sana sudah bisa jadi The Harbani’s kita nih. Hehe. Enaknya jadiin temen atau gebetan ya. Gimana nih Kin? Yakin gak?
“Lah, ngikutin lu!” Intan monyong.
Ah, kalau senyum Intan saja sudah melanggar konstitusi, maka monyongnya itu melanggar hukum internasional.
Aku mau mati saja. Tak kuat melihat bidadari di depanku.
***
Hari demi hari berlari. Aku makin dekat dengan Intan. Aku akhirnya memutuskan untuk berteman saja dengan Intan. Tidak ingin lebih jauh. Lebih aman menjadi teman, karena aku bisa tetap bersamanya tanpa ada resiko.
Tapi ternyata ada resikonya.
Meskipun Cuma teman, nyes juga ya ketika tahu Intan baru saja jadian dengan si A. Kemudian mereka putus. Lalu Intan jadian lagi dengan D. Kemudian putus lagi. Eh, dia malah balikan sama A. Padahal sudah jelas mereka itu tidak cocok. Akhirnya putus lagi kan. Setelah sekitar 2 bulan, Intan bertemu dengan M, yang jadi gebetannya hingga sekarang.
Dalam waktu dua tahun ya, aku melihat Intan bersama laki-laki lain dan terus menahan diri. Senyum-senyum saja, sedang-sedang saja.
Namanya juga anak muda.
***
Sarjana.
Akhirnya, aku sarjana.
Lulusnya bareng Intan juga. Kami diwisuda bareng, tepat dua tahun setelah kami pertama bertemu.
“Kin, lulus juga ya.”
Intan yang berpakaian layaknya wisudawati lain jelas-jelas membunuhku. Toganya adalah mahkota. Jubahnya adalah jubahnya. Ah, aku tidak tahan.
Kalau senyumnya melanggar konstitusi, monyongnya melanggar hukum internasional, maka penampilannya seperti ini sudah melanggar hukum Tuhan.
Tapi sekalinya pikiranku mulai melayang, aku ingat keyakinanku.
Kan lo cuma temennya, Kin.
***
Hati itu hari Ahad, 21 Mei 2017.
Aku merapihkan pakaianku sebelum masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi beberapa orang bapak-bapak ber-jas, ber-batik, dan ber-baju-baju mahal lain.
Agenda pertama adalah sambutan. Bla bla bla. Tidak jauh-jauh dari terima kasih, kemudian titip pesan, dan lain sebagainya.
Setelah sekitar setengah jam berlalu, datanglah agenda utama.
Pria itu maju. Aku juga maju ke tengah ruangan. Di sana ada sebuah meja kecil yang sudah ditaplak.
Aku bersiap dan menjabat tangannya. Jabat tangan yang membuat pintu-pintu langit terbuka, membuat malaikat-malaikat berdo’a. Jabat tangan terberat di langit.
“Saya nikahkan, putri saya...”
“Saya terima nikahnya...”
Disingkat ya, males nulisnya.
Dan hari pun beranjak siang, janur kuning bertuliskan “Intan & Yakin” diterpa angin sepoi yang sejuk. Awan berkumpul di tempat kami. Teduh, karena langit tahu ada orang spesial yang banyak melanggar hukum itu, sedang menikah di sini.
Satu hal, kawan, bertemanlah dengan siapa saja, lawan jenismu.
Tapi, kalau kau memutuskan untuk memacarinya, maka, pacarilah dengan cara yang benar.
Aku memegang pinggang istriku, melambai-lambai kepada kalian yang sedang membaca tulisan ini. Sudah ya, kami mau terima tamu dulu.
---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar