Sabtu, 03 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Amru


“Tekad itu ada di sini.” Jaki menusuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk.
Tidak tembus.
“Busungkan, supaya tekadmu jadi tebal juga.”
Amru membusungkan dadanya.
“Kalo hati?”
Jaki tertawa. “Hati itu ada di sini.” Pria itu menunjuk kepalanya. “Hati itu hakikatnya adalah akal sehat. Kau akan mengerti suatu saat nanti.”
***
6 tahun kemudian.
“SAYA TIDAK PERNAH MENGANJURKAN PENDAKIAN GUNUNG DENGAN HUTAN TROPIS MENGGUNAKAN SANDAL.”
Amru menelan ludah. Dari belasan orang di situ, hanya ia yang memakai sandal. Artinya, kalimat tersebut adalah sindiran tunggal baginya.
Ranger pos pendakian yang berwajah seram itu melanjutkan.
“Jalur pendakian ini sudah membanggakan Indonesia…”
Amru tidak mendengar kelanjutan kalimat tersebut. Masa bodoh. Ia sibuk bergelut dengan pikirannya.
***
“Ih, gamau di depan Amru ah.” Seru Mira. Ia langsung mempercepat langkahnya ke depan. Menyusul Lina dan Luna di depannya.
Amru diam saja. Ia sibuk menahan beban dua tas yang dari awal dipukulnya. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Rombongan pendakian kali itu terdiri dari 13 orang. Delapan cowok dan lima cewek. Amru adalah cowok, untuk yang belum tahu. Sang ketua kelompok, Chen, mengatur formasi mereka dengan menempatkan tiga cowok di depan, kemudian cewek-cewek di tengah, dan lima cowok sisanya di belakang.
Amru berada di belakang. Tepat di belakang barisan cewek-cewek—yang kebanyakan menolak eksistensinya.
***
“Break!”
Amru duduk. Pendakian kali ini benar-benar menguras tenaganya. Pertama, karena ia sudah lama sekali tidak berolahraga. Kedua, karena ia membawa dua tas sekaligus.
Tekad itu adanya di sini.
Amru teringat omongan temannya dulu saat SMP. Ia sontak membusungkan dadanya, mengumpulkan kekuatan untuk langkah-langkah seanjutnya.
***
“Surya Kencana!” Teriak Amru.
Semua orang sedang break saat itu. Mereka baru saja melewati tanjakan yang panjang selama berjam-jam. Amru berinisiatif mengecek jalan di depan mereka. Dan alangkah terkejutnya ketika hutan yang penuh dengan penderitaan itu berakhir. Di depannya, sebuah padang eldelweiss terluas se Jawa terbentang cantik.
Hanya kalah cantik dengan—tunggu, tidak ada yang lebih cantik dari padang ini.
Amru tersenyum gembira.
Ia hanya anggota pendakian biasa. Tidak terlalu bisa memimpin seperti Chen. Tidak mempunyai aura charming yang disukai wanita seperti Riki, tidak humoris seperti Ben, tidak keren dan pintar seperti Tom, tidak juga punya banyak pengalaman seperti Put Ge dan Adam.
Ia hanya orang biasa.
Saat berusaha humoris, tak ada yang tertawa, saat berusaha tampil keren, yang ada hanya jadi bahan candaan.
Dari skala 1-10, ia mungkin berada di minus satu.
Maka, tatkala membawa kabar gembira tersebut, bukan main puasnya karena ia berhasil berkontribusi. “Ayok! Kita udah selangkah lagi ke tujuan!”
***
Malam sebelumnya.
“Ini cepetan masukin si Put Ge ke dalem, udah kaku dia!” Seru Riki kepada orang-orang. Ada dua tenda yang sudah berdiri, satu tenda kecil, satu tenda besar. Satat itu hujan cukup lebat. Amru dapat mengingat dengan jelas betapa menakutkannya wajah Put Ge saat itu.
Kaku. Menggigil.
Adam dengan cepat mengeluarkan selimut termalnya. Yang lain pun segera memasukkan Put Ge ke dalam tenda besar.
Amru awalnya sedang merapihkan tenda kecil yang baru didirikan Adam dan Tom. Kemudian tak lama ia merasa sakit yang teramat menyengat di kakinya. Keram. Keram super.
“Amru! Keluar! Ke laut aja sana!”
Ia mendadak diusir tatkala Niper kedinginan dan harus segera masuk ke dalam tempat yang kering. Niper adalah salah satu cewek yang ikut bersama mereka. Lina yang mengatur penyelamatan Niper. Tak lama, Mira ikutan masuk karena tidak sadarkan diri.
Suasana kacau balau saat itu. Amru yang terpaksa keluar meski kakinya keram hampir saja tak sadarkan diri di luar sana. Dengan rintik hujan mencumbu keras dirinya.
Ia melihat dengan jelas betapa sibuknya Chen, Tom, Adam, dan cowok-cowok serta cewek-cewek lain mengurus segala sesuatunya. Ia ingin membantu namun masih merasakan sakit. Di situlah, ketika Put Ge yang kedinginan masuk ke tenda besar, ia melihat kontribusinya bisa disalurkan.
“Itu temenin Put Ge masuk, sendirian dia di tenda besar. Ru, Amru masuk!”
Kali ini, Riki yang bicara.
Seketika itu pula ia masuk dan langsung masuk ke dalam selimut termal bersama Put Ge. Ia langsung merasakan tubuh Put Ge yang sudah menggigil itu dan mencoba menghangatkannya.
Di luar, hujan masih saja mengguyur.
***
“Surya kencanaaaa!” Mira berteriak sambil melompat-lompat ring di hamparan padang edelweiss tersebut. Semua orang bahagia. Tak terkecuali Amru.
Ia senang meski semalam keram super.
Dan ia juga senang karena semalam, teman-temannya selamat semua.
***
“Ru, bantuin dong! Jangan mau enaknya aja!”
Ben membentak Amru yang hanya berdiri terdiam. Mereka sudah sampai di puncak sekarang. Namun hujan kembali turun. Terpaksa, mereka pun mendirikan fly sheet darurat demi menjaga diri agar tetap kering. Ben sedang mempersiapkan alat masak untuk makan siang mereka. Dan ya, ribet, karena hari sedang diguyur hujan.
“Iya bang maap. Dingin bang.” Amru mengelak.
“Makanya gerak Ru biar gak dingin.” Chen menanggapi. Amru mengangguk dan mulai mendekat untuk membantu.
***
“Amru ih!” Mira kali ini. Ia tidak mau berada di belakang Amru. Entah apapun alasannya.
“Sini Ru tuker.” Riki berkata. Amru hanya pasrah saja.
Amru tidak tahu bahwa ada yang memperhatikannya.
***
Malam menjelang.
Hujan yang mengguyur tatkala mereka di puncak membuat perjalanan turun menjadi terlambat. Kelompok tersebut akhirnya baru turun menjelang sore. Ah, menjelang maghrib maksudnya. Dan rute perjalanan pun diubah. Seharusnya mereka turun lewat jalur Cibodas—dan mandi air panas setelahnya. Namun demi mempersingkat waktu, Put Ge menyarankan agar mereka turun lewat Gunung Putri—karena jalurnya lebih pendek.
Amru tidak tahu apa-apa. Ia hanya mengikuti semua keputusan yang diambil oleh teman-temannya.
***
Perjalanan tetap dilanjutkan meskipun malam telah bercokol.
Tubuh semua orang kotor dan basah. Plus, bawaan mereka bertambah berat karena basah terkena hujan. Di gunung, meski memakai rain cover, barang-barang akan tetap basah karena embun.
Amru terngiang kata mantan pacarnya.
“Makanya, jangan naik gunung! Kamu tahu sendiri kalau...”
Amru lupa kelanjutannya. Ia berpikir sejenak. Lalu berpikir keras. Ah, sepertinya memang tidak ada lanjutannya. Ia keburu terbangun saat itu. Iya, terbangun karena Amru memang belum pernah punya pacar sebelumnya. Itu semua hanya mimpi.
Seseorang yang semenjak tadi memperhatikan Amru kini tersenyum melihat objek pengamatannya yang pikirannya mulai tidak karuan.
Keadaan orang di gunung memang membuat pikiran seringkali tidak beraturan. Rasa lelah, serta dingin, serta pegal, serta ngantuk karena kurang istirahat, semua bercampur aduk.
Amru terkena syndrom yang bernama Acute Mountain Sadness. Alias galau di tengah pendakian.
Serius, syndrom ini memang ada. Terutama untuk para pendaki jomblo.
Apalagi Amru sudah jomblo akut. Jomblo ngenes. Jomblo alladzi yakaaduu an yamuut.
Tapi, sekali lagi, ya, Amru tidak sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya.
***
“Hueeeek!”
Luna muntah. Nahasnya, cairan-cairan jahannam tersebut muncrat ke tubuh Amru.
Ya, sudah beberapa jam ini Amru memang berjalan di depan Luna. Satu-satunya cewek yang tidak menolak eksistensinya.
Luna sendiri sejak sore tadi, bahkan sejak di puncak, muntabernya kambuh.
Jadilah sepanjang jalan ia lemas dan seringkali muntah-muntah. Amru dengan baiknya berjalan di depan Luna, menjadi guide bagi sang cewek agar dapat memilih pijakan yang tepat di tengah gulita, serta terkadang membuka jalan yang bagus untuknya.
Beberapa kali Amru menawarkan tangannya untuk jadi tumpuan bagi Luna.
Sayang, ditolak.
HAHAHA.
Seseorang yang sedari tadi mempehatikan Amru kembali tersenyum.
***
“Mbak Luna jahad!” Amru berkata sambil sebisanya membersihkan diri.
Orang-orang tertawa kencang.
“Amruuuu... Amruuu! Hahahaha.” Riki tampaknya yang tertawa paling keras. Ia berjalan bersama Mira persis di depan mereka. Jadi, karena jumlah senter kurang, diputuskanlah agar orang-orang berpasangan demi mengefektifkan fungsi alat penerang tersebut.
Dan karena mereka bertiga belas, sudah bisa ditebak.
Amru tidak kebagian pasangan.
Seseorang yang memperhatikan Amru tadi hanya geleng-geleng kepala. Antara ingin ketawa dan miris.
“He he he.” Akhirnya ia bisa tertawa. Tertawa getir.
***
“Ru.”
Amru menengok. Ia kira makhluk hutan yang memanggil, ternyata Adam. Eh, memang sih.
“Ngapa Dam?”
Adam memasang muka kocak sambil mengangkat tangannya.
“Jangan menyerah!”
Butuh dua detik untuk Amru mengerti apa maksudnya.
***
“Hutannya udah abis gaeeeees!” Teriak Put Ge yang memimpin di depan.
Orang-orang serentak gembira. Menerjang jalanan di depan mereka dengan riang. Lima jam sudah perjalanan turun mereka jalani. Kini tampak seluruh penderitaan tersebut akan berakhir sebentar lagi.
“Istirahat dulu.”
Amru duduk. Melepas lelah.
“Ru, sehat?” Ben membuka obrolan. Ben, atau yang biasa dipanggil Bang Beb, tersenyum melihat Amru yang tampak sangat kelelahan di depannya.
Dari awal sampai akhir, ia membawa dua tas. Jagoan memang Amru.
“Super capek bang.”
“Hahaha.” Bang Beb tertawa.
Pekat agak memudar seiring cahaya bulan yang menyeruak di tanah datar yang mereka duduki. Tepat di dekat pintu masuk hutan yang sedari tadi mereka lewati.
“Ane juga baru pertama naik gunung, Ru.” Bang Beb melanjutkan obrolan.
“Biasa cuma pegel gara-gara narik, itu juga enak, di mobil, ber-ac, ini pegelnya menggerogoti seluruh badan.”
Amru mengangguk-angguk.
“Begitulah naik gunung, Bang.”
Bang Beb tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Amru.
“Ayo jalan lagi!” Chen memberi instruksi kepada semuanya.
***
“Gimana kesannya Ru perjalanan kali ini?”
Pertanyaan jujur tersebut meluncur mulus dari mulut Bang Beb. Amru hanya terkekeh.
“Lumayan, Bang. Seru, hehe.”
Bang Beb melangkah perlahan. Mereka berdua tertinggal di belakang rombongan yang sudah sekitar 5 meter di depan mereka. Masih ada satu orang lagi sih di paling belakang.
Si Adam.
Katanya dia belum bisa berpisah dengan hutan. Makanya lama.
Halah.
“Asik Ru, jadi orang biasa. Santai. Hidup nikmat.”
Amru mengangguk-angguk. Tunggu. Apa maksud Bang Beb?
“Coba liat Chen, pasti pikirannya semrawut karena dia bertanggung jawab sama seluruh kelompok. Coba liat juga Riki, dia charming, tapi keliatan punya beban juga, liat si Adam, gila dia mah. Dari awal ane perhatiin, ente yang paling asik, Ru. Simple.”
Amru masih belum mengerti arah pembicaraan ini ke mana.
“Ente orang yang paling percaya diri yang pernah ane liat. Sabar, punya kemampuan buat menerima semua yang orang kasih ke ente. Itu kelebihan loh, Ru. Gak semua orang bisa. Coba liat Riki, kalo diejek mungkin ga bakal sesabar ente. Ane juga sama.”
“Padahal dalam hidup, ga semua orang bakal nerima kita. Dan kelemahan orang-orang yang ga sabar, pas hal itu terjadi, dia bakal stress dan ga tenang.”
“Ente beda, Ru. Ane liat ente punya hati yang besar.”
Terjawab sudah. Selama ini, orang yang memperhatikan Amru adalah Bang Beb.
“Kok ngomong gini ke ane bang?” Tanya Amru yang memang masih penasaran.
Bang Beb melihat bintang-bintang sebentar, kemudian melihat Amru.
“Pada saatnya, ente bakal ngerti, Ru.”
Amru hanya menggaruk-garuk kepala. Ia hanyalah ia. Seorang Amru.
Dan itulah yang menjadikannya spesial.
***
Dunia tidak butuh orang-orang besar yang penuh dengan ambisi. Dunia hanya butuh orang-orang biasa yang melakukan kebaikan, dan saling peduli sesamanya (Amru, 2016)
                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar