Rabu, 30 Desember 2015

#Cerpen Buku Kemaluan


Waktu membaca: 6-8 menit
Semua anggota tim memilih Egi. Ia pun bersiap mengahadapi konsekuensinya. Bila semua sudah disepakati, maka ialah yang akan memimpin tim ini.
“Baiklah… apa semua sudah sepakat?” Tanya Riko, sang penengah rapat.
“Sepakaaaat!” ujar semua anggota tim serentak.
Okey, that is it.
“Kalau begitu, semua tugas saya serahkan ke Egi. Jadi tolong, berkerjalah yang kompak sehingga kita bisa berhasil!” pungkas Riko sebelum rapat ditutup.
“Baiklah, mari kita tutup rapat ini dengan membaca doa bersama,” ujar Gilang, sang MC.
Semua pun berdoa dengan khusyuk.
“Aamiin, wassalaamualaikum warhatullahi wabarakatuh…”

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semuanya.
Ruangan rapat pun dibereskan. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, Egi mengingatkan sekali lagi kepada rekan-rekannya untuk datang besok di rapat lanjutan. Mereka pun serempak mengangguk.
Tak lama, ruangan itu pun kosong.
Egi berjalan pulang menuju halte bus. Ia memang selalu pulang-pergi kerja menggunakan kendaraan umum. Alasannya klise sih. Kalau saya mempunyai kendaraan sendiri, itu hanya akan menambah padat jalanan Jakarta. Toh, ia juga hanya sendiri memakainya.
Haha, dan mungkin karena pendirian-pendiriannya yang bagus itulah yang membuatnya terpilih menjadi pimpinan tim penjualan sebuah supermarket besar di bilangan Jakarta itu selama event Idul Fitri.
Egi sadar, bahwa event ini adalah event yang besar, bahkan mungkin yang terbesar sepanjang tahun. Secara, supermarket mereka kebanyakan menjual pakaian, oleh karena itu mereka harus mencari cara agar dapat mensukseskan penjualan tahun ini. Karena biasanya, omzet mereka akan naik ratusan kali lipat saat orang-orang berbelanja baju lebaran.
Egi sempat berpikir untuk menggunakan cara tahun lalu, namun ia ingin sebah inovasi. Tahun lalu memang sukses. Mereka dapat menjual banyak potong baju dalam waktu tiga hari. Namun menurut Egi, bila sesuatu itu sudah bagus, pasti masih ada lagi yang lebih bagus darinya. Ia ingin berkembang. Ingin inovasi. Ingin sebuah perubahan yang lebih baik. Karena itulah ia ada di sini sebagai pemimpin.
Sekarang adalah hari kedua Ramadhan. Mereka masih punya cukup waktu untuk mendesign tempat dan membuat persiapan jelang penjualan semasa Idul Fitri nanti. Egi juga sudah mempunyai beberapa rencana yang ia anggap keren.
Kembali ke cerita, akhirnya Egi pun sampai di halte. Ia menunggu bus sebentar, dan kemudian masuk ke dalamnya. Sejujurnya, ia sangat lelah hari ini. Ia ingin istirahat…
***
Rapat lanjutan…
“Baiklah, saya ingin ada inovasi baru di sini. Saya sangat berharap kepada seluruh anggota tim agar mempersiapkannya dengan baik. Mulai dari ide-ide menarik, sampai ke realisasinya yang tak kalah penting. Dan saya yakin, tahun ini, kita akan jauh lebih sukses daripada tahun-tahun sebelumnya!” orasi Egi untuk membuka rapat.
“Baiklah, ada yang punya ide?”
“Saya pak!” ujar Busyro, bagian dekorasi.
“Yak! Apa itu?”
“Saya punya ide agar kita membuat sebuah stand kecil tempat katalog-katalog baju kita. Jadi, untuk memudahkan para pembeli, mereka tidak perlu mengorek-orek tumpukan baju untuk memilih, namun cukup dengan melihat katalog dan mereka akan bisa menghemat waktu unuk memilih baju!”
“Catat!”
“Ide yang sangat bagus! Busy! Saya sangat apresiasi ide itu. Ada yang lain?”
“Saya pak!”
“Saya pak!”
“Saya pak!”
Rapat itu pun menghasilkan banyak ide yang sangat menarik. Egi bersyukur, bahwa timnya sangatlah kompak di kala itu.
***
H-15, berkat kerja sama yang menakjubkan dari seluruh anggota tim, semua persiapan telah selesai. Mereka tinggal menunggu 5 hari lagi untuk mulai menjalankan program mereka. Itulah enaknya bila kita tidak menunda-nunda pekerjaan, saat perkerjaan itu telah selesai pada waktunya, kita tinggal menunggu dengan tenang.
Dua hari sebelum promo lebaran berlangsung, Egi mengecek persiapan. Meskipun tahu bahwa memang semuanya telah siap, tidak ada salahnya bila ia mengecek ulang.
Mulai dari dekorasi. Oke, siap. Tinggal di pasang.
Stok barang. Lengkap.
Katalog. Sudah jadi.
Para pegawai. Siap.
Dan yang lainnya pun sudah siap.
Pada tahun ini, Egi menerapkan system diskon roda. Ia mengawali promo dengan diskon biasa, namun semakin dekat dengan lebaran, diskon tersebut semakin bertambah. Terus bertambah. Mulai dari 20%, lalu dua hari kemudian 40%, dua hari kemudian 50%, begitu seterusnya. Namun ia mematok puncak diskon pada H-3 lebaran. Tujuannya simple. Agar orang tidak berdesak-desakan saat malam takbiran berbelanja.
Ah, pokoknya, semua sudah berjalan sesuai rencana. Kini ia tinggal menungu dibukanya promo lebaran oleh supermarket mereka.
***
Dan hari itu pun tiba. Egi sudah berada di kantor lebih awal, menunggu para pembeli yang akan datang ke supermarketnya. Ia bersama puluhan staf lain sedang bersiap untuk melakukan penjualan.
Dan Ajaib!
Hari pertama, mereka mendapatkan sedikit sekali pengunjung. Bahkan mungkin lebih sedikit dari hari biasa. Egi pun mengevaluasi. Semua sudah benar kok. Sesuai dengan tempatnya. Padahal tahun lalu yang persiapannya tidak lebih baik dari tahun ini pun kedatangan banyak pengunjung pada hari pertama. Namun mengapa tahun ini tidak?
Tak habis pikir rasanya.
Hari itu, ia pun dimarahi oleh direkur.
Hari berikutnya. Nasib tak jauh beda dengan hari kemarin. Mereka hanya kedatangan sedikit sekali pengunjung.
Pun dengan hari selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya, sampai akhirnya tibalah H-4 lebaran.
Ah! Besok kan puncak diskon, apakah nasib ini tetap tak akan berubah? Egi membatin. Mungkin aku harus berkonsultasi dengan Guru Agamaku.
Akhirnya, Egi pun pergi ke rumah guru agamanya untuk berkonsultasi. Setelah menceritakan semua kejadian yang dialaminya, sang guru hanya mengelus-elus jenggot. Tampak berikir sebentar sebelum akhirnya menjawab dengan bijak.
“Dengarlah baik-baik kisah ini,” ujarnya.
“Dahulu kala saat Umar bin Khattab R.A memimpin penyerangan ke Mesir, umat Islam sempat mengalami kebuntuan seperti yang kau alami sekarang. Mereka kuat, banyak, dan pandai berperang. Namun mereka tidak bisa menembus benteng pertahanan pasukan Mesir. Akhirnya, sang panglima pun mengevaluasi para pasukan. Apakah ada yang tidak melaksanakan sebuah sunnah Rasul? Tanyanya. Namun semua menjawab bahwa mereka sudah melakukannya. Mulai dari sholat tahajud, dhuha, sedekah, dan lain sebagainya.”
Sang guru menghela nafas sebentar.
Ia melanjutkan,” akhirnya, sang panglima tersebut pun ingat, ada satu sunnah Nabi yang belum ia dan prajuritnya laksanakan.”
“Apa itu guru?” Egi bertanya penasaran.
“Bersiwak…” jawab sang guru.
“Akhirnya, seluruh umat muslim yang ikut berperang itupun melakukan siwak. Kau tahu siwak? Itu adalah sejenis sikat gigi di zaman dahulu yang terbuat dari kayu siwak. Cara menggunakannya adalah dengan mengelupaskannya dan menggosokkan ujungnya ke gigi. Seperti itulah intinya.”
Egi mengangguk-angguk.
“Nah, ceritanya, ada seorang mata-mata dari Mesir yang melihat kejadian tersebut (umat muslim yang sedang bersiwak). Ia pun melaporkan hal tersebut kepada raja Mesir kala itu.”
“Lapor! Sebaiknya kita menyerah saja kepada pasukan muslim, wahai paduka raja!” ujarnya.
“Hah?! Mengapa?!” Tanya sang raja keheranan.
“Mereka makannya kayu baginda!” ujar sang mata-mata ketakutan.
Egi dengan refleks tertawa terbahak-bahak mendengar cerita tersebut. Lucu juga karena orang Mesir itu berpikir bahwa, orang Islam makannya aja udah kayu, sadis banget, apalagi kalau perang??
Yah, kurang-lebihnya begitu.
“Nah, sekarang giliranmu,” sang guru kembali serius,” saat ini kau sedang ditimpa masalah, cobalah kau cari sunnah Rasul apa yang belum kau dan tim-mu lakukan! Insya Allah, bila kalian melakukannya, akan datang keberkahan dari Allah SW seperti yang di cerita Umar tadi!”
“Wah! Saya benar-benar mendapat pencerahan. Terima kasih pak guru!” Egi menyalami tangan pak guru untuk berpamitan. Sehabis ini ia harus langsung rapat di supermarket.
“Take care ya!” unggah sang guru.
“Iya!”
Egi pun dengan cepat meluncur ke tempat kerjanya.
Sembari di jalan, ia sempat googling tenang sunnah. Kebetulan yang ia dapat adalah tentang sunnah fitrah. Nah, sunnah ini isinya adalah khitan, memotong kuku, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan. Hmm, mungkin aku akan bertanya semua ini kepada mereka, apa yang belum mereka lakukan, katanya dalam hati
Sesampainya di ruang rapat, semua sudah menunggunya di sana. Mereka kebanyakan sudah mengeluh, bahkan ada yang hampir putus asa. Egi menatap mereka dengan tatapan penuh semangat, kemudian berkata.
“Kita rapat di ruang lain! Rapat akbar! Bersama seluruh staff dan karyawan!” ujarnya menggelegar.
Semua pun akhirnya berkumpul, mulai dari SPG, kasir, bahkan OB. Mereka kebanyakan belum mengerti apa yang akan disampaikan oleh sang pemimpin tim. Mereka hanya memenuhi panggilan saja untuk datang.
“Nah! Saya akan menjelaskan sesuatu kepada kalian!” ujar Egi di hadapan mereka semua.
Ia pun menceritakan ulang apa yang sudah diceritakan oleh gurunya. Dan setelah cerita selesai, semua yang hadir di sana tertawa. Lucu gimanaaa gituh ceritanya.
“Oleh karena itu, di sini saya ingin menerapkan apa yang sudah diterapkan oleh Umar bin Khattab dahulu. Sunnah yang saya patok di sini hanyalah sunnah fitrah. Nanti saya kasih tahu.”
“Pertama, sekarang, siapa di sini yang belum di khitan? Acungkan tangan!” tanyanya.
Tidak ada yang mengacungkan tangan. Ya jelaslah! Udah pada gede semua kok!
“Oke, yang kedua, siapa yang belum memotong kuku?”
Dan seterusnya sampai…
“Siapa di sini yang belum mencukur bulu kemaluan?”
Ajaib. Semua yang ada di sana mengacungkan tangan. Termasuk Egi salah satunya.
Pantesan. Satu supermarket belum ada yang mencukur bulu kemaluan ternyata…
“Besok adalah puncak diskon! Agar semua berjalan dengan lancar, saya ingin kalian semua melakukan sunnah Nabi dengan mencukur bulu kemaluan kalian masing-masing! Paham?!”
Mereka celangak-celinguk. Mungkin sedikit kaget dengan statement barusan.
“Paham?!!”
“Paham pak!”
“Pak, tapi istri saya lebih suka….”
“Tidak ada tapi-tapian! Bulu kemaluan itu, adalah sarangnya syaitan. Paham??!”
“Paham pak!”
“Baiklah. Saya pribadi juga akan mencukur bulu kemaluan saya malam ini. Jadi, cukup sekian hari ini, sampai jumpa lagi besok! Semoga Allah memberkahi kita,” ujar Egi.
Rapat akbar itu pun selesai.
Tinggal menunggu besok. Akankah nasib mereka berubah? Kita lihat nanti.
***
Esoknya, semua datang dengan ceria. Mereka tentu saja sudah melaksanakan perintah dari sang pemimpin. Memang sih, rasanya lebih plong gimanaaa gituh. Mereka telah siap sekarang. Dan karena sunnah Nabi telah mereka lakukan, pasti akan banyak pelanggan yang datang.
Pun dengan Egi, baru sampai di pintu satpam ia langsung menanyai sang penjaga keamanan tersebut.
“Udah cukur?” tanyanya.
“Cukur apa pak? Kepala saya kan botak.
“Bukan, maksudnya bulu kemaluan itu loh!” koreksi Egi.
“Ohhh itu? Sudah dong pak!”
“Bagus-bagus!”
Egi pun masuk ke ruangannya. Bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan….
Ajaib! Pengunjung yang datang sangatlah banyaaaaaaaak. Namun setelah semua beres, ia masih belum puas dengan pencapaian itu. Ia ingin agar penjualan lebih meningkat lagi!
“Pak, mungkin harus dibambah, cukur bulu dubur!” celetuk seorang staf saat mereka evaluasi harian saat itu.
“Nah, bisa jadi. Oke, besok semua harus sudah cukur bulu dubur!”

***

1 komentar: