Minggu, 27 Desember 2015

#Cerpen Senja-Epilog Hari Itu


Waktu membaca: 7-9 menit
“Dalam kalender Islam, sebuah hari dimulai setelah malam tiba. Atau lebih tepatnya lagi, ketika waktu maghrib tiba. Itulah permulaan hari. Karena dalam kalender Islam, perhitungan didasarkan oleh pergerakan bulan. Maka semua dimulai pada?”
“Malam hari, bu!” Jawab para murid serentak.
“Bagus, ibu pikir kalian sudah paham. Maka, cukup sekian pelajaran hari ini. Jangan lupa PR yang ibu berikan yaitu membuat kalender tahun 1433 H. Kalian cukup menyalinnya dari kalender lain, atau mencarinya di internet. Terserah kalian!” Bu Juwariyah menutup kelas,” Wassalamualaikum warhmatullahi wabarakatuh.”
Para murid menjawab salam dengan cepat dan segera berhamburan keluar kelas. Pelajaran Agama adalah pelajaran terakhir, selalu saja menjadi pelajaran terakhir di jadwal mereka. Selaras dengan pemikiran Adit, agama memang selalu berada di urutan terakhir. Tentu saja, seperti dalam hidup. Bersenang-senanglah selagi kau masih muda, baru pikirkan akhirat saat umurmu sudah menginjak kepala lima. Itu pikirannya!
“Hey, futsal jadi gak? Lusa nih,” tanya Anto padanya saat mereka sedang nongkrong di Cafe “Cefa”, basecamp mereka.
“Ya jadi dong! Ini kesempatan kita buat nunjukin ke anak-anak Apache kalau tim kita itu patut disegani!” Jawab Adit dengan percaya diri sambil menggenggam Lencana Kapten yang selalu ia bawa, sebuah tanda bahwa ia adalah pemimpin tim itu. Tim SMA mereka, Potrait, memang akan bertanding melawan SMA 5, atau yang lebih akrab dipanggil Apache dalam pertandingan persahabatan futsal.
“Tapi si Ryan sakit, bro. Dia lagi dirawat di rumah sakit gara-gara DBDnya. Kita kekurangan playmaker nih! Gimana?” Tanya Kumoy.
“Kita udah gak bisa ngebatalin lagi. Kalau kita ngebatalin begitu aja, nanti reputasi kita bisa jatuh merosot, sot, sot, sot. Terjun bebas, bro!” Adit menjawab lagi.
“Tenang aja, gua yakin kok kalo si Adit kipernya, semua bakal bisa kehalau dengan baik. Ya gak Dit?” Unggah Oim, sang striker yang juga adalah sahabat baik Adit semenjak masih kecil. Ucapannya itu membuat kepercayaan diri mereka naik.
“Yo-yoi!” Adit mengayunkan tangannya yang terkepal, memperlihatkan semangat yang ia punya.
“Okelah gua setuju. Tapi satu lagi siapa nih? Tim kita tinggal 4 tanpa Ryan,” Kumoy memberikan pernyataan yang baru mereka sadari. Selama ini mereka gak punya pemain cadangan!
“Kita ajak aja anak basket!” Usul Anto.
“Ah, mereka ketinggian, futsal kan maennya bola-bola bawah,” kata Adit.
“Anak bola?”
“Mereka ada pertandingan hari itu.”
“Gak bisa?”
“Ya gaklah! Mana mau mereka?!”
Tim kecil itu pun berpikir. Adit mengelus jenggot halus yang ada di dagunya. Oim menggaruk rambutnya. Anto mengelus pipinya. Sementara Kumoy mengelus bibirnya. Lalu tiba-tiba terbersit sebuah ide di benak Adit.
“Kita ajak Senja aja!” Ucapnya kegirangan.
“Hah? Senja? Dia kan cewek Dit! Masa maen futsal?” Kumoy menyergah.
“Emang ada peraturannya gituh? Kalo perempuan gak boleh main?” Tanya Adit,” lagian gua denger dia pemain terbaik waktu ada kontes futsal cewek se-kabupaten.”
“Yah, kan beda kelas atuh Dit!” Sergah Anto lagi.
“Lu gak takut ntar dia kena pelecehan seksual?” Kumoy kali ini hebat juga karena memikirkan keselamatan harga diri orang lain.
“Tenang aja, Senja dadanya kecil kok, gak bakalan kena deh!” Adit membela.
“Tapi emangnya dia kuat? Staminanya bro!” Balas Anto lagi.
Adit mengerutkan alis. Ada benarnya sih. Sekarang tinggal Oim yang belum memberi pendapat. Semua mata pun  akhirnya mengarah pada Oim.
“Gimana menurut lo Im?” Tanya mereka bertiga.
Oim berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “menurut gue, mending sekarang kita jenguk Ryan. Terus kita tanya dia. Sebagai sama-sama playmaker, jawaban gua akan sama kayak punya dia.”
Semua setuju.
***
Rumah Sakit “Datang tak sehat Pulang tak berduit” itu berdiri megah di atas tanah 3000 meter persegi di pusat kota. Tim Futsal Potrait pun tiba di sana dengan cepat, karena letak sekolah dan tempat nongkrong mereka juga berada di pusat kota.
“Hah?! Lu ngajak cewek buat bantuin kita tanding futsal ama Apache? Dah gila lu?” Jawab Ryan saat mereka mengutarakan maksud sebenarnya dari besukan mereka hari itu.
“Eh, jangan salah dulu. Dia itu pemain terbaik futsal cewek se-kabupaten! Gua yakin kok dia bisa gantiin posisi lu,” Adit beralasan.
“Heh, lu diem aja Dit! Biar si Ryan ambil keputusan. Gini yan, gue ama kumoy tadi udah gak setuju. Tinggal lu sama Oim yang belum jawab. Kalau jawaban lu engga, ntar Oim juga sama kayak lu jawabannya,” Anto menjelaskan.
Ryan berpikir sebentar,” kalau gitu, gue...”
“Bentar,” Oim memotong kalimat Ryan dan kemudian membisikkan sesuatu ke telinga rekannya tersebut,.”.......” Alis Ryan tampak berkerut saat mendengar apa yang disampaikan oleh Oim kepadanya. Setelah selesai, Oim pun kembali ke posisi awal.
“Oke, keputusan gue adalah....”
“Gue setuju.”
“Nah! Begitu dong! Berarti kedudukan sama nih. 2-2. Gimana keputusan terakhirnya?” Adit sumringah, entah apa yang dibisikan Oim ke Ryan tadi. Yang jelas, pemikiran anak itu langsung berubah 180 derajat.
“Berarti, untuk ngambil keputusan itu, cuma ada satu cara...” ucap Oim.
”...Kita harus tanya Senja.”
***

Senja adalah tipikal-tipikal cewek yang cantik, tapi tomboi. Tipikal yang bisa lembut, tapi juga tegas. Tipikal yang diam-diam menghanyutkan-lah istilahnya. Bayangkan saja, dia juara umum, tapi juga jago futsal, bahkan bisa mengantarkan tim sekolahnya menjadi juara tiga futsal di kabupaten. Walaupun hanya juara 3, ia tetap dinobatkan menjadi pemain tebaik.
Senja mempunyai kepribadian yang feminim, tapi juga bisa galak. Dia mempunyai dua buah sisi kepribadian yang menurutnya bisa berguna untuk menghadapi cowok-cowok zaman sekarang ini. Terutama yang suka bandel. Karena kebanyakan cowok mendekati cewek itu karena nafsu mereka. Bukan karena ketulusan mereka.
Akhirnya, tepat hari esoknya, mereka berempat mendatangi Senja untuk memberikan penawaran ini kepadanya. Sebenarnya hanya Adit sih yang datang, ya masa diserbu gitu aja? Mereka mengirim Adit sebagai utusan.
“Emm, Senja?” Adit membuka percakapan.
Senja menengok, “iya? Ada apa Dit?”
“Umm...”
ADUH GUA MESTI NGOMONG APA? Adit membatin.
“Mau ngomong apa?” Tanya Senja lagi.
“Umm, bapak kamu satpam ya?”
Senja berpikir sejenak. Kok Adit nanya gitu? Pengen ngegombal? Ah, tau deh. Jawab saja ya. Lagian Senja juga penasaran dengan gombalan itu.
“Iya, kok kamu tahu.”
AH, GUE DAPET SINYAL BAGUS NIH DARI DIA, Adit bersorak dalem hati. Teman-temannya memperhatikan dari balik tembok saat sang kapten beraksi.
“Soalnya...” Adit berhenti sejenak agar suasana lebih dramatis.
“Gue milih lo buat ikut tanding futsal lawan Apache! Mau ya? Mau?” Adit berseri memamerkan gigi-gigi putihnya. Senja bingung. Gombalan cowok ini sepertinya ngawur, sama kayak otaknya.
“Hah? Ngaco amat lu!” Senja mencoba menyatukan potongan-potongan kalimat Adit yang rancu minta ampun,” lu mau ngegombal atau ngajak gua maen futsal, Dit?” Tanya Senja.
“Eh...” Adit tergagap,” dua-duanya, hehe.”
“Gini nih, biar gua jelasin situasinya. Besok, Potrait bakal tanding sama Apache. Tapi si Ryan, playmaker kita, lagi kena DBD di Rumah Sakit, jadi dia gak bisa ikut. Sementara kita gak punya pemain cadangan, dan gua denger lu pemain terbaik se-kabupaten, jadi gua milih lo buat gantiin Ryan! Gitu ceritanya,” Adit menjelaskan panjang lebar.
Senja memutar boloa matanya,” ini pertandingan penting?”
“Antara hidup dan mati!” teriak Adit antusias,” kalo kita kalah, reputasi kita bakal terjun bebas.”
“Kenapa lu gak ngajak cowok lain ikut? Kenapa musti gua, cewek?” bombardir Senja dengan pertanyaan.
“Biar gua bisa ngeliat, betapa memalukannya Apache dikalahkan oleh cewek, dan biar gua bisa liat, lu mempermalukan mereka semua dengan kehebatan permainan lu! Kita semua percaya sama lu, Ja!” Kata-kata Adit yang satu ini benar-benar keren, sebuah contoh persuasi dahsyat yang menyerang pertahanan hati lawan bicaranya. Siapa coba yang tahan dengan pujian, dan kepercayaan orang lain tentunya.
“Lu yakin?”
“Seyakin cinta gua ama lu!” Radit keceplosan,” eh...”
Plak!
Sebuah tamparan keras bersarang di pipinya. Ah, sial!
“Kalau lu cuman pengen nembak gue, bilang dari tadi! Gak usah bawa-bawa permainan futsal gue, dan juga harga diri Potrait. Apaan tuh? Bullshit! Ntar juga lu kalah, suruh keluar juga tuh temen-temen lu yang dari tadi ngumpet di balik tembok. Heh! Ntar juga lu bakal kalah!”
Dramatis.
Setelah tamparan itu, Senja pun pergi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Yang lain akhirnya keluar menghampiri Adit yang sedang kesakitan memegangi pipinya.
“Tuh, kan Dit, gua bilang juga apa! Lu sih ngocol!” Anto menyalahkan temannya itu.
“Tau tuh, sial,” Adit mengumpat dirinya sendiri.
“Lagian lu terakhirnya pake nembak dia sih! Dasar busuk lu Dit, ternyata emang lu pengen nembak dia kan dari awal? Makanya lu nyaranin dia buat ikut tim kita!” Kumoy menghujaninya dengan kata-kata pedas.
“Professional dong Dit, udah tau kita lagi ada masalah, lu malah bawa-bawa masalah personal ke tim kita. Jadi gini kan? Gagal nih semua. Mana harga diri kita turun gara-gara kejadian ini! Ah, percuma lu sebagai kapten. Gak berguna!” Anto pun menyerangnya juga.
“Cape gua Dit, di-kapten-in sama orang busuk kayak lu!” Kumoy menghardiknya.
“Payah!”
“Cacad lu!”
Adit hanya tertunduk sedari tadi. Ia berusaha mencerna kata-kata teman-temannya. Ya, memang ini salahnya, sejak awal ia memang hanya ingin menembak Senja! Itu kesalahannya. Ia menyukai gadis itu. Tapi hasilnya? Sudah ditolak mentah-mentah, dapat tamparan, teman-temannya pun menghardiknya bergantian.
“Eh, lu berdua! Kita lagi banyak masalah nih, gak usah deh lu nambahin masalah dengan malah menyalahkan Adit atas kejadian tadi!” Oim membela.
“Gapapa, Im, emang salah gua. Gua emang gak pantes buat mimpin lu semua. Mulai sekarang, biar Oim aja yang jadi kapten. Gua nyerah, gua mundur dari tim ini. Selamat tinggal,” Adit mengambil Lencana kapten dan memberikannya pada Oim, sebelum kemudian ia melangkah gontai meninggalkan mereka yang terpaku. Sampai seginikah?
“Dit! Lu gak bisa mundur gitu aja dong!”
“Gak, semua udah selesai, Senja benar, kita semua emang bakal kalah!” Adit berteriak.
“Dit!” Oim mengejar Adit dan memegang pundaknya, kemudian memutar tubuh itu agar berhadapan langsung dengan wajahnya,” Lu ga bisa gini! Lu kapten kita!”
Plak!
Oim menampar Adit sangat keras.
“Gak! Im! Gua gak bisa!”
“LU BISA!”
“GUA NGGAK! LEPASIN GUE!”
Adit memberontak dan kemudian lepas. Ia berlari menjauh dari teman-temannya, meninggalkan Oim yang terpaku, juga Anto dan Kumoy yang tertunduk menyesal karena perkataan mereka yang telah sangat menyakiti perasaan sang kapten, yang juga kiper tim mereka.
Tim mereka tinggal 3 orang. Dan pertandingannya besok.
***
“So, sekarang pikirin bagaimana kita bisa bikin harga diri kita selamat di pertandingan besok. Siapa yang punya ide?” Oim membuka percakapan di antara mereka bertiga. Yang sekarang tinggal bertiga.
“Gak tau dah Im, gua hampir putus asa nih,” Kumoy menghembuskan nafas.
“Mungkin harga diri kita udah gak bisa selamat lagi.”
“Sekarang mendingan berhenti menyalahkan keadaan. Kita gak usah nyalahin siapapun lagi, dan mulai berpikir mencari solusi, karena walaupun kita nantinya kalah, kita jadi belajar sesuatu,” Oim menjelaskan kepada yang lain.
“Bahwa kita harus punya pandangan positif dalam setiap masalah, bener kan?” sebuah suara dari belakang mereka datang secara tiba-tiba. Dan tengoklah siapa yang berbicara.
“Ryan? Lo Ryan? Lo kok bisa ke sini? Emang nya udah sembuh?” Anto sumringah begitu mengetahui bahwa Ryanlah yang tadi berbicara pada mereka.
“Lu udah sembuh?” Kumoy bertanya senang. Mereka pun bergantian memeluk sang playmaker.
“Iya-iya, gua udah sembuh. Baru aja, dan gua langsung minta pulang dari rumah sakit begitu tau keadaan tim kita kayak gini. Jadi, tenang aja, tim kita bisa main kok,” Ryan berkata dengan rekahan senyuman. Ia seperti malaikat saja.
“Wah, bagus dong!” Anto menyambut bahagia.
“Berarti udah 4 orang. Satu lagi siapa nih?” Tanya Kumoy.
“Hahaha, gak usah khawatir, orang yang lu pada incer dari kemarin udah ada di sini. Tuh!” Ryah menunjuk ke belakangnya. Di sana, dalam jarak kira-kira 50 meter, berdiri seseorang yang tadi menolak mereka mentah-mentah. Di sana, ya, di sana Senja berdiri dengan tegap mengarah pada mereka.
“Senja? Mau ngapain dia di sini?” Tanya Anto. Senja pun berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum.
“Ya mau ikut tanding bareng kita lah bro!” ujar Ryan dengan mantap,” Senja tuh adik tiri gue. Dan yang tadi sebenarnya cuma sandiwara aja. Begitu gua dibisikin Oim bahwa sebenarnya si Adit pengen nembak si Senja, gua langsung nyusun rencana ini sama Senja. Sebenarnya mah si Senja pasti mau kalo kita ajakin maen futsal, wong itu hobinya. Cuma kita bikin sandiwara aja kalo dia nolak Adit dan nolak kita mentah-mentah. Hahaha, ya gak ja?”
“He-eh,” Senja meng-iyakan.
“Sialan lu semua ngerjain dasar!” Kumoy berkata.
“Hehe, pisss...” Ucap Senja.
“Fyuh... ternyata begitu,” Anto berucap lega,” gua baru tau loh lu berdua kakak beradik, gak pernah keliatan bareng soalnya.”
“Emangnya harus diliatin?” Balas Senja, diikuti oleh anggukan Ryan.
“Jadi sebenarnya lu mau gak sih ama si Adit?” Tanya Kumoy penasaran, sekaligus iseng menanyainya.
“Ih, apaan sih lu Moy!” Senja mengelak.
“Hahaha, canda elaah...” Kumoy tertawa.
“Ya mau lah! Orang dia kemarin cerita ke gue! Hahaha!” Ryan tertawa.
“Ih, apaan sih lu bang! Gak usah bilang-bilang deh!” Senja mencubiti abang tirinya itu.
“Hahaha, ampun bu!”
“Ee cieee.... Senja ama Adit, kayaknya lu berdua emang cocok.”
“Tau ah, bete nih gue. Gak jadi tanding nih!” Senja mengancam.
“Eh, iya, sori-sori. Ampun,” pinta Kumoy dan Anto yang dari tadi menggodanya.
“Nah, sekarang tinggal ada satu masalah lagi,” ucap Oim tiba-tiba. Dari tadi ia diam saja.
“He-eh,” kata Ryan,” gua baru sembuh, jadi gak kuat maen full.”
“Kita masih butuh sang kapten.”
“Tapi gimana nih? Dia ngambek berat gara-gara sandiwara lo berdua,” Anto bertanya.
“Tenang aja kali, kan ada gue,” Senja tersenyum.
Hohoho, bener juga.
***.
Adit mengutuki dirinya sendiri. Mengapa tadi ia begitu labil? Ah, menyesal sebenarnya ia mengundurkan diri dari jabatan kapten, sekaligus keluar dari timnya. Ia menyesal. Ia ingin meminta maaf, namun apakah teman-temannya akan memaafkannya?
Ia berpikir keras, lalu mencoba memutuskan.
Oke, aku akan minta maaf.
Adit pun mengambil handphone, dan baru saja ingin menghubungi Oim saat tiba-tiba sebuah unknown number memanggilnya.
Siapa nih? Tapi baiklah, kita angkat.
“Halo?” katanya.
“Halo! Gua juga cinta lu! Dateng ya ke Cefa dalam 30 menit. Atau kalo engga, cintanya gua cabut lagi! Muah-muah-muah! Gua tunggu,” sebuah suara berbicara dengan cepat, diakhiri dengan suara orang mencium.
Tapi apakah ia tidak salah dengar? Itu kan suara Senja?
Senja cinta gue? Mimpi apa gue barusan? Tapi biarlah. Gue harus ke Cefa dalam 30 menit, gak boleh mengecewakan sang pujaan hati. Hahaha, Adit membatin.
Ia pun mengambil motor dan menyalakannya. Sial, mogok. Ah terpaksa naik ojek, walaupun ongkosnya mahal. Tapi gak apa-apalah. Harus berkorban!
Sementara itu di Cefa...
“Gila, so sweet amat lu! Tapi ganas!” Kumoy mengomentari telpon Senja tadi.
“Hahaha, bodo!” Senja berujar.
“Gua gak bisa ngebayangin begitu kalian nikah, akan sering terjadi KDRT nantinya,” Anto iseng banget ngomong kayak gitu.
“Isshhh, gak banget deh...” Senja berkata,” gua mah kalo jadi istri akan selalu di bawah,” Senja memelet.
Baik Anto, maupun Kumoy, langsung menengadah ke atas, seperti mengkhayalkan sesuatu.
“Eh, Gak usah mikir jorok ya! Awas kalian!” Senja bangkit dari duduknya dan mencoba menyerang mereka berdua. Dengan sigap Anto dan Kumoy pun menghindar.
“Eh, itu dia datang,” serentak semua pun berhenti bercanda.
“Dah, samperin dah tuh cinta lu!” Anto menyuruh.
“Isssh!”
“Wakakakak, buruan!”
“Iye-iye,” Senja pun berjalan menghampiri Adit yang sedang membayar ojek. Teman-teman yang lain hanya bisa tersenyum-senyum di belakang. Menertawai yang sebentar lagi akan terjadi. Kira-kira apa ya?
Senja menghampiri Adit. Adit pun menatap gadis itu terpaku. Dan dengan cepat Senja mendekatkan kepalanya pada kepala Adit, membisikkannya sesuatu.
“Oh, jadi begitu! Sial kalian semua!” Adit berteriak seraya berlari ke arah mereka yang duduk-duduk, juga seraya menggandeng tangan Senja,” awas ya! Ini lelucon terburuk yang pernah gua dapet dari temen gue! Ayo langsung kita latihan aja! Gak usah bahas apa-apa lagi tentang ini.”
Serentak semuanya tertawa bahagia. Semua tampak senang sekarang. Masalah-masalah beres, dan yang penting, ada pasangan baru di tim mereka sekarang.
“Eh, tadi lu bisikin apa aja ke Adit?” tanya Ryan pada Senja.
“Gua ceritain aja semua kebusukan kita,” Senja memelet abangnya itu.
Dan saat mereka berangkat latihan, hari perlahan beranjak sore. Membuat warna orange yang menyala-nyala di sekitar bagian biru-nya. Ah, waktu senja memang selalu menyajikan epilog yang bahagia dalam sebuah hari.
***
Epilog
Tim Potrait berhasil mengalahkan Apache dengan skor tipis, 9-8. 3 gol diciptakan oleh Oim, 2 oleh Ryan, dan 4 gol diciptakan oleh playmaker baru mereka, Senja. Ryan hanya bermain satu babak, kemudian diganti oleh Oim. Adit yang saat itu menjadi kiper selalu saja memperhatikan permainan Senja. Dan benar katanya. Permainan gadis itu memang sangat hebat. Bahkan ia yang menciptakan gol terbanyak. Benar-benar deh, tim Apache dipermalukan oleh seorang cewek. Ya, seorang cewek berbakat.
“Bener kan kata gue?!” kata Adit kepada rekan-rekan timnya setelah pertandingan usai.
“Apa?” tanya mereka.
“Setelah gua perhatiin dari tadi...” kata-kata Adit sengaja ia potong.
.”..Dada Senja emang kecil. Hahaha!” Adit tertawa, diikuti oleh tawa teman-temannya.
“Ih! Awas ya! Pokoknya, nanti KDRT!” Ancam Senja.
Ah, senja memang selalu menyajikan epilog yang bagus.
--tamat--



Tidak ada komentar:

Posting Komentar