“Patah hati ya bang?”
“Stress kali lu bang? Hahaha.”
“Gila aja! Ngapain bang? Haha”
Amru hanya tersenyum menanggapi
semua komentar tersebut. Tersenyum getir. Jenis senyuman yang paling sering ia
keluarkan.
Sembari berjalan kembali, ia memikirkan
hari-hari yang telah berlalu.
***
Tiga hari yang lalu, ia bertolak
ke terminal Bungurasih, Surabaya. Di punggungnya, nangkring sebuah tas
besar yang hampir melebihi besar tubuhnya. Sebuah tas carrier yang sudah
menampung segala macam kebutuhannya untuk perjalanan kali itu.
Di Bungurasih, Amru menunggu
tengah malam sambil tidur-tiduran di atas matras yang ia gelar. Di samping-sampingnya,
tampak orang-orang yang sejenis dengannya juga ikut tiduran.
“Mau ke mana bang?” Seseorang
bertanya padanya.
Orang tadi mengangguk-angguk. “Kalo
saya berlima mau ke Gunung Raung. Pengalaman banget bang, niatnya mau ke puncak
sejatinya.”
Amru tersenyum. “Raung emang
bukan gunung biasa, bang.”
“Yoi. Sendiri aja bang?”
“Iya nih.” Amru menjawab agak
kikuk. Ia memang sendiri.
“Wah, abis patah hati ya bang?
Hahaha.”
“Hehe.”
Dan tepat tengah malam, Amru
menaiki bis jurusan Surabaya-Banyuwangi untuk sampai ke Besuki, sebuah
alun-alun tempat basecamp “Baderan” bisa diakses.
Dari Besuki, ia naik ojek ke
Basecamp. Cukup murah, tiga puluh ribu rupiah.
Amru mengelus dadanya tatkala
udara dingin menusuk di Baderan. Saat itu jam 6 pagi. Semalam perjalanannya
cukup lancar. Setelah berpisah dengan rombongan tadi, ia naik bis, lalu turun
tepat di tujuannya.
Kini, pendakiannya dimulai.
***
Puncak Rengganis, Gunung
Argopuro.
Butuh 3 hari untuk sampai ke
puncak ini. Dan Amru sudah melakukannya.
Di puncak yang penuh dengan
peninggalan sejarah tersebut, Amru meletakkan sebuah anyaman sapu tangan. Tak
lupa, ia menutupinya dengan ranting-ranting pohon yang ia temukan di sekitar
tempat itu.
Amru menatap kembali anyaman
sapu tangan tersebut selama beberapa detik, sebelum kemudian pergi.
***
“Ini, aku buat sendiri loh.”
Gadis di depan Amru tersenyum manis.
“Dih, emang kamu bisa nganyam?”
Amru menggodanya.
“Bisa atuh, kan dulu ikut
ekstrakurikuler.”
“Hahaha.” Amru menerima sapu
tangan tersebut dengan wajah ceria.
“Sebenarnya aku mau bikin syal,
tapi bahannya gak cukup hahaha, jadinya cuma pendek segitu, yaudah jadi
sapu tangan aja deh.”
“Dasar, bilang aja males.” Amru
memelet. Sang gadis balas memeletnya.
Tapi rasanya itu sudah lamaaa
sekali.
***
Amru turun dengan cepat dari
Puncak Rengganis. Gunung Argopuro memiliki tiga puncak. Pertama, Rengganis.
Kedua, Argopuro. Dan yang ketiga adalah puncak Hyang.
Amru rencananya ingin mendaki ke
semua puncak tersebut, karena selain jaraknya berdekatan, ada beberapa hal lagi
yang harus ia lakukan.
***
“Gua salah gak sih Dam,
berharap?”
Malam merayap. Di sebuah warkop,
Amru bertemu dengan kawan lamanya, Adam.
Adam menyeruput kopi panasnya.
“Enggak. Gak ada yang salah sama
yang namanya harapan.”
Amru menggaruk kepalanya sambil
masih kebingungan.
“Tapi ada yang bilang, ‘jangan
berharap sama orang lain, nanti kecewa’,” Amru melanjutkan argumennya.
“Cih, sudah kubilang, tidak ada
yang salah dengan sebuah harapan. Kita hidup, Ru. Kita jatuh, lalu kita bangun
lagi. Kita berharap, kita kecewa, lalu kita akan bangkit kembali.”
“Yang salah, adalah meratapi
kekecewaan elu.”
Amru terdiam.
Malam kembali merayap.
***
Puncak Argopuro sudah terlihat
di depannya. Amru bergegas. Napasnya hampir habis saat akhirnya ia menginjakkan
kaki ke puncak yang tertinggi di gunung tersebut.
“So, ini dia.”
Amru meletakkan sebuah stik es
krim di dekat sebuah pohon. Stik es krim yang mempunyai cerita yang cukup
menyenangkan.
Kini, biarlah Argopuro memilikinya.
***
“Ngamen yuk.”
“Eh?” Amru terkejut dengan hal
yang baru saja didengarnya.
“Iya, ayo.”
Meski terdengar cukup gila,
namun mereka berdua benar-benar melakukannya.
Bermodal tepuk tangan dan tekad
yang cukup besar, 2 jam selanjutnya dihabiskan dengan bernyanyi dari metromini
ke metromini di daerah mereka.
“Yah, cuma dapet 8 ribu,
hahahaah.”
Amru terenyum sambil menyeka
keringat di pelipisnya.
“Panas, aus.” Katanya.
Si Gadis kembali dapat ide.
“Ayo kita pake uangnya buat beli
es krim.”
Kali ini, idenya benar.
***
“Gua masih gabisa...”
Adam membanting gelas kopinya ke
meja.
“Gabisa apa, Ru?”
Amru menundukkan pandangannya.
“Liat gua, coba.” Adam berkata
tegas.
“Yaaa, mungkin gua butuh waktu,
Dam.”
Adam mengangguk-angguk. “Ya, gua
paham, santai aja, Ru. Tapi jangan pernah bilang ‘gak bisa’.”
Amru menarik napas dalam. Adam
benar.
***
Puncak Hyang.
“Fyuh.” Amru beristirahat di
dekat sebuah Arca yang berdiri kokoh di sana. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah
amplop dari tas kecil yang ia bawa untuk perjalanan summit nya.
Amru membuka amplop tersebut,
mengeluarkan sebuah surat yang tidak terlalu panjang di dalamnya.
Aku siang. Kamu malam.
Aku putih. Kamu hitam.
Sudah, aku terima saja kok, Ru. Hahaha.
Aku miring. Kamu lurus.
Aku kecil. Kamu tegap.
Sudah, kamu terima saja ya, Ru. Hahaha.
Sincerely,
K
Amru membaca isi surat
tersebut untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia memasukkannya lagi ke dalam
amplop, dan menaruhnya di bawah sebuah batu yang cukup besar di sana.
Biarlah, biarkan surat itu di
sana. Biar saja ia terkena hujan, terkena badai, terkena dinginnya malam.
Karena hidup terus berlanjut...
***
“...Dengan, atau tanpa dia, Ru.”
Adam menyeruput kopinya lagi.
“Jadi, apa rencana selanjutnya,
bro?” Adam bertanya.
Amru menatap langit-langit
warkop dengan tatapan yang masih sendu.
“Belum tau, Dam.”
Wajah Adam mengecut. “Intinya,
dia udah pergi, Ru. Dan lu masih di sini. Coba taruh yang kemarin-kemarin itu
di belakang. Lu mulai hal-hal yang baru. Biarin yang kemarin mah.”
Amru mengelus-elus dagunya.
“Ada ide, Dam?”
Adam terbahak-bahak. “Mau yang
biasa atau yang super?”
“Eh,” Amru tertegun, “Yang biasa
aja.”
Adam kecewa. “Main game. Nanti patah
hatinya hilang.”
“Yah, jangan dong, abis waktu
gua nanti, Dam. Yang super deh, yang super.”
Adam tersenyum jahat.
***
“Tahu cerita Nabi Ibrahim kan?
Beliau ‘alaihissalam pernah mempertanyakan kekuasaan Allah untuk lebih
memperkuat imannya.”
“Lalu beliau disuruh untuk
memotong sebuah burung jadi 4 bagian, dan menaruhnya di 4 puncak gunung. Baru deh,
Allah SWT mengumpulkan bagian-bagian burung itu jadi satu lagi, untuk
menunjukkan kekuasaanNya.”
Amru tertegun.
“Terus hubungannya apa, Dam?”
Adam menggebrak meja. “Masa gak
nyambung sih?”
Amru menggelengkan kepalanya.
Adam berkata. “Yaa, sana naik
gunung. Bawa kenangan-kenangan lu sama dia. Taro di sana. Hahaha. Kita gak
ritual macem-macem, kok. Cuma ingin melepas kepergiannya aja. Sana! Cari 4
puncak gunung! Bepergian supaya lu bisa terhibur juga!”
Seketika Amru ingat perkataan
teman-temannya.
Jangan sekali-kali nanya ide
sama Adam. Menyesal nanti.
Benar saja.
***
Danau Taman Hidup, Gunung
Argopuro.
Sayangnya, tidak ada puncak
keempat.
Namun Argopuro memiliki sebuah
danau di ketinggian 2000 mdpl, tempat orang-orang berkemah dan berjarak satu hari
perjalanan dari pos tempat Amru akan turun—pos Bremi.
Dan tempat itulah yang Amru
anggap sebagai puncak keempat.
Tempat ia akan meninggalkan
kenangannya.
Amru dengan cepat membuka tas
dan mengeluarkan sebuah kertas berisi bubuk kopi.
Kopi terenak yang pernah ia
rasakan. Kopi yang diberi oleh si gadis, oleh-oleh tatkala ia pulang dari
kampungnya di Lombok.
Alias, Kopi Lombok.
Amru dengan perlahan menebar
bubuk-bubuk kebahagiaan tersebut ke dalam danau.
Membiarkannya hilang ditelan
gemericik air.
Dan ia kini sudah selesai.
***
“Ingat, Ru. Ini hal terakhir
yang mau gua bilang.”
Malam masih merayap kala itu. Amru
sudah bulat ingin pergi ke empat puncak yang Adam sugestikan kepadanya.
“Jangan pernah lupa kata-kata
ini.”
Amru mendengarkan.
***
Perpisahan
itu tidak selalu buruk. Kau hanya harus mencintainya dengan cara yang lain
(Adam, 2016)
tetap berkarya zam
BalasHapus