Waktu membaca:10-12 menit
Selasa siang,
tanggal 07 Februari 2012
Aku riskan.
Menatap seorang perempuan muda yang tengah berjalan santai di trotoar di depanku.
Muda? Ya, dia memang masih kelas 2 SMA. Masih 17 tahun. Rambutnya mengilap
disinari matahari. Hitam. Namun kalau kawan cermat, kita bisa melihat sebuah
keganjilan dari icon keanggunan wanita tersebut. Tadi pagi, perempuan itu salah
memakai shampo. Rambutnya malah dipakaikan dettol.
Namun Perempuan
itu tak mau ambil pusing.
Siswi SMAN 8 Jakarta
tersebut masih tetap mengonstankan laju kakinya. Dan mungkin karena lelah, ia
menyeret tas abu-abu yang sudah 2 tahun ini menemaninya bersekolah. Menyeret?
Ya, Diseret. Bukan dipakai atau—paling tidak—ditenteng.
Namun perempuan
itu tetap tak mau ambil pusing.
Andiyani—namanya—memakai
seragam SMA yang kebesaran. Lengan bajunya menutupi sikut sehingga nampak
ganjil. Rok abu-abu yang longgar hingga sepatu besar yang jelas-jelas bukan
ukurannya. Aneh.
Dan perempuan
itu masih tetap tak mau ambil pusing.
Teman-temannya
memanggil Andiyani “miss ok-ok aja.” Bukannya apa-apa, tapi memang karena
Andiyani selalu bersikap datar. Meski begitu, ia adalah seorang perempuan yang
brilian, belum ada yang bisa mengalahkannya dalam hal pelajaran sekolah,
terutama IPA. Ya, kepintarannya itu senada tinggi dengan kecuekkannya. Apa saja
diterimanya dengan ok, asal tidak merugikannya. A, ya sudah, B, tidak apa-apa,
C, its ok lah.
Hidupnya hanya
sebatas ok.
Apa yang terjadi
padanya? Entahlah, satu hal yang pasti ia tidak memiliki aku. Aku yang
seharusnya dipunyai semua orang, aku yang seharusnya ada dalam diri setiap
manusia di muka bumi ini, akulah yang melengkapi hidup mereka, mewarnainya
dengan keindahan. Dan hanya Andiyani yang tidak memilikinya. Satu-satunya di
dunia ini. Andiyani, perempuan itu...
Ia tidak
memiliki cinta.
Jadi kawan,
perkenalkan, aku adalah cinta.
***
4 tahun yang lalu,
bu Ratna, ibunya Andiyani, mulai curiga kepada anak sulungnya yang tidak
seperti remaja lain. Andiyani berbeda. Ia seperti memiliki kelainan. Ia
bukanlah seperti remaja yang ia kenal, dan yang pernah ia rasakan. Ia tidak
memiliki ciri-ciri psikologis remaja saat pubertas.
Andiyani tidak
pernah berbicara tentang laki-laki.
Andiyani no problem
saja dengan penampilannya.
Andiyani tidak
pernah memiliki hal favorit.
Sang ibu
khawatir.
Dan setelah
bertemu macam-macam psikolog, ia belum juga bisa menemukan titik masalah sang
sulung. Bu Ratna hampir putus asa, hingga akhirnya...
“Dia berbeda...”
“Iya pak, tapi
kenapa hal ini bisa terjadi?” Tanya bu Ratna.
Psikolog itu
getir,” Sebenarnya saya agak khawatir untuk menyampaikan hal ini...tapi, apa
boleh buat...” Psikolog itu berhenti sejenak,” Andiyani...Dia tidak memiliki
rasa cinta...”
Bu Ratna menahan
nafas mendengarkan “vonis” tersebut. ”Maksudnya pak?”
“Dia tidak
dapat mencintai apapun. Semua perasaannya hanya sebatas rasa suka saja. Tidak
dibarengi dengan rasa empati dan rasa memiliki.”
Bu Ratna
menghela nafas panjang.
Psikolog itu
mengelus dagu. ”Ya, dan Andiyani adalah orang kedua yang saya temui yang
mempunyai kelainan ini...Orang pertama, kalau ibu mau tahu, dia sudah sembuh,
dan dapat mencintai lagi.”
“Siapa dia
pak??!! Apa dia masih hidup??!!! Bagaimana agar anak saya bisa sembuh seperti
dia??!!” Bu Ratna setengah berteriak.
“Sabar bu,
tenang... Tentu saja sekarang dia masih hidup, biar saya panggilkan dia
sekarang...” Psikolog itu memanggil seseorang dari dalam rumahnya. Dan tak lama
kemudian seorang wanita cantik datang.
“Perempuan inilah
orang pertama,” ucap sang Psikolog,” dan dia adalah istri saya.”
***
Selasa paginya,
tanggal 07 Februari 2012
“Hei An!!”
Lambai Rani, teman sebangku Andiyani saat di kelas.
“Hai, selamat
pagi...” Balas Andiyani datar seraya duduk di bangku mereka.
“Eh, ada kabar
baik, kita diundang ke acara Aqiqah-an adiknya Andas yang baru lahir, lu
datang yak?” Rani bersemangat memberitahukan hal tersebut. Memang aneh,
sahabat-an ini yang satu datar dan yang satu ceria.
“Kapan?” Tanya
Andiyani.
“Malem ini,
ntar lu gua jemput deh...”
“Hmm...Oke
deh,” jawab Andiyani.
Dasar mis ok-ok
aja.
“Sip.”
Dan saat itu,
takdir mulai menyiapkan rencana.
***
“Jadi bagaimana
bu, cara agar anak saya sembuh?” Tanya bu Ratna pada sang istri psikolog, 4 tahun yang lalu.
“Pertama, ini
adalah kekuasaan Tuhan yang telah memberi Andiyani kelainan dari remaja lain.
Jadi yang harus kita lakukan pertama kali adalah, Jangan pernah
menyalahkan-Nya.”
Bu Ratna
seksama.
“Yang kedua,
dan yang terakhir adalah, kita harus menunggu sanpai cinta itu datang sendiri, karena
tidak mungkin manusia hidup selamanya tanpa nurani. Dan pada saatnya, Andiyani
akan sembuh, kembali menjadi manusia yang dapat mencintai. Waktulah yang akan menyembuhkannya.”
Jadi semua sudah jelas, Andiyani masih punya harapan. Namun entah kapan.
***
Rani datang jam 8 tepat, sendiri mengendari sepeda motornya. Andiyani
sedang mengobrol dengan ibunya di teras saat itu. Sembari menunggu Rani yang
akhirnya datang juga.
“Hati-hati ya di…” bu Ratna mewanti.
“Iya bu…”Andiyani datar saja.
“Jangan kemalaman…”
“Oke..” Andiyani berujar sambil menaiki jok belakang.
“ Kita pergi dulu ya tante…” Rani tersenyum.
“Iya…” dan saat kalimat itu meluncur dari mulut bu Ratna, beliau
merasakan sebuah firasat aneh, namun menggembirakan.
Motor itu pun melaju, membelah malam.
***
Andas mengusap keringat di keningnya. Ternyata capek juga ya, pikirnya.
Acara syukuran itu memang hampir sama dengan hajatan perkawinan. Dan kali ini
yang berbeda adalah, mereka tidak menyewa pembantu sama sekali. Andas dan
ayahnya-lah yang menyiapkan segala tetek-bengek
acara, dari mulai konsumsi, sampai akomodasi.
“Sekarang gantian, biar ibu yang beristirahat, kita yang kelelahan,”
ujar sang ayah bijak ketika Andas ingin protes mengapa mereka tidak menyewa
pembantu saja.
Dan alasan itu memang masuk akal. Acara tergelar, sang ibu beristirahat
dengan bayinya, dan 2 laki-laki itu mondar-mandir mengurusi semuanya.
***
Malam itu, malam rabu yang sangat cerah. Takdir sudah menyiapkan
segalanya. Langit begitu anggun berarak. Bintang-bintang bernyanyi, dan bulan
bersajak. Bahkan matahari yang sedang berada di belahan lain dunia pun ikut
tersenyum. Aku, sebagai cinta, sedang bersiap.
Di jalan, ketika roda motor Rani membelah ruas jalan raya, Andiyani
merasakan sebuah firasat aneh, seperti sebuah sugesti yang belum pernah ia
rasakan sebelumnya. Sebuah perasaan, ya, namun ia belum tahu apa.
“Nah, sudah sampai,” Rani menghentikan motornya di depan sebuah tenda
yang menghelatkan bahwa di situ ada sebuah acara,” Andas pasti sudah nunggu
dari tadi.”
“Eh Ran, apa teman-teman juga datang?” Tanya Andiyani.
“Semuanya sih diundang, tapi nggak
tahu deh yang datang berapa, mereka pada sibuk sendiri sih.”
“Emm…kok kita datang sih, kalau yang laen nggak datang?”
“Gak tau deh, gua cuman punya feeling aja kalau kita harus datang,
sudah yuk ah, masuk,” ujar Rani seraya menarik tangan Andiyani agar
mengikutinya.
“Hei! Rani datang rupanya! Eh, miss ok-ok aja juga datang ternyata!” Andas
menyambut mereka ramah. Ia sedang mengambil beberapa piring kotor di bawah
kursi tamu.
Andiyani merasa sidikit terusik karena Andas memanggilnya begitu, tapi
memang sejak kapan ia terusik dengan panggilannya?
“Eh iya nih, acaranya mulai jam berapa, Das? Wah, tumben nih jadi party boy,
beres-beres piring…” Rani membalas.
“Jam 5 sore tadi, hahaha, iya nih, gantian sekarang ibu gua yang
istirahat habis melahirkan, guanya yang capek deh,” Andas tersenyum. Simpul.
Dan Andiyani merasakan sebuah getaran. Laki-laki itu tulus sekali kelihatannya.
Hei, ada apa dengan senyuman Andas?
“Hahaha, bagus dong, biar nanti jadi calon suami yang baik!” Rani
kembali berujar.
“Husss!! Jangan bilang gitu ah, malu gua jadinya! Eh ngomong-ngomong kok
si Andiyani diam aja dari tadi…”
“Eee..eh, iya gak apa-apa, gua cuman gak tau aja mau ngomong apaan,” balas Andiyani. Ia malu sekali
namanya disebut seperti itu.
“Hahaha, ya sudah sana masuk! Ketemu adik kecil gua yang lebih cantik
dari lu berdua!!” Andas menyuruh.
“Huuuu…dasar!! Ya sudah, selamat bekerja!!”
“Hahaha…Iya…”
“Gua masuk dulu…” Kali ini Andiyani yang bicara.
“Eeeeh.. iya…”Andas menjawab. Tumben
dia ijin.
Dan itu baru sebuah awal.
***
Bu Karima sedang menyambut tamu-tamu yang berdatangan mengucapkan selamat
atas kelahiran anak keduanya. Ia sudah memasang wajah tersenyum selama 3 jam,
dan nampaknya masih ada yang akan datang juga. Ia menatap bayinya selama
beberapa saat sampai dua orang cewek
SMA datang.
“Ehhh…adik bayi!!!” Rani berteriak.
“Sssst!!! Jangan berisik lu Ran!” Andiyani mengingatkan. Hah? Tumben dia peduli, pikir Rani.
“Eh, iya, kenalkan namanya Dina Maharani,”
ucap bu Karima.
“Wahh…kebetulan tante! Nama saya juga Rani!!”
“Yah, tapi itu kan Dina, Ran!” Ujar Andiyani.
“Sama aja lah…Ada Raninya juga kok…”
“Hahaha…iya..iya…sama aja…ini temannya Andas ya?” sergah dan tanya bu Karima.
“Iya bu, kita teman sekelasnya…Saya Rani…dan ini…”
“Andiyani…nama saya Andiyani…”
Bu Karima terkejut. Dia kan...Ah sudahlah,
pikirnya.
“Kalian datang
berdua saja?”
“Iya bu, tadi
teman-teman Andas yang lain sudah datang belum?” Rani bertanya.
“Sudah ada tadi
rombongan, tapi laki-laki semua, teman Paskibra Andas kata mereka,” Bu karima
menjawab.
“Ohhh... kita
telat dong...maaf ya bu..”
“Maaf..”
Andiyani menambahkan. Sedikit.
“Iya..iya,
tidak apa-apa kok,” Bu karima tersenyum lagi.
“Ayo Ran, kita
doa dulu buat si kecil,” tukas Andiyani. Hah?
“Eh...ayo..”
Mereka berdoa sebentar. Biasalah, mudah-mudahan
bla-bla-bla.
“Makasih ya sudah
datang...” ujar bu Karima. Ia menatap Andiyani,” kau juga sudah banyak berubah,
semoga berhasil.”
“Berhasil?
Berhasil apa bu?” tanya Andiyani.
“Dalam
kehidupan,” sambung bu Karima.
“Oh.. iya bu
makasih,” Andiyani berkata lagi. Ia merasa seperti ada maksud lain dalam
perkataan ibu itu.
“Kami keluar dulu,
mau ketemu Andas,” ujar Rani.
“Eh, iya-iya...”
jawab bu Karima,” emmm...tapi Andi, mau bantu ibu sebentar gak?”
Andiyani
menoleh,” ada apa bu?”
“Ini, berikan
pada orang tuamu..” ucapnya sambil memberikan sebuah Flash Disk.
“Emmm...iya deh
bu..” Ia berpikir, apa mereka sudah
kenal?
“Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam....”
***
Andas menatap
piring-piring yang sedang dicucinya sambil berpikir. Heran, kok Andiyani
jadi sedikit berubah ya? Lelaki itu bukannya mau ambil pusing, tapi, lucu
aja melihat orang seperti Andiyani. Sebenarnya ia cantik juga ya, asalkan
lebih ceria... namun Andas tak pernah berpikir tentang wanita lagi selama
hampir satu tahun. Pengalamannya dulu dengan mereka membuatnya
sadar bahwa yah, itu ada saatnya...
Andiyani...Andiyani...kenapa
gua jadi kepikiran dia terus?
Dan tanpa
sempat membiarkan Andas berpikir lebih lama, kedua perempuan itu datang.
“Woi! Andas
sekarang sudah jadi bapak ya? Nyuci piring segala...” Rani yang mulai duluan,
mengagetkan Andas yang sedang mencuci piring.
“Eh...elo berdua...ngagetin
aja, hampir piring gua pecah berantakan, eh, sudah ketemu adik gua?” Andas
menukas.
”Sudah dong...eh
Das, katanya adik lu cantik, tapi pas gua liat kok gak jauh beda ama mukanya si
miss ini,” Rani menyikut Andiyani,” hampir mirip malah.”
“Ihh.. Rani!!
Apaan sih lu?”Andiyani protes.
“Hahaha...masa`
sih? Emang gua punya ikatan saudara sama si cuek ini? Bisa mirip gitu?”
“Tau deh,
takdir kali...” Rani menukas. Padahal Andiyani agak nge-fly tuh...
“Sudah ah, kok
jadi ngomongin gua lu pada..” Andiyani tak setuju.
“Hahaha iye... udah
gih lo pulang, ntar kemaleman lagi, gak baik cewek pulang malem-malem tuh..”
Andas menukas.
“Gampang itu mah,
bisa diatur...” Rani berujar.
“Kerjaan lu masih
banyak das?” Andiyani bertanya. Entah apa yang menggerakkannya untuk mengatakan
itu.
“Eh, si Andi
nanya... iya nih, gua masih harus nyuci ratusan piring lagi, tumben lu peduli,
jarang banget gua liat lu kayak sekarang...”
“Hahaha, iya nih,
Andi kok berubah yak?” Rani menimpali.
“Ihhh.. apa sih lu
berdua...” Andiyani mengelak.
“Lu mau bantuin
di?” Tanya Andas. Andiyani ragu.
“Emm..boleh
deh...”Andiyani menjawab. Semua yang ada di sana terkesima, Andiyani mau membantu?
“Lu bisa nyuci piring gak?” Tanya Andas.
“Bisa lah, lu gak
usah meragukan kehebatan gua dalam urusan rumah tangga,” Andiyani membanggakan
dirinya untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
“Wah..wah, lu
emang sudah bener-bener berubah, Di, dulu lu cuek habis, gak pernah ngomong
kayak tadi,” Rani berujar, ia sih ogah membantu Andas,” lu berdua sudah kayak
suami istri deh nyuci piring bareng, gua nunggu di depan ya, pengen nelpon
pacar...hahaha, bye...”
“Woi!!” Andas
menyipratkan air,” jaga tuh kata-kata... masa’ gua punya istri kayak dia?”
Andas menunjuk Andiyani, Tapi Rani menghindar dan berlari.
“Tau ah, aneh
dasar!!” Andiyani menimpali.
“Hahaha...lu pikir
aja sendiri!!” Rani berteriak.
Pipi Andas dan
Andiyani memerah.
“Gua gak suka sama
lu!” tukas Andas.
“Sama!” tegas
Andiyani.
“Ya sudah,
lu jadi gak mau bantuin gua?” tanya Andas, siapa tahu Andiyani ingin pergi ke
Rani.
“Ya jadilah, gua
gak bisa menarik kata-kata gua, mana sini? Piring yang harus gua cuci?”
Andiyani berujar. Hebat juga nih cewek, pikir Andas.
“Nih..” Andas memberikan
sebuah piring kotor.
Sebenarnya dia
emang cantik kok, kalo dia sudah kayak gini, pikir Andas.
Andas ternyata
berwibawa juga ya, gua kok jadi...ah apaan sih..., Andiyani tidak bisa
berpikir lebih lanjut.
Malam itu, aku
benar-benar telah masuk ke diri Andiyani.
***
Dan euphoria tentang impian serta jawaban memang semu. Semuanya penuh
teka-teki. Entah apa rencana takdir
selanjutnya, namun, inilah rahasianya. Semua
yang telah, sedang, dan akan terjadi, semuanya telah tercatat. Ukirlah
usahamu di catatan itu, kau bisa merubah takdir.
Malam itu, di mana genderang cinta berbunyi lantang, Andiyani telah mendapatkanku.
Malam bersejarah di mana aku telah melengkapinya untuk terus hidup. Malam yang
sangat indah, saat Andiyani merasakan cintanya yang pertama saat itu. Aku—yang
sangat senang—tersenyum padanya.
Andiyani sudah sembuh. Dan ia mencintai Andas.
Hari-hari
selanjutnya berlalu cepat. Andiyani benar-benar telah berubah sekarang. Ia
menjadi orang yang pilih-pilih. Orang tuanya, teman-temannya, guru-gurunya, dan
semua orang yang pernah mengenalnya menemukan sebuah sosok baru pada tubuh
gadis berusia 17 tahun itu. Andiyani yang ceria. Andiyani yang peduli, Andiyani
yang pilih-pilih. Dan semua itu semakin jelas terlihat seiring waktu, juga
Andiyani yang selalu memikirkan Andas.
Tapi lucunya...
Saat
cewek-cewek mau pergi ke mall...
“Eh, ajak
Andiyani gak?” Fatma, teman sekelasnya, bertanya pada yang lain.
“Emmm...ajak sajalah,
kali aja dia ok,” jawab Rani. Namun ternyata Andiyani tak mau.
Saat
cewek-cewek mau pergi berenang...
“Eh, ajak
Andiyani gak?” Hasna, teman sekelasnya, bertanya pada yang lain.
“Emmm...ajak sajalah,
kali aja dia ok,” jawab yang lain. Namun ternyata Andiyani tak mau.
Saat
cewek-cewek mau ke bioskop...
“Eh, ajak
Andiyani gak?” Qonita, teman sekelasnya, bertanya pada yang lain.
“Emmm...ajak sajalah,
kali aja dia ok,” jawab semuanya. Namun ternyata Andiyani tak mau.
Yah, lucunya,
julukan Andiyani berubah. Ia menjadi miss kali aja dia ok.
***
Bu Ratna juga
merasakan hal yang sama semenjak kepulangan Andiyani dari pesta Aqiqah
tersebut. Ia melihat Andiyani yang berbeda, namun beliau tak mau mengusiknya dulu.
Nanti pasti Andiyani akan bercerita.
Dan saat sulungnya
tersebut memberinya flash disk yang diamanahkan oleh ibunya Andas, bu Ratna
bertambah gembira.
Ya, kita sudah
tahu prosesnya.
***
“Andi..lu kok
berubah sih?” tanya Rani waktu pelajaran bahasa Indonesia. Mereka hampir
berbisik saat itu. Iyalah, gurunya killer sih. Namanya bu Dewi, tapi
perilakunya sudah kayak setan. Jadilah ia dijuluki bu setan.
“Emmm gimana
ya? Gua juga gak tau Ran..” Andiyani menjawab sekenanya.
“Ohhh... jangan-jangan
lu lagi jatuh cinta ya?” Rani tersenyum menggoda.
“Kok lu bisa
ngomong begitu?” Andiyani balik bertanya.
”Habisnya lu
bengong mulu sih kerjaannya,” Rani menjawab polos.
“Emm...Ran,
sebenarnya tuh...” Andiyani baru berkata sepotong kalimat.
“Lu jatuh cinta
sama Andas kan???!!!!” Rani berteriak menebak. Seisi kelas menengok. Lalu penuh
dengan suara bisik-bisik. Andiyani dan Andas? Mereka tak pernah menyangka.
“Sssttt....Rani...lu
jangan ngomong keras-keras, lagi pelajaran bu setan sekarang...” Andiyani
memperingatkan, tapi sudah terlambat. Bu setan datang menghampiri mereka.
“Ups...ampun
bu...jangan hukum kami...maaf..” Rani memelas saat guru killer itu sudah dekat
dengan mereka.
“Rani, Andi...”
bu guru itu mendekatkan kepalanya ke kepala mereka.
“Iya bu...”
Andi dan Rani gelagapan.
“KELUAR!!!!!!!!!”
Suara itu mendekati supersonik. Menggema tinggi sekali. Seperti mengandung
nada-nada kesakitan dan penderitaan yang teramat lama. Bu Setan sekali lagi
menampakkan murkanya.
Andiyani dan
Rani tertunduk lesu ketika keluar ruangan. Semua murid yang tadi berbisik pun
makin menjadi. Menyoraki, Huuu... dan lain sebagainya. Dan saat kebisingan itu
mulai memuncak, gempa susulan terjadi.
“DIAM KALIAN
SEMUA!!!!” walaupun susulan, tampaknya gempa ini lebih besar dari yang pertama.
Andas berdiri.
Semua murid tidak ada yang berbicara.
“Bu, saya ijin
pergi ke wc...” tukasnya.
“PERGI SANA!!!”
Buset dah.
Semua murid di
ruangan itu tahu apa yang ingin dilakukan Andas sebenarnya. Namun mereka tak
ada yang berani komen.
Dasar, yang
namanya setan memang seperti itu.
***
“Tuh kan...lu
sih Ran, kita jadi disuruh keluar..”Andiyani menghelas nafas. Sekarang dia
memang sudah tidak cuek lagi dengan everything.
“Iya...iya
sori...” Rani meminta maaf.
“Woi kalian!!”
Andas setengah berlari menghampiri mereka.
“Eh tuh suami
lu datang,” Rani menggodanya lagi.
“Apaan sih lu,
gua jadi malu kan...” Andi menutupi wajah.
“Eh, emmm.. gua
mau ngomong sama Andi...lu gak keberatan kan Ran..?” Andas berkata.
“Eh, gua?”
Andiyani terkejut.
“Oh.. of course
lah kalau kayak gitu, gua ngedukung banget kok lu berdua,” Rani menukas,” gua
pergi dulu ya?” Dan ia pun berbalik pergi.
“Emm...gini di,
gua dengar kalo....” Andas memenggal kalimatnya.
“Iya gua tau
das, sori, tapi itu semua bener, Rani benar, gua..gua..emang jadi suka sama
lu,” Andi gugup bicara.
“Dan ini baru
yang pertama kali dalam hidup gua. Sekali ini doang gua baru tahu apa itu
cinta, sebelumnya, sumpah, gua belum pernah jatuh cinta sama sekali. Entahlah, makanya teman-teman manggil gua miss
ok-ok aja.”
Andas memandang
wajah perempuan itu,” Lu tau? Gua seneng kok lu suka sama gua, tapi lu juga
harus tau, cinta itu ada waktunya, jadi...gua pengen banget ngomong ini ke lu
di...”
Kalimat itu
terpenggal lama...
“Gua juga cinta
sama lu kok...”
Mereka saling
mamandang.
“Tapi nanti
kalau sudah waktunya... gua bakal kasih tau lu...”
Andiyani tidak
mengerti apa yang dimaksud Andas dengan pada waktunya, namun hari itu, ia sangat
senang, melebihi apa yang pernah ia rasakan—apapun yang menyenangkan—yang
pernah ia alami. Cinta, ah, cinta.
Lalu sebuah sms
masuk ke hp Andi. Mereka berdua membaca bersama.
Kalo sudah fix
kapan nikahnya, kasih tau gua ya?
Dasar Rani.
***
“Andi! Gue ada
kabar baik buat lu!!” Andas berkata dengan nada gembira.
“Kenapa das?” Jawabnya.
“Sekolah kita
diundang buat mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika. Dan tadi kepala
sekolah menunjuk 2 orang perwakilan sekolah ini. Salah satunya adalah lu!!”
Andas tersenyum senang.
“Really?”
Andiyani hampir tak percaya. Tapi kalau Andas yang bicara mana mungkin ia
tak percaya?
“Iya, program
ini berlangsung selama satu tahun, lu bakal berangkat Juni nanti. Mungkin pihak
sekolah belum ngasih tau lu tapi...ini spektakuler banget kan?” Andas
menjelaskan dengan berbinar.
“Ya, memang,”
Andiyani tersenyum indah. Tentu saja ia sangat senang.
“Satu orang
lagi siapa das?” Tanya Andi.
“Satu lagi gua
belum tahu, tapi yang jelas lu masuk kok, selamat ya!” Andas menyalami tangan
Andiyani.
Andiyani masih
berpikir. Satu tahun? Gue bakal kangen banget sama lu das.
Awan bersemarak
di langit. Biarkan cinta itu meluap. Ya, takdir sangat rapih menyiapkan
rencana.
***
Bu Ratna sangat
gembira begitu menerima surat dari sekolah tentang pertukaran pelajar itu.
Beliau tak bisa membayangkan ketika sulungnya tersebut akan berangkat ke
Amerika untuk melakukan program ini. Ia akan sangat bangga.
“Iya sih bu,
tapi kan...” Andi sedikit manyun saat mereka mengobrol tentang rencana itu.
“Tapi apa
sayang?” Bu Ratna bertanya.
“Andi bakal
sangat kehilangan dan merindukan seseorang...” Andiyani berkata jujur. Titik
terang, pikir bu Ratna.
“Siapa sayang?”
Bu Ratna bertanya kembali.
Dan Andiyani
pun menceritakan semuanya. Tentang pesta itu, dan percakapannya dengan Andas. Tentang
cintanya.
Bu Ratna sangat
berbinar. Gembira, terharu, bahagia, semua meluap menjadi satu.
“Kau sudah
mencintai nak!!”
Andiyani
tertegun,” ya, dan aku mencintai Andas.”
“Sekarang
saatnya ibu menunjukkan sesuatu untuk kamu,” bu Ratna tersenyum. Ia menyalakan
komputer dan langsung mencolokkan flash disk yang dulu diberikan bu Karima
padanya.
“Itu kan flash
disk yang...”
“Kau benar, ini
dari bu Karima, orang yang sangat berjasa kepada kita.”
Lalu kemudian
beliau membuka sebuah folder yang berisi film dokumenter.
“Kau harus
menonton ini sayang...ini adalah perjalanan hidup bu Karima...” ujar wanita
itu. Sebuah pelajaran, tentang mencintai.
***
“Aku mempunyai
sebuah film dokumenter,” ucap bu Karima pada bu Ratna, 4 tahun lalu,” bila
saatnya telah tiba, tunjukkanlah pada Andiyani film tersebut, dan tontonlah, di
sana terdapat perjalanan dan proses bagaimana seorang Karima yang tadinya
hampa, dapat memiliki kebahagiaan.”
Ya, kawan. Bu
Karima adalah istri sang Psikolog.
***
“Jadi das?
Psikolog yang dulu gua kunjungi itu ayah lu?” Tanya Andiyani di sekolah.
“Ya, itulah
faktanya, gua kenal lu pertama kali waktu lu datang ke rumah gua 4 tahun yang
lalu. Lu masih SMP waktu itu, dan sama seperti ibu gua dulu, lu belum punya
cinta.”
“Dan gara-gara
rumah gua pindah, gua jadi gak pernah ketemu lagi sama lu. Tapi gak gua sangka,
ternyata kita sekolah di SMA yang sama, satu kelas pula.”
“Das...”Andiyani
berkata pelan,” Kemaren ortu gua dapet surat, yang harus ditandatangani untuk
menyetujui bahwa gua boleh ikut program itu atau enggak, dan gua
memutuskan...”
Andiyani menatap
mata Andas.
“Gua gak mau
ikut.”
Hening,” kenapa
di? Apa jangan-jangan gara-gara gua lu jadi gak mau ngejar impian lu? Apa
gara-gara cinta?”
Andiyani
menghela nafas,” gua gak mau kehilangan lu, satu tahun itu waktu yang lama das,
gua gak mau melepas apa yang baru gua dapet.”
“Iya, tapi kan
itu hal yang konyol. Lu gak bakal kehilangan gua kok,” Andas meyakinkan. Namun
Andiyani masih terlihat bingung.
Andi
menarik nafas panjang,“ nanti gua datang ke rumah lu...”
Dan
percakapan itu ditutup dengan pelukan hangat.
***
Hari
hujan, namun Andas sudah berjanji akan datang ke rumah Andiyani hari ini. Ia
nekat menerobos air hujan dengan sepeda motornya. Namun saat itu, takdir
merencanakan sesuatu yang lain.
Sebuah
truk melaju kencang dari arah berlawanan. Andas yang tak tahu bahwa di belokan
berikutnya ada sebuah truk, tetap melajukan motornya. Namun di sana bukan hanya ada truk.
Tapi
juga kematian.
Dan
hal itu pun terjadi. Andas pergi meninggalkan Andiyani, lebih jauh daripada
sekadar pergi ke Amerika.
***
Andiyani
belum pernah merasa sedih seperti ini. Ia merasa semua harapannya lenyap,
meluap dan tak akan kembali. Inikah cinta?
Aku menatapnya
dengan sedih.
Itulah
permainan takdir.
Andiyani
memandangi kuburan Andas dengan hampa. Di sebelahnya berdiri ibunya, juga bu
Karima dan sang Psikolog. Mereka tak sanggup lagi menyeka air mata. Andas
pergi, tak ada yang tahu hal itu akan terjadi.
“Andi...”
“Pergilah ke
Amerika, kejarlah impianmu...”
Andiyani
mendengar Andas berbicara kepadanya.
***
Kuningan, 09
Feb 2012
Hey, cerita ini
belum selesai. Takdir tetap mempunyai rencana.
Dina Maharani
was born “without me.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar