Minggu, 13 Desember 2015

#Cerpen Aku Hanya Bisa Menulis

Waktu membaca: 8-10 menit

Hell Yeah.

Cerita ini di mulai di kelas. XI IPA 2. SMAN 68, Kuningan, Jakarta Pusat.

Waktu itu istirahat. Aku sedang sendirian di kelas. Menghibur diri dengan membaca majalah trubus dan menulis-nulis ringkas artikelnya. Bukan, bukannya aku mengerti tentang botani, namun aku suka saja melihat yang hijau-hijau.

Anak-anak jarang berada di kelas waktu istirahat. Bagi mereka yang punya “jodoh semu”, mereka pasti sedang suap-suapan di kantin. Bagi anak sholeh, mereka sedang i’tikaf di masjid. Bagi si pintar, perpuslah destination-nya. Dan bagi para pecundang, hanya ada 2 pilihan. Di belakang sekolah—sedang dibully, atau sendirian di dalam kelas.

Aku yang kedua.


Kring!

Bel berbunyi. Cepat-cepat kumasukkan majalah ke dalam tas. Perlahan anak-anak masuk satu per satu. Kuperhatikan mereka, tertawa dalam dunia yang berbeda denganku. Hari ini, aku beruntung karena tidak dibully mereka. Fyuh, namun tetap saja dunia forever alone ku ini menyedihkan.

Kulihat Hanzel dan Greetel masuk. Dua bersaudara itu benar-benar mengerikan. Kemudian diikuti oleh Harry, Ron, dan Harmonie. Ketiganya tampak gembira bersama. Ada juga di belakangnya Naruto, Sasuke dan Sakura. Mereka bertiga inilah yang paling sering membullyku. Terutama Sasuke. Anak itu benar-benar gila.

Sampai saatnya tiba, orang yang paling kutunggu-tunggu akhirnya lewat. Gadis itu, matahari-ku.

Tia namanya.

Sang bidadari, yang tak akan pernah bisa disentuh oleh pecundang sepertiku.

***

Culun; begitu mereka biasa memanggilku. Jauh dari nama asliku yang keren; Galang Surya Terbid di Timur. Mungkin itu karena wajahku yang tablo, dengan kacamata longgar dan gigi yang tonggos. Yang jelas, Sasuke yang memulainya. Salah satu kejahatan dia yang tak akan pernah kulupakan. Karena akhirnya semua sekolah seragam memanggilku seperti itu.

Aku? Pasrah.

Yang bisa kulakukan hanya 2: Diam dan Menulis.

Diam, karena melawan hanya akan menambah masalah.

Menulis, karena itu memang hobiku. Aku menulis tatkala bahagia—ini jarang sekali, saat sakit—ini lumayan sering, saat sedih—sering banget, maupun pada mood lainnya. Terutama, ya saat membayangkan Tia. Aku pasti menulis.

Sementara gadis tersebut, adalah ratunya sekolah ini. Para cowok memuja-mujanya. Ada Jays, yang bersuara emas. Harits, si bintang olimpiade. Ada pula Rahman, yang jago nge-dance. Juga sederet cowok populer lain di sekolah. Bahkan Sasuke dan Naruto yang jelas-jelas tokoh fiksi pun ikut menjadi fansnya. Maka, seperti yang kubilang di awal.

Aku tak akan pernah bisa menyentuhnya.

   Jadi, kawan, perkenankan, ini kisahku dengan Tia.

Ia yang “segalanya”.

Dan aku yang “hanya bisa menulis”.

***

Kami pertama berkenalan saat di kelas sepuluh. Bertepatan dengan pertama kalinya Sasuke memanggilku “culun”.  Bermodal kesan pertama yang buruk, semenjak momen itu, Tia selalu cemberut bila melihatku. Ribuan furshoh setelah itu pun, bahkan hingga kini, Tia selalu masam, saat memandangku.

Itu fakta pertama.

Perasaanku juga mulai tumbuh saat itu. Aku mengaguminya tanpa alasan. Yang pada akhirnya mata dan jemariku pun saling sepakat dalam cinta ini.

Aku menulis jutaan puisi tentangnya.

Walau ujung-ujungnya aku hanya diam dalam ketidak-pastian. Diam dalam kesendirian.

Nowadays, udah satu tahun berlalu. Kita masuk ke kelas yang sama lagi. Juga masih dengan si Sasuke yang menyebalkan.

Namun di atas semua itu, yang paling kusebali adalah, kenyataan bahwa aku tidak bisa sedikitpun menerjemahkan bahasa wajahnya. Cemberutnya. Muramnya.

Padahal saat ia bersama dengan teman-temannya, akan kulihat gadis itu tersenyum lepas. Namun saat ekor matanya menangkap visualku, skala senyumnya langsung turun ke minus.

Beberapa kali kami mengadakan acara sekolah. Aku dan dia menjadi panitia meski bedabagian. Dari belakang, kuperhatikan semuanya. Kebaikannya, ketegasannya. Dan satu lain hal membuatku kembali ciut tatkala melihatnya naik. Oh, aku sudah terlalu jauh di bawahnya.

Pernah juga kami jadi panitia lomba debate sekolah. Ia jadi time keeper, dan aku jadi logistik tukang angkut-angkut barang.

Dalam lomba itu, aku—yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan debate—harus stay di sana mengecek mic dan peralatan lain. Kulihat lagi mimik tegasnya. Dingin menguasai waktu.

Aku jadi merinding sendiri dalam diam.

Tak terasa, masa-masa SMA pun berlalu. Dia masuk ITB, sementara aku—karena kurang biaya—masuk LIPIA. Cabang dari universitas timur tengah yang tak kuhafal namanya. Yang penting gratis.

Selama kuliah, aku tidak terlalu mengikuti perkembangannya. Di LIPIA ada banyak pelajaran rumit yang harus kukuasai. Otomatis, no time for love.

Namun terkadang, begitu kulihat koran pagi, aku menemukan namanya tercantum di berita kolom.

Ikut lomba apa lah. Di seberang negeri sana.

Dan aku hanya bisa ikut bergembira di sini.

Pada masa kuliah, aku jadi lebih sering menulis. Itu karena teman se-asramaku punya 2 laptop. Dan dia lebih sering menggunakan yang lebih canggih daripada yang satunya. Jadilah aku akhirnya sering berkencan dengan komputer portable itu.

Aku juga jadi mengenal sebuah sistem kehidupan di sini. Namanya Tarbiyah. Di mana kita akan terikat pada sebuah kelompok kecil bernama Halaqoh, yang tak lain adalah keluarga sekunder kita. Satu halaqoh berisi 10-12 orang dan dibimbing oleh seseorang yang kami panggil murobbi. Tiap minggu kami berkumpul dan mengevaluasi diri. Dengan begitu, kami akan terus bersemangat melakukan kebaikan. Ah, benar-benar sistem yang keren menurutku.

Tujuh tahun lamanya aku tenggelam dalam universitas ini. Puluhan kitab sudah kukuasai. Akhirnya kusandang pula gelar elsi. Saatnya mencari pekerjaan. Umur sudah 25, saat yang tepat juga untuk semuanya.

Tulisanku juga sering dimuat di media-media massa. Contohnya; Sabili, Tarbawi, Al-Ittishom, dan beberapa mejalah Tarbiyah lain.

Bahkan ada beberapa penerbit ikhwah yang menawariku untuk menulis buku, meski akhirnya belum kuberi kepastian sampai sekarang.

Intinya, kredibilitasku sebagai seorang penulis sudah mulai mulai tampak.

Bagaimana dengan Tia? Aku sudah benar-benar kehilangan kontak dengannya. Walaupun sebenarnya belum ada gadis lain lagi di sini (menunjuk dada) selain dia.

Tia masih dengan anggunnya memilin hatiku. Sekalipun ribuan baris kalimat arab menjejali otakku ini tiap hari, rasa itu masih tetap tersimpan rapih di sini.

Di hati.

***

Aku menerima tawaran seorang teman untuk mengajar di salah satu pondok pesantren berbasis Tarbiyah. Namanya Ponpes Husnul Khotimah. Meski letaknya sangat terpencil di pelosok Kuningan, pondok itu sangatlah asri. Dijamin semua yang tinggal di sana akan nyaman selamanya.

Lima hari melesat begitu saja. Aku tinggal di sebuah rumah dinas bersama para guru bujang lain. Namun kami hanya berempat mengisi bangunan yang cukup luas itu. Ada Fauzi, Alex, dan Rofi. Kami semua menjadi guru Syar’i di Madrasah Aliyah. Kecuali si Alex, dia jadi guru Fisika. Dan umur kami kalau dipukul rata sekitar 25-an semua. Lagi-lagi, kecuali si Alex, dia udah tua—29 tahun.

Di pondok ini, siswa dan siswi dipisah belajarnya. Pun dengan para Ustadz bujang. Kami tidak mengajar kecuali di putra, dan kami juga tidak terlalu mengenal para ustadzah lajang. Sebuah kebijakan hijab yang lumayan ketat.

Kemudian di hari keenamku bekerja, barulah kutahu satu hal.

Dia ternyata juga ada di sini.

Tia, malaikat cemberutku itu, juga mengajar di sini.

Hell Yeah.

***

Aku mencari tahu ke beberapa sumber. Memastikan apakah wanita itu Tia yang asli atau bukan. Kubilang pada mereka bahwa Bu Tia mirip teman SMA-ku, sehingga mereka yang awalnya sinis, perlahan menceritakan.

Bu Tia berusia 25 tahun. Lulusan ITB. Mengajar MTK dan Kimia di Madrasah Aliyah. Ia sedang menunggu beasiswa untuk S2-nya sekarang, dan kebetulan, karena pamannya adalah salah satu pendiri Pondok ini, sekalianlah Tia mengabdi. Eh, malah terlanjur betah 2 tahun mengajar.

Oh, ia benar-benar mirip dengan Tia-ku. Dan kebenaran pun ikut merespon hal yang sama.

Melihatnya, kerak-kerak cintaku copot satu per satu. Aku mulai mencintainya lagi seperti dahulu. Padahal, sudah 7 tahun si culun ini kehilangannya. Sekarang, kami kembali bertemu dalam bentuk yang lebih dewasa.

Aku dengan ilmu agama.

Ia dengan gelar ITB-nya.

Sebuah kebetulan yang disengaja oleh takdir.

***

Tampangku masih sama seperti dulu. Berkacamata rantai longgar dan tonggos. Yha, culunlah. Tapi semenjak aku banyak belajar ilmu agama dan mempraktekannya sehari-hari, tak ada lagi orang yang memanggilku begitu. Mungkin berkah ya?

Sementara itu, 3 hari kemudian, sepertinya Tia juga mulai menyadari keberadaanku di pondok ini. Aku tidak tahu apakah para ustadzah bergosip atau tidak, tapi yang pasti, Tia tahu saja kabar-kabar tentang ustadz syar’i yang suka menulis di mana-mana, yang juga ternyata adalah teman lamanya. Tepatnya, kabar tentangku.

Meski begitu, kami tidak pernah bertegur sapa sama sekali. Sama saja seperti saat SMA, 3 tahun sekelas, tak pernah sekalipun kami berbincang. And as you guess, ia masih akan cemberut dalam tundukannya bila menangkap visualku. Bahkan lebih mudah menerjemahkan kitab arab gundul paling kuno sekalipun daripada menerjemahkan ekspresinya.

Baik di SMA, di Universitas, ataupun di sini, Tia masih tetap jadi primadona kaum lelaki. Di rumah bujang, 3 temanku yang lain pun suka membicarakannya. Yeah, terkadang sih sebenarnya. Bukan menggosip asal lalu, namun mengobrol tentang kemungkinan untuk mengkhitbah doi.

Namun ternyata ada satu hal yang mereka rahasiakan dariku.

Satu hal kecil yang benar-benar besar.

***

“Lang, lu harus ngelamar Tia lewat murobbi lu!”

Ini adalah kata-kata Alex yang mengagetkanku pagi ini.

“A..apa?”

“Lu gak denger tadi? Mumpung hari ini halaqoh, lu harus bilang ke murobbi lu kalo lu mau ngelamar dia men!”

Aku berdebar-debar. Apa sih maksud teman-teman?

“Lu semua ngomong apa sih? Pagi-pagi udah rusuh aja,” aku mengelak. Mampus kalau kayak gini mah.

“Hehehe, kita tahu men, semua cerita lu. Gak sengaja, gua pernah baca salah satu cerpen yang lu bikin. Judulnya “aku hanya bisa menulis”, dan dari sana, kita jadi tahu perasaan lu ke Tia kayak gimana dari SMA dulu,” Fauzi tiba-tiba muncul.

“Lu emang keren men, lu bisa ngejaga cinta itu tanpa diketahui siapapun. Streril sampai sekarang. Nah, kini waktunya lu menghalalkannya,” Rofi, orang paling puitis di antara kami, memberi tanggapan juga.

Aku yang sedang duduk di beranda langsung linglung tak karuan. Namun sebagian dari diriku membenarkan perkataan mereka.

“Tapi apa dia mau?” aku akhirnya membuka suara.

Rofi, Fauzi, dan Alex saling berpandangan.

“Kalau tujuan nikahnya dakwah, pasti mau,” Fauzi membesarkan hatiku.

Aku menggeleng.

“Bagaimana biayanya?” ujarku.

Ketiga teman bujangku itu tersenyum.

“Kami sudah kumpulkan 20 juta untuk resepsi dan lain-lain. Ya anggap saja pinjaman,” Alex tersenyum.

Jadi ini yang mereka sembunyikan?

Wajahku seketika berubah cerah. Kami semua sepakat. Ya! Aku akan melamar Tia! Itu impianku sejak dulu! Tuhan, terima kasih!

“Eh. Tapi nanti kalo gua yang nikah lu patungan juga ya!”

Alex tiba-tiba bersuara. Tawa kami semua pun meluncur dibuatnya.

***

Maka jadilah pada Rabu hari itu, di saat halaqoh, aku menyampaikan terus terang hal tersebut.

Ustadz Badru, murobbiku, hanya tersenyum mendengarnya.

“Galang, saya bangga padamu,” ia menjawab.

Hatiku menjadi sangat cerah dibuatnya.

***

Pernah nonton Titanic? Setengah orang di dunia pasti pernah menontonnya. Aku sendiri sudah menyaksikan film itu 18 kali. Benar-benarexciting sih.

Dan aku akhirnya tidak sabar lagi untuk meniru Leonardo D’Caprio melakukan adegan-adegan romantis bersama Tia. Seperti berdiri bersama di dek kapal pesiar, contohnya. Oh setidaknya kami bisa berdiri bersama di beranda rumah. How perfect.

Beberapa hari kemudian, aku langsung datang ke rumah Ustadz Badru untuk memfolow-up beliau.

“Assalamualaikum tadz, kaifa bil khitbah?”

Ustadz Badru tersenyum teduh dan memelukku. Aku jadi agak bingung dibuatnya.

“Ayo nak, masuk ke dalam,” pria itu mempersilahkanku.

Aku masuk dan duduk di kursi tamu.

“Jadi bagaimana tadz?” Dadaku berdebar kuat.

“Kemarin malam sudah saya sampaikan khitbah ini. Gadis itu langsung menjawab dengan cepat...”

Ustadz Badru sengaja memotong kalimatnya agar dramatis.

Aku menahan nafas, menunggu lontaran kata berikutnya.

“...dia mau.”

Yeah, jawaban itu yang kutunggu.

And finally, aku menemukan Hawa-ku.

***

“Tapi...”

Percakapan kami di ruang tamu itu belum habis.

“Sehari sebelum kita melamarnya, sudah ada orang yang datang.”

Aku menunduk. Kaget mendengarnya.

“Kau tahu? Bagi Tia, alasan menikah adalah dakwah, bukan muluk-muluk cinta.”

Ustadz Badru lanjut berbicara.

“Kalau ada seorang pria soleh datang, dia siap menerimanya.”

Aku mendengarkan dengan gugup.

“Sebenarnya dia menerimamu, Lang. Namun hari sebelumnya ia sudah dilamar seseorang. Dan ia juga menerimanya.”

Percakapan masih berlanjut.

“2 hari yang lalu, baru ada konfirmasi bahwa Tia berhasil mendapat beasiswa ke Jepang, dan kebetulan pula, pria yang melamarnya itu adalah orang Jepang.”

Aku tidak kuat lagi mendengarnya. Serta merta, aku menyalimi tangan guruku itu dan pamit.

Ustadz Badru baru saja mebuka mataku. Bahwa selama ini aku memang salah. Aku ingin menikahi Tia, lebih karena cinta.

Setidaknya setelah ini, aku masih bisa menulis tentang semuanya.

***

Setelah pulang dari rumah ustadz Badru, aku memutuskan untuk menenangkan diri seminggu ke kampungku di Jakarta. Meskipun sebenarnya di sana malah gak tenang. Tapi kupastikan, bertemu saudara-saudaraku bisa membuat suasana sedikit lebih baik.

Ketiga temanku hanya bisa bingung melihat aku lekas beres-beres setelah kembali dari rumah Ustadz Badru. Aku memang hanya diam saat mereka bertanya padaku hasilnya. Secara, aku hanya ingin sendiri saat ini.

Hingga tak lama kemudian, kursi Luragung sukses membuatku tertidur selam 6 jam ke depan.

***

Aku kembali ke pondok minggu depannya. Saat tiba di rumah bujang, kulihat 3 temanku itu sedang bersiap-siap pergi ke resepsi pernikahan Tia. Aku dengan berat hati—karena wajib menghadiri undangan—juga ikut bersiap-siap.

Teman-teman menghiburku. Mereka memberiku coklat silver queen, makanan, dan yang lainnya. Akhirnya aku berhasil dibuat tersenyum lagi oleh mereka.               

***

Kami berangkat menuju resepsi. Namun dasar teman-teman, mereka menutup mataku dengan kain selama perjalanan. Katanya, aku tidak boleh melihat apa-apa sebelum sampai di depan pelaminan.

Maka serta merta, aku curiga ada apa-apa di antara mereka. Suatu kejutan lagi pastinya.

Aku dengan pasrah berjalan dipandu oleh mereka. Menebak-nebak ini ke arah mana, sedang di mana, bagaimana suasana di sana, dan sebagainya.

Aku mulai mendengar keramaian saat Rofi bilang kalau kita baru saja mendekati lokasi. Kami pun berjalan sampai akhiryna benar-benar masuk ke daerah penuh kebahagiaan tersebut.

Kami berjalan  lagi sedikit. Kemudian berhenti.

“Oke Lang, saatnya membuka penutup matamu,” Rofi mempersilahkanku.

Aku berdebar membukanya. Perlahan, kain itu lepas dari alat pandangku.

Hell Yeah.

Aku benar-benar terpana. Di sana, Tia berdiri sangat anggun. Memakai pakaian indah yang meresmikannya sebagai seorang istri dari lelaki lain. Bukan menjadi istri dari orang yang sudah menyayanginya semenjak SMA ini. Orang yang bersabar dengan guratan takdir yang keras. Yang akhirnya hanya bisa berdiri di sini melihat kebahagiaannya. Aku tak bisa menahan haru. Kemudian, setelah agak kupaksakan, aku bisa tersenyum.

Lalu, kualihkan pandanganku pada lelaki yang kini resmi menjadi suaminya itu. Dan aku seakan tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.

Lelaki tersebut, orang Jepang yang jadi suami Tia...

Aku tidak sanggup lagi melanjutkan tulisanku, kawan. Aku benar-benar tidak sanggup.

Karena lelaki itu adalah Sasuke.

***

Aku menutup laptop dengan perasaan lega. Kutarik nafas dengan tenang, kemudian kubaca kembali tulisan sepanjang 5 halaman yang baru saja kuselesaikan itu.

Tia, adalah bidadari yang tak pernah bisa kusentuh.

Jadi, terima kasih untuk kalian yang sudah membaca kisah ini.

Kisah tentang Tia yang “segalanya”.

Dan aku yang memang “hanya bisa menulis”.

***

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar