Selasa, 22 Desember 2015

#Cerpen Cerpen Keempat

Waktu membaca: 4-6 menit
“Ri, pokoknya lu jangan baca cerpen keempat di buku ini!” Ujar Gani mengingatkan temannya sambil memberi sang sohib sebuah buku yang agak tebal.
“Emangnya kenapa Gan? Masalah buat lo?” Ari menimpali seraya melihat buku kumpulan cerpen yang baru diberikan kepadanya.
“Bukan masalah di guenya, tapi masalah buat diri lo sendiri! Soalnya cerpen keempat tuh…” suara Gani terpotong.
“…Ada kutukannya.”
Ari memutar bola matanya sejenak, sebelum tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha! Lo percaya begituan Gan?! Inget coy, ni udah abad ke 21, bentar lagi juga udah kiamat, ngapain lo masih percaya ama tahayul omong kosong kayak gitu?!! Dasar, Ganiii… Gani…” Ari memegangi perutnya yang kesakitan karena tertawa terlalu keras.
“Yee… Yaudah! Pokoknya gua gak tanggung jawab kalo apa-apa terjadi sama lo! Gua lepas tangan, oke?” Gani mengancam sang sohib.
“Iye-iye, mau lu lepas tangan, lepas celana, lepas baju, atau apa juga terserah lu dah! Gua tetep gak percaya yang begituan. Dan tenang aja, gua pasti baca kok, cerpen keempat. Hahaha!” Ari menukas.
“Oke, itu statement lu! Silahkan tanggung sendiri akibatnya ya! Gua mau ke kantin dulu,” Gani menutup percakapan kali itu. Ya, latar waktu sekarang memang saat sedang istirahat sekolah dan latar tempatnya, tentu saja di sekolah. Di Kelas XII IPA 4 tepatnya.
“Husshh-husshhh! Sana pergi, gua mau baca ni buku!” Ari berlagak seperti mengusir kucing.
Di depan kelas, Gani menggerutu terhadap kejadian barusan.
“Nah… sampai mana tadi? Ah iya, gua mau baca daftar isinya dah,” Ari berkata pada dirinya sendiri, yang kemudian membolak-balik buku kumpulan cerpen tersebut.
“Buku ini judulnya “Combat”, hmmm, kira-kira apa saja isimu wahai buku?” Ari berlagak berbicara dengan sang buku. Namun apa daya, sang buku tak dapat menjawab.
Ari baru saja membuka buku tersebut, melihat halaman pertama yang masih berupa kata pengantar dan sejenisnya ketika seseorang memanggilnya dari jendela kelas.
“Ariii…!”
Suara itu sudah sangat ia kenal. Ya, suara Jessica. Sang ketua grup cheerleader yang juga adik tirinya tersebut.
“Sini lu masuk aja!” Ari melambaikan tangannya tanda menyuruh masuk. Wajar sih bila Jessica tidak berani langsung masuk ke kelas itu, dia kan masih kelas XI, masa nyelonong gitu aja ke kelas XII.
Jessica mengangguk-angguk cepat sebelum melajukan langkahnya ke pintu kelas dan masuk. Ia terlihat sangat terburu-buru.
“Ini penting!” Ujarnya saat sudah duduk di depan kursi sang kakak.
“Kenapa sih emang?”
“Barusan aja, sekitar 15 menit yang lalu, gue dapet kabar,” Jessica berhenti untuk mengambil nafas.
“Mamah kena serangan jantung! Kita harus cepet ke rumah sakit ri!” Jessica menarik-narik lengan sang kakak yang tak pernah dipanggil olehnya ‘kakak’
“Ett dah, mamah lu ini kan? Ya urus sendiri lah!” Ari menukas cepat. Hubungan mereka antar para ‘tiri’ memang agak renggang. Mamah Ari udah meninggal 3 tahun yang lalu soalnya, bertepatan juga dengan meninggalnya Om Agus, kakak tiri mamah. Padahal mereka itu orang-orang yang paling deket sama Ari. Dan saat sang papah menikah lagi, Ari tidak terlalu dekat dengan si mamah baru.
“Ih, ngomong apa lu?! Dia mamah lu juga! Tadi gua udah dapet ijin dari pak kepsek…” kalimat Jessica terpotong.
“Nah, itu baru gua suka! Ayo cabut!” Ari tersenyum bahagia. Ijin berarti kan gak sekolah. Mending ke rumah sakit aja jadinya daripada ‘membusuk’ di kelas.
“Giliran ada kata ‘ijin’ aja lu semangat!” Jessica cemberut.
“Yaudah gak usah banyak omong, ayo keburu kita telat”.
“Kita gak akan telat! Ntar juga mamah sehat lagi sih,” Jessica membela. Telat kan berarti gak tertolong lagi…
“Iya apa kata lu dah, gua lebih berpengalaman tapinya,” Ari merapihkan barang-barangnya.
Kenapa sih dia selalu oposisi sama orang lain?
***
Mereka berdua ternyata udah dijemput sama Mang Engkus, sang sopir pribadi di depan gerbang sekolah. Saat itu, ternyata sang sopir sedang berdiri menyender pada mobil Jaguar milik sang majikan, memakai kacamata hitam dan menyuit-nyuit gadis-gadis SMA Taruna Bangsa yang sedang lewat.
“Heh mang, buruan nyalain mobilnya! Kita berangkat!” Ari menggertak sang sopir yang begitu mendengar suaranya, langsung kelabakan dan berlari ke kursi pengemudi.
“I…Iya den! Siap!” Mang Engkus terbata-bata mengatakan siap. Beberapa gadis yang tadi ‘disiuti’ olehnya langsung tertawa terkikik begitu mengetahui ternyata yang tadi ‘menyiuti’ mereka hanyalah seorang sopir pribadi.
Mampus tuh sopir mati gaya.
“Dasar, sori ya, sopir gua emang suka usil. Heh mang! Awas lu kalo gitu lagi ntar gua potong gajinya!” Ari mengancam sekaligus meminta maaf pada cewek-cewek itu.
“A…ampun den, ntar anak istri saya makannya gimana? Kasiaaann..” sang sopir meminta ampun.
“Tuh kan? Udah tau lo punya istri-anak, masiiih aja godain cewek. Dasar hidung belang!” Ari mengumpat.
Di mobil.
Ari membuka buku kumcer itu, dan mulai membacanya.
Oke, kita mulai darimana nih? Tanya Ari dalam hati.
Buku itu memuat 13 cerpen. Semua bergenre horror klasik, namun ada juga yang horor romantis.
Ari berpikir dan kemudian memilih cerpen ke delapan, Judulnya, ‘Ada apa dengan Joker’
Ini pasti horor klasik, pikirnya yang sejurus kemudian mulai membaca.
Mobil terus melaju ke arah selatan, tempat rumah sakit 68 berada. Jessica terlihat bertelepon dengan entah siapa. Nada suaranya terdengar sedih menceritakan si mamah. Namun yang lebih spesifik ya terdengar seperti sedang curhat kepada seseorang. Pacarnya mungkin.
Mang Engkus daritadi hanya membungkam mulut. Entahlah, mungkin karena masih nyesek karena dibuat malu di depan cewek-cewek yang sedang dikecenginnya atau apa, beliau hanya terpaku melihat jalanan Jakarta yang terhampar di depannya. Mengendarai mobil sebaik yang ia mampu saat ini. Niatnya sih, biar gajinya gak jadi dipotong.
“Mang, buruan!” perintah Jessica saat ia sudah selesai bertepon. Mungkin pacarnya sudah harus masuk kelas sekarang.
“I….Iya non,” Mang Engkus menginjak pedal gas untuk menambah laju sang Jaguar.
“Biasa aja kali Jes..” Ari menyergah, sambil masih membaca buku itu.
“Heh, kita gak boleh terlambat Ri!” Ujarnya setengah berteriak.
“Tapi kan kata lu sendiri kalo mamah lu bakal baik-baik aja,” Ari membalas argumen.
“Eh, iya sih… tapi kan gak ada salahnya juga cepet-cepet,” Jessica memelet sang kakak,” btw, lu baca apa sihh? Asik banget kayaknya”.
“Oh, ini, buku kumcer horor yang gue pinjem dari temen. Lu mau baca? Ntar ya abis gue baca cerpen ini. Lu baca cerpen yang keempat dah, seru abis gila,” jelas Ari sekaligus ingin menjebak sang adik tiri, biar kalo beneran ada kutukan kan dia bisa liat dulu.
“Hmm… boleh deh, kebetulan gua lagi bete. Ntar abis lu yak!” Jessica menjawab tanpa ada keraguan sedikitpun. Maklum, belum tahu apa-apa.
“Nih bentar lagi selesai. Gila nih si Joker sadis banget dah”.
“Gua tunggu selesai,” Jessica tersenyum, gak sadar apa yang bakal terjadi padanya.
***
“Nih gua udah,” kata Ari seraya memberikan buku itu di ruang tunggu Rumah Sakit. Sang mamah ternyata tidak apa-apa, namun harus ditunggu sampai siuman. Karena lebih baik bila saat si mamah baru sadar, para keluarga sudah ada di sampingnya.
“Oke…oke…. Biar gua baca,” Jessica menerima buku tersebut dengan senang hati,” cerpen keempat ya?”
“Iyee…” Ari menjawab,” gua ke bawah dulu, mau beli minum”.
“Sip,” Jessica membuka buku tersebut.
Di bawah.
“Eh, ceritain ke gua dah apa kutukannya,” Pinta Ari kepada Gani lewat telepon.
“Katanya lu gak percaya? Gimana sih?” Gani menjawab.
“Yaelah pengen tau doang,” unggah Ari.
“Beneran lu mau tau? Tapi lu udah baca belom?” Gani bertanya lagi.
“Udah lah, gua langsung baca itu pertama kali, tapi gua gak ngerasain apa-apa tuh,” ucap Ari berbohong.
“Wah, hati-hati lu, soalnya kutukannya tuh…” kata-kata Gani terpotong,”………”
“Serius lu?!” Tanya Ari.
“Iye lah, soalnya dulu gua dikasih buku itu sama seorang ibu-ibu yang udah kena kutukan itu, dengan peringatan yang sama juga,” jelas Gani.
“Emang sekarang ibu itu di mana?”
“Udah meninggal sekitar 3 tahun lalu, abis beliau meninggal, gua nyimpen tuh buku di gudang, tapi kemaren gua nemu lagi pas beres-beres, jadi dah gua pinjemin ke lu”.
“Namanya siapa emang? Terus meninggalnya gimana”.
“Lu kepo banget sih?” serang Gani.
“Yaelah,” Ari menyergah. Sedikit.
“Iye-iye, namanya Sri Utami, meninggalnya jatoh dari tangga waktu itu”.
“Oh GOD!” Ari menutup telepon.
Sri Utami, jatuh dari tangga, itu semua kan….
Ari berlari ke atas, menuju ruang tunggu tempat Jessica sedang membaca cerpen keempat.
***
3 tahun yang lalu…
Om Agus seperti biasa sedang mengunjungi rumah keponakan kesayangannya, Ari. Sekadar untuk bermain kartu dan mengobrol. Yah, mereka memang sudah seperti teman. Saat itu, ia masih membujang, padahal umurnya sudah 48 tahun. Entah apa yang membuatnya tak bisa dekat dengan seorang perempuan pun. Ia tahu, ia punya kesalahan besar, yang tentu saja tidak akan bisa terwujud. Ia mencintai orang yang salah, tentu, ia sangat tahu akan hal ini. Namun entah mengapa ia tidak bisa berpaling. Ia tak bisa mencintai orang lain selain perempuan ini. Seorang perempuan cantik yang sekarang telah menjadi istri orang lain. Yang walaupun misalkan sampai sekarang belum menikah pun tak dapat ia nikahi.
Perempuan itu, perempuan yang sangat ia kenal baik. Ibu dari seorang remaja yang sekarang sedang bermain kartu dengannya. Seorang ibu yang walau di usianya yang hampir kepala 5 sekarang ini, masih saja terkihat sangat cantik.
Sri Utami namanya. Ibu dari Ari. Dan juga adik tirinya.
“Hei Ri, mamah mana? Om ada hadiah nih,” Ujar si Om sebelum ia pulang.
“Hehehe, om sampe umur segini emang gak bisa berhenti ngejar mamah ya?”
“Hahaha, jangan ngomong gitu ah, ini emang sebenarnya mama kamu yang nitip pas kemaren om ke pasar buku di Senen. Nih!”
“Apaan nih Om?”
“Itu, buku kumcer. Udah kasih aja ke mamah kamu ya! Om mau pulang”.
“Oke Om!”
Sang Om melambai tangan kepadanya. Pulang. Ya, benar-benar pulang.
***
Sri Utami memandang buku yang memang ia titip dari si kakak tiri. Ia tahu bahwa ia akan melakukan hal ini. Tahu resikonya, tahu benar-benar. Namun mau bagaimana lagi? Ia juga terlanjur telah berjanji.
Buku itu, buku yang sengaja dimintanya dari seorang paranormal. Seorang dukun. Sebuah buku kutukan yang akan membawanya dan sang kakak tiri untuk hidup bersama, dalam ketidak-ada-an. Sri Utami, perempuan itu, juga sangat mencintai kakak tirinya. Oleh karena itu ia setuju saat kakaknya itu mengusulkan untuk mebuat kutukan itu. Kutukan yang akan membuatnya dan sang kaka pergi ke alam di mana mereka bisa bersama.
Dalam kematian. Ya, itu menurut mereka.
Perempuan itu bersiap, dan kemudian membuka buku.
Cerpen keempat. Yang berisi kutukan.
***
“Cerpen keempat, kutukan itu berada di sana. Bila seorang perempuan membacanya, maka ia dan kakak tirinya akan mengalami kejadian buruk, yang membuat mereka mati di saat yang sama. Dan akan bersama, dalam kematian. Berhati-hatilah, semoga berhasil,”
Jelas dukun itu pada Om Agus. Ah, sekarang sastra pun dapat dijadikan ilmu hitam ya?
***
“Hey, dik, sini kamu!” ucap bu Sri pada seorang anak yang lewat,” ini untukmu sayang. Baca baik-baik ya, tapi jangan baca cerpen keempatnya. Ada kutukannya loh,” dia tersenyum.
“Ibu maksudnya apa?” anak kelas 3 SMP yang tidak lain adalah Gani itu bertanya.
Dan kemudian sang ibu menceritakan semua kejadiannya. Yang kesemuanya itu benar terjadi di kemudian hari.
***
“Jessica!” Ari berlari tergopoh menuju ke arah Jessica yang sedang membaca buku tersebut. Namun saudara tirinya itu hanya menatap kosong ke arah buku yang sedang terbuka. Hampa. Seperti habis terpaku oleh sesuatu dan terhipnotis. Ah, apa yang terjadi?
“Jes?” Ari bertanya, sedikit ragu dengan kondisi saudaranya itu.
“Lu jahat banget ri, sumpah lu jahat banget,” Jessica membuka mulut,” ini kutukan kan?”
“So..sori Jes… gua gak bermaksud…” Ari berhenti sejenak.
“Dari mana lu tau kalo ini kutukan?” Ari keheranan.
“Karena gue bukan Jessica,” Ucap makhluk tersebut.
Jessica udah mati, sekarang giliran lu, ucap sebuah suara, entah darimana.
“Siap-siap ri, dengan apa yang harus lu terima,” Jessica menerjang ke arah Ari.

***
Kuningan, 08-08-2012
Cerpen keempat
Judulnya “…………………………”

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar