“Dalam kalender Islam, sebuah
hari dimulai setelah malam tiba. Atau lebih tepatnya lagi, ketika waktu maghrib
tiba. Itulah permulaan hari. Karena dalam kalender Islam, perhitungan
didasarkan oleh pergerakan bulan. Maka semua dimulai pada?”
“Malam hari, bu!” Jawab para
murid serentak.
“Bagus, ibu pikir kalian sudah
paham. Maka, cukup sekian pelajaran hari ini. Jangan lupa PR yang ibu berikan
yaitu membuat kalender tahun 1433 H. Kalian cukup menyalinnya dari kalender
lain, atau mencarinya di internet. Terserah kalian!” Bu Juwariyah menutup
kelas,” Wassalamualaikum warhmatullahi wabarakatuh.”
Para murid menjawab salam dengan
cepat dan segera berhamburan keluar kelas. Pelajaran Agama adalah pelajaran
terakhir, selalu saja menjadi pelajaran terakhir di jadwal mereka. Selaras
dengan pemikiran Adit, agama memang selalu berada di urutan terakhir. Tentu
saja, seperti dalam hidup. Bersenang-senanglah selagi kau masih muda, baru
pikirkan akhirat saat umurmu sudah menginjak kepala lima. Itu pikirannya!
“Hey, futsal jadi gak? Lusa nih,”
tanya Anto padanya saat mereka sedang nongkrong di Cafe “Cefa”, basecamp mereka.
“Ya jadi dong! Ini kesempatan
kita buat nunjukin ke anak-anak Apache kalau tim kita itu patut disegani!” Jawab
Adit dengan percaya diri sambil menggenggam Lencana Kapten yang selalu ia bawa,
sebuah tanda bahwa ia adalah pemimpin tim itu. Tim SMA mereka, Potrait, memang
akan bertanding melawan SMA 5, atau yang lebih akrab dipanggil Apache dalam
pertandingan persahabatan futsal.
“Tapi si Ryan sakit, bro. Dia
lagi dirawat di rumah sakit gara-gara DBDnya. Kita kekurangan playmaker nih!
Gimana?” Tanya Kumoy.
“Kita udah gak bisa ngebatalin
lagi. Kalau kita ngebatalin begitu aja, nanti reputasi kita bisa jatuh merosot,
sot, sot, sot. Terjun bebas, bro!” Adit menjawab lagi.
“Tenang aja, gua yakin kok kalo
si Adit kipernya, semua bakal bisa kehalau dengan baik. Ya gak Dit?” Unggah
Oim, sang striker yang juga adalah sahabat baik Adit semenjak masih kecil.
Ucapannya itu membuat kepercayaan diri mereka naik.
“Yo-yoi!” Adit mengayunkan
tangannya yang terkepal, memperlihatkan semangat yang ia punya.
“Okelah gua setuju. Tapi satu
lagi siapa nih? Tim kita tinggal 4 tanpa Ryan,” Kumoy memberikan pernyataan
yang baru mereka sadari. Selama ini mereka gak punya pemain cadangan!
“Kita ajak aja anak basket!” Usul Anto.
“Ah, mereka ketinggian, futsal
kan maennya bola-bola bawah,” kata Adit.
“Anak bola?”
“Mereka ada pertandingan hari itu.”
“Gak bisa?”
“Ya gaklah! Mana mau mereka?!”
Tim kecil itu pun berpikir. Adit
mengelus jenggot halus yang ada di dagunya. Oim menggaruk rambutnya. Anto mengelus
pipinya. Sementara Kumoy mengelus bibirnya. Lalu tiba-tiba terbersit sebuah ide
di benak Adit.
“Kita ajak Senja aja!” Ucapnya
kegirangan.
“Hah? Senja? Dia kan cewek Dit!
Masa maen futsal?” Kumoy menyergah.
“Emang ada peraturannya gituh?
Kalo perempuan gak boleh main?” Tanya Adit,” lagian gua denger dia pemain
terbaik waktu ada kontes futsal cewek se-kabupaten.”
“Yah, kan beda kelas atuh Dit!”
Sergah Anto lagi.
“Lu gak takut ntar dia kena
pelecehan seksual?” Kumoy kali ini hebat juga karena memikirkan keselamatan
harga diri orang lain.
“Tenang aja, Senja dadanya kecil
kok, gak bakalan kena deh!” Adit membela.
“Tapi emangnya dia kuat?
Staminanya bro!” Balas Anto lagi.
Adit mengerutkan alis. Ada
benarnya sih. Sekarang tinggal Oim yang belum memberi pendapat. Semua mata
pun akhirnya mengarah pada Oim.
“Gimana menurut lo Im?” Tanya
mereka bertiga.
Oim berpikir sejenak sebelum
akhirnya menjawab, “menurut gue, mending sekarang kita jenguk Ryan. Terus kita
tanya dia. Sebagai sama-sama playmaker, jawaban gua akan sama kayak punya dia.”
Semua setuju.
***
Rumah Sakit “Datang tak sehat
Pulang tak berduit” itu berdiri megah di atas tanah 3000 meter persegi di pusat
kota. Tim Futsal Potrait pun tiba di sana dengan cepat, karena letak sekolah
dan tempat nongkrong mereka juga berada di pusat kota.
“Hah?! Lu ngajak cewek buat
bantuin kita tanding futsal ama Apache? Dah gila lu?” Jawab Ryan saat mereka
mengutarakan maksud sebenarnya dari besukan mereka hari itu.
“Eh, jangan salah dulu. Dia itu
pemain terbaik futsal cewek se-kabupaten! Gua yakin kok dia bisa gantiin posisi
lu,” Adit beralasan.
“Heh, lu diem aja Dit! Biar si
Ryan ambil keputusan. Gini yan, gue ama kumoy tadi udah gak setuju. Tinggal lu
sama Oim yang belum jawab. Kalau jawaban lu engga, ntar Oim juga sama kayak lu
jawabannya,” Anto menjelaskan.
Ryan berpikir sebentar,” kalau
gitu, gue...”
“Bentar,” Oim memotong kalimat
Ryan dan kemudian membisikkan sesuatu ke telinga rekannya tersebut,.”.......”
Alis Ryan tampak berkerut saat mendengar apa yang disampaikan oleh Oim
kepadanya. Setelah selesai, Oim pun kembali ke posisi awal.
“Oke, keputusan gue adalah....”
“Gue setuju.”
“Nah! Begitu dong! Berarti
kedudukan sama nih. 2-2. Gimana keputusan terakhirnya?” Adit sumringah, entah
apa yang dibisikan Oim ke Ryan tadi. Yang jelas, pemikiran anak itu langsung
berubah 180 derajat.
“Berarti, untuk ngambil keputusan
itu, cuma ada satu cara...” ucap Oim.
”...Kita harus tanya Senja.”
***
Senja adalah tipikal-tipikal
cewek yang cantik, tapi tomboi. Tipikal yang bisa lembut, tapi juga tegas.
Tipikal yang diam-diam menghanyutkan-lah istilahnya. Bayangkan saja, dia juara
umum, tapi juga jago futsal, bahkan bisa mengantarkan tim sekolahnya menjadi
juara tiga futsal di kabupaten. Walaupun hanya juara 3, ia tetap dinobatkan
menjadi pemain tebaik.
Senja mempunyai kepribadian yang
feminim, tapi juga bisa galak. Dia mempunyai dua buah sisi kepribadian yang
menurutnya bisa berguna untuk menghadapi cowok-cowok zaman sekarang ini.
Terutama yang suka bandel. Karena kebanyakan cowok mendekati cewek itu karena
nafsu mereka. Bukan karena ketulusan mereka.
Akhirnya, tepat hari esoknya,
mereka berempat mendatangi Senja untuk memberikan penawaran ini kepadanya.
Sebenarnya hanya Adit sih yang datang, ya masa diserbu gitu aja? Mereka
mengirim Adit sebagai utusan.
“Emm, Senja?” Adit membuka
percakapan.
Senja menengok, “iya? Ada apa Dit?”
“Umm...”
ADUH GUA MESTI NGOMONG APA? Adit
membatin.
“Mau ngomong apa?” Tanya Senja
lagi.
“Umm, bapak kamu satpam ya?”
Senja berpikir sejenak. Kok Adit
nanya gitu? Pengen ngegombal? Ah, tau deh. Jawab saja ya. Lagian Senja juga
penasaran dengan gombalan itu.
“Iya, kok kamu tahu.”
AH, GUE DAPET SINYAL BAGUS NIH DARI
DIA, Adit bersorak dalem hati. Teman-temannya memperhatikan dari balik tembok
saat sang kapten beraksi.
“Soalnya...” Adit berhenti
sejenak agar suasana lebih dramatis.
“Gue milih lo buat ikut tanding futsal lawan Apache! Mau ya? Mau?” Adit
berseri memamerkan gigi-gigi putihnya. Senja bingung. Gombalan cowok ini
sepertinya ngawur, sama kayak otaknya.
“Hah? Ngaco amat lu!” Senja
mencoba menyatukan potongan-potongan kalimat Adit yang rancu minta ampun,” lu
mau ngegombal atau ngajak gua maen futsal, Dit?” Tanya Senja.
“Eh...” Adit tergagap,”
dua-duanya, hehe.”
“Gini nih, biar gua jelasin
situasinya. Besok, Potrait bakal tanding sama Apache. Tapi si Ryan, playmaker
kita, lagi kena DBD di Rumah Sakit, jadi dia gak bisa ikut. Sementara kita gak
punya pemain cadangan, dan gua denger lu pemain terbaik se-kabupaten, jadi gua
milih lo buat gantiin Ryan! Gitu ceritanya,” Adit menjelaskan panjang lebar.
Senja memutar boloa matanya,” ini
pertandingan penting?”
“Antara hidup dan mati!” teriak Adit
antusias,” kalo kita kalah, reputasi kita bakal terjun bebas.”
“Kenapa lu gak ngajak cowok lain
ikut? Kenapa musti gua, cewek?” bombardir Senja dengan pertanyaan.
“Biar gua bisa ngeliat, betapa
memalukannya Apache dikalahkan oleh cewek, dan biar gua bisa liat, lu
mempermalukan mereka semua dengan kehebatan permainan lu! Kita semua percaya
sama lu, Ja!” Kata-kata Adit yang satu ini benar-benar keren, sebuah contoh
persuasi dahsyat yang menyerang pertahanan hati lawan bicaranya. Siapa coba
yang tahan dengan pujian, dan kepercayaan orang lain tentunya.
“Lu yakin?”
“Seyakin cinta gua ama lu!” Radit
keceplosan,” eh...”
Plak!
Sebuah tamparan keras bersarang
di pipinya. Ah, sial!
“Kalau lu cuman pengen nembak
gue, bilang dari tadi! Gak usah bawa-bawa permainan futsal gue, dan juga harga
diri Potrait. Apaan tuh? Bullshit! Ntar juga lu kalah, suruh keluar juga tuh
temen-temen lu yang dari tadi ngumpet di balik tembok. Heh! Ntar juga lu bakal
kalah!”
Dramatis.
Setelah tamparan itu, Senja pun
pergi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Yang lain akhirnya keluar menghampiri Adit
yang sedang kesakitan memegangi pipinya.
“Tuh, kan Dit, gua bilang juga
apa! Lu sih ngocol!” Anto menyalahkan temannya itu.
“Tau tuh, sial,” Adit mengumpat
dirinya sendiri.
“Lagian lu terakhirnya pake
nembak dia sih! Dasar busuk lu Dit, ternyata emang lu pengen nembak dia kan
dari awal? Makanya lu nyaranin dia buat ikut tim kita!” Kumoy menghujaninya
dengan kata-kata pedas.
“Professional dong Dit, udah tau
kita lagi ada masalah, lu malah bawa-bawa masalah personal ke tim kita. Jadi
gini kan? Gagal nih semua. Mana harga diri kita turun gara-gara kejadian ini!
Ah, percuma lu sebagai kapten. Gak berguna!” Anto pun menyerangnya juga.
“Cape gua Dit, di-kapten-in sama
orang busuk kayak lu!” Kumoy menghardiknya.
“Payah!”
“Cacad lu!”
Adit hanya tertunduk sedari tadi.
Ia berusaha mencerna kata-kata teman-temannya. Ya, memang ini salahnya, sejak
awal ia memang hanya ingin menembak Senja! Itu kesalahannya. Ia menyukai gadis
itu. Tapi hasilnya? Sudah ditolak mentah-mentah, dapat tamparan, teman-temannya
pun menghardiknya bergantian.
“Eh, lu berdua! Kita lagi banyak
masalah nih, gak usah deh lu nambahin masalah dengan malah menyalahkan Adit
atas kejadian tadi!” Oim membela.
“Gapapa, Im, emang salah gua. Gua
emang gak pantes buat mimpin lu semua. Mulai sekarang, biar Oim aja yang jadi
kapten. Gua nyerah, gua mundur dari tim ini. Selamat tinggal,” Adit mengambil
Lencana kapten dan memberikannya pada Oim, sebelum kemudian ia melangkah gontai
meninggalkan mereka yang terpaku. Sampai seginikah?
“Dit! Lu gak bisa mundur gitu aja
dong!”
“Gak, semua udah selesai, Senja
benar, kita semua emang bakal kalah!” Adit berteriak.
“Dit!” Oim mengejar Adit dan
memegang pundaknya, kemudian memutar tubuh itu agar berhadapan langsung dengan
wajahnya,” Lu ga bisa gini! Lu kapten kita!”
Plak!
Oim menampar Adit sangat keras.
“Gak! Im! Gua gak bisa!”
“LU BISA!”
“GUA NGGAK! LEPASIN GUE!”
Adit memberontak dan kemudian
lepas. Ia berlari menjauh dari teman-temannya, meninggalkan Oim yang terpaku,
juga Anto dan Kumoy yang tertunduk menyesal karena perkataan mereka yang telah
sangat menyakiti perasaan sang kapten, yang juga kiper tim mereka.
Tim mereka tinggal 3 orang. Dan
pertandingannya besok.
***
“So, sekarang pikirin bagaimana
kita bisa bikin harga diri kita selamat di pertandingan besok. Siapa yang punya
ide?” Oim membuka percakapan di antara mereka bertiga. Yang sekarang tinggal
bertiga.
“Gak tau dah Im, gua hampir putus
asa nih,” Kumoy menghembuskan nafas.
“Mungkin harga diri kita udah gak
bisa selamat lagi.”
“Sekarang mendingan berhenti
menyalahkan keadaan. Kita gak usah nyalahin siapapun lagi, dan mulai berpikir
mencari solusi, karena walaupun kita nantinya kalah, kita jadi belajar
sesuatu,” Oim menjelaskan kepada yang lain.
“Bahwa kita harus punya pandangan
positif dalam setiap masalah, bener kan?” sebuah suara dari belakang mereka
datang secara tiba-tiba. Dan tengoklah siapa yang berbicara.
“Ryan? Lo Ryan? Lo kok bisa ke
sini? Emang nya udah sembuh?” Anto sumringah begitu mengetahui bahwa Ryanlah
yang tadi berbicara pada mereka.
“Lu udah sembuh?” Kumoy bertanya
senang. Mereka pun bergantian memeluk sang playmaker.
“Iya-iya, gua udah sembuh. Baru
aja, dan gua langsung minta pulang dari rumah sakit begitu tau keadaan tim kita
kayak gini. Jadi, tenang aja, tim kita bisa main kok,” Ryan berkata dengan
rekahan senyuman. Ia seperti malaikat saja.
“Wah, bagus dong!” Anto menyambut
bahagia.
“Berarti udah 4 orang. Satu lagi
siapa nih?” Tanya Kumoy.
“Hahaha, gak usah khawatir, orang
yang lu pada incer dari kemarin udah ada di sini. Tuh!” Ryah menunjuk ke
belakangnya. Di sana, dalam jarak kira-kira 50 meter, berdiri seseorang yang
tadi menolak mereka mentah-mentah. Di sana, ya, di sana Senja berdiri dengan
tegap mengarah pada mereka.
“Senja? Mau ngapain dia di sini?”
Tanya Anto. Senja pun berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum.
“Ya mau ikut tanding bareng kita
lah bro!” ujar Ryan dengan mantap,” Senja tuh adik tiri gue. Dan yang tadi
sebenarnya cuma sandiwara aja. Begitu gua dibisikin Oim bahwa sebenarnya si Adit
pengen nembak si Senja, gua langsung nyusun rencana ini sama Senja. Sebenarnya
mah si Senja pasti mau kalo kita ajakin maen futsal, wong itu hobinya. Cuma
kita bikin sandiwara aja kalo dia nolak Adit dan nolak kita mentah-mentah. Hahaha,
ya gak ja?”
“He-eh,” Senja meng-iyakan.
“Sialan lu semua ngerjain dasar!”
Kumoy berkata.
“Hehe, pisss...” Ucap Senja.
“Fyuh... ternyata begitu,” Anto
berucap lega,” gua baru tau loh lu berdua kakak beradik, gak pernah keliatan
bareng soalnya.”
“Emangnya harus diliatin?” Balas
Senja, diikuti oleh anggukan Ryan.
“Jadi sebenarnya lu mau gak sih ama
si Adit?” Tanya Kumoy penasaran, sekaligus iseng menanyainya.
“Ih, apaan sih lu Moy!” Senja
mengelak.
“Hahaha, canda elaah...” Kumoy
tertawa.
“Ya mau lah! Orang dia kemarin
cerita ke gue! Hahaha!” Ryan tertawa.
“Ih, apaan sih lu bang! Gak usah
bilang-bilang deh!” Senja mencubiti abang tirinya itu.
“Hahaha, ampun bu!”
“Ee cieee.... Senja ama Adit,
kayaknya lu berdua emang cocok.”
“Tau ah, bete nih gue. Gak jadi
tanding nih!” Senja mengancam.
“Eh, iya, sori-sori. Ampun,” pinta
Kumoy dan Anto yang dari tadi menggodanya.
“Nah, sekarang tinggal ada satu
masalah lagi,” ucap Oim tiba-tiba. Dari tadi ia diam saja.
“He-eh,” kata Ryan,” gua baru
sembuh, jadi gak kuat maen full.”
“Kita masih butuh sang kapten.”
“Tapi gimana nih? Dia ngambek
berat gara-gara sandiwara lo berdua,” Anto bertanya.
“Tenang aja kali, kan ada gue,”
Senja tersenyum.
Hohoho, bener juga.
***.
Adit mengutuki dirinya sendiri.
Mengapa tadi ia begitu labil? Ah, menyesal sebenarnya ia mengundurkan diri dari
jabatan kapten, sekaligus keluar dari timnya. Ia menyesal. Ia ingin meminta
maaf, namun apakah teman-temannya akan memaafkannya?
Ia berpikir keras, lalu mencoba
memutuskan.
Oke, aku akan minta maaf.
Adit pun mengambil handphone, dan
baru saja ingin menghubungi Oim saat tiba-tiba sebuah unknown number
memanggilnya.
Siapa nih? Tapi baiklah, kita angkat.
“Halo?”
katanya.
“Halo! Gua juga cinta lu! Dateng
ya ke Cefa dalam 30 menit. Atau kalo engga, cintanya gua cabut lagi!
Muah-muah-muah! Gua tunggu,” sebuah suara berbicara dengan cepat, diakhiri
dengan suara orang mencium.
Tapi apakah ia tidak salah
dengar? Itu kan suara Senja?
Senja cinta gue? Mimpi apa gue barusan? Tapi biarlah. Gue harus ke Cefa
dalam 30 menit, gak boleh mengecewakan sang pujaan hati. Hahaha, Adit
membatin.
Ia pun mengambil motor dan
menyalakannya. Sial, mogok. Ah terpaksa naik ojek, walaupun ongkosnya mahal.
Tapi gak apa-apalah. Harus berkorban!
Sementara itu di Cefa...
“Gila, so sweet amat lu! Tapi
ganas!” Kumoy mengomentari telpon Senja tadi.
“Hahaha, bodo!” Senja berujar.
“Gua gak bisa ngebayangin begitu
kalian nikah, akan sering terjadi KDRT nantinya,” Anto iseng banget ngomong
kayak gitu.
“Isshhh, gak banget deh...” Senja
berkata,” gua mah kalo jadi istri akan selalu di bawah,” Senja memelet.
Baik Anto, maupun Kumoy, langsung
menengadah ke atas, seperti mengkhayalkan sesuatu.
“Eh, Gak usah mikir jorok ya!
Awas kalian!” Senja bangkit dari duduknya dan mencoba menyerang mereka berdua.
Dengan sigap Anto dan Kumoy pun menghindar.
“Eh, itu dia datang,” serentak
semua pun berhenti bercanda.
“Dah, samperin dah tuh cinta lu!”
Anto menyuruh.
“Isssh!”
“Wakakakak, buruan!”
“Iye-iye,” Senja pun berjalan
menghampiri Adit yang sedang membayar ojek. Teman-teman yang lain hanya bisa
tersenyum-senyum di belakang. Menertawai yang sebentar lagi akan terjadi.
Kira-kira apa ya?
Senja menghampiri Adit. Adit pun
menatap gadis itu terpaku. Dan dengan cepat Senja mendekatkan kepalanya pada
kepala Adit, membisikkannya sesuatu.
“Oh, jadi begitu! Sial kalian
semua!” Adit berteriak seraya berlari ke arah mereka yang duduk-duduk, juga seraya
menggandeng tangan Senja,” awas ya! Ini lelucon terburuk yang pernah gua dapet
dari temen gue! Ayo langsung kita latihan aja! Gak usah bahas apa-apa lagi
tentang ini.”
Serentak semuanya tertawa
bahagia. Semua tampak senang sekarang. Masalah-masalah beres, dan yang penting,
ada pasangan baru di tim mereka sekarang.
“Eh, tadi lu bisikin apa aja ke Adit?”
tanya Ryan pada Senja.
“Gua ceritain aja semua kebusukan
kita,” Senja memelet abangnya itu.
Dan saat mereka berangkat
latihan, hari perlahan beranjak sore. Membuat warna orange yang menyala-nyala di
sekitar bagian biru-nya. Ah, waktu senja memang selalu menyajikan epilog yang bahagia
dalam sebuah hari.
***
Epilog
Tim Potrait berhasil mengalahkan
Apache dengan skor tipis, 9-8. 3 gol diciptakan oleh Oim, 2 oleh Ryan, dan 4
gol diciptakan oleh playmaker baru mereka, Senja. Ryan hanya bermain satu
babak, kemudian diganti oleh Oim. Adit yang saat itu menjadi kiper selalu saja
memperhatikan permainan Senja. Dan benar katanya. Permainan gadis itu memang
sangat hebat. Bahkan ia yang menciptakan gol terbanyak. Benar-benar deh, tim
Apache dipermalukan oleh seorang cewek. Ya, seorang cewek berbakat.
“Bener kan kata gue?!” kata Adit
kepada rekan-rekan timnya setelah pertandingan usai.
“Apa?” tanya mereka.
“Setelah gua perhatiin dari
tadi...” kata-kata Adit sengaja ia potong.
.”..Dada Senja emang kecil.
Hahaha!” Adit tertawa, diikuti oleh tawa teman-temannya.
“Ih! Awas ya! Pokoknya, nanti
KDRT!” Ancam Senja.
Ah, senja memang selalu menyajikan epilog yang bagus.
--tamat--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar