Kamis, 31 Desember 2015

#Cerpen Piknik


Waktu membaca: 6-8 menit
“Lucy, hurry up, sweetie!”
Mom berteriak dari ruang tengah, menyuruhku untuk segera turun.
“I’m comiiing!” Ujarku yang sebenarnya masih memasukkan topi ke dalam tas besar berwarna biru pemberian Josh saat Thanksgiving tahun lalu. Semenjak saat itu, aku selalu memakai tas tersebut bila ada acara piknik atau kegiatan outdoor lain. Entah mengapa tapi aku menyukai design simpelnya. Josh memang paling tahu seleraku.
 Sekitar dua menit kemudian, aku turun. Mom sudah berdiri di depan pintu. Semua anggota keluarga tampaknya sudah siap di dalam mobil, hanya tinggal menungguku. Aku pun mempercepat langkah dan segera menuju mobil.
“Kau tahu, lain kali kau harus lebih cepat.” Mama berkata saat aku melewatinya di depan pintu.
“Okay, Mom.” Jawabku sepintas.
Aku segera masuk ke pintu belakang. Di sana sudah ada Judith dan Jerry, dua adikku. Jerry sibuk dengan video gamenya, sementara Judit sedang membalas pesan singkat dari seseorang. Mungkin pacaranya, entahlah.
Rick sudah bersiap di kursi pengemudi. Ia mengeraskan radio yang memberitahukan kondisi lalu lintas yang akan kami lewati menuju Willow Beach, sebuah area rekreasi yang cukup indah di Ontario, Kanada.
Rencananya, akhir pekan ini akan kami habiskan dengan piknik keluarga di sana. Tidak jauh, hanya 40 menit perjalanan dari rumah kami di Huntsville. Bukan yang Alabama, tapi yang di Ontario juga. Kami akan melewati Highway 11’st, lalu melewati Muskoka District road hingga sampai di Willow Beach. Sederhana.
Mom masuk dan menutup pintu mobil.
“Kencangkan sabuk pengaman kalian, anak-anak!” Rick berkata pada kami dengan semangat. Meski ia adalah ayahku, aku lebih terbiasa memanggilnya dengan  nama langsung.
“We’re just fine, Rick.” Ujarku yang kemudian memasang earphone lalu mendengar alunan nada Lana Del Rey di playlist Ipod-ku.
Rick hanya mengangkat bahu dan memulai perjalanan.
***
Aku putus dengan Josh tepat 3 bulan yang lalu. Di bulan pertama, Mom harus mengganti sarung bantalku setiap pagi karena penuh dengan air mata dan ingus, hasil kegalauanku malam harinya. Nilaiku turun, namun tidak terlalu jauh. Mrs. Janneth—wali kelasku—sempat mengabari Mom tentang kondisi nilai-nilaiku. Namun Mom tidak marah. Ia hanya tersenyum, mengajakku belanja—karena ia tahu bahwa itu hobiku—dan mentraktirku es krim, tanpa menasehati apapun!
Aku bisa tahu maksud dari semua itu cukup dari senyumannya. Ia ingin aku kembali bahagia dan melupakan Josh. Sesederhana itu. Mungkin orang tua lain harus belajar dari Mom. Kata-kata sudah tidak efektif lagi untuk remaja 18 tahun sepertiku. Cukup berikan perhatian, traktir kami sesuatu yang kami sukai, dan tersenyumlah. Senyuman yang tulus yang dapat meluluhkan hati kami.
Mom memang jagonya.
Kini, hidupku masih kosong tanpa pacar laki-laki. Aku mulai bisa mengontrol diriku hingga fokus pada pelajaran dan impian-impian. Rasanya lebih enak, ternyata. Ya, meski kadang bayang-bayang Josh masih menghampiri.
Hari ini, seluruh keluarga akan piknik di sebuah pantai yang sebenarnya bukan di pinggir laut—atau yang biasa disebut lakeshore. Willow beach terletak di pinggir danau Muskoka, Kanada. Tempat wisata ini memang tidak terlalu terkenal, mungkin pengunjungnya kebanyakan hanya orang Ontario saja. Keluargaku termasuk salah satu langganannya.
Kami akan menghabiskan hari dengan berenang, kemudian di tengah hari kami akan makan siang di bawah pohon di dekat air. Dari sana pemandangan sangat indah, mengingat danau Muskoka mempunyai air yang sangat jernih. Kawasan ini sebenarnya adalah area konservasi. Namun pemerintah menjadikannya sebagai tempat rekreasi juga. Ada beberapa organisasi lingkungan yang berada di sini, seperti Willow beach field naturalist yang berdiri semenjak tahun 1953. Cukup, aku malah berbicara sejarah.
Kami melewati 11’st road dengan perlahan karena kondisi jalanan yang cukup padat. Judtih masih sibuk dengan Iphone-nya, Jerry pun tenggelam dalam video game. Aku hanya menatap sungkan pada kedua adikku tersebut dan lanjut mendengarkan lagu. Kudengar Rick dan Mom sedang berbicara, entah tentang apa.
Rick tiba-tiba memutar mobil. Aku melepas satu earphone dari telinga.
“Anak-anak, kita akan memutar lewat Brunel Road, semoga di sana tidak macet.” Mom menjelaskan. Aku hanya mengangguk-angguk. Tampaknya jalanan sudah sangat padat. Tumben. 
Baru sekitar satu mil berjalan, mobil kami kembali terjebak macet. Rick mengumpat sedikit, karena Brunel Road sudah sekitar setengah mil lagi di depan. Kami terpaksa berhenti dulu menunggu giliran jalan.
Aneh, hari ini masih lumayan pagi, namun mengapa sudah sangat macet?
Tiba-tiba orang-orang keluar dari mobil mereka. Aku yang sedari tadi sudah melepas earphone-ku pun merasa janggal. Orang-orang itu melihat ke langit.
Aku melepas sabuk pengaman dan segera keluar juga.
No! Lucy, stay inside!” Mom berkata, namun aku tak menghiraukan.
Kulihat ke langit. Beberapa pesawat jet buatan Amerika berterbangan menuju Tenggara. Entah ada angin hujan apa, namun jumlah mereka sangat banyak.
Mom ikut keluar dari mobil, begitu pula Rick dan Judith. Jerry masih sibuk saja dengan video gamenya di dalam mobil.
“Mom, aku dapat pesan dari Glenn. He said something went wrong today.
Mom menatap Judith dengan penasaran. Rick segera menyalaan stasiun berita di radio.
What’s wrong, honey?
Belum sempat Judith menjelaskan, sebuah bunyi menggelegar terdengar dari arah Tenggara. Sepertinya dari Peterbrough. Kami semua refleks menutup telinga. Api dan sinar yang silau memancar dari sana. Aku terkejut.
Angkatan udara Amerika baru saja menjatuhkan bom! Ada apa ini!
“Semuanya masuk!” Rick menyuruh kami.
Aku pun segera masuk ke dalam. Khawatir dan bingung terhadap apa yang sedang terjadi.
“Tutup semua kaca!” Rick memerintahkan lagi.
Kami semua pun melaksanakan apa yang ia perintahkan. Dan tepat saat kaca di sisi pintuku menutup, seseorang menyerang kami.
***
Tidak tepat juga menyebutnya seseorang. Yang menyerang kaca pintuku tidak mirip dengan manusia. Meski tubuhnya manusia, tubuhnya sudah terkoyak-koyak dan penuh darah. Wajahnya pun pucat ke abu-abuan. Aku panik dan segera menjauh dari kaca.
“Pegangan semuaa!” Rick berkata seperti itu, lalu mulai melajukan kendaraan ke arah kanan. Mobil kami melindasi trotoar jalan dan mengebut. Menjauhi kumpulan mobil-mobil yang masih berhenti di jalan. Kulihat suasana sangat kacau di luar sana. Orang-orang berteriak. Mereka saling memakan satu sama lain.
Judith berteriak ketakuan sambil menutup mata. Mom menyuruhnya untuk tenang dan bersembunyi di bawah kursi saja kalau takut. Jerry yang tadinya khusyu’ dengan video gamenya pun berhenti dan mencerna keadaan.
What happened, Mom?” Tanyanya.
Something terrible. Just take care of your brother and sister and we’ll go out from this situation.” Mom menyuruh kami tenang dan mengendalikan diri kami. Aku tahu bahwa ia juga sebenarnya takut.
Aku melihat keluar. Semua orang menjadi gila. Ini seperti pembantaian massal, namun dilakukan oleh mereka sendiri.
Rick membawa kami melintasi Brunel Road dan menjauh dari kemacetan. Setelah mengemudi sekitar 5 mil, kami berhenti di pinggir jalan yang kosong.
Are you guys okay?” Rick bertanya pada kami.
Kami semua mengangguk.
Rick melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di Baysville. Suasana di sana kosong. Tampaknya orang-orang sudah mengevakuasi diri beberapa jam yang lalu.
Kami berhenti di Baysville Country Store untuk mengisi bahan bakar.
Mom mengumpulkan kami dan menjelaskan situasi. Kulihat Rick sedang menerima telepon. Entah dari siapa.
“Aku tahu bahwa kalian semua takut. Tapi percayalah, kita semua akan melewati bencana ini.”
“Mom, mengapa orang-orang saling memakan satu sama lain?” Judith bertanya sambil terisak.
Mom menghela napas. “Ini semacam virus. Orang-orang berubah, dan mereka akan menggigit manusia lain, setelah itu semua berubah dan saling memakan.”
Rick menghampiri kami.
“Kita akan melanjutkan perjalanan ke Willow beach. Dari sana, kita akan naik sampan milik  temanku dan menuju Pine Island—sebuah pulau di tengah danau muskoka. Lalu, kita berlindung di sana sampai bencana ini selesai.”
 Aku mengangguk. Kami segera masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan.
***
Kami baru saja keluar dari 117’th road ketika mobil kami dihantam oleh sebuah truk dari samping.
Teeet. Brukkk.
Kami terpental sejauh 10 meter. Aku meraskan sakit yang teramat sangat sebelum semua menjadi hitam. Gelap.
***
Begitu aku membuka mata, sekelilingku masih gelap.
Sudah malam, ucapku dalam hati.
Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa kami mengalami kecelakaan. Kulihat di sebelahku Jerry dan Judith tidak bergerak sama sekali.
Hey! Wake up!” Aku mengguyang-goyang tubuh Judith, namun ia tak sadar juga. Kulihat darah menetes dari jidatnya. Dan setelah beberapa detik, aku sadar bahwa ia sudah tidak benapas.
Waktu serasa berhenti. Aku ingin keluar dari mobil namun kakiku terjepit.
Setelah 15 menit berjuang, aku berhasil mengeluarkan kakiku. Kubuka pintu mobil dan kulihat sekeliling.
Sepi.
Aku pun mengecek kondisi Rick dan Mom. Kondisi mereka tak jauh beda dengan Judith. Tanpa terasa, air mataku menetes.
Seluruh keluargaku meninggal.
Aku memegangi wajahku dan berlutut untuk menangis. Baru saja tadi pagi kami merencanakan sebuah piknik yang indah. Namun ternyata sesuatu yang lain terjadi. Dan ada kemungkinan bahwa dunia ini pun telah berubah.
Tangisku baru saja akan mencapai puncaknya tatkala aku mendengar sebuah suara batuk dari mobil.
Jerry! Teriakku dalam hati.
Aku segera menghampiri sumber suara dan kulihat Jerry sudah sadar.
Hey, lil brother! I’m glad you’re safe.” Aku membantunya keluar dari mobil yang terbalik. Kami berdua tidak apa-apa meski ada lecet di ebebrapa bagian tubuh.
Mom, Dad?” Aku menggeleng. Dan Jerry pun pasti sudah tahu kondisi Judith.
We have to go.” Ujarku.
Ia mengangguk.
Aku teringat bahwa Rick menggunakan ponselnya untuk menelpon temannya. Mungkin apabila kami menelpon temannya kembali, kami bisa meminta pertolongannya untuk membawa kami ke pine island seperti rencana semula.
Aku segera mengecek kantong Rick yang sudah menjadi mayat. Agak sulit, karena mobil kami terguling. Setelah mencari sekitar dua menit, aku mendapatkannya.
Where are we going?” Tanya Jerry.
We stick to the plan. I hope Rick’s friend can help us to reach the safe place at Pine Island as he said.
Jerry mengangguk. Aku mencoba untuk menyalakan ponsel Rick namun gagal.
“Shit. Ponsel ini rusak.”
“Sini, biar kubantu.” Jerry menawarkan bantuan. Sementara ia mengotak-atik handphone jadul itu, aku mengecek bagasi. Mencoba menemukan peralatan dan persediaan yang masih bisa kami gunakan.
Aku menemukan tas biruku dalam kondisi baik, dan segera mengambil makanan yang sudah dipersiapkan oleh Mom sebelum berangkat. Tak lupa, aku mengambil peralatan dari mobil ini seperti tang dan obeng.
“Kau sudah selesai?” Tanyaku pada Jerry.
“Nope. Aku tidak menemukan kerusakan apapun. Mungkin handphone ini hanya kehabisan baterai.”
Aku ber-fyuh mendengarnya. Di tas-ku ada charger handphone yang bisa digunakan untuk alat komunikasi itu.
“Pertama-tama, kita harus menemukan tempat bermalam dulu.”
Jerry mengangguk.
“Aku pernah lewat sini dulu, sekitar 5 mil di depan ada pemukiman Bracebridge. Mungkin di sana kita bisa menemukan rumah yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya.”
Aku sadar, bahwa sekarang aku yang bertanggung jawab atas adik kecilku ini. Apapun yang terjadi, kami harus bisa selamat.
***
Baru sekitar dua mil kami berjalan, aku melihat sosok mengerikan di depan kami. Ia berjalan tertatih-tatih dan mengeluarkan suara yang menyeramkan. Aku menyinarinya dengan senter, dan yang kulihat adalah makhluk yang sama dengan makhluk yang menyerang kami di mobil.
Aku mengambil tang dan memukul makhluk itu tepat di kepala. Ia terjatuh, namun dengan cepat bangun kembali. Aku bingung. Apa yang harus kulakukan untuk menghabisi makhluk ini.
Ia kembali menyerangku, namun aku berhasil menghindar. Kulihat makhluk tersebut sekarang mengejar Jerry. Adik kecilku itu berlari dari terjangannya. Aku segera mengejarnya dan tanpa ragu menusukkan obeng ke kepala makhluk itu.
Seketika, ia roboh dengan darah yang memuncrat.
“Kau tidak apa-apa, Jerry?” Tanyaku seraya menghampirinya yang masih ketakutan.
Jerry menangis. Umurnya masih 8 tahun. Dan ia sangat ketakutan.
“Tenang, aku ada di sini untuk melindungimu.”
Kami berjalan lagi hingga sampai di Bracebridge. Kulihat masih banyak makhluk-makluk itu yang berkeliaran di jalanan. Jadi, kuputuskan untuk mengendap-endap di belakang rumah-rumah.
Kami sedang mengawasi jalanan ketika tiba-tiba, seseorang menepuk pundak kami dari belakang.
“Ssst! Ikuti aku!”
Aku dan Jerry kebingungan.
Come on!” Ujarnya yang sudah beberapa langkah di depan kami.
Aku segera mengikuti langkahnya, tepat di belakang Jerry yang sudah kudorong ke depan.
Sosok itu membawa kami masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu.
Kami menuju ruang tengah dan duduk di karpet. Orang itu membuka mantelnya dan memperkenalkan diri.
“Aku kira semua orang sudah berubah. Senang bertemu kalian, aku Harris.”
Aku membalas jabat tangannya. “Lucy, dan ini adikku Jerry.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Harris mengangkat alis. “Dunia yang kita kenal sepertinya sudah tiada lagi.” Ia berkata.
“Maksudmu?”
“Kau lihat saja sendiri? Makhluk itu menggigit manusia lain. Yang digigit berubah menjadi makhluk tersebut. Begitu terus sampai semua manusia berubah.” Harris menjelaskan.
Aku menghela napas. Ini sulit dipercaya.
“Aku menamai mereka Jurig.” Harris berbicara dengan sebuah logat aneh.
Jur.. what did you say?
Hahaha, Jurig. It’s Sundaneese language. You won’t understand.”
I prefer call them Biters.” Jerry berbicara. “Or Roamers. Or walkers.”
Harris mengangkat bahu.”Yeah, whatever. But once you get bited, you’ll change, and nothing will stop you unless you’re stabbed on the brain.”
Aku ber-hmm. Berarti seperti yang tadi kulakukan di jalan.
“Apa yang membawamu kemari?” Harris bertanya.
Aku menatap Jerry, meminta persetujuannya untuk menjelaskan. “I was on my way to go picnic to Willow Beach with my family when this happened.”
Harris menyimak.
We were stucked at the traffic on 11’st road when it started. So Rick turned the car and took the Brunel Road.”
“Tapi ketika kami sudah keluar dari Baysville, sebuah truk menabrak kami. Hanya aku dan Jerry yang selamat. Kami pun menuju ke sini.”
Harris menarik napas. “Well, you’re lucky to have each other and safe. All person that i knew have turned into that creature.
I don’t even know what will i do tomorrow.”
Aku ikut menghela napas. “It’s hard.”
“Yeah.”
Aku tidak tahu mengapa namun kulihat Harris ini mirip sekali dengan Josh. Shit. Mungkin ini hanya halusinasiku. Namun ketika kupandang lelaki itu sekali lagi, yang kulihat memang benar Josh.
“Are you...” Aku baru saja mau bertanya apakah ia sebenarnya adalah Josh atau bukan, ketika pintu kami diterobos masuk oleh Jurig atau apapun itu. Ia masuk dan langsung menggigit Jerry hingga darah bermuncratan ke mana-mana.
“Noooo!” Aku berteriak sambil menerjang makhluk itu.
Harris ikut berjuang di sebelahku.
Ia menghabisi 3 makhluk itu. Aku juga sudah menusuk kepala Jurig yang tadi menggigit Jerry.
“Kita harus pergi! Mereka akan menerobos tempat ini!”
“Tapi Jerry??”
Harris menggeleng.
Dan tepat saat itu, seekor Jurig menggigitku dari samping.
Aku berteriak kencang karena kesakitan. Dan hal terakhir yang kulihat adalah Harris yang menerjang makhluk itu, kemudian memelukku.
Pelukan yang persis sama seperti yang Josh lakukan.
Sebelum semua menjadi gelap.
***
Aku terbangun di bawah terik matahari.
Kulihat sekeliling, cuaca cerah. Beberapa anak sedang bermain pasir dengan temannya. Jeery dan Judith sedang berenang ria di tepi pantai. Rick dan Mom sedang mempersiapkan makan siang kami.
“Oh, syukurlah kau sudah bangun, Lucy. Ayo, panggilkan adik-adikmu itu, makan siang sudah siap.”
Aku mengusap keringat dingin dari wajahku.
Syukurlah.
Ini hanya sebuah acara piknik.
Tamat
Pondok Petir, 31 Desember 2015

Azam Rofiullah
Let’s end this year by watching AMC’s The Walking Dead~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar