Waktu membaca: 6-8 menit
Orang-orang ramai mengerubungi
tubuh itu. Tubuh yang 20 menit sebelumnya jatuh bebas dari langit. Tanpa
pengaman, tanpa apa-apa.
Satu hal lain yang janggal,
adalah bahwa tubuh tersebut tidak rusak sama sekali meski jatuh dari ketinggian
puluhan kilometer. Mereka yang ada di sana langsung berspekulasi aneh-aneh.
“Ini malaikat...”
“Penyihir...”
“Pasti dia salah satu
Avengers...”
Orang-orang ber-“huuu” karena
masih ingin melihat dan merekam. Namun sudah jelas, pihak yang berwenang harus
menelusuri kasus yang super ganjil ini.
Mobil ambulance pun pergi. Dan sepuluh
detik setelahnya, manusia kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing.
Tak ingat apa yang barusan terjadi.
***
Nun jauh di angkasa.
“Sial, aku harus menyembuhkan
luka-luka ini dulu.” Ernest memegangi dadanya yang terasa amat nyeri. “Tak
kusangka luka yang dibuat oleh bedebah itu sangat menyakitkan.”
Lelaki itu pun bersuit, hingga
tak lama kemudian datang seekor burung kakaktua dari bawah awan tempatnya
berdiri.
“Hei bos. Kelihatannya kau tidak
baik-baik saja.” Burung tersebut berbicara.
“Sigh, aku hanya kurang
perhitungan sedikit tatkala melawan saudaraku itu.”
Si Burung kakaktua pun terbang
memutari Ernest. Mengecek luka-lukanya.
“Berapa lama kira-kira waktu yang
kubutuhkan untuk pulih?” Ernest bertanya.
Sang burung menatap majikannya
tersebut.
“Sekitar...”
***
“10 tahun.” Seorang wanita
berbicara pada lumba-lumba di depannya.
“Kau yakin? Berarti kemungkinan
besar Sang Badai akan bersembunyi di salah satu planet outer-ring untuk
memulihkan kekuatannya. Dan sementara itu, kurasa sebaiknya kita melapor ke
Papa dan berkumpul untuk membahas masalah ini.” Lumba-lumba itu memberi
tanggapan. Mereka sedang berada di sebuah gua di sisi pantai pulau Bora-bora,
Samudera Pasifik.
“Serangan terakhir dari Galang
pasti sangat kuat. Dan ya, malah kupikir Papa sudah tahu dan sebentar lagi akan
datang utusan darinya.”
Betul saja, baru beberapa detik
setelah bicara begitu, datang seekor kuda putih yang berlari ke arah sang
wanita.
“Mari Penjaga Air. Lama tak
jumpa. Kau tampak cantik hari ini.” Kuda tersebut membuka pembicaraan. “Dan..
ah, si cerewet Liana. Apa kabarmu,
mantan?”
“Jangan kau sebut aku dengan panggilan
itu!” Liana menghempaskan ekornya ke air.
“Hahaha, sudah-sudah. Jangan
marah, Lin, ia hanya bercanda.” Mari menengahi. Liana masih saja cemberut ala
lumba-lumba. Ya seperti itulah.
“Jadi, apa pesan yang kau bawa,
Kev?”
Kuda yang bernama Feliks itu
meringik. “Seperti kabar yang kau dengar...”
“....Ya, aku sudah tahu,
deklarasi perang.” Mari memotong sambil memasang ekspresi sedih.
“Tidak, Papa sebenarnya tidak
ingin ada perang lagi. Kita sudah cukup melakukannya dulu, melawan monster-monster
sialan itu.”
“Mereka, bukan monster, Kev.
Manusia menyebut mereka Dinosaurus. Dan sekarang keturunan dari mereka masih
ada. Buaya, komodo, ikan-ikan purba kenalanku di bawah laut sana. Oh, kau harus
berhenti menyebut mereka monster. Kalau mereka monster, kita ini ap...”
“Cukup, gadis cantik yang
cerewet, terserah kau sajalah.” Feliks memotong ucapan Liana.
“Hey Kev, bagaimana dengan
manusia-manusia yang melihat pertempuran tersebut?” Mari bertanya.
“Ohh, para penduduk Jakarta?
Sudah kuurus. Mereka akan lupa dengan apa yang mereka lihat. Sudah kuhapus juga
semua informasi yang terekam maupun tercatat. Bersih seperti tak pernah terjadi
apa-apa.”
“Kau melakukan tugas dengan baik.” Sanjung
Mari.
“Ya, biasa terjadi kan. Tiap
ribuan tahun sekali, tiap munculnya peradaban, hal seperti ini terjadi terus.
Papa bahkan membiarkan beberapa informasi tidak dihapus. Dan sekarang, manusia
punya legenda-legenda dewa yang banyak.”
“Hahaha, ya, aku ingat itu.
Yunani? Romawi? Aku paling suka dua kisah yang manusia buat itu.” Mari tertawa
kecil.
“Yeah, itulah kehebatan manusia.
Mereka selalu lebih pintar dari kita.” Feliks cemberut.
“Hey, itulah kelebihan dari Sang
Penguasa Alam kepada mereka. Tak usah kau sesali.”
“Oh iya, ini undanganmu.
Pertemuannya bulan depan. Ini mendadak, masih lebih cepat 800 tahun dari jadwal
biasa.”
Mari menerima segulung kertas
berstempel.
Liana melihat Mari membuka kertas
tersebut dan membaca.
“Aku harus pergi,
ngomong-ngomong. Senang bertemu kalian. Sampai jumpa nanti.”
Feliks pamit dan langsung melesat
ke udara. Celakanya, ia lupa bahwa ini masih di dalam gua. Ia pun nabrak.
“Aduuh.”
“Hahaha, sukurin!”
Mari ber-ehm. Membuat Liana jadi malu
sendiri.
***
Perumahan Elite Bougenville itu
lenggang. Sampah dan rongsokan isa-sisa badai masih berserakan di jalanan.
Mungkin sebentar lagi ada inisiatif dari warga untuk bergotong royong
membersihkannya.
Firly baru saja menonton berita
tentang Galang; sang ketua BMG yang jatuh dari langit. Ia memang sudah tahu
bahwa suaminya itu adalah Sang Atmosfir. Yang berarti Galang bukanlah
manusia. Ia adalah bentuk fana dari makhluk transendental, yang oleh
manusia kadang disebut Angel, Jin, Makhluk Langit, dan berbagai sebutan
lainnya.
Ia sudah tahu itu semua.
Itulah mengapa tatkala memori tentang semua ini dihapus oleh Feliks—kuda
putih Papah Sang Cahaya—hanya memorinyalah yang tidak terhapus.
Firly menengok ke
dalam kamar tempat putranya Robby tertidur pulas. Badai sudah reda, dan Robby
tampak sudah terkuras energi dan emosinya selama kejadian itu.
Tok. Tok. Tok.
Pintu rumahnya diketuk tiga kali.
Firly membuka pintu dan mendapati
Feliks sedang berdiri di sana.
“Salam, Firly.”
“Masuklah.” Wanita itu
mempersilahkan.
Feliks masuk. Kali ini, dengan bentuk
fananya. Seorang lelaki dengan setelan resmi—kemeja putih, dasi, dan Jas hitam
buatan Itali.
“Ah, Galang dan Firly, kalian
partner yang serasi.”
Firly hanya tersenyum tipis. “Akan
kubuatkan minum.”
“Tak usah, aku hanya
sebentar."
Langkah Firly menuju dapur
terhenti. “Jadi, urusan apakah itu?”
“Well, seperti yang kau tahu,
suamimu baru saja melawan Ernest, sang badai...”
“...dan dia mati, kan?” Firly
memotong.
“Um, dikatakan mati pun tidak
tepat. Galang telah melakukan tugasnya dengan baik. Maksudku, yah, ia telah
selesai.”
Feliks terlihat kesulitan
mengolah kata-kata.
“Kau tahu, dunia ini terbagi dua.
Fana, dan transendental—tidak fana. Meski ada beberapa makhluk transendental
yang fana pula. Seen dan unseen. Aku, biasa kau sebut penduduk langit. Dan kau,
manusia, tidak bisa melihat wujud asli kami.”
“Aku sudah tahu semua itu.” Firly
berkata.
“Ya, aku percaya Galang telah
menjelaskan semuanya padamu.” Feliks berkata.
“Galang tidak bercerita banyak.”
Firly menjawab.
“Tentu saja. Oleh karena itu aku
ke sini untuk menjelaskan.”
Tiba-tiba, dari ruangan tengah
muncul Robby. “Mamah, siapa itu?”
Firly menengok dan berpaling ke
arah Robby. “Ini teman ayah. Kamu kembali ke kamar, ya.”
Robby mengangguk dan berjalan
kembali ke dalam.
“Dia sudah besar, berapa umurnya?”
Feliks bertanya.
“Robby? Ia baru 5 tahun. Apa kau
mau bicara tentangnya.” Firly mencoba menebak arah pembicaraan mereka.
“Well, kita sudah kehilangan
Galang, Fir. Dan seseorang harus menggantikannya menjaga Atmosfir. Kau mungkin
sudah bisa menebak tujuan kedatanganku ke sini.”
Firly hanya diam.
“Kau tahu, berkat serangan
suamimu, Ernest terluka parah. Ia harus memulihkan dirinya di planet outer-ring,
selama kira-kira 10 tahun. Aku punya waktu yang cukup untuk melatih Robby
dan membuatnya siap menjaga atmosfir kembali. Melanjutkan tugas ayahnya.”
“Ya, namun bukankah ia adalah
manusia? Makhluk fana?”
Firly bertanya. Anaknya mungkin
mewarisi gen transendental dari sang ayah, namun ia juga mewarisi darahnya
sebagai seorang manusia.
“Untuk itulah, aku ingin
memberitahumu sesuatu.”
Feliks memegang tangan Firly, dan
seketika itu pula, memorinya terbang jauh entah ke mana.
***
Firly sedang terbang tinggi di atas
hamparan kapas berwarna putih—yang belakangan ia ketahui sebagai awan. Ia begitu
menikmati angin yang berhembus kencang melewati wajah cantiknya. Wanita
tersebut mengepak-ngepakkan sayapnya dengan anggun, merasakan dirinya betul-betul
menyatu dengan langit.
“Kembali!”
Sebuah suara mengagetkannya. Dari
belakang, tampak puluhan makhluk bersayap lain datang mengejar dengan kecepatan
tinggi.
“Apa yang sedang terjadi?”
Pikirnya. Ia tidak melakukan apapun. Mengapa ada patroli langit yang tiba-tiba
mengejar?
Lalu ia sadar, di tangannya ada
sebuah kunci emas. Entah darimana datangnya. Karena ia tahu sedari tadi tangannya
kosong.
Firly pun terbang dengan
kecepatan tinggi. Berusaha kabur dari kumpulan patroli langit tersebut. Namun ia
kalah jumlah, dan lagi, ia bukan apa-apa dibandingkan pejuang-pejuang tangguh
tersebut.
Tak butuh waktu lama, ia
tertangkap.
***
“Lady Hans. Apa kau mengakui
perbuatan tercelamu?”
Ia kini berada di sebuah ruangan dengan
meja besar di depannya. Seorang hakim duduk di sana dengan wajah garang. Mereka
semua yang berada di ruangan itu tampak seperti manusia. Namun sebenarnya
mereka bukan manusia.
“Aku tidak melakukan apapun!”
Sang hakim menggelengkan kepala.
“Kuharap kau cepat mengaku agar
urusan ini cepat selesai.”
Orang-orang berseru-seru
meneriakinya.
“Apa kau mengaku telah mencuri
kunci dari Pandora?”
“Tidak, aku tidak melakukan
apapun! Aku sedang terbang di langit, lalu tiba-tiba pasukan patroli itu
mengejar dan menangkapku!”
Firly, atau Lady Hans mengelak.
Sang Hakim meggelengkan
kepalanya.
Lalu kemudian ia memanggil saksi.
Seorang berjubah hitam. Ia berjalan menuju ruangan itu dan bersaksi bahwa Firly
telah mencuri kunci tersebut dari penjagaannya.
“Kau yakin, Mauna Loa?”
Suasana ruangan sidang senyap.
Menunggu sang saksi menjawab “Iya”.
“Aku yakin.”
Dan seketika ruangan itu
bergemuruh kembali.
“Diaaam!” Sang hakim mengetuk
palu.
“Lady Hans of the Cloud. Dengan ini,
aku menyatakan bahwa kau bersalah, dan aku menghukummu dengan sanksi 72A.”
Ruangan itu bergemuruh.
“Ingatanmu akan dihapus, dan kau
akan diubah menjadi manusia fana selama sisa hidupmu.”
Palu diketuk. Firly tak bisa
berbuat apa-apa.
***
“Itu kejadian 9 tahun yang lalu.
Kau diadili karena tuduhan mencuri kunci kotak Pandora yang dijaga oleh Mauna
Loa, gunung api terbesar di Hawaii.”
“Tu.. Tunggu. Jadi aku sebenarnya
makhluk transendental?” Firly bertanya gugup.
“Ya. Dan aku percaya bahwa dulu
kau tidak bersalah, Firly, atau, aku ingin memanggilmu dengan nama aslimu, Lady
Hans.”
Feliks menatap riskan pada wajah
wanita tersebut.
“Setelah kau diasingkan oleh
dewan langit, kau bertemu dengan Galang. Ia prihatin kepadamu, dan sebagai
salah seorang dari 5 penjaga langit, ia memakai kuasanya untuk menjagamu dan
hidup bersamamu.”
“Sebentar. Aku baru dengar semua
ini. Penjaga langit? Dewan langit?”
“Ah, tentu kau bingung. Biar
kujelaskan satu per satu.”
Feliks mengambil napas panjang.
“Dunia transendental, adalah
dunia yang disebut oleh manusia sebagai ‘dunia gaib’ atau semacamnya. Manusia tidak
bisa melihat kita, namun sebaliknya kita bisa melihat mereka.”
“Semua elemen yang ada di bumi
ini, adalah makhluk transendental. Dari mulai gunung, bebatuan, sungai, dan
yang lainnya.”
“Seperti kataku tadi, Mauna Loa
adalah sebuah gunung. Ya, gunung. Manusia hanya bisa melihatnya sebagai sebuah
gunung berapi yang ada di Hawaii. Namun mereka tidak tahu bahwa Mauna Loa itu
sebenarnya hidup. Ia, dan ribuan gunung lain, semuanya hidup.”
“Dewan langit adalah mereka yang
mengambil keputusan atas kejahatan yang terjadi di langit. Seperti yang
dituduhkan padamu. Mereka terdiri dari Gunung-gunung tertinggi di bumi, juga
lautan dan palung di dasar laut. Kau ingat hakim yang dahulu mengadilimu? Dia
adalah Samudra Pasifik.”
Firly tercengang.
“Sementara Galang, Mari, Ernest,
mereka adalah kesatuan para penjaga langit. Mereka menjaga unsur-unsur di bumi
agar tetap stabil dan berguna untuk manusia.”
“Kalau bisa diibaratkan, mereka
ini adalah ‘raja’ dari unsur-unsur tersebut.”
Firly mencerna semua kata-kata
itu. Ia seakan tahu akan semua yang dijelaskan oleh Feliks, namun ingatannya
seolah terkunci.
“Tiap penjaga langit punya tangan
kanan. Aku Feliks, tangan kanan Papah Sang cahaya. Mari, Penjaga air, punya
Liana. Ernest, Sang Badai, punya Hacep, kakaktua menyebalkannya itu.”
“Lalu siapa aku dulu?”
Feliks tersenyum.
“Kau adalah Lady Hans of the
cloud. Awan Stratus di Asia Tenggara.”
Firly mulai bisa menyambung
benang merah dari semua ini.
“Sekarang mungkin kau mengerti
mengapa kau, Si Awan, dan Galang, Sang Atmosfir bisa saling cocok satu sama
lain.” Feliks berkata.
“Ya, sebenarnya tidak boleh
menjelaskan semua ini kepadamu. Namun kami, para penjaga langit, punya
keistimewaan. Kami berada di atas peraturan-peraturan itu.”
“Aku punya satu pertanyaan.”
Feliks mengangkat alis. “Silahkan.”
“Kalau kau yakin aku tidak
bersalah, lalu mengapa kunci Pandora itu ada di tanganku?”
Feliks tersenyum.
“Pertanyaan yang bagus.”
--bersambung--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar