Aku mencintai imamku itu dengan
sepenuh hati.
Imamku selalu bersabar
menghadapi kelakuanku yang kadang tak baik. Aku yang masih kekanak-kanakan dan
sering minta dimanja olehnya.
Aku tahu beban yang dipikulnya
berat. Sehari-hari mencari nafkah sambil melanjutkan S2nya di salah satu
Universitas terbaik di Indonesia.
Sebenarnya dulu, saat awal-awal
menikah, ia sudah berniat melanjutkan S2. Namun tampaknya hal tersebut baru
bisa terwujud 2 tahun yang lalu, karena saat itu kami terkendala biaya. Ia mengalah,
dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.
Meski begitu, tak ada kata
berhenti belajar dalam kamus hidupnya.
Suamiku selalu membaca buku
minimal 1 buku per minggu. Itu jumlah yang banyak. Aku sering gangguin dia
kalau malam sedang khusyu’ membaca. Ada saja alasanku. Minta dikelonin, minta
dipijitin. Ih, lucu. Malah seperti suamiku yang melayaniku, bukan aku yang
melayaninya.
Biasanya kalau aku sudah
bertingkah seperti itu ia hanya akan tersenyum, lalu berkata mesra.
“Sebentar ya, sayang.”
Aku, kadang maksa. Ah, ada saja
ulahku kepadanya. Suamiku ini, aku bebas berakting apapun di depannya. Kalian yang
belum dewasa jangan iri sambil membaca ini ya, haha.
Aku tadinya ingin kerja. Meringankan
bebannya yang berat (karena kami fokus menabung 1 juta/bulan saat itu, agar di
awal tahun 2000 kami bisa ambil kredit rumah). Sepertiga gajinya ditabung. Sisanya
buat rumah tangga (sewa kontrakan, listrik, air, makan, dan lain sebagainya).
Aku juga diwanti-wanti olehnya
untuk ngasih ke Panti Asuhan minimal lima puluh ribu sebulan. Tentu saja
anggarannya dari kebutuhan rumah.
Nah, keinginanku untuk kerja ini
tentunya beralasan dong. Aku ingin membantu, sekaligus lumayan kan aku bisa
jajan-jajan tanpa merepotkan dia. Hehe.
Awalnya suamiku menolak. Kemudian
aku nangis.
Serius, aku nangis. Bukan karena
cengeng, tapi aku sayang sama dia. Aku mau bantu dia. Aku tidak mau hanya
sehari-hari di rumah saja (waktu itu kami target punya anak awal 2000-an juga,
jadi pas awal menikah aku kebanyakan nganggur saja di rumah).
Suamiku ini kaget melihatku
menangis. Eh, dia malah ikutan nangis sambil meluk aku.
Ah, lucunya drama rumah tangga
kami. Hahaha. “Yasudah kamu mau kerja apa, beb?”
Lucu kan, liat orang jenggotan
ngomong “beb” ke orang kerudungan? Lucu, tapi bodo amat, kami sudah suami-istri
kok.
“Huuu.. ngajar aja. Aku bisa
ngajar SD atau TK atau les.”
Suamiku masih memelukku. Lama sekali
ia melakukannya.
“Kalau itu yang Adinda mau,
yasudah Mas izinkan. Tapi ya, uangnya dikelola dengan baik nanti. Uangnya punyamu,
bukan punya mas.”
Hehe. Aku senyum kan jadinya. Memang
begitulah prinsip Mas-ku ini. Uang hasil kerja suami adalah milik bersama,
sementara hasil kerja istri adalah harta si istri. Begitu ya kalau menikah. Tidak
ada yang namanya harta suami. Harta suami itu pasti milik bersama. Tapi yang
namanya harta istri itu ada. Buktinya, mahar itu punya istri, gaboleh ada
intervensi dari suami tanpa seijin istrinya.
Begitu ya, adik-adik.
Jadilah pada akhirnya aku
melamar ke beberapa instansi pendidikan. Pokoknya, kataku, yang pertama
menerimaku ya aku ambil. Aku gak mau ribet, karena Mas sudah berkorban banyak
untuk mengalah. Hehe. Eh, tapi dengan pertimbangan waktu dan lain-lain juga
sih.
Aku tidak mau tugas utamaku
sebagai seorang istri tergeser oleh pekerjaan.
Dan, setelah seminggu, datanglah
kabar bahwa sebuah lembaga les untuk anak SMP dan SMA menerimaku menjadi tutor
mereka.
Omong-omong, dulu pas mahasiswa
aku juga pengalaman mengajar sambilan, demi kehidupan anak kos yang lebih baik
saat itu. Haha. Tentunya pengalaman ini menjadi nilai tambah saat kemarin aku
melamar untuk jadi pengajar.
Nama lembaga itu Citra. Dekat dari
kontrakan kami. Jadi aku biasanya akan naik ojek, karena jadwal ngajarnya sore
sampai jam 8 malam. Si ganteng Mas-ku ini baru pulang ke rumah biasanya
Maghrib.
Kata dia, “Yah, gabisa disambut
sama bidadari-ku lagi dong pas pulang kerja.”
Kubalas saja. “Hehe, makanya
kamu pulangnya jam 8 aja mas, sekalian jemput aku.”
“Hmm, boleh juga. Tapi ngapain
aku nunggu jam segitu.”
“Ya kamu cari uang lagi mas. Hahaha.”
“Dasar kamu otaknya. Ngomong-ngomong
masak apa nih hari ini?”
“Aduh, lupaaaa. Aku gak masak
mas, tadi sibuk mondar-mandir Citra ngurus berkas sama interview. Maaf ya,
Mas-ku sayang. Kita beli aja ya hari ini lauknya. Aku masak nasi sekarang deh.”
“Hadeuh cintaku, rembulan di
malam hariku, yasudah, kita makan di luar aja sekalian yuk.”
“Ayuk.”
Aku menggandeng tangan suamiku
ini.
“Mau ke mana heh kamu?” Kata
dia.
“Makan di luar kan.”
“Ya pake kerudung dulu atuh...”
“Oiya.”
Kebiasaanku tuh begitu, kadang
lupa nerima tukang pos masih belum pake kerudung. Haduuuh.
“Yuk.” Ujarku saat sudah pake
kerudung. Tidak usah dandan cantik-cantik kalau ke luar rumah. Dandan cantik
itu di dalam rumah, untuk suami tercinta.
Hehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar