Rabu, 01 November 2017
#Moment All I Want
Aku ingat waktu itu, malam tanggal 11 Agustus 2017
Aku sedang berada di ketinggan lebih dari 3000 meter
Sedang menggapai puncak salah satu gunung
Tak ada yang salah kecuali satu hal
Aku duduk beristirahat di balik batu besar
Berlindung dari kejaran angin dan dingin
Orang di sebelahku menawari rokok
Tak ada yang salah kecuali hal itu
Aku memasang headset sambil memandangi langit
Lagu Kodaline mengalir lembut di telingaku
Tak ada yang salah kecuali begitu memori tentangmu muncul kala itu
Untung aku waras
Jadinya ketiduran
Hehe
Senin, 30 Oktober 2017
#Cerpen Tua Bersamamu-terhubung
Ada kegetiran saat kusebut
namamu kali ini. Tiga hari yang lalu, seorang gadis manis datang ke rumahku. Ia
datang membawa segenggam kenangan masa lalu. Membawa pesan sekaligus kabar
darimu. Dia adalah Ana, cucumu yang kau namai dengan nama kesukaanku.
Namaku adalah Mamat. Namamu
Kiki. Kita seumuran. Sekarang tahun 2066 Masehi. Berarti, kau dan aku sama-sama
berumur 69 tahun sekarang. Umur yang tipis-tipis menjelang akhir.
Jadi, dahulu sekali, aku dan
kamu adalah sepasang teman spesial. Kita saling jatuh cinta dengan cara yang
indah. Kisah kita seperti kain batik. Awalnya putih bersih, lalu kau dan aku
sama-sama mewarnainya.
Waktu itu tahun 2015, saat
pertama kita bertemu. Petualangan lah yang mempertemukan kita. Kita sama-sama
remaja liar yang menerobos waktu. Bedanya, kamu takut dengan ibumu. Aku tidak.
Kemudian waktu berlalu. Tahun 2015
berganti dengan tahun 2016, dan tahun 2016 terlindas oleh datangnya 2017. Di tahun
itu pula terakhir aku mendengar suaramu. Terakhir kulihat rambut hitammu yang
disemilir hujan, dibasahi angin. Kikos, kadang aku mengejekmu.
Di tahun tersebut aku
menumpahkan tinta ke lukisan batik kita. Merusak semua pattern-pattern indah
yang sudah kita buat bersama.
Aku mulai bersifat arogan,
posesif, dan menginginkanmu secara esklusif.
Pertengkaran pun tak terelakkan.
Puji Tuhan, aku tidak pernah memukulmu, namun kata-kataku yang pedas amat
menyakitimu.
***
Duarrr!
Petir di luar begitu ganas. Aku mematikan
lampu di kamarku dan segera memejamkan mata. Rumah ini adalah rumahku. Memang hanya
sebuah rumah kecil di pinggir desa. Aku tinggal sendiri sejak 40 tahun yang
lalu. Semenjak adikku yang perempuan menikah dan ayahku wafat.
Awalnya, aku masih tinggal di
kota. Bekerja, berpetualang, kegiatanku cukup sibuk. Namun ketika menginjak umur
50-an, aku memutuskan untuk pindah ke desa ini, desa Babakan, kampung nenekku
dahulu.
Suasana memang lebih modern,
namun aku menyukai ketenangan di sini.
Aku tidak pernah menikah. Lebih
tepatnya, tidak ingin.
Dulu sekali, sebenarnya, saat
berumur 34 tahun, ada yang menawariku calon. Kawan-kawanku bilang bahwa aku
butuh pasangn hidup kalau tidak ingin jadi bujang lapuk. Aku hampir mengamini
mereka, namun fatal, saat itu, ada yang mengirimiku fotomu dengan anakmu yang
baru lahir.
Fatal.
Aku jadi tak bisa mengingat
hari, tanggal, karena itu.
Pada akhirnya, aku tidak jadi
menikah. Karena mungkin memang, aku tidak butuh pernikahan.
***
Esok cerah. Aku bangun jam 5
pagi setelah badai semalaman menerpa desa. Segera kulakukan pemanasan kecil
agar diriku kembali bugar. Sebenarnya
aku masih kuat kalau ingin bekerja. Namun beberapa tahun ini aku lebih ingin
sendiri dan menulis. Sudah terlalu banyak petualanganku yang perlu diikat
dengan tulisan.
Tabunganku semenjak muda dulu
kukumpulkan untuk saat-saat seperti ini. Hingga cukup untukku hidup di masa
tua.
Orang-orang mungkin melihat
hidupku menyedihkan. Sendiri di ketuaan, kesepian. Namun tidak juga. Aku cukup
bahagia bila membayangkan wajahmu di pagi hari. Seperti sekarang.
Kau tersenyum. Masih seindah
dulu. Ah, aku penasaran bagaimana wajahmu saat sudah menjadi nenek-nenek. Aku tidak
sempat ditunjukkan fotomu oleh Ana kemarin.
Tapi menurutku, begini sudah
cukup. Aku bisa tumbuh tua dengan bayanganmu yang tersenyum. Aku cukup bahagia.
***
“Ngocoool!”
Jam sembilan. Sesuai janji Ana
kemarin.
Kau datang. Ya, itu kau. Dituntun
oleh cucumu yang manis.
“Hey.” Kataku pelan.
***
Minggu, 29 Oktober 2017
#Cerpen Tua Bersamamu
Aku menyeruput kopi panas di pagi ini. Kursi rotan yang kududuki masih setia bersamaku sejak 35 tahun yang lalu. Aku bisa melihatnya tersenyum di tiap kesempatan aku mendudukinya. Bersamaan dengan suasana pagi atau sore, waktu di mana aku akan duduk di beranda dengannya.
Jalanan di depanku terlihat
ramai. Di desa ini, pagi adalah waktu yang krusial. Kegiatan sudah dimulai pada
pukul 3 pagi, ditandai dengan orang-orang yang hilir mudik ke pasar. Kalau jam
setengah tujuh seperti sekarang, yang ramai adalah anak sekolah dan pegawai
negeri yang sedang berangkat.
Ahhh, kulitku yang sudah keriput
terasa enak saat ditimpa sinar matahari.
Dulu kulitku ini langganan
terkena sinar matahari. Puluhan tahun yang lalu, saat aku sedang sibuk-sibuknya
menaklukkan dunia.
Pandanganku yang dulu setajam
elang sudah mulai memudar. Kakiku yang sekuat baja sudah mulai rapuh
terkeropos. Suaraku yang dulu lantang kini tak lagi sama.
Hanya satu hal yang masih tak
berubah.
Senyumku saat melihat wajahmu.
“Kakeeek!”
Jumat, 02 Juni 2017
#Serial Seorang Suami Saleh (2)
Aku mencintai imamku itu dengan
sepenuh hati.
Imamku selalu bersabar
menghadapi kelakuanku yang kadang tak baik. Aku yang masih kekanak-kanakan dan
sering minta dimanja olehnya.
Aku tahu beban yang dipikulnya
berat. Sehari-hari mencari nafkah sambil melanjutkan S2nya di salah satu
Universitas terbaik di Indonesia.
Sebenarnya dulu, saat awal-awal
menikah, ia sudah berniat melanjutkan S2. Namun tampaknya hal tersebut baru
bisa terwujud 2 tahun yang lalu, karena saat itu kami terkendala biaya. Ia mengalah,
dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.
Meski begitu, tak ada kata
berhenti belajar dalam kamus hidupnya.
Suamiku selalu membaca buku
minimal 1 buku per minggu. Itu jumlah yang banyak. Aku sering gangguin dia
kalau malam sedang khusyu’ membaca. Ada saja alasanku. Minta dikelonin, minta
dipijitin. Ih, lucu. Malah seperti suamiku yang melayaniku, bukan aku yang
melayaninya.
Biasanya kalau aku sudah
bertingkah seperti itu ia hanya akan tersenyum, lalu berkata mesra.
“Sebentar ya, sayang.”
Kemudian ia mengecup keningku
dan kembali larut ke dalam bacaannya.
Sabtu, 27 Mei 2017
#Puisi *
Na
na na
La
la la
Musuh
Kawan
Lari
Hantam
Na na na
La la la
Kekasih
Benci
Marah
Bodoh
Na
na na
La
la la
Tetiba
Mati
Jumat, 26 Mei 2017
#Moment 1 Ramadhan 1438H
Dulu pas kecil pasti gemuruh
riang. Loncat sana lompat sini begitu Ramadhan datang.
Sekarang pas udah agak gede-an
(apanya?) jadi sedikit lebih kalem. Senyam-senyum tengok kanan-kiri. Kadang sambil
elus dada (dada sendiri kok bukan dada tetangga).
Ramadhan merefleksikan
ketenangan.
Ia adalah bulan liburan bagi
jiwa yang sudah lelah sebelas bulan sebelumnya ditimpa masalah. Saatnya hati
bertamasya, merenung, menangis.
Tidak ada yang lebih indah
dibanding seorang lelaki yang menangis di tengah solat malamnya. Meminta agar
ia dikuatkan. Mengaku bahwa ia sangat lemah di hadapan Rabbnya.
Tidak ada yang lebih indah
dibanding seorang perempuan yang mukenanya basah. Bersujud di pojok rumahnya
yang paling gelap. Meminta agar ia diberi kesabaran dan ketaatan.
Ayolah, akui saja, tidak ada
tempat kembali yang lebih indah dibanding pada sujudmu di sepertiga malam. Sujud
yang tulus kepada Penciptamu. Sujud yang lama. Sujud yang menetes air mata.
Kawan, menangislah demi dirimu.
Siapa tahu kelak, air matamu lah
yang akan memadamkan api neraka, yang siap membakarmu.
Selamat Ramadhan 1438 H.
Dari aku, si kecil tapi itunya
besar.
Kamis, 25 Mei 2017
#Puisi Diandra
Puja-puji menghujam keji sanubari
Diandra
Buai terlantah dan luluh dibuatnya
oleh pujian keji
Diandra
Gadis
manis nan pintar
Tak
lagi berkembang
Berhenti
distop pujian
Merasa cukup merasa tinggi
Diandra
Setelah itu jatuh
Diandra
Setelah
itu hilang
#Serial Seorang Suami Saleh (1)
Aku menikahinya 20 tahun yang
lalu.
Ia adalah lelaki paling
sederhana dan basah yang pernah kukenal. Lelaki yang penuh cinta. Lelaki yang
selalu menjaga wudhunya—makanya kusebut paling basah.
Ketika lelaki itu marah, ia akan
memelukku dengan lembut.
“Kau adalah wanita yang telah
kuterima menjadi tanggung jawabku.”
Ia tidak pernah membentakku.
Seluruh kesalahan dan kekhilafan yang kulakukan, semua dibalasnya dengan sebuah
pelukan.
Pernah aku khilaf memakai baju
yang ketat keluar rumah. Atau menerima tamu sambil tidak menutup aurat dengan
sempurna. Atau ketahuan berghibah dengan tetangga. Semua ia balas dengan
pelukan, sambil menasihati dengan sangat amat bijak.
“Tak peduli apapun yang kau
lakukan, sayang. Aku berkewajiban untuk mengingatkanmu. Namun haram hukumnya
aku memperlakukanmu dengan emosi.”
Ia lelaki saleh yang 20 tahun
lalu datang ke bapakku.
Ia lelaki saleh yang menerimaku
apa adanya. Tulus mencintaiku.
Sabtu, 20 Mei 2017
#Cerpen Yakin
Matahari
sedang jahat. Bumi disiram dengan hawa panas super tinggi. Bukan bumi sih, tapi
Jakarta. Tapi kan Jakarta bumi juga.
“Kin!
Kamu yakin kan?”
Aku
menengok ke belakang. Seorang gadis berponi yang tidak kukenal baru saja
memanggil namaku—sekaligus meyakinkan dirinya kalau ini adalah aku.
“Yup.
Ini siapa ya?”
Si
gadis mengerling kesal. “Wah parah, kita sekelas di Matkul MSDM! Aku kakak
tingkat sebenernya, ngulang, hehe.”
Ohh,
terus?
“Begini,
aku mau minta tolong.”
***
“Kin,
aku sayang kamu.”
Kamis, 18 Mei 2017
#Puisi Wahai Durja
Di dua pojok rumah yang berbeda
Ada si laki-laki, ada si perempuan
Waktu itu malam menjelang pagi
Perempuannya
menangis
Bersimpuh
puyuh
Mengadu
sepadu
Laki-lakinya menangis
Berserah sumpah
Menunduk aduk
Di dua
pojok rumah itu
Ada pengakuan
Ada penyesalan
Ada pertaubatan
Di dua pojok rumah itu,
Tuhan mendengar
#Cerpen Pulang
Syifa memeluk
dirinya sendiri.
Salju turun perlahan
di luar bangunan tua tempatnya memandang. Seketika jarinya terasa membeku saat
ia menyentuh permukaan kaca di depannya. Hari sudah sore di musim dingin itu.
Sebentar lagi ia pergi.
“Syifa, ilk eve
gittim. Aku pulang duluan ya.”
Yang disahut hanya
mengangguk sambil tersenyum.
Aku mau pulang, desisnya
dalam hati.
Sudah beberapa tahun
Kastamonu memenjara hatinya. Sebuah distrik kecil di Turki yang kebetulan
menjadi tempatnya berkuliah. Syifa sebenarnya bersyukur karena diberi
kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri Khilafah terakhir tersebut, namun
belakangan ia resah.
Ada yang lebih
sakit daripada jatuh dari pohon mangga, yaitu merindukan keluarga yang kita
cintai.
36 ribu kilometer
totalnya; dari rumah ke asrama tempatnya tinggal sekarang.
Butuh 2 penerbangan
komersil dan sekali perjalanan laut untuk mencapai rumah. Di mana abi dan umi,
serta Zaky menunggu-nunggu kepulangannya.
Rabu, 17 Mei 2017
#Puisi Laki-laki
Yang memperjuangkanmu,
Belum tentu melakukan hal yang benar
Banyak orang
berjuang
Di tempat
yang salah
Banyak orang berniat baik
Tapi dilakukan dengan cara yang kotor
Mengotori dirinya
Menggerogoti harga dirinya
Yang memperjuangkanmu
Siapa tahu
juga benar
Kau saja
yang bebal
Kepayang
rasa ia bertahan
Laki-laki,
Disuruh menjaga dirinya dan keluarganya
Dobel tugas
Makanya ia kelabu memikirkanmu (QS 66:6)
Perempuan,
Cukup menjaga
dirinya
Se-menjaga-menjaganya
Se-baik-baiknya
(QS 24:31)
Ada porsi masing-masing
Jelata kelamaan menulis begini
Aku mau makan es krim dulu
#Cerpen Tak Usah
Bukan malam penuh hujan yang
membuatnya basah, namun serentetan peristiwa yang terjadi dua bulan ke belakang
ini. Harum berjalan gontai saja sepanjang malam. Pulang menuju kosannya tanpa
berusaha berteduh dari tembakan hujan dari langit.
Harum memeluk dirinya sendiri,
berusaha membunuh gigil yang membuatnya kedinginan. Gadis itu melihat ke
tanaman di pinggir jalan, menyapa mereka, dan tersenyum. Ia seakan bisa melihat
ke dalam serbuk sari dan putik yang bahkan dapat merajut cinta. Kontradiktif
dengan dirinya belakangan ini.
Ah, ia ingin beristirahat saja
rasanya.
Tak terasa, dua puluh langkah
lagi ia sampai di kosan tercinta.
***
“Ya Allah, Harum, kamu teh
kenapa kok hujan-hujanan?” Bu Kirana, sang pemilik kosan memeberi komentar saat
Harum masuk ke dalam.
“Hehe, iya bu, karena saya
gerah, jadi biar seger ujan-ujanan aja.”
Bu Kirana menggelengkan kepala.
“Ya tapi nanti kamu sakit. Sudah sana mandi, ganti baju, lalu istirahat. Jangan
sampe sakit ya!”
Harum mengangguk dan segera ke
kamarnya.
Bu Kirana pun mengambil pel dan
mengelap tetesan air yang jatuh dari pijakan kaki anak kosnya tersebut.
***
#Puisi Dikau-ku
Adalah seorang gadis yang
kuperhatikan
Di
sosial media
Kau
kadang bercerita mengenai harimu
Meski
kebanyakan adalah tentang perasaan atau
Kegalauan
Aku
diam saja. Memperhatikan.
Sebanyak
dan selama itu aku mengikutimu
Diam
pertanda santun kumenghormatimu
Hingga
kini saatnya kubicara
Aku
ingin mengajakmu berpuisi
Jauh
tenggelam dalam imaji
Naik-turun
bersama kata dan emoji
Kekeh
lewati malam berhaha-hihi
Ah,
sempatku bermimpi
Meski
hanya dengannya, bahagiaku tak terperi
(Wanita di gambar: Park Si-Yeon)
Selasa, 16 Mei 2017
#Moment 14 Mei 2017; Yang Dilakukan Penulis Besar
Sederhana.
Mereka menulis.
Kata
Pandji Pragiwaksono. “Yang membedakan mereka yang sudah tahu passionnya tapi
biasa-biasa saja, dan mereka yang tahu passionnya lalu sukses cuma satu;
Disiplin.”
Dua
hari yang lalu, genap 19 tahun Azam Rofiullah berjalan di muka bumi. Setahun sebelumnya
hanya bisa merangkak atau berguling. Azam Rofiullah adalah nama yang diberikan
oleh Ibunda Muhlisrarini, orang yang melahirkannya dengan normal di rumah sakit
Cipto, Jakarta Pusat, 14 Mei 20 tahun yang lalu.
Naik
taksi dari kontrakan di Ciputat.
Azam
Rofiullah tidak tahu pasti kronologis dirinya yang berontak di perut sang
Ibunda, sehingga menjadikannya keluar pada hari itu. Namun Azam Rofiullah tahu,
bahwa 20 tahun setelahnya, ia akan berjuang menjadi seorang penulis besar.
Azam
Rofiullah, seperti kebanyakan pemuda lainnya, senang main.
Azam
Rofiullah gemar bermain game komputer, atau berjalan-jalan ke tempat-tempat
baru, mengobrol dengan temannya.
Azam
Rofiullah juga menyukai wanita.
Belakangan,
tahun 2016 menjadi tahun yang paling non-produktif baginya. Kebanyakan main. Kebanyakan
tidur. Kebanyakan bersenang-senang.
Azam
Rofiullah tahu bahwa dirinya kurang disiplin.
Tahun
lalu, ia berfoto dengan Sandra Dewi di hari ulang tahunnya.
Tahun
ini, ia tidak berfoto dengan siapapun.
Telah
hilang gairahnya untuk bermalas-malasan menunggu hari terbenam. Azam Rofiullah
tahu, bahwa jalan masih panjang tuk jadi penulis besar. Azam rofiullah tahu,
bahwa ia kini harus disiplin.
Semangat,
Azam Rofiullah.
Tidak
ada dia yang menunggumu, hanya dirimu sendiri, dan ketekunanmu.
Senin, 15 Mei 2017
#Cerpen Solat di Bulan
Perkenalkan, namaku Firmino.
Aku adalah seorang warga negara
Brazil, Amerika Selatan. Dari kalangan menengah ke bawah, punya sebuah
pekerjaan kecil di toko roti. Aku adalah pembuat roti.
Aku juga seorang kristiani taat. Setiap Minggu menyempatkan diri untuk
mengakui dosa-dosaku kepada Bapa Pendeta. Hal tersebut membuat hatiku tenang.
Lalu datanglah hari di mana
bosku menjual toko rotinya. Katanya, para pegawai akan tetap bekerja, akan
tetapi bersama pemilik baru toko roti ini. Aku agak sedih karena bosku sudah
kuanggap bos sendiri. Maksudku, kami tidak terlalu dekat, namun aku
menyukainya.
Dari situlah, cerita ini
bermulai. Datanglah seorang Andrea. Wanita cantik yang masih berusia sekitar
30-an. Kutebak 34 tahun. Dan aku hampir tepat karena seminggu setelahnya aku
mengecek facebook doi. Umurnya 33 tahun.
Yang menarik dari Andrea adalah
sosoknya yang periang. Dan asal kau tahu, ia menutupi kepalanya dengan kain.
Hijab, ia bilang. Aku senang memperhatikan bagaimana ia mengatur hijab yang ia
pakai di hari ini, kemudian pada esok harinya ia pakai yang lain yang bercorak
berwarna putih. Dan pada hari Jumat, memakai hijab abu-abu.
Senin, 01 Mei 2017
#Catper Hikayat si Amatir (Perjalanan 3 Gunung; Mei-Juni 2016) Bag. 1
Bermula dari sebuah percakapan
di kelas. Nofandi, teman gua yang berasal dari Pulau Seribu Masjid alias
Lombok, menawarkan buat main ke rumahnya pas liburan musim panas nanti.
Gua sih oke, Lombok terdengar
tidak begitu buruk.
Di samping itu, hobi gua sebagai
penggiat kegiatan alam terbuka (alias si amatir tukang asal naik gunung) udah
lama tertidur. Bagian diri gua ini udah lama gua biarin terlelap, karena gua
sibuk oleh urusan duniawi yang lain.
Maka ketika mendengar kata
Lombok, otomatis ada Rinjani, dan ada gunung-gunung lain menanti.
Saat itulah, setelah agak lama
berhenti dari hobi mendaki, gua memutuskan untuk terjun lagi.
Sebenarnya gua tidak terlalu
amatir. Hanya saja dengan berpikir seperti itu kita akan terus berkembang
karena belum merasa cukup. Jadilah pada akhirnya, peralatan-peralatan yang
sudah lama terdiam gua kumpulkan kembali.
Tanggal 19 Mei 2016, kita
berangkat.
Jumat, 21 April 2017
#Puisi Dan Darimu
Dulu kamu yang cebok-mandikan-susui-suapin
Dialog-dialog pertama dalam
hidupku
Mungkin aku tak bisa mengingat
itu semua
Namun tak mengusik fakta bahwa
engkau Malaikat-ku
Tak
semua laki-laki bisa sungguh-sungguh memaknai
Hari
Kartini
Mungkin
begitu pula aku
Bukan
meremehkan, tapi tidak tahu
Malaikat-ku bekerja juga
Mendidik juga
Berjuang juga
Kalau
orang tanya darimana semua sifat baik yang kumiliki
Itu
darimu (maaf ayah)
Kau
bagai Kartini yang kulihat dengan mata sendiri
Kau
berada di barisan itu
Tidak dengan berkoar, tidak
dengan menulis status
Yang kau bisa adalah bekerja demi
itu
Gerak tanganmu saat mencuci baju
lah yang membuatku tahu
Langkah kakimu saat mengajar lah
yang membuatku tahu
Kantung matamu saat lelah bekerja
dalam dunia lah
Yang membuat semua orang di
sekelilingmu tahu
Dan
darimu
Aku
tahu
Selamat
Hari Kartini, Ibu
Kamis, 13 April 2017
#Cerpen Hikayat Lelaki yang Berpisah dengan Kekasihnya
Angin lembut masuk melalui
celah-celah jendela kamarnya. Siang itu terik, namun tak sepanas hati seorang
lelaki yang sedang meringkuk di sebuah kasur di kamar itu. Ruangan berukuran
3x3 meter tersebut sendu. Suasana hati sang pemiliknya sedang tidak baik.
“Apa, apa yang terjadi? Apa aku
ketinggalan sesuatu?” Ujar sapu yang baru masuk kamar, setelah selesai dipakai
untuk membersihkan ruangan lain.
“Dia sedang sedih.” Timpal
Lemari sambil menunjuk kepada sang lelaki yang masih memeluk kedua kakinya yang
terlipat.
“Apa gerangan sebab?” Sapu
kembali bertanya.
“Tadi aku melihatnya membaca
pesan dari kekasihnya. Mereka berpisah.” Jawab Bantal. Percakapan mulai jelas
arahnya ke mana.
Senin, 10 April 2017
#Cerpen (Bukan) Orang Baik
Adalah aku, umur delapan tahun,
yang sedang sidang di bawah terik.
Pengurus masjid marah bukan
main. Pasal, aku memecahkan kaca masjid, hasil dari tendangan Macan Cisewu yang
kuciptakan saat bermain bola.
Sebenarnya, jarak antara masjid
dan lapangan cukup jauh, mungkin ada 500 meter. Kuat sekali tendangan Macan
Cisewu ya? Ah, tidak juga sih. Sebenarnya aku tidak bermain di lapangan, tapi
di dalam masjid. Itulah mengapa Macan Cisewu bisa dengan mudahnya
meretak-bolongkan kaca masjid.
Jumat, 07 April 2017
#Puisi Pria Berpayung Kuning
Kepada: Pria berpayung kuning
Tentu kau ingat kepada gadis
ceroboh
Yang waktu itu kau tolong
Di depan Stasiun Pondok Cina
Yah,
tidak kurang tiga kali kau menolongnya
Selamat
dari serangan hujan
Yang
bisa membuat diktat-diktat di tangannya
Rusak
hilang buaian
Kepada: Pria berpayung kuning
Tanpa sadar, gadis itu menumbuh
candu
Dalam dirinya
Untuk terus ditolong olehmu
Tanpa
sadar, tumbuh harapan
Yang
ia siram selalu
Harapan
itu kini menjadi hutan lebat
Yang
menutupi pandangannya
Yang
buatnya buta, kecuali padamu
Lalu datang hari itu
Di mana ia melihatmu bersama
orang lain
Hancur sudah harapan gadis itu
Seketika membuang diktat, peduli
kemayu
Kepada:
Pria berpayung kuning
Gadis
itu sekarang sedang menulis puisi tentangmu
Dan
di akhirnya, ia berkata:
Terima
kasih telah mampir,
Dan
meninggalkan luka
Langganan:
Postingan (Atom)

















