Senin, 21 Desember 2015

#Cerpen Without Me

Waktu membaca:10-12 menit
Selasa siang, tanggal 07 Februari 2012
Aku riskan. Menatap seorang perempuan muda yang tengah berjalan santai di trotoar di depanku. Muda? Ya, dia memang masih kelas 2 SMA. Masih 17 tahun. Rambutnya mengilap disinari matahari. Hitam. Namun kalau kawan cermat, kita bisa melihat sebuah keganjilan dari icon keanggunan wanita tersebut. Tadi pagi, perempuan itu salah memakai shampo. Rambutnya malah dipakaikan dettol.
Namun Perempuan itu tak mau ambil pusing.

Siswi SMAN 8 Jakarta tersebut masih tetap mengonstankan laju kakinya. Dan mungkin karena lelah, ia menyeret tas abu-abu yang sudah 2 tahun ini menemaninya bersekolah. Menyeret? Ya, Diseret. Bukan dipakai atau—paling tidak—ditenteng.
Namun perempuan itu tetap tak mau ambil pusing.
Andiyani—namanya—memakai seragam SMA yang kebesaran. Lengan bajunya menutupi sikut sehingga nampak ganjil. Rok abu-abu yang longgar hingga sepatu besar yang jelas-jelas bukan ukurannya. Aneh.
Dan perempuan itu masih tetap tak mau ambil pusing.
Teman-temannya memanggil Andiyani “miss ok-ok aja.” Bukannya apa-apa, tapi memang karena Andiyani selalu bersikap datar. Meski begitu, ia adalah seorang perempuan yang brilian, belum ada yang bisa mengalahkannya dalam hal pelajaran sekolah, terutama IPA. Ya, kepintarannya itu senada tinggi dengan kecuekkannya. Apa saja diterimanya dengan ok, asal tidak merugikannya. A, ya sudah, B, tidak apa-apa, C, its ok lah.
Hidupnya hanya sebatas ok.
Apa yang terjadi padanya? Entahlah, satu hal yang pasti ia tidak memiliki aku. Aku yang seharusnya dipunyai semua orang, aku yang seharusnya ada dalam diri setiap manusia di muka bumi ini, akulah yang melengkapi hidup mereka, mewarnainya dengan keindahan. Dan hanya Andiyani yang tidak memilikinya. Satu-satunya di dunia ini. Andiyani, perempuan itu...
Ia tidak memiliki cinta.
Jadi kawan, perkenalkan, aku adalah cinta.
***
4 tahun yang lalu, bu Ratna, ibunya Andiyani, mulai curiga kepada anak sulungnya yang tidak seperti remaja lain. Andiyani berbeda. Ia seperti memiliki kelainan. Ia bukanlah seperti remaja yang ia kenal, dan yang pernah ia rasakan. Ia tidak memiliki ciri-ciri psikologis remaja saat pubertas.
Andiyani tidak pernah berbicara tentang laki-laki.
Andiyani no problem saja dengan penampilannya.
Andiyani tidak pernah memiliki hal favorit.
Sang ibu khawatir.
Dan setelah bertemu macam-macam psikolog, ia belum juga bisa menemukan titik masalah sang sulung. Bu Ratna hampir putus asa, hingga akhirnya...
“Dia berbeda...”
“Iya pak, tapi kenapa hal ini bisa terjadi?” Tanya bu Ratna.
Psikolog itu getir,” Sebenarnya saya agak khawatir untuk menyampaikan hal ini...tapi, apa boleh buat...” Psikolog itu berhenti sejenak,” Andiyani...Dia tidak memiliki rasa cinta...”
Bu Ratna menahan nafas mendengarkan “vonis” tersebut. ”Maksudnya pak?”
“Dia tidak dapat mencintai apapun. Semua perasaannya hanya sebatas rasa suka saja. Tidak dibarengi dengan rasa empati dan rasa memiliki.”
Bu Ratna menghela nafas panjang.
Psikolog itu mengelus dagu. ”Ya, dan Andiyani adalah orang kedua yang saya temui yang mempunyai kelainan ini...Orang pertama, kalau ibu mau tahu, dia sudah sembuh, dan dapat mencintai lagi.”
“Siapa dia pak??!! Apa dia masih hidup??!!! Bagaimana agar anak saya bisa sembuh seperti dia??!!” Bu Ratna setengah berteriak.
“Sabar bu, tenang... Tentu saja sekarang dia masih hidup, biar saya panggilkan dia sekarang...” Psikolog itu memanggil seseorang dari dalam rumahnya. Dan tak lama kemudian seorang wanita cantik datang.
“Perempuan inilah orang pertama,” ucap sang Psikolog,” dan dia adalah istri saya.”
***
Selasa paginya, tanggal 07 Februari 2012
“Hei An!!” Lambai Rani, teman sebangku Andiyani saat di kelas.
“Hai, selamat pagi...” Balas Andiyani datar seraya duduk di bangku mereka.
“Eh, ada kabar baik, kita diundang ke acara Aqiqah-an adiknya Andas yang baru lahir, lu datang yak?” Rani bersemangat memberitahukan hal tersebut. Memang aneh, sahabat-an ini yang satu datar dan yang satu ceria.
“Kapan?” Tanya Andiyani.
Malem ini, ntar lu gua jemput deh...”
“Hmm...Oke deh,” jawab Andiyani.
Dasar mis ok-ok aja.
“Sip.”
Dan saat itu, takdir mulai menyiapkan rencana.
***
“Jadi bagaimana bu, cara agar anak saya sembuh?” Tanya bu Ratna pada sang istri psikolog, 4 tahun yang lalu.
“Pertama, ini adalah kekuasaan Tuhan yang telah memberi Andiyani kelainan dari remaja lain. Jadi yang harus kita lakukan pertama kali adalah, Jangan pernah menyalahkan-Nya.”
Bu Ratna seksama.
“Yang kedua, dan yang terakhir adalah, kita harus menunggu sanpai cinta itu datang sendiri, karena tidak mungkin manusia hidup selamanya tanpa nurani. Dan pada saatnya, Andiyani akan sembuh, kembali menjadi manusia yang dapat mencintai. Waktulah yang akan menyembuhkannya.”
Jadi semua sudah jelas, Andiyani masih punya harapan. Namun entah kapan.
***
Rani datang jam 8 tepat, sendiri mengendari sepeda motornya. Andiyani sedang mengobrol dengan ibunya di teras saat itu. Sembari menunggu Rani yang akhirnya datang juga.
“Hati-hati ya di…” bu Ratna mewanti.
“Iya bu…”Andiyani datar saja.
“Jangan kemalaman…”
“Oke..” Andiyani berujar sambil menaiki jok belakang.
“ Kita pergi dulu ya tante…” Rani tersenyum.
“Iya…” dan saat kalimat itu meluncur dari mulut bu Ratna, beliau merasakan sebuah firasat aneh, namun menggembirakan.
Motor itu pun melaju, membelah malam.
***
Andas mengusap keringat di keningnya. Ternyata capek juga ya, pikirnya. Acara syukuran itu memang hampir sama dengan hajatan perkawinan. Dan kali ini yang berbeda adalah, mereka tidak menyewa pembantu sama sekali. Andas dan ayahnya-lah yang menyiapkan segala tetek-bengek acara, dari mulai konsumsi, sampai akomodasi.
“Sekarang gantian, biar ibu yang beristirahat, kita yang kelelahan,” ujar sang ayah bijak ketika Andas ingin protes mengapa mereka tidak menyewa pembantu saja.
Dan alasan itu memang masuk akal. Acara tergelar, sang ibu beristirahat dengan bayinya, dan 2 laki-laki itu mondar-mandir mengurusi semuanya.
***
Malam itu, malam rabu yang sangat cerah. Takdir sudah menyiapkan segalanya. Langit begitu anggun berarak. Bintang-bintang bernyanyi, dan bulan bersajak. Bahkan matahari yang sedang berada di belahan lain dunia pun ikut tersenyum. Aku, sebagai cinta, sedang bersiap.
Di jalan, ketika roda motor Rani membelah ruas jalan raya, Andiyani merasakan sebuah firasat aneh, seperti sebuah sugesti yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah perasaan, ya, namun ia belum tahu apa.
“Nah, sudah sampai,” Rani menghentikan motornya di depan sebuah tenda yang menghelatkan bahwa di situ ada sebuah acara,” Andas pasti sudah nunggu dari tadi.”
“Eh Ran, apa teman-teman juga datang?” Tanya Andiyani.
“Semuanya sih diundang, tapi nggak tahu deh yang datang berapa, mereka pada sibuk sendiri sih.”
“Emm…kok kita datang sih, kalau yang laen nggak datang?”
“Gak tau deh, gua cuman punya feeling aja kalau kita harus datang, sudah yuk ah, masuk,” ujar Rani seraya menarik tangan Andiyani agar mengikutinya.
“Hei! Rani datang rupanya! Eh, miss ok-ok aja juga datang ternyata!” Andas menyambut mereka ramah. Ia sedang mengambil beberapa piring kotor di bawah kursi tamu.
Andiyani merasa sidikit terusik karena Andas memanggilnya begitu, tapi memang sejak kapan ia terusik dengan panggilannya?
“Eh iya nih, acaranya mulai jam berapa, Das? Wah, tumben nih jadi party boy, beres-beres piring…” Rani membalas.
“Jam 5 sore tadi, hahaha, iya nih, gantian sekarang ibu gua yang istirahat habis melahirkan, guanya yang capek deh,” Andas tersenyum. Simpul. Dan Andiyani merasakan sebuah getaran. Laki-laki itu tulus sekali kelihatannya.
Hei, ada apa dengan senyuman Andas?
“Hahaha, bagus dong, biar nanti jadi calon suami yang baik!” Rani kembali berujar.
“Husss!! Jangan bilang gitu ah, malu gua jadinya! Eh ngomong-ngomong kok si Andiyani diam aja dari tadi…”
“Eee..eh, iya gak apa-apa, gua cuman gak tau aja mau ngomong apaan,” balas Andiyani. Ia malu sekali namanya disebut seperti itu.
“Hahaha, ya sudah sana masuk! Ketemu adik kecil gua yang lebih cantik dari lu berdua!!” Andas menyuruh.
“Huuuu…dasar!! Ya sudah, selamat bekerja!!”
“Hahaha…Iya…”
“Gua masuk dulu…” Kali ini Andiyani yang bicara.
“Eeeeh.. iya…”Andas menjawab. Tumben dia ijin.
Dan itu baru sebuah awal.
***
Bu Karima sedang menyambut tamu-tamu yang berdatangan mengucapkan selamat atas kelahiran anak keduanya. Ia sudah memasang wajah tersenyum selama 3 jam, dan nampaknya masih ada yang akan datang juga. Ia menatap bayinya selama beberapa saat sampai dua orang cewek SMA datang.
“Ehhh…adik bayi!!!” Rani berteriak.
“Sssst!!! Jangan berisik lu Ran!” Andiyani mengingatkan. Hah? Tumben dia peduli, pikir Rani.
“Eh, iya, kenalkan namanya Dina Maharani, ucap bu Karima.
“Wahh…kebetulan tante! Nama saya juga Rani!!”
“Yah, tapi itu kan Dina, Ran!” Ujar Andiyani.
“Sama aja lah…Ada Raninya juga kok…”
“Hahaha…iya..iya…sama aja…ini temannya Andas ya?” sergah dan tanya bu Karima.
“Iya bu, kita teman sekelasnya…Saya Rani…dan ini…”
“Andiyani…nama saya Andiyani…”
Bu Karima terkejut. Dia kan...Ah sudahlah, pikirnya.
“Kalian datang berdua saja?”
“Iya bu, tadi teman-teman Andas yang lain sudah datang belum?” Rani bertanya.
“Sudah ada tadi rombongan, tapi laki-laki semua, teman Paskibra Andas kata mereka,” Bu karima menjawab.
“Ohhh... kita telat dong...maaf ya bu..”
“Maaf..” Andiyani menambahkan. Sedikit.
“Iya..iya, tidak apa-apa kok,” Bu karima tersenyum lagi.
“Ayo Ran, kita doa dulu buat si kecil,” tukas Andiyani. Hah?
“Eh...ayo..” Mereka berdoa sebentar. Biasalah, mudah-mudahan bla-bla-bla.
“Makasih ya sudah datang...” ujar bu Karima. Ia menatap Andiyani,” kau juga sudah banyak berubah, semoga berhasil.”
“Berhasil? Berhasil apa bu?” tanya Andiyani.
“Dalam kehidupan,” sambung bu Karima.
“Oh.. iya bu makasih,” Andiyani berkata lagi. Ia merasa seperti ada maksud lain dalam perkataan ibu itu.
“Kami keluar dulu, mau ketemu Andas,” ujar Rani.
“Eh, iya-iya...” jawab bu Karima,” emmm...tapi Andi, mau bantu ibu sebentar gak?”
Andiyani menoleh,” ada apa bu?”
“Ini, berikan pada orang tuamu..” ucapnya sambil memberikan sebuah Flash Disk.
“Emmm...iya deh bu..” Ia berpikir,  apa mereka sudah kenal?
“Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam....”
***
Andas menatap piring-piring yang sedang dicucinya sambil berpikir. Heran, kok Andiyani jadi sedikit berubah ya? Lelaki itu bukannya mau ambil pusing, tapi, lucu aja melihat orang seperti Andiyani. Sebenarnya ia cantik juga ya, asalkan lebih ceria... namun Andas tak pernah berpikir tentang wanita lagi selama hampir satu tahun. Pengalamannya dulu dengan mereka membuatnya sadar bahwa yah, itu ada saatnya...
Andiyani...Andiyani...kenapa gua jadi kepikiran dia terus?
Dan tanpa sempat membiarkan Andas berpikir lebih lama, kedua perempuan itu datang.
“Woi! Andas sekarang sudah jadi bapak ya? Nyuci piring segala...” Rani yang mulai duluan, mengagetkan Andas yang sedang mencuci piring.
“Eh...elo berdua...ngagetin aja, hampir piring gua pecah berantakan, eh, sudah ketemu adik gua?” Andas menukas.
”Sudah dong...eh Das, katanya adik lu cantik, tapi pas gua liat kok gak jauh beda ama mukanya si miss ini,” Rani menyikut Andiyani,” hampir mirip malah.”
“Ihh.. Rani!! Apaan sih lu?”Andiyani protes.
“Hahaha...masa` sih? Emang gua punya ikatan saudara sama si cuek ini? Bisa mirip gitu?”
“Tau deh, takdir kali...” Rani menukas. Padahal Andiyani agak nge-fly tuh...
“Sudah ah, kok jadi ngomongin gua lu pada..” Andiyani tak setuju.
“Hahaha iye... udah gih lo pulang, ntar kemaleman lagi, gak baik cewek pulang malem-malem tuh..” Andas menukas.
“Gampang itu mah, bisa diatur...” Rani berujar.
“Kerjaan lu masih banyak das?” Andiyani bertanya. Entah apa yang menggerakkannya untuk mengatakan itu.
“Eh, si Andi nanya... iya nih, gua masih harus nyuci ratusan piring lagi, tumben lu peduli, jarang banget gua liat lu kayak sekarang...”
“Hahaha, iya nih, Andi kok berubah yak?” Rani menimpali.
“Ihhh.. apa sih lu berdua...” Andiyani mengelak.
“Lu mau bantuin di?” Tanya Andas. Andiyani ragu.
“Emm..boleh deh...”Andiyani menjawab. Semua yang ada di sana terkesima,  Andiyani mau membantu?
“Lu bisa nyuci piring gak?” Tanya Andas.
“Bisa lah, lu gak usah meragukan kehebatan gua dalam urusan rumah tangga,” Andiyani membanggakan dirinya untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
“Wah..wah, lu emang sudah bener-bener berubah, Di, dulu lu cuek habis, gak pernah ngomong kayak tadi,” Rani berujar, ia sih ogah membantu Andas,” lu berdua sudah kayak suami istri deh nyuci piring bareng, gua nunggu di depan ya, pengen nelpon pacar...hahaha, bye...”
“Woi!!” Andas menyipratkan air,” jaga tuh kata-kata... masa’ gua punya istri kayak dia?” Andas menunjuk Andiyani, Tapi Rani menghindar dan berlari.
“Tau ah, aneh dasar!!” Andiyani menimpali.
“Hahaha...lu pikir aja sendiri!!” Rani berteriak.
Pipi Andas dan Andiyani memerah.
“Gua gak suka sama lu!” tukas Andas.
“Sama!” tegas Andiyani.
“Ya sudah, lu jadi gak mau bantuin gua?” tanya Andas, siapa tahu Andiyani ingin pergi ke Rani.
“Ya jadilah, gua gak bisa menarik kata-kata gua, mana sini? Piring yang harus gua cuci?” Andiyani berujar. Hebat juga nih cewek,  pikir Andas.
“Nih..” Andas memberikan sebuah piring kotor.
Sebenarnya dia emang cantik kok, kalo dia sudah kayak gini, pikir Andas.
Andas ternyata berwibawa juga ya, gua kok jadi...ah apaan sih..., Andiyani tidak bisa berpikir lebih lanjut.
Malam itu, aku benar-benar telah masuk ke diri Andiyani.
***
Dan euphoria tentang impian serta jawaban memang semu. Semuanya penuh teka-teki. Entah apa rencana takdir selanjutnya, namun, inilah rahasianya. Semua yang telah, sedang, dan akan terjadi, semuanya telah tercatat. Ukirlah usahamu di catatan itu, kau bisa merubah takdir.
Malam itu, di mana genderang cinta berbunyi lantang, Andiyani telah mendapatkanku. Malam bersejarah di mana aku telah melengkapinya untuk terus hidup. Malam yang sangat indah, saat Andiyani merasakan cintanya yang pertama saat itu. Aku—yang sangat senang—tersenyum padanya.
Andiyani sudah sembuh. Dan ia mencintai Andas.
Hari-hari selanjutnya berlalu cepat. Andiyani benar-benar telah berubah sekarang. Ia menjadi orang yang pilih-pilih. Orang tuanya, teman-temannya, guru-gurunya, dan semua orang yang pernah mengenalnya menemukan sebuah sosok baru pada tubuh gadis berusia 17 tahun itu. Andiyani yang ceria. Andiyani yang peduli, Andiyani yang pilih-pilih. Dan semua itu semakin jelas terlihat seiring waktu, juga Andiyani yang selalu memikirkan Andas.
Tapi lucunya...
Saat cewek-cewek mau pergi ke mall...
“Eh, ajak Andiyani gak?” Fatma, teman sekelasnya, bertanya pada yang lain.
“Emmm...ajak sajalah, kali aja dia ok,” jawab Rani. Namun ternyata Andiyani tak mau.
Saat cewek-cewek mau pergi berenang...
“Eh, ajak Andiyani gak?” Hasna, teman sekelasnya, bertanya pada yang lain.
“Emmm...ajak sajalah, kali aja dia ok,” jawab yang lain. Namun ternyata Andiyani tak mau.
Saat cewek-cewek mau ke bioskop...
“Eh, ajak Andiyani gak?” Qonita, teman sekelasnya, bertanya pada yang lain.
“Emmm...ajak sajalah, kali aja dia ok,” jawab semuanya. Namun ternyata Andiyani tak mau.
Yah, lucunya, julukan Andiyani berubah. Ia menjadi miss kali aja dia ok.
***
Bu Ratna juga merasakan hal yang sama semenjak kepulangan Andiyani dari pesta Aqiqah tersebut. Ia melihat Andiyani yang berbeda, namun beliau tak mau mengusiknya dulu. Nanti pasti Andiyani akan bercerita.
Dan saat sulungnya tersebut memberinya flash disk yang diamanahkan oleh ibunya Andas, bu Ratna bertambah gembira.
Ya, kita sudah tahu prosesnya.
***
“Andi..lu kok berubah sih?” tanya Rani waktu pelajaran bahasa Indonesia. Mereka hampir berbisik saat itu. Iyalah, gurunya killer sih. Namanya bu Dewi, tapi perilakunya sudah kayak setan. Jadilah ia dijuluki bu setan.
“Emmm gimana ya? Gua juga gak tau Ran..” Andiyani menjawab sekenanya.
“Ohhh... jangan-jangan lu lagi jatuh cinta ya?” Rani tersenyum menggoda.
“Kok lu bisa ngomong begitu?” Andiyani balik bertanya.
”Habisnya lu bengong mulu sih kerjaannya,” Rani menjawab polos.
“Emm...Ran, sebenarnya tuh...” Andiyani baru berkata sepotong kalimat.
“Lu jatuh cinta sama Andas kan???!!!!” Rani berteriak menebak. Seisi kelas menengok. Lalu penuh dengan suara bisik-bisik. Andiyani dan Andas? Mereka tak pernah menyangka.
“Sssttt....Rani...lu jangan ngomong keras-keras, lagi pelajaran bu setan sekarang...” Andiyani memperingatkan, tapi sudah terlambat. Bu setan datang menghampiri mereka.
“Ups...ampun bu...jangan hukum kami...maaf..” Rani memelas saat guru killer itu sudah dekat dengan mereka.
“Rani, Andi...” bu guru itu mendekatkan kepalanya ke kepala mereka.
“Iya bu...” Andi dan Rani gelagapan.
“KELUAR!!!!!!!!!” Suara itu mendekati supersonik. Menggema tinggi sekali. Seperti mengandung nada-nada kesakitan dan penderitaan yang teramat lama. Bu Setan sekali lagi menampakkan murkanya.
Andiyani dan Rani tertunduk lesu ketika keluar ruangan. Semua murid yang tadi berbisik pun makin menjadi. Menyoraki, Huuu... dan lain sebagainya. Dan saat kebisingan itu mulai memuncak, gempa susulan terjadi.
“DIAM KALIAN SEMUA!!!!” walaupun susulan, tampaknya gempa ini lebih besar dari yang pertama.
Andas berdiri. Semua murid tidak ada yang berbicara.
“Bu, saya ijin pergi ke wc...” tukasnya.
“PERGI SANA!!!” Buset dah.
Semua murid di ruangan itu tahu apa yang ingin dilakukan Andas sebenarnya. Namun mereka tak ada yang berani komen.
Dasar, yang namanya setan memang seperti itu.
***
“Tuh kan...lu sih Ran, kita jadi disuruh keluar..”Andiyani menghelas nafas. Sekarang dia memang sudah tidak cuek lagi dengan everything.
“Iya...iya sori...” Rani meminta maaf.
“Woi kalian!!” Andas setengah berlari menghampiri mereka.
“Eh tuh suami lu datang,” Rani menggodanya lagi.
“Apaan sih lu, gua jadi malu kan...” Andi menutupi wajah.
“Eh, emmm.. gua mau ngomong sama Andi...lu gak keberatan kan Ran..?” Andas  berkata.
“Eh, gua?” Andiyani terkejut.
“Oh.. of course lah kalau kayak gitu, gua ngedukung banget kok lu berdua,” Rani menukas,” gua pergi dulu ya?” Dan ia pun berbalik pergi.
“Emm...gini di, gua dengar kalo....” Andas memenggal kalimatnya.
“Iya gua tau das, sori, tapi itu semua bener, Rani benar, gua..gua..emang jadi suka sama lu,” Andi gugup bicara.
“Dan ini baru yang pertama kali dalam hidup gua. Sekali ini doang gua baru tahu apa itu cinta, sebelumnya, sumpah, gua belum pernah jatuh cinta sama sekali.  Entahlah, makanya teman-teman manggil gua miss ok-ok aja.”
Andas memandang wajah perempuan itu,” Lu tau? Gua seneng kok lu suka sama gua, tapi lu juga harus tau, cinta itu ada waktunya, jadi...gua pengen banget ngomong ini ke lu di...”
Kalimat itu terpenggal lama...
“Gua juga cinta sama lu kok...”
Mereka saling mamandang.
“Tapi nanti kalau sudah waktunya... gua bakal kasih tau lu...”
Andiyani tidak mengerti apa yang dimaksud Andas dengan  pada waktunya, namun hari itu, ia sangat senang, melebihi apa yang pernah ia rasakan—apapun yang menyenangkan—yang pernah ia alami. Cinta, ah, cinta.
Lalu sebuah sms masuk ke hp Andi. Mereka berdua membaca bersama.
Kalo sudah fix kapan nikahnya, kasih tau gua ya?
Dasar Rani.
***
“Andi! Gue ada kabar baik buat lu!!” Andas berkata dengan nada gembira.
“Kenapa das?” Jawabnya.
“Sekolah kita diundang buat mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika. Dan tadi kepala sekolah menunjuk 2 orang perwakilan sekolah ini. Salah satunya adalah lu!!” Andas tersenyum senang.
“Really?” Andiyani hampir tak percaya. Tapi kalau Andas yang bicara mana mungkin ia tak percaya?
“Iya, program ini berlangsung selama satu tahun, lu bakal berangkat Juni nanti. Mungkin pihak sekolah belum ngasih tau lu tapi...ini spektakuler banget kan?” Andas menjelaskan dengan berbinar.
“Ya, memang,” Andiyani tersenyum indah. Tentu saja ia sangat senang.
“Satu orang lagi siapa das?” Tanya Andi.
“Satu lagi gua belum tahu, tapi yang jelas lu masuk kok, selamat ya!” Andas menyalami tangan Andiyani.
Andiyani masih berpikir. Satu tahun? Gue bakal kangen banget sama lu das.
Awan bersemarak di langit. Biarkan cinta itu meluap. Ya, takdir sangat rapih menyiapkan rencana.
***
Bu Ratna sangat gembira begitu menerima surat dari sekolah tentang pertukaran pelajar itu. Beliau tak bisa membayangkan ketika sulungnya tersebut akan berangkat ke Amerika untuk melakukan program ini. Ia akan sangat bangga.
“Iya sih bu, tapi kan...” Andi sedikit manyun saat mereka mengobrol tentang rencana itu.
“Tapi apa sayang?” Bu Ratna bertanya.
“Andi bakal sangat kehilangan dan merindukan seseorang...” Andiyani berkata jujur. Titik terang, pikir bu Ratna.
“Siapa sayang?” Bu Ratna bertanya kembali.
Dan Andiyani pun menceritakan semuanya. Tentang pesta itu, dan percakapannya dengan Andas. Tentang cintanya.
Bu Ratna sangat berbinar. Gembira, terharu, bahagia, semua meluap menjadi satu.
“Kau sudah mencintai nak!!”
Andiyani tertegun,” ya, dan aku mencintai Andas.”
“Sekarang saatnya ibu menunjukkan sesuatu untuk kamu,” bu Ratna tersenyum. Ia menyalakan komputer dan langsung mencolokkan flash disk yang dulu diberikan bu Karima padanya.
“Itu kan flash disk yang...”
“Kau benar, ini dari bu Karima, orang yang sangat berjasa kepada kita.”
Lalu kemudian beliau membuka sebuah folder yang berisi film dokumenter.
“Kau harus menonton ini sayang...ini adalah perjalanan hidup bu Karima...” ujar wanita itu. Sebuah pelajaran, tentang mencintai.
***
“Aku mempunyai sebuah film dokumenter,” ucap bu Karima pada bu Ratna, 4 tahun lalu,” bila saatnya telah tiba, tunjukkanlah pada Andiyani film tersebut, dan tontonlah, di sana terdapat perjalanan dan proses bagaimana seorang Karima yang tadinya hampa, dapat memiliki kebahagiaan.”
Ya, kawan. Bu Karima adalah istri sang Psikolog.
***
“Jadi das? Psikolog yang dulu gua kunjungi itu ayah lu?” Tanya Andiyani di sekolah.
“Ya, itulah faktanya, gua kenal lu pertama kali waktu lu datang ke rumah gua 4 tahun yang lalu. Lu masih SMP waktu itu, dan sama seperti ibu gua dulu, lu belum punya cinta.”
“Dan gara-gara rumah gua pindah, gua jadi gak pernah ketemu lagi sama lu. Tapi gak gua sangka, ternyata kita sekolah di SMA yang sama, satu kelas pula.”
“Das...”Andiyani berkata pelan,” Kemaren ortu gua dapet surat, yang harus ditandatangani untuk menyetujui bahwa gua boleh ikut program itu atau enggak, dan gua memutuskan...”
Andiyani menatap mata Andas.
“Gua gak mau ikut.”
Hening,” kenapa di? Apa jangan-jangan gara-gara gua lu jadi gak mau ngejar impian lu? Apa gara-gara cinta?”
Andiyani menghela nafas,” gua gak mau kehilangan lu, satu tahun itu waktu yang lama das, gua gak mau melepas apa yang baru gua dapet.”
“Iya, tapi kan itu hal yang konyol. Lu gak bakal kehilangan gua kok,” Andas meyakinkan. Namun Andiyani masih terlihat bingung.
Andi menarik nafas panjang,“ nanti gua datang ke rumah lu...”
Dan percakapan itu ditutup dengan pelukan hangat.
***
Hari hujan, namun Andas sudah berjanji akan datang ke rumah Andiyani hari ini. Ia nekat menerobos air hujan dengan sepeda motornya. Namun saat itu, takdir merencanakan sesuatu yang lain.
Sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan. Andas yang tak tahu bahwa di belokan berikutnya ada sebuah truk, tetap melajukan motornya. Namun  di sana bukan hanya ada truk.
Tapi juga kematian.
Dan hal itu pun terjadi. Andas pergi meninggalkan Andiyani, lebih jauh daripada sekadar pergi ke Amerika.
***
Andiyani belum pernah merasa sedih seperti ini. Ia merasa semua harapannya lenyap, meluap dan tak akan kembali. Inikah cinta?
Aku menatapnya dengan sedih.
Itulah permainan takdir.
Andiyani memandangi kuburan Andas dengan hampa. Di sebelahnya berdiri ibunya, juga bu Karima dan sang Psikolog. Mereka tak sanggup lagi menyeka air mata. Andas pergi, tak ada yang tahu hal itu akan terjadi.
“Andi...”
“Pergilah ke Amerika, kejarlah impianmu...”
Andiyani mendengar Andas berbicara kepadanya.
***
Kuningan, 09 Feb 2012


Hey, cerita ini belum selesai. Takdir tetap mempunyai rencana.
Dina Maharani was born “without me.”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar