Rabu, 23 Desember 2015

#Serial Sang Badai Eps. 2

Waktu membaca: 6-8 menit
Orang-orang ramai mengerubungi tubuh itu. Tubuh yang 20 menit sebelumnya jatuh bebas dari langit. Tanpa pengaman, tanpa apa-apa.
Satu hal lain yang janggal, adalah bahwa tubuh tersebut tidak rusak sama sekali meski jatuh dari ketinggian puluhan kilometer. Mereka yang ada di sana langsung berspekulasi aneh-aneh.
“Ini malaikat...”
“Penyihir...”
“Pasti dia salah satu Avengers...”
Hingga sekitar 15 menit kemudian, polisi beserta tim medis datang untuk mengambilnya.
Orang-orang ber-“huuu” karena masih ingin melihat dan merekam. Namun sudah jelas, pihak yang berwenang harus menelusuri kasus yang super ganjil ini.
Mobil ambulance pun pergi. Dan sepuluh detik setelahnya, manusia kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Tak ingat apa yang barusan terjadi.
***
Nun jauh di angkasa.
“Sial, aku harus menyembuhkan luka-luka ini dulu.” Ernest memegangi dadanya yang terasa amat nyeri. “Tak kusangka luka yang dibuat oleh bedebah itu sangat menyakitkan.”
Lelaki itu pun bersuit, hingga tak lama kemudian datang seekor burung kakaktua dari bawah awan tempatnya berdiri.
“Hei bos. Kelihatannya kau tidak baik-baik saja.” Burung tersebut berbicara.
“Sigh, aku hanya kurang perhitungan sedikit tatkala melawan saudaraku itu.”
Si Burung kakaktua pun terbang memutari Ernest. Mengecek luka-lukanya.
“Berapa lama kira-kira waktu yang kubutuhkan untuk pulih?” Ernest bertanya.
Sang burung menatap majikannya tersebut.
“Sekitar...”
***
“10 tahun.” Seorang wanita berbicara pada lumba-lumba di depannya.
“Kau yakin? Berarti kemungkinan besar Sang Badai akan bersembunyi di salah satu planet outer-ring untuk memulihkan kekuatannya. Dan sementara itu, kurasa sebaiknya kita melapor ke Papa dan berkumpul untuk membahas masalah ini.” Lumba-lumba itu memberi tanggapan. Mereka sedang berada di sebuah gua di sisi pantai pulau Bora-bora, Samudera Pasifik.
“Serangan terakhir dari Galang pasti sangat kuat. Dan ya, malah kupikir Papa sudah tahu dan sebentar lagi akan datang utusan darinya.”
Betul saja, baru beberapa detik setelah bicara begitu, datang seekor kuda putih yang berlari ke arah sang wanita.
“Mari Penjaga Air. Lama tak jumpa. Kau tampak cantik hari ini.” Kuda tersebut membuka pembicaraan. “Dan.. ah, si cerewet Liana.  Apa kabarmu, mantan?”
“Jangan kau sebut aku dengan panggilan itu!” Liana menghempaskan ekornya ke air.
“Hahaha, sudah-sudah. Jangan marah, Lin, ia hanya bercanda.” Mari menengahi. Liana masih saja cemberut ala lumba-lumba. Ya seperti itulah.
“Jadi, apa pesan yang kau bawa, Kev?”
Kuda yang bernama Feliks itu meringik. “Seperti kabar yang kau dengar...”
“....Ya, aku sudah tahu, deklarasi perang.” Mari memotong sambil memasang ekspresi sedih.
“Tidak, Papa sebenarnya tidak ingin ada perang lagi. Kita sudah cukup melakukannya dulu, melawan monster-monster sialan itu.”
“Mereka, bukan monster, Kev. Manusia menyebut mereka Dinosaurus. Dan sekarang keturunan dari mereka masih ada. Buaya, komodo, ikan-ikan purba kenalanku di bawah laut sana. Oh, kau harus berhenti menyebut mereka monster. Kalau mereka monster, kita ini ap...”
“Cukup, gadis cantik yang cerewet, terserah kau sajalah.” Feliks memotong ucapan Liana.
“Hey Kev, bagaimana dengan manusia-manusia yang melihat pertempuran tersebut?” Mari bertanya.
“Ohh, para penduduk Jakarta? Sudah kuurus. Mereka akan lupa dengan apa yang mereka lihat. Sudah kuhapus juga semua informasi yang terekam maupun tercatat. Bersih seperti tak pernah terjadi apa-apa.”
 “Kau melakukan tugas dengan baik.” Sanjung Mari.
“Ya, biasa terjadi kan. Tiap ribuan tahun sekali, tiap munculnya peradaban, hal seperti ini terjadi terus. Papa bahkan membiarkan beberapa informasi tidak dihapus. Dan sekarang, manusia punya legenda-legenda dewa yang banyak.”
“Hahaha, ya, aku ingat itu. Yunani? Romawi? Aku paling suka dua kisah yang manusia buat itu.” Mari tertawa kecil.
“Yeah, itulah kehebatan manusia. Mereka selalu lebih pintar dari kita.” Feliks cemberut.
“Hey, itulah kelebihan dari Sang Penguasa Alam kepada mereka. Tak usah kau sesali.”
“Oh iya, ini undanganmu. Pertemuannya bulan depan. Ini mendadak, masih lebih cepat 800 tahun dari jadwal biasa.”
Mari menerima segulung kertas berstempel.
Liana melihat Mari membuka kertas tersebut dan membaca.
“Aku harus pergi, ngomong-ngomong. Senang bertemu kalian. Sampai jumpa nanti.”
Feliks pamit dan langsung melesat ke udara. Celakanya, ia lupa bahwa ini masih di dalam gua. Ia pun nabrak.
“Aduuh.”
“Hahaha, sukurin!”
 Mari ber-ehm. Membuat Liana jadi malu sendiri.
***
Perumahan Elite Bougenville itu lenggang. Sampah dan rongsokan isa-sisa badai masih berserakan di jalanan. Mungkin sebentar lagi ada inisiatif dari warga untuk bergotong royong membersihkannya.
Firly baru saja menonton berita tentang Galang; sang ketua BMG yang jatuh dari langit. Ia memang sudah tahu bahwa suaminya itu adalah Sang Atmosfir. Yang berarti Galang bukanlah manusia. Ia adalah bentuk fana dari makhluk transendental, yang oleh manusia kadang disebut Angel, Jin, Makhluk Langit, dan berbagai sebutan lainnya.
Ia sudah tahu itu semua.
Itulah mengapa tatkala memori tentang semua ini dihapus oleh Feliks—kuda putih Papah Sang Cahaya—hanya memorinyalah yang tidak terhapus.
Firly menengok ke dalam kamar tempat putranya Robby tertidur pulas. Badai sudah reda, dan Robby tampak sudah terkuras energi dan emosinya selama kejadian itu.
Tok. Tok. Tok.
Pintu rumahnya diketuk tiga kali.
Firly membuka pintu dan mendapati Feliks sedang berdiri di sana.
“Salam, Firly.”
“Masuklah.” Wanita itu mempersilahkan.
Feliks masuk. Kali ini, dengan bentuk fananya. Seorang lelaki dengan setelan resmi—kemeja putih, dasi, dan Jas hitam buatan Itali.
“Ah, Galang dan Firly, kalian partner yang serasi.”
Firly hanya tersenyum tipis. “Akan kubuatkan minum.”
“Tak usah, aku hanya sebentar."
Langkah Firly menuju dapur terhenti. “Jadi, urusan apakah itu?”
“Well, seperti yang kau tahu, suamimu baru saja melawan Ernest, sang badai...”
“...dan dia mati, kan?” Firly memotong.
“Um, dikatakan mati pun tidak tepat. Galang telah melakukan tugasnya dengan baik. Maksudku, yah, ia telah selesai.”
Feliks terlihat kesulitan mengolah kata-kata.
“Kau tahu, dunia ini terbagi dua. Fana, dan transendental—tidak fana. Meski ada beberapa makhluk transendental yang fana pula. Seen dan unseen. Aku, biasa kau sebut penduduk langit. Dan kau, manusia, tidak bisa melihat wujud asli kami.”
“Aku sudah tahu semua itu.” Firly berkata.
“Ya, aku percaya Galang telah menjelaskan semuanya padamu.” Feliks berkata.
“Galang tidak bercerita banyak.” Firly menjawab.
“Tentu saja. Oleh karena itu aku ke sini untuk menjelaskan.”
Tiba-tiba, dari ruangan tengah muncul Robby. “Mamah, siapa itu?”
Firly menengok dan berpaling ke arah Robby. “Ini teman ayah. Kamu kembali ke kamar, ya.”
Robby mengangguk dan berjalan kembali ke dalam.
“Dia sudah besar, berapa umurnya?” Feliks bertanya.
“Robby? Ia baru 5 tahun. Apa kau mau bicara tentangnya.” Firly mencoba menebak arah pembicaraan mereka.
“Well, kita sudah kehilangan Galang, Fir. Dan seseorang harus menggantikannya menjaga Atmosfir. Kau mungkin sudah bisa menebak tujuan kedatanganku ke sini.”
Firly hanya diam.
“Kau tahu, berkat serangan suamimu, Ernest terluka parah. Ia harus memulihkan dirinya di planet outer-ring, selama kira-kira 10 tahun. Aku punya waktu yang cukup untuk melatih Robby dan membuatnya siap menjaga atmosfir kembali. Melanjutkan tugas ayahnya.”
“Ya, namun bukankah ia adalah manusia? Makhluk fana?”
Firly bertanya. Anaknya mungkin mewarisi gen transendental dari sang ayah, namun ia juga mewarisi darahnya sebagai seorang manusia.
“Untuk itulah, aku ingin memberitahumu sesuatu.”
Feliks memegang tangan Firly, dan seketika itu pula, memorinya terbang jauh entah ke mana.
***
Firly sedang terbang tinggi di atas hamparan kapas berwarna putih—yang belakangan ia ketahui sebagai awan. Ia begitu menikmati angin yang berhembus kencang melewati wajah cantiknya. Wanita tersebut mengepak-ngepakkan sayapnya dengan anggun, merasakan dirinya betul-betul menyatu dengan langit.
“Kembali!”
Sebuah suara mengagetkannya. Dari belakang, tampak puluhan makhluk bersayap lain datang mengejar dengan kecepatan tinggi.
“Apa yang sedang terjadi?” Pikirnya. Ia tidak melakukan apapun. Mengapa ada patroli langit yang tiba-tiba mengejar?
Lalu ia sadar, di tangannya ada sebuah kunci emas. Entah darimana datangnya. Karena ia tahu sedari tadi tangannya kosong.
Firly pun terbang dengan kecepatan tinggi. Berusaha kabur dari kumpulan patroli langit tersebut. Namun ia kalah jumlah, dan lagi, ia bukan apa-apa dibandingkan pejuang-pejuang tangguh tersebut.
Tak butuh waktu lama, ia tertangkap.
***
“Lady Hans. Apa kau mengakui perbuatan tercelamu?”
Ia kini berada di sebuah ruangan dengan meja besar di depannya. Seorang hakim duduk di sana dengan wajah garang. Mereka semua yang berada di ruangan itu tampak seperti manusia. Namun sebenarnya mereka bukan manusia.
“Aku tidak melakukan apapun!”
Sang hakim menggelengkan kepala.
“Kuharap kau cepat mengaku agar urusan ini cepat selesai.”
Orang-orang berseru-seru meneriakinya.
“Apa kau mengaku telah mencuri kunci dari Pandora?”
“Tidak, aku tidak melakukan apapun! Aku sedang terbang di langit, lalu tiba-tiba pasukan patroli itu mengejar dan menangkapku!”
Firly, atau Lady Hans mengelak.
Sang Hakim meggelengkan kepalanya.
Lalu kemudian ia memanggil saksi. Seorang berjubah hitam. Ia berjalan menuju ruangan itu dan bersaksi bahwa Firly telah mencuri kunci tersebut dari penjagaannya.
“Kau yakin, Mauna Loa?”
Suasana ruangan sidang senyap. Menunggu sang saksi menjawab “Iya”.
“Aku yakin.”
Dan seketika ruangan itu bergemuruh kembali.
“Diaaam!” Sang hakim mengetuk palu.
“Lady Hans of the Cloud. Dengan ini, aku menyatakan bahwa kau bersalah, dan aku menghukummu dengan sanksi 72A.”
Ruangan itu bergemuruh.
“Ingatanmu akan dihapus, dan kau akan diubah menjadi manusia fana selama sisa hidupmu.”
Palu diketuk. Firly tak bisa berbuat apa-apa.
***
“Itu kejadian 9 tahun yang lalu. Kau diadili karena tuduhan mencuri kunci kotak Pandora yang dijaga oleh Mauna Loa, gunung api terbesar di Hawaii.”
“Tu.. Tunggu. Jadi aku sebenarnya makhluk transendental?” Firly bertanya gugup.
“Ya. Dan aku percaya bahwa dulu kau tidak bersalah, Firly, atau, aku ingin memanggilmu dengan nama aslimu, Lady Hans.”
Feliks menatap riskan pada wajah wanita tersebut.
“Setelah kau diasingkan oleh dewan langit, kau bertemu dengan Galang. Ia prihatin kepadamu, dan sebagai salah seorang dari 5 penjaga langit, ia memakai kuasanya untuk menjagamu dan hidup bersamamu.”
“Sebentar. Aku baru dengar semua ini. Penjaga langit? Dewan langit?”
“Ah, tentu kau bingung. Biar kujelaskan satu per satu.”
Feliks mengambil napas panjang.
“Dunia transendental, adalah dunia yang disebut oleh manusia sebagai ‘dunia gaib’ atau semacamnya. Manusia tidak bisa melihat kita, namun sebaliknya kita bisa melihat mereka.”
“Semua elemen yang ada di bumi ini, adalah makhluk transendental. Dari mulai gunung, bebatuan, sungai, dan yang lainnya.”
“Seperti kataku tadi, Mauna Loa adalah sebuah gunung. Ya, gunung. Manusia hanya bisa melihatnya sebagai sebuah gunung berapi yang ada di Hawaii. Namun mereka tidak tahu bahwa Mauna Loa itu sebenarnya hidup. Ia, dan ribuan gunung lain, semuanya hidup.
“Dewan langit adalah mereka yang mengambil keputusan atas kejahatan yang terjadi di langit. Seperti yang dituduhkan padamu. Mereka terdiri dari Gunung-gunung tertinggi di bumi, juga lautan dan palung di dasar laut. Kau ingat hakim yang dahulu mengadilimu? Dia adalah Samudra Pasifik.”
Firly tercengang.
“Sementara Galang, Mari, Ernest, mereka adalah kesatuan para penjaga langit. Mereka menjaga unsur-unsur di bumi agar tetap stabil dan berguna untuk manusia.”
“Kalau bisa diibaratkan, mereka ini adalah ‘raja’ dari unsur-unsur tersebut.”
Firly mencerna semua kata-kata itu. Ia seakan tahu akan semua yang dijelaskan oleh Feliks, namun ingatannya seolah terkunci.
“Tiap penjaga langit punya tangan kanan. Aku Feliks, tangan kanan Papah Sang cahaya. Mari, Penjaga air, punya Liana. Ernest, Sang Badai, punya Hacep, kakaktua menyebalkannya itu.”
“Lalu siapa aku dulu?”
Feliks tersenyum.
“Kau adalah Lady Hans of the cloud. Awan Stratus di Asia Tenggara.”
Firly mulai bisa menyambung benang merah dari semua ini.
“Sekarang mungkin kau mengerti mengapa kau, Si Awan, dan Galang, Sang Atmosfir bisa saling cocok satu sama lain.” Feliks berkata.
“Ya, sebenarnya tidak boleh menjelaskan semua ini kepadamu. Namun kami, para penjaga langit, punya keistimewaan. Kami berada di atas peraturan-peraturan itu.”
“Aku punya satu pertanyaan.”
Feliks mengangkat alis. “Silahkan.”
“Kalau kau yakin aku tidak bersalah, lalu mengapa kunci Pandora itu ada di tanganku?”
Feliks tersenyum.
“Pertanyaan yang bagus.”

--bersambung--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar