Kamis, 24 Desember 2015

#Cerpen Datang Lebih Cepat Daripada ...

Waktu membaca: 7-9 menit
—Aku ingin bercerita, kawan. Simaklah—
Saat masih SD, guru kita sering bertanya. Apa cita-cita kalian?”
Mayoritas akan menjawab,
“Dokter bu!”
“Guru!”
“Arsitek!”
“Pengusaha!”
Dan lain sebagainya.
Aku mengenal seseorang yang berbeda. Aku tahu ia dengan baik semenjak dulu. Sejak kami masih SD dan bu guru bertanya seperti itu juga pada kami, mayoritas akan menjawab sama seperti yang sudah kusebutkan di atas. Aku pun termasuk salah satu dari mereka. Aku ingin jadi dokter. Namun, ia berbeda.
Laki-laki itu sungguh berbeda.
“Bayu, kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti?” Tanya bu Guru.
“Aku ingin menjadi….” Ia memenggal kalimatnya.
“…. Perias jenazah bu!” Anak laki-laki itu tersenyum lebar. Cengar-cengir ke arah sang guru yang melongo.
Buset.
“Emm… ya, bagus-bagus kalau begitu! Gapai cita-citamu ya nak!” Ibu guru tersenyum pada kami. Kemudian, ia melanjutkan berbicara tentang pentingnya mempunyai cita-cita dari sekarang. Kami memperhatikan dengan seksama perkataan bu guru. Namun, Bayu asyik sendiri dengan boneka-bonekaannya.
Hei! Dikira boneka itu adalah jenazah apa?!
Aku memberikan kode padanya agar memperhatikan bu guru. Tetapi, ia tak acuh dan tetap melanjutkan permainannya. Untung saja bu guru tidak melihat kalau ia bermain semenjak tadi. Sampai istirahat, Bayu terus mengotak-atik boneka tersebut.
***
Sekarang, sudah 17 tahun semenjak kejadian di kelas itu. Aku masih ingat betul. Saat Bayu menjawab dengan polos apa cita-citanya, dan saat bu guru melongo mendengar penuturan sang anak didik.
Umur kami sudah 24 tahun. Aku telah lulus dari kuliah kedokteran tahun lalu. Dan karena semasa kuliah aku adalah mahasiswa yang berprestasi, kini aku diterima menjadi dokter di sebuah rumah sakit pemerintah di ibukota. Tentu aku sangat senang, apalagi aku bekerja bersama banyak dokter senior yang sudah professional di bidangnya. Aku bisa banyak belajar dari mereka, walaupun sebenarnya cita-citaku sudah tercapai.
Aku sudah menjadi dokter.
Sejak lulus SD, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Bayu. Ia menghilang begitu saja saat kami, para murid, melanjutkan sekolah bersama-sama ke sebuah SMP di pinggir kota. Ya, memang SMP waktu itu hanya ada satu, jadi otomatis semua lulusan SD pasti masuknya ke situ. Namun Bayu menghilang. Aku mencarinya ke mana-mana tapi tetap saja tidak ketemu.
Dan kini, di rumah sakit ini, saat aku melihat seorang petugas kamar mayat yang sedang lewat, aku jadi teringat kembali padanya.
Hei! Bukankah itu Bayu?
Petugas itu sangat mirip dengannya.
Apakah ia benar-benar telah menjadi perias jenazah sekarang?
Aku tidak tahu, namun dengan segera, aku menghampiri petugas itu.
“Halo Bay!” Tegurku.
Petugas itu menengok, lalu sejenak ia mengerutkan alis untuk memperhatikan dokter perempuan yang tadi menegurnya.
“Li…Lina?” Ucapnya terbata.
“Iya! Ini aku! Aduh, kamu masih inget aku kan?” Tanyaku.
“I.. iya aku inget, kamu temen sd-ku kan? Yang dulu di kampung itu?” Bayu bertanya untuk membuatnya tambah yakin.
“Bener! Hahaha! Kok bisa ketemu gini ya?” Aku kegirangan karena bisa melihatnya lagi.
“Ssst, ngobrolnya di kantin yuk! Gak boleh berisik di sini. Ini rumah sakit.Ucapnya setengah berbisik padaku.
“Ohh… iyaaa.Aku ikutan berbicara setengah berbisik seperti dia. Lalu kami dengan cepat turun ke lantai bawah, dan menuju kantin terdekat.
“Wah, wah, kamu sudah besar ya Lin! Hahaha, dulu masih imut-imut loh,” Bayu membuka percakapan saat kami sudah di kantin.
“Haha, kamu juga! Udah ada jenggotnya tuh!” Candaku padanya.
“Emang gini kali! Eh, mau pesen apa? Ntar aku yang traktir,katanya.
“Gak usah repot-repot Bay! Aku aja yang teraktir, kan aku dokter, hehehe…” balasku.
“Yeee, tapi kan aku udah lama kerja di sini, jadi gajiku sudah lebih besar dari kamu yang baru jadi dokter di sini! Jadinya, aku yang traktir, oke?” Ia berkata.
“Hah? Memangnya kamu sudah kerja berapa tahun di sini?” Tanyaku.
“10 tahun!” Ia memelet.
Aku kaget mendengar ucapannya.
“Waduh, ampun kakak senior, saya tidak tahu… ya sudah kalau begitu kamu yang traktir,” ucapku. Heran deh, bagaimana ia bisa sudah lama bekerja di sini.
“Oke! Gitu dong!”
Kami pun memesan makanan. Bayu terlihat sudah akrab dengan sang petugas kantin. Yaa… wajar lah. Sudah lama di sini.
“Eh Bay, ngomong-ngomong…ummm…” Aku ingin bertanya namun tertahan.
“Kenapa?”
“Kamu kerja apa di sini?” Pertanyaan itu pun akhirnya keluar juga.
“Hahaha, ya sesuai cita-citaku dulu lah! Aku perias jenazah di sini!” Katanya percaya diri.
“Wah, hebat dong! Tapi dulu kamu ke mana aja? Kok gak pernah kelihatan sekolah lagi?”
“Hehehe, ada ceritanya Lin…”
***
Bayu bercerita.
Dahulu setelah lulus SD, ia ikut bapaknya bekerja sebagai tukang gali kubur dan penjaga makam. Nah, kebetulan, di komplek pemakaman tersebut juga ada jasa pengurusan jenazah yang sesuai dengan kaidah Islam. Jadi, saat ada seseorang yang meninggal, biasanya keluarga almarhum akan memakai jasa pengurusan jenazah di komplek pemakaman sang bapak. Dari situlah ia belajar, melihat tata cara pengurusan jenazah yang baik dan benar.
Karena setiap hari ada saja orang yang meninggal, Bayu  dapat belajar setiap hari. Selain ikut membantu sang bapak untuk menggali kubur, ia juga tak pernah absen untuk ikut melihat pengurusan jenazahnya, juga terkadang bila diminta. Pe-rias-annya.
Komplek pemakaman itu bagaikan sekolah bagi Bayu. Ia belajar banyak hal yang dapat membantunya untuk menggapai cita-citanya di sana. Beda dengan bersekolah formal.
Bayu belajar dengan cepat. Dalam setahun saja, ia sudah ahli dalam masalah urus-mengurus serta rias-merias jenazah. Kini, ia berencana untuk tinggal 3 tahun lagi di sana untuk mematangkan ilmunya.
Namun takdir berkata lain.
Pada suatu saat bapaknya yang meninggal dunia.
Bayu sangat sedih melihat jenazah ayahnya yang terbujur kaku. Ia sendirilah yang akhirnya mengurus jenazah sang ayah tersebut hingga ke liang lahat. Ia juga lah yang meriasnya dengan baik. Mungkin bila diukur dari sebelum-sebelumnya, inilah riasan terbaik Bayu.
Setelah ayahnya dimakamkan, ia seperti kehilangan separuh jiwa dalam bekerja. Ia tak lagi bersemangat mengejar cita-citanya. Bahkan mungkin ia tidak lagi bersemangat untuk hidup!
Bayu tidak masuk selama beberapa hari ke komplek pemakaman. Ia sedang tak ingin melakukan apa-apa. Namun setelah beberapa minggu, ia kehabisan uang untuk keperluan sehari-hari. Aku butuh uang untuk hidup, pikirnya. Lalu ia kembali teringat dengan cita-citanya. Ia harus bekerja untuk hidup, dan bila ingin sukses dalam bekerja, ia harus melakukan apa yang sudah ia kuasai dengan baik. Ia harus total! Dan harus bersemangat selalu. Bila ingin sukses, lakukan semuanya sepenuh hati.
Maka esoknya, ia kembali ke komplek pemakaman. Semua orang di sana menyambutnya dengan bahagia (tentu saja hanya orang yang hidup).
Dan pada hari itu pula, ada seorang kakek yang meninggal di kampungnya. Ia dan petugas yang lain pun bergegas mengurusnya. Bayu menjadi aktor utama kala itu. Di rumah duka, ia yang paling aktif mengerjakan semuanya. Bahkan Bayu menawarkan agar jenazah tersebut dirias biar bagus. Dan ia menawarkannya secara gratis. Akhirnya keluarga almarhum pun setuju.
Bayu melakukan semuanya sepenuh hati, sehingga jenazah itupun selesai dengan baik. Keluarga almarhum puas atas hasil kerjanya.
Hal yang tidak pernah disangka olehnya adalah, di antara keluarga almarhum, ada pula seorang direktur rumah sakit pemerintah di Ibukota.
Direkur itu melihat kerja Bayu yang sangat bagus, sehingga ia berniat mewawancarainya pada esok hari.
Bayu pulang ke rumah hari itu, dengan sejuta perasaan puas yang ia dapat dari membantu orang lain, dengan pekerjaannya.
Ini baru namanya hidup, pikirnya dalam hati.
Esoknya, seperti rencana semula, sang direktur datang ke komplek pemakaman tersebut untuk mewawancarai Bayu. Melihat kedatangan beliau, Bayu yang sedang nongkrong di kuburan ayahnya pun segera menghampiri.
Ia mengenal bapak itu. Dia kan keluarga almarhum kakek kemarin.
“Ada apa pak, jauh-jauh datang ke sini? Ada yang meninggal lagi?” Tanya Bayu polos.
Sang direktur tertawa,” hahaha, bukan lah! Saya ke sini ingin bertemu denganmu, anak muda”.
“Ohh, bertemu dengan saya? Ada urusan apa pak?” Bayu bertanya lagi.
“Ini…” Bapak itu memberikan sebuah kartu nama.
“Perkenalkan, Saya Imron Syah…”
“Saya Bayu pak!” Bayu memotong ucapan sang direktur.
“Iya! Saya sudah tahu itu! Tapi kamu belum tahu kan? Saya adalah Direktur rumah sakit di Ibukota. Dan saya tertarik dengan bakatmu. Bisakah kita melakukan wawancara sebentar?” Unggahnya.
Bayu serasa ingin pingsan kala itu.
***
Dari hasil wawancara tersebut, akhirnya sang direktur memutuskan untuk membawa Bayu ke ibukota dan mempekerjakannya sebagai salah satu perias jenazah di rumah sakit yang dikelolanya. Genap 10 tahun yang lalu.
Semenjak saat itulah, Bayu akhirnya bekerja di sini.
***
“Wah! Ceritanya hebat Bay! Jadi kamu sudah kenal dekat dengan Pak Imron juga?” Tanyaku penasaran.
“Iya dong! Hehehe…” Bayu tersenyum.      
Kami mengobrol sambil makan tadi, jadi tak terasa, sudah jam masuk lagi.
“Eh, aku duluan ya! Makasih nih traktirannya!” Ujarku seraya pamit.
“Iyaa.. iya, jangan sungkan ya untuk ngobrol lagi denganku!” Pinta Bayu.
“Pasti! Tenang aja kok!”
Aku pun berjalan ke kantorku dengan cepat. Ah, senangnya hari ini bisa bertemu dengan Bayu lagi. Kalau boleh jujur ya, aku sangat suka padanya. Orangnya enak, enjoy, dan juga bersahabat.
Aku kadang putus asa saat masih kuliah dahulu, apakah aku akan bertemu dengannya lagi nanti? Atau tidak. Namun takdir memang sudah digariskan. Akhirnya aku bisa bertemu Bayu lagi!
Semenjak saat itu, aku dan Bayu selalu menghabiskan istriahat bersama di kantin. Kami selalu mengobrol, bercanda, dan berusaha menghilangkan kepenatan yang kami rasakan saat bekerja. Aku dapat merasakan bahwa sebenarnya ia juga suka padaku. Namun entah sampai kapan kami hanya akan diam-diaman seperti ini.
Dan tibalah saatnya.
Aku sedang menyetir mobil saat pulang kerja. Tiba-tiba, aku melihat sepucuk mawar di kursi belakang. Namun karena sedang menyetir aku menahan diri untuk tidak mengambilnya dulu.
Saat berada di lampu merah, aku tidak tahan untuk mengambilnya. Ah,mumpung semua mobil juga sedang berhenti kan?
Aku mengambil mawar itu. Ternyata ada secarik kertas di dalamnya. Ada pula sebuah tulisan di dalamnya.
Aku ingin melamarmu, Lina.
Menikahlah denganku.
-Bayu-
Simpel, namun mengena.
Aku tak tahan dengan luapan rasa bahagia yang kurasakan saat itu. Begitu dalam sehingga aku merasa seperti sedang terbang ke atmosfir sana. Surat itu membuatku tersengal-sengal. Nafasku jadi tak teratur saat membacanya. Bukan karena ketakutan, tapi karena saking gembiranya.
Lampu pun berganti hijau, aku ingin cepat sampai ke rumah dan menelpon Bayu. Ya! Aku terima! Aku ingin menikah dengannya!
Namun, aku tak sempat berpikir panjang saat langsung melajukan kendaraan dengan sangat cepat kala itu. Tak melihat bahwa di depanku masih ada sebuah bus yang masih ingin lewat…..
Teeeeeet! Daaarr!
Ah, ternyata kematian bisa datang lebih cepat daripada kebahagiaan.
—ceritaku  selesai—
Kini, tebaklah aku di mana!
Aku sedang berada di kamar periasan jenazah rumah sakitku, dengan petugas periasnya yang sedang menangis tersedu.
Ia mengurus jenazahku dengan sangat baik. Meriasku sehingga tampak cantik walaupun sudah meninggal.
Bayu menatapku dengan tatapan cinta. Menciumku, mencium calon istrinya yang bahkan belum sempat mengatakan ya pada lamarannya.
***
Seorang perias jenazah, bahkan harus berbesar hati kala jenazah itu adalah orang yang ia cintai….
Kuningan, 30 Agustus 2012
09.53


M. Azam Rofiullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar