Senin, 05 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Nisa


“Amru!! Gamau deket-deket Amru, ih!”
Yang dibentak diam saja.
“Udah, sini Nisa ke depan aja.” Senior dan juga teman samping kosannya, Lina, menawarkan posisi.
“Tau tuh, kenapa sih Amru yang di belakang aku?! Huh.”
“Iya-iya, kakak yang nanti di depan Amru.”
“Iya kak, makasih.”
Yang sedari tadi diomongin hanya diam. Tidak tahu harus merespon apa. Hanya diam sambil terus berjalan.
“Break!” Ujar Riki di baris paling depan. Ia bersama 3 cowok lain mulai duduk. Nisa pun mencari tempat yang nyaman juga dan mulai beristirahat.
“AAAAAA!! Pacet!” Luna berteriak sambil mengusir hewan kecil tersebut dari lengannya.
Pacet, atau nama kerennya Haemadipsa zeylanisa memang sedang musim-musimnya. Apalagi sekarang sedang musim hujan.
Hutan tampak basah kerana dicumbu hujan sepanjang malam.
Kelompok tersebut—termasuk Nisa—sudah berjalan dua jam lamanya. Mereka sedang melakukan pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jumlah mereka 13 orang. Nisa bersama 4 orang teman perempuannya. Dan Amru bersama tujuh orang cowok lainnya.
Pemimpin mereka adalah Chen. Seorang guide magang yang bertubuh tinggi kekar. Luna dan Lina adalah kakak kelas Nisa. Mereka biasa mengalah buatnya. Mereka baik. Nisa sayang mereka berdua.
Tapi Nisa paling benci kepada Amru.
Amru berkulit hitam. Banyak omong. Sering membual. Notabene tidak bisa apa-apa.
Tapi sebenarnya Amru baik. Ia suka bercanda, namun seringkali tidak lucu, dan menyinggung orang lain. Itulah mengapa mungkin Nisa merasa harus menjaga jarak dari cowok tersebut.
Ada juga Riki. Cowok tampan. Adik kelas Nisa.
Ada Niper, adik kelasnya juga. Cewek. Baik hati namun sering apes. Ya, namanya juga nasib.
Wah, banyak kalau dikenalkan semua. Ini pertama kalinnya Nisa naik gunung. Langsung lewat jalur panjang bernama Selabintana. Mereka berangkat Sabtu pagi, dan berencana sampai tempat camp sore hari. Setelah itu, mereka akan menginap semalam dan melanjutkan perjalanan ke puncak pagi harinya.
Hari Ahad sore, mereka sudah turun dan akan langsung ke pemandian air panas yang—panas.
Nisa membayangkan perjalanan ini akan sangat seru dan menyenangkan.
Tentu saja, sebelum ia tahu masalah-masalah apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
“Amruuuuuu! Jangan serakah ngabisin air Nisa!” Nisa sedikit membentak.
Beberapa detik yang lalu, cowok tersebut meminta air minumnya saat mereka beristirahat di Pos satu. Nisa tidak menolak, karena meski kita membenci seseorang, hal itu bukanlah alasan untuk tidak berbuat baik padanya. Namun Nisa merasa Amru sangat serakah meminum air yang sedari tadi ia bawa.
“Sudah-sudah, Nisa. Nanti di Pos 3 ada sungai. Kita isi lagi.”
Chen menengahi. Nisa mengangguk. Ia merasa khilaf dan agak malu. Namun ketika Amru malah tertawa-tawa melihat wajahnya, Nisa marah lagi.
“Amruuuu!!!!”
***
Hujan turun.
Kali ini deras.
Sayang, mereka masih berada di tengah perjalanan. Belum sampai pos tiga malah. Tempat camp yang mereka targetkan adalah Surya Kencana—sehabis pos tiga. Surya Kencana—atau Surken—sendiri adalah sebuah padang yang sangaaat luas. Padang tersebut ditumbuhi oleh bunga edelweiss, atau nama kerennya Anaphalis javanisa, yang konon adalah yang terbesar se-dunia.
Tapi, kembali ke keadaan mereka sekarang, hujan menghujam.
Nisa segera mengeluarkan jas hujan yang ia bawa. Nahas, baru beberapa langkah berjalan, jas hujannya tergesek oleh akar pohon yang besar.
Robek selangkangannya.
Nisa ingin menangis. Hujan masih tanpa ampun menggerilya mereka. Orang-orang kebasahan. Terlihat Chen memeriksa kondisi para anggotanya.
“Nisa mau pake ponco gua gak?”
Daaan, seandainya yang menawarkan itu bukan Amru, ia pasti sudah menerimanya.
“Nope.” Jawab Nisa jutek.
Yang ditolak hanya mengangkat bahu.
“Guys, kayaknya hujan udah parah nih, kita break aja ya, sambil mendirikan fly sheet, terus kita tunggu hujan sampai sehingga supaya.”
Chen memberi arahan. Semua mengangguk. Bingung ya? Lagi ngetrend ngomong kayak gitu.
Mereka akhirnya beristirahat di bawah fly sheet selama sekitar satu jam. Namun hujan tak kunjung membaik. Sementara hari sudah mulai gelap.
“Guys, kita masih jauh nih dari target. Surken itu letaknya habis pos 3, sementara kita belom sampai ke pos tiga. Saran ane, kita lanjut aja jalan. Kita bagi dua tim. Tim yang pertama, yang jalannya cepat, bawa tenda, jadi pas sisa tim kedua sampai, kita udah ada tenda tinggal ngeriung kayak di gunung.”
Mira mengangkat tangan. Dia adik kelas Nisa juga. Tapi kebenciannya ke Amru tidak—atau belum—sebesar Nisa.
“Nanya, Kak Chen.”
Chen mempersilahkan. “Iya, gimana?”
“Ngeriung kayak di gunung. Kan kita emang di gunung.”
“Pertanyaan bagus. Lebih bagus lagi kalo ga ditanyain. Yuk guys langsung jalan sesuai pembagiannya.”
“Tapi kan belum dibagi.” Adam berkata.
“Oh iya.” Chen tersenyum malu. Terlihat lesung pipitnya merekah. Padahal dia cowok. Hahaha.
***
Nisa dan Niper ada di tim pertama. Bersama Tom, Chen, dan Adam.
Oh ya, sama Amru juga.
Sebenarnya Nisa mau protes, tapi Riki keburu menaruh jari telunjuk di bibirnya—bibir Riki sendiri tentu saja. Tanda bahwa hari sudah beranjak malam, dan mereka harus bergegas.
Di sinilah, semua bermulai.
***
“Masukin Niper ke tenda!” Chen memerintahkan dengan agak panik.
“Tapi kan kita belom bikin, kak!” Nisa protes.
“Tenda orang itu aja, Nis.”
Nisa mengiyakan.
Saat itu, kelompok pertama sudah sampai di pos tiga. Ada satu tenda yang sudah berdiri di situ. Milik akang-akang yang jalan duluan dari mereka pagi tadi.
Di situlah, ketika mereka ingin melanjutkan perjalanan, Niper kaku dan kehilangan kesadaannya.
“Akang, boleh minta tolong gak, masukin temen saya ini kedinginan.” Nisa berkata sambil mengetuk pintu tenda akang-akang tersebut.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Adam dan Tom mendirikan tenda dengan tergesa. Tampaknya Chen memutuskan bahwa mereka sudah tidak bisa melanjutkan lagi hari itu, dan dengan terpaksa mendirikan tenda di pos tiga.
Rombongan kedua datang. Nisa bisa melihat sosok Kak Luna dan Lina berjalan dari kejauhan.
Niper sudah dimasukkan. Chen mulai berjalan ke arah Adam untuk membantu mendirikan tenda kedua. Ia masih di depan tenda akang-akang untuk menjaga Niper.
Sekilas, ia juga melihat Put Ge dari jauh. Baru sampai ke pos tiga. Wajahnya pucat. Di belakang Put Ge ada Riki. Ia membawa dua tas carrier. Sepertinya Put Ge tumbang. Dan Riki terpaksa membawa bawaannya.
Nisa jadi kagum. Hehe.
Yang ia tidak tahu, entah mengapa Ben berlari ke arahnya dengan cepat. Ia tidak tahu, karena memang setelah itu dunia mendadak gelap di pandangannya.
***
“Saya terima nikahnya, Nisa binti Abdullah, dengan mas kawin seperangkat alat hiking, dan uang tunai sebesar 34 juta rupiah, dibayar tunai.
“Sah!”
Hadirin menimpali dengan kata “sah” yang sama, kemudian terdengar riuh ucapan “Alhamdulillah” bersama-sama.
Hari itu hari pernikahan Nisa. Ia sangat bahagia. Di depannya, sang ayah, baru saja menjabat tangan lelaki yang kini telah resmi menjadi imam di sisa hidupnya.
Ia pun menengok ke samping.
“HAAAAAHHH!”
Nisa berteriak.
“NGAPAIN LO?!!”
Alangkah terkejutnya ia bahwa yang menjadi suaminya adalah si itu.
“Nisa... Nisa...”
Mira menggoyang-goyangkan tubuhnya yang mengeluarkan keringat dingin se-badan-badan. Saat itu, Kak Lina sedang membacakan Al-Matsurot di dekatnya. Ia berteriak tadi saat tidak sadarkan diri. Pantas saja Mira membangunkan dirinya. Sepertinya ia bermimpi buruk. Oh, buruk sekali.
Di sebelahnya ada Niper yang sedang dipeluk oleh Kak Lina. Niper sudah masuk ke sleeping bag. Tampak bahwa adik kelasnya itu terserang hypotermia.
“Ini di mana, kak?” Nisa bertanya lemas.
“Oh, kamu sudah bangun, Nis. Kita di tendanya Adam. Awas Nis bocor.”
Nisa memeriksa bawahnya. Memang agak becek. Tenda three-season padahal. Beli mahal di Merapi Mountain Store, Cipinang. Namun meskipun namanya 3 musim, mungkin perancang teknologinya tidak mempertimbangkan musim yang paling nyebelin, yaitu musim hujan.
“Iya kak, eh ada Mira juga di sini.”
Nisa memeluk adik kelasnya yang satu lagi itu. Mira juga kedinginan, tapi hanya kedinginan normal saja.
“Kak Luna di mana, Kak?”
Lina menjawab pelan. “Di luar, gak muat dia masuk tenda sekecil ini. Gendut. Paling juga di luar tidur dia.”
Nisa terkekeh.
Dan benar saja. Di luar, kakaknya yang satu lagi tersebut sedang menjadi bulan-bulanan Adam.
***
Malam pun tiba.
Nisa mencoba keluar tenda. Di sebelah tendanya, ada Adam dan Kak Lina yang sedang masak. Ada juga Ben—atau Bang Beb, yang sedang berjalan mondar-mandir gak jelas. Sedang menghangatkan diri mungkin. Ada juga Tom yang sedang bersiap-siap untuk mengambil air. Ia sedikit berkoordinasi dengan Adam sebelum mulai berjalan ke sungai.
Lalu terakhir, ada Kak Luna sedang berdiri di dekat tenda.
Ia tampak sedang tertidur.
Mungkin kelelahan. Nisa tersenyum melihatnya. Ia menghampiri Kak Lina.
“Masak apa, Kak?”
“Tau nih si Adam semangat banget mau bikin sop katanya.”
“Udah sehat, Nis?” Adam bertanya. Nisa mengangkat lengannya, berpose seperti binaraga yang sedang memamerkan ototnya.
“Orang Lampung kuat-kuat memang.” Adam menimpali. Nisa memang orang Lampung. Kalau saja terlahir sebagai laki-laki dahulu, mungkin sekarang ia sudah jadi begal.
Untung jadi akhwat solehah.
“Sini Nisa bantu, Kak.”
“Yoi.” Malah si Adam yang menjawab.
Beberapa saat kemudian, Riki datang dan bergabung. Malam tampak tenang. Hujan sudah berhenti sedari tadi. Tom datang membawa air yang banyak dari jerigen yang baru diisi di sungai.
Mereka bisa masak banyak. Ada mie instan, kopi, macam-macam lah.
Malam sangat indah waktu itu. Nisa ingat betul. Masak di gunung itu asik. Banyak candaan yang terlontar, obrolan santai, hingga ngopi-ngopi. Apalagi, ada Tom yang jenaka, pintar, dan hebat segala-galanya.
Tapi yang paling indah menurut Nisa, adalah karena malam itu tidak ada Amru.
Anak itu keram dan langsung masuk tenda. Mungkin sedang tidur sekarang.
Hihihi. Nisa terkekeh.
Jadi terbayang yang tadi
***
“Surya kencanaaa!”
Orang-orang berteriak-teriak kegirangan. Hari masih pagi. Mereka sudah sampai di ladang yang indah tersebut.
“Puncaaaak!!”
Tak lama di Surya Kencana, mereka langsung menuju puncak.
Hati Nisa sangat berbunga-bunga kala itu. Pemandangan indah terbeber ke manapun ia memandang. Puncak Pangrango pun berdiri kokoh di depannya.
Ia balas berdiri menantang. Alam sungguh menyimpan pesona yang tak akan pernah habis untuk dikagumi.
“Ayah, Nisa di puncak.” Ia menggumam pelan sambil berkaca-kaca.
“Ayah, pokoknya yang di mimpi itu ga boleh tejadi, Yah. Jangan diterima Yah kalo dia yang dateng.”
Nisa memejamkan mata dan berdoa.
Di puncak, hujan tiba-tiba mengguyur lagi.
“Aamiin.” Nisa membuka mata.
Amru tiba-tiba sudah berdiri di depannya. “Hujan, Nis, masuk ke Fly sheet tuh.”
Apakah ini sebuah pertanda?
***


                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar