Kamis, 15 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Amru – Extended


“Patah hati ya bang?”
“Stress kali lu bang? Hahaha.”
“Gila aja! Ngapain bang? Haha”
Amru hanya tersenyum menanggapi semua komentar tersebut. Tersenyum getir. Jenis senyuman yang paling sering ia keluarkan.
Sembari berjalan kembali, ia memikirkan hari-hari yang telah berlalu.
***
Tiga hari yang lalu, ia bertolak ke terminal Bungurasih, Surabaya. Di punggungnya, nangkring sebuah tas besar yang hampir melebihi besar tubuhnya. Sebuah tas carrier yang sudah menampung segala macam kebutuhannya untuk perjalanan kali itu.
Di Bungurasih, Amru menunggu tengah malam sambil tidur-tiduran di atas matras yang ia gelar. Di samping-sampingnya, tampak orang-orang yang sejenis dengannya juga ikut tiduran.
“Mau ke mana bang?” Seseorang bertanya padanya.
“Argopuro.”

Kamis, 08 Desember 2016

#Puisi Suatu Hari di Masa Depan


Akan datang waktu
Di mana seorang anak laki-laki memanggilku ibu
Dan seorang anak perempuan memanggilmu ayah
Lalu kita tertawa
Sembari menyeruput teh di pagi yang merayap
Akan datang waktu
Di mana aku akan menyucikan baju setiap hari
Dan kau berangkat kerja dengan bekal dari rumah
Lalu kita tertawa
Sembari membiarkan diri sendiri dungu
Akan datang waktu
Di mana aku membuatkan kopi di tiap pagi
Dan kau mengatakan terima kasih, cintaku
Lalu kita tertawa
Sembari mengenang hari-hari yang lalu
Aku dengan suamiku
Kau dengan istrimu
Dan hanya ucap terima kasih yang terakhir kubilang padamu
Sebelum di persimpangan jalan dulu
Arah yang berbeda kita tuju
Mengingat bahwa kita telah setuju
Untuk tetap bahagia setelah itu
               
Dia menutup buku hariannya. Buku harian yang tidak pernah diketahui oleh suaminya. Buku harian berisi catatan-catatan tentang hidupnya yang hanya ia yang tahu. Aku tahu, namun tidak pernah melihat isinya.

Aku pernah tahu, ah, bahkan aku sudah lupa kalau aku tahu.

Senin, 05 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Nisa


“Amru!! Gamau deket-deket Amru, ih!”
Yang dibentak diam saja.
“Udah, sini Nisa ke depan aja.” Senior dan juga teman samping kosannya, Lina, menawarkan posisi.
“Tau tuh, kenapa sih Amru yang di belakang aku?! Huh.”
“Iya-iya, kakak yang nanti di depan Amru.”
“Iya kak, makasih.”
Yang sedari tadi diomongin hanya diam. Tidak tahu harus merespon apa. Hanya diam sambil terus berjalan.
“Break!” Ujar Riki di baris paling depan. Ia bersama 3 cowok lain mulai duduk. Nisa pun mencari tempat yang nyaman juga dan mulai beristirahat.
“AAAAAA!! Pacet!” Luna berteriak sambil mengusir hewan kecil tersebut dari lengannya.
Pacet, atau nama kerennya Haemadipsa zeylanisa memang sedang musim-musimnya. Apalagi sekarang sedang musim hujan.
Hutan tampak basah kerana dicumbu hujan sepanjang malam.
Kelompok tersebut—termasuk Nisa—sudah berjalan dua jam lamanya. Mereka sedang melakukan pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jumlah mereka 13 orang. Nisa bersama 4 orang teman perempuannya. Dan Amru bersama tujuh orang cowok lainnya.
Pemimpin mereka adalah Chen. Seorang guide magang yang bertubuh tinggi kekar. Luna dan Lina adalah kakak kelas Nisa. Mereka biasa mengalah buatnya. Mereka baik. Nisa sayang mereka berdua.
Tapi Nisa paling benci kepada Amru.

Sabtu, 03 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Amru


“Tekad itu ada di sini.” Jaki menusuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk.
Tidak tembus.
“Busungkan, supaya tekadmu jadi tebal juga.”
Amru membusungkan dadanya.
“Kalo hati?”
Jaki tertawa. “Hati itu ada di sini.” Pria itu menunjuk kepalanya. “Hati itu hakikatnya adalah akal sehat. Kau akan mengerti suatu saat nanti.”
***
6 tahun kemudian.
“SAYA TIDAK PERNAH MENGANJURKAN PENDAKIAN GUNUNG DENGAN HUTAN TROPIS MENGGUNAKAN SANDAL.”
Amru menelan ludah. Dari belasan orang di situ, hanya ia yang memakai sandal. Artinya, kalimat tersebut adalah sindiran tunggal baginya.