Minggu, 20 Desember 2015

#Cerpen Ratih

Waktu membaca: 7-9 menit
Wajahnya oriental, dengan mata yang bulat dan hidung yang cukup mancung. Alisnya juga lurus dan tebal, lumayan sinkron lah dengan besarnya kelopak mata. Pipinya lesung sedikit. Bibirnya pun tidak terlalu kecil dan tidak terlalu dower juga. Secara singkat, wajahnya lumayan.
Aku mengenalnya sudah lama. Dari taman kanak-kanak hingga sekarang semester 5 kuliah. Sudah sekian tahun lamanya. Aku juga mengenalnya dengan sangat baik. Bahkan lebih baik dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Dia adalah teman mainku sewaktu masih kecil. Teman SD, SMP, dan SMA. Kami selalu sekelas hingga  kelas 1 SMA, sampai akhirnya penjurusan di sekolah memisahkan kelas kami. Aku mengambil jurusan IPA, dia mengambil jurusan bahasa.

Alasanku mengambil IPA sudah jelas. Karena aku bercita-cita untuk bekerja di SAMSUNG Electronics, Korea. Eh, SAMSUNG tuh ‘PT’ atau apa sih? Kalau itu ‘PT’, maka bolehlah aku menyebutnya PT SAMSUNG Electronics. Ya, sebuah cita-cita yang cukup besar menurutku. Sementara dia? Dia mengambil jurusan bahasa karena cita-citanya juga jelas. Ia ingin berkeliling dunia dengan menjadi tour guide sekaligus backpaker.
Hmm, cita-cita yang mulia.
Saat ini kami pun telah berpisah cukup lama. Sekitar 2,5 tahun semenjak dahulu terakhir perpisahan di SMA. Aku mengambil kuliah di ITB, ia mengambil pekerjaan di Kapal Pesiar. Entah perusahaan apa. Semenjak 2,5 tahun yang lalu, aku tak pernah mendengar kabar darinya. Walaupun kami bisa saja saling terhubung lewat dunia maya, namun jejaring sosial yang kami gunakan berbeda. Aku memakai facebook, dan dia memakai twitter. Dari gadget pun berbeda. Dia memakai BB, dan aku memakai Samsung Galaxy. Ia dengan BBM nya, aku dengan whats app-ku. Kami pun tak berkomunikasi walaupun aku tahu nomer handphonenya, tapi kan yang jelas ia pasti berganti-ganti nomer karena harus melewati daerah teritorial yang berbeda. Beda negara beda operator. Ya, meskipun diantara kami sejak dulu tak pernah ada apa-apa. Hanya teman. Teman masa kecil, yang selalu terkenang hingga kini.
Dahulu saat SD, kami sangat akrab. Bermain selalu bersama, saat di sekolah maupun di rumah. Walaupun terkadang minat kami berbeda, aku suka bermain masak-masakan, dia suka bermain kelereng. Aku suka menonton barbie, dia suka menonton dragon ball. Namun pasti ada saja hal-hal yang kami lakukan berdua. Seperti main petasan saat ramadhan, aku jagonya. Bermain sepeda, dulu aku yang mengajarinya sampai bisa. Bermain kartu Yugi-Oh pun aku yang duluan bisa. Kami biasa bermain kartu itu saat istirahat sekolah, atau ketika tak ada guru yang datang mengajar, atau ketika kami kabur mengaji. Saat SD, kami memang benar-benar akrab.
Memasuki SMP, kami mulai agak menjauh. Saat itu, ia mulai doyan mengkonsumsi lagu-lagu Peterpan, dan aku lebih suka mendengar lagu-lagu Agnes Monica. Ia sudah bergaul dengan teman-teman laki-lakinya yang—ampun deh—sulit dijelaskan. Aku juga lebih merapat ke teman-teman perempuanku. Wajarlah, namanya awal-awal masa remaja, kami para perempuan mempunyai bahan obrolan yang kebanyakan tak ingin para laki-laki mendengarnya. Aku mulai belajar bagaimana perempuan me-manage segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Mulai dari tamu yang datang tiap bulan, hingga berbelanja pakaian-pakaian yang diperlukan untuk “me-nyaman-kan” bentuk tubuh yang mulai berubah. Para laki-laki pun mempunyai agendanya tersendiri. Mulai dari motor-motoran, mengoleksi mp3 dari band-band asing yang entah apa namanya—avengetsevevolt?—sampai yang namanya urusan main alat musik, itulah kerjaan mereka. Namun saat itu, ia dan aku masih satu kelas. Ia masih suka menanyakan PR bila kesulitan mengerjakan. Mulai dari MTK, Fisika, dan yang lainnya. Except pelajaran biologi, aku malas meladeninya yang kadang bertanya aneh-aneh. Masalah reproduksi sih. Simak saja saat suatu kali ia menyerangku dengan pertanyaannya.
“Eh, ini nomer 4 gimana jawabnya?” tanyanya.
“Yang mana?”
“Itu, soalnya, sebutkan ciri-ciri perubahan primer pada pubertas wanita!” ia menyebutkan soal.
“Oh, ya gampang lah, menstruasi jawabannya.” Jelasku singkat.
“Menstrusi?”
“Menstruasi!” Aku membetulkan.
“Apaan tuh?” Yang ini, entah dia tidak tahu beneran atau hanya pura-pura tidak tahu.
“Ya, keluarnya darah kotor dari ******** wanita. Karena sel telur tak ada yang membuahi, dinding rahim jadi luluh, akhirnya, keluar deh sebagai darah kotor.” Aku menjelaskan, walaupun dalam hal ini masih newbie juga.
“Oh, yang diiklan-iklan itu ada ya? Itu buat yang lagi menstrusi kan?”
“Menstruasi! Itu mah yang diiklan namanya pembalut, biar menyerap darahnya kalo lagi keluar, dan biar gak tembus ke celana.” Aku menjelaskan, walau agak gak enak juga bilang kayak gini.
“Popok?”
`              “Ya semacam itulah, tapi agak tinggi juga derajatnya di atas popok! Enak saja.” Aku memelet.
“Kamu suka pakai merk apa?”
Gosh! Dia mulai keterlaluan. Ini jelas privasi. Naluri kewanitaanku saat itu sudah hampir menggerakanku untuk menamparnya, namun akal sehat masih meminpin.
“Ih! Untuk apa bertanya begitu?”
“Pengen jualan ntar di sekolah.” Jawabnya tanpa perasaan berdosa. Double What? Buat apa coba? Ni orang sinting kali.
“Tau ah.” Aku pun pergi selonong boi begitu saja. Malas bila sudah seperti ini. Nanti bisa-bisa ia masuk lebih dalam lagi. Dan semenjak saat itu, aku akhirnya berhenti meladeni pertanyaan seputar biologi!
Oke, sampai mana ceritanya? Oh iya, sampai kami SMP. Jadi ya begitulah. Kehidupan kami seperti umumnya remaja-remaja awal puber. Terisi oleh beberapa kisah galau yang cukup baik, aktual dan terpercaya (?) Aku sempat menyukai seorang cowok. Namun tak sempat menindak lanjutinya dengan tindakan apapun. Hanya dipendam, hingga akhirnya lulus SMP. Kami tidak pernah bertemu lagi semenjak saat itu.
Sementara ia? Ia juga menyimpan beberapa kisah galau. Aku sempat tahu bahwa ia pernah menyatakan cinta pada seorang gadis, anaknya bibi kantin. Umurnya masih 5 tahun padahal, dan jelas ditolak. Teman-teman sempat mengatainya Pedofil (penyuka anak kecil—red) saat itu. Namun yang lebih parah adalah saat ia menyatakan pula pada anaknya penjaga koperasi. Umurnya lumayanlah, sudah 9 tahun. Tapi masalahnya dia itu juga laki-laki! Jadilah akhirnya kami mengatainya Pedofil Homo. Entah yang dilakukannya itu (dua kasus pedofil) hanya bagian dari mencari sensasi atau serius beneran, tapi sejauh yang kutahu, ia hanya menyukai seorang gadis.
Namanya Ratih.
Ya, gadis yang menurutku sangat manis. Ia sempat pula menyatakan pada Ratih, namun ditolak mentah-mentah. Entah apa alasannya karena Ratih tidak pernah memberikan jawaban yang jelas padanya. Hanya kata “TIDAK” yang di capslock untuk jelas menyatakan bahwa Ratih tidak mau.
Padahal memang, Ratih sangat manis. Ya, cantik. Aku mengakuinya. Pintar, selalu juara di kelas. Guru-guru menyukainya, teman-teman menyukainya. Dan memang, Ratih pun akan menjaga dirinya yang berharga dari sebuah kisah galau yang hanya semu belaka.
Memasuki masa-masa SMA, kami masuk ke sekolah yang sama lagi. Namun yang pasti, dengan suasana yang benar-benar baru. Seragam putih abu-abu memang serasa menaikkan derajat kami jauuuh ke atas. Karena memang ini seragam yang tertinggi derajatnya dalam tingkatan pelajar sekolah di Indonesia. Seperti tingkatan di perusahaan saja, mungkin kami sekarang sudah menjadi CEO (direktur), dan di atas kami, bila sudah kuliah nanti, adalah pemilik saham—yang ditandai dengan sudah tidak perlu lagi memakai seragam. Ah, perumpamaan yang aneh.
Masa SMA kami (seharusnya) adalah masa transisi. Masa dimana kami dituntut untuk lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, dan juga lebih profesional dalam mengatur hidup dan kehidupan. Saat itu kami dihadapkan dengan berbagai pilihan, berbagai tujuan dan cita-cita. Sebuah masa yang menuntut kami untuk segera mengambil rencana untuk kehidupan mendatang. Seperti level akhir dalam sebuah pelatihan, di mana setelah lulus kami akan benar-benar menghadapi kehidupan yang sebenarnya.
Aku masih bersama dia. Dalam pertemanan kami yang telah berjalan sekian tahun lamanya. Dan di masa ini, ia pun akhirnya mulai menyusun rencana. Seperti halnya aku. Rencana yang seperti sudah aku ceritakan di awal.  Spesifik, realistis, dan juga bermanfaat. Sebenarnya hanya tiga hal itu sih, yang harus ada dalam cita-cita kita, dan dari tiga hal tersebut, akan ada banyaaaaak sekali pilihan yang dapat kita ambil.
Di masa SMA, kami makin menjauh. Aku sudah mulai sibuk dengan “apa yang harus kulakukan” untuk menggapai impianku, dan ia pun sibuk dengan kegiatannya. Yang kutahu, semakin tambah umur, ia jadi semakin ganteng aja (ehm). Dan juga semakin dewasa tentunya. Aku dapat melihat hal tersebut dari beberapa organisasi yang ia ikuti. Mulai dari paskibra, OSIS, dan yang lainnya. Ia pun sempat menunjukkan ke-brilian-annya dalam berorganisasi di beberapa event, terutama saat ia menangani acara language fair. Semacam perlombaan bahasa bagi anak-anak SMP tingkat provinsi. Dan sebagai ketua pelaksana, ia dapat mengatur segala macam tetek bengek yang diperlukan untuk menyukseskan acara tersebut. Hasilnya? Sekolah kami mendapat apresiasi baik dari berbagai pihak, media, dan pemerintah. Bahkan acara ini sampai diliput oleh sebuah media nasional untuk naik cetak. Sebuah kebanggan untuk sekolah kami tentunya.
Bagaimana dengan Ratih? Dimanakah dia? Ia masih tetap ada, masih satu sekolah dengan kami. Namun entahlah, aku tidak tahu apakah dia masih menyukai Ratih atau tidak. Semenjak naik kelas ke kelas 11, Ratih juga berpisah kelas dengannya, ia masuk IPA, sama denganku. Kelas XI IPA 4. Sementara dia, seperti yang kuceritakan di awal, mengambil jurusan Bahasa. So, ia tidak terlalu sering berkomunikasi dengan Ratih. Well, hal tersebut setidaknya juga menjadi rambu bahwa, ia memang sudah lebih bijaksana dalam hidupnya.
Dan tak terasa, masa-masa SMA pun telah habis. Kami melewati serangkaian acara perpisahan dengan dramatis. Jam-jam yang membuat kami menguras habis seluruh air mata, menumpah-ruahkan segala macam perasaan kami yang—di satu sisi senang, dan di sisi lain sedih. Menutup kenangan kami bersama teman-teman, yang seru, memalukan, menyedihkan, dan juga menggalaukan bagi para petualang cinta. Namun tentu saja itu tidak untukku dan dia. Sebuah puisi perpisahan pun dibacakan, lagu perpisahan dinyanyikan, melarutkan kami dalam sejuta perasaan yang tak dapat tergambarkan.
Good bye Senior High School.
Selamat tinggal masa SMA.
Masa-masa setelah itu, seperti yang telah kuceritakan, aku masuk ITB, sungguh beruntung karena melewati SNMPTN Undangan, jadi tak perlu tes lagi. Begitu pula dengan Ratih, kami masuk di jurusan yang sama, di kelas yang sama pula. Sementara ia, sibuk dengan cita-citanya. Kabar terakhir yang kudengar bahwa ia diterima menjadi seorang tour guide di sebuah kapar pesiar mewah milik sebuah perusahaan pariwisata besar di tanah air. Yah, selamat sajalah untuknya.
Dan setelah perlahan-lahan menjauh, kami pun akhirnya berpisah dan tak tahu kabar satu sama lain.
***
Hari ini tertanggal 26 September 2011. Di bulan ini, ada beberapa hal yang terjadi, lebih tepatnya, ada beberapa hal besar yang terjadi. Biar kurunutkan saja.
12 September 2011.
Aku mendengar kabar bahwa ia melamar Ratih untuk menikah. Sebuah kabar yang mengejutkan karena selama ini, mereka sudah tak bertemu lagi satu sama lain. Benakku pun menyimpan beberapa pertanyaan kecil. Mengapa ia tidak berpikir bahwa, siapa tahu saja Ratih sudah punya kekasih? Atau apakah dia tidak berpikir bahwa dahulu Ratih menolaknya? Siapa tahu sampai sekarang Ratih masih tidak mau dengannya.
Aku tidak tahu, tapi yang jelas, memang selama ini Ratih tidak mempunyai seorang pun kekasih. Dan ia, entah apa yang ia pikirkan. Hey! Menikah adalah keputusan seumur hidup. Apakah Ratih begitu saja mau? Ratih kan, belum selesai kuliah.
Setelah kejadian itu, Ratih meminta waktu satu minggu untuk menjawab. Dia pun meng-iyakan. Namun ia berkata bahwa, pada tanggal 22-28 September, ia akan mengikuti perjalanan ke Jepang bersama kapal tempatnya bekerja. Jadi, bila jawaban Ratih adalah “iya”, maka dia akan mengambil cuti dan tak akan mengikuti perjalanan tersebut untuk mempersiapkan pernikahan, sekaligus akan resign dari pekerjaan tersebut (kan dia akan menikah, masa istrinya ditinggal terus). Walaupun, katanya, perjalanan itu adalah hal yang ia tunggu-tunggu, karena itu adalah perjalanan pertamanya ke luar negri—hal yang benar-benar ia impikan, sekaligus pekerjaan yang sangat ia sukai. Dan bila jawabannya “tidak”, maka ia akan menerimanya dan tak akan menggangu Ratih lagi selamanya.
Tik...tik...tik....
Waktu berlalu begitu saja. Ia masih menunggu jawaban dari Ratih. Bagaimanapun, dan apapun jawaban itu.
Sementara Ratih? Aku mengenal Ratih seperti mengenal diriku sendiri. Aku tahu sebenarnya sejak dulu, Ratih juga menyukainya. Sangat malah. Aku tahu setiap kali ia menolak cinta yang diutarakan oleh dia, Ratih selalu menahan rasa sedih karena tak ingin merusak hubungan pertemanan mereka. Ya, aku sangat mengetahui besarnya cinta Ratih kepadanya.
Namun ini pernikahan, apa yang harus dijawab oleh Ratih, sementara sang pujaan hati terus menunggunya, terus setia mencintainya walaupun di luar sana ada jutaan perempuan cantik  yang bertebaran dan belum ada yang punya.
Namun sekali lagi, ini pernikahan. Sebuah keputusan seumur hidup. Dan Ratih pun tahu, bila ia menjawab “ya”, maka sang pujaan hati akan melepas pekerjaan yang sangat ia inginkan. Ratih tak mau bila seperti itu, Ratih tak mau hanya karena dirinya, sang pujaan hati rela melepas pekerjaannya. Sebuah impian yang dicanangkannya semenjak SMA. Ratih tidak mau.
Dan akhirnya, Ratih pun memutuskan.
“Aku mencintaimu. Ya, aku ingin menikah...”
Tertanggal 18 September 2011 jawaban itu diutarakan. Dan beberapa detik sesudah itu, tak terbayangkan rasa gembira yang dirasakan oleh sang pujaan hati. Ia pasti melompat-lompat kegirangan saking senangnya. Namun ternyata, kalimat itu belum selesai.
“...tapi aku mempunyai sebuah syarat untukmu.”
Kesenangan itu mendadak berhenti. Ditimpa oleh sebuah rasa deg-degan. Syarat apa?
“Aku ingin kau tetap di pekerjaanmu, dan tetap melakukan perjalananmu. Bila tidak setuju, kita batal menikah.”
Lelaki itu berpikir sejenak. Apa Ratih tidak menyadari resikonya sebagai istri yang ditinggal suaminya terus? Bisa-bisa kayak bang Toyyib.
“Kau serius? Tak takut nanti ditinggal terus?”
“Aku mencintaimu, karena itu aku tak ingin kau melepas impianmu hanya gara-gara aku. Jadi tetaplah pergi, sayang...”
Dia berpikir sejenak. Benarkah harus seperti ini? Ia dan Ratih, mereka akan menjadi pasangan suami istri dalam sebuah ikatan pernikahan jarak jauh. Long Distance Marriage.
“Gimana jadinya? Ih...” Ratih bertanya tak sabaran.
“I-iya deh kalau begitu, ya sudah, nanti aku tetap bekerja. Kalau begitu, sampai jumpa ya, di hari bahagia kita...”
Aduh, ini adegan apaan nih? Aku jadi iri kan. Ah, ya sudahlah.
Akhirnya, keputusan pun diambil. Tanggal 22 September 2011, ia tetap angkat sauh dan pergi ke Jepang, melakukan debut pertamanya ke luar negeri. Sementara itu, Ratih juga sangat bahagia. Sebentar lagi ia akan menikah! Ya, dengan laki-laki yang sudah ia cintai semenjak SMP. Ah, tak sabar rasanya. Orang tua sudah diberitahu dan setuju. Tinggal menunggu calon suaminya pulang dan membicarakan detail pernikahan mereka nanti.
Waktu pun terus berjalan, tanggal 23, 24, 25, hingga hari ini.
Aku, ya, aku sedang menonton berita.
“Sebuah kecelakaan menimpa kapal pesiar mewah milik PT Bahari Jaya Indonesia di Perairan Jepang. Kapal ini sedang dalam perjalanannya untuk pulang kembali ke Indonesia setelah semenjak tanggal 22 bertolak dari Pelabuhan Kapal di Surabaya. Diduga kapal menabrak  karang besar yang banyak terdapat di perairan itu sehingga menyebabkan tanki bahan bakar mengalami kebocoran dan mengakibatkan ledakan dahsyat yang menghancurkan seluruh badan kapal. Tak ada korban selamat dari kejadian ini, seluruh penumpang hangus terbakar oleh api yang menjalari seluruh bagian kapal. Kerugian disinyalir mencapai angka....”
Aku tidak kuat menonton sampai kamera menampilkan sosok seseorang yang aku kenal sangat baik. Tentu saja, sang tour guide yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Sungguh hancur rasanya. Laki-laki  idamanku, yang sangat kucintai seperti diriku sendiri. Mati terbakar!
Tuhan, rasanya seluruh sendiku lepas melihat berita tersebut. Ya! Akulah Ratih itu! Aku calon istrinya! Mengapa hal ini terjadi?! Mengapa kubiarkan dia pergi dengan kapal terebut?!! Ah! Padahal tinggal sebentar lagi kami akan hidup bahagia!! Mengapa?!!
Akulah sebenarnya Ratih itu, kawan, aku calon istrinya. Akulah yang ia cintai sejak dulu. Akulah yang menolaknya dulu. Akulah teman masa kecilnya dahulu. Dan aku pulalah orang yang paling menyesal seumur hidup karena membiarkan dia pergi.
Aku Ratih! Aku calon istrinya!
“Aku Ratih! Aku calon istrinya!” teriakan itu menggema sepanjang lorong rumah sakit jiwa pertamina.
--dan berimanlah pada qadha dan qadar, takdir baik dan takdir buruk—
***
Kuningan, 05 Agustus 2012
Cerpen ketiga di bulan ini

Salam duka untukmu, Ratih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar