Dan
Langit pun Iri
Jakarta, 15 September 2019
Langit membentang biru. Suasana Ibukota nampak seperti biasa. Jalanan utama yang
dilindasi jutaan kendaraan, trotoar
yang dilindasi jutaan kendaraan yang
tidak kebagian tempat di jalanan utama, dan jalan-jalan kecil yang dilindasi jutaan kendaraan lain yang mencoba tidak
melindasi opsi pertama dan kedua.
Kalan memperhatikan semua itu.
Fenomena-fenomena sosial; tikus-tikus jalanan,
tikus-tikus kantor, tikus-tikus parlemen, bahkan
tikus-tikus tempat ibadah. Sepertinnya seluruh kota
ini memang sudah dipenuhi oleh tikus.
Kalan menepuk-nepuk pipi dan kembali
fokus pada pekerjaannya. Setiap hari ia
mengamati Kota ini sambil mengendarai semi-bus
tempatnya mengantungkan nasib. Dan beberapa kali ia
harus mengembalikan partikel kesadarannya karena larut dalam lamunan. Kalan
menjalankan kuda besi itu sedikit ke depan. Metromini
merah yang ia kendarai meraung pasrah karena
dipaksa berjalan di usia senja. Jalanan di depannya macet.
Mau tak mau pemuda itu pun mengantri laju.
Tiba-tiba, ada seseorang yang menepuk
pundaknya dari belakang.
“Bang,
mau coklat gak?” seorang pemuda,
berusia sekitar 20 tahunan, menawarkannya sebungkus coklat.
Coklat yang sudah sangat familier di Indonesia. Namun
karena masalah aturan komersil, merknya tidak akan
disebutkan di sini. Inisialnya saja; Silver Queen.
Kalan
memandang heran. Agak canggung, namun akhirnya menerima Silver Queen tersebut.
“Terima
kasih,” Kalan tersenyum.
“Sama-sama
bang, bagi-bagi rejeki lah. Saya punya banyak di rumah,” pemuda itu menyambung topik,” dulu
saya punya tokonya malah.”
Ia
juga memperluasnya.
Kalan
tidak menjawab karena kemacetan di depan sudah mulai
terurai. Ia segera mengganti gigi dan menaikkan laju.
***
Esok
hari.
“Bang,
mau coklat lagi gak?”
Kalan
menengok ke belakang. Pemuda
itu lagi.
“Lu lagi kurang kerjaan ya?”
Kalan menjawab sinis.
“Tahu
aja bang. Hahaha,” pemuda itu malah
tertawa,” saya kalau gak ada kerjaan
suka ngasih hadiah ke orang lain. Lumayan, bikin seneng orang kan
dapet pahala bang.”
Kalan
terdiam. Pemuda ini bisa
bermain kata-kata pula rupanya.
“Kalau
begitu kenapa gak semua orang di sini
yang lu kasih coklat?”
Pemuda
itu tersenyum,” kan
tuan rumah di sini abang. Jadi saya lebih mementingkan abang lah.”
Boleh juga argumennya, Kalan
berkomentar kecil.
“Gua Kalan, perkenalkan.”
Pemuda
itu sumringah,” saya Aslan bang. Semoga perkenalan ini
diridhoi Allah.”
Kalan mengangkat satu alis.
Namun ia hanya diam menanggapinya.
***
Malam itu Kalan merenung. Umurnya 26 tahun. Tubuh tinggi, kekar, dan
berwibawa. Berotak cemerlang, hidup sebatang kara
dari kecil, sampai ia mendapat beasiswa saat lulus SMA. Kuliah
University of Sydney; lulus 4 tahun
yang lalu. Setelah itu ia memutuskan untuk
mengembara ke seluruh dunia.
Sudah ratusan tempat di dunia ini ia
sambangi. Mulai dari Sukhbataar
Square di Mongol, sampai ke pemerahan sapi di New Zealand.
Paragliding di atas Great Barrier
Rief, main petasan di air terjun Iguacu,
sampai menyaksikan tornado di USA.
Namun
yang paling ia ingat adalah kenangannya bulan lalu.
Saat ia menaiki sampan di atas danau Great Stave, Kanada. Saat itu, ia merenungi semua yang telah ia lakukan. Di
atas danau sedalam 614 meter tersebut, pikiran Kalan mulai terbuka.
Walaupun hidupnya bebas, penuh ketegangan, petualangan yang adrenalin-needed, dan juga pengalaman
hebat, ia merasa masih ada sesuatu yang kurang dalam
hidupnya. Ada yang harus ia lengkapi, namun ia tidak
tahu apa. Serentak semua yang ia lakukan terasa
hanyalah omong kosong. Pengembaraannya selama 4 tahun,
mengelilingi dunia, menguasai 9
bahasa, semua euphorianya musnah.
Satu
hal yang akhirnya ia sadari saat itu.
Ia
kehilangan tujuan sejatinya.
Maka,
ia pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan
menemukan hal tersebut dahulu. Pilihannya pun tertuju pada kampung halaman
tercinta, dan pada profesi paling aneh yang bisa ia
bayangkan.
Supir
metromini.
***
“Aslan!”
Kalan memanggil seorang pemuda yang tengah duduk di warung
kopi terminal. Kebetulan sekali mereka bertemu lagi di
sini.
“Oi!
Bang Kalan. Apa kabar, bang?” balasnya.
“Gua biasa aja.
Supir metromini mah
cuma gini-gini aja kali,” Kalan
menjawab.
“Hahaha,
abang nih, coba lebih optimis lah bang! Buat sesuatu aja.
Kayak origami gitu. Daripada jadi supir metro doang
gak ada skill yang diasah,” Aslan berujar antusias, memamerkan sederet gigi
cemerlang.
“Ah,
bisa saja kau! Tapi
bolehlah nanti dicoba. Eh, mau main catur?” Kalan menawarkan.
“Wah!
Boleh tuh bang! Biar saya bisa unjuk kebolehan juga,” Aslan
berkata.
Kalan
pun mengeluarkan papan catur dari dalam warung. Mereka duduk berhadap-hadapan, bersiap tempur. Namun...
“Wah, masa raja putih hilang, Slan!”
Mereka
mencari-cari, namun tetap saja tidak ketemu.
“Waduh,
yaudah deh, bentar bang,” Aslan
mengambil secarik origami dari dalam tasnya.
Melipat-lipat kertas tersebut dengan rumit, sampai menjadi bentuk tiruan dari
sang Raja yang hilang.
“Keren
juga lu,
Slan!” Kalan memuji.
“Kata
Einstein bang; Logika bisa membawa kita dari A ke B,” Aslan menggerakkan satu
bidak catur,” tapi imajinasi,” ia menunjuk kepalanya.
“Bisa
membawa kita ke mana aja.”
Kalan
tersenyum. Pemuda di depannya
ini memang menarik.
***
Keduanya
main catur 2 kali. Pertama
Kalan kalah, dan yang kedua Aslan menang. Hubungan
mereka dengan cepat berkembang. Keduanya pun mengobrol
banyak hal. Dan Kalan bisa menangkap butir-butir kebijaksanaan dari
kata-kata sang pemuda.
“Hidup
lu buat apa,
Slan?” Tanya Kalan.
Aslan
tersenyum,” Buat Tuhan saya bang. Buat agama saya.”
Kalan
tersenyum sinis,” Banyak yang bilang gitu, tapi...” ia
sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Mungkin
abang harus ikut ke tempat saya,” Pungkas sang pemuda.
***
Kalan
menyanggupi undangan tersebut. Sewaktu hari Ahad, ia bertemu dengan Aslan di Pasar Rebo untuk mengunjungi
tempat sang pemuda. Kampung Pondok Petir namanya. Kesannya angker dan aneh.
Setelah
sampai, Kalan mendapati kampung tersebut sangatlah ramai.
Warga sedang bergotong-royong membersihkan lingkungan
rupanya. Mereka semua ramah menyapa Aslan. Pun
dengan Kalan yang berjalan bersamanya. Suasana sangat erat
sekali. Semua saling memberi makanan, melempar senyum, berjabat-peluk hangat
sesama tetangga, dan saling mengucapkan do’a satu sama
lain.
“Kak
Aslan, kak Aslan!” tiba-tiba seorang anak perempuan menghampirinya dengan
ceria. Anak tersebut memegang
sebuah kayu di tangan kanannya. Aslan balas tersenyum gembira,” ada apa, Nisrin?”
“Gigi
aku udah putih belum?”
Tanya sang bocah seraya menunjukkan giginya.
“Ummm,
udah lumayan.
Kamu udah rajin kan,
siwaknya?” Aslan menjawab dengan pertanyaan balik.
“Udah
dong kak! Tapi mulai sekarang
aku mau tambah rajin lagi!” Nisrin berkata.
“Bagus
tuh, semangat ya!”
Aslan mengacak rambut Nisrin dan berjalan kembali.
Kalan
yang berada di sampingnya terus memperhatikan. Ada sesuatu yang berbeda di kampung ini. Suasananya,
orang-orangnya, lingkungannya, bahkan hewan-hewan yang tinggal di sana.
“Rumah
lu di mana, Slan?”
Tanya Kalan.
“Oh,
sebentar lagi, bang. Tapi kita mampir ke sana dulu
ya?” Aslan menunjuk sebuah bangunan minimalis yang indah.
Tampak menawan bila dilihat dari kejauhan. Warnanya, hiasannya, dan arsitekturnya. Bahkan boleh
dibilang bahwa Christopher Wren, sang arsitek gereja St. Paul yang terkenal itu pun akan manggut-manggut mengagumi
bangunan ini. Yang paling hebat, ada semacam aura damai yang
Kalan rasakan tatkala memandang bangunan tersebut.
Mereka
pun bergegas menuju ke sana.
Melewati
sebuah plang “Masjid Azzam Az-Zakki”
***
“Assalamualaikum,
Pak Hasan!” Aslan menyapa seorang tua yang sedang menyapu
lantai masjid.
“Waalaikumsalam,
Ustadz Aslan!” Mereka berjabat berjabat tangan.
“Ah,
sudah saya bilang jutaan kali, jangan panggil saya ustadz, pak!
Saya ini masih bodoh,” Aslan merendah,” Oh ya, perkenalkan,
ini kawan saya. Kalan namanya.”
Mereka
pun berkenalan. Kemudian,
Aslan pamit ingin berwudhu sebentar. Meninggalkan
Kalan dan pak Hasan untuk berbincang berdua.
“Jadi,
bapak sudah lama ada di sini?” Tanya Kalan.
“Sudah
sejak lahir, dik Kalan.
Saya memang mengabdikan diri untuk Masjid ini. Dari mulai dahulu masjid tidak ada yang peduli, hingga makmur
seperti sekarang,” jawab pak Hasan sambil berkaca-kaca.
“Maksud
bapak?” Kalan bertanya,” memang dahulu seperti apa?”
Pancingan
Kalan cukup ampuh. Pak
Hasan pun menceritakan kisah tempat tersebut. Dahulu
ketika warga-warga tidak ada yang acuh terhadap kegiatan agama, masjid,
sehingga bahkan warga yang berjama’ah hanya 3 orang.
“Kejadian
itu 7 tahun yang lalu. Dan saya
masih menganggapnya masa terkelam yang pernah dialami masjid ini,” jelas pak
Hasan.
“Lalu
keadaan sekarang bagaimana pak? Saya
lihat suasana di sini sangat damai. Dan masjid sudah
makmur. Ceritanya bagaimana?” Kalan merangsang pak tua itu agar bercerita. Ia memang tipe seorang pengamat, maka rasa ingin tahunya
sangat besar.
Pak
Hasan bercerita lagi. 7 tahun
yang lalu, datanglah keluarga baru. Mereka bertiga.
Seorang ayah, anak laki-lakinya yang berusia 15 tahun, dan si
bungsu yang berusia 8 tahun. Sebagai warga baru,
mereka mencoba bersosialisasi kepada seluruh warga. Namun
warga di sini tidak terlalu memperdulikan hubungan antar tetangga. Mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya ibu-ibu saja yang suka ngerumpi
setiap hari. Tapi kan keluarga itu tidak
memiliki sosok ibu. Sang ayah single parent dalam mendidik kedua anaknya.
Saat
itulah Pak Hasan dan mereka berkenalan.
Setelah mengobrol banyak—dengan sang ayah dan anak laki-lakinya—pak Hasan
melihat bahwa mereka sangat ingin menumbuhkan tali persaudaraan yang kuat antar
tetangga, mereka juga ingin agar masjid kembali menjadi makmur.
Sebenarnya
keluarga tersebut tidak pernah mengajak warga untuk pergi ke masjid, mengikuti
pengajian, membentuk DKM, dan lain sebagainya. Namun, keluarga tersebut sangat sering memberi hadiah kepada para
tetangga. Mengucapkan salam tiap pagi, membantu
mereka yang kesulitan tanpa parih, dan juga mengundang mereka untuk syukuran
tiap kali ada kesempatan.
Mereka
tidak pernah secara langsung mengajak pada kebaikan.
Namun mereka melakukannya. Dan
menunjukkan pada semua warga kalau berbuat baik dan melakukan silaturahim itu
sangatlah indah.
Sayang
seribu sayang, 3 tahun setelah kedatangan mereka, suasana tetaplah tidak
berubah. Warga tetap saja
seperti dahulu. Bahkan ibu-ibu makin gencar bergosip,
dan menimbulkan pertengkaran antar tetangga.
Keluarga
tersebut makin prihatin dengan kondisi lingkungan mereka.
Sang ayah akhirnya mulai melakukan pendekatan dengan ajakan
kepada mereka. Sang anak laki-laki yang waktu itu kelas 3 SMA pun mulai
memasuki pergaulan remaja di sana dan mengajak mereka
pada kebaikan. Begitu pula dengan sang adik. Ia
mengajak teman-teman seumurannya mengaji, dan lainnya.
Yang
terjadi akhirnya, adalah kebencian terhadap mereka.
Warga sangat terganggu dengan ajakan-ajakan mereka, apalagi saat sang ayah
mengajak mereka memakmurkan masjid. Suara murotal dari masjid tersebut dianggap
mengganggu dan akhirnya malah membuat mereka makin jauh dari masjid.
Hingga
akhirnya, setelah sang anak laki-laki lulus SMA, sang ayah meninggal dunia.
Sekalipun warga membencinya, namun mengingat kebaikan hati sang ayah, hampir
semua warga melayat jenazahnya.
Bukan, bukan hanya mereka, namun ternyata ribuan orang dari
luar juga menghadiri pemakaman beliau. Saat itulah semua warga
mengetahui—baru mengetahui—bahwa sang ayah adalah seorang legenda.
Ia
adalah seorang musisi legendaris yang 3 tahun lalu menghilang dari peredaran;
Iwan Fals.
***
Sejak
saat itu, anaknyalah yang melanjutkan misi sang ayah untuk membuat kampung
tersebut menjadi makmur dan penuh persaudaraan.
Kematian
ayahnya membantu menyadarkan warga akan pentingnya
menjalin tali persaudaraan di antara mereka. Bahwa kebaikan yang dilakukan sang
legenda tak lain adalah untuk membuat mereka hidup di lingkungan yang damai dan
sejahtera.
Sejak
saat itu, warga mulai berduyun-duyun datang ke masjid, membantu memakmurkannya,
menjadi saling percaya satu sama lain, dan membangun
kembali persaudaraan yang lama terputus antar tetangga. Mereka
bahkan melakukan puasa senin-kamis bersama. Dan tiap malam senin dan
kamis, mereka akan sahur bersama di masjid.
Sang
anak laki-laki pun menjadi nahkoda semua kegiatan tersebut.
Ia yang mengatur kegiatan-kegiatan para pemuda, membuat
mereka betah berada di masjid, dan juga yang membuat Kampung ini kembali
bersinar dengan keaktifan para pemudanya.
Nama
pemuda itu, adalah Aslan.
***
“Wah,
maaf nih lama, tadi buang air dulu,” Aslan berkata sekembalinya dia dari air.
“Tidak
apa-apa kok.
Gua jadi ngobrol
banyak sama pak Hasan ini,” Kalan menjawab.
“Hahaha,
bang Kalan mah emang cepet akrab sama
orang. Oh iya bang, saya solat dhuha dulu ya,”
Aslan berkata, dan Kalan mengangguk.
“Aslan
memang lebih sering berada di masjid daripada di rumah,” ujar pak Hasan sambil
berbisik.
“Kalau
adiknya, sendiri di rumah, pak?”
Pak
Hasan menggeleng.
Ia
kembali bercerita.
***
Dua
minggu yang lalu, toko coklat milik Aslan kebakaran.
Padahal,dari situlah pemasukan keluarganya berasal. Semua hangus terbakar, hanya ada sisa satu kardus coklat yang belum
sempat ditaruh di gudang karena baru Aslan beli untuk persediaan.
Saat
itu, Aslan berkata bahwa ini adalah peringatan dari Allah SWT karena ia kurang bersedekah. Padahal ia
sebenarnya sangat sering memberi pada orang lain. Akhirnya ia
memutuskan untuk membagi-bagikan coklat sisanya tersebut pada orang lain yang
ia temui. Dan ia akan mencari kerja lain ke
kantor-kantor di Jakarta. Makanya belakangan Aslan sering
bepergian. Dan kala itu pula Aslan dan Kalan bertemu.
***
“Lalu
sang adik?” Kalan bertanya. Meneguk
ludah.
“Kau
mungkin sudah bisa menebak,” Pak Hasan berkata.
“Hani
ikut terbakar bersama toko tersebut,” Kalan melihat sang pemuda berdo’a sehabis
sholat sambil menangis di sudut masjid.
***
Malam
itu juga, Kalan telah menemukan apa yang ia cari. Aslan, pemuda rendah hati itu telah membuka seluruh mata hatinya.
Apa yang harus ia lakukan, dan apa tujuan hidupnya
yang sejati.
Maka
di malam bertabur gemintang itu, Kalan membuka rahasianya pada Aslan,
mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah seorang pengembara,
sedang mengelilingi dunia, dan sedang mencari kesejatian hidupnya. Aslan
terkejut mendengar penuturan sang abang, bahkan ketika Kalan memperlihatkan
jurnal perjalanan keliling dunia miliknya.
“Lu udah
ngebuka pikiran gua begitu jauh,
Slan. Terima kasih,” Kalan
menepuk pundak pemuda itu.
“Sekarang
gua punya satu penawaran buat lu.”
“Ayo
ikut gua pergi; keliling dunia.”
***
Di sebuah metromini, 3 tahun kemudian.
“Mau coklat?” sesorang menepuk pundak
Aslan dari belakang.
“Bang Kalan!” Aslan
terkejut melihat kawan lamanya tersebut. Sudah tiga
tahun mereka tidak berjumpa. Tiga tahun semenjak ia
menolak dengan halus tawaran hebat untuk ikut berpetualang keliling dunia
bersamanya.
“Gua ada kejutan buat lu,” Kalan
berkata. Kemudian dari belakangnya muncul serorang anak kecil
berumur sekitar 2 tahun yang langsung menerjang Aslan. Juga seorang wanita cantik yang mengenalkan diri sebagai “Nyonya
Kalan”.
“Seperti
kata-kata terakhir yang lu bilang sebelum kita berpisah,” Kalan berkata.
“Tugas terakhir buat pemuda muslim
sejati; harus nikah.”
Kalan dan Aslan pun berpelukan
hangat.
Membuat
iri langit biru di atas mereka.