Aku gak pernah dibilang
ganteng! Serius! Entah kenapa semua begitu saja terjadi padaku. Aku yang dengan
muka seperti ini, hanya bisa mendapat ejekan, baik dari kaum adam maupun hawa.
Aku seperti terlahir
untuk menjadi bahan ejekan. Mentang-mentang wajahku jelek begini. Dasar, orang memang
susah sekali untuk menilai orang lain selain dari tampilan fisiknya.
Oh ya, namaku Kevin. Aku lahir dari
sebuah keluarga yang biasa-biasa saja genap 16 tahun yang lalu. Namun saat aku
lahir, ayah meninggal dunia. Aku hanya tinggal bersama ibu untuk menjalani
masa-masa kecilku. Beliaulah yang mengajariku bagaimana untuk hidup. Beliau yang
penyayang, dan juga baik hati.
Ibuku sangat cantik.
Kuulangi, sangat cantik. Tidak kalah dengan cantik versi ‘make up’ para artis, bahkan sebenarnya
kalau mau dibandingkan, masih lebih cantik ibuku daripada Sandra Dewi.
Aku
kerap kali bertanya padanya tentang ayah. Aku, jujur, belum pernah melihatnya.
Ibu bilang bahwa ia tidak mempunyai foto ayah satupun. Ah, andai saja dulu ayah
punya facebook, aku tentu bisa melihat foto-fotonya.
“Ibu,
ayah tuh jelek banget ya?” tanyaku suatu saat.
“Mengapa
kau bilang begitu?” ia bertanya balik.
“Habisnya
ibu sangat cantik, mengapa aku bisa berwajah seperti ini? Pasti keturunan dari
ayah kan?” aku mengemukakan alasan yang sebenarnya.
Menanggapi
hal itu, beliau hanya berkata,” sayang, ayah ganteng kok, nanti kalau sudah
saatnya akan ibu ceritakan semuanya.”
Ah,
demi melihatnya tersenyum manis seperti itu, aku jadi bungkam seribu bahasa.
Mengangguk. Mengiyakan.
Oh
ya, mengenai wajahku.
Wajahku
bulat. Dengan mata yang setengah sipit setengah lonjong, aku mempunyai alis
yang pendek. Hidungku pesek, bahkan cenderung tenggelam ke dalam. Aku juga
jerawatan. Namun bukan jerawat yang biasa tumbuh dalam semalam. Ini jerawat batu! Ya, jerawat yang sudah dari sananya tak bisa
diapa-apain lagi. Kemudian bibirku, sangat besar, kawan. Sehingga terkadang ia
terlihat off side karena maju terlalu
jauh melewati hidung.
Bayangkan saja sejelek apa.
Aku
tinggal bersama ibuku di sebuah rumah kecil di pingir kota. Kami hidup
pas-pasan. Ibu bekerja menjadi seorang pelayan di sebuah restoran. Dan bila pulang, ia menjadi tukang cuci untuk para tetangga kami yang
Borjuis.
Aku
sendiri bersekolah di salah satu SMA Negeri yang ada di kota. Tadinya aku hanya ingin sekolah sampai SMP
saja, kemudian langsung bekerja.
Namun ibuku
melarang. Ia ingin aku untuk sekolah setinggi-tingginya.
Dan walaupun sekolah
tinggi-tinggi tidak menjamin kita sukses atau tidak, ibu lebih mementingkan “berkah” ilmunya.
Bila
ada orang yang berkata, sekolah itu percuma saja karena gede-nya cuma bisa jadi
pegawai, maka ibu berkata bahwa kita lebih mementingkan ilmu daripada harta.
Kita belajar berniat untuk mencari keberkahan, bukan untuk mencari harta
kekayaan.
Walaupun
hanya bisa jadi pegawai, namun bila hal itu berkah di mata Tuhan maka apa
salahnya?
Ibuku memang super sekali.
Di
sekolah aku sudah terkenal sejak hari pertama masuk. Tentu saja, berkat penampilanku.
Mungkin bila aku ingin, aku bisa menjadi cover
boy majalah “the worst people.”
Tampil paling depan. Paling disorot. Paling di zoom. Ah, aku memang suka sekali
menyesal terhadap apa yang sudah digariskan untukku.
Aku
juga seringkali bertanya. Mengapa di dunia ini ada orang yang jelek dan ada
orang yang ganteng?
Mengapa
ada kesenjangan muka yang begitu jauh di antara kami. Andai saja Justin Bieber bertukar wajah denganku,
ia pasti akan merasakan betapa menderitanya hidup ini.
Tiap
kali aku diejek, aku tidak bisa melawan. Aku hanya bisa diam dan menerimanya. That’s right, aku tidak ingin menambah
masalah. Justru bila aku melawan maka masalah akan bertambah lagi dan lagi.
Aku
menerimanya, bukan karena aku ikhlas, tetapi lebih karena aku memang memendam
semua rasa tak suka ini. Bayangkan! Aku bahkan tak punya satu pun teman! Miris
sekali rasanya.
Tetapi
aku kenal seorang yang ganteng sekali di sekolah. Namanya Raka. Mungkin,ia
adalah cowok terganteng di sekolah.
Ia
selalu menjadi buruan para cewek. Para fansnya. Apalagi bila waktu istirahat
tiba, ia pasti dikerubutin. Seperti gula yang dikerubut oleh semut. Ada yang
memberi coklat, meminta tanda tangan, bahkan ada pula yang sekedar ingin
melihatnya dari dekat.
Namun
di atas semua cewek itu, ia sudah mempunyai pacar. Namanya Siska. Nah, barulah
kerumunan cewek ini bubar setelah Siska datang menemui pacarnya. Mereka pun
kemudian pergi. Entah ke kantin, atau ke perpus, aku tidak pernah melihat lebih
lanjut. Cukup sampai sana menjadi stalker-nya.
Bila
istirahat, kerjaanku hanya tidur di kelas. Bahkan saat tidur pun aku tetap
menjadi bahan ejekan. Mereka menertawaiku, padahal aku pun sedang tidur.
Apalagi kalau aku jalan-jalan saat istirahat, pasti akan lebih parah lagi.
Saat
pulang sekolah, aku memikirkan cara untuk menjadi lebih ganteng. Tapi bagaimana
ya? Operasi plastik? Mahal. Ke dukun? Mahal juga. Apa aku harus menabung agar
bisa pergi ke dua tempat tadi? Apa mungkin aku harus menabung agar bisa ke
dukun untuk jadi ***i ng*p*t lalu mengumpulkan uang untuk operasi plastik?
Melantur.
Setidak-tidaknya,
aku ingin ada
cewek yang tertarik padaku deh. Ya, sekali-kali pengen ngobrol sama lawan
jenis, aku kan belum pernah.
Lalu
saat aku sedang berjalan di sepak perempatan, aku melihat sebuah iklan yang
terpasang di billboard tv. Iklan itu
tentang parfum, namun khusus cowok Merk
AXE, yang katanya bisa bikin bidadari lupa diri. Hmm, mungkin bila aku
mengunakannya bisa agak menarik perhatian orang-orang di sekolah ya? Terutama
cewek-ceweknya.
Bagaimana
ya? Apa aku akan memakainya atau tidak?
Lalu aku teringat petuah ibuku.
Berusahalah, karena walaupun
gagal, itu adalah selangkah menuju kesuksesan.
Waw!
Great! Baiklah, aku akan mencoba. Aku pun akhirnya pergi ke swalayan
terdekat dan membeli parfum cowok tersebut. Fyuh,
lumayan menguras kocek sih, tapi gak apa-apa lah. Pengorbanan.
Pada malam harinya, aku mencoba
parfum tersebut. Hmmm, wangii. Lalu tanpa kusangka terdengar suara ‘bruk!’ di
belakangku. Seperti ada sesuatu yang jatuh. Atau mungkin itu…. Seseorang?
Yang kulihat hanyalah galon air
minum kosong yang terlentang begitu saja di lantai. Tadi tidak ada, berarti galon itu yang barusan jatuh. Apa ini? Pikirku.
Aku pun tanpa pikir panjang langsung
mengambil galon tersebut dan melihat-lihat isi dalamnya. Kosong, warnanya biru,
transparan. Tidak beda jauh dengan galon-galon air minum yang lain.
Namun,
saat aku menggosoknya, tiba-tiba keluar asap dari galon tersebut. Alangkah
terkejutnya aku karena dalam beberapa detik kemudian, sesosok makhluk yang bisa
terbang keluar dari situ. Tampangnya seperti orang arab, tidak memakai baju
namun menggunakan rompi tangan bolong yang tidak dikancingkan.
Jin galon!
Wah, wah! Aku tak menyangka bahwa
hal-hal seperti ini benar ada di dunia nyata. Di depanku kini, sudah ada jin
galon. Hmm, aku belum pernah mendengarnya sih, tapi yang penting kan dia jin
dan aku bisa meminta sesuatu padanya.
“Hahahaha! Terima kasih telah
mengeluarkanku dari dalam sana anak muda!” ujarnya dengan gaya khas suara jin.
“I…iya om jin galon…” jawabku agak
gugup.
“Jin galon? Enak saja kau
memanggilku begitu! Panggil aku Steven!” tampiknya.
“I…iya om jin galon Steven,” jawabku
lagi.
“Cukup Steven saja!” sergahnya.
“I…iya om Steven!”
“Nah, itu lebih baik. Sekarang aku
punya satu permintaan,” ujarnya.
“Loh, kok yang punya permintaan kamu
sih? Bukannya aku yang punya?” heranku.
“Hahaha!” tawanya menggelegar,”
tentu saja Steven berbeda. Kalau kau ingin sebuah permintaan, kau harus penuhi
permintaanku dulu,” ucapnya.
“Tidak bisa begitu! Kalau begitu
lebih baik kau kumasukkan lagi ke dalam galon ini!” ancamku.
“Eh, jangan dooong! Iya deh, iya.
Apa permintaanmu?” tanyanya memelas. Sepertinya ancamanku berhasil.
“Aku ingin…. Jadi ganteng,” ucapku.
“Baiklah kalau begitu…” ucapnya.
“Hap! Hap! Hap!” ayun kedua
tangannya.
“Dus!” ia mengeluarkan asap
sihirnya. Dan ajaib! Aku menjadi ganteng.
“Silahkan berkaca, pangeran…”
ujarnya membesarkanku.
Aku pun berlari ke cermin dan
menengok bagaimana rupaku sekarang.
Waw!
Amazing! Aku benar-benar berubah menjadi ganteng, tanpa merubah bentuk
wajahku yang lama. Aku masih dapat dikenali sebagai Kevin, walau dengan wajah
yang sangat ganteng dari sebelumnya.
“Nah, Kevin! Ingatlah satu hal!”
Suasana mendadak berubah menjadi
serius.
“Sihirku ini tidak full version, ini hanya trial-nya saja.
Wajah ini akan bertahan selama 3 hari, setelah itu kau harus membeli seri
lengkapnya!”
Aku mengerutkan alis,”
tunggu-tunggu, apa maksudmu semua ini? Mengapa hanya trial?”
Aku kebingungan.
“Ya, karena kau tidak menuruti
keinginanku tadi. Cara untuk membeli yang full
version adalah dengan menuruti permintaanku. Dan karena kau tidak, maka kau
hanya bisa menikmati trial modenya,”
jelas Steven padaku.
“Hei! Kalau serial numbernya ada gak? Atau keygennya?”
aku beralasan.
“Maaf, Kevin, tidak ada,” Steven
menggeleng,” aku harus pergi, bila kau ingin bertemu denganku untuk membeli
yang full version, silahkan gosok
galon itu lagi! Tapi hanya 1x24 jam ya! Sekali sehari!”
Dalam sekejap, Steven sudah tidak
ada dalam pandanganku.
“Tunggu!” terlambat.
“Ah, setidaknya aku ingin bertanya
tadi, apa permintaannya. Tapi yasudahlah. Ia sudah pergi, aku baru bisa
memanggilnya besok,” kataku pada diri sendiri.
Malam itu, aku menunjukkan kepada
ibu wajah baruku. Beliau tentu sangat terkejut melihat wajahku yang ‘mendadak
ganteng’ ini.
“Kamu mirip ayah nak…” ucapnya.
“Hehehe…” aku hanya cengar-cenair
menahan malu.
Esok harinya, dunia gempar. Ekhm, lebay. Sekolah yang gempar. Murid-murid melihatku
keheranan. Semua mata memperhatikan takjub. Seolah menyimpan pertanyaan “ini
beneran Kevin?”
Lalu Jaka, ketua tim futsal
menghampiriku,
“Ini beneran elu, Vin?” tanyanya
sumringah.
“Yoi dong!” aku menjawab percaya
diri.
“Wahh, mantaps gan! Ganteng banget
lo!” katanya memuji.
“Hehe…” aku tak ingin berkomentar atas kegantenganku sendiri. Biarlah
mereka takjub sendiri.
“Wahh, bener-bener berubah lo Vin!”
ujar Bayu, ketua OSIS.
“Yaelah, gini doang kok,” jawabku sekenanya.
“Salut bro! Lanjutkan!” katanya sok
meniru gaya seorang capres.
“Siap kakaak! Hahaha!” aku tertawa,
baru kali ini jadi pusat perhatian dalam pengertian ganteng.
“Keviiin! Keviiin!” cewek-cewek
berteriak ke arahku. Weiss, popularitasku mengalahkan Raka sepertinya. Hahaha.
Namun saat para cewek itu mendekat,
terdengar bel tanda pelajaran dimulai. Kami harus masuk kelas.
“Yaaaah, masuk. Ntar istirahat ya
Vin!” ujar mereka.
“Iya…iya…” ujarku.
Ah, dunia memang serasa indah bila
kita ganteng.
***
Hari itu di sekolah, Raka mungkin
terkejut melihat para fansnya hilang. Secara, mereka pada pindah ke lain hati. Ke mana lagi kalau bukan ke hatiku. Hahaha!
Saat istirahat aku meladeni banyak
pertanyaan. Ada yan minta foto bareng, tanda tangan, bahkan ada yang minta
dicium. Hmmm.
Namun aku juga jual mahal dong, gak
asal serang-serong begitu aja ke pipi orang. Oh iya, tak hanya para murid yang
terkejut. Semua guru, ehm, terutama ibu-ibu guru juga terkejut melihat
penampilanku yang berubah.
“Waah, Kevin jadi ganteng pisan
euy!” komentar bu Hasna, guru IPS kami.
“Kevin! Itu bener kamu? Double what?
Kamu ganteng bangeeeeet!” ujar guru bahasa Indonesia kami yang lebay, Bu Fira.
“Kok ada Nabi Yusuf nyasar ke kelas
kita ya? Itu Kevin atau Nabi Yusuf?” kata bu Aminah, guru agama kami.
Ahhh, seabrek komentar deh pokoknya.
Malamnya, aku memanggil jin galon.
“Hyat! Hyat! Hyat! Steven
dataaaaang!”
Ia pun muncul.
“Oke jin galon, aku punya satu
pertanyaan,” ujarku,” apa sebenarnya permintaanmu?”
Aku sadar, waktuku tinggal dua hari
lagi dan aku harus melakukan sesuatu untuk membuat ganteng ini full version. Jadi, aku harus bertanya
apa permintaan sang jin sebelum bersiap memenuhinya.
“Hahaha! Kau akhirnya berpikir juga.
Permintaanku sederhana…” ucap sang jin.
“….Aku mau ibumu yang cantik itu.”
Triple
what? Dia mau ibu? Enak saja, aku tidak akan sudi kalau ini menyangkut ibu!
“Tidak, tidak, aku tidak bisa kalau
yang itu, apa kau tidak punya permintaan yang lain saja?” tanyaku mengalihkan
topik.
“Tidak. Aku hanya mau itu. Simpel
kan? Ibumu jadi milikku, dan kau akan ganteng seumur hidup,” jin tersenyum.
“Memangnya mau kau apakan ibuku
hah?” tanyaku memberanikan diri.
“Yaaa… aku nikahin lahh. Hehehe,”
ujarnya.
“What?!
Aku tak sudi punya bapak tiri sepertimu!” bentakku keras.
“Baiklah kalau begitu. Ucapkan
selamat tinggal pada kegantenganmu dalam dua hari lagi,” sang jin tersenyum
licik sebelum ia akhirnya menghilang lagi.
Sial! Ini dilema! Aku tidak ingin
mengorbankan ibu untuk jadi ganteng selamanya. Apa yang harus kulakukan?
Ah, pusing! Lebih baik aku bertanya
pada ibu.
“Bu…”
“Iya, Kevin ganteng…?”
Aku pun menceritakan semuanya. Aku
juga menunjukkan bukti-bukti forensik yang dapat menguatkan ceritaku. Semua,
semua kubeberkan. Termasuk permintaan jin tersebut agar gantengku full version.
“Aku ingin meminta pendapat ibu.
Bagaimana baiknya?” tutupku.
Ibu terlihat merenung. Kemudian
menengadah ke langit-langit.
“Asalkan kamu bahagia…. Ibu rela
kok…” jawab ibu. Rasanya, aku ingin menangis saat itu juga di pelukannya. Ia
memang sangat baik. Sangat penyayang. Aku mencintainya dari lubuk hatiku yang
terdalam.
“Bener bu? Makasih ya!” aku
melompat-lompat keirangan sehabis berderai air mata di pelukannya.
Ibu tersenyum.
Akhirnya aku ganteng permanen!
Permanen!
***
Esok harinya , aku dipanggil ke
ruangan kepala sekolah. Di sana, ada aku dan ada Geni, ketua tim cheerleader.
Wajah kepala sekolah terlihat masam, dan Geni menangis. Ada apa ini?
“Kevin, apa ini benar kamu?”
tanyanya padaku sambil memperlihatkan sebuah foto.
Ah! Foto itu terlalu fulgar! Foto
laki-laki dan perempuan yang sedang berciuman. Tapi kok, yang perempuan mirip
Geni, dan yang laki-laki… kok mirip aku?!
“Bukan pak, saya tidak pernah…”
“JANGAN BOHONG!” bentaknya.
Ia memperlihatkan padaku foto-foto
yang lain. Yang kebanyakan sama adegannya dengan foto pertama. Namun posisinya
beda-beda.
“Lalu yang ini, apa benar kamu?”
kepala sekolah memperlihatkan padaku sebuah video. Parah itu video ***********************,
yang perempuan mirip Geni, dan yang laki-laki… kok mirip aku juga??!!
“Bukan pak! Saya tidak pernah
melakukan hal sehina tersebut!” aku mengelak.
“JANGAN BOHONG! GENI SUDAH MENGAKUI
SEMUANYA. KAMI JUGA SUDAH MEMPUNYAI BUKTI YANG CUKUP KUAT! ADA 4 SAKSI YANG
MELIHAT KALIAN MELAKUKAN HAL YANG HINA TERSEBUT!! SAMPAI-SAMPAI SEKARANG GENI
SUDAH HAMIL!!” kepala sekolah membetakku sangat keras dengan kata-katanya yang
di capslock.
“Tapi pak… saya tidak…”
“TIDAK ADA ALASAN APAPUN! SEMUA
SUDAH JELAS! GENI! KEVIN! KALIAN DIKELUARKAN DARI SEKOLAH INI!” tegas sang
kepala sekolah.
Langit seakan runtuh hari itu. Aku
tidak menyangka akan seburuk ini. Ini fitnah, kau tahu! Aku tidak melakukan
apa-apa. Mencium saja belum pernah, apalagi menghamili anak orang?
Aku ingin berontak, namun aku tidak
bisa. Aku hanyalah korban fitnah. Entah darimana foto-foto dan video itu
berasal, juga saksi-saksi itu, aku tidak tahu semuanya! Aku tidak melakukan
apapun!
“Oh ya, satu lagi,” lanjut kepala
sekolah tiba-tiba.
“Kalian harus dinikahkan!”
Glek! Aku menelan ludah.
Satu sekolah menghinaku kembali.
Dasar tidak tahu diri, kata mereka. Baru saja jadi ganteng langsung melakukan
hal yang hina tersebut. Playboy!
Mentang-mentang, dan lain sebagainya. Aku benar-benar sangat terhina hari itu.
***
Hari pernikahan sudah ditetapkan, 2
hari lagi. Aku harus menikah dengan Geni. Tapi aku tidak mencintainya! Apapun
alasannya! Aku terpaksa karena difinah seperti ini.
Di rumah saat malam hari sebelum
pematenan kegantenganku, aku menangis di pelukan sang ibu.
“Bu… mengapa walaupu Kevin sudah
ganteng, tetap saja hidup Kevin sulit?” tanyaku padanya.
“Nak… ibu ingin memberitahumu
sesuatu…” ibu berkata,” ibu pikir, kini sudah saatnya kau tahu semuanya.”
Aku menatap wajah cantiknya.
“Ayahmu… dia memang jelek,” pungkas
ibuku.
“Hiks…” aku melanjutkan tangisanku.
“Namun ibu
cinta padanya. Sangat. Bagi ibu ayah adalah segala-galanya di hidup ini.”
Kulihat perempuan itu mengeluarkan
air mata.
“Mungkin kau bertanya. Ibu sangat
cantik, mengapa ibu mencintai laki-laki yang jelek seperti ayah? Ya kan?”
Aku mengangguk.
“Ayahmu sangat baik. Itu pertama.
Lalu yang kedua, ibu sadar… kalau wajah itu adalah amanah. Tanggung jawab.
Semakin seorang laki-laki ganteng, semakin berat pula tanggung jawabnya. Dan
semakin berat pula cobaan yang akan menerpanya. Seperti kau saat ini,” jelas
ibu panjang lebar.
“Karena fitrahnya, semakin tinggi
batang sebuah pohon….” Ucapnya.
“….maka semakin kencang pula angin
berhembus,” aku melanjutkan.
Ibu tersenyum manis kala itu. Aku
kini mengerti. Semua terlihat jelas sekarang. Aku benar-benar melihat betapa
mulianya hati perempuan yang kupanggil ibu ini. Ia sangat bijak, dan juga
dewasa. Ah, sungguh beruntung ayah dahulu dapat menikahinya.
“Bu…”
“Iya sayang?”
“Aku batal deh, ganteng permanen.
Aku ingin seperti dulu saja. Dengan wajah pas-pasan yang kuturunkan dari ayah.
Dan ibu, tidak jadi kuserahkan pada om jin bodoh itu,” aku sangat yakin dengan
ucapanku yang satu ini.
Ibu tersenyum manis sebelum
menjawab, “Iya sayang, ibu paham kok. Ibu senang akhirnya kau bisa bersikap
dewasa sekarang.”
Kami berpelukan lagi, sebelum aku
memanggil jin galon itu untuk keluar.
“Hey jin! Keluarlah,” perintahku
saat menggosok-gosok galon tersebut.
Tak lama, sebuah asap melingkar
keluar, dan ia sudah ada di hadapanku.
“Hohoho, jadi kau sudah memutuskan?
Kau membawa ibumu yang cantik ke hadapanku,” sang jin tersenyum licik.
“Ya, aku memutuskan untuk
membatalkan permintaanku, kembalikan aku seperti semula dan aku akan tetap
membebaskanmu dari galon ini.”
“Wajah sang jin berkerut.”
“Kau yakin?” tanyanya.
“Sangat yakin!” aku memegang tangan
ibuku.
“Yo! Karena aku jin yang jujur, maka
aku juga membatalkan permintaanku. Baiklah, kau kembali seperti dulu. Cring!”
ucapnya. Ajaib! Wajahku pun kembali seperti dahulu kala.
“Yippi, mungkin ini perjumpaan
terakhir kita. Aku akan pergi mengembara ke seluruh dunia. Jaga dirimu
baik-baik Kevin!” ia pun menghilang.
“…kau juga….” Ucapku terharu. Kok
aku jadi merasa kehilangan ya? Ah biarlah, yang penting, aku dan ibu masih bisa
tetap bersama.
Dan besok, saatnya memberi kejutan
pada Geni.
***
“Aw! Siapa kau? Mana Kevin yang
ganteng? Kau mah lebih mirip monyet dibandingkan manusia! Pergi sana! Jauh-jauh
dariku! Aku tidak akan menikah denganmu!”
Pernikahan itu kacau balau. Geni
yang kaget langsung berlari menjauhi tempat pernikahan. Ia hanya menyukaiku
karena wajahku. Saat wajahku hilang, tentu saja ia akan menolak.
Akhirnya, Geni pun mengakui bahwa
semua ini hanyalah rekayasa. Ia memfitnahku gara-gara ia suka denganku, dan ia
ingin sekali menikah denganku.
Nah, semuanya pun akhirnya jelas.
Geni yang sudah keterlaluan tetap dihukum dan dikeluarkan dari sekolah.
Sementara aku, dibolehkan bersekolah lagi seperti biasa. Kini, murid-murid
kaget dengan perubahanku yang seperti dahulu kala.
Kembali
menjadi jelek.
Namun
sekarang, semua menghormatiku. Aku tidak pernah lagi diejek karena mereka juga
sadar, kalau aku adalah orang baik. Ah,
aku memang menurunkan sifat ayahku. Baik, dan juga memiliki tempat tersendiri
di hati para wanita seperti ibu.
Kini,
aku tinggal menunggu dan berharap, datangnya wanita seperti ibu yang akan
mencintaiku sepenuh hati. Bukan karena wajahku, bukan karena fisikku.
Namun
karena hati.
Karena
dari hati-lah, cinta yang sesunggunya berasal.
-tamat-
Karena wajah, adalah amanah ^-^
Kuningan, 30 Agustus 2012
08.20
Satu lagi; percuma muka ganteng kalo…
Pacarnya juga ganteng! Wkwkwk, Jukid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar