Kamis, 15 Desember 2016

#Cerpen Hati Kecil Amru – Extended


“Patah hati ya bang?”
“Stress kali lu bang? Hahaha.”
“Gila aja! Ngapain bang? Haha”
Amru hanya tersenyum menanggapi semua komentar tersebut. Tersenyum getir. Jenis senyuman yang paling sering ia keluarkan.
Sembari berjalan kembali, ia memikirkan hari-hari yang telah berlalu.
***
Tiga hari yang lalu, ia bertolak ke terminal Bungurasih, Surabaya. Di punggungnya, nangkring sebuah tas besar yang hampir melebihi besar tubuhnya. Sebuah tas carrier yang sudah menampung segala macam kebutuhannya untuk perjalanan kali itu.
Di Bungurasih, Amru menunggu tengah malam sambil tidur-tiduran di atas matras yang ia gelar. Di samping-sampingnya, tampak orang-orang yang sejenis dengannya juga ikut tiduran.
“Mau ke mana bang?” Seseorang bertanya padanya.
“Argopuro.”
Orang tadi mengangguk-angguk. “Kalo saya berlima mau ke Gunung Raung. Pengalaman banget bang, niatnya mau ke puncak sejatinya.”
Amru tersenyum. “Raung emang bukan gunung biasa, bang.”
“Yoi. Sendiri aja bang?”
“Iya nih.” Amru menjawab agak kikuk. Ia memang sendiri.
“Wah, abis patah hati ya bang? Hahaha.”
“Hehe.”
Dan tepat tengah malam, Amru menaiki bis jurusan Surabaya-Banyuwangi untuk sampai ke Besuki, sebuah alun-alun tempat basecamp “Baderan” bisa diakses.
Dari Besuki, ia naik ojek ke Basecamp. Cukup murah, tiga puluh ribu rupiah.
Amru mengelus dadanya tatkala udara dingin menusuk di Baderan. Saat itu jam 6 pagi. Semalam perjalanannya cukup lancar. Setelah berpisah dengan rombongan tadi, ia naik bis, lalu turun tepat di tujuannya.
Kini, pendakiannya dimulai.
***
Puncak Rengganis, Gunung Argopuro.
Butuh 3 hari untuk sampai ke puncak ini. Dan Amru sudah melakukannya.
Di puncak yang penuh dengan peninggalan sejarah tersebut, Amru meletakkan sebuah anyaman sapu tangan. Tak lupa, ia menutupinya dengan ranting-ranting pohon yang ia temukan di sekitar tempat itu.
Amru menatap kembali anyaman sapu tangan tersebut selama beberapa detik, sebelum kemudian pergi.
***
“Ini, aku buat sendiri loh.” Gadis di depan Amru tersenyum manis.
“Dih, emang kamu bisa nganyam?” Amru menggodanya.
“Bisa atuh, kan dulu ikut ekstrakurikuler.”
“Hahaha.” Amru menerima sapu tangan tersebut dengan wajah ceria.
“Sebenarnya aku mau bikin syal, tapi bahannya gak cukup hahaha, jadinya cuma pendek segitu, yaudah jadi sapu tangan aja deh.”
“Dasar, bilang aja males.” Amru memelet. Sang gadis balas memeletnya.
Tapi rasanya itu sudah lamaaa sekali.
***
Amru turun dengan cepat dari Puncak Rengganis. Gunung Argopuro memiliki tiga puncak. Pertama, Rengganis. Kedua, Argopuro. Dan yang ketiga adalah puncak Hyang.
Amru rencananya ingin mendaki ke semua puncak tersebut, karena selain jaraknya berdekatan, ada beberapa hal lagi yang harus ia lakukan.
***
“Gua salah gak sih Dam, berharap?”
Malam merayap. Di sebuah warkop, Amru bertemu dengan kawan lamanya, Adam.
Adam menyeruput kopi panasnya.
“Enggak. Gak ada yang salah sama yang namanya harapan.”
Amru menggaruk kepalanya sambil masih kebingungan.
“Tapi ada yang bilang, ‘jangan berharap sama orang lain, nanti kecewa’,” Amru melanjutkan argumennya.
“Cih, sudah kubilang, tidak ada yang salah dengan sebuah harapan. Kita hidup, Ru. Kita jatuh, lalu kita bangun lagi. Kita berharap, kita kecewa, lalu kita akan bangkit kembali.”
“Yang salah, adalah meratapi kekecewaan elu.”
Amru terdiam.
Malam kembali merayap.
***
Puncak Argopuro sudah terlihat di depannya. Amru bergegas. Napasnya hampir habis saat akhirnya ia menginjakkan kaki ke puncak yang tertinggi di gunung tersebut.
“So, ini dia.”
Amru meletakkan sebuah stik es krim di dekat sebuah pohon. Stik es krim yang mempunyai cerita yang cukup menyenangkan.
Kini, biarlah Argopuro memilikinya.
***
“Ngamen yuk.”
“Eh?” Amru terkejut dengan hal yang baru saja didengarnya.
“Iya, ayo.”
Meski terdengar cukup gila, namun mereka berdua benar-benar melakukannya.
Bermodal tepuk tangan dan tekad yang cukup besar, 2 jam selanjutnya dihabiskan dengan bernyanyi dari metromini ke metromini di daerah mereka.
“Yah, cuma dapet 8 ribu, hahahaah.”
Amru terenyum sambil menyeka keringat di pelipisnya.
“Panas, aus.” Katanya.
Si Gadis kembali dapat ide.
“Ayo kita pake uangnya buat beli es krim.”
Kali ini, idenya benar.
***
“Gua masih gabisa...”
Adam membanting gelas kopinya ke meja.
“Gabisa apa, Ru?”
Amru menundukkan pandangannya.
“Liat gua, coba.” Adam berkata tegas.
“Yaaa, mungkin gua butuh waktu, Dam.”
Adam mengangguk-angguk. “Ya, gua paham, santai aja, Ru. Tapi jangan pernah bilang ‘gak bisa’.”
Amru menarik napas dalam. Adam benar.
***
Puncak Hyang.
“Fyuh.” Amru beristirahat di dekat sebuah Arca yang berdiri kokoh di sana. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah amplop dari tas kecil yang ia bawa untuk perjalanan summit nya.
Amru membuka amplop tersebut, mengeluarkan sebuah surat yang tidak terlalu panjang di dalamnya.
Aku siang. Kamu malam.
Aku putih. Kamu hitam.
Sudah, aku terima saja kok, Ru. Hahaha.
Aku miring. Kamu lurus.
Aku kecil. Kamu tegap.
Sudah, kamu terima saja ya, Ru. Hahaha.
Sincerely,
K
Amru membaca isi surat tersebut untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia memasukkannya lagi ke dalam amplop, dan menaruhnya di bawah sebuah batu yang cukup besar di sana.
Biarlah, biarkan surat itu di sana. Biar saja ia terkena hujan, terkena badai, terkena dinginnya malam.
Karena hidup terus berlanjut...
***
“...Dengan, atau tanpa dia, Ru.”
Adam menyeruput kopinya lagi.
“Jadi, apa rencana selanjutnya, bro?” Adam bertanya.
Amru menatap langit-langit warkop dengan tatapan yang masih sendu.
“Belum tau, Dam.”
Wajah Adam mengecut. “Intinya, dia udah pergi, Ru. Dan lu masih di sini. Coba taruh yang kemarin-kemarin itu di belakang. Lu mulai hal-hal yang baru. Biarin yang kemarin mah.”
Amru mengelus-elus dagunya.
“Ada ide, Dam?”
Adam terbahak-bahak. “Mau yang biasa atau yang super?”
“Eh,” Amru tertegun, “Yang biasa aja.”
Adam kecewa. “Main game. Nanti patah hatinya hilang.”
“Yah, jangan dong, abis waktu gua nanti, Dam. Yang super deh, yang super.”
Adam tersenyum jahat.
***
“Tahu cerita Nabi Ibrahim kan? Beliau ‘alaihissalam pernah mempertanyakan kekuasaan Allah untuk lebih memperkuat imannya.”
“Lalu beliau disuruh untuk memotong sebuah burung jadi 4 bagian, dan menaruhnya di 4 puncak gunung. Baru deh, Allah SWT mengumpulkan bagian-bagian burung itu jadi satu lagi, untuk menunjukkan kekuasaanNya.”
Amru tertegun.
“Terus hubungannya apa, Dam?”
Adam menggebrak meja. “Masa gak nyambung sih?”
Amru menggelengkan kepalanya.
Adam berkata. “Yaa, sana naik gunung. Bawa kenangan-kenangan lu sama dia. Taro di sana. Hahaha. Kita gak ritual macem-macem, kok. Cuma ingin melepas kepergiannya aja. Sana! Cari 4 puncak gunung! Bepergian supaya lu bisa terhibur juga!”
Seketika Amru ingat perkataan teman-temannya.
Jangan sekali-kali nanya ide sama Adam. Menyesal nanti.
Benar saja.
***
Danau Taman Hidup, Gunung Argopuro.
Sayangnya, tidak ada puncak keempat.
Namun Argopuro memiliki sebuah danau di ketinggian 2000 mdpl, tempat orang-orang berkemah dan berjarak satu hari perjalanan dari pos tempat Amru akan turun—pos Bremi.
Dan tempat itulah yang Amru anggap sebagai puncak keempat.
Tempat ia akan meninggalkan kenangannya.
Amru dengan cepat membuka tas dan mengeluarkan sebuah kertas berisi bubuk kopi.
Kopi terenak yang pernah ia rasakan. Kopi yang diberi oleh si gadis, oleh-oleh tatkala ia pulang dari kampungnya di Lombok.
Alias, Kopi Lombok.
Amru dengan perlahan menebar bubuk-bubuk kebahagiaan tersebut ke dalam danau.
Membiarkannya hilang ditelan gemericik air.
Dan ia kini sudah selesai.
***
“Ingat, Ru. Ini hal terakhir yang mau gua bilang.”
Malam masih merayap kala itu. Amru sudah bulat ingin pergi ke empat puncak yang Adam sugestikan kepadanya.
“Jangan pernah lupa kata-kata ini.”
Amru mendengarkan.
***
Perpisahan itu tidak selalu buruk. Kau hanya harus mencintainya dengan cara yang lain (Adam, 2016)


1 komentar: