Sabtu, 19 Desember 2015

#Cerpen E

Waktu membaca: 6-8 menit
Enci galau. Besok ia harus mengumpulkan tugas matematikanya, namun tak ada satupun soal yang ia mengerti. Baginya, metematika adalah pelajaran yang membosankan, dan ia tak pernah serius tatkala belajar pelajaran itu. Makanya ia tak mengerti satu soalpun.
Sebenarnya sih, ia fine-fine saja apabila tidak mengerjakan tugas, toh teman-temannya yang lain juga tidak mengerti. Bila ada tugas matematika dari pak guru, paling banter hanya 3 sampai 4 anak yang mengerjakan tugas. Yang lainnya? Pak guru maklum.

Namun ada satu hal yang membuat Enci harus mengerjakan tugas kali ini. Hal yang sangat penting tentunya. Terang saja, seseorang tak akan mengerjakan sesuatu yang tidak ia sukai kecuali hal tersebut sangatlah penting atau mendesak.
Seperti pekerjaan, kebanyakan orang tidak menyukai pekerjaan yang mereka lakukan, namun karena mereka butuh uang untuk hidup, mereka pun tetap bekerja dalam ketidak-suka-an mereka.
Apa gerangan yang membuat tugas kali ini begitu penting?
Tak lain dan tak bukan, adalah  karena di sekolah mereka baru saja berganti guru matematika hari itu. Guru mereka yang lama dipindah tugaskan. Kalau dulu dengan guru yang lama Enci bisa seenaknya dalam pelajaran, maka dengan guru yang baru ini ia tak bisa main-main.
Tentu saja, karena guru yang baru itu bapaknya!
Ia dituntut bisa dalam pelajaran ini. Bila tidak, maka tak terbayang hal apa yang akan menimpanya nanti.
Ia berpikir keras kala itu. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Tentu saja bapaknya sudah tidur. Tadinya, ia ingin bertanya saja pada sang bapak, namun pasti bukannya diberi jawaban, ia malah akan dijelaskan kembali pelajaran yang sudah diterangkan di kelas. Sama saja bohong kalau seperti itu mah.
Cara apa ya?
Enci memainkan handphonenya dan melihat-lihat kontak para teman. Siapa yang kira-kira jam segini masih bangun dan sudah mengerjakan tugas? Ia berpikir sejenak.
Ah, yang penting ia mencari teman yang sudah mengerjakan tugas deh. Urusan sudah tidur atau belum itu belakangan.
Akhirnya, gadis itu mendapat sebuah nama.
Fey.
Ya, ia pasti sudah mengerjakan tugas.
Tanpa pikir panjang, Enci langsung menelpon sahabat karibnya itu.
Di sisi lain, Fey sedang tertidur nyenyak. Ia bermimpi bertemu dengan seorang pangeran ganteng dan menikah dengannya. Mereka hidup sangat bahagia. Namun suatu hari, seorang nenek sihir datang dan mengganggu saat ia sedang berduaan dengan sang pangeran. Ia ditarik dan dipaksa melayani nenek sihir itu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Sungguh miris.
Fey terbangun karena mendengar suara berisik. Ia melihat sekeliling, ternyata handphonenya berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk.
Siapa sih yang menelpon jam segini?! umpatnya dalam hati.
“Halo?” angkatnya. Ada apa sih Enci menelponku malam-malam begini? Pikirnya dalam hati.
“Fey! Gua butuh bantuan lo! Sekarang juga, lu diktein jawaban tugas matematika ya!” ujar suara di sebrang sana dengan cepat.
“Apa sih? Ini udah malem tau, huaaaaah,” Fey menguap. Ia masih setengah sadar kala itu.
“SEKARANG FEY!” suara itu membentak.
“Iya..iya, bentar gua ambil dulu bukunya,” Fey terpaksa turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan sempoyongan menuju meja belajar dan mengambil buku tulis matematika dari dalam tas. Baru saja tadi malam ia mengerjakan tugas.
“Nomer satu… E… E… E…” suaranya terputus-putus.
“E APA?” Enci tak sabaran.
Namun tanpa sempat menjawab lagi, sambungan telpon terputus. Lawan bicaranya entah ke mana…
“Sial! Kok tidak bisa dihubungi lagi sih?!” umpat Enci tatkala nomer Fey terus menerus berkata ‘mailbox’ saat ia hubungi.
“Aduh! Kalau begini, mampus gue besok!” pasrah Enci pada dirinya sendiri.
Ia menyerah.
***
Well, sebenarnya ia tidak mampus kok. Lupakan tugas matematika, bahkan hari esok sekolah diliburkan! Entah apa yang terjadi namun kan hari ini hari Selasa. Libur masih 5 hari lagi.
Enci masih bingung tatkala ia baru sampai ke sekolah dan disuruh pulang kembali.
“Sekolah libur! Teman kalian, Fey, ditemukan meninggal dunia subuh tadi. Guru-guru akan melayat. Jadi, sekolah diliburkan,” ujar kepala sekolah.
Ohh. Karena itu ternyata, pikir Enci dalam hati.
Tunggu, tunggu. Tadi siapa yang meninggal? Fey? Bukankah dia semalam habis menelpon dia?? Dan Fey mengucapkan sesuatu yang aneh seperti, E…E…, begitu.
Apakah itu artinya EE’? Dia meninggal karena pengen EE’?
Enci pusing memikirkannya. Bingung. Lalu ia berinisiatif untuk bertanya pada ibu guru.
“Bu, Fey meninggal kenapa?” tanyanya sambil menarik rok bu guru.
“Eh, Enci… itu gara-gara jantung,” bu guru tersenyum melihatku.
“Jantung?” Enci bertanya lagi.
“Iyaa, jantungnya berhenti, sayang…” beliau tersenyum kembali. Ohhh, begitu ternyata.
Tunggu, tunggu. Bukankah memang setiap orang yang meninggal itu jantungnya berhenti?! Pikir Enci bingung.
Ah, entahlah. Ia malas memikirkannya. Yang penting, ia selamat hari itu.
***
Kematian Fey masih menjadi misteri. Polisi belum dapat memastikan apa penyebab pasti kematian anak gadis tersebut. Mereka tidak menemukan bukti yang cukup kuat kalau itu adalah kasus pembunuhan. Namun mereka juga tidak bisa menyimpulkan kalau itu adalah kasus bunuh diri.
Ia mati begitu saja.
Handphone yang sebelumnya ia gunakan untuk menelpon sudah mati dan tak bisa dihidupkan kembali. Buku catatan matematika yang dipegangnya terjatuh di lantai.
Namun kalau hanya hal tersebut yang menjadi petunjuk, apa yang bisa membantu polisi dalam penyelidikannya?
Satu-satunya petunjuk yang dapat membantu dimiliki oleh Enci. Karena hanya ialah yang tahu, apa yang terakhir kali diucapkan oleh Fey.
***
Dua puluh tahun berlalu semenjak kejadian itu.
Tiga bulan setelah polisi tidak dapat menemukan apa-apa, kasus pun ditutup. Mereka tak dapat memastikan apa yang terjadi dengan bocah 9 tahun tersebut.
Dan Enci, ia sudah hampir lupa dengan kejadian tersebut.
Waktu terus berlalu sehingga sekarang, Enci berusia 29 tahun. Ia mempunyai dua orang anak yang masih kecil-kecil. Ia juga mempunyai seorang suami yang baik hati. Perempuan itu sekaran tinggal bersama keluarga kecilnya di pinngir ibukota. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan selama ini. Tak ada hal-hal aneh yang menggangu kehidupan mereka. Semuanya lancar-lancar saja.
Sampai suatu ketika…
Enci sedang menonton tv kala itu. Ia menghabikan sore dengan bersantai sambil menggendong anak bungsunya yang masih bayi. Namun tiba-tiba, tv mati dan hanya tinggal menysakan suara kresek.. kresek…
Ada apa ini? Tanya Enci dalam hati.
Dan tiba-tiba, ia mendengar suara aneh yang dahulu pernah ia dengar.
“E….E…E….E…..E…”
“SIAPA ITU?” teriak Enci ketakutan. Serentak, semua memori 20 tahun yang lalu pun kembali terkuak. Ia ingat saat-saat terakhir Fey yang misterius, namun saat ini, ia pun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“E…E….E…”
“APA YANG KAU INGINKAN?” Enci tersengal-sengal mencari sumber suara. Dan tiba-tiba, suaranya berubah menjadi sebuah suara yang sangat ia kenal.
“E…E…E….”
Itu suara Fey.
Ia begitu kebingungan. Bingung harus melakukan apa. Apa yang Fey inginkan? Apakah dia ingin kembali dan membalas dendam? Enci tidak tahu. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan tiba-tiba, sekelebat bayangan menghampirinya dan membawa memori masa lalu itu kembali...
***
20 tahun yang lalu.
“Enci, gue mau cerita sesuatu,” ucap Fey pada Enci suatu ketika di sekolah.
“Apa itu?” tanyanya penasaran.
“Tapi ini rahasia loh…” ujar sang kawan sambil mengangka jari kelingkingnya.
“Iyaa, rahasia kok,” Enci tersenyum. Mereka sahabat karib kok. Jadi tenang saja, Enci pasti akan menjaga rahasia itu.
“Gua punya boneka bagus. Nih!” Fey menunjukkan sebuah boneka barbie kepada Enci.
“Loh, ini kan cuma boneka biasa?” herannya.
“Enggak! Ini tuh boneka fudu. Namanya Ema. Gue ada bolanya. Nih, kalo lu lempar bola ini ke orang, nanti bolanya akan masuk ke tubuh orang itu, dan kalo boneka ini lo sakitin, orang tersebut akan merasakannya juga!” jelas Fey panjang lebar.
“Ah! Bercanda lu mah!” Enci tak percaya dengan temannya tersebut.
“Serius!”
“Terus buat apa lu nunjukin ini ke gue?” tanya Enci lagi.
“Namanya Ema! Gue nunjukin Ema ke lu karena gue udah gak butuh lagi. Sejujurnya sih, Gue pengen ngebuang Ema. Tapi sayangnya gue gak bisa. Jadi, gue mau ngasih Ema ke lu. Nih!” Fey memberikan boneka tersebut kepada Enci.
“Gue harus ngapain dengan Ema?”
“Ya, lu simpan saja yah!” Fey tersenyum.
“Oke!” jawab Enci,” tapi gue masih belum percaya tuh.”
“Hmm, suatu saat lu akan ngerti kok,” Fey berkata.
Enci mengangguk. Ia pun memasukkan boneka tersebut ke dalam tasnya. Namun, ia tetap memegang bola tersebut di dalam genggamannya.
Saat bel pulang berbunyi, seperti biasa, mereka akan bersalaman dengan ibu atau bapak guru. Para murid akan mengantri untuk salim sebelum pulang. Saat itu Enci mengantri di belakang Fey, namun, karena anak-anak yang lain dorong-dorongan, ia jadi menabrak punggung Fey dengan tangannya. Dan tanpa ia sadari, bola fudu itu masuk ke dalam tubuh Fey…
Di rumah…
“Eh, bolanya ke mana ya tadi?” kata Enci pada dirinya sendiri.
“Aduh, hilang deh. Ah, gapapalah. Cuma bola biasa kok,” lanjutnya. Ia tak tahu bahwa sesuatu yang fatal akan segera terjadi.
***
Malam itu, Enci galau dengan tugas matematikanya. Ia bingung harus melakukan apa. Guru matematikanya yang baru adalah bapaknya sendiri, sementara ia tidak bisa mengerjakan satu soal pun!
Enci memainkan handphonenya dan melihat-lihat kontak para teman. Siapa yang kira-kira jam segini masih bangun dan sudah mengerjakan tugas? Ia berpikir sejenak. Ah, yang penting sudah mengerjakan tugas deh. Urusan sudah tidur atau belum itu belakangan.
Akhirnya, gadis itu mendapat sebuah nama.
Fey.
Ya, ia pasti sudah mengerjakan tugas.
Tanpa pikir panjang, Enci langsung menelpon sahabat karibnya itu.
Di sisi lain, Fey sedang tertidur nyenyak. Ia bermimpi bertemu dengan seorang pangeran ganteng dan menikah dengannya. Mereka hidup sangat bahagia. Namun suatu hari, seorang nenek sihir datang dan mengganggu saat ia sedang berduaan dengan sang pangeran. Ia ditarik dan dipaksa melayani nenek sihir itu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Sungguh miris.
Fey terbangun karena mendengar suara berisik. Ia melihat sekeliling, ternyata handphonenya berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk.
Siapa sih yang menelpon jam segini?! umpatnya dalam hati.
Di sisi lain, Enci sedang menunggu Fey mengangkat telponnya. Ah, bila teringat Fey, ia jadi teringat dengan boneka yang tadi siang diberikan oleh temannya itu. Ia pun mengambilnya dari meja belajar dan memain-mainkannya sembari menunggu.
“Halo?” angkat Fey. Ada apa sih Enci nelpon gue malam-malam begini? Pikirnya dalam hati.
“Fey! Gua butuh bantuan lo! Sekarang juga, lu diktein jawaban tugas matematika ya!” ujar suara di sebrang sana dengan cepat. Enci tiba-tiba melihat sebuah jarum di meja belajarnya. Ia pun mengambilnya dengan cepat.
“Apa sih? Ini udah malem tau, huaaaaah,” Fey menguap. Ia masih setengah sadar kala itu.
“SEKARANG FEY!” sahabatnya itu membentak. Enci memain-mainkan jarum tersebut dan sang boneka. Coba ah, ditusuk.
“Iya..iya, bentar gua ambil dulu bukunya,” Fey terpaksa turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan sempoyongan menuju meja belajar dan mengambil buku tulis matematika dari dalam tas. Baru saja tadi malam ia mengerjakan tugas.
Enci menusuk dada boneka tersebut dengan jarum. Dalam dan diputar-putar.
“Nomer satu… E… E… E…” suaranya terputus-putus.
“E APA?” Enci tak sabaran. Ia melempar boneka tersebut karena ingin fokus terhadap jawaban yang akan diberikan Fey.
Namun tanpa sempat menjawab lagi, sambungan telpon terputus. Lawan bicaranya entah ke mana…
Ema…. Kata itulah yang ingin diucapkan oleh Fey.
“Sial! Kok tidak bisa dihubungi lagi sih?!” umpat Enci tatkala nomer Fey terus menerus berkata ‘mailbox’ saat ia hubungi.
“Aduh! Kalau begini, mampus gue besok!” pasrah Enci pada dirinya sendiri.
Ia menyerah.
Enci tidur tanpa melihat bahwa di bawah lantai sana, sang boneka barbie sedang tersenyum jahat.
--tamat--  
Kuningan, 30 Agustus 2012
22.45

M.Azam Rofiullah


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar