Waktu membaca: 7-9 menit
—Aku ingin
bercerita,
kawan. Simaklah—
Saat masih SD, guru kita sering bertanya. ”Apa cita-cita kalian?”
Mayoritas akan
menjawab,
“Dokter bu!”
“Guru!”
“Arsitek!”
“Pengusaha!”
Aku mengenal
seseorang yang berbeda. Aku tahu ia dengan baik semenjak dulu. Sejak kami masih
SD dan bu guru bertanya seperti itu juga pada kami, mayoritas akan menjawab
sama seperti yang sudah kusebutkan di atas. Aku pun termasuk salah satu dari
mereka. Aku ingin jadi dokter. Namun, ia berbeda.
Laki-laki itu sungguh berbeda.
“Bayu, kamu mau
jadi apa kalau sudah besar nanti?” Tanya bu Guru.
“Aku ingin
menjadi….” Ia memenggal kalimatnya.
“…. Perias jenazah
bu!” Anak
laki-laki itu tersenyum lebar. Cengar-cengir ke arah sang guru yang melongo.
Buset.
“Emm… ya,
bagus-bagus kalau begitu! Gapai cita-citamu ya nak!” Ibu guru tersenyum pada
kami. Kemudian, ia melanjutkan berbicara tentang pentingnya mempunyai cita-cita
dari sekarang. Kami memperhatikan dengan seksama perkataan bu guru. Namun, Bayu
asyik sendiri dengan boneka-bonekaannya.
Hei! Dikira boneka
itu adalah jenazah apa?!
Aku memberikan kode
padanya agar memperhatikan bu guru. Tetapi, ia tak acuh dan tetap melanjutkan
permainannya. Untung saja bu guru tidak melihat kalau ia bermain semenjak tadi.
Sampai istirahat, Bayu terus mengotak-atik boneka tersebut.
***
Sekarang, sudah 17 tahun
semenjak kejadian di kelas itu. Aku masih ingat betul. Saat Bayu menjawab dengan polos apa
cita-citanya, dan saat bu guru melongo mendengar penuturan sang anak didik.
Umur kami sudah 24
tahun. Aku telah lulus dari kuliah kedokteran tahun lalu. Dan karena semasa
kuliah aku adalah mahasiswa yang berprestasi, kini aku diterima menjadi dokter
di sebuah rumah sakit pemerintah di ibukota. Tentu aku sangat senang, apalagi
aku bekerja bersama banyak dokter senior yang sudah professional di bidangnya.
Aku bisa banyak belajar dari mereka, walaupun sebenarnya cita-citaku sudah
tercapai.
Aku sudah menjadi
dokter.
Sejak lulus SD, aku
tidak pernah bertemu lagi dengan Bayu. Ia menghilang begitu saja saat kami,
para murid, melanjutkan sekolah bersama-sama ke sebuah SMP di pinggir kota. Ya,
memang SMP waktu itu hanya ada satu, jadi otomatis semua lulusan SD pasti
masuknya ke situ. Namun Bayu menghilang. Aku mencarinya ke mana-mana tapi tetap
saja tidak ketemu.
Dan kini, di rumah
sakit ini, saat aku melihat seorang petugas kamar mayat yang sedang lewat, aku
jadi teringat kembali padanya.
Hei! Bukankah itu
Bayu?
Petugas itu sangat
mirip dengannya.
Apakah ia
benar-benar telah menjadi perias jenazah sekarang?
Aku tidak tahu,
namun dengan segera, aku menghampiri petugas itu.
“Halo Bay!” Tegurku.
Petugas itu
menengok, lalu sejenak ia mengerutkan alis untuk memperhatikan dokter perempuan
yang tadi menegurnya.
“Li…Lina?” Ucapnya terbata.
“Iya! Ini aku! Aduh,
kamu masih inget aku kan?” Tanyaku.
“I.. iya aku inget,
kamu temen sd-ku kan? Yang dulu di kampung itu?” Bayu bertanya untuk membuatnya
tambah yakin.
“Bener! Hahaha! Kok
bisa ketemu gini ya?” Aku kegirangan karena bisa melihatnya lagi.
“Ssst, ngobrolnya
di kantin yuk! Gak boleh berisik di sini. Ini rumah sakit.” Ucapnya setengah berbisik
padaku.
“Ohh… iyaaa.” Aku ikutan berbicara setengah
berbisik seperti dia. Lalu kami dengan cepat turun ke lantai bawah, dan menuju
kantin terdekat.
“Wah, wah, kamu
sudah besar ya Lin! Hahaha, dulu masih imut-imut loh,” Bayu membuka percakapan
saat kami sudah di kantin.
“Haha, kamu juga!
Udah ada jenggotnya tuh!” Candaku padanya.
“Emang gini kali!
Eh, mau pesen apa? Ntar aku yang traktir,” katanya.
“Gak usah
repot-repot Bay! Aku aja yang teraktir, kan aku dokter, hehehe…” balasku.
“Yeee, tapi kan aku
udah lama kerja di sini, jadi gajiku sudah lebih besar dari kamu yang baru jadi
dokter di sini! Jadinya, aku yang traktir, oke?” Ia berkata.
“Hah? Memangnya
kamu sudah kerja berapa tahun di sini?” Tanyaku.
“10 tahun!” Ia memelet.
Aku kaget mendengar
ucapannya.
“Waduh, ampun kakak
senior, saya tidak tahu… ya sudah kalau begitu kamu yang traktir,” ucapku.
Heran deh, bagaimana ia bisa sudah lama bekerja di sini.
“Oke! Gitu dong!”
Kami pun memesan
makanan. Bayu terlihat sudah akrab dengan sang petugas kantin. Yaa… wajar lah.
Sudah lama di sini.
“Eh Bay,
ngomong-ngomong…ummm…” Aku ingin bertanya namun tertahan.
“Kenapa?”
“Kamu kerja apa di
sini?” Pertanyaan
itu pun akhirnya keluar juga.
“Hahaha, ya sesuai
cita-citaku dulu lah! Aku perias jenazah di sini!” Katanya percaya diri.
“Wah, hebat dong! Tapi
dulu kamu ke mana aja? Kok gak pernah kelihatan sekolah lagi?”
“Hehehe, ada
ceritanya Lin…”
***
Bayu bercerita.
Dahulu setelah
lulus SD, ia ikut bapaknya bekerja sebagai tukang gali kubur dan penjaga makam.
Nah, kebetulan, di komplek pemakaman tersebut juga ada jasa pengurusan jenazah yang
sesuai dengan kaidah Islam. Jadi, saat ada seseorang yang meninggal, biasanya
keluarga almarhum akan memakai jasa pengurusan jenazah di komplek pemakaman
sang bapak. Dari situlah ia belajar, melihat tata cara pengurusan jenazah yang
baik dan benar.
Karena setiap hari
ada saja orang yang meninggal, Bayu dapat belajar setiap hari. Selain ikut
membantu sang bapak untuk menggali kubur, ia juga tak pernah absen untuk ikut
melihat pengurusan jenazahnya, juga terkadang bila diminta. Pe-rias-annya.
Komplek pemakaman itu
bagaikan sekolah bagi Bayu. Ia belajar banyak hal yang dapat membantunya untuk
menggapai cita-citanya di sana. Beda dengan bersekolah formal.
Bayu belajar dengan
cepat. Dalam setahun saja, ia sudah ahli dalam masalah urus-mengurus serta
rias-merias jenazah. Kini, ia berencana untuk tinggal 3 tahun lagi di sana
untuk mematangkan ilmunya.
Namun takdir
berkata lain.
Pada suatu saat
bapaknya yang meninggal dunia.
Bayu sangat sedih melihat jenazah
ayahnya yang terbujur kaku. Ia sendirilah yang akhirnya mengurus jenazah sang ayah
tersebut hingga ke liang lahat. Ia juga lah yang meriasnya dengan baik. Mungkin bila diukur
dari sebelum-sebelumnya, inilah riasan terbaik Bayu.
Setelah ayahnya
dimakamkan, ia seperti kehilangan separuh jiwa dalam bekerja. Ia tak lagi
bersemangat mengejar cita-citanya. Bahkan mungkin ia tidak lagi bersemangat
untuk hidup!
Bayu tidak masuk
selama beberapa hari ke komplek pemakaman. Ia sedang tak ingin melakukan
apa-apa. Namun setelah beberapa minggu, ia kehabisan uang untuk keperluan
sehari-hari. Aku butuh uang untuk hidup, pikirnya. Lalu
ia kembali teringat dengan cita-citanya. Ia harus bekerja untuk hidup, dan bila
ingin sukses dalam bekerja, ia harus melakukan apa yang sudah ia kuasai dengan
baik. Ia harus total! Dan harus bersemangat selalu. Bila ingin sukses, lakukan
semuanya sepenuh hati.
Maka esoknya, ia
kembali ke komplek pemakaman. Semua orang di sana menyambutnya dengan bahagia
(tentu saja hanya orang yang hidup).
Dan pada hari itu
pula, ada seorang kakek yang meninggal di kampungnya. Ia dan petugas yang lain pun
bergegas mengurusnya. Bayu menjadi aktor utama kala itu. Di rumah duka, ia yang paling aktif mengerjakan
semuanya. Bahkan Bayu menawarkan agar jenazah tersebut dirias biar bagus. Dan
ia menawarkannya
secara gratis. Akhirnya keluarga almarhum pun setuju.
Bayu melakukan
semuanya sepenuh hati, sehingga jenazah itupun selesai dengan baik. Keluarga
almarhum puas atas hasil kerjanya.
Hal yang tidak
pernah disangka olehnya adalah, di antara keluarga almarhum, ada pula seorang
direktur rumah sakit pemerintah di Ibukota.
Direkur itu melihat
kerja Bayu yang sangat bagus, sehingga ia berniat mewawancarainya pada esok
hari.
Bayu pulang ke
rumah hari itu,
dengan sejuta perasaan puas yang ia dapat dari membantu orang lain, dengan
pekerjaannya.
Ini baru namanya
hidup, pikirnya dalam hati.
Esoknya, seperti
rencana semula, sang direktur datang ke komplek pemakaman tersebut untuk mewawancarai Bayu. Melihat
kedatangan beliau, Bayu yang sedang nongkrong di kuburan ayahnya pun segera
menghampiri.
Ia mengenal bapak
itu. Dia kan keluarga almarhum kakek kemarin.
“Ada apa pak,
jauh-jauh datang ke sini? Ada yang meninggal lagi?” Tanya Bayu polos.
Sang direktur
tertawa,” hahaha, bukan lah! Saya ke sini ingin bertemu denganmu, anak muda”.
“Ohh, bertemu
dengan saya? Ada urusan apa pak?” Bayu bertanya lagi.
“Ini…” Bapak itu memberikan
sebuah kartu nama.
“Perkenalkan, Saya
Imron Syah…”
“Saya Bayu pak!” Bayu memotong ucapan sang
direktur.
“Iya! Saya sudah tahu itu! Tapi kamu belum
tahu kan? Saya adalah Direktur rumah sakit di Ibukota. Dan saya tertarik dengan bakatmu. Bisakah
kita melakukan
wawancara sebentar?” Unggahnya.
Bayu serasa ingin
pingsan kala itu.
***
Dari hasil wawancara
tersebut, akhirnya sang direktur memutuskan untuk membawa Bayu ke ibukota dan
mempekerjakannya sebagai salah satu perias jenazah di rumah sakit yang
dikelolanya. Genap 10 tahun yang lalu.
Semenjak saat
itulah, Bayu akhirnya bekerja di sini.
***
“Wah! Ceritanya hebat
Bay! Jadi
kamu sudah kenal dekat dengan Pak Imron juga?” Tanyaku penasaran.
“Iya dong! Hehehe…”
Bayu tersenyum.
Kami mengobrol
sambil makan tadi, jadi tak terasa, sudah jam masuk lagi.
“Eh, aku duluan ya!
Makasih nih traktirannya!” Ujarku seraya pamit.
“Iyaa.. iya, jangan
sungkan ya untuk ngobrol lagi denganku!” Pinta Bayu.
“Pasti! Tenang aja
kok!”
Aku pun berjalan ke
kantorku dengan cepat. Ah, senangnya hari ini bisa bertemu dengan Bayu lagi.
Kalau boleh jujur ya, aku sangat suka padanya. Orangnya enak, enjoy, dan juga
bersahabat.
Aku kadang putus
asa saat masih kuliah dahulu, apakah aku akan bertemu dengannya lagi nanti?
Atau tidak. Namun takdir memang sudah digariskan. Akhirnya aku bisa bertemu
Bayu lagi!
Semenjak saat itu,
aku dan Bayu selalu menghabiskan istriahat bersama di kantin. Kami selalu
mengobrol, bercanda, dan berusaha menghilangkan kepenatan yang kami rasakan
saat bekerja. Aku dapat merasakan bahwa sebenarnya ia juga suka padaku. Namun
entah sampai kapan kami hanya akan diam-diaman seperti ini.
Dan tibalah
saatnya.
Aku sedang menyetir
mobil saat pulang kerja. Tiba-tiba, aku melihat sepucuk mawar di kursi
belakang. Namun karena sedang menyetir aku menahan diri untuk tidak
mengambilnya dulu.
Saat berada di
lampu merah, aku tidak tahan untuk mengambilnya. Ah,mumpung semua mobil juga
sedang berhenti kan?
Aku mengambil mawar
itu. Ternyata ada secarik kertas di dalamnya. Ada pula sebuah tulisan di
dalamnya.
Aku ingin
melamarmu, Lina.
Menikahlah denganku.
-Bayu-
Simpel, namun
mengena.
Aku tak tahan
dengan luapan rasa bahagia yang kurasakan saat itu. Begitu dalam sehingga aku
merasa seperti sedang terbang ke atmosfir sana. Surat itu membuatku
tersengal-sengal. Nafasku jadi tak teratur saat membacanya. Bukan karena
ketakutan, tapi karena saking gembiranya.
Lampu pun berganti
hijau, aku ingin cepat sampai ke rumah dan menelpon Bayu. Ya! Aku terima! Aku
ingin menikah
dengannya!
Namun, aku tak sempat berpikir panjang saat
langsung melajukan kendaraan dengan sangat cepat kala itu. Tak melihat bahwa di
depanku masih ada sebuah bus yang masih ingin lewat…..
Teeeeeet! Daaarr!
Ah, ternyata kematian bisa datang lebih
cepat daripada kebahagiaan.
—ceritaku selesai—
Kini, tebaklah aku di mana!
Aku sedang berada di kamar periasan jenazah
rumah sakitku, dengan petugas periasnya yang sedang menangis tersedu.
Ia mengurus jenazahku dengan sangat baik.
Meriasku sehingga tampak cantik walaupun sudah meninggal.
Bayu menatapku dengan tatapan cinta. Menciumku,
mencium calon istrinya yang bahkan belum sempat mengatakan “ya” pada lamarannya.
***
Seorang perias jenazah, bahkan harus berbesar hati kala
jenazah itu adalah orang yang ia cintai….
Kuningan, 30 Agustus 2012
09.53
M. Azam Rofiullah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar