“Tekad itu ada di sini.” Jaki
menusuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk.
Tidak tembus.
“Busungkan, supaya tekadmu jadi
tebal juga.”
Amru membusungkan dadanya.
“Kalo hati?”
Jaki tertawa. “Hati itu ada di
sini.” Pria itu menunjuk kepalanya. “Hati itu hakikatnya adalah akal sehat. Kau
akan mengerti suatu saat nanti.”
***
6 tahun kemudian.
“SAYA TIDAK PERNAH MENGANJURKAN
PENDAKIAN GUNUNG DENGAN HUTAN TROPIS MENGGUNAKAN SANDAL.”
Amru menelan ludah. Dari belasan
orang di situ, hanya ia yang memakai sandal. Artinya, kalimat tersebut adalah
sindiran tunggal baginya.
Ranger pos pendakian yang
berwajah seram itu melanjutkan.
“Jalur pendakian ini sudah
membanggakan Indonesia…”
Amru tidak mendengar kelanjutan
kalimat tersebut. Masa bodoh. Ia sibuk bergelut dengan pikirannya.
***
“Ih, gamau di depan Amru ah.”
Seru Mira. Ia langsung mempercepat langkahnya ke depan. Menyusul Lina dan Luna
di depannya.
Amru diam saja. Ia sibuk menahan
beban dua tas yang dari awal dipukulnya. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Rombongan pendakian kali itu
terdiri dari 13 orang. Delapan cowok dan lima cewek. Amru adalah cowok, untuk
yang belum tahu. Sang ketua kelompok, Chen, mengatur formasi mereka dengan
menempatkan tiga cowok di depan, kemudian cewek-cewek di tengah, dan lima cowok
sisanya di belakang.
Amru berada di belakang. Tepat
di belakang barisan cewek-cewek—yang kebanyakan menolak eksistensinya.
***
“Break!”
Amru duduk. Pendakian kali ini benar-benar
menguras tenaganya. Pertama, karena ia sudah lama sekali tidak berolahraga.
Kedua, karena ia membawa dua tas sekaligus.
Tekad itu adanya di sini.
Amru teringat omongan temannya
dulu saat SMP. Ia sontak membusungkan dadanya, mengumpulkan kekuatan untuk
langkah-langkah seanjutnya.
***
“Surya Kencana!” Teriak Amru.
Semua orang sedang break saat
itu. Mereka baru saja melewati tanjakan yang panjang selama berjam-jam. Amru
berinisiatif mengecek jalan di depan mereka. Dan alangkah terkejutnya ketika
hutan yang penuh dengan penderitaan itu berakhir. Di depannya, sebuah padang eldelweiss
terluas se Jawa terbentang cantik.
Hanya kalah cantik
dengan—tunggu, tidak ada yang lebih cantik dari padang ini.
Amru tersenyum gembira.
Ia hanya anggota pendakian
biasa. Tidak terlalu bisa memimpin seperti Chen. Tidak mempunyai aura charming
yang disukai wanita seperti Riki, tidak humoris seperti Ben, tidak keren
dan pintar seperti Tom, tidak juga punya banyak pengalaman seperti Put Ge dan
Adam.
Ia hanya orang biasa.
Saat berusaha humoris, tak ada
yang tertawa, saat berusaha tampil keren, yang ada hanya jadi bahan candaan.
Dari skala 1-10, ia mungkin
berada di minus satu.
Maka, tatkala membawa kabar
gembira tersebut, bukan main puasnya karena ia berhasil berkontribusi. “Ayok!
Kita udah selangkah lagi ke tujuan!”
***
Malam sebelumnya.
“Ini cepetan masukin si Put Ge
ke dalem, udah kaku dia!” Seru Riki kepada orang-orang. Ada dua tenda yang
sudah berdiri, satu tenda kecil, satu tenda besar. Satat itu hujan cukup lebat.
Amru dapat mengingat dengan jelas betapa menakutkannya wajah Put Ge saat itu.
Kaku. Menggigil.
Adam dengan cepat mengeluarkan
selimut termalnya. Yang lain pun segera memasukkan Put Ge ke dalam tenda besar.
Amru awalnya sedang merapihkan
tenda kecil yang baru didirikan Adam dan Tom. Kemudian tak lama ia merasa sakit
yang teramat menyengat di kakinya. Keram. Keram super.
“Amru! Keluar! Ke laut aja
sana!”
Ia mendadak diusir tatkala Niper
kedinginan dan harus segera masuk ke dalam tempat yang kering. Niper adalah
salah satu cewek yang ikut bersama mereka. Lina yang mengatur penyelamatan
Niper. Tak lama, Mira ikutan masuk karena tidak sadarkan diri.
Suasana kacau balau saat itu.
Amru yang terpaksa keluar meski kakinya keram hampir saja tak sadarkan diri di
luar sana. Dengan rintik hujan mencumbu keras dirinya.
Ia melihat dengan jelas betapa
sibuknya Chen, Tom, Adam, dan cowok-cowok serta cewek-cewek lain mengurus
segala sesuatunya. Ia ingin membantu namun masih merasakan sakit. Di situlah,
ketika Put Ge yang kedinginan masuk ke tenda besar, ia melihat kontribusinya
bisa disalurkan.
“Itu temenin Put Ge masuk,
sendirian dia di tenda besar. Ru, Amru masuk!”
Kali ini, Riki yang bicara.
Seketika itu pula ia masuk dan
langsung masuk ke dalam selimut termal bersama Put Ge. Ia langsung merasakan
tubuh Put Ge yang sudah menggigil itu dan mencoba menghangatkannya.
Di luar, hujan masih saja
mengguyur.
***
“Surya kencanaaaa!” Mira
berteriak sambil melompat-lompat ring di hamparan padang edelweiss tersebut.
Semua orang bahagia. Tak terkecuali Amru.
Ia senang meski semalam keram
super.
Dan ia juga senang karena
semalam, teman-temannya selamat semua.
***
“Ru, bantuin dong! Jangan mau
enaknya aja!”
Ben membentak Amru yang hanya
berdiri terdiam. Mereka sudah sampai di puncak sekarang. Namun hujan kembali
turun. Terpaksa, mereka pun mendirikan fly sheet darurat demi menjaga diri agar
tetap kering. Ben sedang mempersiapkan alat masak untuk makan siang mereka. Dan
ya, ribet, karena hari sedang diguyur hujan.
“Iya bang maap. Dingin bang.”
Amru mengelak.
“Makanya gerak Ru biar gak
dingin.” Chen menanggapi. Amru mengangguk dan mulai mendekat untuk membantu.
***
“Amru ih!” Mira kali ini. Ia
tidak mau berada di belakang Amru. Entah apapun alasannya.
“Sini Ru tuker.” Riki berkata.
Amru hanya pasrah saja.
Amru tidak tahu bahwa ada yang
memperhatikannya.
***
Malam menjelang.
Hujan yang mengguyur tatkala
mereka di puncak membuat perjalanan turun menjadi terlambat. Kelompok tersebut
akhirnya baru turun menjelang sore. Ah, menjelang maghrib maksudnya. Dan rute
perjalanan pun diubah. Seharusnya mereka turun lewat jalur Cibodas—dan mandi
air panas setelahnya. Namun demi mempersingkat waktu, Put Ge menyarankan agar
mereka turun lewat Gunung Putri—karena jalurnya lebih pendek.
Amru tidak tahu apa-apa. Ia
hanya mengikuti semua keputusan yang diambil oleh teman-temannya.
***
Perjalanan tetap dilanjutkan
meskipun malam telah bercokol.
Tubuh semua orang kotor dan
basah. Plus, bawaan mereka bertambah berat karena basah terkena hujan. Di
gunung, meski memakai rain cover, barang-barang akan tetap basah karena embun.
Amru terngiang kata mantan
pacarnya.
“Makanya, jangan naik gunung!
Kamu tahu sendiri kalau...”
Amru lupa kelanjutannya. Ia
berpikir sejenak. Lalu berpikir keras. Ah, sepertinya memang tidak ada
lanjutannya. Ia keburu terbangun saat itu. Iya, terbangun karena Amru memang
belum pernah punya pacar sebelumnya. Itu semua hanya mimpi.
Seseorang yang semenjak tadi
memperhatikan Amru kini tersenyum melihat objek pengamatannya yang pikirannya
mulai tidak karuan.
Keadaan orang di gunung memang
membuat pikiran seringkali tidak beraturan. Rasa lelah, serta dingin, serta
pegal, serta ngantuk karena kurang istirahat, semua bercampur aduk.
Amru terkena syndrom yang
bernama Acute Mountain Sadness. Alias galau di tengah pendakian.
Serius, syndrom ini memang ada.
Terutama untuk para pendaki jomblo.
Apalagi Amru sudah jomblo akut.
Jomblo ngenes. Jomblo alladzi yakaaduu an yamuut.
Tapi, sekali lagi, ya, Amru
tidak sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya.
***
“Hueeeek!”
Luna muntah. Nahasnya,
cairan-cairan jahannam tersebut muncrat ke tubuh Amru.
Ya, sudah beberapa jam ini Amru
memang berjalan di depan Luna. Satu-satunya cewek yang tidak menolak
eksistensinya.
Luna sendiri sejak sore tadi,
bahkan sejak di puncak, muntabernya kambuh.
Jadilah sepanjang jalan ia lemas
dan seringkali muntah-muntah. Amru dengan baiknya berjalan di depan Luna,
menjadi guide bagi sang cewek agar dapat memilih pijakan yang tepat di
tengah gulita, serta terkadang membuka jalan yang bagus untuknya.
Beberapa kali Amru menawarkan
tangannya untuk jadi tumpuan bagi Luna.
Sayang, ditolak.
HAHAHA.
Seseorang yang sedari tadi mempehatikan
Amru kembali tersenyum.
***
“Mbak Luna jahad!” Amru berkata
sambil sebisanya membersihkan diri.
Orang-orang tertawa kencang.
“Amruuuu... Amruuu! Hahahaha.”
Riki tampaknya yang tertawa paling keras. Ia berjalan bersama Mira persis di
depan mereka. Jadi, karena jumlah senter kurang, diputuskanlah agar orang-orang
berpasangan demi mengefektifkan fungsi alat penerang tersebut.
Dan karena mereka bertiga belas,
sudah bisa ditebak.
Amru tidak kebagian pasangan.
Seseorang yang memperhatikan
Amru tadi hanya geleng-geleng kepala. Antara ingin ketawa dan miris.
“He he he.” Akhirnya ia bisa
tertawa. Tertawa getir.
***
“Ru.”
Amru menengok. Ia kira makhluk
hutan yang memanggil, ternyata Adam. Eh, memang sih.
“Ngapa Dam?”
Adam memasang muka kocak sambil
mengangkat tangannya.
“Jangan menyerah!”
Butuh dua detik untuk Amru
mengerti apa maksudnya.
***
“Hutannya udah abis gaeeeees!”
Teriak Put Ge yang memimpin di depan.
Orang-orang serentak gembira.
Menerjang jalanan di depan mereka dengan riang. Lima jam sudah perjalanan turun
mereka jalani. Kini tampak seluruh penderitaan tersebut akan berakhir sebentar
lagi.
“Istirahat dulu.”
Amru duduk. Melepas lelah.
“Ru, sehat?” Ben membuka
obrolan. Ben, atau yang biasa dipanggil Bang Beb, tersenyum melihat Amru yang
tampak sangat kelelahan di depannya.
Dari awal sampai akhir, ia
membawa dua tas. Jagoan memang Amru.
“Super capek bang.”
“Hahaha.” Bang Beb tertawa.
Pekat agak memudar seiring
cahaya bulan yang menyeruak di tanah datar yang mereka duduki. Tepat di dekat
pintu masuk hutan yang sedari tadi mereka lewati.
“Ane juga baru pertama naik
gunung, Ru.” Bang Beb melanjutkan obrolan.
“Biasa cuma pegel gara-gara
narik, itu juga enak, di mobil, ber-ac, ini pegelnya menggerogoti seluruh
badan.”
Amru mengangguk-angguk.
“Begitulah naik gunung, Bang.”
Bang Beb tersenyum sambil
menepuk-nepuk pundak Amru.
“Ayo jalan lagi!” Chen memberi
instruksi kepada semuanya.
***
“Gimana kesannya Ru perjalanan
kali ini?”
Pertanyaan jujur tersebut
meluncur mulus dari mulut Bang Beb. Amru hanya terkekeh.
“Lumayan, Bang. Seru, hehe.”
Bang Beb melangkah perlahan.
Mereka berdua tertinggal di belakang rombongan yang sudah sekitar 5 meter di
depan mereka. Masih ada satu orang lagi sih di paling belakang.
Si Adam.
Katanya dia belum bisa berpisah
dengan hutan. Makanya lama.
Halah.
“Asik Ru, jadi orang biasa.
Santai. Hidup nikmat.”
Amru mengangguk-angguk. Tunggu.
Apa maksud Bang Beb?
“Coba liat Chen, pasti
pikirannya semrawut karena dia bertanggung jawab sama seluruh kelompok. Coba
liat juga Riki, dia charming, tapi keliatan punya beban juga, liat si
Adam, gila dia mah. Dari awal ane perhatiin, ente yang paling asik, Ru.
Simple.”
Amru masih belum mengerti arah
pembicaraan ini ke mana.
“Ente orang yang paling percaya
diri yang pernah ane liat. Sabar, punya kemampuan buat menerima semua yang
orang kasih ke ente. Itu kelebihan loh, Ru. Gak semua orang bisa. Coba liat
Riki, kalo diejek mungkin ga bakal sesabar ente. Ane juga sama.”
“Padahal dalam hidup, ga semua
orang bakal nerima kita. Dan kelemahan orang-orang yang ga sabar, pas hal itu
terjadi, dia bakal stress dan ga tenang.”
“Ente beda, Ru. Ane liat ente
punya hati yang besar.”
Terjawab sudah. Selama ini,
orang yang memperhatikan Amru adalah Bang Beb.
“Kok ngomong gini ke ane bang?”
Tanya Amru yang memang masih penasaran.
Bang Beb melihat bintang-bintang
sebentar, kemudian melihat Amru.
“Pada saatnya, ente bakal
ngerti, Ru.”
Amru hanya menggaruk-garuk
kepala. Ia hanyalah ia. Seorang Amru.
Dan itulah yang menjadikannya
spesial.
***
Dunia tidak butuh orang-orang
besar yang penuh dengan ambisi. Dunia hanya butuh orang-orang biasa yang
melakukan kebaikan, dan saling peduli sesamanya (Amru, 2016)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar