Rabu, 16 Desember 2015

#Serial Sang Badai Eps.1

Waktu membaca: 8-10 menit

Jakarta malam hari, 23 November.

Ernest menerawang. Mengangguk-anggukan kepalanya sebagaimana orang-orang yang menikmati musik. Di bahu pria tersebut bertengger seekor burung kecil, entahlah, mungkin semacam burung pipit. Burung berwarna putih itu diam saja, seakan hanya sebuah hiasan mati yang ditempelkan. Padahal, ia hidup. Tentu saja, mana ada hewan peliharaan yang mati?


Ernest melaju pelan  di trotoar. Sengaja membiarkan tubuhnya tersapu angin akibat mobil-mobil yang lewat. Ia bernafas dalam, pikirannya tak ingin bekerja keras malam ini. Ia sudah lelah seharian berjalan, dan ia pun ingin sekali beristirahat. Ernest memang tipikal pria yang total dalam sesuatu, namun apabila hal tersebut sudah ia lakukan, ia akan sangat lelah dan ingin beristirahat. Hari ini, beberapa hal besar telah ia lakukan. Dan ia ingin sekali beristirahat.

Lalu, tak lama kemudian, lelaki itu menyetop sebuah taksi.

“Hotel Mawar, bang! Cepet ya!”

“Oke mas.”

Taksi itu pun bergabung dengan kerumunan mobil lain di jalan.

***

Esoknya…

Berita Pagi…

Pemirsa, Badan Meterologi dan Geofisika pusat mengabarkan bahwa dalam beberapa hari ini Jakarta akan mengalami badai hebat. Badai tersebut diperkirakan akan menggangu seluruh aktivitas masyarakat yang berlangsung di luar ruangan. Oleh karena itu, BMG menghimbau agar seluruh masyarakat mempersiapkan diri dan tidak keluar rumah selama badai melanda…………………….

Belum sempat berita tersebut selesai dibacakan, sebuah petir besar menyambar menara pemancar stasiun televisi tersebut, membuatnya miring, bengkok, dan tentu saja rusak parah.

Zzzzz….zzzz….zzzz…..

Hanya tinggal suara itu yang tersisa di seluruh televisi.

***

Jakarta, 24 November.

Awan kelabu menutupi langit. Tok, tanpa tersisa warna biru sedikitpun. Air deras mulai mengucuri bumi. Cepat dan kuat. Orang bilang bahwa air adalah kekuatan terkuat di alam, lebih daripada api, maupun angin. Karena air selalu bergerak bersama-sama, dan mempunyai ‘ruang’ di dalamnya. Ia bisa menjadi penjara yang menakutkan.

Ernest duduk santai di kamarnya. Memandangi jendela besar yang langsung menyuguhinyna pemandangan kota. Di luar sana, angin meliuk-liuk, air berjatuhan, dan langit tertutup awan. Tak ada yang buka hari itu. Semua toko, warung, atau apapun itu menutup rapat-rapat pintu mereka. Ia beruntung, karena sedang berada di dalam hotel saat badai terjadi. Setidaknya mungkin ia akan terjebak di sana selama beberapa hari.

Pria itu tersenyum. Ia mengalihkan pandangan ke sekeliling, mengerutkan dahi, dan mulai mengarahkannya lagi ke jendela. Ia tahu, bahwa Jakarta belum pernah mengalami badai seperti ini. Dan mungkin, belum ‘akan’ pernah di seluruh belahan dunia manapun.

Jakarta, ah, kota yang penuh hiruk pikuk ini seakan mati di tengah amukan badai.

***

Kantor Pusat BMG…

“Bagaimana ini bisa terjadi? Dari mana datangnya badai tersebut?!” Galang, sang ketua BMG pusat bertanya pada seluruh bawahannya.

“Kami tidak tahu pak! Namun arah datangnya awan dari tenggara. Kami tidak bisa memprediksi penyebabnya. Padahal, sekarang musim hujan dan seharusnya awan tertiup angin dari arah Barat laut!” Kaffeni, kepala penelitian cuaca menjawab.

“Ini aneh sekali…” Galang mengelus dagunya.

“Apakah mungkin karena efek pemanasan global pak?”

“Itu bisa saja terjadi, tapi pasti ada sesuatu yang besar di balik semua ini,” Galang berpikir, namun kemudian berbalik badan,” tetap awasi pergerakan awan! Aku ada urusan sebentar…” Lelaki itu masuk ke dalam ruangannya.

***

Jakarta porak poranda. Badai mulai mengganas semenjak kedatangannya 15 menit yang lalu. Jalanan mulai tergenang air, mobil-mobil yang masih terparkir di luar hanyut bagaikan dedaunan. Orang-orang tak ada yang berani keluar. Semenjak awan datang, mereka berhamburan ke sana-sini, mencari tempat perlindungan yang aman.

Petir pun menyambar terus menerus. Menambah cekam suasana pagi yang harusnya cerah dan ceria. Sekolah tutup. Anak-anak menjerit ketakutan. Orang-orang yang tak sempat pulang ke rumahnya untuk berlindung hanya dapat masuk ke gedung-gedung yang ada di sekitarnya. Tak peduli gedung apapun itu. Mall, pengadilan, bahkan gedung KPK yang lama (walaupun yang baru belum juga dibuat). Semua kacau balau.

Rumah-rumah kardus, warung rokok, dan bangunan-bangunan kecil hilang terbawa arus. Termasuk juga para penduduk yang tinggal di dalamnya dan tak berusaha menyelamatkan diri. Hilang. Hanyut. Mati. Tak berbekas.

***

“Sial, apa arti semua ini?!” Galang meninju meja kerjanya.

Pria itu mengangkat kepalanya ke atas, melihat langit-langit di atas ruangannya. Ia mendesah pelan, seperti mepertimbangkan sesuatu yang harus atau tidak ia lakukan. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Membuatnya jelas terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Baiklah, sepertinya aku harus melakukannya,” Galang memejamkan mata.

***

Perumahan elite Bougenville Jakarta Selatan…

Firly menenangkan anak lelaki semata wayangnya. Semenjak tadi, Robby terus saja menangis tak karuan. Oh, mungkin lebih tepat bila dikatakan ‘menjerit’. Petir menyambar terus menerus semenjak tadi. Itulah hal yang membuat Robby menjerit. Umurnya memang masih 4 tahun. Jadi, masih banyak hal di dunia ini yang ia takuti. Seperti misalnya, monster di bawah temapt tidur, atau semacamnya. Namun hal tersebut hanya ada dalam khayalannya, beda dengan petir-petir ini. Semua nyata.

“Sudah sayaang, berhenti menangis, sebentar lagi ayah pulang kok,” Firly tersenyum menenangkan, nalurinya sebagai ibu membuatnya paham bahwa saat ini sang anak sedang membutuhkan sang ayah untuk menjaganya.

“Huaaaa…!!!” Robby berteriak.

“Ayolah… ibu mohon, ayo kita ke kamar, lebih baik kita tidur ya?” Firly menggendong sang anak. Membawanya ke kamar,” dengar, begitu ayah pulang, semua akan baik-baik saja, oke?”

Robby mengangguk.

Sang ibu pu menyelimutinya dengan selimut hangat, sebelum kemudian berjalan keluar kamar.

Firly berjalan menuju dapur. Air hujan masih saja mengetuk-ngetuk deras atap rumahnya. Baru kali ini perempuan itu melihat badai sedahsyat ini. Ia berharap agar semuanya tidak bertambah parah. Seperti mungkin, akan ada angin topan? Atau tornado. Angin kencang saja sudah menakutkan, apalagi angin tersebut?

Rasa-rasanya, badai yang biasa terjadi di tengah samudra Pasifik dipindahkan begitu saja ke sini. Ke tengah kota. Sampai, lihatlah, badai tersebut seperti mencoba mengubah kota ini menjadi laut. Firly bergidik membayangkannya. Satu lagi, ia juga berharap agar suaminya, Galang, ada di sini bersamanya.

Oke, mari kita kabulkan harapannya.

Galang muncul dari dalam kamar mandi rumah. Dengan pakaian yang basah kuyup, serta rambut yang awut-awutan. Ia terlihat seperti orang yang habis menerjang badai. Atau mungkin seperti orang yang habis tenggelam di laut dan baru kembali ke dek kapal. Apapun itu, yang jelas dia terlihat sangat kacau.

“Oh, kau baik-baik saja?” Tanya Firly, sang istri sambil menyelimutinya dengan sehelai handuk.

“Yah, tidak apa-apa. Di mana Robby?” Galang menelungkup badannya.

“Ia sedang tidur di kamarnya,” jawab sang istri.

“Syukurlah kalau begitu,” Galang tersenyum.

“Sayang, apakah kau habis….” Ucapan Firly terpotong dengan anggukan sang suami.

“Ya, dan aku curiga ada yang tidak beres dengan badai ini. Aku harus menghentikannya,” ujar Galang kemudian.

“Apakah tidak ada yang lain?” Tanya FIrly.

“Aku ragu. Kami sudah tak bertemu dalam waktu yang lama. Aku tak yakin mereka ada di mana sekarang,” jawab Galang.

“Apa yang bisa kubantu?” tanyanya lagi.

Galang tersenyum manis sebelum menjawab,” jaga Robby baik-baik. Aku segera kembali.”

Pria itu pun berjalan menuju pintu, membukanya, dan tersenyum lagi pada sang istri sebelum dengan cepat melesat ke udara. Menerobos jarum-jarum air yang berjatuhan. Terbang. Ya, terbang. Tujuannya hanya satu, menemukan si biang kerok pembuat badai ini.

***

Ernest mendeteksi sesuatu yang tidak beres. Ia sedang bersender di sofa kala itu. Menikmati secangkir teh hangat dengan menyeruputnya. Dan melihat pemandangan yang indah di balik jendelanya. Badai, hal terindah yang pernah terjadi.

Ernest menggerakkan badannya. Terdengar ada bunyi “krek” yang berasal dari tulangnya. Tanda bahwa ia sedang pegal. Kemudian pria itu berjalan menuju cermin.

“Ah, aku sudah lama tidak bercukur,” ujarnya.

Ia mengambil sebatang pisau, dan mulai menghabisi helai-helai jenggot yang tumbuh di belahan pipi dan dagunya.

Namun tiba-tiba saja dahinya berkerut.

“Sial, ada yang datang,” gumamnya.

***

Galang melesat cepat di langit. Ia parau melihat Jakarta dari udara. Penuh kekacauan. Entah berapa banyak korban yang akan berjatuhan. Kota ini cepat atau lambat akan mati. Dan hancur begitu saja dengan badai.

Ia melihat ke semua sisi. Menaruh tangan di hidung, dan kemudian mulai mengendus pelan ke segala arah.

Selatan, aku tahu di mana dia berada, ujarnya dalam hati.

Pria itu pun kembali melesat menembus badai.

***

Ermest mengelus rambutnya. Paham dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Atau lebih tepatnya, dengan apa yang akan datang sebentar lagi. Ia pun menyiapkan sebuah rencana, dan kembali duduk di sofanya. Menyeruput teh.

Dan dalam beberapa detik, sesuatu dari jauh tampak melesat ke arah kamarnya. Cepat sekali. Lalu tanpa bisa menghitung satu detik lagi, sesuatu itu telah sampai di hadapannya. Berdiri tegap. Menatapnya tajam.

“Ernest sang badai….” Galang berucap pelan.

“Jadi kau biang keroknya? Sudah kuduga…” pria itu berkata lagi,” apa masalahmu?”

Ernest hanya tersenyum,” sejujurnya aku tak punya masalah apapun…”

“….Galang sang atmosfir,” ia kembali menyeruput tehnya,” aku hanya sedang ‘bersenang-senang’.”

“Keparat!”

Galang menerjang Ernest dengan cepat. Namun sang badai terlebih dahulu bisa menghindar. Ia bergeser ke arah kiri, kemudian menyentik jarinya. Tiba-tiba, di luar sana tercipta sebuah tornado. Suasana bertambah kacau dan menjadi-jadi.

“Kau tentu tahu, siapa yang memegang kendali atas apa yang akan terjadi di luar sana bukan? harusnya kau berpikir dulu, Galang, sebelum menyerangku secara brutal seperti itu,” Ernest tersenyum licik.

“Sial…” Galang bergumam.

“Hahaha, tenang saja, aku akan pergi kok. Tapi mungkin…”

“…Setelah tak ada lagi yang bisa diamuk oleh badai.”

Galang menunduk. Ia mengepalkan tangan tanda siap tempur. Dari dalam tubuhnya tiba-tiba keluar uap-uap panas. Matanya menjadi biru. Sang atmosfir bersiap untuk melawan.

“Seandainya saja di sini semua berkumpul…” Galang berucap.

“…tentu akan lebih asyik lagi.”

Seperjuta sekian detik berlalu. Kasat mata sekali Galang melesat, menarik tubuh Ernest bahkan tanpa bisa ia sadari sedikitpun, dan begitu sadar, sang atmosfir telah menariknya ke atas badai. Tepat di atas awan-awan kelabu yang didatangkannya.

“Kau bisa saja berbuat semaumu, Ernest, tapi ingat, selama aku masih ada, aku akan selalu menjaga apa yang berada di bawah atmosfir.”

Ernest tersenyum. “Sayangnya, kau tidak selalu bisa, Galang.”

“Mengapa kau kembali dari luar angkasa?! Bukankah lebih baik kau membuat banyak badai di Saturnus?! Seperti yang biasa kau lakukan, atau Jupiter?! Aku tidak menyangka kau tega!” Galang berteriak.

“Aku punya alasan tersendiri. Enak  sekali kau bisa menempatkanku di sana. Di sana tidak ada apa-apa, kau tahu?!!” Ernest membalas.

Di bawah sana, tampak bahwa badai bertambah parah. Mungkin saja Ernest telah menambah beberapa tornado lagi, atau mungkin petir-petirnya telah menyambar beberapa gedung sampai runtuh.

“Aku harus menjaga keseimbangan alam, Ernest. Kau tidak boleh berada di sini,” Galang memejamkan mata. Mengingat kejadian beberapa ratus tahun yang lalu.

***

Semua berkumpul. Dalam suatu lingkaran yang cukup besar. Tampak di sana ada 5 orang. Ada Papa sang cahaya, Galang sang atmosfir, Wafee sang tanah, Mari sang air, dan tentu saja, Ernest sang badai.

Mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Ya, seperti biasa yang sering mereka lakukan, mereka membicarakan tentang keseimbangan alam. Apa yang butuh ditambah, dan apa yang harus dikurangi. Selama ini mereka telah berjuta tahun melakukan hal tersebut. Bumi, dari fase ke fase.

Mulai dari fase awal pembentukan, saat pertama kali bumi masih sebuah planet tanpa kehidupan. Ia sering sekali dilanda badai. Lalu saat mikroorganisme tumbuh secara pelahan, semakin banyak dan semakin banyak makhluk hidup ada, akhirnya atmosfir pun semakin terbentuk. Badai di kurangi.

Saat dulu zaman di mana bumi baru lahir, hewan-hewan besar lah yang merajai dunia, laut (baca: air) masih tidak terlalu luas, dan daratan (baca: tanah) mendominasi isi bumi.

Lalu seiring bertumbuhnya makhluk hidup, laut semakin luas, karena kebutuhan mereka. Daratan yang semula sangat luas, diperkecil secara perlahan. Pangea pun menyusut, hingga terkadang tercipta pula sebuah kepulauan.

Ya, dan tentu saja, cahaya terus memasok ke dalam bumi. Membantu pertumbuhan semuanya. Papa sang cahaya, yang juga pemimpin alam, selalu berusaha menjaga keseimbangan dunia.

 Pertemuan pun dimulai.

Galang yang pertama melapor. Atmosir tampak tenang belakangan ini. Tak ada yang terlalu berpengaruh kecuali beberapa perkembangan industri yang mulai menyebarkan polusi. Khawatirnya dalam beberapa ratus tahun ke depan akan terjadi perkembangan pesat yang akan mempengaruhi atmosfir secara besar-besaran. Bila hal tersebut terjadi, maka hancurlah dunia ini.

Papa menarik nafas. Ia berkata bahwa hal tersebut sudah diatur. Bahkan mungkin suatu saat nanti dunia akan berakhir. Ah, bukan, bukan mungkin, tapi pasti.

Namun tiba-tiba, Ernest bicara.

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu.”

Semua mata menatapnya.

“Aku tak tahu, namun entah mengapa, semakin lama dunia ini semakin berubah. Yaa, kalian tahu, aku jadi semakin merasa tak dibutuhkan di sini. Setelah makhluk hidup bertambah banyak, dan peradaban mulai terbentuk, aku juga secara perlahan mulai dilarang untuk menunjukan diri. Bila semua ini semakin menjadi, aku berpikir untuk…”

“…melawan.”

“Kau gila!!” Wafee melabrak dengan cepat.

“Kau ingin melawan Sang Pengatur Alam??! Itu sama saja dengan pengkhianatan!” Lanjutnya.

“Tenanglah Wafee, biarkan dia bicara lagi,” Papa menengahi.

“Ya, aku sudah selesai. Intinya, aku merasa sangat tidak dibutuhkan di sini. Tidak seperti kalian yang setiap hari bisa bekerja. Aku hanya ditugaskan sesekali saja. Cih, memuakkan.”

“Hey, Ernest, tenanglah, kami masih butuh kau,” Mari tersenyum,” kau yang justru mengatur semua ini Ernest.”

“Bah! Aku muak dengan aturan-aturan! Semua tampak tak berguna bagiku!” Ernest menggalak. Di bawah sana suara petir terdengar.

“Biar kami jelaskan, Ernest…” Papa berbicara,” manusia membutuhkan kau sebagai pemberi peringatan. Bila kami terlalu memanjakan mereka, tentu saja mereka akan lalai dalam mengingat Tuhan, dan kau, kau lah yang akan memberi mereka peringatan bila mereka telah lalai.”

“Tapi aku jarang dipanggil!” Ernest melawan.

“Bila terus seperti ini, aku lebih memilih pergi, Papa!” ia membentak begitu keras sehingga badai mengamuk di bumi.

“Sudahlah saudaraku… santai sedikit…” Galang berbicara.

“Diam kau! Aku tidak tenang saat ini, berbeda dengan kau yang setiap hari dapat bertugas di sana. Atmosfirmu yang menjijikkan!”

“Hey! Jangan menghinaku!” Galang mencoba memukul.

“Sudahlah! Diam kalian semua!” Papa berteriak.

“Ernest, bila itu maumu, aku tak bisa melarang. Pergilah, pergilah ke luar sana. Cari sebuah planet yang dapat kau amuk dengan badaimu. Dan kalian, tetaplah tenang dan lanjutkan rapat ini.”

Ernest memalingkan muka, dan kemudian bersiap. Ia telah memutuskan untuk pergi. Baiklah, bila itu maunya.

Galang dan yang lain melanjutkan rapat. Sedikit merasa kehilangan karena nanti mereka hanya akan tinggal berempat.

***

“Kau masih ingat saja,” Ernest berkata.

“Setelah kejadian itu, aku sudah lama tak bertemu dengan semuanya. Kami fokus dengan tugas kami masing-masing hingga rapat kembali dimulai seribu tahun lagi.”

“Yah, terserah kalianlah, yang jelas aku bukan bagian dari kalian lagi, hahaha,” Ernest tertawa jahat.

“Mari kita tuntaskan, Galang, perkelahian kita yang tak sempat terlaksana waktu itu.”

Ernest maju. Ia terbang dengan cepat dan memukul Galang tepat di wajahnya. Sang Atmosfir pun terjengkang ke belakang, namun tetap dapat menjaga keseimbangan.

“Aku tidak takut,” ujarnya.

Lalu tiba-tiba sebuah bongkah udara menjepit Ernest dengan keras. Sang badai tak bisa bergerak. Ia terjepit begitu kuat. Namun bukan sang badai namanya bila ia kalah secepat itu. Ernest pun mengeluarkan petir dari dalam tubuhnya untuk memecahkan udara tersebut.

“Kita lihat, seberapa hebat kemampuanmu,” Ernest tersenyum licik.

Sang badai bergeming. Ia melebarkan kedua tangannya, dan kemudian mengeluarkan beberapa petir lagi. Tepat sasaran mengenai Galang. Sang atmosfir pun terjatuh ke bawah, namun dengan cepat bangkit lagi. Ia terbang ke atas, ke arah lapisan-lapisan atmosfirnya. Kemudian, sang atmosfir datang kembali.

Galang meluncur dengan sebuah meteor di tangannya. Memegang ekor panas tersebut seperti Naruto yang sedang memegang rasengan. Meluncur ke arah sang badai. Rupanya Galang mengambil sebuah meteor yang ada di lapisan atmosfir, dan memanfaatkannya sebagai senjata.

Ernest tak tinggal diam, ia mengeluarkan petir, dan memegangnya pula seperti Sasuke yang sedang memegang chidori. Ia bersiap menanti luncuran meteor itu.

Dan terjadilah benturan tersebut.

Bila melihatnya dari bumi,  ummat manusia akan melihat cercah cahaya yang begitu mengkilat dari atas awan, membuat sebuah lubang besar di barisan gumpalan kelabu itu. Lalu tak lama terjadi sebuah ledakan. Kuat, silau, dan juga besar.

Ledakan itu menyebar. Setidaknya ia menyebabkan awan-awan kelabu itu musnah tak tersisa. Semua penduduk Jakarta yang menyaksikan dapat melihat cahaya yang sangat menyilaukan tersebut, dan juga merasakan udara yang keluar dari dalamnya.

Spalssh… 20 detik setelah ledakan, semua menghilang. Awan, badai, dan juga hujan. Manusia itu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Di atas.

Galang memegang dadanya. Benturan tadi menyebabkan luka yang sangat parah di tubuhnya. Pun terjadi kepada Ernest, namun ia tetap berdiri tegap. Berbeda dengan sang Atmosfir yang terlihat sudah tak berdaya.

“Rasakan itu…” Ernest berbalik. Ia tahu bahwa tak lama lagi sang atmosfir akan mati. Dan ia, ia akan pergi lagi. Tujuannya kini adalah mencari Mari. Untuk membunuhnya pula. Well, badai akan berkuasa nantinya.

Galang tak dapat merasakan tubuhnya. Ia benar-benar habis setelah semua terjadi begitu saja. Namun yang terpenting, ia berhasil menghilangkan badai di kota.

“Selamat tinggal, Galang sang atmosfir…” Ernest melesat ke utara. Meninggalkan tubuh tak berdaya itu jatuh ke bumi.

***

Penduduk Jakarta keluar dari tempat perlindungannya. Mereka bergembira karena badai yang sangat dahsyat itu telah selesai. Merekah-rekah senyum dari bibir tiap orang. Ah, sungguh pagi akan kembali ceria.

Namun tampak sebuah pemandangan yang menakjubkan, mereka melihat sesosok manusia jatuh dari langit. Tanpa apapun. Terjun bebas begitu saja. Semuanya, manusia-manusia itu sungguh tidak tahu apa yang teah terjadi.

***

Headline news…

Ketua BMG pusat, Galang Setiabudi, ditemukan meninggal setelah jatuh dari langit. Entah ini sebuah keajaiban atau apa, namun semua orang meyakini bahwa ialah yang telah meredakan badai dahsyat yang baru saja melanda ibukota. Kejadian ganjil ini belum pernah tejadi di manapun di dunia. Berikut ini adalah video yang diambil oleh kami, yang menampakkan jatuhnya ia dari langit.

Bersambung.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar