Semua
anggota tim memilih Egi. Ia pun bersiap mengahadapi konsekuensinya. Bila semua
sudah disepakati, maka ialah yang akan memimpin tim ini.
“Baiklah…
apa semua sudah sepakat?” Tanya Riko, sang penengah rapat.
“Sepakaaaat!”
ujar semua anggota tim serentak.
Okey,
that is it.
“Kalau
begitu, semua tugas saya serahkan ke Egi. Jadi tolong, berkerjalah yang kompak
sehingga kita bisa berhasil!” pungkas Riko sebelum rapat ditutup.
“Baiklah,
mari kita tutup rapat ini dengan membaca doa bersama,” ujar Gilang, sang MC.
Semua
pun berdoa dengan khusyuk.
“Aamiin,
wassalaamualaikum warhatullahi wabarakatuh…”
“Waalaikum
salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semuanya.
Ruangan
rapat pun dibereskan. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, Egi
mengingatkan sekali lagi kepada rekan-rekannya untuk datang besok di rapat
lanjutan. Mereka pun serempak mengangguk.
Tak
lama, ruangan itu pun kosong.
Egi
berjalan pulang menuju halte bus. Ia memang selalu pulang-pergi kerja menggunakan
kendaraan umum. Alasannya klise sih. Kalau saya mempunyai kendaraan sendiri,
itu hanya akan menambah padat jalanan Jakarta. Toh, ia juga hanya sendiri
memakainya.
Haha,
dan mungkin karena pendirian-pendiriannya yang bagus itulah yang membuatnya terpilih
menjadi pimpinan tim penjualan sebuah supermarket besar di bilangan Jakarta itu
selama event Idul Fitri.
Egi
sadar, bahwa event ini adalah event yang besar, bahkan mungkin yang terbesar
sepanjang tahun. Secara, supermarket mereka kebanyakan menjual pakaian, oleh
karena itu mereka harus mencari cara agar dapat mensukseskan penjualan tahun
ini. Karena biasanya, omzet mereka akan naik ratusan kali lipat saat
orang-orang berbelanja baju lebaran.
Egi
sempat berpikir untuk menggunakan cara tahun lalu, namun ia ingin sebah
inovasi. Tahun lalu memang sukses. Mereka dapat menjual banyak potong baju
dalam waktu tiga hari. Namun menurut Egi, bila sesuatu itu sudah bagus, pasti
masih ada lagi yang lebih bagus darinya. Ia ingin berkembang. Ingin inovasi.
Ingin sebuah perubahan yang lebih baik. Karena itulah ia ada di sini sebagai
pemimpin.
Sekarang
adalah hari kedua Ramadhan. Mereka masih punya cukup waktu untuk mendesign
tempat dan membuat persiapan jelang penjualan semasa Idul Fitri nanti. Egi juga
sudah mempunyai beberapa rencana yang ia anggap keren.
Kembali
ke cerita, akhirnya Egi pun sampai di halte. Ia menunggu bus sebentar, dan
kemudian masuk ke dalamnya. Sejujurnya, ia sangat lelah hari ini. Ia ingin
istirahat…
***
Rapat
lanjutan…
“Baiklah,
saya ingin ada inovasi baru di sini. Saya sangat berharap kepada seluruh
anggota tim agar mempersiapkannya dengan baik. Mulai dari ide-ide menarik,
sampai ke realisasinya yang tak kalah penting. Dan saya yakin, tahun ini, kita
akan jauh lebih sukses daripada tahun-tahun sebelumnya!” orasi Egi untuk
membuka rapat.
“Baiklah,
ada yang punya ide?”
“Saya
pak!” ujar Busyro, bagian dekorasi.
“Yak!
Apa itu?”
“Saya
punya ide agar kita membuat sebuah stand kecil tempat katalog-katalog baju
kita. Jadi, untuk memudahkan para pembeli, mereka tidak perlu mengorek-orek
tumpukan baju untuk memilih, namun cukup dengan melihat katalog dan mereka akan
bisa menghemat waktu unuk memilih baju!”
“Catat!”
“Ide
yang sangat bagus! Busy! Saya sangat apresiasi ide itu. Ada yang lain?”
“Saya
pak!”
“Saya
pak!”
“Saya
pak!”
Rapat
itu pun menghasilkan banyak ide yang sangat menarik. Egi bersyukur, bahwa
timnya sangatlah kompak di kala itu.
***
H-15, berkat kerja sama
yang menakjubkan dari seluruh anggota tim, semua persiapan telah selesai.
Mereka tinggal menunggu 5 hari lagi untuk mulai menjalankan program mereka.
Itulah enaknya bila kita tidak menunda-nunda pekerjaan, saat perkerjaan itu
telah selesai pada waktunya, kita tinggal menunggu dengan tenang.
Dua hari sebelum promo
lebaran berlangsung, Egi mengecek persiapan. Meskipun tahu bahwa memang
semuanya telah siap, tidak ada salahnya bila ia mengecek ulang.
Mulai dari dekorasi. Oke,
siap. Tinggal di pasang.
Stok barang. Lengkap.
Katalog. Sudah jadi.
Para pegawai. Siap.
Dan yang lainnya pun
sudah siap.
Pada tahun ini, Egi
menerapkan system diskon roda. Ia mengawali promo dengan diskon biasa, namun
semakin dekat dengan lebaran, diskon tersebut semakin bertambah. Terus
bertambah. Mulai dari 20%, lalu dua hari kemudian 40%, dua hari kemudian 50%,
begitu seterusnya. Namun ia mematok puncak diskon pada H-3 lebaran. Tujuannya
simple. Agar orang tidak berdesak-desakan saat malam takbiran berbelanja.
Ah, pokoknya, semua sudah
berjalan sesuai rencana. Kini ia tinggal menungu dibukanya promo lebaran oleh
supermarket mereka.
***
Dan hari itu pun tiba.
Egi sudah berada di kantor lebih awal, menunggu para pembeli yang akan datang
ke supermarketnya. Ia bersama puluhan staf lain sedang bersiap untuk melakukan
penjualan.
Dan Ajaib!
Hari pertama, mereka mendapatkan
sedikit sekali pengunjung. Bahkan mungkin lebih sedikit dari hari biasa. Egi
pun mengevaluasi. Semua sudah benar kok. Sesuai dengan tempatnya. Padahal tahun
lalu yang persiapannya tidak lebih baik dari tahun ini pun kedatangan banyak
pengunjung pada hari pertama. Namun mengapa tahun ini tidak?
Tak habis pikir rasanya.
Hari itu, ia pun dimarahi
oleh direkur.
Hari berikutnya. Nasib
tak jauh beda dengan hari kemarin. Mereka hanya kedatangan sedikit sekali
pengunjung.
Pun dengan hari
selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya, sampai akhirnya tibalah H-4 lebaran.
Ah! Besok kan puncak
diskon, apakah nasib ini tetap tak akan berubah? Egi membatin. Mungkin aku
harus berkonsultasi dengan Guru Agamaku.
Akhirnya, Egi pun pergi
ke rumah guru agamanya untuk berkonsultasi. Setelah menceritakan semua kejadian
yang dialaminya, sang guru hanya mengelus-elus jenggot. Tampak berikir sebentar
sebelum akhirnya menjawab dengan bijak.
“Dengarlah baik-baik
kisah ini,” ujarnya.
“Dahulu kala saat Umar
bin Khattab R.A memimpin penyerangan ke Mesir, umat Islam sempat mengalami
kebuntuan seperti yang kau alami sekarang. Mereka kuat, banyak, dan pandai
berperang. Namun mereka tidak bisa menembus benteng pertahanan pasukan Mesir.
Akhirnya, sang panglima pun mengevaluasi para pasukan. Apakah ada yang tidak
melaksanakan sebuah sunnah Rasul? Tanyanya. Namun semua menjawab bahwa mereka
sudah melakukannya. Mulai dari sholat tahajud, dhuha, sedekah, dan lain
sebagainya.”
Sang guru menghela nafas
sebentar.
Ia melanjutkan,”
akhirnya, sang panglima tersebut pun ingat, ada satu sunnah Nabi yang belum ia
dan prajuritnya laksanakan.”
“Apa itu guru?” Egi
bertanya penasaran.
“Bersiwak…” jawab sang
guru.
“Akhirnya, seluruh umat
muslim yang ikut berperang itupun melakukan siwak. Kau tahu siwak? Itu adalah
sejenis sikat gigi di zaman dahulu yang terbuat dari kayu siwak. Cara
menggunakannya adalah dengan mengelupaskannya dan menggosokkan ujungnya ke
gigi. Seperti itulah intinya.”
Egi mengangguk-angguk.
“Nah, ceritanya, ada
seorang mata-mata dari Mesir yang melihat kejadian tersebut (umat muslim yang
sedang bersiwak). Ia pun melaporkan hal tersebut kepada raja Mesir kala itu.”
“Lapor! Sebaiknya kita
menyerah saja kepada pasukan muslim, wahai paduka raja!” ujarnya.
“Hah?! Mengapa?!” Tanya
sang raja keheranan.
“Mereka makannya kayu
baginda!” ujar sang mata-mata ketakutan.
Egi dengan refleks
tertawa terbahak-bahak mendengar cerita tersebut. Lucu juga karena orang Mesir
itu berpikir bahwa, orang Islam makannya aja udah kayu, sadis banget, apalagi
kalau perang??
Yah, kurang-lebihnya
begitu.
“Nah, sekarang
giliranmu,” sang guru kembali serius,” saat ini kau sedang ditimpa masalah,
cobalah kau cari sunnah Rasul apa yang belum kau dan tim-mu lakukan! Insya
Allah, bila kalian melakukannya, akan datang keberkahan dari Allah SW seperti
yang di cerita Umar tadi!”
“Wah! Saya benar-benar
mendapat pencerahan. Terima kasih pak guru!” Egi menyalami tangan pak guru
untuk berpamitan. Sehabis ini ia harus langsung rapat di supermarket.
“Take care ya!” unggah
sang guru.
“Iya!”
Egi pun dengan cepat
meluncur ke tempat kerjanya.
Sembari di jalan, ia
sempat googling tenang sunnah. Kebetulan yang ia dapat adalah tentang sunnah
fitrah. Nah, sunnah ini isinya adalah khitan, memotong kuku, mencukur kumis,
mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan. Hmm, mungkin aku akan bertanya
semua ini kepada mereka, apa yang belum mereka lakukan, katanya dalam hati
Sesampainya di ruang
rapat, semua sudah menunggunya di sana. Mereka kebanyakan sudah mengeluh, bahkan
ada yang hampir putus asa. Egi menatap mereka dengan tatapan penuh semangat,
kemudian berkata.
“Kita rapat di ruang
lain! Rapat akbar! Bersama seluruh staff dan karyawan!” ujarnya menggelegar.
Semua pun akhirnya
berkumpul, mulai dari SPG, kasir, bahkan OB. Mereka kebanyakan belum mengerti
apa yang akan disampaikan oleh sang pemimpin tim. Mereka hanya memenuhi
panggilan saja untuk datang.
“Nah! Saya akan
menjelaskan sesuatu kepada kalian!” ujar Egi di hadapan mereka semua.
Ia pun menceritakan ulang
apa yang sudah diceritakan oleh gurunya. Dan setelah cerita selesai, semua yang
hadir di sana tertawa. Lucu gimanaaa gituh ceritanya.
“Oleh karena itu, di sini
saya ingin menerapkan apa yang sudah diterapkan oleh Umar bin Khattab dahulu. Sunnah
yang saya patok di sini hanyalah sunnah fitrah. Nanti saya kasih tahu.”
“Pertama, sekarang, siapa
di sini yang belum di khitan? Acungkan tangan!” tanyanya.
Tidak ada yang
mengacungkan tangan. Ya jelaslah! Udah pada gede semua kok!
“Oke, yang kedua, siapa yang belum memotong kuku?”
“Oke, yang kedua, siapa yang belum memotong kuku?”
Dan seterusnya sampai…
“Siapa di sini yang belum
mencukur bulu kemaluan?”
Ajaib. Semua yang ada di
sana mengacungkan tangan. Termasuk Egi salah satunya.
Pantesan. Satu
supermarket belum ada yang mencukur bulu kemaluan ternyata…
“Besok adalah puncak
diskon! Agar semua berjalan dengan lancar, saya ingin kalian semua melakukan
sunnah Nabi dengan mencukur bulu kemaluan kalian masing-masing! Paham?!”
Mereka celangak-celinguk.
Mungkin sedikit kaget dengan statement barusan.
“Paham?!!”
“Paham pak!”
“Pak, tapi istri saya
lebih suka….”
“Tidak ada tapi-tapian!
Bulu kemaluan itu, adalah sarangnya syaitan. Paham??!”
“Paham pak!”
“Baiklah. Saya pribadi
juga akan mencukur bulu kemaluan saya malam ini. Jadi, cukup sekian hari ini,
sampai jumpa lagi besok! Semoga Allah memberkahi kita,” ujar Egi.
Rapat akbar itu pun
selesai.
Tinggal menunggu besok.
Akankah nasib mereka berubah? Kita lihat nanti.
***
Esoknya, semua datang
dengan ceria. Mereka tentu saja sudah melaksanakan perintah dari sang pemimpin.
Memang sih, rasanya lebih plong gimanaaa gituh. Mereka telah siap sekarang. Dan
karena sunnah Nabi telah mereka lakukan, pasti akan banyak pelanggan yang
datang.
Pun dengan Egi, baru
sampai di pintu satpam ia langsung menanyai sang penjaga keamanan tersebut.
“Udah cukur?” tanyanya.
“Cukur apa pak? Kepala
saya kan botak.“
“Bukan, maksudnya bulu
kemaluan itu loh!” koreksi Egi.
“Ohhh itu? Sudah dong
pak!”
“Bagus-bagus!”
Egi pun masuk ke
ruangannya. Bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan….
Ajaib! Pengunjung yang
datang sangatlah banyaaaaaaaak. Namun setelah semua beres, ia masih belum puas
dengan pencapaian itu. Ia ingin agar penjualan lebih meningkat lagi!
“Pak, mungkin harus
dibambah, cukur bulu dubur!” celetuk seorang staf saat mereka evaluasi harian
saat itu.
“Nah, bisa jadi. Oke,
besok semua harus sudah cukur bulu dubur!”
***

Humoris ya -_-
BalasHapus