Rabu, 23 Desember 2015

#Cerpen Unguessable

Waktu membaca: 6-8 menit
Pak Freddy baru saja meninggal. Ia ditemukan tak bernyawa di tempat tidurnya. Perkiraan terbesar sih, dia meninggal karena serangan jantung. Begitu mengetahui kabar tersebut, para tetangga langsung berduyun-duyun melayat.
Pak Freddy semasa hidupnya tidak pernah menikah. Ia hidup membujang di usianya yang relatif pendek. 48 tahun. Aku adalah tetangga sebelah rumahnya. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di samping rumah sederhana milikku. Selain aku, Fina juga adalah tetangganya. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di samping rumah sederhana tempat pak Freddy tinggal. Rumah sederhana kami berderet tiga di sini. Kami menyebunya tris atau trio sederhana. Oke, cukup membicarakan tentang rumah sederhana.

Fina adalah teman sebayaku. Kami biasa bermain di depan tris tiap sore. Dan kala itu pula pak Freddy selalu keluar dan menyiram tanaman-tanamannya. Kami selalu menyapa beliau tiap sore, dan terkadang, ia memberi kami beberapa kue bikinannya bila kami sedang bermain.
Kami tidak tahu dengan jelas pekerjaannya. Yang kami tahu, ia adalah orang yang ramah, baik, dan suka berbagi kepada tetangga. Ia pun tak sungkan-sungkan untuk menjagaku atau Fina tatkala orang tua kami pergi. Maklum, umur kami masih 8 tahun.
Pak Freddy memang orang baik, namun sayang ia hidup sebatang kara. Aku sering merasa kasihan bila melihatnya terkadang merenungi sesuatu. Rasanya ingin menghibur beliau, tapi aku malu. Dan bila beliau melihat kami yang sedang memandanginya saat itu, beliau langsung tersenyum, seakan hilang semua kegundahan hatinya.
Hari itu, aku juga ikut melayat bersama orang tuaku. Jenazah pak Freddy diurus oleh ustadz Jajang dan segenap jajarannya. Aku hanya bisa menutup mata saat melihat jenazahnya di bawa ke ruang tengah.
Sebenarnya saat itu juga aku ingin lari saking takutnya. Namun ibu memegang tanganku sangat erat sehingga aku tak bisa ke mana-mana. Yasinan pun dimulai.
Aku mendengarkan saja saat itu. Kulihat Fina berada di sisi lain dari kumpulan tamu-tamu yang melayat. Ia juga sama sepertiku. Takut. Namun kami terpaksa ikut melihat prosesi ini.
Setelah selesai semua urusan tersebut, saatnya mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya, yaitu liang kubur. Hiii, aku bergidik. Namun sekali lagi, aku memaksakan diri untuk berani. Kulihat sang mayat diturunkan perlahan ke lubang yang cukup dalam itu, lalu di-azankan. Kemudian para penggali mulai menutup lubang tersebut dengan pasir merah perlahan-lahan.
Aku begitu ketakutan sehingga tanpa sadar, aku terjatuh ke tanah. Pingsan.
***

“Adel, kamu gak apa-apa kan?” Tanya Fina esoknya di sekolah.
“Gapapa kok…” Aku tersenyum.
“Tapi kamu pingsan loh… kok hari ini udah sekolah aja sih? Takutnya kamu masih sakit…” Fina menaruh tangannya di keningku. Mengecek apakah aku panas atau tidak.
“Enggak kok, aku fine-fine aja hari ini,”  Aku tersenyum lagi.
“Ohhh, yaudah kalo gitu. Masuk kelas yuk!” Ajaknya.
“Yuk!” Iya-ku.
Kami pun berjalan setengah berlari menuju kelas kami. Kelas 3 A. sekolah tampak mulai ramai karena sebentar lagi masuk. Anak-anak pun sudah pada berdatangan karena kami adalah siswa yang disiplin.
Aku dan Fina masuk kelas berdua. Kami memang sahabat dekat. Di kelas, kami sebangku, di rumah, kami main bersama. Pokoknya, sepertinya di mana ada aku, pasti selalu ada Fina.
Tak lama, bel masuk berbunyi. Bu guru Banun pun masuk. Namun ia tidak sendiri, ia bersama seorrang anak perempuan yang cantik.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Nah, perkenalkan. Namanya Kintan! Kintan, silahkan perkenalkan diri kepada teman-teman barumu!” ujar sang guru.
“Hai, namaku Kintan Pratiwi, aku pindahan dari SDN 45 Kuningan. Kalian boleh memanggilku Kintan, atau Tiwi. Salam kenal semuanyaa!” Ia berbicara dengan lancar. Kami dapat melihat senyumnya yang manis tatkala ia berbicara di depan. Waw! Ia memang sangat cantik. Mirip Cinderella mungkin.
“Hai jugaaa! Salam kenal yaa!” Kami kompak menjawab.
“Baiklah, Kintan, kamu duduk di… umm, maaf Fina, mungkin kamu harus mengalah dengan Kintan. Karena ibu lihat kamu dan Adel selalu duduk berdua terus, maka agar kalian bisa lebih berbaur, Kintan akan ibu tempatkan di samping Adel ya! Kamu pindah ke samping Nara sana! Dia kan masih sendiri,” Jelas bu Banun.
Fina sedikit protes namun kami tidak bisa melawan. Kami kan, anak yang patuh.
Ia pun pindah. Kintan tanpa membuang waktu langsung duduk di bangku sebelahku. Kami berkenalan ulang sebentar, kemudian kembali memperhatikan pelajaran yang baru dimulai.
Bu Banun yang mengajar. Ia mengajarkan pelajaran IPS.
Saat istirahat, aku dan Fina mengajak Kintan ke kantin. Hahaha, lucu, namanya hampir sama dengan tempat jajanan itu. Hanya terbalik huruf a dan i. Kami menertawai ketidak-sengajaan ini, dan kulihat, ia agak cemberut karenanya.
“Eh, maaf ya Kin, kami tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu…” Pintaku.
“Iya Kin, kami bercanda doang kok…” Tambah Fina.
Namun ternyata, wajahnya tak kunjung cerah, ia malah bertambah masam saja kepada kami. Kami pun celingukan. Tak tahu apa yang mesti kami lakuakan untuk menenangkan teman baru kami ini. Wajahnya merah seperti mendidih. Matanya pun menatap kami dengan tajam. Aku sedikit bergidik melihatnya.
Tetapi tak lama, wajahnya pun kembali normal. 
“Ah, tidak apa-apa kok, hahaha, bercanda doang kan?” Ia pun sudah berbicara lagi pada kami.
“I…iya Kin, hehehe, suer deh, nanti kami gak akan gitu lagi kok,” aku tergugup menjawab.
“Ya sudah, lupakan saja,” katanya lagi.
Kami pun melanjutkan agenda kami yang sempat tertunda.
“Bi, ini ada anak baru, namanya Kintan,” aku memperkenalkan Kintan pada bibi Romlah, penjaga kanin kami tercinta.
Bi Romlah pun menyapa,“ Halo Kintaaan, wah, namanya mirip sama kan…”
Kata-kata itu langsung kami cegah dengan menaruh jari telunjuk kami di bibir. Mennyuruh agar bi Romlah tidak melanjutkan kata-katanya.
“Oh… iya, selamat datang kalau begitu…” Lanjutnya seraya tersenyum. Ia kiranya tahu kalau anak ini tidak suka diejek seperti itu.
Dan Kintan pun membalas serupa. Tak terlihat ekspresi masam seperti tadi lagi. Ia kini terlihat ceria seperti anak-anak lain.
“Oke, Kin, kamu mau jajan apa?” Tanya Fina.
“Aku beli cilok aja deh, gopek!” Jawab Kintan.
“Aku cimol!” Ujarku.
“Kalau aku, emmm, cireng aja deh,” pungkas Fina.
“Oke! Tunggu sebentar ya!” Pinta bi Romlah.
Kami pun menungu di kursi.
“Eh Kin, kamu pernah liat orang meninggal gak?” Tanyaku untuk mengisi waktu.
Namun bukan jawaban yang kami harapkan yang muncul, tetapi malah wajah anak itu kembali masam seperti tadi. Matanya tajam, dan mukanya merah. Menyeramkan.
“Eh, maaf Kin. Aku gak bermaksud kok,” aku meminta maaf lagi.
Dan seperti biasa, wajahnya belum kunjung kembali normal.
“Hei Kin…” Aku berkata.
Tak dijawab. Dia aneh sekali.
Lalu tiba-tiba, Kintan berdiri dan berjalan meninggalkan kami. Ia masuk ke dalam toilet. Kami yang masih tak enakan hanya bisa menunggu.
“Mana Kintan? Ini pesanannya sudah ada?” Tanya bi Romlah pada kami sambil mengantarkan pesanan-pesanan tersebut.
“Ke toilet bentar bi. Nih, dia aku bayarin dulu,” ucapku.
“Ohh, yasudah kalau begitu,” tukasnya.
Ia pun kembali ke tempatnya.
“Eh Fin, kok si Kintan aneh banget ya?” Aku bertanya pada Fina yang dari tadi hanya bengong saja.
“Gatau tuh Del, aku juga bingung,” jawabnya.
“Ih, jangan-jangan dia sebenernya setan lagi? Abis tadi mukanya itu lohh… serem!” Aku menduga-duga.
“Mungkin aja Del. Kamu bener juga,” ucap Fina.
Tak lama kemudian Kintan keluar dari toilet. Ia tampak segar dan seperti biasa lagi.
“Hei kalian? Wah! Pesanannya udah dateng ya? Siapa yang bayar tadi?” Ujarnya dengan semangat. Berbeda jauh dengan yang tadi.
“Tadi aku bayarin dulu Kin,” ucapku.
“Ohh, iya ini aku ganti. Hehehe, makasih ya!” Ia memberiku sekoin lima ratus rupiah.
“Oke deh! Sama-sama,” tukasku.
Kami pun menghabiskan istirahat di sana.
***
“Kintan rumahnya di bekas rumah sederhananya pak, ehm, almarhum pak Freddy? Wah! Kok bisa kebetulan ya? Nanti kita beneran jadi tris nih! Hahaha,” Fina berkata dengan semangat saat kami pulang sekolah.
“Wah, asyik dong! Nanti kita bisa bermain bersama tiap sore,” unggah Kintan ceria.
“Iya nih, ah, udah gak sabar deh mau main aja,” aku menambahkan.
“Ayo kalo gitu kita cepet pulang!” ajak Fina.
Kami pun mulai berlari kecil agar lebih cepat sampai di rumah.
Well, kami akhirnya bermain bersama tiap sore semenjak hari itu. Aku sangat senang. Kintan ternyata sangat asyik orangnya. Wah, wah, walaupun pak Freddy sudah tidak ada lagi, suasana tris bila ada Kintan tetap ceria seperti dulu.
Namun bila malam hari tiba…
Suasana berubah jadi mencekam. Aku tidak tahu, namun sebelum pak Freddy meninggal dan Kintan pindah ke sini, aku belum pernah merasakan suasana malam se-menakutkan ini. Segalanya tampak berbeda. Mulai dari pepohonan, angin, dan suara-suara malam lainnya. Aku merasakan sesuatu yang berbeda datang dari rumah sebelah. Rumahnya Kintan. Entah ada apa di sana tapi aku merasa bahwa sumber keganjilan ini berasal dari sana.
Aku pun menceritakan hal ini kepada Fina.
“Iya-iya, aku juga ngerasa begitu. Persis kayak yang kamu rasain Del!” ungkapnya.
“Kenapa hal ini semakin aneh ya? Kayaknya kita harus selidikin deh Fin,” imbuhku.
“Selidikin apa?” Tanyanya.
Aku sedikit berbisik,”….Kintaaan…”
“Ah, iya-iya, aku setuju tuh. Aku takut kalo misalkan dia ternyata… zombie atau vampir gitu. Keliatan jelas Del! Dia tuh beda!” Ucap Fina.
“Tapi emang kamu berani nyelidikinnya?” TTanyaku.          
“Kalo sama kamu sih, berani,” ujarnya.
“Oke deh, malem ini, kita amati rumahnya,” pungkasku menutup seluruh percakapan.
***
Fina dan aku telah bersiap-siap semenjak sore. Kami menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk membantu kami. Seperti senter, jaket, dan yaa, semacam itulah…
Dan ketika malam agak larut, kami pun menyelinap keluar rumah. Tempat pertemuannya adalah semak-semak yang ada di sebrang rumah kami. Dari situlah rencananya kami akan mengintai semalaman.
Angin malam mulai berdesiran. Ranting-ranting pun pohon bergoyang-goyang seperti sedang menari. Suasana malam yang seperti malam-malam kemarin akhirnya kembali terjadi. Kami menahan dingin serta takut dengan segenap perjuangan. Wayahna, ayeuna, paksakeun! Kalau kata pepatah sunda.
Tepat dugaan kami, tak lama kemudian kami melihat sesosok bayangan di jendela kamar Kintan. Ia terlihat seperti sedang menyembah-nyembah atau apalah itu. Hii… bikin merinding saja. Kami sedang serius memperhatikan tatkala ia membuat tirai jendela. Tampak bahwa ia mengenakan gaun berwarna hitam dan hiasan-hiasan seperti kalung, dan sejenisnya. Rambutnya dikonde aneh. Namun tatkala kami melihat seekor kelelawar di dekatnya, kami langsung dapat menyimpulkan.
Kintan adalah vampire.
Seiring bertambah tuanya malam, suasana yang dibuatnya semakin mencekam. Saat Kintan berbalik dan sudah tidak terlihat lagi, Fina tidak tahan, akhirnya, kami berdua pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
***
Esoknya di sekolah, kami mulai melihat Kintan dengan picingan mata. Sudah menganggapnya beda. Dan kami mulai menjaga jarak dengannya.
“Eh Fin, gimana malem ini? Lanjutin gak?” Tanyaku.
“Gimana baiknya? Kan kita udah tau yang sebenarnya,” ia menjawab.
“Kita harus tanya langsung ke dia Fin…” ucapku.
Fina menelan ludah.
***
Malamnya, kami bersiap. Dengan peralatan yang lebih lengkap tentunya. Fina sudah tidak takut lagi sama sekali. Pun dengan aku. Kami sudah tidak tahan dengan kebenaran yang akan kami dapat nantinya.
“Oke Fin, kita tunggu dia sampai muncul lagi,” kataku.
“He-eh!”
5 menit.
10 menit.
15 menit.
Akhirnya ia muncul. Kintan melakukan apa yang ia lakukan seperti biasa. Dan saat ia membuka tirai jendela, kami menyorotkan senter ke arahnya.
Ia pun terbelalak. Kaget dengan kami yang malam-malam menyorotinya dengan senter langsung ke jendela kamar.
Kami memberi kode padnya agar turun ke bawah. Sekaligus untuk keluar menemui kami tentunya. Ia pun mengerti.
Detik-detik saat menungunya keluar terasa begitu lambat. Kami dapat merasakan suasana malam itu lagi yang semakin menjadi-jadi. Aku memegang tangan Fina kuat-kuat.
“Ada apa?” Tanyanya pada kami setelah kami sudah berhadap-hadapan. Kintan masih mengenakan gaun hitamnya tersebut dan berdandan sebagaimana biasa.
“Kami ingin tahu…” ucapku.
“….kau vampir kan?”
Kintan tersentak dengan pertanyaan tersebut.
“Memangnya kenapa? Kok kalian tiba-tiba bisa menanyaiku hal tersebut?” tanyanya balik.
“Kami selalu melihamu melakukan sesuatu yang aneh tiap malam. Dan kami juga melihat semua yang kau lakukan, Kin. Kami yakin kau adalah vampir,” jelasku.
“Sebenarnya….” Ia memenggal kalimat itu.
“…..Kalian benar… aku adalah vampir,” ujarnya sambil menyeringai pada kami.
Aku dan Fina tidak lari. Kami tidak takut. Dan justru malah senang dengan jawabannya.
“Baguslah kalau begitu,” ucapku sambil tersenyum,” kalau begitu, tunjukkan taringmu,” pintaku dan Fina berbarengan.
Tak lupa, kami pun menunjukkan taring kami duluan. Ya, kami juga sebenarnya adalah vampir. Dan kami senang karena akan ada teman baru.
“Tunggu-tunggu… taring? Aku hanya bercanda tadi, tentu saja aku tidak punya taring. Aku hanya bercanda, aku bukan vampir!” ujarnya ketakutan.
Aku dan Fina saling berpandangan.
Tadinya kami mengira bahwa ia sama dengan kami, namun ternyata…
Ah, kami sangat kecewa pada Kintan.
-done-

20.41: Unguessed
Kuningan, 29 Agustus 2012

PS: Ide cerita diambil dari salah satu buku kumcer horor terkenal--ghost bumps--dan ditulis kembali secara berbeda



Tidak ada komentar:

Posting Komentar