Jadi seorang
pelajar di Indonesia, adalah salah satu tantangan terberat di dunia.
Itu kata seorang
pakar dari Kutub Utara yang aku lupa namanya. Kacau, dia bilang. Kau akan
dipaksa untuk mempelajari banyak hal yang bahkan tidak dijelaskan tujuannya
apa. Kami dijajah oleh kurikulum lucah
berisi 19 mata pelajaran. Mereka tidak pernah memfokuskan satu atau dua saja
keahlian kami untuk dikembangkan. Tidak seperti negara maju yang ingin kami
senang dalam belajar. Mereka memaksa kami agar tahu semuanya. Mengesalkan.
Apalagi, dengan
penjelasan garing dari pengajar yang tidak ikhlas memberi ilmu. Aku tidak akan
memanggil mereka ‘guru’. Karena setahuku, guru itu mendidik. Baik di kelas,
maupun di luar kelas. Sementara mereka hanya menjelaskan pelajaran di dalam
kelas dan mengambil gaji atas 45 menit kehadiran mereka untuk membuat otak kami
meledak.
Oh, silahkan hujat
aku. Bilang saja aku anak yang tidak bersyukur atau apapun. Namun itulah yang
sejujurnya kurasakan selama menjadi pelajar hingga kini.
Aku tidak pernah
berniat sekolah. Yeah. Setidaknya sampai 2 minggu yang lalu.
***
Oh iya, cerita ini
bukan tentang murid baru yang cantik dan sempurna, yang datang kemudian
mengubah segalanya di hidupku. Itu sudah mainstream. Di cerita ini,
akulah murid barunya.
2 minggu yang lalu
aku pindah sekolah.
Bukan kemauanku, actually,
namun kemauan bokap-nyokap. Mereka ingin membangkitkan lagi semangat
belajarku. Secara diplomatis, aku pun menurut.
Sekolah baruku bernama
SMA STAR. Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, namun pandangan
meyakinkan ibu membuat keraguanku hilang. Soalnya aku tahu, ibu jarang salah.
Hari pertama itu,
aku mengenalkan diri sebagai murid pindahan dari SMA ASIA. Lima
menit aku bercerita tentang karakterku, kebiasaanku, dan tetek bengek lainnya.
Akhirnya, aku pun duduk.
Kursiku berada di
sayap kanan tengah kelas. Namun, ternyata kursi sebelahnya kosong. Kata Joko,
yang duduk persis 2 bangku di belakang, pemilik kursi itu sedang tidak sekolah
karena sakit.
Aku yang mencoba
tidak kepo pun akhirnya hanya menjawab dengan anggukan. Lalu, pelajaran
berjalan seperti biasa. Ternyata sekolah ini sama seperti yang lainnya. Biarlah.
Mungkin semua sekolah di Indonesia memang seperti
gini.
***
Tiga hari pertama
sekolah, masih belum ada hal spesial yang terjadi. Malah, kurasa SMA ini benar-benar
sama persis seperti SMA ASIA dulu. Kalau begini terus, nilai-nilaiku pasti
akan stagnan di kisaran 5 ke bawah. Aku butuh suasana baru! Sistem baru! Ya! Aku
butuh cara belajar yang baru untukku!
Masalahnya, tiap
kali mereka mengajar, aku merasa ada yang tidak beres denganku. Entah pikiranku
yang berjalan begitu lambat atau hal lainnya, yang jelas aku benar-benar susah
menangkap pelajaran.
Tiga hari ini, teman
sebangkuku masih saja absen.
Aku selalu
sendirian saat pelajaran, meski saat istirahat teman yang lain juga cukup
banyak. Namun tetap saja ketiadaan seseorang di sisiku saat pelajaran membuat
segalanya berbeda.
Joko akhirnya
memberitahuku nama si chairmate.
Seorang gadis biasa yang dipanggil Timil.
Aku
mengangguk-angguk mendengarnya. Tidak ada firasat sama sekali dengan gadis itu.
Namun memang ada pertanyaan sedikit.
Sakit apa Timil
hingga absen 3 hari lebih?
Hari selanjutnya, gadis
itu masih belum muncul. Aku menggeleng-gelengkan dada. Gabungan dari perasaan
khawatir, penasaran, dan tidak peduli.
Joko bergumam di
belakangku.
“Si Timil sakit
parah lagi kayaknya. Kasihan tuh anak.”
Telingaku merespon
cukup baik. Sakit parah lagi?
Jam 11, setengah
rasa penasaranku selesai. Timil datang ke sekolah. Wajahnya datar. Seperti
tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Kesan pertamaku
melihatnya biasa-biasa saja. Wajahnya standar, sedikit lebih tinggi daripada
nilai sekolahku. Namun ia cukup manis. Ada tahi lalat di pipi kirinya. Aku
menyukai itu.
Saat itu Bu Risma
sedang mengajar matematika. Ia datang, mencium tangan sang pengajar,
lalu sedikit ditanya tentang kabarnya, dan akhirnya duduk di sebelahku.
Kulihat matanya
sedikit kaget melihat sudah ada anggota baru di kelas ini. Aku mencoba biasa
saja. Dan ia pun seperti itu. Jelas ada kekakuan di antara kita.
***
Dua hari berlalu.
Aku belum tahu
penyakitnya sampai sekarang. Kami hanya bicara sepenggal-penggal. Saat meminjam
tipe-x, atau penggaris. Saat minta diambilkan barang yang jatuh, atau barang
yang sengaja dijatuhkan olehku.
Selesai belajar,
biasanya ia mengobrol sedikit dengan perempuan lain, kemudian pergi entah ke
mana. Ya, Timil seperti tidak punya teman dekat di sini. Dan yang lain pun
seperti membiarkannya.
Pikiranku
mengembara.
Apakah ini normal?
***
Kami kembali pada
pelajaran Bu Risma. Matematika.
Hanya saat pelajaran
inilah kulihat Timil kesulitan. Ia menggaruk-garuk kepala begitu keras, seakan
ingin mengeruk otaknya dan menemukan titik cerah. Padahal hanya pelajaran “fungsi”, aku
juga bisa.
Saat itulah
kulihat telinganya memerah. Wajahnya mendadak pucat. Dan tangannya bergetaran.
Aku tidak menyangka apa-apa awalnya. Karena memang setelah itu tidak ada yang
terjadi. Beres pelajaran itu, ia kembali seperti biasa.
Datar. Dingin.
Ah, peduli setan.
***
Matematimil.
Manusia terhebat
gak pernah takut sama ketakutannya.
Tulisan ini
ditujukan buat mereka yang masih lari dan menyalahkan sesuatu yang gak sesuai keinginannya.
Banyak yang seperti itu. Bahkan mungkin engkau. Bahkan mungkin aku.
Kleistropochus
Matematini.
Itu nama
penyakitku. Bisa dibilang, penyakit itu adalah kakak tertua dari perasaan
“trauma”.
Penyakit itu
membuatmu kalut saat menghadapi sebuah trauma. Kalutnya bisa parah. Sampai
pingsan, bahkan kejang-kejang.
Namun dalam
kasusku, saat penyakit itu kambuh, dia akan memicu penyakitku yang lain untuk
kambuh juga. Itulah yang
membuatku sakit-sakitan terus. Bahkan, dokter yang merawatku bilang kalau jantungku
bisa mendadak berhenti karenanya. Seram, namun aku tidak takut.
Kalau kau bertanya
aku trauma pada apa, jawabannya adalah Matematika.
Dulu, ada seorang
guru yang sangat hebat, menurutku. Dia guru matematika. Dan dia mendidikku
dengan sangat keren. Ia peduli, hangat, dan baik. Saking sayangnya ia padaku,
ia mengatakan bahwa aku dan matematika tidak akan bisa dipisahkan untuk
selamanya. Setelah itu, ia memanggilku Matematimil.
Guru itu sangat
dekat denganku. Kami seperti kakak beradik saja. Sampai suatu ketika dia bunuh
diri. Aku tidak tahu apa sebabnya, namun semua orang menuduhku karena saksi
melihatku bersamanya terakhir kali. Memang, aku sedang mengunjungi rumahnya
waktu itu, tapi aku tidak melakukan apa-apa!
Semenjak itu aku
dikucilkan. Aku mencoba bertahan, meski dengan semua pandangan sinis
orang-orang. Tegar, Timil, ujarku pada diri sendiri.
Aku juga jadi
trauma dengan yang namanya matematika. Ia dan guru itu membuat karakterku
terbunuh. Aku merasa dibunuh olehnya, meski guru itu telah mati.
Dan kini, biarlah
semua itu berlalu. Aku akan tetap menghadapi matematika. Aku tidak akan lari
darinya.
Siapapun kalian, jangan
pernah lari dari yang kalian takuti.
***
Itulah post
terakhir yang kubaca dari blog matematimil.com. Sebuah curahan hati yang
terdalam dari gadis tersebut. Ya, aku baru tahu kalau kejadiannya seperti itu.
Untuk Timil, aku
pun bertekad untuk menghiburnya besok di sekolah. Seram saja, pantas ketika
sedang pelajaran matematika, air mukanya berubah. Penyakitnya bisa saja kambuh
dan membuatnya sakit kembali. Jangan sampai itu terjadi.
Aku pun mematikan
komputer. Iseng-iseng mencari namanya di google, malah ketemu dengan blog
melankolis itu. Hahaha.
Baru saja ingin
merebah diri, telepon genggamku berbunyi. SMS dari Joko.
Bro, Timil
meninggal. Katanya sih waktu lagi belajar matematika di rumah.
Aku membanting handphone-ku.
Sial! Terlambat!
-Done-
PS: Kleistropochus Matematini adalah
penyakit yang berasal dari Kutub Utara
Dan Kutub Utara adalah konotasi
kefiksian dalam cerpen ini
PS (2): Beberapa orang kadang tidak bisa membedakan, mana yang modus, mana yang karya sastra. Poor People.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusWoooow
BalasHapus