“Amru!! Gamau deket-deket Amru,
ih!”
Yang dibentak diam saja.
“Udah, sini Nisa ke depan aja.”
Senior dan juga teman samping kosannya, Lina, menawarkan posisi.
“Tau tuh, kenapa sih Amru yang
di belakang aku?! Huh.”
“Iya-iya, kakak yang nanti di
depan Amru.”
“Iya kak, makasih.”
Yang sedari tadi diomongin hanya
diam. Tidak tahu harus merespon apa. Hanya diam sambil terus berjalan.
“Break!” Ujar Riki di baris
paling depan. Ia bersama 3 cowok lain mulai duduk. Nisa pun mencari tempat yang
nyaman juga dan mulai beristirahat.
“AAAAAA!! Pacet!” Luna berteriak
sambil mengusir hewan kecil tersebut dari lengannya.
Pacet, atau nama kerennya Haemadipsa
zeylanisa memang sedang musim-musimnya. Apalagi sekarang sedang
musim hujan.
Hutan tampak basah kerana
dicumbu hujan sepanjang malam.
Kelompok tersebut—termasuk
Nisa—sudah berjalan dua jam lamanya. Mereka sedang melakukan pendakian di
kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jumlah mereka 13 orang. Nisa
bersama 4 orang teman perempuannya. Dan Amru bersama tujuh orang cowok lainnya.
Pemimpin mereka adalah Chen.
Seorang guide magang yang bertubuh tinggi kekar. Luna dan Lina adalah
kakak kelas Nisa. Mereka biasa mengalah buatnya. Mereka baik. Nisa sayang
mereka berdua.
Amru berkulit hitam. Banyak
omong. Sering membual. Notabene tidak bisa apa-apa.
Tapi sebenarnya Amru baik. Ia
suka bercanda, namun seringkali tidak lucu, dan menyinggung orang lain. Itulah
mengapa mungkin Nisa merasa harus menjaga jarak dari cowok tersebut.
Ada juga Riki. Cowok tampan.
Adik kelas Nisa.
Ada Niper, adik kelasnya juga.
Cewek. Baik hati namun sering apes. Ya, namanya juga nasib.
Wah, banyak kalau dikenalkan
semua. Ini pertama kalinnya Nisa naik gunung. Langsung lewat jalur panjang
bernama Selabintana. Mereka berangkat Sabtu pagi, dan berencana sampai tempat
camp sore hari. Setelah itu, mereka akan menginap semalam dan melanjutkan
perjalanan ke puncak pagi harinya.
Hari Ahad sore, mereka sudah
turun dan akan langsung ke pemandian air panas yang—panas.
Nisa membayangkan perjalanan ini
akan sangat seru dan menyenangkan.
Tentu saja, sebelum ia tahu
masalah-masalah apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
“Amruuuuuu! Jangan serakah
ngabisin air Nisa!” Nisa sedikit membentak.
Beberapa detik yang lalu, cowok
tersebut meminta air minumnya saat mereka beristirahat di Pos satu. Nisa tidak
menolak, karena meski kita membenci seseorang, hal itu bukanlah alasan untuk
tidak berbuat baik padanya. Namun Nisa merasa Amru sangat serakah meminum
air yang sedari tadi ia bawa.
“Sudah-sudah, Nisa. Nanti di Pos
3 ada sungai. Kita isi lagi.”
Chen menengahi. Nisa mengangguk.
Ia merasa khilaf dan agak malu. Namun ketika Amru malah tertawa-tawa melihat
wajahnya, Nisa marah lagi.
“Amruuuu!!!!”
***
Hujan turun.
Kali ini deras.
Sayang, mereka masih berada di
tengah perjalanan. Belum sampai pos tiga malah. Tempat camp yang mereka
targetkan adalah Surya Kencana—sehabis pos tiga. Surya Kencana—atau
Surken—sendiri adalah sebuah padang yang sangaaat luas. Padang tersebut
ditumbuhi oleh bunga edelweiss, atau nama kerennya Anaphalis javanisa, yang
konon adalah yang terbesar se-dunia.
Tapi, kembali ke keadaan mereka
sekarang, hujan menghujam.
Nisa segera mengeluarkan jas
hujan yang ia bawa. Nahas, baru beberapa langkah berjalan, jas hujannya
tergesek oleh akar pohon yang besar.
Robek selangkangannya.
Nisa ingin menangis. Hujan masih
tanpa ampun menggerilya mereka. Orang-orang kebasahan. Terlihat Chen memeriksa
kondisi para anggotanya.
“Nisa mau pake ponco gua gak?”
Daaan, seandainya yang
menawarkan itu bukan Amru, ia pasti sudah menerimanya.
“Nope.” Jawab Nisa jutek.
Yang ditolak hanya mengangkat
bahu.
“Guys, kayaknya hujan udah parah
nih, kita break aja ya, sambil mendirikan fly sheet, terus kita tunggu
hujan sampai sehingga supaya.”
Chen memberi arahan. Semua
mengangguk. Bingung ya? Lagi ngetrend ngomong kayak gitu.
Mereka akhirnya beristirahat di
bawah fly sheet selama sekitar satu jam. Namun hujan tak kunjung
membaik. Sementara hari sudah mulai gelap.
“Guys, kita masih jauh nih dari
target. Surken itu letaknya habis pos 3, sementara kita belom sampai ke pos
tiga. Saran ane, kita lanjut aja jalan. Kita bagi dua tim. Tim yang pertama,
yang jalannya cepat, bawa tenda, jadi pas sisa tim kedua sampai, kita udah ada
tenda tinggal ngeriung kayak di gunung.”
Mira mengangkat tangan. Dia adik
kelas Nisa juga. Tapi kebenciannya ke Amru tidak—atau belum—sebesar Nisa.
“Nanya, Kak Chen.”
Chen mempersilahkan. “Iya,
gimana?”
“Ngeriung kayak di gunung. Kan
kita emang di gunung.”
“Pertanyaan bagus. Lebih bagus
lagi kalo ga ditanyain. Yuk guys langsung jalan sesuai pembagiannya.”
“Tapi kan belum dibagi.” Adam
berkata.
“Oh iya.” Chen tersenyum malu.
Terlihat lesung pipitnya merekah. Padahal dia cowok. Hahaha.
***
Nisa dan Niper ada di tim
pertama. Bersama Tom, Chen, dan Adam.
Oh ya, sama Amru juga.
Sebenarnya Nisa mau protes, tapi
Riki keburu menaruh jari telunjuk di bibirnya—bibir Riki sendiri tentu saja.
Tanda bahwa hari sudah beranjak malam, dan mereka harus bergegas.
Di sinilah, semua bermulai.
***
“Masukin Niper ke tenda!” Chen
memerintahkan dengan agak panik.
“Tapi kan kita belom bikin,
kak!” Nisa protes.
“Tenda orang itu aja, Nis.”
Nisa mengiyakan.
Saat itu, kelompok pertama sudah
sampai di pos tiga. Ada satu tenda yang sudah berdiri di situ. Milik
akang-akang yang jalan duluan dari mereka pagi tadi.
Di situlah, ketika mereka ingin
melanjutkan perjalanan, Niper kaku dan kehilangan kesadaannya.
“Akang, boleh minta tolong gak,
masukin temen saya ini kedinginan.” Nisa berkata sambil mengetuk pintu tenda
akang-akang tersebut.
Dari kejauhan, ia bisa melihat
Adam dan Tom mendirikan tenda dengan tergesa. Tampaknya Chen memutuskan bahwa
mereka sudah tidak bisa melanjutkan lagi hari itu, dan dengan terpaksa
mendirikan tenda di pos tiga.
Rombongan kedua datang. Nisa
bisa melihat sosok Kak Luna dan Lina berjalan dari kejauhan.
Niper sudah dimasukkan. Chen
mulai berjalan ke arah Adam untuk membantu mendirikan tenda kedua. Ia masih di
depan tenda akang-akang untuk menjaga Niper.
Sekilas, ia juga melihat Put Ge
dari jauh. Baru sampai ke pos tiga. Wajahnya pucat. Di belakang Put Ge ada
Riki. Ia membawa dua tas carrier. Sepertinya Put Ge tumbang. Dan Riki terpaksa
membawa bawaannya.
Nisa jadi kagum. Hehe.
Yang ia tidak tahu, entah
mengapa Ben berlari ke arahnya dengan cepat. Ia tidak tahu, karena memang
setelah itu dunia mendadak gelap di pandangannya.
***
“Saya terima nikahnya, Nisa
binti Abdullah, dengan mas kawin seperangkat alat hiking, dan uang tunai
sebesar 34 juta rupiah, dibayar tunai.
“Sah!”
Hadirin menimpali dengan kata
“sah” yang sama, kemudian terdengar riuh ucapan “Alhamdulillah” bersama-sama.
Hari itu hari pernikahan Nisa.
Ia sangat bahagia. Di depannya, sang ayah, baru saja menjabat tangan lelaki
yang kini telah resmi menjadi imam di sisa hidupnya.
Ia pun menengok ke samping.
“HAAAAAHHH!”
Nisa berteriak.
“NGAPAIN LO?!!”
Alangkah terkejutnya ia bahwa
yang menjadi suaminya adalah si itu.
“Nisa... Nisa...”
Mira
menggoyang-goyangkan tubuhnya yang mengeluarkan keringat dingin se-badan-badan.
Saat itu, Kak Lina sedang membacakan Al-Matsurot di dekatnya. Ia berteriak tadi
saat tidak sadarkan diri. Pantas saja Mira membangunkan dirinya. Sepertinya ia
bermimpi buruk. Oh, buruk sekali.
Di
sebelahnya ada Niper yang sedang dipeluk oleh Kak Lina. Niper sudah masuk ke
sleeping bag. Tampak bahwa adik kelasnya itu terserang hypotermia.
“Ini di mana, kak?” Nisa
bertanya lemas.
“Oh, kamu sudah bangun, Nis.
Kita di tendanya Adam. Awas Nis bocor.”
Nisa memeriksa bawahnya. Memang
agak becek. Tenda three-season padahal. Beli mahal di Merapi Mountain Store,
Cipinang. Namun meskipun namanya 3 musim, mungkin perancang teknologinya tidak
mempertimbangkan musim yang paling nyebelin, yaitu musim hujan.
“Iya kak, eh ada Mira juga di
sini.”
Nisa memeluk adik kelasnya yang
satu lagi itu. Mira juga kedinginan, tapi hanya kedinginan normal saja.
“Kak Luna di mana, Kak?”
Lina menjawab pelan. “Di luar,
gak muat dia masuk tenda sekecil ini. Gendut. Paling juga di luar tidur dia.”
Nisa terkekeh.
Dan benar saja. Di luar,
kakaknya yang satu lagi tersebut sedang menjadi bulan-bulanan Adam.
***
Malam pun tiba.
Nisa mencoba keluar tenda. Di
sebelah tendanya, ada Adam dan Kak Lina yang sedang masak. Ada juga Ben—atau
Bang Beb, yang sedang berjalan mondar-mandir gak jelas. Sedang menghangatkan
diri mungkin. Ada juga Tom yang sedang bersiap-siap untuk mengambil air. Ia
sedikit berkoordinasi dengan Adam sebelum mulai berjalan ke sungai.
Lalu terakhir, ada Kak Luna
sedang berdiri di dekat tenda.
Ia tampak sedang tertidur.
Mungkin kelelahan. Nisa
tersenyum melihatnya. Ia menghampiri Kak Lina.
“Masak apa, Kak?”
“Tau nih si Adam semangat banget
mau bikin sop katanya.”
“Udah sehat, Nis?” Adam bertanya.
Nisa mengangkat lengannya, berpose seperti binaraga yang sedang memamerkan
ototnya.
“Orang Lampung kuat-kuat
memang.” Adam menimpali. Nisa memang orang Lampung. Kalau saja terlahir sebagai
laki-laki dahulu, mungkin sekarang ia sudah jadi begal.
Untung jadi akhwat solehah.
“Sini Nisa bantu, Kak.”
“Yoi.” Malah si Adam yang
menjawab.
Beberapa saat kemudian, Riki
datang dan bergabung. Malam tampak tenang. Hujan sudah berhenti sedari tadi.
Tom datang membawa air yang banyak dari jerigen yang baru diisi di sungai.
Mereka bisa masak banyak. Ada
mie instan, kopi, macam-macam lah.
Malam sangat indah waktu itu.
Nisa ingat betul. Masak di gunung itu asik. Banyak candaan yang terlontar,
obrolan santai, hingga ngopi-ngopi. Apalagi, ada Tom yang jenaka, pintar, dan
hebat segala-galanya.
Tapi yang paling indah menurut
Nisa, adalah karena malam itu tidak ada Amru.
Anak itu keram dan langsung
masuk tenda. Mungkin sedang tidur sekarang.
Hihihi. Nisa terkekeh.
Jadi terbayang yang tadi
***
“Surya kencanaaa!”
Orang-orang berteriak-teriak
kegirangan. Hari masih pagi. Mereka sudah sampai di ladang yang indah tersebut.
“Puncaaaak!!”
Tak lama di Surya Kencana,
mereka langsung menuju puncak.
Hati Nisa sangat berbunga-bunga
kala itu. Pemandangan indah terbeber ke manapun ia memandang. Puncak Pangrango
pun berdiri kokoh di depannya.
Ia balas berdiri menantang. Alam
sungguh menyimpan pesona yang tak akan pernah habis untuk dikagumi.
“Ayah, Nisa di puncak.” Ia
menggumam pelan sambil berkaca-kaca.
“Ayah, pokoknya yang di mimpi
itu ga boleh tejadi, Yah. Jangan diterima Yah kalo dia yang dateng.”
Nisa memejamkan mata dan berdoa.
Di puncak, hujan tiba-tiba
mengguyur lagi.
“Aamiin.” Nisa membuka mata.
Amru tiba-tiba sudah berdiri di
depannya. “Hujan, Nis, masuk ke Fly sheet tuh.”
Apakah ini sebuah pertanda?
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar