Waktu membaca: 6-8 menit
Pak Freddy baru
saja meninggal. Ia ditemukan tak bernyawa di tempat tidurnya. Perkiraan
terbesar sih, dia meninggal karena serangan jantung. Begitu mengetahui kabar
tersebut, para tetangga langsung berduyun-duyun melayat.
Pak Freddy semasa hidupnya
tidak pernah menikah. Ia hidup membujang di usianya yang relatif pendek. 48 tahun. Aku
adalah tetangga sebelah rumahnya. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di
samping rumah sederhana milikku. Selain aku, Fina juga adalah tetangganya. Ia
tinggal di sebuah rumah sederhana di samping rumah sederhana tempat pak Freddy
tinggal. Rumah sederhana kami berderet tiga di sini. Kami menyebunya “tris” atau trio sederhana.
Oke, cukup membicarakan tentang rumah sederhana.
Fina adalah teman
sebayaku. Kami biasa bermain di depan tris tiap sore. Dan kala itu pula pak
Freddy selalu keluar dan menyiram tanaman-tanamannya. Kami selalu menyapa
beliau tiap sore, dan terkadang, ia memberi kami beberapa kue bikinannya bila
kami sedang bermain.
Kami tidak tahu
dengan jelas pekerjaannya. Yang kami tahu, ia adalah orang yang ramah, baik,
dan suka berbagi kepada tetangga. Ia pun tak sungkan-sungkan untuk menjagaku
atau Fina tatkala orang tua kami pergi. Maklum, umur kami masih 8 tahun.
Pak Freddy memang
orang baik, namun sayang ia hidup sebatang kara. Aku sering merasa kasihan bila
melihatnya terkadang merenungi sesuatu. Rasanya ingin menghibur beliau, tapi aku malu. Dan bila beliau melihat kami yang sedang memandanginya saat itu, beliau
langsung tersenyum, seakan hilang semua kegundahan hatinya.
Hari itu, aku juga
ikut melayat bersama orang tuaku. Jenazah pak Freddy diurus oleh ustadz Jajang
dan segenap jajarannya. Aku hanya bisa menutup mata saat melihat jenazahnya di
bawa ke ruang tengah.
Sebenarnya saat itu
juga aku ingin lari saking takutnya. Namun ibu memegang tanganku sangat erat
sehingga aku tak bisa ke mana-mana. Yasinan pun dimulai.
Aku mendengarkan
saja saat itu. Kulihat Fina berada di sisi lain dari kumpulan tamu-tamu yang
melayat. Ia juga sama sepertiku. Takut. Namun kami terpaksa ikut melihat
prosesi ini.
Setelah selesai
semua urusan tersebut, saatnya mengantar jenazah ke tempat peristirahatan
terakhirnya, yaitu liang kubur. Hiii, aku bergidik. Namun sekali lagi, aku
memaksakan diri untuk berani. Kulihat sang mayat diturunkan perlahan ke lubang
yang cukup dalam itu, lalu di-azankan. Kemudian para penggali mulai menutup
lubang tersebut dengan pasir merah perlahan-lahan.
Aku begitu
ketakutan sehingga tanpa sadar, aku terjatuh ke tanah. Pingsan.
***
“Adel, kamu gak
apa-apa kan?” Tanya Fina esoknya di sekolah.
“Gapapa kok…” Aku tersenyum.
“Tapi kamu pingsan
loh… kok hari ini udah sekolah aja sih? Takutnya kamu masih sakit…” Fina
menaruh tangannya di keningku. Mengecek apakah aku panas atau tidak.
“Enggak kok, aku
fine-fine aja hari ini,” Aku tersenyum lagi.
“Ohhh, yaudah kalo
gitu. Masuk kelas yuk!” Ajaknya.
“Yuk!” Iya-ku.
Kami pun berjalan
setengah berlari menuju kelas kami. Kelas 3 A. sekolah tampak mulai ramai
karena sebentar lagi masuk. Anak-anak pun sudah pada berdatangan karena kami
adalah siswa yang disiplin.
Aku dan Fina masuk
kelas berdua. Kami memang sahabat dekat. Di kelas, kami sebangku, di rumah,
kami main bersama. Pokoknya, sepertinya di mana ada aku, pasti selalu ada Fina.
Tak lama, bel masuk
berbunyi. Bu guru Banun pun masuk. Namun ia tidak sendiri, ia bersama seorrang
anak perempuan yang cantik.
“Anak-anak, hari
ini kita kedatangan murid baru. Nah, perkenalkan. Namanya Kintan! Kintan,
silahkan perkenalkan diri kepada teman-teman barumu!” ujar sang guru.
“Hai, namaku Kintan
Pratiwi, aku pindahan dari SDN 45 Kuningan. Kalian boleh memanggilku Kintan,
atau Tiwi. Salam kenal semuanyaa!” Ia berbicara dengan lancar. Kami dapat melihat senyumnya yang manis
tatkala ia berbicara di depan. Waw! Ia memang sangat cantik. Mirip Cinderella
mungkin.
“Hai jugaaa! Salam
kenal yaa!” Kami
kompak menjawab.
“Baiklah, Kintan,
kamu duduk di… umm, maaf Fina, mungkin kamu harus mengalah dengan Kintan. Karena ibu
lihat kamu dan Adel selalu duduk berdua terus, maka agar kalian bisa lebih
berbaur, Kintan akan ibu tempatkan di samping Adel ya! Kamu pindah ke samping
Nara sana! Dia kan masih sendiri,” Jelas bu Banun.
Fina sedikit protes
namun kami tidak bisa melawan. Kami kan, anak yang patuh.
Ia pun pindah.
Kintan tanpa membuang waktu langsung duduk di bangku sebelahku. Kami berkenalan
ulang sebentar, kemudian kembali memperhatikan pelajaran yang baru dimulai.
Bu Banun yang
mengajar. Ia mengajarkan pelajaran IPS.
Saat istirahat, aku
dan Fina mengajak Kintan ke kantin. Hahaha, lucu, namanya hampir sama dengan
tempat jajanan itu. Hanya terbalik huruf a dan i. Kami menertawai ketidak-sengajaan ini, dan
kulihat, ia agak cemberut karenanya.
“Eh, maaf ya Kin,
kami tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu…” Pintaku.
“Iya Kin, kami
bercanda doang kok…” Tambah Fina.
Namun ternyata,
wajahnya tak kunjung cerah, ia malah bertambah masam saja kepada kami. Kami pun celingukan. Tak tahu apa yang mesti kami
lakuakan untuk menenangkan teman baru kami ini. Wajahnya merah seperti mendidih.
Matanya pun menatap kami dengan tajam. Aku sedikit bergidik melihatnya.
Tetapi
tak lama, wajahnya pun kembali normal.
“Ah,
tidak apa-apa kok, hahaha, bercanda doang kan?” Ia pun
sudah berbicara lagi pada kami.
“I…iya
Kin, hehehe, suer deh, nanti kami gak akan gitu lagi kok,” aku tergugup menjawab.
“Ya
sudah, lupakan saja,” katanya lagi.
Kami
pun melanjutkan agenda kami yang sempat tertunda.
“Bi,
ini ada anak baru, namanya Kintan,” aku memperkenalkan Kintan pada bibi Romlah,
penjaga kanin kami tercinta.
Bi
Romlah pun menyapa,“ Halo Kintaaan, wah, namanya mirip sama kan…”
Kata-kata
itu langsung kami cegah dengan menaruh jari telunjuk kami di bibir. Mennyuruh
agar bi Romlah tidak melanjutkan kata-katanya.
“Oh…
iya, selamat datang kalau begitu…” Lanjutnya
seraya tersenyum. Ia kiranya tahu kalau anak ini tidak suka diejek seperti itu.
Dan
Kintan pun membalas serupa. Tak terlihat ekspresi masam seperti tadi lagi. Ia
kini terlihat ceria seperti anak-anak lain.
“Oke,
Kin, kamu mau jajan apa?” Tanya Fina.
“Aku
beli cilok aja deh, gopek!” Jawab
Kintan.
“Aku
cimol!” Ujarku.
“Kalau
aku, emmm, cireng aja deh,” pungkas Fina.
“Oke!
Tunggu sebentar ya!” Pinta bi Romlah.
Kami
pun menungu di kursi.
“Eh
Kin, kamu pernah liat orang meninggal gak?” Tanyaku
untuk mengisi waktu.
Namun
bukan jawaban yang kami harapkan yang muncul, tetapi malah wajah anak itu
kembali masam seperti tadi. Matanya tajam, dan mukanya merah. Menyeramkan.
“Eh,
maaf Kin. Aku gak bermaksud kok,” aku meminta maaf lagi.
Dan
seperti biasa, wajahnya belum kunjung kembali normal.
“Hei
Kin…” Aku berkata.
Tak
dijawab. Dia aneh sekali.
Lalu
tiba-tiba, Kintan berdiri dan berjalan meninggalkan kami. Ia masuk ke dalam
toilet. Kami yang masih tak enakan hanya bisa menunggu.
“Mana
Kintan? Ini pesanannya sudah ada?” Tanya bi
Romlah pada kami sambil mengantarkan pesanan-pesanan tersebut.
“Ke
toilet bentar bi. Nih, dia aku bayarin dulu,” ucapku.
“Ohh,
yasudah kalau begitu,” tukasnya.
Ia
pun kembali ke tempatnya.
“Eh
Fin, kok si Kintan aneh banget ya?” Aku bertanya
pada Fina yang dari tadi hanya bengong saja.
“Gatau
tuh Del, aku juga bingung,” jawabnya.
“Ih,
jangan-jangan dia sebenernya
setan lagi? Abis tadi mukanya
itu lohh… serem!” Aku menduga-duga.
“Mungkin
aja Del. Kamu bener juga,” ucap Fina.
Tak
lama kemudian Kintan keluar dari toilet. Ia tampak segar dan seperti biasa
lagi.
“Hei
kalian? Wah! Pesanannya udah dateng ya? Siapa yang bayar tadi?” Ujarnya dengan semangat. Berbeda jauh dengan yang tadi.
“Tadi
aku bayarin dulu Kin,” ucapku.
“Ohh,
iya ini aku ganti. Hehehe, makasih ya!” Ia memberiku
sekoin lima ratus rupiah.
“Oke
deh! Sama-sama,” tukasku.
Kami
pun menghabiskan istirahat di sana.
***
“Kintan
rumahnya di bekas rumah sederhananya pak, ehm, almarhum pak Freddy? Wah! Kok
bisa kebetulan ya? Nanti kita beneran jadi tris nih! Hahaha,” Fina berkata
dengan semangat saat kami pulang sekolah.
“Wah,
asyik dong! Nanti kita bisa bermain bersama tiap sore,” unggah Kintan ceria.
“Iya
nih, ah, udah gak sabar deh mau main aja,” aku menambahkan.
“Ayo
kalo gitu kita cepet pulang!” ajak Fina.
Kami
pun mulai berlari kecil agar lebih cepat sampai di rumah.
Well,
kami akhirnya bermain bersama tiap sore semenjak hari itu. Aku sangat senang.
Kintan ternyata sangat asyik orangnya. Wah, wah, walaupun pak Freddy sudah
tidak ada lagi, suasana tris bila ada Kintan tetap ceria seperti dulu.
Namun
bila malam hari tiba…
Suasana
berubah jadi mencekam. Aku tidak tahu, namun sebelum pak Freddy meninggal dan
Kintan pindah ke sini, aku belum pernah merasakan suasana malam se-menakutkan ini. Segalanya tampak berbeda. Mulai dari
pepohonan, angin, dan suara-suara malam lainnya. Aku merasakan sesuatu yang
berbeda datang dari rumah sebelah. Rumahnya Kintan. Entah ada apa di sana tapi
aku merasa bahwa sumber keganjilan ini berasal dari sana.
Aku
pun menceritakan hal ini kepada Fina.
“Iya-iya,
aku juga ngerasa begitu. Persis kayak yang kamu rasain Del!” ungkapnya.
“Kenapa
hal ini semakin aneh ya? Kayaknya kita harus selidikin deh Fin,” imbuhku.
“Selidikin
apa?” Tanyanya.
Aku
sedikit berbisik,”….Kintaaan…”
“Ah,
iya-iya, aku setuju tuh. Aku takut kalo misalkan dia ternyata… zombie atau
vampir gitu. Keliatan jelas Del! Dia tuh beda!” Ucap
Fina.
“Tapi
emang kamu berani nyelidikinnya?” TTanyaku.
“Kalo
sama kamu sih, berani,” ujarnya.
“Oke
deh, malem ini, kita amati rumahnya,” pungkasku menutup seluruh percakapan.
***
Fina
dan aku telah bersiap-siap semenjak sore. Kami menyiapkan alat-alat yang
dibutuhkan untuk membantu kami. Seperti senter, jaket, dan yaa, semacam itulah…
Dan
ketika malam agak larut, kami pun menyelinap keluar rumah. Tempat pertemuannya adalah
semak-semak yang ada di sebrang rumah kami. Dari situlah rencananya kami akan
mengintai semalaman.
Angin
malam mulai berdesiran. Ranting-ranting pun pohon bergoyang-goyang seperti
sedang menari. Suasana malam yang seperti malam-malam kemarin akhirnya kembali
terjadi. Kami menahan dingin serta takut dengan segenap perjuangan. Wayahna,
ayeuna, paksakeun! Kalau kata pepatah sunda.
Tepat
dugaan kami, tak lama kemudian kami melihat sesosok bayangan di jendela kamar
Kintan. Ia terlihat seperti sedang menyembah-nyembah atau apalah itu. Hii…
bikin merinding saja. Kami sedang serius memperhatikan tatkala ia membuat tirai
jendela. Tampak bahwa ia mengenakan gaun berwarna hitam dan hiasan-hiasan
seperti kalung, dan sejenisnya. Rambutnya dikonde aneh. Namun tatkala kami
melihat seekor kelelawar di dekatnya, kami langsung dapat menyimpulkan.
Kintan
adalah vampire.
Seiring
bertambah tuanya malam, suasana yang dibuatnya semakin mencekam. Saat Kintan
berbalik dan sudah tidak terlihat lagi, Fina tidak tahan, akhirnya, kami berdua
pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
***
Esoknya
di sekolah, kami mulai melihat Kintan dengan picingan mata. Sudah menganggapnya
beda. Dan kami mulai menjaga jarak dengannya.
“Eh
Fin, gimana malem ini? Lanjutin gak?” Tanyaku.
“Gimana
baiknya? Kan kita udah tau yang sebenarnya,” ia menjawab.
“Kita
harus tanya langsung ke dia Fin…” ucapku.
Fina
menelan ludah.
***
Malamnya,
kami bersiap. Dengan peralatan yang lebih lengkap tentunya. Fina sudah tidak
takut lagi sama sekali. Pun dengan aku. Kami sudah tidak tahan dengan kebenaran
yang akan kami dapat nantinya.
“Oke
Fin, kita tunggu dia sampai muncul lagi,” kataku.
“He-eh!”
5
menit.
10
menit.
15
menit.
Akhirnya
ia muncul. Kintan melakukan apa yang ia lakukan seperti biasa. Dan saat ia
membuka tirai jendela, kami menyorotkan senter ke arahnya.
Ia
pun terbelalak. Kaget dengan kami yang malam-malam menyorotinya dengan senter
langsung ke jendela kamar.
Kami
memberi kode padnya agar turun ke bawah. Sekaligus untuk keluar menemui kami
tentunya. Ia pun mengerti.
Detik-detik
saat menungunya keluar terasa begitu lambat. Kami dapat merasakan suasana malam
itu lagi yang semakin menjadi-jadi. Aku memegang tangan Fina kuat-kuat.
“Ada
apa?” Tanyanya pada kami setelah kami sudah
berhadap-hadapan. Kintan masih mengenakan gaun hitamnya tersebut dan berdandan
sebagaimana biasa.
“Kami
ingin tahu…” ucapku.
“….kau
vampir kan?”
Kintan
tersentak dengan pertanyaan tersebut.
“Memangnya
kenapa? Kok kalian tiba-tiba bisa menanyaiku hal tersebut?” tanyanya balik.
“Kami
selalu melihamu melakukan sesuatu yang aneh tiap malam. Dan kami juga melihat
semua yang kau lakukan, Kin. Kami yakin kau adalah vampir,” jelasku.
“Sebenarnya….”
Ia memenggal kalimat itu.
“…..Kalian
benar… aku adalah vampir,” ujarnya sambil menyeringai pada kami.
Aku
dan Fina tidak lari. Kami tidak takut. Dan justru malah senang dengan
jawabannya.
“Baguslah
kalau begitu,” ucapku sambil tersenyum,” kalau begitu, tunjukkan taringmu,”
pintaku dan Fina berbarengan.
Tak
lupa, kami pun menunjukkan taring kami duluan. Ya, kami juga sebenarnya adalah
vampir. Dan kami senang karena akan ada teman baru.
“Tunggu-tunggu…
taring? Aku hanya bercanda tadi, tentu saja aku tidak punya taring. Aku hanya
bercanda, aku bukan vampir!” ujarnya ketakutan.
Aku
dan Fina saling berpandangan.
Tadinya
kami mengira bahwa ia sama dengan kami, namun ternyata…
Ah, kami sangat
kecewa pada Kintan.
-done-
20.41:
Unguessed
Kuningan, 29
Agustus 2012
PS:
Ide cerita diambil dari salah satu buku kumcer horor terkenal--ghost bumps--dan ditulis kembali secara berbeda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar