Waktu membaca: 7-9 menit
Wajahnya oriental, dengan mata
yang bulat dan hidung yang cukup mancung. Alisnya juga lurus dan tebal, lumayan
sinkron lah dengan besarnya kelopak mata. Pipinya lesung sedikit. Bibirnya pun tidak
terlalu kecil dan tidak terlalu dower juga. Secara singkat, wajahnya lumayan.
Aku mengenalnya sudah lama. Dari taman kanak-kanak hingga sekarang
semester 5 kuliah. Sudah sekian tahun lamanya. Aku juga mengenalnya dengan
sangat baik. Bahkan lebih baik dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Dia
adalah teman mainku sewaktu masih kecil. Teman SD, SMP, dan SMA. Kami selalu
sekelas hingga kelas 1 SMA, sampai
akhirnya penjurusan di sekolah memisahkan kelas kami. Aku mengambil jurusan
IPA, dia mengambil jurusan bahasa.
Alasanku mengambil IPA sudah jelas. Karena aku
bercita-cita untuk bekerja di SAMSUNG Electronics, Korea. Eh, SAMSUNG tuh ‘PT’
atau apa sih? Kalau itu ‘PT’, maka bolehlah aku menyebutnya PT SAMSUNG
Electronics. Ya, sebuah cita-cita yang cukup besar menurutku. Sementara dia?
Dia mengambil jurusan bahasa karena cita-citanya juga jelas. Ia ingin
berkeliling dunia dengan menjadi tour guide sekaligus backpaker.
Hmm, cita-cita
yang mulia.
Saat ini kami pun telah berpisah
cukup lama. Sekitar 2,5 tahun semenjak dahulu terakhir perpisahan di SMA. Aku
mengambil kuliah di ITB, ia mengambil pekerjaan di Kapal Pesiar. Entah
perusahaan apa. Semenjak 2,5 tahun yang lalu, aku tak pernah mendengar kabar
darinya. Walaupun kami bisa saja saling terhubung lewat dunia maya, namun
jejaring sosial yang kami gunakan berbeda. Aku memakai facebook, dan dia
memakai twitter. Dari gadget pun berbeda. Dia memakai BB, dan aku memakai
Samsung Galaxy. Ia dengan BBM nya, aku dengan whats app-ku. Kami pun tak
berkomunikasi walaupun aku tahu nomer handphonenya, tapi kan yang jelas ia
pasti berganti-ganti nomer karena harus melewati daerah teritorial yang
berbeda. Beda negara beda operator. Ya, meskipun diantara kami sejak dulu tak
pernah ada apa-apa. Hanya teman. Teman masa kecil, yang selalu terkenang hingga
kini.
Dahulu saat SD, kami sangat
akrab. Bermain selalu bersama, saat di sekolah maupun di rumah. Walaupun
terkadang minat kami berbeda, aku suka bermain masak-masakan, dia suka bermain
kelereng. Aku suka menonton barbie, dia suka menonton dragon ball. Namun pasti
ada saja hal-hal yang kami lakukan berdua. Seperti main petasan saat ramadhan,
aku jagonya. Bermain sepeda, dulu aku yang mengajarinya sampai bisa. Bermain
kartu Yugi-Oh pun aku yang duluan bisa. Kami biasa bermain kartu itu saat
istirahat sekolah, atau ketika tak ada guru yang datang mengajar, atau ketika
kami kabur mengaji. Saat SD, kami memang benar-benar akrab.
Memasuki SMP, kami mulai agak
menjauh. Saat itu, ia mulai doyan mengkonsumsi lagu-lagu Peterpan, dan aku
lebih suka mendengar lagu-lagu Agnes Monica. Ia sudah bergaul dengan
teman-teman laki-lakinya yang—ampun deh—sulit dijelaskan. Aku juga lebih
merapat ke teman-teman perempuanku. Wajarlah, namanya awal-awal masa remaja,
kami para perempuan mempunyai bahan obrolan yang kebanyakan tak ingin para
laki-laki mendengarnya. Aku mulai belajar bagaimana perempuan me-manage
segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Mulai dari tamu yang datang tiap
bulan, hingga berbelanja pakaian-pakaian yang diperlukan untuk “me-nyaman-kan”
bentuk tubuh yang mulai berubah. Para laki-laki pun mempunyai agendanya
tersendiri. Mulai dari motor-motoran, mengoleksi mp3 dari band-band asing yang
entah apa namanya—avengetsevevolt?—sampai yang namanya urusan main alat musik,
itulah kerjaan mereka. Namun saat itu, ia dan aku masih satu kelas. Ia masih
suka menanyakan PR bila kesulitan mengerjakan. Mulai dari MTK, Fisika, dan yang
lainnya. Except pelajaran biologi, aku malas meladeninya yang kadang
bertanya aneh-aneh. Masalah reproduksi sih. Simak saja saat suatu kali ia
menyerangku dengan pertanyaannya.
“Eh, ini nomer 4 gimana
jawabnya?” tanyanya.
“Yang mana?”
“Itu, soalnya, sebutkan ciri-ciri
perubahan primer pada pubertas wanita!” ia menyebutkan soal.
“Oh, ya gampang lah, menstruasi
jawabannya.” Jelasku singkat.
“Menstrusi?”
“Menstruasi!” Aku membetulkan.
“Apaan tuh?” Yang ini, entah dia
tidak tahu beneran atau hanya pura-pura tidak tahu.
“Ya, keluarnya darah kotor dari
******** wanita. Karena sel telur tak ada yang membuahi, dinding rahim jadi
luluh, akhirnya, keluar deh sebagai darah kotor.” Aku menjelaskan, walaupun
dalam hal ini masih newbie juga.
“Oh, yang diiklan-iklan itu ada
ya? Itu buat yang lagi menstrusi kan?”
“Menstruasi! Itu mah yang diiklan
namanya pembalut, biar menyerap darahnya kalo lagi keluar, dan biar gak tembus
ke celana.” Aku menjelaskan, walau agak gak enak juga bilang kayak gini.
“Popok?”
` “Ya semacam itulah, tapi agak
tinggi juga derajatnya di atas popok! Enak saja.” Aku memelet.
“Kamu suka pakai merk apa?”
Gosh! Dia mulai
keterlaluan. Ini jelas privasi. Naluri kewanitaanku saat itu sudah hampir
menggerakanku untuk menamparnya, namun akal sehat masih meminpin.
“Ih! Untuk apa bertanya begitu?”
“Pengen jualan ntar di sekolah.” Jawabnya
tanpa perasaan berdosa. Double What? Buat apa coba? Ni orang sinting
kali.
“Tau ah.” Aku pun pergi selonong
boi begitu saja. Malas bila sudah seperti ini. Nanti bisa-bisa ia masuk lebih
dalam lagi. Dan semenjak saat itu, aku akhirnya berhenti meladeni pertanyaan
seputar biologi!
Oke, sampai mana ceritanya? Oh
iya, sampai kami SMP. Jadi ya begitulah. Kehidupan kami seperti umumnya
remaja-remaja awal puber. Terisi oleh beberapa kisah galau yang cukup baik,
aktual dan terpercaya (?) Aku sempat menyukai seorang cowok. Namun tak sempat
menindak lanjutinya dengan tindakan apapun. Hanya dipendam, hingga akhirnya
lulus SMP. Kami tidak pernah bertemu lagi semenjak saat itu.
Sementara ia? Ia juga menyimpan
beberapa kisah galau. Aku sempat tahu bahwa ia pernah menyatakan cinta pada
seorang gadis, anaknya bibi kantin. Umurnya masih 5 tahun padahal, dan jelas
ditolak. Teman-teman sempat mengatainya Pedofil (penyuka anak kecil—red) saat
itu. Namun yang lebih parah adalah saat ia menyatakan pula pada anaknya penjaga
koperasi. Umurnya lumayanlah, sudah 9 tahun. Tapi masalahnya dia itu juga
laki-laki! Jadilah akhirnya kami mengatainya Pedofil Homo. Entah yang
dilakukannya itu (dua kasus pedofil) hanya bagian dari mencari sensasi atau
serius beneran, tapi sejauh yang kutahu, ia hanya menyukai seorang gadis.
Namanya Ratih.
Ya, gadis yang menurutku sangat manis. Ia sempat pula menyatakan pada
Ratih, namun ditolak mentah-mentah. Entah apa alasannya karena Ratih tidak
pernah memberikan jawaban yang jelas padanya. Hanya kata “TIDAK” yang di capslock
untuk jelas menyatakan bahwa Ratih tidak mau.
Padahal memang, Ratih sangat manis. Ya, cantik. Aku mengakuinya. Pintar,
selalu juara di kelas. Guru-guru menyukainya, teman-teman menyukainya. Dan
memang, Ratih pun akan menjaga dirinya yang berharga dari sebuah kisah galau
yang hanya semu belaka.
Memasuki masa-masa SMA, kami masuk ke sekolah yang sama lagi. Namun yang
pasti, dengan suasana yang benar-benar baru. Seragam putih abu-abu memang
serasa menaikkan derajat kami jauuuh ke atas. Karena memang ini seragam yang
tertinggi derajatnya dalam tingkatan pelajar sekolah di Indonesia. Seperti
tingkatan di perusahaan saja, mungkin kami sekarang sudah menjadi CEO
(direktur), dan di atas kami, bila sudah kuliah nanti, adalah pemilik
saham—yang ditandai dengan sudah tidak perlu lagi memakai seragam. Ah,
perumpamaan yang aneh.
Masa SMA kami (seharusnya) adalah masa transisi. Masa dimana kami
dituntut untuk lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, dan juga lebih
profesional dalam mengatur hidup dan kehidupan. Saat itu kami dihadapkan dengan
berbagai pilihan, berbagai tujuan dan cita-cita. Sebuah masa yang menuntut kami
untuk segera mengambil rencana untuk kehidupan mendatang. Seperti level akhir
dalam sebuah pelatihan, di mana setelah lulus kami akan benar-benar menghadapi
kehidupan yang sebenarnya.
Aku masih bersama dia. Dalam pertemanan kami yang telah berjalan sekian
tahun lamanya. Dan di masa ini, ia pun akhirnya mulai menyusun rencana. Seperti
halnya aku. Rencana yang seperti sudah aku ceritakan di awal. Spesifik, realistis, dan juga bermanfaat.
Sebenarnya hanya tiga hal itu sih, yang harus ada dalam cita-cita kita, dan
dari tiga hal tersebut, akan ada banyaaaaak sekali pilihan yang dapat kita
ambil.
Di masa SMA, kami makin menjauh. Aku sudah mulai sibuk dengan “apa yang
harus kulakukan” untuk menggapai impianku, dan ia pun sibuk dengan kegiatannya.
Yang kutahu, semakin tambah umur, ia jadi semakin ganteng aja (ehm). Dan juga
semakin dewasa tentunya. Aku dapat melihat hal tersebut dari beberapa
organisasi yang ia ikuti. Mulai dari paskibra, OSIS, dan yang lainnya. Ia pun
sempat menunjukkan ke-brilian-annya dalam berorganisasi di beberapa event,
terutama saat ia menangani acara language fair. Semacam perlombaan
bahasa bagi anak-anak SMP tingkat provinsi. Dan sebagai ketua pelaksana, ia
dapat mengatur segala macam tetek bengek yang diperlukan untuk menyukseskan
acara tersebut. Hasilnya? Sekolah kami mendapat apresiasi baik dari berbagai
pihak, media, dan pemerintah. Bahkan acara ini sampai diliput oleh sebuah media
nasional untuk naik cetak. Sebuah kebanggan untuk sekolah kami tentunya.
Bagaimana dengan Ratih? Dimanakah dia? Ia masih tetap ada, masih satu
sekolah dengan kami. Namun entahlah, aku tidak tahu apakah dia masih menyukai
Ratih atau tidak. Semenjak naik kelas ke kelas 11, Ratih juga berpisah kelas
dengannya, ia masuk IPA, sama denganku. Kelas XI IPA 4. Sementara dia, seperti
yang kuceritakan di awal, mengambil jurusan Bahasa. So, ia tidak terlalu
sering berkomunikasi dengan Ratih. Well, hal tersebut setidaknya juga
menjadi rambu bahwa, ia memang sudah lebih bijaksana dalam hidupnya.
Dan tak terasa, masa-masa SMA pun telah habis. Kami melewati serangkaian
acara perpisahan dengan dramatis. Jam-jam yang membuat kami menguras habis
seluruh air mata, menumpah-ruahkan segala macam perasaan kami yang—di satu sisi
senang, dan di sisi lain sedih. Menutup kenangan kami bersama teman-teman, yang
seru, memalukan, menyedihkan, dan juga menggalaukan bagi para petualang cinta.
Namun tentu saja itu tidak untukku dan dia. Sebuah puisi perpisahan pun
dibacakan, lagu perpisahan dinyanyikan, melarutkan kami dalam sejuta perasaan
yang tak dapat tergambarkan.
Good bye Senior High School.
Selamat tinggal masa SMA.
Masa-masa setelah itu, seperti yang telah kuceritakan, aku masuk ITB,
sungguh beruntung karena melewati SNMPTN Undangan, jadi tak perlu tes lagi.
Begitu pula dengan Ratih, kami masuk di jurusan yang sama, di kelas yang sama
pula. Sementara ia, sibuk dengan cita-citanya. Kabar terakhir yang kudengar
bahwa ia diterima menjadi seorang tour guide di sebuah kapar pesiar
mewah milik sebuah perusahaan pariwisata besar di tanah air. Yah, selamat
sajalah untuknya.
Dan setelah perlahan-lahan menjauh, kami pun akhirnya berpisah dan tak
tahu kabar satu sama lain.
***
Hari ini tertanggal 26 September 2011. Di bulan ini, ada beberapa hal
yang terjadi, lebih tepatnya, ada beberapa hal besar yang terjadi. Biar kurunutkan
saja.
12 September 2011.
Aku mendengar kabar bahwa ia melamar Ratih untuk menikah. Sebuah kabar
yang mengejutkan karena selama ini, mereka sudah tak bertemu lagi satu sama
lain. Benakku pun menyimpan beberapa pertanyaan kecil. Mengapa ia tidak
berpikir bahwa, siapa tahu saja Ratih sudah punya kekasih? Atau apakah dia
tidak berpikir bahwa dahulu Ratih menolaknya? Siapa tahu sampai sekarang Ratih
masih tidak mau dengannya.
Aku tidak tahu, tapi yang jelas, memang selama ini Ratih tidak mempunyai
seorang pun kekasih. Dan ia, entah apa yang ia pikirkan. Hey! Menikah adalah
keputusan seumur hidup. Apakah Ratih begitu saja mau? Ratih kan, belum selesai
kuliah.
Setelah kejadian itu, Ratih meminta waktu satu minggu untuk menjawab. Dia
pun meng-iyakan. Namun ia berkata bahwa, pada tanggal 22-28 September, ia akan
mengikuti perjalanan ke Jepang bersama kapal tempatnya bekerja. Jadi, bila
jawaban Ratih adalah “iya”, maka dia akan mengambil cuti dan tak akan mengikuti
perjalanan tersebut untuk mempersiapkan pernikahan, sekaligus akan resign
dari pekerjaan tersebut (kan dia akan menikah, masa istrinya ditinggal terus). Walaupun,
katanya, perjalanan itu adalah hal yang ia tunggu-tunggu, karena itu adalah
perjalanan pertamanya ke luar negri—hal yang benar-benar ia impikan, sekaligus
pekerjaan yang sangat ia sukai. Dan bila jawabannya “tidak”, maka ia akan
menerimanya dan tak akan menggangu Ratih lagi selamanya.
Tik...tik...tik....
Waktu berlalu begitu saja. Ia masih menunggu jawaban dari Ratih.
Bagaimanapun, dan apapun jawaban itu.
Sementara Ratih? Aku mengenal Ratih seperti mengenal diriku sendiri. Aku
tahu sebenarnya sejak dulu, Ratih juga menyukainya. Sangat malah. Aku tahu
setiap kali ia menolak cinta yang diutarakan oleh dia, Ratih selalu menahan
rasa sedih karena tak ingin merusak hubungan pertemanan mereka. Ya, aku sangat
mengetahui besarnya cinta Ratih kepadanya.
Namun ini pernikahan, apa yang harus dijawab oleh Ratih, sementara sang
pujaan hati terus menunggunya, terus setia mencintainya walaupun di luar sana
ada jutaan perempuan cantik yang
bertebaran dan belum ada yang punya.
Namun sekali lagi, ini pernikahan. Sebuah keputusan seumur hidup. Dan
Ratih pun tahu, bila ia menjawab “ya”, maka sang pujaan hati akan melepas
pekerjaan yang sangat ia inginkan. Ratih tak mau bila seperti itu, Ratih tak
mau hanya karena dirinya, sang pujaan hati rela melepas pekerjaannya. Sebuah impian
yang dicanangkannya semenjak SMA. Ratih tidak mau.
Dan akhirnya, Ratih pun memutuskan.
“Aku mencintaimu. Ya, aku ingin menikah...”
Tertanggal 18 September 2011 jawaban itu diutarakan. Dan beberapa detik
sesudah itu, tak terbayangkan rasa gembira yang dirasakan oleh sang pujaan
hati. Ia pasti melompat-lompat kegirangan saking senangnya. Namun ternyata,
kalimat itu belum selesai.
“...tapi aku mempunyai sebuah syarat untukmu.”
Kesenangan itu mendadak berhenti. Ditimpa oleh sebuah rasa deg-degan.
Syarat apa?
“Aku ingin kau tetap di pekerjaanmu, dan tetap melakukan perjalananmu.
Bila tidak setuju, kita batal menikah.”
Lelaki itu berpikir sejenak. Apa Ratih tidak menyadari resikonya sebagai
istri yang ditinggal suaminya terus? Bisa-bisa kayak bang Toyyib.
“Kau serius? Tak takut nanti ditinggal terus?”
“Aku mencintaimu, karena itu aku tak ingin kau melepas impianmu hanya
gara-gara aku. Jadi tetaplah pergi, sayang...”
Dia berpikir sejenak. Benarkah harus seperti ini? Ia dan Ratih, mereka
akan menjadi pasangan suami istri dalam sebuah ikatan pernikahan jarak jauh. Long
Distance Marriage.
“Gimana jadinya? Ih...” Ratih bertanya tak sabaran.
“I-iya deh kalau begitu, ya sudah, nanti aku tetap bekerja. Kalau begitu,
sampai jumpa ya, di hari bahagia kita...”
Aduh, ini adegan apaan nih? Aku jadi iri kan. Ah, ya sudahlah.
Akhirnya, keputusan pun diambil. Tanggal 22 September 2011, ia tetap
angkat sauh dan pergi ke Jepang, melakukan debut pertamanya ke luar negeri.
Sementara itu, Ratih juga sangat bahagia. Sebentar lagi ia akan menikah! Ya,
dengan laki-laki yang sudah ia cintai semenjak SMP. Ah, tak sabar rasanya.
Orang tua sudah
diberitahu dan setuju. Tinggal menunggu calon suaminya pulang dan membicarakan
detail pernikahan mereka nanti.
Waktu pun terus berjalan, tanggal 23, 24, 25, hingga hari ini.
Aku, ya, aku sedang menonton berita.
“Sebuah kecelakaan menimpa kapal pesiar mewah milik PT Bahari Jaya
Indonesia di Perairan Jepang. Kapal ini sedang dalam perjalanannya untuk pulang
kembali ke Indonesia setelah semenjak tanggal 22 bertolak dari Pelabuhan Kapal
di Surabaya. Diduga kapal menabrak
karang besar yang banyak terdapat di perairan itu sehingga menyebabkan
tanki bahan bakar mengalami kebocoran dan mengakibatkan ledakan dahsyat yang
menghancurkan seluruh badan kapal. Tak ada korban selamat dari kejadian ini,
seluruh penumpang hangus terbakar oleh api yang menjalari seluruh bagian kapal.
Kerugian disinyalir mencapai angka....”
Aku tidak kuat menonton sampai kamera menampilkan sosok seseorang yang
aku kenal sangat baik. Tentu saja, sang tour guide yang sebentar lagi
akan menjadi suamiku. Sungguh hancur rasanya. Laki-laki idamanku, yang sangat kucintai seperti diriku
sendiri. Mati terbakar!
Tuhan, rasanya seluruh sendiku lepas melihat berita tersebut. Ya! Akulah
Ratih itu! Aku calon istrinya! Mengapa hal ini terjadi?! Mengapa kubiarkan dia
pergi dengan kapal terebut?!! Ah! Padahal tinggal sebentar lagi kami akan hidup
bahagia!! Mengapa?!!
Akulah sebenarnya Ratih itu, kawan, aku calon istrinya. Akulah yang ia
cintai sejak dulu. Akulah yang menolaknya dulu. Akulah teman masa kecilnya
dahulu. Dan aku pulalah orang yang paling menyesal seumur hidup karena
membiarkan dia pergi.
Aku Ratih! Aku calon istrinya!
“Aku Ratih! Aku calon istrinya!” teriakan itu menggema sepanjang lorong
rumah sakit jiwa pertamina.
--dan berimanlah pada qadha dan qadar, takdir baik dan takdir
buruk—
***
Kuningan, 05 Agustus 2012
Cerpen ketiga di bulan ini
Salam duka untukmu, Ratih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar