Rabu, 16 Desember 2015

#Cerpen Apa Artinya Merah, Biru, Netral

Waktu membaca: 8-10 menit

Gesa memandangi kampus itu dengan tatapan haru. Tempatnya belajar dengan giat selama 6 tahun, berjuang untuk menggapai gelar sarjana yang telah lama ia cita-citakan. Ya, sekarang ia sudah wisuda. Mendapatkan semua yang diinginkannya sejak sekolah menengah pertama dulu.

“Hai bu dokter!” Yuli, teman kost-annya menyeringai lebar. Sama-sama senang.


“Eh Yuli! Selamat yaaa, udah jadi bu Psikolog sekarang,” Gesa membalas senyum temannya tersebut dengan senyum yang lebih indah lagi. Yuli ini adik kelas Gesa, masuk 2 tahun setelah ia mulai berkuliah, namun, karena kuliah kedokteran itu.. Ya begitulah. Akhirnya mereka lulus di tahun yang sama. Malah Yuli yang wisuda duluan daripada Gesa. Yuli bulan lalu, Gesa bulan ini.

“Hehehe, biasa aja dong, jadi malu kan dipanggil begitu,” Yuli memegang pipinya yang memerah.

“Ya kan kamu duluan juga yang manggil bu dokter!” Gesa balik menyalahkan.

“Hehehe iya juga sih. Eh, abis ini kamu mau ke mana?” Tanya Yuli.

“Mau ke kamar mandi nih, buang hajat,” Gesa menjawab cepat.

“Bukaaaaaan, maksudnya mau lanjut hidup di mana?” Yuli menyeringai sebal karena Gesa salah tanggap.

“Ohhh, ya palingan ngelamar ke rumah sakit-rumah sakit baru yang sekarang banyak bermunculan. Dekat rumahku aja ada 3 yang baru. Mereka lagi nyari dokter-dokter juga kan, apalagi kalo tau sekarang lagi wisuda FK (Fakultas kedokteran) juga. Beuuuh, pasti kita jadi buronan dah. Hahaha…” Gesa ketawa,” kalo kamu gimana Yul?”

“Emmm, sini kubisikin…” Yuli memberi isyarat pada Gesa untuk mendekatkan telinga padanya,”………………………………………………….”

Saat bisik-berbisik itu, Gesa tersenyum-senyum,” GILAA, SERIUS LU UDAH DILAMAR ORANG???? LANGSUNG NIKAH SAMBIL NYARI KERJA???? WAHHH, SELAMAT YA!!!”

Sumpah tuh Gesa blak-blakan banget.

“Ssst! Pelan-pelan dong! Itu orang pada denger, malu guenya,” Yuli menutup muka. Tak menyangka si Gesa bakal terang-terangan gituh. Dan benar saja akhirnya orang-orang menoleh. Walau kebanyakan adalah anak FK. Tapi, siapa sih yang gak kenal Yuli? Cewek ter-hyper aktif yang juga penyiar terkenal di radio kampus. Mau nikah? Wah ini berita keren!

“Wahh, Yul! Selamat ya! Sama siapa nih? Hehehe, jangan lupa undang anak-anak FK ya!” Ujar Bayu.

“Iya Yul, undang gue juga, ntar nyusul kok ke atas sana!” ujar Dea sambil menyikut cowok di sampingnya,” tapi tergantung si ininya nih, kapan mau ngelamar gue.”

Kemal, yang tak lain adalah cowok yang disikut oleh Dea, hanya bisa tersenyum tersipu. Si Kemal dan Dea emang pasangan yang lucu. Bayangin aja, tinggi kemal tuh sebahunya Dea, jauh lebih pendek. Hahaha.

Mendengar guyonan Dea, semua orang yang ada di sana pun tertawa. Termasuk Gesa dan Yuli.

“Selamat ya!” Hampir semua anak FK datang menyalaminya. Yuli hanya bisa tersenyum malu-malu.

“Ibu denger kamu dilamar sama lulusan pesantren nih? Wah, gak nyangka, selamet jadi bu Ustadzah ya Yul!” Kata bu Siti, seorang Dosen yang juga kebetulan ada disana.

“Jelas lah ibu denger, wong orang tua saya temen deketnya ibu,” Yuli menukas.

`”Hehehe,” Sang bu Dosen terkekeh.

“Beuhhh, bu ustadzah, ntar buka ya, praktek Psikolog Islami. Hahaha,” yang lain ikut menimpali.

“Hahaha, iya-iya,” Yuli tersenyum-senyum (terus)

“Eh, btw, lu kapan nih Ges? Gua tunggu ya! Jangan jadi perawan tua sis! Umur lu udah 25. Hehehe!” Yuli berkata saat adegan selametan itu berakhir.

Gesa, ya, Gesa, terbuyar dari lamunannya,” Eh, gue? Kapan ya? Gue mah nunggu dilamar seseorang aja yang bisa ngebahagia-in gue luar dan dalem. Doain aja ya Yul!” Gesa tersenyum. Manis sekali. Sampai-sampai tak ada yang bisa menebak bahwa ada luka yang menganga begitu besar di dalam hatinya. 6 tahun ini, 6 tahun penuh memori yang tak akan ia lupa seumur hidupnya.

***

Aku Gesa. Sang bu dokter tadi. Ya, sekarang kita berganti sudut pandang tokoh dalam cerpen ini. Marilah kuceritakan kawan, semua kejadian, tirai-tirai memori yang sangat lekat dalam ingatanku. Tentang seseorang, yang begitu kucintai. Yang telah sama-sama merangkai kenangan indah bersamaku. Ingatlah seorang itu. Laki-laki itu. Laki-laki yang tadinya kukira dapat menjadi orang yang bisa membahagiakanku luar dan dalam.

6 tahun yang lalu….

Aku baru pertama kali menginjak almater ini. Sebuah kampus impian, tempatku akan bergelut dengan ilmu yang kubutuhkan untuk menggapai cita-citaku. Ilmu kedokteran. Ya, cita-citaku menjadi dokter.

Aku sampai, dan langsung disambut oleh kakak-kakak kelas senior kami, para mahasiswa lama. Aku yang semenjak SMA telah bergaul dengan anak-anak kuliahan langsung dapat tahu apa yang musti dilakukan. Tentu saja karena sering mendapat cerita dan tips-tips dari mereka.

Mulai dari cowok-cowok gondrong yang bertebaran, yang sok seniman, yang kemana-mana bawa laptop, yang berkacamata tebal, yang playboy, yang idaman, yang anak BEM, yang anak Pecinta Alam, sampai yang anak radio. Semua telah kurekam baik-baik dalam ingatan, apa yang harus kulakukan pertama kali.

OSPEK.

Ah, mendengar kata itu aku jadi agak merinding. Begitu tahu OSPEK adalah semacam ajang peng-keceng-an mahasiswi baru yang cantik and ‘bendino’, aku jadi agak merapatkan pakaianku saat pertamanya. Hmm, gak akan beda-beda jauh sama MOS mungkin.

OSPEK pun berjalan sukses, aku dapat mengenali semua tetek bengek kampus, mulai dari kamar mandi hingga ruangan rektor, mulai dari kantin sampai ruang siar Radio. Aku juga tahu info-info penting yang, walaupun sebenarnya sebagian telah diberitahu oleh teman-temanku sejak SMA dulu. Namun, mereka kan beda kampus. Jadi gak terlalu sama-sama amat dong?

Saat itu, tak ada apapun di benakku selain belajar dan belajar, karena ku tahu persis apa yang akan kuhadapi dengan seabrek materi kedokteran yang nantinya akan kuterima. Tak ada waktu untuk bermain! Tak ada waktu untuk bersenang-senang! Tak ada!

Aku begitu keras pada diriku sendiri. Saat OSPEK sekalipun, aku mengikuti dengan sangat baik, sehingga saat itu terpilih sebagai mahasiswi baru teladan. Maju ke depan dan mendapat penghargaan saat acara penutupannya. Oke, tak berlebihan, tapi ini juga bisa menjadi penyemangatku di keesokan harinya.

Aku terus belajar dengan giat saat semester pertama. Hasilnya pun memuaskan. Aku bersyukur kepada Tuhan, dan juga memberikan ‘tanda syukur’ itu dengan menyedekahkan setengah uang jajanku. Bahkan selanjutnya aku berjanji bila mendapat nilai yang bagus lagi, aku akan berbuat ini dan itu. Ah, janji pada Tuhan memang akan mendapat balasan yang baik.

Saat semester 1, SKS kami masih berupa pelajaran umum, agak kurang seru menurutku. Namun apapun itu, yang namanya pelajaran pasti takkan sama di tiap tingkatannya. Walaupun yang kami pelajari masih belum terlalu mendalam, kami sering mendapat tugas yang baru, mendapat materi yang baru, dan yang paling menyebalkan, di suruh mencari referensi.

Aku pernah dapat sekali, di suruh mencari referensi buku tentang cabang-cabang ilmu kedokteran. Saat itu yang kupikirkan adalah pergi ke toko buku bekas dan membeli buku yang paling murah yang kutemui. Namun masalahnya satu. Bila kau pergi ke toko buku bekas, maka kau tidak akan selalu mendapat apa yang kau harapkan dengan baik.

Di sana, aku kebingungan mencari. Begitu banyak tumpukan buku, bahkan bila bertanya kepada penjaganya, ia hanya berkata, cari di bagian kedokteran atuh neng!

Sial, padahal di sini tak ada bagian itu.

 Dan saat itulah aku bertemu dengannya. Dengan pria itu. Kami bertabrakan saat sedang di belokan menuju bagian buku yang lain.

“Aww!” teriakku saat terjatuh.

“Eh, sori, lu gapapa kan?” tanya cowok itu, seraya mencoba membantuku berdiri.

“Gapapa, gak usah dibantu, gua bisa sendiri kok,” aku mencoba tersenyum.

“Lu Gesa kan? Mahasiswi teladan itu?” Tanyanya terbelalak. Lebay sih menurutku mah.

“I..iya, lu siapa ya?” tanyaku.

“Gue Tio, anak FK juga. Salam kenal ya!” ujarnya antusias. Benar-benar membuat kesan pertama yang baik. Walau mukanya biasa saja.

“Salam kenal juga, tapi kok gua gak tau lo sih?”

“Kita kan beda kelas,” jawabnya.

“Hmmm… iya,” aku bicara sekenanya saja.

“Lagi ngapain di sini?” ujarnya dengan enjoy sambil merapihkan posisi tas gendongnya.

“Di suruh nyari buku referensi dah.”

“Ohh, tentang apa?”

“Kepo deh,” aku mengatai.

“Yaaaa kan siapa tau aja gua bisa bantu,” mukanya seperti cemberut gitu, lucu deh.

“Hehehe, iye-iye, gua nyari tentang cabang-cabang ilmu kedokteran. Paling males nih kalo nyari buku, enakan lewat internet. Tinggal set…sett… google kan tau segalanya.”

“Bener-bener, hahaha, cari praktis aja ya? btw, kalo buku itu, gua ada di kost-an, lu mau minjem gak?” Tawarnya padaku.

“Wahh, serius lu? Thanks ya!” Ujarku gembira.

“Iye, mau kapan? Sekarang?” Tanyanya lagi. Sepertinya tiap kali bicara ia tak lupa memasukkan senyum deh

“He-eh, biar tenang.”

“Yaudah, jalan aja, dari sini kost gua deket kok. Yuk!”

“Iya.”

Kami pun berjalan keluar toko, mengambil arah kiri, dan berjalan di trotoar.

“Cita-cita lu apa Ges?” ia tiba-tiba bertanya.

“Eh, gue? Ya jelas jadi dokter lah, ngaco aja lu, wong gua udah masuk FK.”

“Hahaha, iya sih, tapi bisa aja kan orang masuk FK walau cita-citanya bukan jadi dokter, kayak gue aja.”

“Emang cita-cita lu apa yo?

“Cita-cita gue Wartawan.”

“Lahh, kok lu masuk FK? Sinting apa dah?” Tanyaku keheranan.

“Hahaha, justru itu gua baru bisa jadi wartawan kalo gua masuk FK,” jelasnya yang malah membuatku makin tak mengerti.

“Emang napa?”

“Biasalah, masalah sama ortu gue… eh, kok gua jadi kayak curhat gitu dah, kita kan baru kenal. Azzz,” ekspresi Tyo menunjukkan sebuah rasa malu.

“Yaelah, temen satu Fakultas ini… lagian siapa tau kita bisa jadi temen baik, ya kan?” nah, saat itu, aku yang entah dari mana seperti ‘tertarik’ dalam magnet kepribadian Tyo. Aku yang dari awal sudah menyukai sikapnya. Yang enjoy, bersemangat, dan rada gila. Benar kata orang memang, kesan pertama tuh akan merentet pada pandangan kita terhadap seseorang.

“Oke dah, ya biasalah, gue tuh dari awal emang punya keinginan yang berbeda ma ortu. Gue mau A, mereka mau B. kayaknya sih, apa-apa serba oposisi,” Tyo sangat ekspresif saat bercerita. Hahaha, apalagi wajahnya yang mudah berganti mimik.

“Hm… terus-terus?” aku menyuruh.

“Ya begitulah. Gue pengen jadi wartawan, mereka pengen gue jad dokter, akhirnya…” ia memotong kalimatnya.

“Kalian ngambil jalan tengah?”

“Yups, dan lagipula, kalo lu liat lowongan pekerjaan sebagai wartawan juga kan persyaratannya pasti. Lulusan S1 jurusan apapun. Ya boleh dong, lulusan FK ngelamar… ya gak?”

“He-eh, iya juga sih.”

“Dan kayaknya cuman gua dah, lulusan FK yang gak jadi dokter ntarnya.”

“Ah, lu-nya aja bego,” enak sekali rasanya mengatai cowok itu.

“Eh, enak saja! Awas ya!” ia mencoba menjitakku, namun aku lebih dulu menghindar. Hahaha, enak saja bisa menjitak.

Hari itu, aku bertemu teman baru. Yang sekaligus nantinya akan menjadi teman dekatku *ehm. Yaaa, setidaknya, dalam hal pinjam-meminjam buku. Hehehe.

***

Dua tahun pun berlalu, dua tahun yang penuh dengan kesibukan, seabrek materi dan ujian. Dalam dua tahun ini, akhirnya aku memiliki teman kos baru. Teman sekamar malah. Yha, si itu.

“Eh, Yul! Tungguin gua dong!” ujarku sambil berlari menyusul si teman se-kampus se-kostan. Si Yuli itu.

“Buruan nih, gua buru-buru takut kantor posnya keburu tutup!” ia berujar dari depan sana. Ckckck, jalannya seperti setengah berlari saja.

“Emangnya ngapain sih lu ribet-ribet ke kantor pos buat ngirim surat? Haloooo? Sekarang kan ada E-mail!” Aku bertanya setengah meledek padanya saat sudah tersusul.

“Ah, diem aja deh lu, ini emang udah kebiasaan gue semenjak SMA. Lagian kayak gini kan lebih asyik,” Yuli memeletku.

“Iya dah terserah,” aku manyun saja.

Yuli tidak mau bercerita tentang orang spesial yang suka ia kirimi surat-surat lewat pos itu. Aku pun tidak kepo lebih lanjut. Aku lebih memilih untuk memikirkan orang spesial yang kupunya. Tyo.

Oh, ya, bagaimana dengan Tyo? Aku tidak melupakannya kok. Aku bahkan menjadi sering datang ke kost-annya untuk meminjam buku. Namun terkadang bila ia sedang banyak uang aku sekalian diajaknya untuk makan bareng. Ah, sekedar teman. Lumayan lagian bagi-bagi rejeki dia. Tak ada yang aneh dalam hubungan kami. Tak ada yang menggunjing, tak ada yang menggosip. Mungkin memang popularitasku sebagai mahasiswa teladan tak bertahan lama. Sekarang, aku sama seperti yang lain. Tidak terkenal namun tetap dapat dikenal.

Aku baru sadar saat perasaan itu tumbuh di semester 4. Saat itu dia mengajariku untuk bermain gitar di atap kampus. Ah, sore itu. Aku selalu dapat mengingatnya dengan jelas. Sebenarnya sih, acara ini bukan aku yang meminta. Saat itu aku sedang jenuh-jenuhnya dengan materi kuliah sehingga aku… ehm… curhat gitu ke Tyo. Ia berkata bahwa ia mempunyai sesuatu yang bagus. Kemudian,  sore itu kami pergi ke atap kampus untuk sekedar menikmati udara segar sore hari. Ia pun memainkan gitar yang sengaja ia bawa dari kost-an.

“Mau denger gak? Ini keren loh,” ujarnya padaku di sana.

“Lagu apa?” Tanyaku.

“Ini lagu lama sih, judulnya…” ia memotong kata-katanya.

“….semua tentang kita—Peterpan.”

Tyo memainkan gitar dengan lembut sehingga aku dapat merasakan musiknya. Tanpa sadar, aku pun ikut bernyanyi. Mengiringi alunan tersebut dengan lirik yang telah Ariel ciptakan dengan indah.

“Suara lo bagus. Mending jadi penyanyi dah,” ucapnya saat aku masih sedang bernyanyi.

Aku hanya tersenyum. Tak memberi tanggapan.

“Justru itu, pasien-pasien bakal membutuhkan hiburan yang menenangkan dari seorang dokter,” ucapku saat lagu udah selesai.

“Ajarin gue dong!” teriakku.

Sore itu, kami larut dalam tawa dan kebahagiaan.

Dan juga…. Cinta.

***

Semester 5.

Saat itu, sedang pelik-peliknya materi kuliah yang disampaikan. Maklum, mengejar ketertinggalan yang kami hadapi. Sebentar lagi tahun keempat. Tahun penuh dengan praktek-praktek yang sangat menyita waktu dan tenaga. Dan juga pikiran. Aku tak dapat menghabiskan sedetik pun untuk melakukan hal yang sia-sia nampaknya. Semua benar-benar harus dikejar dan dimanfaatkan.

Kami membuat kerja kelompok. Belajar berkelompok, membuat tugas berkelompok. Apa-apa perkelompok. FK memang fakultas tersibuk sepertinya.

Setelah kejadian sore itu, aku dan Tyo benar-benar (lagi) menjadi sangat dekat. Beberapa orang bahkan sudah mulai menggosipi kami berpacaran. Hahaha, padahal tahu bahwa dia menyukaiku saja tidak. Namun memang sih, kami jadi sering berkomunikasi. Ia dengan kepribadiannya yang cerah, aku dengan kekasaranku yang kuanggap sifat gembira.

Kami smsan, kadang telponan, bahkan ia sempat mengajakku nonton bioskop. Aduh, kayaknya sih emang kayak orang pacaran. Tapi… kapan coba dia bilang?

Namun saat semester 6 kami benar-benar lupa kejadian kemarin-kemarin. Tumpukan kesibukan itu telah menguras waktu kami untuk bersenang-senang, bahkan si Yuli yang beda fakultas saja sampai tak sempat surat-suratan.

Namun semua berangsur reda saat semester 7 datang. Aku dan teman-teman sudah tidak lagi sesibuk dulu, meski memang pada dasarnya sibuk. Tyo dan aku pun mulai bersama lagi. Entahlah hubungan teman macam apa kami ini, namun yang kulihat bahwa ia benar-benar tulus hanya menjadi temanku sepertinya.

Sampai suatu saat…

“Yo, gua mau nanya,” ucapku dengan serius, nekat sih sebenarnya.

“Iya? Mau nanya apaan lu? Penyakit kulit?” ujarnya bergurau.

“Ya enggaklah! Nih, dengerin gue baik-beik. Gue mau nanya. LU SUKA GAK SAMA GUE?” ups, benar-benar tak terkendali.

“Hah? Gua gak salah denger?”

“Iya, gua nanya gituh.”

“Emmm…” ia nampak berpikir.

“Gua kasih lu ini aja deh,” ia memberiku sebuah plastik berisi air bening,” lu cek pake kertas lakmus.”

“Kalo itu asam, berarti iya.”

“Kalo basa, berarti enggak.”

“Oke, ntar gua cek,” jawabku sambil menerima air itu. Dan tak lupa, aku memasang senyumku yang paliiiiing manis.

“Oh iya, asal lu tau,” ujarku,” gue suka sama lo.”

Ia hanya mengangkat satu alis.

***

Setelah ia pergi, aku benar-benar seperti kesetanan.

“DI MANA GUE BISA BELI KERTAS LAKMUS?????”

Aku mencari sepanjang jalan, ke tukang photo copy, ke toko buku, namun semuanya nihil.

“JADI SIAPA YANG JUAL KERTAS LAKMUS???”

Ah, sepertinya kodratku sebagai perempuan baik-baik sudah jatuh karena aku sampai berteriak-teriak di pinggir jalan begitu.

Malamnya, pada saat aku benar-benar putus asa dan kembali ke rumah, aku menemukan Yuli sedang membaca surat dari—entah siapanya.

“Kenapa lu Ges? Sakit?”

“Enggak Yul, gua lagi putus asa doang,” ujarku gontai.

“Hahaha, berbanding terbalik dong ama gue, gue lagi seneeeeng banget. Gue dapet surat yang isinya banyaaak…” Yuli menunjukkan surat tersebut padaku. Memang dipenuhi kertas. Ada yang coretan, ada yang berisi kata-kata, ada yang berwarna-warni, ada gambar, dan ada….

“Lakmus…?” ucapku tak percaya.

“Kenapa Ges?”

“LAKMUS! BILANG MAKASIH KE PACAR LU YUL!” aku berteriak sambil menarik kertas lakmus yang kudapatkan dari suratnya Yuli. Ia mencoba berontak namun kupukul. Aku segera berlari ke dapur kostan untuk mengecek ‘kebenaran’

“Baiklah… ini dia saatnya…”

Kertas lakmus berwarna merah.

“Masuk…”

Aku tahu kalau kertas itu tidak berubah, maka ia asam, berarti Tyo sukaaa!

Dan….

Tetap merah.

“HOREEEEE!!!!”

“Tyo SUKA GUEEE!!! YES! YES! YES!”

Aku selesai! Begitu mengetahui hal itu, aku langsung menelpon Tyo. Namun entah mengapa ia tidak mengangkat. Malah mailbox.

“Ah, hapenya mati kali. Yang penting kan, gue udah tau kalo dia suka! Asiiik!”

Malam itu, aku tidur dengan nyenyak sekali.

Dan dalam mimpi, aku bertemu dengan pak Sobir, guru kimiaku saat SMP. Entah apa yang sedang dia lakukan. Namun tiba-tiba saja, ia memukulku.

“Hei! Bodoh kau ya! Kalau kau cek lakmus merah tidak berubah, berarti belom tentu itu asam!”

Aku terbangun. DIA BENAR!

Kita harus mengeceknya sekali lagi dengan yang berwarna biru. Aku pun segera mengecek lakmus itu lagi. Kali ini dengan warna biru. Apa yang terjadi?

TETAP BIRU!

Hasil akhirnya berarti…

NETRAL. Apa artinya semua inii???

***

Aku baru tahu seminggu kemudian, saat Tyo berjalan bersama seorang gadis yang sangat cantik. Sudah seperti berpacaran saja.

“Eh ada Gesa! Ges, kenalin, ini Maya. Istri gue…”

Sumpah aku gak mampu buat kenalan.

***

Kuningan, 11 Agustus 2012

Setidaknya, netral itu berarti: Gue udah nikah!

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar