Matahari
sedang jahat. Bumi disiram dengan hawa panas super tinggi. Bukan bumi sih, tapi
Jakarta. Tapi kan Jakarta bumi juga.
“Kin!
Kamu yakin kan?”
Aku
menengok ke belakang. Seorang gadis berponi yang tidak kukenal baru saja
memanggil namaku—sekaligus meyakinkan dirinya kalau ini adalah aku.
“Yup.
Ini siapa ya?”
Si
gadis mengerling kesal. “Wah parah, kita sekelas di Matkul MSDM! Aku kakak
tingkat sebenernya, ngulang, hehe.”
Ohh,
terus?
“Begini,
aku mau minta tolong.”
***
Aku
ingin menolak mentah-mentah tadinya, serta menyuruhnya untuk tidak pernah
menyebut kalimat itu lagi kepadaku. Namun, kebebasan berbicara seseorang
dilindungi oleh UUD ’45, jadi mau tidak mau aku harus tetap taat pada
konstitusi.
“Begini,
Sya, umm, iya.”
Biasanya,
setelah jawaban penuh ragu-ku itu, ia langsung meriang-terjang memelukku.
Menempelkan tubuhnya ke tubuhku.
Aku ingin
menolak sebenarnya, namun sekali lagi, aku harus tetap taat kepada konstitusi.
***
“Maaf ya Kin,
kamu baik, dan kamu pantas buat dapetin yang lebih baik dari aku.”
Aku
mengangguk-angguk mendengar penjelasannya di café yang kami pilih untuk kencan
pertama kami dulu.
Jadian, dan
putus di tempat yang sama. Sungguh ironi.
“Tasya Kumala,
gapapa.”
Sudah jadi
kebiasaanku, ketika sedang membicarakan hal yang serius dengan seseorang, aku
memanggil menggunakan nama lengkap.
Tasya tersenyum
getir sambil menundukkan pandangan.
Kami akhirnya
putus. Ya, mau bagaimana lagi? Aku melihat Tasya sedang makan bersama seorang
laki-laki, dan Tasya melihatku juga. Mungkin ia merasa tidak enak terhadapku
dan akhirnya bicara kepadakau secara baik-baik.
Ah, kisah
romantika anak muda. Punya dialektika dan siklus yang kurang lebih sama.
Pertemuan
pertama, pendekatan, jadian, putus.
Sederhana.
***
Setahun
kemudian.
“Hai. Saya
Yakin.”
Gadis di depanku
menengok dan tersenyum.
Senyuman yang
dilarang oleh konstitusi karena bisa membunuhku secara perlahan.
***
Yakin Harbani
nama lengkapku. Wajahku agak kebarat-baratan memang. Konon bapak uyutku adalah kompeni.
Tapi Uyut sendiri belum pernah bertemu dengan bapaknya. Banyak desas-desus
bahwa dahulu Ibu dari Uyut adalah seorang kembang desa yang terpincut hatinya
dengan seorang pemuda tampan dari kompeni.
Kemudian, mereka
muda-mudi yang sedang jatuh cinta, berusaha untuk mengukuhkan perasaan mereka
lewat pernikahan. Namun, bapak dari ibu Uyutku—yang adalah seorang ulama—tidak
merestui karena saat itu Pribumi sedang gencar berjuang melawan Belanda.
Jadilah pada
akhirnya mereka kabur.
Dan setelah satu
bulan mengerahkan pasukan untuk mencari, Ibu dari Uyutku ditemukan di sebuah
gubuk di dekat bekas markas Belanda. Kondisinya baik, namun beberapa lama
kemudian diketahui bahwa Ibu dari Uyutku hamil.
Awalnya, bapak
dari ibu Uyutku marah besar, namun setelah Uyut lahir, ia berusaha menyayangi
cucunya tersebut dan membesarkannya layaknya anak-anak lain.
Begitulah kisah
perjuangan leluhurku dulu.
Aku, kecipratan
sedikit gen Bule di dalam darahku.
“Kin, bengong
aja.” Ujar gadis itu, gadis yang baru aja kuberitahu namaku. Yang senyumannya
melanggar konstitusi.
“Eh, iya, kita
sekelas kan? Kayaknya kamu anak baru.”
Aku belum pernah
melihat gadis itu sebelumnya dan namanya ada di hampir 7 kelas yang kuambil
semester ini.
“Hehe, iya, aku
pindahan dari Belanda. Konversi nilai, namun banyak matkul yang belum kuambil.
Aslinya aku udah semester 6.”
Aku
mengangguk-angguk paham. Aku sendiri baru semester empat.
“Di Belanda dari
dulu, apa baru pas kuliah?” Aku berkata. “Eh, aku bahkan lupa bertanya siapa
namamu.”
Si gadis menjawab.
“Kurang fokus nih. Namaku Aqua. Terlahir untuk membuatmu fokus dan selalu
yakin.”
Aku tertawa
kecil. “Seriusan.”
“Haha, namaku
Intan Harbani.”
“Lah, saya Yakin
Harbani.”
Seketika,
pikiranku melayang. Baru kenal sana sudah bisa jadi The Harbani’s kita nih.
Hehe. Enaknya jadiin temen atau gebetan ya. Gimana nih Kin? Yakin gak?
“Lah, ngikutin
lu!” Intan monyong.
Ah, kalau senyum
Intan saja sudah melanggar konstitusi, maka monyongnya itu melanggar hukum
internasional.
Aku mau mati
saja. Tak kuat melihat bidadari di depanku.
***
Hari demi hari
berlari. Aku makin dekat dengan Intan. Aku akhirnya memutuskan untuk berteman
saja dengan Intan. Tidak ingin lebih jauh. Lebih aman menjadi teman, karena aku
bisa tetap bersamanya tanpa ada resiko.
Tapi ternyata ada
resikonya.
Meskipun Cuma
teman, nyes juga ya ketika tahu Intan baru saja jadian dengan si A. Kemudian
mereka putus. Lalu Intan jadian lagi dengan D. Kemudian putus lagi. Eh, dia
malah balikan sama A. Padahal sudah jelas mereka itu tidak cocok. Akhirnya
putus lagi kan. Setelah sekitar 2 bulan, Intan bertemu dengan M, yang jadi
gebetannya hingga sekarang.
Dalam waktu dua
tahun ya, aku melihat Intan bersama laki-laki lain dan terus menahan diri.
Senyum-senyum saja, sedang-sedang saja.
Namanya juga
anak muda.
***
Sarjana.
Akhirnya, aku
sarjana.
Lulusnya bareng
Intan juga. Kami diwisuda bareng, tepat dua tahun setelah kami pertama bertemu.
“Kin, lulus juga
ya.”
Intan yang
berpakaian layaknya wisudawati lain jelas-jelas membunuhku. Toganya adalah
mahkota. Jubahnya adalah jubahnya. Ah, aku tidak tahan.
Kalau senyumnya
melanggar konstitusi, monyongnya melanggar hukum internasional, maka
penampilannya seperti ini sudah melanggar hukum Tuhan.
Tapi sekalinya
pikiranku mulai melayang, aku ingat keyakinanku.
Kan lo cuma
temennya, Kin.
***
Hati itu hari
Ahad, 21 Mei 2017.
Aku merapihkan
pakaianku sebelum masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi beberapa orang
bapak-bapak ber-jas, ber-batik, dan ber-baju-baju mahal lain.
Agenda pertama
adalah sambutan. Bla bla bla. Tidak jauh-jauh dari terima kasih, kemudian titip
pesan, dan lain sebagainya.
Setelah sekitar
setengah jam berlalu, datanglah agenda utama.
Pria itu maju.
Aku juga maju ke tengah ruangan. Di sana ada sebuah meja kecil yang sudah
ditaplak.
Aku bersiap dan
menjabat tangannya. Jabat tangan yang membuat pintu-pintu langit terbuka,
membuat malaikat-malaikat berdo’a. Jabat tangan terberat di langit.
“Saya nikahkan,
putri saya...”
“Saya terima
nikahnya...”
Disingkat ya,
males nulisnya.
Dan hari pun
beranjak siang, janur kuning bertuliskan “Intan & Yakin” diterpa angin
sepoi yang sejuk. Awan berkumpul di tempat kami. Teduh, karena langit tahu ada
orang spesial yang banyak melanggar hukum itu, sedang menikah di sini.
Satu hal, kawan,
bertemanlah dengan siapa saja, lawan jenismu.
Tapi, kalau kau
memutuskan untuk memacarinya, maka, pacarilah dengan cara yang benar.
Aku memegang
pinggang istriku, melambai-lambai kepada kalian yang sedang membaca tulisan
ini. Sudah ya, kami mau terima tamu dulu.
--- Yakin
Matahari
sedang jahat. Bumi disiram dengan hawa panas super tinggi. Bukan bumi sih, tapi
Jakarta. Tapi kan Jakarta bumi juga.
“Kin!
Kamu yakin kan?”
Aku
menengok ke belakang. Seorang gadis berponi yang tidak kukenal baru saja
memanggil namaku—sekaligus meyakinkan dirinya kalau ini adalah aku.
“Yup.
Ini siapa ya?”
Si
gadis mengerling kesal. “Wah parah, kita sekelas di Matkul MSDM! Aku kakak
tingkat sebenernya, ngulang, hehe.”
Ohh,
terus?
“Begini,
aku mau minta tolong.”
***
“Kin,
aku sayang kamu.”
Aku
ingin menolak mentah-mentah tadinya, serta menyuruhnya untuk tidak pernah
menyebut kalimat itu lagi kepadaku. Namun, kebebasan berbicara seseorang
dilindungi oleh UUD ’45, jadi mau tidak mau aku harus tetap taat pada
konstitusi.
“Begini,
Sya, umm, iya.”
Biasanya,
setelah jawaban penuh ragu-ku itu, ia langsung meriang-terjang memelukku.
Menempelkan tubuhnya ke tubuhku.
Aku ingin
menolak sebenarnya, namun sekali lagi, aku harus tetap taat kepada konstitusi.
***
“Maaf ya Kin,
kamu baik, dan kamu pantas buat dapetin yang lebih baik dari aku.”
Aku
mengangguk-angguk mendengar penjelasannya di café yang kami pilih untuk kencan
pertama kami dulu.
Jadian, dan
putus di tempat yang sama. Sungguh ironi.
“Tasya Kumala,
gapapa.”
Sudah jadi
kebiasaanku, ketika sedang membicarakan hal yang serius dengan seseorang, aku
memanggil menggunakan nama lengkap.
Tasya tersenyum
getir sambil menundukkan pandangan.
Kami akhirnya
putus. Ya, mau bagaimana lagi? Aku melihat Tasya sedang makan bersama seorang
laki-laki, dan Tasya melihatku juga. Mungkin ia merasa tidak enak terhadapku
dan akhirnya bicara kepadakau secara baik-baik.
Ah, kisah
romantika anak muda. Punya dialektika dan siklus yang kurang lebih sama.
Pertemuan
pertama, pendekatan, jadian, putus.
Sederhana.
***
Setahun
kemudian.
“Hai. Saya
Yakin.”
Gadis di depanku
menengok dan tersenyum.
Senyuman yang
dilarang oleh konstitusi karena bisa membunuhku secara perlahan.
***
Yakin Harbani
nama lengkapku. Wajahku agak kebarat-baratan memang. Konon bapak uyutku adalah kompeni.
Tapi Uyut sendiri belum pernah bertemu dengan bapaknya. Banyak desas-desus
bahwa dahulu Ibu dari Uyut adalah seorang kembang desa yang terpincut hatinya
dengan seorang pemuda tampan dari kompeni.
Kemudian, mereka
muda-mudi yang sedang jatuh cinta, berusaha untuk mengukuhkan perasaan mereka
lewat pernikahan. Namun, bapak dari ibu Uyutku—yang adalah seorang ulama—tidak
merestui karena saat itu Pribumi sedang gencar berjuang melawan Belanda.
Jadilah pada
akhirnya mereka kabur.
Dan setelah satu
bulan mengerahkan pasukan untuk mencari, Ibu dari Uyutku ditemukan di sebuah
gubuk di dekat bekas markas Belanda. Kondisinya baik, namun beberapa lama
kemudian diketahui bahwa Ibu dari Uyutku hamil.
Awalnya, bapak
dari ibu Uyutku marah besar, namun setelah Uyut lahir, ia berusaha menyayangi
cucunya tersebut dan membesarkannya layaknya anak-anak lain.
Begitulah kisah
perjuangan leluhurku dulu.
Aku, kecipratan
sedikit gen Bule di dalam darahku.
“Kin, bengong
aja.” Ujar gadis itu, gadis yang baru aja kuberitahu namaku. Yang senyumannya
melanggar konstitusi.
“Eh, iya, kita
sekelas kan? Kayaknya kamu anak baru.”
Aku belum pernah
melihat gadis itu sebelumnya dan namanya ada di hampir 7 kelas yang kuambil
semester ini.
“Hehe, iya, aku
pindahan dari Belanda. Konversi nilai, namun banyak matkul yang belum kuambil.
Aslinya aku udah semester 6.”
Aku
mengangguk-angguk paham. Aku sendiri baru semester empat.
“Di Belanda dari
dulu, apa baru pas kuliah?” Aku berkata. “Eh, aku bahkan lupa bertanya siapa
namamu.”
Si gadis menjawab.
“Kurang fokus nih. Namaku Aqua. Terlahir untuk membuatmu fokus dan selalu
yakin.”
Aku tertawa
kecil. “Seriusan.”
“Haha, namaku
Intan Harbani.”
“Lah, saya Yakin
Harbani.”
Seketika,
pikiranku melayang. Baru kenal sana sudah bisa jadi The Harbani’s kita nih.
Hehe. Enaknya jadiin temen atau gebetan ya. Gimana nih Kin? Yakin gak?
“Lah, ngikutin
lu!” Intan monyong.
Ah, kalau senyum
Intan saja sudah melanggar konstitusi, maka monyongnya itu melanggar hukum
internasional.
Aku mau mati
saja. Tak kuat melihat bidadari di depanku.
***
Hari demi hari
berlari. Aku makin dekat dengan Intan. Aku akhirnya memutuskan untuk berteman
saja dengan Intan. Tidak ingin lebih jauh. Lebih aman menjadi teman, karena aku
bisa tetap bersamanya tanpa ada resiko.
Tapi ternyata ada
resikonya.
Meskipun Cuma
teman, nyes juga ya ketika tahu Intan baru saja jadian dengan si A. Kemudian
mereka putus. Lalu Intan jadian lagi dengan D. Kemudian putus lagi. Eh, dia
malah balikan sama A. Padahal sudah jelas mereka itu tidak cocok. Akhirnya
putus lagi kan. Setelah sekitar 2 bulan, Intan bertemu dengan M, yang jadi
gebetannya hingga sekarang.
Dalam waktu dua
tahun ya, aku melihat Intan bersama laki-laki lain dan terus menahan diri.
Senyum-senyum saja, sedang-sedang saja.
Namanya juga
anak muda.
***
Sarjana.
Akhirnya, aku
sarjana.
Lulusnya bareng
Intan juga. Kami diwisuda bareng, tepat dua tahun setelah kami pertama bertemu.
“Kin, lulus juga
ya.”
Intan yang
berpakaian layaknya wisudawati lain jelas-jelas membunuhku. Toganya adalah
mahkota. Jubahnya adalah jubahnya. Ah, aku tidak tahan.
Kalau senyumnya
melanggar konstitusi, monyongnya melanggar hukum internasional, maka
penampilannya seperti ini sudah melanggar hukum Tuhan.
Tapi sekalinya
pikiranku mulai melayang, aku ingat keyakinanku.
Kan lo cuma
temennya, Kin.
***
Hati itu hari
Ahad, 21 Mei 2017.
Aku merapihkan
pakaianku sebelum masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi beberapa orang
bapak-bapak ber-jas, ber-batik, dan ber-baju-baju mahal lain.
Agenda pertama
adalah sambutan. Bla bla bla. Tidak jauh-jauh dari terima kasih, kemudian titip
pesan, dan lain sebagainya.
Setelah sekitar
setengah jam berlalu, datanglah agenda utama.
Pria itu maju.
Aku juga maju ke tengah ruangan. Di sana ada sebuah meja kecil yang sudah
ditaplak.
Aku bersiap dan
menjabat tangannya. Jabat tangan yang membuat pintu-pintu langit terbuka,
membuat malaikat-malaikat berdo’a. Jabat tangan terberat di langit.
“Saya nikahkan,
putri saya...”
“Saya terima
nikahnya...”
Disingkat ya,
males nulisnya.
Dan hari pun
beranjak siang, janur kuning bertuliskan “Intan & Yakin” diterpa angin
sepoi yang sejuk. Awan berkumpul di tempat kami. Teduh, karena langit tahu ada
orang spesial yang banyak melanggar hukum itu, sedang menikah di sini.
Satu hal, kawan,
bertemanlah dengan siapa saja, lawan jenismu.
Tapi, kalau kau
memutuskan untuk memacarinya, maka, pacarilah dengan cara yang benar.
Aku memegang
pinggang istriku, melambai-lambai kepada kalian yang sedang membaca tulisan
ini. Sudah ya, kami mau terima tamu dulu.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar